Street Team Jogja

Juru Bicara Jogjakarta mulai menjelang, tiba tiba saya terpikir sebuah ide yang sudah di kepala sejak 2013. 

Namanya Street Team.

Idenya dari dunia hip hop. 

Biasanya seorang rapper membuka kesempatan kepada penikmat karyanya untuk terlibat dalam timnya. Mereka biasanya gerilya ikut mempromosikan karya/ acara sang rapper. Menjadi bagian dari tim. 

Dari dulu selalu ada banyak penawaran dari followers untuk membantu saya ketika tur. Kali ini saya membuka kesempatan itu. 

#JuruBicara STREET TEAM :
Saya membuka kesempatan untuk siapapun di kota Yogyakarta, atau Semarang, Solo, Magelang & kota Jawa Tengah lainnya untuk gabung dalam Street Team Juru Bicara.
Masing-masing nama akan mendapatkan:
– Special Seat Juru Bicara Yogyakarta (VIP). Depan depanan dengan saya langsung.

– All Access ID

– Kaos Juru Bicara
Tugas utamanya adalah mempromosikan & ikut bantu menjual tiket Juru Bicara dengan tentunya mendapatkan komisi dari setiap tiket terjual. Nanti kamu bisa menjual tiket GOLD & SILVER.

Berapa margin / tiket akan saya jelaskan ketika kita ketemu 🙂

Setelah baca ini, kalau mau gabung, di twitter mention saya dengan tagar #StreetTeamJogja & bilang mau gabung.

Nanti semua akan dikumpulkan untuk dibriefing oleh saya langsung 🙂 

Ditunggu gabungnya dengan tim Street Team Jogja

Terwujud & terjadi

Semua gara gara uang.
Wilayah Afrika Selatan asalnya adalah wilayah yang sepi. Mayoritas penduduknya adalah warga kulit hitam. Penduduk lokal.
Namun semuanya berubah ketika pertama kali ditemukan, emas.
Dalam waktu singkat, pendatang kulit putih memenuhi Afrika Selatan. 

Ekonomi berkembang pesat. Sekitar 25% demand emas dunia, datang dari Afrika Selatan. 

Lalu konflik sosial mulai bermunculan.
Awalnya konflik dimulai gara gara siapa yang berhak mendapatkan apa, siapa yang berhak mempekerjakan siapa. Suku mana boleh menambang di mana. Pendatang mana boleh menggarap yang mana.
Lalu mulailah inisiatif para pendatang dari Eropa untuk membuat aturan. Berhubung mereka merasa lebih intelek, lebih maju & lebih “berbudaya”. Aturan ini, kelak akan mengekang semua warga kulit hitam Afrika Selatan & merampas hak asasi mereka. 
Awalnya para pendatang ini membentuk aliansi yang kemudian bergerak ke arah pemerintahan. Mereka bilang “Demi kebaikan kita semua, apapun ras & golongannya”. 

Ide awal mereka adalah segregasi. Alias pemisahan area, fasilitas, termasuk hak antara kulit putih dan non kulit putih. Katanya supaya tidak terjadi konflik. Pemerintah menyebutnya sebagai program “Tetangga yang baik”. Yaitu terima saja pemisahan ini, anda ya di sana, kami ya di sini, jadilah tetangga yang baik & jangan saling menyinggung.

Tapi program ini tidak berjalan lama, berhubung orang kulit hitam banyak yang masuk ke area kulit putih sebagai pekerja bahkan influxnya semakin banyak seiring maraknya tambang emas & berlian. Konflik tak terhindarkan. Salah satunya adalah konflik yang terjadi kepada seorang pengacara dari India yang kuliah lalu kerja sebagai pengacara muda di sana. Dia diusir dari kereta api karena dia menaiki gerbong kulit putih. Dia kelak memimpin perjuangan kesetaraan hak di Afsel lalu kemudian kembali ke India untuk melawan penjajah Inggris. Dunia mengenalnya dengan nama, Gandhi.
Akhirnya karena konflik sosial tidak kunjung usai, diputuskan Apartheid. Sebuah rezim dimana kulit hitam dicabut segala haknya termasuk hak berpolitik. Mereka tidak bisa ikut pemilu & tidak punya suara politik. 
Menurut politisi politisi kulit putih ini dalam wawancara TV, keputusan ini adalah untuk kebaikan mereka (non-kulit putih) juga karena mereka “masih belum terdidik, masih barbar & biadab”.
Masyarakat kulit hitam semakin diatur, semakin dikekang, semuanya diberi semacam pass-book yang isinya segala informasi terkait dirinya. Semacam KTP tapi lebih lengkap sampai kepada kerja di mana, untuk siapa, catatan sosial & kriminal.

