Jubir Tubir 

Sudah 20 episode berlalu.
Jubir Tubir, judul konten yang saya buat di vidio.com/@pandjipragiwaksono ini adalah wadah diskusi. Topiknya bisa santai, bisa juga berat. Dari “Perempuan feminin vs Perempuan tomboy” sampai “Memilih pemimpin kafir”. 
Dari jaman Provocative Proactive di Metro TV, saya sudah aktif memprovokasi pemikiran orang. Dengan membuka wacana & melibatkan orang dalam diskusi. Dari jaman Provicative Proactive masih program radio bahkan itu sudah terjadi. Bahkan sejak sebelumnya ketika siaran Good Morning Hardrockers Show saya pernah membuat sebuah konten berjudul “Think Again” yg memancing orang berdiskusi. Salah satu topiknya yang saya ingat, adalah mengenai aborsi.
Artinya, Jubir Tubir bukanlah gagasan baru bagi orang yang mengikuti karya saya. 

Mungkin itu mengapa, opini yang masuk di kolom komentar rata rata punya argumen yang menarik. Kalau membaca diskusi di JubirTubir, rasanya orang orang goblok di twitter itu seakan tidak ada.
Itulah mengapa, selain vlog MIKIR, saya sangat senang JUBIR TUBIR

Tidak meminta maaf

Mengapa Kami Menyinggung.
Karena kami pikir itu lucu.
Itu adalah jawaban yang paling jujur.

Bukan niat kami untuk menyinggung tapi karena kami pikir apa yang kami lakukan atau kami ucapkan itu lucu.

Sebagai komika (istilah Indonesia untuk stand-up comedian) kami selalu mencoba untuk mengejutkan penonton.

Karena komedi, menggantungkan nyawanya pada punchline. Punchline bekerja terbaik ketika dia mengejutkan. Kalau tidak, maka tawa yang diharapkan tidak akan meledak. Karena “Ketebak”.

Tapi untuk melakukan sesuatu yang mengejutkan anda, kami harus terus mencoba berjalan jauh sambil meraba batasnya di mana. Tidak jarang, kami melanggarnya.

Kami tahu garis itu kami langgar, ketika protes datang. Badai opini & tsunami hujatan. Kami tahu itu. Kami sadari resikonya. Kami jalani kendatipun demikian.
Kemal Palevi yang kemarin sempat ramai karena video menanyakan ukuran bra ke anak di bawah umur bukan kali pertama yg melanggar garis itu. Diapun juga bukan melanggar ketika stand-up comedy, tapi ketika membuat video untuk dipublikasikan di internet.

Bahkan kejadian tersebut bukan pelanggaran pertama oleh Kemal. 
Masih hangat beberapa hari sebelum kejadian Kemal, orang ramai membahas lawakan saya dari pertunjukan Stand-Up Comedy saya berjudul “Merdeka Dalam Bercanda”.
“FPI jangan dibubarin, biar orang tau kalo nggak sekolah jadi kayak apa”. Meme yg memuat kalimat itu tersebar di dunia maya. Bukan saya yang membuat. Entah siapa. Tapi meme-nya tersebar. Meme tersebut agak membuat lawakannya keluar dari konteks karena yang sedang dibahas adalah orang orang di bawah bendera FPI yang kalau demonstrasi kelakuannya seperti orang yang tidak sekolah.

Apakah FPI yang memprotes? Bukan. Yang ramai memprotes adalah orang orang yang tidak terima saya menghina orang tidak sekolah karena disejajarkan dengan FPI. Mereka merasa FPI lebih rendah.

Saya tergelak. Dalam protes mereka terhadap “hinaan” saya. Mereka menghina pihak lain. Kalau FPI tahu mungkin mereka akan justru memprotes orang orang yang protes kepada saya. Tapi mungkin ribet. Akhirnya ga jadi.
Saya-pun minta maaf. Karena memang bukan niat saya menghina orang tidak berpendidikan. Mungkin kalau yang protes FPI, saya bersedia untuk membuka perdebatan. Karena memang FPI target saya. Akhirnya, redalah kemarahan terhadap saya.
Sebelum saya, Zaskia bercanda tentang Pancasila.

Sebelumnya, Raffi Ahmad menyinggung para wartawan.

Sebelumnya lagi, almarhum Olga menyinggung orang.

Sebelumnya lagi, Cesar dianggap menghina Benyamin & diprotes banyak pihak.
Tidak ada niat buruk. Hanya mencoba membuat orang tertawa. 

Hanya mencoba membuat orang terkejut. Tapi lalu salah langkah.

Saya tidak membenarkan tindakan di atas, saya hanya menerangkan proses berpikirnya.
Di Amerika Serikat baru baru ini, Chris Rock diprotes aliansi aktor keturunan tionghoa Amerika karena dalam kritiknya terhadap Oscar yang rasis terhadap kulit hitam, Rock membuat sebuah sketsa yang menyinggung etnis Tionghoa.
Louis CK, membuat sebuah lawakan yang membuat geger publik Amerika. Dalam siaran langsung di Saturday Night Live, CK membuat lawakan yang memuat kalimat “pasti nikmat memperkosa anak anak”. Andapun yang membaca pasti geger. Karena anda tidak paham konteksnya.

Kalimat lengkapnya seperti ini kurang lebih “Padahal, hukuman untuk memperkosa anak itu sangat keras! Bisa hukuman mati, penjara seumur hidup, kalaupun dipenjara orang orang ini pasti akan dihabisi karena bahkan bagi para penghuni penjara, pemerkosa anak levelnya paling nista. Tapi kenapa ya masih ada yang berani melakukannya? Kesimpulan yang kita bisa ambil, pasti nikmat memperkosa anak anak sehingga mereka bersedia menerima resikonya. Nikmat untuk mereka lho ya, untuk mereka.”
Nah orang yang hanya mendengar “pasti nikmat memperkosa anak anak” akan mengamuk. Tapi publik yang lebih tenang & mampu memproses berkata Louis CK memperingatkan kita bahwa pemerkosa anak ini tidak bisa ditakuti dengan hukuman yang sekarang berlaku. Mereka sakit jiwa. Harus ada perubahan dalam cara dunia sosial menangani mereka.

