Juru Bicara Medan

Di Juru Bicara World Tour, HAM jadi salah satu sorotan utama. Dari Aksi Kamisan, hingga 65, termasuk di dalamnya Tragedi Trisakti menjadi bahasannya.

Itulah mengapa, Medan jadi penting dalam tur ini.
Kalau dilihat di skema di atas, seluruh runutan Soeharto turun diawali dgn BBM yg naik begitu drastis harganya. Mahasiswa yang pertama kali bereaksi keras, adalah Medan. Sampai terjadi kerusuhan yang berlangsung selama 4 hari. Kerasnya penolakan Medan memancing pergerakan mahasiswa lain termasuk Jakarta. Salah satunya Trisakti yang pada akhirnya terlibat dalam sebuah tragedi di mana 4 mahasiswanya tewas diterjang peluru tajam tgl 12 Mei. 
Medan jadi kota yang penting.
Bukan hanya karena perannya dalam rentetan kejadian Mei, tapi karena Medan adalah kota Indonesia pertama yang didatangi tur Juru Bicara ini.

Kota lain Indonesia, terpaksa harus menunggu. Itulah mengapa tiket Juru Bicara Medan banyak dibeli oleh orang dari luar Medan. Aceh, Batam, Palembang, Pekanbaru, dll.


Tiket masih tersedia, berikut skemanya:

– PLATINUM = 175rb (Dapet Voucher Levi’s 100rb + Voucher WYDNshop 100rb khusus produk digital)
– GOLD = 125rb (Dapet Voucher Levi’s 100rb)

– REGULAR = 100rb (Hanya Tiket Masuk)

Utk pembelian tiket bisa hubungi nomor di bawah ini

Kalau anda di Sumatera, atau kalau anda ingin jadi yg pertama di Indonesia untuk nonton Juru Bicara, jangan lupa beli tiketnya. Sampai ketemu di Juru Bicara Medan ­čÖé

Made in Indonesia

People are interesting.Women especially.
Pada intinya saya seneng ngobrol. Terutama dengan orang baru. Saya senang menemukan “hidup” dalam seseorang. Mendengar cerita cerita mereka, keputusan yang mereka ambil, siapa yang mereka cintai & mengapa. Atau mengapa mereka sedang tidak mencinta. Seperti apa orang yang mereka suka. Perubahan sikap apa yang terjadi ketika mereka bersama pasangan.
Ini inti dari “Made In Indonesia”, sebuah konten di akun vidio saya di mana saya mewawancara pelajar Indonesia yang direkomendasi oleh teman temannya sebagai pelajar cantik. Luar-dalam.
Dari Shanghai, Beijing & kini Berlin saya ngobrol dengan banyak pelajar Indonesia


3 pelajar di atas akan hadir segera di akun vidio saya. 

Kalau mau liat vidio vidio sebelumnya, silakan klik di sini

Semuanya 100 % Made In Indonesia

Q&A

Ada sesuatu yang saya pelajari dari beberapa pertunjukan Stand-up Comedy di luar negeri. Seinfeld. Ellen. Jimmy Carr. Bahkan Jerry Lewis. Selalu membuka sesi tanya jawab usai pertunjukan. Menarik sekali karena akhirnya penonton dibukakan pintu untuk berkomunikasi langsung kepada komika. Engagement, is the word.
Berhubung materi yang dibawakan di #JuruBicara tergolong berat, maka masuk akal kalau sesi Q&A saya buka usai pertunjukan. 

