JuruBicaraJKT

Saya memang tidak pernah merencanakan untuk membuat 2 pertunjukan.

Niat saya hanya akan ada 1 pertunjukan saja.

Tapi semakin lama saya semakin menyadari ternyata yang kemarin tidak sempat beli tiket masih sangat banyak. Bahkan banyak yang menanti gajian bulan ini untuk membeli.

Akhirnya, saya sepakati untuk menambah pertunjukan pada tanggal 10 Desember dengan tetap membuat pembeli 3000 tiket pertunjukan utama merasa spesial.

Berikut informasi lengkapnya :

PERTUNJUKAN KE 2 (8 tahun ke atas)

Harga tiket: Rp 550.000,- (karena posisi duduk akan ada di area Platinum)

Hanya dibuka dengan kuota 500 kursi

Dibuka penjualannya mulai 30 November 2016 dan ditutup 6 Desember 2016

Hanya bisa dibeli di WSYDNshop.com

Kalau sampai 6 Desember kuota 500 kursi tidak terpenuhi, pertunjukan dibatalkan dan uang akan dikembalikan.

 

Apa bedanya pertunjukan utama dan pertunjukan ke 2? 

 

PERTUNJUKAN KE 2 (OPEN GATE 13.00, MULAI 14.00, SELESAI 16.00)
🔸Tidak ada foto bareng
🔸Tidak dapat bonus DVD Juru Bicara Jakarta
🔸Tidak ada doorprize
🔸Opener hanya Indra Jegel
🔸Clean set. Materi sama dengan pertunjukan utama tapi tanpa joke joke yang membutuhkan kedewasaan.  (8 tahun ke atas) Keuntungannya, bisa ajak anak atau anda yang di bawah 15 tahun dan tadinya tidak bisa nonton, kini bisa nonton
🔸Kuota 500 tiket, tidak tercapai uang kembali

Tapi keuntungan utama adalah: Akhirnya anda bisa nonton. Tadinya tidak ada kesempatan sama sekali karena sold out.

PERTUNJUKAN UTAMA (OPEN GATE 18.00, MULAI 19.30, SELESAI 23.00)
🔸Ada foto bareng usai pertunjukan
🔸Pembeli tiket platinum dapat DVD Juru Bicara Jakarta
🔸Ada 1 buah doorprize berupa paket liburan berdua. Lokasi liburannya diumumkan usai pertunjukan utama (Surprise!)
🔸2 opener: Coki Pardede dan Indra Jegel
🔸Full Set. Full Power.

Jadi sudah jelas sekarang perbedaannya.

Anda yang sudah berjuang dan bergadang untuk bisa beli 3000 tiket pertunjukan utama tentu tidak akan merasa rugi.

Saya masih akan bugar di pertunjukan utama karena di pertunjukan ke 2 tidak membawakan 100% materi Juru Bicara dan anda tetap mendapatkan banyak keuntungan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Untuk yang belum beli, walau tidak dapat banyak keuntungan penonton pertunjukan utama tapi anda harusnya merasa seneng karena akhirnya bisa menonton Juru Bicara Jakarta. Manfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin.

Sampai ketemu di JuruBicaraJKT

 

Terlibat

“Mengapa Mas Pandji terjun ke politik?”
Saya yakin, nyaris 100%, yang bertanya adalah orang orang yang tidak mengenal saya dari karya karya saya. Karena sejak 2008, sejak album pertama sampai album ke 4. Sejak buku pertama sampai buku ke 8, sejak stand-up special pertama sampai stand-up special sekarang, orang justru bertanya hal yang sama. Pertanyaan yang paling sering saya temukan sepanjang karir saya..
“Kenapa Mas Pandji tidak masuk politik?”
Hehehehe.
Bahkan kalau sudah baca buku “Berani Mengubah” yang terbit tahun 2012 akan ingat poin yang saya anjurkan di bab “Belajar Politik”.
Yaitu “Terlibat”
Kata Bernie Sanders, politik itu bukan olahraga tontonan. Berpolitik, berarti melibatkan diri.
Malah saya kasian dengan orang orang, apalagi anak muda yang bilang “Jangan deket deket dengan politik Mas. Jauh jauh aja.”
Kelihatannya dia tidak sadar bahwa dia produk sukses dari doktrin Soeharto. Di era Sukarno, semua orang berpolitik. Masa masa itu adalah masa yang menggairahkan. Kita baru mendapatkan predikat Merdeka. Kita sedang membangun negara. Semua orang ingin ambil andil. Semua terlibat.
Lalu masuk era Soeharto dan hal yang beliau sukses lakukan adalah, memutus mata rantai antara rakyat dengan politik. Supaya apa? Supaya rakyat tidak tahu apa yang dilakukan oleh politisi.
Pidato panjang membosankan. Edukasi politik yang nihil. Proses pemilu yang begitu begitu saja. Pada masa 32 tahun (I know, right? 32 years is really unnormal) saya bahkan tidak mengerti mengapa orang ikutan pemilu. Yang menang ya pasti Golkar lagi, Golkar lagi. Yang jadi Presiden ya Soeharto lagi, Soeharto lagi.
Di saat dunia pada kebingungan melihat ada Presiden menjabat lebih dari 2x masa jabatan, rakyat Indonesia berkehidupan seperti biasa tanpa merasa ada yang salah.
Mengapa?
Karena tidak mengerti. Tidak mau mengerti. Antipati.
Karena mereka sukses melakukan yang Soeharto inginkan.
NAH
Kembali ke pertanyaan “Kenapa Mas Pandji terjun ke politik?”