Tapi, Amerika gempar & Louis CK diserang.
Dick Gregory, komedian kulit hitam Amerika yang legendaris. Memulai karirnya jauh sebelum Eddie Murphy & Richard Pryor juga kena protes. Joke-nya “I am really enjoying the new Martin Luther King Jr, stamp. Just think about all those white bigots, licking the backside of a black man.”. Lucu? Tentu. Tapi tidak untuk banyak orang kulit putih Amerika.
George Carlin, legenda komika Amerika & salah satu yang paling kontroversial, mengubah tatanan TV Amerika ketika tahun 1970 membuat pertunjukan live di TV & membawakan lawakan berjudul “7 kata yang tidak boleh diucapkan di TV”
Semua nama nama di atas, memiliki 2 persamaan. Sama sama menyinggung orang tentunya, tapi ada satu hal lagi yang penting untuk dibahas di sini.

Ketika lawakan mereka (yang belakangan dianggap menyinggung) dibawakan, semua yang menonton tertawa. 
Lawakan saya tentang FPI, saya bawakan keliling 15 kota Indonesia. Semua yang menonton tertawa. Kok bisa? Video Kemal yang kontroversial kemarin, kalau anda baca kolom komentar, dianggap lucu oleh penikmatnya. Termasuk anak 14 thn yang dia tanya tertawa & mengijinkan (yang ini tidak bisa dianggap benar karena seringkali anak anak kecil tidak tahu apa yang baik untuk dia). Kok bisa?
Karena Kemal & saya & semua komedian di atas melontarkan materi lawakan untuk kalangan tertentu. Kalangan yang siap menerima lawakan seperti itu. Yang kami lupa, adalah bahwa materi itu akan tetap viral di social media & internet raya. Publik yang tidak jadi target market lawakan ini akan mengkonsumsi & karena perspektif yang beda akan terbuka terhadap multi intepretasi & protes berterbangan.
Kini, banyak komedian merasa dihadapkan dengan permasalahan: Apakah saya harus melakukan self-censor terhadap materi saya & tidak sebebas dulu?

Buat saya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan baru. Jangankan dalam melawak, setiap orang harusnya berpikir & melakukan self-censor ketika mau berucap, beropini, ngetweet, post facebook, dll.
Kita semua harus siap mempertanggun jawabkan apa yang kita katakan, di manapun kita berada. Kalau tidak, kita bisa dikejar untuk dimintai pertanggung jawaban. Di manapun kita berada. 

Kalau tidak percaya, tanya saya kepada orang yang didatangi Deddy Corbuzier gara gara komentarnya di social media.
Sayapun melalukan hal yang sama. Dalam melawak saya menghabiskan bermalam malam tidak tidur memastikan bahwa untuk setiap ucapan saya dalam pertunjukan stand-up saya, didukung fakta & bisa dipertanggung jawabkan 100%. Itupun masih takkan luput dari resiko. 

Tahun ini saya akan tur dunia ke 24 kota di 5 benua. Beberapa kota di Tiongkok, 5 kota Jerman, 6 kota Amerika Serikat, 6 kota Indonesia, juga Jepang, Afrika Selatan, Australia, lalu ditutup 10 Desember 2016 di Jakarta. Di dalamnya saya membahas industri TV termasuk rating & sensor, membahas isu HAM, isu agama, komunisme, atheisme, LGBT, termasuk membahas spesies langka yang mulai punah karena rumahnya dibongkar untuk kebun kelapa sawit. Beresiko? Tentu. Tapi resiko ini saya siap untuk ambil demi banyak hal penting yang saya rasa publik harus tahu.
Saya siap pertanggung jawabkan namun kalau ternyata publik menemukan bahwa saya salah langkah & saya sendiri sadari kesalahan tersebut, saya tidak akan terlalu besar kepala untuk meminta maaf. 

Terus Menulis

Beberapa mungkin udah tau, saya skarang aktif di vidio.comSebagai bagian dari kerjasama sponsorship Juru Bicara World Tour, saya bikin konten di situs tersebut.
Salah satunya, adalah vlog saya yg berjudul MIKIR.
Sudah lama saya diminta vlogging tapi entah kenapa enggan. Mungkin karena kebanyakan vlog yg lagi beredar di Indonesia ini ga membuat saya minat.

Kebanyakan kontennya tidak menarik. Vlogging mengenai keseharian mereka yang belum tentu menarik.
Saya tidak tergerak untuk bikin vlog sampai saya terpikir.

I dont write blogs to talk about what i ate or where i went today.

I dont write blogs to talk about my daily life.

I write what i have in mind. My thoughts & opinions & arguments.
Di situlah saya mulai ingin nge-vlog. Tentang hal hal yang saya pikirkan.
Judul MIKIR yang saya gunakan datang idenya dari Aan desainer saya. Saya pikir cocok sekali. Kata MIKIR lekat dengan saya sejak mungkin 2009-an. Gara gara topi MIKIR. Lalu toh vlognya isinya pemikiran. Klop.

  
Tiap hari vlog rilis di vidio.com/@pandjipragiwaksono , dan isinya adalah argumen, opini & buah pemikiran.

Sehingga semoga jadi pilihan yang beda di antara yang sudah ada.
Apakah seringnya saya ngevlog membuat saya meninggalkan blog?