Pada akhirnya, terjadi diskusi yang menarik, ada momen momen spesial yang mungkin tidak akan muncul ketika sedang stand-up, bahkan tidak jarang saya menjawab dengan lawakan & menjadikan Q&A itu seperti sebuah encore.
Di akun vidio saya, saya selalu unggah pertanyaan dari penonton supaya anda yang tidak hadir hari itu bisa ikut larut dalam diskusi kami di sesi Q&A

Jubir Tubir 

Sudah 20 episode berlalu.
Jubir Tubir, judul konten yang saya buat di vidio.com/@pandjipragiwaksono ini adalah wadah diskusi. Topiknya bisa santai, bisa juga berat. Dari “Perempuan feminin vs Perempuan tomboy” sampai “Memilih pemimpin kafir”. 
Dari jaman Provocative Proactive di Metro TV, saya sudah aktif memprovokasi pemikiran orang. Dengan membuka wacana & melibatkan orang dalam diskusi. Dari jaman Provicative Proactive masih program radio bahkan itu sudah terjadi. Bahkan sejak sebelumnya ketika siaran Good Morning Hardrockers Show saya pernah membuat sebuah konten berjudul “Think Again” yg memancing orang berdiskusi. Salah satu topiknya yang saya ingat, adalah mengenai aborsi.
Artinya, Jubir Tubir bukanlah gagasan baru bagi orang yang mengikuti karya saya. 

Mungkin itu mengapa, opini yang masuk di kolom komentar rata rata punya argumen yang menarik. Kalau membaca diskusi di JubirTubir, rasanya orang orang goblok di twitter itu seakan tidak ada.
Itulah mengapa, selain vlog MIKIR, saya sangat senang JUBIR TUBIR

Tidak meminta maaf

Mengapa Kami Menyinggung.
Karena kami pikir itu lucu.
Itu adalah jawaban yang paling jujur.

Bukan niat kami untuk menyinggung tapi karena kami pikir apa yang kami lakukan atau kami ucapkan itu lucu.

Sebagai komika (istilah Indonesia untuk stand-up comedian) kami selalu mencoba untuk mengejutkan penonton.

Karena komedi, menggantungkan nyawanya pada punchline. Punchline bekerja terbaik ketika dia mengejutkan. Kalau tidak, maka tawa yang diharapkan tidak akan meledak. Karena “Ketebak”.

Tapi untuk melakukan sesuatu yang mengejutkan anda, kami harus terus mencoba berjalan jauh sambil meraba batasnya di mana. Tidak jarang, kami melanggarnya.

Kami tahu garis itu kami langgar, ketika protes datang. Badai opini & tsunami hujatan. Kami tahu itu. Kami sadari resikonya. Kami jalani kendatipun demikian.
Kemal Palevi yang kemarin sempat ramai karena video menanyakan ukuran bra ke anak di bawah umur bukan kali pertama yg melanggar garis itu. Diapun juga bukan melanggar ketika stand-up comedy, tapi ketika membuat video untuk dipublikasikan di internet.

Bahkan kejadian tersebut bukan pelanggaran pertama oleh Kemal. 
Masih hangat beberapa hari sebelum kejadian Kemal, orang ramai membahas lawakan saya dari pertunjukan Stand-Up Comedy saya berjudul “Merdeka Dalam Bercanda”.
“FPI jangan dibubarin, biar orang tau kalo nggak sekolah jadi kayak apa”. Meme yg memuat kalimat itu tersebar di dunia maya. Bukan saya yang membuat. Entah siapa. Tapi meme-nya tersebar. Meme tersebut agak membuat lawakannya keluar dari konteks karena yang sedang dibahas adalah orang orang di bawah bendera FPI yang kalau demonstrasi kelakuannya seperti orang yang tidak sekolah.

Apakah FPI yang memprotes? Bukan. Yang ramai memprotes adalah orang orang yang tidak terima saya menghina orang tidak sekolah karena disejajarkan dengan FPI. Mereka merasa FPI lebih rendah.

Saya tergelak. Dalam protes mereka terhadap “hinaan” saya. Mereka menghina pihak lain. Kalau FPI tahu mungkin mereka akan justru memprotes orang orang yang protes kepada saya. Tapi mungkin ribet. Akhirnya ga jadi.
Saya-pun minta maaf. Karena memang bukan niat saya menghina orang tidak berpendidikan. Mungkin kalau yang protes FPI, saya bersedia untuk membuka perdebatan. Karena memang FPI target saya. Akhirnya, redalah kemarahan terhadap saya.
Sebelum saya, Zaskia bercanda tentang Pancasila.

Sebelumnya, Raffi Ahmad menyinggung para wartawan.