Padahal hidup sudah sibuk bukan main, mengurusi Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour saja pusingnya bukan main.

Belum lagi resiko orang tidak bisa membedakan pertunjukan Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour & posisi saya sebagai Juru Bicara. 

Jadi mengapa?

 

Alasan
pertama, adalah karena setelah berkeliling dunia dan melihat Jakarta, saya jadi semakin ingin melibatkan diri dalam menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih baik. Saya tahu apa yang sebaiknya ada di sebuah kota dan saya mau terlibat dalam memastikan itu terjadi. Saya bisa saja ngomel dan ngoceh di twitter akan buruknya kondisi Jakarta. Tapi memaki kegelapan tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk jadikan terang.
 

Alasan kedua
, karena saya percaya Mas Anies dan Bang Sandi adalah pasangan yang tepat. Terutama karena saya mendambakan persatuan, saya percaya Mas Anies adalah jembatan yang akan menyambungkan keragaman di Jakarta. Karena saya percaya Mas Anies peduli dengan manusia, dia akan tepat memimpin Jakarta yang selama ini pembangunannya hanya terpaku pada hal hal fisik yang bisa dilihat. Kotanya dibangun, warganya terlupakan.
 

Alasan ketiga
, karena ada 2 “P” yang saya sukai di dunia ini: Politik dan Pemasaran. Saya punya 8 buku yang sudah saya terbitkan, semuanya mengenai politik atau pemasaran. Kampanye politik, adalah dunia yang membaurkan kedua dunia tersebut. Untuk saya, ini seru dan membuka wawasan.  
 

Alasan ke empat
, karena saya percaya dari sini saya akan mendapatkan Ilmu baru. Sebagai gambaran, saya belajar lebih banyak tentang politik dalam beberapa bulan terakhir, daripada yang saya dapatkan seumur hidup. Kelak setelah ini usai, saya punya banyak pengalaman yang bisa dituangkan dalam bentuk karya apapun. Film? Buku? Stand-Up Special? Dinanti saja 🙂 #KodeKeras.
 

Alasan ke lima
, dan alasan paling kuat, karena saya memutuskan untuk mau terlibat dalam perubahan politik Indonesia ke arah lebih baik. Saya terlibat dalam Pilgub Faisal Basri. Saya terlibat dalam Konvensi Demokrat. Saya terlibat dalam Pilpres Jokowi.
Idola idola saya, semua terlibat dalam politik. Jay Z, Chris Rock, Jon Stewart, semuanya secara lantang menunjukkan keberpihakannya, ikut berkampanye mendukung calonnya.
Itulah saya menyetujui untuk bersama dengan Mas Bambang Widjojanto (mantan pimpinan KPK) untuk menjadi Juru Bicara Resmi Anies-Sandi.
Keterlibatan kita, harusnya tidak jauh dari bidang kompetensi kita. Memangnya anda pikir kenapa saya setuju untuk dijadikan Jubir? Ya karena saya bisanya bicara. Itu kompetensi saya.
Kalau anda mau terlibat, terlibatlah dalam hal yang sesuai dengan kompetensi anda.
Apapun itu, kalau anda mau, anda bisa terlibat.

“Apapun?”

Apapun.