Cek saja tulisan yang ada di sini. Terlihat kok saya masih aktif. Karena formatnya beda.

Ada pemikiran yang cocok dgn format musik, ada yg cocok dgn stand-up, buku, vlogging dan ada yg cocok di blog.
Makanya, sesering seringnya saya rekam video, saya akan terus menulis

Unparalleled

You know that feeling when you watch something you love & you’re reminded why you love that thing you love? I got that feeling last night.

Semalam abis nonton Talk Of Life stand-up show part 1: Acho & Adri.
Dan saya jatuh cinta lagi kepada Stand-Up Comedy.

Saya ingat lagi mengapa saya melakukan semua ini. 

Saya ingat mengapa saya mendedikasikan waktu, tenaga, uang, bahkan hidup untuk kesenian ini.

Stand-up comedy adalah perayaan akan ekspresi diri.

Seseorang naik panggung. Tanpa baju aneh aneh. Menjadi diri sendiri. Membawa opininya. Membawa subjektivitasnya. Lalu disambut meriah dengan tawa.

Tapi tak semudah itu.

Butuh bakat, butuh kerja keras, butuh proses untuk menggapai semua itu

Seperti perempuan cantik yang nggak gampangan. Butuh usaha untuk membuat dia mau dengan kita. 

Tapi ketika itu terjadi. Kebahagiaan bukan hanya pada sang komika. Tapi kepada kita yg menonton.

I swear to you. Watching a good joke being told gives a similar feeling as watching a superb slam-dunk.

Saya bisa terlompat dari kursi!

Ketika saya tinggalkan kursi itu, yg mengangkat saya adalah rasa kaget, tawa, puas, rasa kagum, bercampur jadi satu emosi.

Its a rich emotion.

Langka sekali emosi itu terjadi. 

That’s why i love stand-up comedy.

That rich emotion provided by 1 brilliant joke.

Unparalleled.


  

Bitter Pills

I think about the things i doThe sacrifices i make

The hours lost

The times spent
I think about all the above 

And i think about the way my children behave when im home

How they all want to talk to me at once

They all want my attention

How they missed me
I think about that and i think about my wife

I think about our arrangement

Our promise

This wasnt the deal

I wasnt supposed to leave her behind with all of the responsibilities of parenthood.

I think about that & i wonder
Is this all worth it?

Will the result be somewhat important for my children?

For my family?
Will my accomplishments be just like a trophy?

With no purpose other than to be the reminder of how good i used to be.
Will i have an impact

For people

For my family
Will i matter?
Will it matter?
I think, still

Until i find the answer, all this questions are bitter pills

Menyusul Mereka

Kemarin ada yang bertanya, alasan saya memilih seseorang menjadi opener World Tour.

Sebelum menjelaskan, saya mau kasih tahu bahwa sekarang dengan akan berjalannya JURU BICARA Stand-Up Comedy World Tour maka ada 7 opener world tour.

Awwe, Gilbhas dan Krisna opener Mesakke Bangsaku World Tour

Arie Kriting, Babe , Barry dan Yudha Khan opener Juru Bicara World Tour.

Alasan pemilihan Awwe, Gilbhas dan Krisna ada di dalam film dokumenter “Menemukan Indonesia” yang rilis april, jadi silakan ditonton sendiri nanti.

Nah, mari saya jelaskan alasan pemilihan 4 yang membuka saya di Juru Bicara World Tour.

Pertama tama, ada alasan mendasar pemilihan opener world tour. Tepatnya ada 2 alasan mendasar. Yang pertama: SOLID. 

Makanya saya selalu membawa opener world tour yang pernah membuka saya di tur nasional. Karena saya pernah lihat sendiri kinerja mereka, pernah lihat bagaimana mereka membuka saya. Saya tahu persis mereka solid dalam arti ditaro di kondisi apapun, suasana apapun, kendala teknis seperti apapun, mereka akan bisa bekerja dengan baik.

Ini juga berarti, opener kota kota nasional punya peluang untuk jadi opener world tour ketika saya mau tur dunia lagi. Entah kapan.

Tur itu, apalagi Tur Dunia, faktor X-nya suka aneh aneh. Tidak mungkin saya membawa komika yang lucu SAJA. Komika yang ikut ke luar negri harus matang dan konsisten.

Alasan mendasar ke dua adalah: SELERA.

Orang yang saya ajak jadi opener (tidak hanya yang tur dunia) itu adalah opener yang selera komedinya saya suka. Jadi saya tidak begitu mempermasalahkan teknik, persona, bobot materi, dll. Kalau saya suka dan dia solid, cukup untuk jadi alasan saya memilih dia jadi pembuka. Urusan selera, ga bisa diganggu gugat. Tiap orang beda beda.