Sebelumnya lagi, almarhum Olga menyinggung orang.

Sebelumnya lagi, Cesar dianggap menghina Benyamin & diprotes banyak pihak.
Tidak ada niat buruk. Hanya mencoba membuat orang tertawa. 

Hanya mencoba membuat orang terkejut. Tapi lalu salah langkah.

Saya tidak membenarkan tindakan di atas, saya hanya menerangkan proses berpikirnya.
Di Amerika Serikat baru baru ini, Chris Rock diprotes aliansi aktor keturunan tionghoa Amerika karena dalam kritiknya terhadap Oscar yang rasis terhadap kulit hitam, Rock membuat sebuah sketsa yang menyinggung etnis Tionghoa.
Louis CK, membuat sebuah lawakan yang membuat geger publik Amerika. Dalam siaran langsung di Saturday Night Live, CK membuat lawakan yang memuat kalimat “pasti nikmat memperkosa anak anak”. Andapun yang membaca pasti geger. Karena anda tidak paham konteksnya.

Kalimat lengkapnya seperti ini kurang lebih “Padahal, hukuman untuk memperkosa anak itu sangat keras! Bisa hukuman mati, penjara seumur hidup, kalaupun dipenjara orang orang ini pasti akan dihabisi karena bahkan bagi para penghuni penjara, pemerkosa anak levelnya paling nista. Tapi kenapa ya masih ada yang berani melakukannya? Kesimpulan yang kita bisa ambil, pasti nikmat memperkosa anak anak sehingga mereka bersedia menerima resikonya. Nikmat untuk mereka lho ya, untuk mereka.”
Nah orang yang hanya mendengar “pasti nikmat memperkosa anak anak” akan mengamuk. Tapi publik yang lebih tenang & mampu memproses berkata Louis CK memperingatkan kita bahwa pemerkosa anak ini tidak bisa ditakuti dengan hukuman yang sekarang berlaku. Mereka sakit jiwa. Harus ada perubahan dalam cara dunia sosial menangani mereka.

Tapi, Amerika gempar & Louis CK diserang.
Dick Gregory, komedian kulit hitam Amerika yang legendaris. Memulai karirnya jauh sebelum Eddie Murphy & Richard Pryor juga kena protes. Joke-nya “I am really enjoying the new Martin Luther King Jr, stamp. Just think about all those white bigots, licking the backside of a black man.”. Lucu? Tentu. Tapi tidak untuk banyak orang kulit putih Amerika.
George Carlin, legenda komika Amerika & salah satu yang paling kontroversial, mengubah tatanan TV Amerika ketika tahun 1970 membuat pertunjukan live di TV & membawakan lawakan berjudul “7 kata yang tidak boleh diucapkan di TV”
Semua nama nama di atas, memiliki 2 persamaan. Sama sama menyinggung orang tentunya, tapi ada satu hal lagi yang penting untuk dibahas di sini.

Ketika lawakan mereka (yang belakangan dianggap menyinggung) dibawakan, semua yang menonton tertawa. 
Lawakan saya tentang FPI, saya bawakan keliling 15 kota Indonesia. Semua yang menonton tertawa. Kok bisa? Video Kemal yang kontroversial kemarin, kalau anda baca kolom komentar, dianggap lucu oleh penikmatnya. Termasuk anak 14 thn yang dia tanya tertawa & mengijinkan (yang ini tidak bisa dianggap benar karena seringkali anak anak kecil tidak tahu apa yang baik untuk dia). Kok bisa?
Karena Kemal & saya & semua komedian di atas melontarkan materi lawakan untuk kalangan tertentu. Kalangan yang siap menerima lawakan seperti itu. Yang kami lupa, adalah bahwa materi itu akan tetap viral di social media & internet raya. Publik yang tidak jadi target market lawakan ini akan mengkonsumsi & karena perspektif yang beda akan terbuka terhadap multi intepretasi & protes berterbangan.
Kini, banyak komedian merasa dihadapkan dengan permasalahan: Apakah saya harus melakukan self-censor terhadap materi saya & tidak sebebas dulu?