Polisi lalu sweeping masyarakat kulit hitam saja & kalau ada yang tidak bawa akan langsung dimasukkan ke penjara. 
Bermunculan aktivis politik, salah satunya bernama Mandela yang membentuk organisasi politik (kelak menjadi partai politik) bersama teman temannya membakar pass-book tersebut sebagai tanda protes. Mandela jadi semakin terkenal namanya & media sering mewawancara dirinya terkait aktivisme & rezim Apartheid. Cerdas & lugas dalam berbicara, Mandela jadi favoritnya media.
Mandela dipenjara karena dianggap terlalu berpengaruh, apalagi ketika Mandela berkata jalan damai percuma ketika reaksi balik dari pemerintah adalah kejam & biadab. Takut memancing kekerasan lebih parah, Mandela ditangkap namun aktivis lain terus bergerak. Aktivis aktivis lain ditangkapi & secara misterius tewas di penjara. Beberapa bahkan dalam kondisi mengenaskan. 

Mandela sendiri tidak dibunuh karena pemerintah tahu akan memancing amarah yang lebih bahaya.

Winnie Mandela, istri dari Mandela juga melakukan perlawanan. Dia mendirikan organisasi yang cenderung keras. Winnie pernah ditangkap dirumahnya di Soweto yang merupakan wilayah kumuh Johannesberg & dipenjara selama 8 bukan. Ketika keluar justru semakin keras dan militan memimpin organisasinya. 

Soweto juga jadi saksi sejarah gelap Afrika Selatan ketika anak anak & remaja melakukan aksi massa di atas bis & berkeliling kota, lalu dihalau, ditangkapi, dipukuli & dibunuh oleh polisi. Kerusuhan pecah. Korban nyawa tak terhindarkan. Dunia menonton dari tayangan televisi. Mandela menyatakan duka yang mendalam dari penjara.
Akhirnya pada satu masa, Pemerintah Afrika Selatan melakukan sesuatu yang krusial. Dia melakukan kompromi politik demi berhentinya kerusuhan & korban jiwa. Dia mengumumkan bahwa Mandela akan dibebaskan, kemudian semua organisasi politik yang tadinya dilarang, diperbolehkan kembali.

Di balik semua itu, dia minta bantuan Mandela untuk bersama dia mendamaikan publik.
Keputusan ini memancing reaksi negatif di kalangan kulit putih. Tercatat puluhan organisasi kulit putih lahir setelah keputusan ini dan bertekad untuk menolak putusan pemerintah. Tuntutan mereka, agar kondisi dikembalikan seperti semula. Mereka bahkan tidak segan segan menggunakan jalan kekerasan. 
Bukannya damai, malah dalam beberapa tahun setelahnya, Afrika Selatan memasuki masa tergelapnya. Angka kematian dalam beberapa tahun setelah keputusan itu justru lebih tinggi dari pada angka kematian yang terjadi dalam puluhan tahun perjuangan persamaan hak di Afrika Selatan.
Mandela bersama partainya melakukan negosiasi dengan pemerintah. Negosiasi ini berjalan alot dan lama. Hingga pada akhirnya Afrika Selatan memasuki masa pemilu. Partainya Mandela ikut serta. Seluruh rakyat termasuk yang kulit hitam diperbolehkan ikut memilih. Partai Mandela menang. Mandela jadi Presiden. 

Beliau mencontohkan untuk memaafkan para masyarakat kulit putih, dan mengajak seluruh warga untuk bersatu.
***
Saya pelajari ini semua, ketika berkunjung ke Museum Apartheid di Johannesberg, Afrika Selatan.

Ketika anda beli tiketnya, secara random tiket anda akan tertulis “blankes” atau “non-blankes”
Blankes adalah kulit putih, Non-Blankes adalah sisanya. Termasuk orang Asia seperti kita.