Nah sekarang, alasan spesifik. Ada alasan spesifik mengapa beberapa orang saya pilih. Arie misalnya yang saya pilih karena saya yakin dia akan memberikan dampak baik kepada pelajar Indonesia di luar negeri. Materinya memiliki keresahan yang saya yakin tidak dirasakan banyak pelajar di luar negeri. Boro boro merasakan, mereka bahkan tidak tahu masalah itu ada. Arie akan mendobrak pemikiran mereka. Yudha Khan saya pilih karena alasan lebih krusial. Di saat banyak komika membuat materi dari hal yang mengawang awang dan jauh dari kesehariannya, demi lucu atau demi punya materi yang pop, Yudha Khan membicarakan kotanya, Cirebon. Dia membuat saya jadi tertarik dengan kota tersebut. Dan itu yang menjadikan stand-up-nya Yudha menarik. Kalau mau jualan, jualanlah sesuatu yang orang itu belum punya. Jualan pemutih kulit di Indonesia yang rata rata orangnya kulitnya gelap. Di Amerika, pemutih kulit gak laku, kebanyakan ingin punya kulit berwarna gelap alias tanned. Sama dengan materi Stand-Up, ketika Yudha membicarakan Cirebon dia menjual sesuatu yang orang di kota kota besar belum  tahu dan belum punya: Kultur dan tradisi. Keberanian Yudha untuk jujur dan sederhana, menjadikan dia berbeda. Barry adalah salah satu contoh komika yang genuine. Dia gaya bicaranya tidak ikut ikutan kayak orang lain. Dia nyaman dengan dirinya sendiri. Barry adalah contoh orang yang bertemu dirinya sendiri sebelum dia bertemu stand-up comedy. Banyak sekali di Indonesia orang orang yang ketemu Stand-Up sebelum ketemu dirinya sendiri. Akhirnya dia ikut ikutan orang. Gaya bicaranya mirip orang. Stand-Up itu sebentuk kesenian. Seni adalah ekspresi diri. Kalau dia belum kenal dirinya, mana tau dia apa yang harus diekspresikan. Kalau dia tidak tahu apa yang mau diekspresikan, buat apa berkesenian? Babe Cabiita sudah jelas merupakan komika yang dengan mudah memporak porandakan gelak tawa penonton. Effortlessly funny. Tapi terpenting, dia adalah contoh orang yang memulai dari stand-up, meledak di industri hiburan secara umum dan industri film secara khusus, tapi tidak meninggalkan stand-up comedy. Sikap Babe seperti ini, kelak akan penting. Karena industri stand-up hanya akan sekuat para pelakunya. Kalau pelakunya pada pindah kapal, dan angkatan penggantinya lemah, tidak punya kakak untuk diidolai dan menjadi tantangan, maka generasi terbarunya tidak akan berkembang. Ketika itu terjadi, maka robohlah industri stand-up comedy di Indonesia.

Jadi begitulah alasan mengapa saya memilih 4 orang tadi sebagai pembuka.

Ada yang ingin menyusul mereka?

 

Tidak Ada Jalan Pintas

Menjawab pertanyaan: Bagaimana caranya bisa sukses seperti anda?
Harus mau berproses. Harus mau belajar. Harus mau kerja keras. Harus mau mencoba. Harus mau gagal. Harus mau bangkit. Harus mau mencoba lagi. Harus mau sabar. Harus mau menunggu.
Kalau anda tidak melihat itu dalam keseharian saya hari ini sebagai komika, itu adalah karena prosesnya sudah berlalu & sebagai komika hari ini saya menuai hasilnya.
Kalau mau belajar bagaimana berproses, belajar, kerja keras, mencoba, gagal, bangkit, mencoba lagi, sabar & menunggu, lihat keseharian saya sebagai rapper, penulis buku, aktor.
Di 3 bidang tersebut, saya masih berproses.
Saya terima perjuangannya karena saya percaya.
Proses yang akan membawa saya ke sana.

Tidak ada jalan pintas.
 

Foto Oktober 2015 ketika saya ngerap di Cirebon. Kapasitas 400, yang datang 38 orang. Tidak ada jalan pintas.
 

Never Stand Still #spon

Dari 3 hotel & casino yang pertama kali berdiri di Las Vegas. Flamingo Hotel & Casino ini adalah satu satunya yang masih berdiri. Menjadikannya Hotel & Casino tertua di Las Vegas
Dari 3 hotel & casino yang pertama kali berdiri di Las Vegas. Flamingo Hotel & Casino ini adalah satu satunya yang masih berdiri. Menjadikannya Hotel & Casino tertua di Las Vegas

Bagaimana ceritanya?

Bagaimana ceritanya saya bisa berdiri di depan Casino yang sempat dikelola oleh Bugsy Siegel salah satu mafia legendaris Amerika?

Semuanya, dimulai dari sebuah telfon. Ario (@sheggario) menghubungi dan mengatakan pihak Lenovo mau membawa saya ke Las Vegas untuk datang ke CES (Consumer Electronic Show) dan melakukan peliputan terhadap produk produk Lenovo yang dipamerkan di sana.

A. Saya minim sekali informasi mengenai Lenovo selain dari majalah TIME yang saya beli karena liputan utamanya mengenai perusahaan Tiongkok Lenovo yang mengakuisisi IBM. Berita besar bahkan untuk saya yang tidak mengkategorikan diri sebagai tech-geek. Saya tertarik dengan bisnis. Ini berita besar di dunia bisnis. Di luar itu, hal mengenai Lenovo yang menempel di kepala saya hanyalah bahwa belakangan ini orang yang berfoto dengan saya, banyak yang menggunakan Lenovo. Sebagai orang yang sering diajak foto, saya sering memperhatikan ponsel yang digunakan untuk memfoto. Mau gimana lagi, merknya terpampang jelas ketika kamera di arahkan kepada saya. Lenovo, belakangan ini sering digunakan oleh orang orang.

B. Saya baru mendengar nama CES ketika Ario menghubungi saya, yang setelah saya google dan buka youtube-nya ternyata adalah ajang tahunan yang luar biasa besar. Semua perusahaan teknologi, hadir di awal tahun, di Las Vegas, di CES untuk menunjukkan terobosan terbarunya yang besar kemungkinan akan mulai dipasarkan di tahun tersebut.

Tapi diajak ke tempat tempat menarik karena pengaruh saya di situs jejaring sosial, sudah jadi hal biasa untuk saya apalagi sejak diajak kementrian perdagangan ke Shanghai. Maka, berangkatlah saya.

Satu hal paling menarik (dan pada awalnya membingungkan) dari ditunjuknya saya untuk jadi influencer Lenovo di CES adalah, Lenovo Indonesia sama sekali tidak mengharuskan ngetweet dengan jumlah tertentu, tidak mewajibkan untuk bikin video youtube, tidak mewajibkan untuk ngeblog, dll.