Buat saya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan baru. Jangankan dalam melawak, setiap orang harusnya berpikir & melakukan self-censor ketika mau berucap, beropini, ngetweet, post facebook, dll.
Kita semua harus siap mempertanggun jawabkan apa yang kita katakan, di manapun kita berada. Kalau tidak, kita bisa dikejar untuk dimintai pertanggung jawaban. Di manapun kita berada. 

Kalau tidak percaya, tanya saya kepada orang yang didatangi Deddy Corbuzier gara gara komentarnya di social media.
Sayapun melalukan hal yang sama. Dalam melawak saya menghabiskan bermalam malam tidak tidur memastikan bahwa untuk setiap ucapan saya dalam pertunjukan stand-up saya, didukung fakta & bisa dipertanggung jawabkan 100%. Itupun masih takkan luput dari resiko. 

Tahun ini saya akan tur dunia ke 24 kota di 5 benua. Beberapa kota di Tiongkok, 5 kota Jerman, 6 kota Amerika Serikat, 6 kota Indonesia, juga Jepang, Afrika Selatan, Australia, lalu ditutup 10 Desember 2016 di Jakarta. Di dalamnya saya membahas industri TV termasuk rating & sensor, membahas isu HAM, isu agama, komunisme, atheisme, LGBT, termasuk membahas spesies langka yang mulai punah karena rumahnya dibongkar untuk kebun kelapa sawit. Beresiko? Tentu. Tapi resiko ini saya siap untuk ambil demi banyak hal penting yang saya rasa publik harus tahu.
Saya siap pertanggung jawabkan namun kalau ternyata publik menemukan bahwa saya salah langkah & saya sendiri sadari kesalahan tersebut, saya tidak akan terlalu besar kepala untuk meminta maaf. 

Terus Menulis

Beberapa mungkin udah tau, saya skarang aktif di vidio.comSebagai bagian dari kerjasama sponsorship Juru Bicara World Tour, saya bikin konten di situs tersebut.
Salah satunya, adalah vlog saya yg berjudul MIKIR.
Sudah lama saya diminta vlogging tapi entah kenapa enggan. Mungkin karena kebanyakan vlog yg lagi beredar di Indonesia ini ga membuat saya minat.

Kebanyakan kontennya tidak menarik. Vlogging mengenai keseharian mereka yang belum tentu menarik.
Saya tidak tergerak untuk bikin vlog sampai saya terpikir.

I dont write blogs to talk about what i ate or where i went today.

I dont write blogs to talk about my daily life.

I write what i have in mind. My thoughts & opinions & arguments.
Di situlah saya mulai ingin nge-vlog. Tentang hal hal yang saya pikirkan.
Judul MIKIR yang saya gunakan datang idenya dari Aan desainer saya. Saya pikir cocok sekali. Kata MIKIR lekat dengan saya sejak mungkin 2009-an. Gara gara topi MIKIR. Lalu toh vlognya isinya pemikiran. Klop.

  
Tiap hari vlog rilis di vidio.com/@pandjipragiwaksono , dan isinya adalah argumen, opini & buah pemikiran.

Sehingga semoga jadi pilihan yang beda di antara yang sudah ada.
Apakah seringnya saya ngevlog membuat saya meninggalkan blog?

Cek saja tulisan yang ada di sini. Terlihat kok saya masih aktif. Karena formatnya beda.

Ada pemikiran yang cocok dgn format musik, ada yg cocok dgn stand-up, buku, vlogging dan ada yg cocok di blog.
Makanya, sesering seringnya saya rekam video, saya akan terus menulis

Unparalleled

You know that feeling when you watch something you love & you’re reminded why you love that thing you love? I got that feeling last night.

Semalam abis nonton Talk Of Life stand-up show part 1: Acho & Adri.
Dan saya jatuh cinta lagi kepada Stand-Up Comedy.

Saya ingat lagi mengapa saya melakukan semua ini. 

Saya ingat mengapa saya mendedikasikan waktu, tenaga, uang, bahkan hidup untuk kesenian ini.