Gerbang masuknya akan terbagi dua. Dan masing masing gerbang mengajak anda masuk museum dengan perspektif yang beda.
Di satu titik kita akan melihat ke dalam lorong kulit putih & melihat mereka sebagaimana sejarah Afrika Selatan dulu mengenal mereka.
Keluar dari ruangan itu kita diajak jalan melewati proses panjang sebelum ditemukannya emas di sana. Dimulai dari yang disebut sebut sebagai nenek moyang seluruh umat manusia.
Ketika memasuki bangunan utama museum, kamera & ponsel dilarang. Tapi ketika di dalampun, terlalu mencekam rasanya untuk foto foto mencari momen untuk diabadikan.
Saya belajar banyak akan Indonesia dari mempelajari sejarah negara lain. Dalam hal ini, Afrika Selatan.
Saya belajar:
Ketika manusia merasa lebih mulia, lebih benar, lebih terdidik & lebih beradab, dia cenderung berbuat semena mena terhadap mereka yang tidak dianggap sebenar & semulia dia. Tanpa sadar, dia melakukan perampasan hak.

Cara melakukan kebenaran, sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri
Saya belajar:
Bahwa banyak “orang jahat” sesungguhnya tidak sadar bahwa mereka jahat. Di mata mereka, merekalah justru yang baik. Maka kedamaian tidak akan pernah muncul dari menentukan mana yang salah dan mana yang benar, tapi dari memutuskan apa hal baik yang bisa dilakukan.
Saya belajar:
Bahwa persatuan datang dari usaha keras untuk mencoba memahami sebelum membenci. Dan dibutuhkan individu individu yang bersedia mencontohkan itu. Individu ini akan melewati perjalanan yang luar biasa berat. Seperti berjalan menembus badai. Namun hasil akhir yang begitu didambakan membuat perjuangannya layak untuk dijalankan
Saya belajar:
Bahwa pemimpin negara yang baik mencontohkan kebaikanya bukan hanya ketika menjabat, tapi juga juga ketika memutuskan untuk tidak menjabat. Mandela tidak melakukan abuse of power kendatipun dia benar & dicintai rakyatnya. Mandela berhenti jadi Presiden setelah hanya 1 periode kepresidenan.

Makanya kalau anda lihat ada orang yang mau memimpin sebuah negara lebih dari masa yang ditentukan hukum, dalam hal Indonesia, adalah 2 masa jabatan, maka kita layak berhati hati akan motivasi dia dibalik jabatannya. Contoh: Soeharto & bahkan Sukarno dengan gagasan demokrasi terpimpin yang sebenarnya mah rezim otoritarian juga tapi namanya lebih cantik.
Saya belajar:
Bahwa usaha mempersatukan Bangsa tidak ada garis akhirnya. Tidak ada ujungnya. Tiada henti.

Selama negara itu berdiri perjuangannya harus terus terjadi.

Mandela kini sudah tiada. Afrika Selatan kini dipimpin Presiden ke 3-nya & orang ini terkait lebih dari 100 kasus korupsi. Angka penganggurannya 25% dan menjadikan Afsel sebagai negara dengan angka kejahatan salah satu yang tertinggi di dunia. Nyaris setiap rumah dikelilingi pagar listrik. Pretoria jadi satu satunya kota Juru Bicara World Tour dimana saya gagal lakukan rutinitas lari pagi. Saya dilarang semua orang karena mereka khawatir saya jadi korban kejahatan. Di Afsel, copet menembak mati setelah merampas. Sehari sebelum kami pulang, ada penembakan di mal tidak jauh dari kami makan malam.
Saya belajar
Dan lewat tulisan ini saya berbagi.
Supaya anda & saya sama sama tahu persis apa yang harus kita lalukan.

Supaya Indonesia yang kita idamkan bisa terwujud & terjadi.

PS: Untuk versi lebih banyak foto & video, tunggu versi Stellernya 🙂

Ganteng Ganteng Sombong

Ganteng Ganteng Swag.Sebuah lagu yang menyapu negeri ini dengan kontroversi.

Young Lexx, Kemal Palevi, Jovial Da Lopez, Andovi Da Lopez, Reza Arap Oktovian, Dycal.
Internet gempar karena 2 hal yang saling berkaitan:

– Lirik lagu tersebut

– Anak anak di bawah umur yang menggilai lagu tersebut.
Reaksi umumnya orang dewasa adalah mencekam rombongan GGS ini karena katanya mereka tidak sadar audience mereka anak anak & mereka mencontohkan anak anak ini hal buruk.
Sementara saya, tepuk tangan kepada GGS.
What they’re doing, is true hip hop.
Malah rapper rapper Indonesia lain antara harus malu karena tidak bisa bikin karya sehebat orang orang tadi atau berterima kasih karena masih ada mereka yang mengibarkan bendera hip hop tinggi dgn lagu rap mereka tadi.
NWA adalah sebuah grup rap dari Compton yang kini dianggap legenda dan karyanya “Fuck The Police” dipuja serta dianggap berpengaruh kepada tatanan sosial budaya Amerika. Tapi pada jaman lagu itu keluar, yang protes luar biasa. Jelas saja. Selain liriknya kasar (judulnya saja ada kata “Fuck”) bait pertama oleh Ice Cube menggambarkan keinginan Cube utk menghabisi polisi. Mohon diingat, yang mengidolai NWA kebanyakan adalah anak anak & remaja. Ketika ditanya media mengapa karyanya seperti itu, Ice Cube menjawab “Our art is a reflection of our society”.