Mas Anies Baswedan, punya rekam jejak unik yang tidak dimiliki paslon lain. Dia terbukti mampu menggalang orang orang yang mau bergerak. Tidak ada paslon lain yang punya rekam jejak bisa menggerakan pemuda.
Kita tahu, kota ini tidak bisa maju kalau hanya pemerintahnya saja. Masalah Jakarta, adalah masalah bersama. Maka bersama, kita mengatasinya.
Itulah mengapa, penggerak juga banyak yang memilih untuk berdiri di belakang Mas Anies. Mereka percaya Mas Anies adalah pemimpin yang tepat bagi mereka, karena mereka percaya Mas Anies bisa ikut memajukan mereka. Gerakan gerakan yang selama ini, ada pilkada atau tidak, sudah berbuat sesuatu untuk warga Jakarta.
Kalau anda selama ini sudah terlibat, kalau anda seorang penggerak, saya undang untuk bergerak bersama Mas Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Satu satunya paslon yang memang sejak lama terlibat dalam gerakan.
Kami ingin mendengar gerakan anda. Ceritakan gerakan yang sudah anda jalankan, atau bahkan anda bisa tawarkan solusi yang anda punya berdasarkan pengalaman hidup di jakarta selama ini, ke relawan@jakartamajubersama.com . Bersama, kita cara jalan untuk memajukan warga Jakarta.
Mas Anies, Bang Sandi, dan saya, akan bantu anda menumbuh kembangkan gerakan anda.
Satu catatan: Kalau anda mau mengajukan sebuah ide gerakan, pastikan, anda benar benar peduli dengan gagasan ini. Karena menang atau kalah pilkada, kita akan terus majukan gerakan ini untuk membangun warga Jakarta.
Pilihan di tangan anda.
Jakarta jelas perlu dimajukan. Baik kotanya, maupun warganya.
Pertanyaannya: Mau jadi penonton, atau mau terlibat?
 
 
 
 

Yaudahlahya


Awalnya saya ditanya soal apa maksud oleh orang yang membuat baligo ini.

Saya jawab kelihatannya “kita” yg dimaksud adalah warga. Lalu yang dimaksud “Rebut kembali” kelihatannya adalah merebut kembali Jakarta dari kepentingan korporasi yang pada akhirnya jadi di atas kepentingan rakyat.

Contoh yang paling sering muncul terkait hal tadi, adalah reklamasi. Anehnya ijin AMDAL, isu lingkungan, dan beberapa hal lain membuat banyak orang mempertanyakan sebenarnya ini dilakukan untuk siapa.

Ada banyak sudut pandang terkait reklamasi. Mereka yang mendukung memberikan banyak argumen yg masuk akal 

Di sisi lain, orang banyak menolak reklamasi dengan argumen yang tidak kalah banyak 

Bagaimanapun, alasan utama orang menolak adalah karena anggapan tingginya keberpihakan pemprov kepada pemodal. Korporasi yang menurut mereka lebih banyak diuntungkan oleh terjadinya reklamasi tersebut ketimbang rakyat yang tinggal di daerah situ.

Bisa jadi yang dimaksud adalah yg di atas, atau mungkin yang dimaksud adalah Jakarta direbut kembali dari Gubernur yang mereka tidak suka & dikembalikan kepada rakyat yang selama ini memang tidak menyukai Pak Basuki.

Yang manapun, hal hal tadi sering kali jadi narasi mereka yang ada di kubu seberang Pak Basuki.

NAH

Gak tau gimana caranya, di twitter banyak yang menjadikan seakan poin di atas adalah opini saya.

Padahal yang ditanyakan saja pada awalnya, adalah apa yang dimaksud oleh mereka yang membuat baligo.

Saya kan ga ikut buat itu baligo :)))

Mereka yang tidak kenal saya, atau yang membela penuh paslonnya apapun yang terjadi, atau memang tidak suka saya, akan dengan sigap mengamini anggapan bahwa itu opini pribadi. Ketimbang menyadari bahwa saya sedang menjawab opini apa kira2 yang dimaksud oleh pembuat baligo.

Mereka yang kenal saya, kemungkinan tidak mudah larut dalam anggapan tersebut. Karena mereka tahu, sebagai orang yang gemar dengan pemasaran, saya malah sering kerja sama dgn korporasi.

Lah memang gimana caranya saya bisa 2x tur dunia kalau bukan karena kerja sama dengan perusahaan.

Tapi ya di era pilkada ini bukanlah hal yang aneh ketika ada pemelintiran atau sekadar salah tangkap dan salah persepsi.

Yang penting saya sudah menjelaskan, untuk yang kebingungan dan mencari jawaban.

Bukan kepada yang memang kontra karena kecil kemungkinan akan memaklumi. Kalau mereka mah, yaudahlahya.

 

Pilkada dan Sepakbola

Pilkada itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sepak bola.

Ambil contoh, kritik banyak orang terhadap ucapan Mas Anies yang mau melanjutkan program Pak Basuki yang baik untuk warganya. Dituding sebagai bukti bahwa Anies-Sandi tidak punya program dan hanya mendompleng program sukses orang.