Kata mereka “Terserah aja”

Buat orang yang sering diminta untuk jadi influencer, ini adalah hal yang teramat aneh. Satu satunya cara untuk memastikan investasi mereka tepat adalah dengan meminta saya ngetweet, ngeblog, ngevlog dengan jumlah value yang sesuai dengan value yang mereka keluarkan untuk saya. Bayangkan, bukan hanya saya diterbangkan ke Las Vegas dan pulang naik Etihad Airways yang saat ini ada di posisi 6 maskapai terbaik dunia versi Skytrax (Garuda Indonesia di posisi 8 dan harus saya akui dari sisi pesawat memang di atas Garuda tapi dari sisi pelayanan Garuda lebih baik, jauh).

Saya diinapkan di The Westin Hotel & Casino.  Saya setiap hari diajak makan yang sangat mewah.

Salah satunya, adalah Alizé. Restoran Prancis kelas dunia oleh Chef André Rochat di lantai 56 Palms Casino Resort, Las Vegas. Juga di Julian Serrano, restoran Spanyol juga kelas dunia di Aria salah satu hotel dan casino terbaik dan termewah di Las Vegas.

Diajak nonton Cirque Du Soleil, Zarkarna. Sebuah pertunjukan sirkus yang teramat mewah, indah, modern dan canggih.

IMG_7426
Klik pada foto untuk mendapatkan pengalaman 360 di dalam teater indah ini
Diajak ke Grand Canyon dan melihat indahnya pemandangan dari atas lembah berusia jutaan tahun.

IMG_7462
Untuk melihat 360 Grand Canyon, klik foto ini
Google semua yang saya sebut di atas, maka anda akan tahu bahwa ini merupakan perjalanan yang mewah. Kok saya tidak diberi target jumlah tweet, youtube, dll? Kalau saya ternyata hanya tweet 1 kali gimana? Mungkin saja lho, toh saya sudah di Vegas.

Jawabannya, saya temukan sendiri ketika sampai di Vegas dan bertemu dengan orang orang dari Lenovo. Bukan hanya “Orang dari Lenovo” tapi sosok sosok penting dibalik Lenovo hari ini. Salah satu pertemuan paling impresif adalah dengan Chief Operating Officer Enterprise Business Group Leader, Asia Pacific: Amar Babu.

Amar bercerita banyak mengenai Lenovo, terutama pertumbuhannya dengan memanfaatkan banyak kerja sama. Akuisisi IBM, Motorola (skarang Lenovo menyebutnya Moto), kerja sama dengan Razer untuk masuk ke pasar Gaming, membawa Lenovo bertumbuh pesat. Yang menarik adalah seperti yang kita tahu, tidak seringkali sebuah akuisisi berdampak positif. Karena membawa kultur perusahaan, kebiasaan, belum lagi ribuan karyawan dari perusahaan yang berbeda dengan ritme kerja yang beda. Lalu bagaimana cara Lenovo bisa berjalan dengan semua akuisisinya sehingga performanya tetap baik bahkan melaju?

Ketika pertanyaan tersebut saya lempar ke Amar, jawabannya adalah “Kultur keterbukaan”. Lenovo, menurut Amar tidak saklek yang menutup pilihan lain dari yang diberikan oleh kantor pusat. Lenovo bahkan sangat terbuka dengan keinginan konsumen. Mengingatkan saya dengan McDonalds yang sukses di banyak negara karena menyesuaikan dengan pasarnya (Menu Ayam + Nasi yang handal di Indonesia dan tidak ada di negara lain, setidaknya tidak di 12 negara yang saya pernah datangi). Seperti yang kita tahu, ada juga perusahaan teknologi yang melaju justru karena menutup diri dari kritik, survey konsumen, dan review para ahli. Lenovo, sebaliknya. Mereka pada prinsipnya bertanya apa yang konsumen mau, dan memberikan semua pilihan. Mungkin seperti Indomie. Kalau kita ingat, 10-15 tahun yang lalu hanya ada 3 pilihan rasa. Sekarang kalau kita ke supermarket, ada mungkin ratusan rasa dari bulgogi, ke iga bakar, ke rendang, ke sambal hijau. Mengapa memberi pilihan sebanyak itu? Karena setiap konsumen spesial, dengan kebutuhan spesial mereka. Personalization, is the key to today’s business.

Amar mengatakan sesuatu yang menarik ketika menjelaskan bagaimana praktek keterbukaan tersebut dalam kultur Lenovo “Trust the local partners with their local wisdom

Trust” adalah hal sama yang Lenovo Indonesia berikan kepada saya dengan tanpa memberi target jumlah tweet, blog dan vlog.

Mereka percaya kepada saya dan terutama, percaya dengan produk mereka. Mereka yakin, produk mereka sangat bagus. Dimotori oleh keinginan untuk terus menawarkan inovasi yang “Disruptive“. Disruptive, istilah yang sering digunakan belakangan ini tidak terkecuali di CES untuk menggambarkan sebuah inovasi yang benar benar mengubah lanskap industri sehingga terjadi semacam kekacauan. Kacau untuk industri, berkah untuk konsumen.

Seperti Uber, Air BnB, dan kalau di Indonesia: Gojek. Disruptive banget kan? Industri kacau, konsumen bahagia. Dipercaya, kalau tidak menyebabkan kehebohan, maka inovasinya kurang disruptive.

Lalu apa inovasi Lenovo yang disruptive? Untuk mengetahui jawabannya, saya harus membawa anda masuk ke CES 2016 dulu.