Jangan salahkan kesenian kami, orang berkesenian ya harus jujur dengan dirinya & kejujuran ini datang dari lingkungan ini. Mudah sekali menunjuk 1 orang salah, padahal kalau mau benerin, ya benahi lingkungan sosialnya. Tapi tidak ada yang mau melakukan itu. Susah. Lebih mudah menyalahkan pelaku seninya daripada dunia yang mengilhami karya seni itu sendiri.
Contoh sempurna, lagu “Ganteng Ganteng Swag”
Orang paling sering membecandakan kalimat “youtube lebih dari TV” lalu mencemooh “kalau emang lebih dari TV kok lo pada masih tetap butuh TV?”

Padahal coba kesampingkan sinisme dan kebencian anda dulu & pikirkan baik baik.

Dalam banyak hal, youtube memang lebih dari TV. 

Lebih variatif.

Lebih kreatif.

Lebih bebas.

Lebih mengakomodir anda untuk berkarya

Lebih cocok & murah (gratis bahkan bagi para pekarya) utk mempromosikan karya anda 

Lebih adil ketimbang rating TV

Lebih menarik.

Lalu salahnya kalimat “youtube lebih dari TV” di mana?

Lagipula, tanpa sadar setiap kali di socmed ada yang menulis kalimat “youtube lebih dari TV” mereka melegitimasi kemampuan Jovi dalam menulis lirik yang catchy & nge-hook

Bagaimana dengan “Explicit Lyrics” di lagu ini? Kata kasar bertaburan dan dianggap mencontohkan yang buruk kepada anak anak.

Lucu orang orang itu.

Seakan akan sikap nyinyir dan menyindir mereka bukan contoh buruk utk anak anak yang membaca tweet mereka.

Seakan sikap ngomongin orang tanpa mention yang dimaksud bukan contoh buruk untuk anak anak.

Seakan sikap menggosip di belakang tanpa integritas adalah contoh baik.

Seakan sikap keroyokan di socmed kepada satu atau sekelompok orang adalah sikap mulia yang mereka mau contohkan ke anak anak.

Seakan sikap kebebasan berpendapat hanya utk yang sependapat sementara yang tidak sependapat diblok jadi contoh ideal untuk hidup dalam perbedaan bagi anak anak ini.
Bahasa kasar bisa dihentikan dengan larangan. Saya tahu persis karena saya Ayah dari 2 anak yang sudah punya sikap & bisa berbahasa.

Tapi mental anak anak melihat orang dewasa yang minim integritas akan membekas dan menjadi bagian dari jati diri mereka. Hati hati menghardik orang, mawas diri juga sebaiknya.
Soal memasang marka “Batas usia” pada konten saya setuju. Sewajarnya siapapun yang mengunggah konten seperti GGS punya kewajiban untuk memasang marka tersebut. Karena itu hal yang benar untuk dilakukan.

Kalau rombongan GGS menolak melalukan itu karena takut viewsnya turun drastis, ya berarti mereka tidak beda dgn TV yang lakukan apapun demi ratingnya tinggi.

Namun harus diketahui, itu tidak akan menahan anak anak dari menemukan konten negatif.

Anak anak saya suka nonton kartun di youtube. Kadang kadang tab suggestion menampilkan fan art dari sebuah kartun yang ternyata bahasanya kasar. Bahkan Dipo pernah tidak sengaja menemukan konten porno. Waktu itu dia belum bisa lancar baca. Lagi nonton nonton Angry Birds lalu dia klik sebuah video yang fontsnya menyerupai Angry Birds. Tiba tiba Dipo teriak memanggil saya & menunjuk ke ipadnya dengan panik. “Apa itu?” Tanyanya dengan gusar. Pas saya lihat videonya isinya cewek cewek seksi berbikini, videonya berjudul “Angry Girls”

-_-*
Jadi, terkait konten dan hal negatif yang seliweran di socmed, atau TV, atau sekolah atau les atau pertemanan, sadari bahwa pengekangan mata & telinga mereka adalah percuma. Lah saya bisa nonton bokep dari SD. Baca stensil dari SMP. Padahal jelas itu bukan konsumsi umur saya. Tapi ya begitulah anak anak.