Di Sepakbola, apabila seorang manager baru datang ke sebuah klub. Dia akan mempelajari pemain pemain yang dia miliki, dipertimbangkan dengan strategi yang akan dia jalankan. Yang dirasa tidak akan sesuai dengan pola dan strategi dia ke depan, akan diganti. Besar kemungkinan dia akan membawa pemain baru ke klub. Tapi pemain pemain lain yang dirasa cocok, ya tentu dipertahankan. Tidak perlu dijual. Untuk apa?

Buat apa semua pemain dibuang dan diganti 100% dengan yang baru? Dana yang sudah keluar untuk beli pemain itu jadi percuma. Sia-sia. Apalagi kalau sebenarnya pemain tersebut memang akan terpakai karena sesuai strategi. Toh tujuan akhirnya adalah kemenangan tim. Kemenangan yang akan dipersembahkan untuk fans klub tersebut.

 

Atau kita ambil contoh lain, banyak yang mempertanyakan Anies dan Sandi yang kini dalam 1 tim. Kata mereka, dulu Anies jubirnya Jokowi, Sandi jubirnya Prabowo. Lalu mereka menyindir bahwa semuanya bisa terjadi karena kesamaan kepentingan.

Ini lucu sebenarnya. Sepertinya di benak mereka, pilpres belum selesai. Ini 2016 akhir, dan sudah mau masuk 2017. Pilpres sudah lama selesai. Sudah tidak ada dikotomi. Bangsa ini sudah tidak terpecah oleh 2 pilihan lagi. Semua orang sudah kembali berkegiatan kembali, bekerja seperti biasa, kecuali mereka yang benaknya masih dihiasi pertarungan pilkada.

Kalau di tim sepakbola, ketika Juan Mata masuk ke Manchester Utd, tidak ada yang masih terjebak masa lalu dan menolak kehadirannya. Apalagi ketika Mourinho ke Utd. Ini adalah manager yang paling menyulitkan Sir Alex Ferguson. Di ManUtd pun, tidak ada pemain lama yang menolak kehadiran pemain baru yang dulunya datang dari klub lawan. Karena mereka, mengajarkan sesuatu yang penting untuk orang yang di kepalanya masih dalam pilpres-mode. Kita bisa saja berlawanan, tapi kita masih tetap bisa berkawan.

 

Satu lagi contoh yang membuktikan bahwa pilkada ternyata tidak jauh beda dengan sepakbola, adalah dalam urusan suporter.

Belakangan anda bisa lihat, FPI dan FUI berdemo ingin menurunkan Ahok, bahkan ada yang mengancam membunuh. Di khotbah Jumatan bahkan ada yang mengajak demonstrasi. Lalu Anies-Sandi dituding jadi pihak yang salah. Karena pada suatu hari, Anies-Sandi pernah berfoto dengan mereka.

Padahal coba kita pikir pikir: Semua orang boleh dong menjadi pendukung ManUtd? Mereka juga boleh dong berfoto bersama dengan Jose Mourinho, dan tentu Mourinho tidak perlu menolak diajak foto oleh supporter.  Tapi kalau supporter itu tiba tiba rusuh dan berantem dengan pendukung Liverpool, masak jadi tanggung jawabnya Mourinho? Lah orang orang ini tidak ada di bawah kendali Mourinho. Mereka bukan pemain, bukan staf, bukan karyawan Old Trafford. Mereka ini, supporter.

Seperti juga FPI dan FUI, terkadang, supporter sepakbola bisa melakukan hal hal yang mengerikan. Kalau anda ingat, Piala Dunia 98 pasca Beckham menerima kartu merah dan pada akhirnya berdampak kepada keluarnya Inggris dari Piala Dunia, amarah supporter inggris begitu menakutkan. Mereka membakar boneka Beckham dan ada yang menusuk nusuk boneka tersebut. Itu, adalah sebuah ancaman yang serius. Mereka melakukan itu, karena mereka merupakan pendukung Inggris yang ingin Inggris menang. Saking inginnya, kekecewaan mereka beralih wajah jadi kebencian. Apakah kemudian FA bertanggung jawab terhadap aksi mengerikan pada supporter? Ya tentu tidak.

Yang Beckham lakukanpun setelah itu hanya bisa meminta maaf. Karena memang dia salah dan pada akhirnya tindakan dia (menendang Simeone) menyebabkan kerusuhan.