360 area #LenovoCES
Klik foto untuk menikmati 360 area #LenovoCES

Ketika masuk ke area Lenovo, saya langsung disuguhi produk produk yang untuk saya teramat menarik. Saya memang bukan tech-blogger, saya bukan jurnalis yang spesialisasinya teknologi, tapi saya adalah konsumen. Saya adalah orang yang disasar oleh Lenovo dan konsumen yang satu ini, gatel pengen punya sejumlah produk yang Lenovo akan rilis di tahun 2016 ini.

Saya bahas produk produk yang sangat saya ingin miliki:

Lenovo Yoga Tab 3 Pro

Ini sebuah tablet, jelas.

Tapi, coba scroll ke bawah dan rasakan perubahan sikap anda kepada benda cantik satu ini…

lenovo-yoga-tablet-3-pro-hold-mode-3lenovo-yoga-tablet-3-pro-stand-mode-2 lenovo-yoga-tablet-3-pro-tilt-mode-4

lenovo-yoga-tablet-3-pro-hang-mode-1

lenovo-yoga-tablet-3-pro-projector-6

lenovo-yoga-tablet-3-pro-back-9

Absolutely, stunning.

Yoga tablet 3 pro , menang penghargaan  CES 2016 Innovation Awards untuk kategori Tablets, E-readers & Mobile Computing. Bayangkan, pameran sebesar CES dengan mungkin puluhan ribu produk, Yoga Tablet 3 Pro dapet penghargaan.

Pasar tablet, turun drastis. Semua perusahaan produsen tablet tahun ini. Penyebabnya adalah ternyata konsumen tidak punya alasan untuk beli tablet terbaru. Tidak ada inovasi dalam tabletnya sendiri. Perubahan dan perbaikan biasanya pada software, apps dan paling mentok kualitas kamera. Lalu apa jawaban Lenovo? Merilis produk tablet dengan inovasi begitu disruptive sehingga kini konsumen punya alasan untuk membeli.

Yoga Tablet 3 Pro , dilengkap dengan built in projector yang bisa dirotasi 180 derajat sehingga anda bisa proyeksikan ke arah manapun, menjadikan area datar apapun sekitar anda menjadi sebuah layar. Ketika saya diberi demo produknya, saya kaget dengan 3 hal: Pertama, saya bisa tiduran di kasur, tembakkan proyektor ke langit langit kamar dan menikmati tayangan youtube, netflix, atau video apapun yang sudah terlebih dulu saya beli atau unduh sampai saya tidur.. atau mungkin malah ga jadi tidur berhubung dia batrenya bisa sampai 18 jam. Kedua, kualitas suara yang keluar dari benda ini luar biasa. Saya jamin. Saya jamin kalau anda dengar sendiri akan kaget. Dia menggunakan 4 speaker di depan, dan dilengkapi Dolby Atmos 3D sound. Ketiga, desainnya cantik sekali. Sebagai lulusan Desain Produk ITB, saya mengagumi keindahan Yoga Tablet 3 Pro . Ergonomis, tidak ada bentuk yang sia sia, semua bentuk punya fungsi. Dan saya terbeli dengan tekstur kulit di bagian belakang. I love leather.

Beberapa fitus yang sering disebut dalam produk ini adalah salah satunya menggunakan Android UI dan dilengkapi dengan “Anypen technology” yang membuat anda bisa menggunakan apapun sebagai stylus. Termasuk, kalau yang saya lihat di video presentasinya, Wortel. Iya wortel bisa jadi stylus untuk Yoga Tablet 3 Pro .

 

Thinkpad X1 Tablet

lenovo-thinkpad-x1-tablet-front-13

Betul, tablet lagi. Tapi kali ini dari kategori Thinkpad X1.

Untuk anda yang awam Lenovo, Thinkpad adalah kelompok produk kasta tertinggi Lenovo. Syarat untuk bisa masuk kategori Thinkpad cukup sulit, dan standarnya tinggi.

Thinkpad jadi produk dengan durabilitas tertinggi. Untuk bisa disebut Thinkpad, bukan hanya secara produk performanya harus jadi yang terbaik, produk ini harus melewati berbagai macam tes fisik. Dibanting, didinginkan, dipanaskan, disiram air, debu, dll.

Intinya, produk ini lolos tes spesifikasi militer.

“Buat apa?” mungkin anda bertanya tanya. Alasan Lenovo melakukan ini semua karena kenyataannya rata rata pengguna produk mahal tidak serta merta merawat produk tersebut sebaik mungkin. Teman saya, menjatuhkan laptopnya dari ransel yang sedang dia pakai karena lupa nutup resleting. Ada lagi kasus, lagi kerja pake laptop, minum ditaruh di meja di samping laptop, gelasnya tumpah karena keserimpet kabel yang berseliweran, air membasahi laptop. Ada lagi orang yang lupa di dalam tasnya ada laptop kemudian dia sembarangan menjatuhkan tas tersebut ke lantai. Katanya sih karena capek. Orang itu saya, ngomong ngomong.

Kesan saya terhadap produk Thinkpad X1 adalah ini merupakan laptop yang tepat untuk para profesional. Para pekarya. Orang orang yang butuh produk dengan performa terbaik tapi juga punya daya tahan bagaikan R2D2 yang saking awetnya hadir dari Starwars Phantom Menace sampai The Force Awakens. Orang orang yang bekerja lebih banyak di luar kantor. Insinyur. Arsitek. Desainer. Geolog. Arkeolog. Peneliti. Marketer. Dokter. Dan masih banyak lagi pekerjaan penting di dunia ini yang butuh produk terbaik.

Kembali ke Thinkpad X1 tablet.

Ingat nggak keinginan Lenovo untuk memberikan produk sesuai keinginan konsumen? Customization? Nah ini dia salah satu contohnya.