Mereka selalu ketemu caranya.
Kuncinya, adalah orang tua.
Buat saya, memblokir konten internet karena takut anak terkena dampaknya sama lucunya dengan menutup warung makan karena takut terganggu puasanya.
Anda ingin tutup warungnya supaya puasanya gampang.

Anda ingin blokir internetnya supaya kerjaan anda sebagai orang tua gampang.
Tidak mudah jadi orang tua, saatnya kita sadar & ambil tanggung jawabnya.

Sayapun sudah sampai menjelaskan apa itu F word, S word dan jari tengah (videonya ada di sini) dan saya justru senang dia bertanya. Saya tidak memarahi ketika dia tahu kata kata tadi. Lebih baik dia tanya & dapatkan penjelasan dari saya dari pada orang lain.
Begitulah pendapat saya tentang lagu GGS.

Sekarang saya pamit dulu.

Mau nulis lagu rap yang bisa lebih keren dari GGS.

Begitulah kami di hip hop, kompetisi memancing kami jadi lebih baik.
Kelihatannya single saya selanjutnya setelah usai menjalankan Juru Bicara World Tour yang merupakan tur dunia pertama oleh orang Indonesia, judulnya juga GGS: 
Ganteng Ganteng Sombong.

Lebih baik yang datang polisi

Ada 1 hari yang saya sangat sesali dalam hidup.

Sebenarnya, banyak. Tapi terkait menjadi orang tua, ada 1 yang selalu membekas & teramat saya sesali.
Hari itu kami sedang dalam perjalanan mobil menuju sebuah hotel di Bandung. Saya bahkan tidak ingat hotelnya, yang saya ingat adalah kami nyasar menuju ke sana.
Kami yang dimaksud adalah saya, Gamila & Dipo. Shira belum lahir jadi kemungkinan Dipo saat itu berusia 3 tahun. 
Saya tidak ingat apa penyebabnya tapi Dipo teramat rewel. Pada masa itu Dipo masih suka melempar barang ketika marah & bahkan meludah. Sesuatu yang kami berulang kali larang dengan keras. Kelihatannya dia meniru perilaku itu dari anak anak lain & ketika ingin berargumen tapi kesulitan untuk melakukannya secara verbal, protes teatrikal biasanya selalu jadi jalan keluar.
Sesampainya di hotel, saya keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Dipo yang baru turun dari mobil, saya cengkram tangannya, saya bentak dia dengan gelegar suara seperti Singa lalu saya angkat Dipo ke udara & mengguncang tubuhnya keras sambil membentak.
Ketika saya turunkan ke lantai, tubuhnya bergetar. Dia kaget kelihatannya. 

Saya pun terkejut dengan apa yang baru saya lakukan.

Melihat Dipo ketakutan melihat saya seketika membuat saya sedih & ingin menangis.
Dipo meneteskan air mata lebih dahulu. Tangisan dahsyat yang mau keluar dia tahan sekuat tenaga, kelihatannya dia takut saya marah lebih parah. Tubuhnya bergetar karena berusaha menahan tangis.
Saya langsung peluk dia dan meminta maaf, Dipo langsung lepas tangisnya. Dan maha dahsyat tangisannya.
Dipo anak yang baik

Dia sopan

Dia halus pekertinya

Banyak orang yang mengenal dia mengenalnya sebagai anak yang manis.

Setiap kali saya cium & peluk dia sambil berkata “i love you”, dia sering membalas “Love Mama too, as much as you love me” lalu dia mengajak saya & adiknya untuk memeluk Mamanya “Everybody hug Mama!” lalu kami group hug.


Dipo tidak layak mendapat perlakuan tadi.

Tapi seperti yang saya katakan tadi, ketika ingin berargumen tapi kesulitan untuk melakukannya secara verbal, protes teatrikal biasanya selalu jadi jalan keluar.

Saya hilang akal untuk mengatasi Dipo.

Saya kurang fasih menjadi seorang Ayah.
***
Mungkin sudah lewat beberapa minggu kejadian seorang guru mencubit murid.