Stand-up comedy adalah perayaan akan ekspresi diri.

Seseorang naik panggung. Tanpa baju aneh aneh. Menjadi diri sendiri. Membawa opininya. Membawa subjektivitasnya. Lalu disambut meriah dengan tawa.

Tapi tak semudah itu.

Butuh bakat, butuh kerja keras, butuh proses untuk menggapai semua itu

Seperti perempuan cantik yang nggak gampangan. Butuh usaha untuk membuat dia mau dengan kita. 

Tapi ketika itu terjadi. Kebahagiaan bukan hanya pada sang komika. Tapi kepada kita yg menonton.

I swear to you. Watching a good joke being told gives a similar feeling as watching a superb slam-dunk.

Saya bisa terlompat dari kursi!

Ketika saya tinggalkan kursi itu, yg mengangkat saya adalah rasa kaget, tawa, puas, rasa kagum, bercampur jadi satu emosi.

Its a rich emotion.

Langka sekali emosi itu terjadi. 

That’s why i love stand-up comedy.

That rich emotion provided by 1 brilliant joke.

Unparalleled.


  

Bitter Pills

I think about the things i doThe sacrifices i make

The hours lost

The times spent
I think about all the above 

And i think about the way my children behave when im home

How they all want to talk to me at once

They all want my attention

How they missed me
I think about that and i think about my wife

I think about our arrangement

Our promise

This wasnt the deal

I wasnt supposed to leave her behind with all of the responsibilities of parenthood.

I think about that & i wonder
Is this all worth it?

Will the result be somewhat important for my children?

For my family?
Will my accomplishments be just like a trophy?

With no purpose other than to be the reminder of how good i used to be.
Will i have an impact

For people

For my family
Will i matter?
Will it matter?
I think, still

Until i find the answer, all this questions are bitter pills

Menyusul Mereka

Kemarin ada yang bertanya, alasan saya memilih seseorang menjadi opener World Tour.

Sebelum menjelaskan, saya mau kasih tahu bahwa sekarang dengan akan berjalannya JURU BICARA Stand-Up Comedy World Tour maka ada 7 opener world tour.

Awwe, Gilbhas dan Krisna opener Mesakke Bangsaku World Tour

Arie Kriting, Babe , Barry dan Yudha Khan opener Juru Bicara World Tour.

Alasan pemilihan Awwe, Gilbhas dan Krisna ada di dalam film dokumenter “Menemukan Indonesia” yang rilis april, jadi silakan ditonton sendiri nanti.

Nah, mari saya jelaskan alasan pemilihan 4 yang membuka saya di Juru Bicara World Tour.

Pertama tama, ada alasan mendasar pemilihan opener world tour. Tepatnya ada 2 alasan mendasar. Yang pertama: SOLID. 

Makanya saya selalu membawa opener world tour yang pernah membuka saya di tur nasional. Karena saya pernah lihat sendiri kinerja mereka, pernah lihat bagaimana mereka membuka saya. Saya tahu persis mereka solid dalam arti ditaro di kondisi apapun, suasana apapun, kendala teknis seperti apapun, mereka akan bisa bekerja dengan baik.

Ini juga berarti, opener kota kota nasional punya peluang untuk jadi opener world tour ketika saya mau tur dunia lagi. Entah kapan.

Tur itu, apalagi Tur Dunia, faktor X-nya suka aneh aneh. Tidak mungkin saya membawa komika yang lucu SAJA. Komika yang ikut ke luar negri harus matang dan konsisten.

Alasan mendasar ke dua adalah: SELERA.

Orang yang saya ajak jadi opener (tidak hanya yang tur dunia) itu adalah opener yang selera komedinya saya suka. Jadi saya tidak begitu mempermasalahkan teknik, persona, bobot materi, dll. Kalau saya suka dan dia solid, cukup untuk jadi alasan saya memilih dia jadi pembuka. Urusan selera, ga bisa diganggu gugat. Tiap orang beda beda.