Misalnya ada konsumen, yang ingin tablet tapi dengan spesifikasi terbaik dan tepat untuk kebutuhan bisnis, tapi ingin tambahan batre sehingga bisa lebih lama digunakan. Atau ingin tablet yang ada proyektornya, tapi ingin kualitas tingkat terbaik ala Thinkpad. Atau ingin tablet yang punya kemampuan 3D imaging.

Ini dia produknya.

36_X1_Tablet_USB_Pen_Hero_Shot

 

07_X1_Tablet_Family_Shot_With_Alpha

Thinkpad X1 tablet, adalah sebuah tablet dengan opsi penggunaan keyboard. Tapi keyboardnya solid dan akan tetap bekerja dengan baik ketika anda gunakan bekerja dalam pangkuan (kan ada tuh keyboard tambahan untuk tablet tapi lembek) menempel dan melepaskannya pun mudah dan terpenting lagi, kokoh ketika sudah tersambung. Standar Thinkpad.

37_X1_Tablet_USB_Pen_KB_Hero_Shot

Lalu, produk ini menawarkan 3 buah modul tambahan (lihat 3 buah modul di sebelah kanan pada foto di bawah).

lenovo-thinkpad-x1-tablet-front-10Productivity modul memberi tambahan batre hingga 15 jam.

Presenter modul memberi proyektor.

Nah yang keren adalah 3D imaging modul yang bisa mengambil gambar dari sebuah benda 3 dimensional. Untuk apa? Banyak.

a) Yang paling umum dan lagi ngetrend di luar negri, untuk 3D printer. Sebagai contoh, kita bisa foto sebuah mainan dengan 3D imaging camera, lalu spesifikasi ukuran dan volume didapatkan, kemudian tinggal diprint secara 3 dimensi.

b) Untuk mengukur dimensi sebuah benda, biasanya furniture, sebelum dibeli dan ditempatkan dalam sebuah ruangan

c) Untuk mengukur dimensi ruangan, tinggal foto maka data spesifikasi ruangannya langsung kita dapatkan.

d) Anda bahkan bisa memfoto wajah anda dan dapat ukuran jelas dari wajah anda untuk misalnya beli frame kaca mata secara online (berhubung beli frame kaca mata online tidak bisa dicobain dulu)

lenovo-thinkpad-x1-tablet-front-4

Dan masih banyak lagi. Memang fitur ini kurang umum dan terutama di Indonesia masih terbatas pemanfaatannya. Tapi sekali lagi, ini Thinkpad. Produk terbaik Lenovo. Sewajarnya berpikir ke depan dari pada sekadar memikirkan kebutuhan konsumen hari ini.

 

Yoga 900s

Jadi, Yoga 900s itu laptop…

YOGA 900S in Gold_Using Windows 10 in Laptop Mode

Yang bisa dilipat jadi tablet…

YOGA 900S in Gold_Using Outlook in Tablet Mode

Yang bisa dilipat seperti ini karena kita sering ingin menunjukkan sesuatu kepada orang yang duduk di hadapan kita.

YOGA 900S in Gold_Watching a Video in Stand Mode

YOGA 900S in Gold_Thin & LightSeketika saya jatuh cinta dengan produk yang satu ini karena secara desain, cantik sekali. Kalau saya punya, di hadapan semua orang bakal saya lipat lipat dalam berbagai macam bentuk. Pamer aja. Biar yang lain iri.

 

PHAB plus

Yang ini, saya sudah punya. Dikasih Lenovo waktu mau berangkat ke Las Vegas.

Waktu pertama kali saya pegang di benak saya “Wah, besar juga ya (6,8 inch).. Gimana nelfonnya..”

Lalu saya bertemu dengan statistik penggunaan mobile device berikut:

18% penggunaan untuk nonton video

13% penggunaan untuk social media

12% main game

10% baca berita

7% baca e-book

7% nonton tayangan olah raga

3% kamera

Total 70% dari penggunaan mobile device oleh orang orang, bukan untuk menelfon.

Lalu saya terbayang enaknya skype-an pake Phab. Atau baca artikel online. Atau nonton youtube. Atau baca email. Atau main game. Atau edit video. Lalu saya memutuskan untuk menggunakan Phab plus.

Walau besar, Lenovo bilang ada fitur one-hand mode yang pada dasarnya merupakan shortcut pengoperasian dengan 1 tangan. Saya sih belum nyoba tapi harusnya fitur itu memudahkan penggunaan. Siap untuk 4G LTE. Dilengkapi Dolby Atmos . Full HD 1920 x 1080 p IPS. Benar benar cocok untuk 70% kegiatan umumnya orang dalam menggunakan mobile device

phab-lifestyle-2 phab-lifestyle-4 phab-lifestyle-5 phab-lifestyle-8

Pernah dengar ungkapan “What happens in Vegas, stays in Vegas” ?

Well something happened in Vegas, and it followed me home.

An affinity towards Lenovo

Lenovo yang percaya dengan produknya, terbukti berhasil membuat saya ngetweet bertubi-tubi ketika di CES 2016. Antusias dengan semua yang saya lihat, sensasinya seperti baru saja melihat sesuatu yang orang lain belum lihat dan ingin buru buru cerita ke semua orang.

Dari orang yang awam mengenai Lenovo, saya kini jadi orang yang bukan hanya ingin memiliki produk produknya, tapi juga mendukung kemajuan perusahaannya. I love the culture. The openness, the trust, the people and their passion. Saya tahu persis, Indonesia merupakan pasar yang penting untuk Lenovo. Amar Babu menyebut Lenovo melihat Indonesia sebagai entry-level market namun tetap menyediakan produk dalam segala macam pilihan. Rasanya akan tepat niat Lenovo untuk menggarap Indonesia lebih serius mengingat Indonesia adalah negara dengan rata rata usia penduduk yang muda. Ini berarti, peluang untuk memenangkan hati konsumen masih tinggi (biasanya kalau sudah dewasa, sangat kecil kemungkinan untuk berganti merk) dan merupakan rata rata usia orang yang sedang panas panasnya berkarya. Lenovo akan jadi mitra yang tepat untuk banyak orang Indonesia yang berkarya dan profesional. Orang orang yang dinamis, yang enggan untuk stagnan.