Murid lalu mengadu, orang tua lapor polisi, guru dikasuskan, lalu Indonesia terbagi dua. Ada yang simpati kepada guru yang menangis, ada yang mensyukuri tindakan sang orang tua untuk mengadukan gurunya.
Bagaimana dengan saya?
Saya berjanji kepada diri saya sendiri, untuk tidak menyakiti anak anak saya.

Karena selain jelas itu penganiayaan, itu juga tidak adil. 

Saya melakukan sesuatu kepada anak anak saya yang tidak bisa mereka lakukan kepada saya. 

Saya bagaikan raksasa di mata mereka.
Kemudian, saya tidak ingin anak anak saya menuruti saya karena takut.

Saya tidak ingin mereka melihat saya seperti saya melihat Ayah saya. Saya ingat dulu setiap Ayah teriak “Mas Pandji!” tubuh saya bergidik sesaat sebelum kemudian berpikir “Salah apalagi nih gue?”

Saya ingin setiap kali pulang ke rumah saya masih mendapatkan perlakuan yang sama. Anak anak berlarian menuju saya sambil berteriak riang “Ayaaaaaaaaah”

Saya ingin mereka terus berebut ingin ngobrol dengan saya. Saya ingin mereka terus menceritakan apapun yang terjadi kepada mereka, kepada saya.
Lagi pula, orang yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, pertanda hilang akal untuk menyelesaikannya secara intelektual

Saya bukan orang bodoh. Tindakan saya akan mencerminkannya.
Maka kalau saya tidak akan menyakiti anak saya, tidak ada orang lain yang boleh menyakiti dia. 

Apapun alasannya. Apapun jabatannya.

Guru yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, pertanda dia juga hilang akal untuk menyelesaikannya secara intelektual.

Maka dia tidak layak dianggap pemimpin bagi anak saya di sekolah. 

Mengajar adalah pekerjaannya. Kalah kekerasan dipilih jadi jalan maka dia bukan orang yang baik dalam menjalankan pekerjaannya.
Berbincang dengan kawan saya di kementrian pendidikan,

dikatakan dalam PP 74/2008 pasal 39 guru punya kewenangan memberikan sanksi, namun sanksi itu harus berada dalam koridor kaedah pendidikan, kode etik guru dan peraturan perundangan. Penganiayaan, jelas pelanggaran.
Bahkan lebih jelas lagi, perlindungan terhadap siswa juga sudah jelas dalam UU 35/2014 ttg Perubahan thdp UU 23/2002 ttg Perlindungan Anak di pasal 54 yg menyatakan anak di dalam sekolah wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya dari siapapun.
Jelas, guru tersebut salah. Dan selayaknya guru tersebut mendapatkan hukuman.
Bagaimana dengan kondisi guru tersebut yang dipolisikan? Apakah saya setuju?
Saya tidak akan menasehati orang tua manapun untuk melakukan apapun terkait anak mereka. Itu terserah mereka.
Tapi kalau itu terjadi kepada anak saya, saya akan melawan. Tapi saya tidak butuh bantuan kepolisian.
Saya tidak perlu mengadu ke manapun.

Tidak perlu bekingan siapapun.
Kalau sebagai guru anda menyakiti anak saya, anda akan sadar bahwa saya lebih menakutkan dari pada polisi. Lebih menakutkan dari pada TNI.

Anda sakiti anak saya, anda akan lebih takut kepada saya dari pada Presiden RI.
Saya tidak akan ambil jalan kekerasan kepada anda. Tapi anda akan berharap lebih baik yang datang polisi.

BLINDEAT

Traveling. Culinary.

Dua kata yang saling terkait. Normalnya, ketika kita jalan jalan ke luar kota apalagi ke luar negeri, wisata kuliner ada di dalam daftar kegiatan. Namun untuk kali ini, saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang seru. Seperti kalau kita nonton program kuliner di luar negeri.

Muncullah ide dari Awwe. Dia langsung sebut namanya: BLINDEAT. Secara gagasan saya diminta makan sesuatu dengan mata tertutup, lalu menebak saya sedang makan apa.

Saya pikir, “Lucu juga idenya…”

Yang saya tidak sangka, prakteknya benar benar menyebalkan.

Gara gara program ini, saya makan Tahu basi, Kadal, Ulat Sutra, sampai Tarantula.

Tarantula.

Terakhir lihat Tarantula itu di film Home Alone.

Sialnya, ternyata penonton kanal vidio saya justru suka program ini. Mereka terhibur melihat saya menjerit ketika tahu apa makanan yang saya kunyah.