Nah sekarang, alasan spesifik. Ada alasan spesifik mengapa beberapa orang saya pilih. Arie misalnya yang saya pilih karena saya yakin dia akan memberikan dampak baik kepada pelajar Indonesia di luar negeri. Materinya memiliki keresahan yang saya yakin tidak dirasakan banyak pelajar di luar negeri. Boro boro merasakan, mereka bahkan tidak tahu masalah itu ada. Arie akan mendobrak pemikiran mereka. Yudha Khan saya pilih karena alasan lebih krusial. Di saat banyak komika membuat materi dari hal yang mengawang awang dan jauh dari kesehariannya, demi lucu atau demi punya materi yang pop, Yudha Khan membicarakan kotanya, Cirebon. Dia membuat saya jadi tertarik dengan kota tersebut. Dan itu yang menjadikan stand-up-nya Yudha menarik. Kalau mau jualan, jualanlah sesuatu yang orang itu belum punya. Jualan pemutih kulit di Indonesia yang rata rata orangnya kulitnya gelap. Di Amerika, pemutih kulit gak laku, kebanyakan ingin punya kulit berwarna gelap alias tanned. Sama dengan materi Stand-Up, ketika Yudha membicarakan Cirebon dia menjual sesuatu yang orang di kota kota besar belum  tahu dan belum punya: Kultur dan tradisi. Keberanian Yudha untuk jujur dan sederhana, menjadikan dia berbeda. Barry adalah salah satu contoh komika yang genuine. Dia gaya bicaranya tidak ikut ikutan kayak orang lain. Dia nyaman dengan dirinya sendiri. Barry adalah contoh orang yang bertemu dirinya sendiri sebelum dia bertemu stand-up comedy. Banyak sekali di Indonesia orang orang yang ketemu Stand-Up sebelum ketemu dirinya sendiri. Akhirnya dia ikut ikutan orang. Gaya bicaranya mirip orang. Stand-Up itu sebentuk kesenian. Seni adalah ekspresi diri. Kalau dia belum kenal dirinya, mana tau dia apa yang harus diekspresikan. Kalau dia tidak tahu apa yang mau diekspresikan, buat apa berkesenian? Babe Cabiita sudah jelas merupakan komika yang dengan mudah memporak porandakan gelak tawa penonton. Effortlessly funny. Tapi terpenting, dia adalah contoh orang yang memulai dari stand-up, meledak di industri hiburan secara umum dan industri film secara khusus, tapi tidak meninggalkan stand-up comedy. Sikap Babe seperti ini, kelak akan penting. Karena industri stand-up hanya akan sekuat para pelakunya. Kalau pelakunya pada pindah kapal, dan angkatan penggantinya lemah, tidak punya kakak untuk diidolai dan menjadi tantangan, maka generasi terbarunya tidak akan berkembang. Ketika itu terjadi, maka robohlah industri stand-up comedy di Indonesia.

Jadi begitulah alasan mengapa saya memilih 4 orang tadi sebagai pembuka.

Ada yang ingin menyusul mereka?

 

Tidak Ada Jalan Pintas

Menjawab pertanyaan: Bagaimana caranya bisa sukses seperti anda?
Harus mau berproses. Harus mau belajar. Harus mau kerja keras. Harus mau mencoba. Harus mau gagal. Harus mau bangkit. Harus mau mencoba lagi. Harus mau sabar. Harus mau menunggu.
Kalau anda tidak melihat itu dalam keseharian saya hari ini sebagai komika, itu adalah karena prosesnya sudah berlalu & sebagai komika hari ini saya menuai hasilnya.
Kalau mau belajar bagaimana berproses, belajar, kerja keras, mencoba, gagal, bangkit, mencoba lagi, sabar & menunggu, lihat keseharian saya sebagai rapper, penulis buku, aktor.
Di 3 bidang tersebut, saya masih berproses.
Saya terima perjuangannya karena saya percaya.
Proses yang akan membawa saya ke sana.

Tidak ada jalan pintas.
 

Foto Oktober 2015 ketika saya ngerap di Cirebon. Kapasitas 400, yang datang 38 orang. Tidak ada jalan pintas.