Never Stand Still, adalah sebuah slogan yang juga merupakan nafas dari Lenovo. Ini bisa menjadi sebuah ajakan kepada dunia untuk terus maju, terus berusaha, terus dinamis. Never Stand Still. Tapi juga menjadi sebuah janji dari Lenovo kepada dunia bahwa merekapun tidak akan berdiam diri. Inovasi adalah bagian dari gaya hidup mereka, bukan keterpaksaan sebagai solusi menyikapi kompetitor. Never Stand Still.

I love that slogan. Never Stand Still.

Kayaknya cocok kalau saya pinjam jadi slogan saya sendiri di tahun 2016. Berhubung sepanjang tahun saya akan terus bergerak dari kota ke kota, dari negara ke negara dalam rangka JURU BICARA Stand-Up Comedy World Tour.

Hari ini di Jakarta, minggu depan di Shanghai, minggu depannya lagi Medan, bulan depan di Munchen, berikutnya di Tokyo, lanjut ke Yogyakarta, kemudian ke New York, dan terus melaju ke kota kota lain dalam daftar tujuan tur saya di tahun ini.

Cocok kan?

Pandji Pragiwaksono. Never Stand Still.

 

 

 

 

 

 

Tidak suka uang

Saya takut, jangan jangan saya ini nggak suka uang.
Sejak lama saya memutuskan utk tidak mengambil job dari brand rokok. Padahal uangnya besar sekali. Andai saya masih mau kerja sama dengan merk rokok, mencari sponsor world tour bukan perkara susah. 
Saya juga sejak lama tidak mengambil job MC pernikahan. Padahal job wedding adalah job termudah dengan penghasilan tertinggi untuk MC. Kerjaannya relatif gitu gitu aja. Bayarannya bisa luar biasa tinggi. 

Tapi saya berhenti karena merasa tidak suka dengan pekerjaannya & merasa tidak cocok. Sehingga kalau ada pilihan antara istirahat & ngambil job wedding, saya memilih istirahat. 
Saya juga sudah tidak pernah ngambil job ultah sweet seventeen. Sebagai MC rasanya sudah tidak cocok. Sebagai komika saya paling males stand-up di depan anak SMP & SMA. Ngoceeeeeeh mulu. Heckling tanpa mereka bermaksud untuk nge-heckle. Jadi, saya tinggalkan kerjaan kerjaan ini.
Sementara itu, beberapa waktu yang lalu saya ketemu kawan yang dekat dengan manajemen Agnes Monica..

Agnezmo.. Agnez Monica.. Siapapun lah itu namanya skarang… Dia cerita, bahkan Agnez hari inipun masih ambil job nyanyi di wedding & sweet seventeen! Asal bayarannya masuk. Dan dari informasi yg saya terima, bayarannya ampun ampunan tingginya. 

Padahal, Agnez-pun sibuk banget. Tapi dia masih mau ambil job job begini. Karena uangnya layak.
Kenapa saya tidak ya..
Bahkan ketika kondisi ekonomi mendesakpun, saya tetap tidak ambil pekerjaan pekerjaan  tadi
Apa saya tidak suka uang?

Bahaya ini kalau memang saya tidak suka uang.

Keluarga saya butuh uang.
Apakah keputusan untuk tidak ambil job job tersebut kelak akan terbenarkan?
Atau kekhawatiran saya benar? Bahwa saya tidak suka uang?

Lah kita siapa?

Kalau lagi stand-up nyobain materi materi baru di beberapa openmic, saya suka lihat orang orang yang kesulitan membuat penonton ketawa. 

Turun panggung bingung. Salah di mana?

Lalu menyalahkan orang lain, itu kesalahan paling standar.

Pokoknya kalau saya lihat orang abis stand-up trus ngebom (gagal bikin ktawa) atau misalnya gak lolos audisi SUCI/ SUCA/ Street Comedy & nyalahin orang lain, saya tahu persis orang ini pasti belum ngerti stand-up.
Tapi gapapa, setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh-kembang.

Kalau bicara soal pertumbuhan, saya selalu ingat Louis CK.

Di bawah ini ada 3 video perubahan Louis CK

Dulu waktu 1988, dia kalau stand-up kayak gini: http://youtu.be/BWE1B_L0wiQ

Lalu di 2000an awal dia dapet pencerahan setelah ngobrol dgn George Carlin yg bilang dia selalu membuang materinya tiap thn & menulis lagi dari awal. Sesuatu yg dicoba oleh Louis & mnrt Louis membuat dia mau ga mau menggali keresahannya lebih dalam.

Berikut adalah stand-upnya di 2003 di mana mnrt dia untuk pertama kalinya dia merasa “bebas” & “utuh” sebagai seorang komika ketika dia akhirnya menemukan keberanian untuk naik panggung & berkata “Children are assholes” http://youtu.be/03qsJEJgAdE
Sekarang, Louis semakin dalam menggali keresahan manusia dgn berani membahas isu isu yang tidak ada komika lain berani bahas. Dan dia lakukan, di TV http://youtu.be/crjrWF-RRlg 
Jadi, kalau merasa belum lucu ataupun merasa udah lucu, kuncinya jangan berhenti belajar, jangan berhenti bertumbuh. Louis CK belajar terus. Lah kita siapa?