Sebentar lagi kami akan berangkat ke Afrika.

Saya sudah cemas, apalagi yang akan diumpankan ke saya di program BLINDEAT.

MIKIR

Sudah 42 episode.

Vlog MIKIR kini menjadi konten paling fleksibel di kanal vidio saya. Dari cerita tentang tur dunia, sampai pemikiran mengenai sampah di Jerman, sampai bercerita tentang lari pagi di seluruh dunia, MIKIR jadi konten yang paling mudah untuk saya bercerita.

Pada intinya, MIKIR isinya pemikiran saya terkait sesuatu, kadang berat seperti episode ini mengenai memasarkan bahasa Indonesia kepada dunia atau pemikiran sederhana mengenai kecintaan terhadap sepakbola. Sering kali saya gunakan untuk memancing anda MIKIR seperti episode “Permisi”

Kata MIKIR saya ambil dari topi MIKIR yang saya pakai sejak 2009 dan dianggap orang ikonik. Kadang ada yang nanya kenapa saya pakai kata yang dipopulerkan Cak Lontong. Jawabannya ya karena yang punya kata itu bukan dia dan sebelum orang itu dengar Cak Lontong ngomong “Mikir” saya sudah pake topinya di tahun 2009. Stand-Up Comedy aja baru meledak 2011.

mikirrrr

MIKIR (bersama dengan JUBIR TUBIR) jadi konten yang paling sering muncul karena mudahnya dia menampung ide dan format apapun. Juga karena mudah untuk saya kerjakan. Kalau suka dengan konten ini, maka santai saja. Dia akan hadir sampai akhir 2016 ini 🙂 Silakan dimanfaatkan pemikiran saya untuk membuat anda, mikir.

 

Kapan Pulang?

Kalau anda pernah baca buku NASIONAL.IS.ME, maka anda pasti pernah dengar cerita tentang pasangan muda yang meminjam uang saya untuk jadi modal tinggal di Amerika. Kalau belum, baca dulu sana karena ceritanya panjang dan kalau saya ceritakan ulang di sini, maka blog post ini akan jadi hal yang berbeda dengan niat awalnya.

Intinya, kejadian itu meninggalkan rasa penasaran di benak saya. “Salahnya Indonesia apa?”

Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Banyak salahnya, tentunya.

Tapi pertanyaan ini sejak lama ingin saya tanyakan kepada orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar negeri sehingga enggan balik. Apa yang membuat mereka enggan pulang ke Tanah Air padahal di negeri seberang mereka adalah minoritas, mereka pendatang, tentu mereka mengalami semacam tekanan. Kenapa mereka tidak mau pulang?

KAPAN PULANG adalah konten di akun vidio saya yang isinya adalah saya berbincang dengan banyak orang di luar negeri tentang kenapa mereka tidak mau pulang, dan kalaupun pulang, kapan.

Sejauh ini, jawaban jawabannya merupakan tamparan untuk saya yang sedang berjuang bersama anda dan yang lainnya untuk mengubah Indonesia jadi lebih baik. Hal hal sederhana hingga hal hal kompleks muncul sebagai jawaban mengapa mereka enggan pulang.

Salah satunya ketika saya berbincang dengan Citra, seorang pelajar di Frankfurt yang bilang bahwa semuanya serba tepat waktu dan jelas. Termasuk transportasi umum sehingga dia bisa mengukur waktu dan merencanakan apa yang dia mau lakukan dengan harinya. Sementara di Jakarta, terlalu banyak faktor X yang bisa membuat runyam rencana. Dan kalau anda punya pekerjaan atau peran yang penting, maka runyamnya rencana anda bisa buat berantakan hidup banyak orang.

Sejalan dengan kawan saya Gandhi di Beijing yang cerita bahwa untuk dia,  1 hari di Beijing bisa lebih produktif dari pada 1 hari di Jakarta. Dia bilang tidak pernah capek tinggal di Beijing, salah satu kota terpadat di dunia yang berada di negara dengan penduduk terbanyak di dunia, sementara di Jakarta setiap malam dia bisa begitu lelah dan mengeluh banyak yang tidak sempat diselesaikan.

Beda lagi jawabannya dengan Irma di Berlin yang bilang, tinggal di Jerman malah lebih membuat dia merasa diterima menjadi diri sendiri dari pada tinggal di Indonesia. Bayangkan. Tinggal di negeri orang malah lebih bisa jadi diri sendiri daripada tinggal di negeri sendiri. Karena menurutnya di Indonesia banyak orang merasa lebih benar dan dengan itu merasa punya hak untuk mengkritik yang salah. Dan dia jengah dengan itu.

Semakin banyak orang yang saya wawancara untuk KAPAN PULANG, semakin saya tahu apa yang bangsa Indonesia rindukan. Rencananya sepanjang Juru Bicara World Tour saya akan terus membuat vidio ini, yang berarti saya akan terus bertemu dengan orang Indonesia di luar negeri dan bertanya “Kapan pulang?”

 

Juru Bicara Medan

Di Juru Bicara World Tour, HAM jadi salah satu sorotan utama. Dari Aksi Kamisan, hingga 65, termasuk di dalamnya Tragedi Trisakti menjadi bahasannya.

Itulah mengapa, Medan jadi penting dalam tur ini.
Kalau dilihat di skema di atas, seluruh runutan Soeharto turun diawali dgn BBM yg naik begitu drastis harganya. Mahasiswa yang pertama kali bereaksi keras, adalah Medan. Sampai terjadi kerusuhan yang berlangsung selama 4 hari. Kerasnya penolakan Medan memancing pergerakan mahasiswa lain termasuk Jakarta. Salah satunya Trisakti yang pada akhirnya terlibat dalam sebuah tragedi di mana 4 mahasiswanya tewas diterjang peluru tajam tgl 12 Mei. 
Medan jadi kota yang penting.
Bukan hanya karena perannya dalam rentetan kejadian Mei, tapi karena Medan adalah kota Indonesia pertama yang didatangi tur Juru Bicara ini.

Kota lain Indonesia, terpaksa harus menunggu. Itulah mengapa tiket Juru Bicara Medan banyak dibeli oleh orang dari luar Medan. Aceh, Batam, Palembang, Pekanbaru, dll.


Tiket masih tersedia, berikut skemanya:

– PLATINUM = 175rb (Dapet Voucher Levi’s 100rb + Voucher WYDNshop 100rb khusus produk digital)
– GOLD = 125rb (Dapet Voucher Levi’s 100rb)

– REGULAR = 100rb (Hanya Tiket Masuk)

Utk pembelian tiket bisa hubungi nomor di bawah ini

Kalau anda di Sumatera, atau kalau anda ingin jadi yg pertama di Indonesia untuk nonton Juru Bicara, jangan lupa beli tiketnya. Sampai ketemu di Juru Bicara Medan 🙂

Made in Indonesia

People are interesting.Women especially.
Pada intinya saya seneng ngobrol. Terutama dengan orang baru. Saya senang menemukan “hidup” dalam seseorang. Mendengar cerita cerita mereka, keputusan yang mereka ambil, siapa yang mereka cintai & mengapa. Atau mengapa mereka sedang tidak mencinta. Seperti apa orang yang mereka suka. Perubahan sikap apa yang terjadi ketika mereka bersama pasangan.
Ini inti dari “Made In Indonesia”, sebuah konten di akun vidio saya di mana saya mewawancara pelajar Indonesia yang direkomendasi oleh teman temannya sebagai pelajar cantik. Luar-dalam.
Dari Shanghai, Beijing & kini Berlin saya ngobrol dengan banyak pelajar Indonesia


3 pelajar di atas akan hadir segera di akun vidio saya. 

Kalau mau liat vidio vidio sebelumnya, silakan klik di sini

Semuanya 100 % Made In Indonesia

Q&A

Ada sesuatu yang saya pelajari dari beberapa pertunjukan Stand-up Comedy di luar negeri. Seinfeld. Ellen. Jimmy Carr. Bahkan Jerry Lewis. Selalu membuka sesi tanya jawab usai pertunjukan. Menarik sekali karena akhirnya penonton dibukakan pintu untuk berkomunikasi langsung kepada komika. Engagement, is the word.
Berhubung materi yang dibawakan di #JuruBicara tergolong berat, maka masuk akal kalau sesi Q&A saya buka usai pertunjukan. 

Pada akhirnya, terjadi diskusi yang menarik, ada momen momen spesial yang mungkin tidak akan muncul ketika sedang stand-up, bahkan tidak jarang saya menjawab dengan lawakan & menjadikan Q&A itu seperti sebuah encore.
Di akun vidio saya, saya selalu unggah pertanyaan dari penonton supaya anda yang tidak hadir hari itu bisa ikut larut dalam diskusi kami di sesi Q&A