Saya halnya dengan reaksi mengerikan dari FPI dan FUI, Pak Basuki sadar bahwa memang itu adakah reaksi dari apa yang beliau katakan. Tapi, Mas Anies dalam beberapa kesempatan pernah mengungkapkan ketidak setujuannya dengan pendekatan SARA yang diambil berbagai pihak. Berulang kali beliau mengingatkan untuk mengembalikan pilkada kepada pertarungan gagasan dan program. Beliau sadar betapa krusialnya pendekatan radikal yang diambil banyak pihak dan mencoba meredam bahkan hingga pendekatan personal.

Banyak yang bertanya kepada saya, apa pendapat saya tentang kejadian tersebut.

Menurut saya, Pak Basuki ada benarnya dan juga ada salahnya.

Benar, bahwa beliau tidak menghina ayat dan tidak menghina agama.

Itu benar. Makanya banyak orang yang memarahi saya karena katanya kenapa saya mendukung Anies-Sandi tapi tidak pernah secara terbuka memarahi Pak Basuki karena ucapannya menghina agama. Ya karena saya merasa dia tidak menghina.

Yang beliau katakan kalau anda lihat videonya, adalah bahwa program yang sedang beliau sosialisasikan saat itu akan berjalan walaupun beliau sudah tidak menjabat. Jadi masyarakat tidak perlu kuatir. Ini program yang bagus dan baik untuk warga, dan walau beliau tidak lagi menjabat karena misalnya kalah dalam pilkada, program akan jalan terus.

Nah sebenarnya, harusnya omongan Pak Basuki sudah cukup sampai sini saja. Karena toh, yang dimaksud sudah tersampaikan dengan baik. Cukup.

Tapi entah kenapa, beliau melanjutkan dengan membahas soal kemungkinan warga tertipu atau terhasut orang yang menggunakan sebuah ayat dari surat Al Maidah. Ini, yang salah. Ini, yang tidak perlu. Ini, yang membuat banyak orang mengatakan bahwa Pak Basuki punya komunikasi politik yang buruk. Yang ngomong bukan saya lho ya, coba aja google “komunikasi politik ahok” & lihat siapa saja yg bicara demikian

Di dunia public speaking saja, termasuk stand-up comedy, sudah jadi aturan dasar bahwa kalau kita adalah umat dari sebuah agama tertentu, sebaiknya dalam omongan kita di atas panggung tidak bawa bawa agama lain apalagi ayat sucinya. Ini dasar sekali. Karena kita bukanlah umat dari agama tersebut. Pertama tama, pemahaman kita akan dengan mudah dipatahkan oleh umat dari agama yang kita bahas bahas. Kedua, akan dengan mudah memancing kesalah pahaman.

This is basic public speaking.

Di sini, Pak Basuki salah. Makanya, beliau pada akhirnya meminta maaf. Sebagaimana David Beckham minta maaf, karena tindakannya menendang Simeone itu benar benar tidak perlu. PS: Coba lihat video Beckham nendang Simeone deh, bener bener ga penting.

img_8260

Sejauh ini, kita sudah lihat beberapa aspek yang membuat kita semakin yakin bahwa Pilkada dan sepakbola tidak jauh berbeda. Tapi, masih banyak yang bisa kita bahas.

 

Selanjutnya, adalah mengenai komentator.

Di pilkada, sebagaimana sepakbola, ada banyak komentator. Baik yang resmi di televisi, maupun komentator amatir yang ada di jejaring sosial. Semua komentar yang berseliweran di jejaring sosial, sah sah saja. Siapapun bebas berkomentar. Tinggal kita pintar pintar menyaring mana yang sekiranya benar. Lagipula, sebanyak banyaknya komentar yang ada di jejaring sosial, toh penentunya, adalah yang ada di lapangan.

Komentator Pilkada belakangan mengkritik pilihan Anies – Sandi menggunakan Salam Bersama. Yaitu bentuk tangan terbuka sebagai salam, yang diambil inspirasinya, dari Bung Karno.  Ternyata, “Merdeka” tidak disampaikan dengan tangan terkepal ke atas, tapi dengan tangan terbuka. Itu arahan resmi dari negara yang diperintahkan Bung Karno.

Seperti ini contohnya

img_8521

 

Maaf salah foto, maksudnya yang ini…

img_8254

 

Komentator berkata, salam terbuka itu tidak praktis karena tidak bisa menggunakan tangan untuk mengeluarkan gestur angka 1, 2, atau dalam konteks Anie-Sandi, angka 3. Padahal, saya merasa lelah dengan gimmick semacam itu. Sudah sangat ketebak, usai paslon dapat angka, segala meme dan gimmick terkait angka langsung berkeliaran. Jangankan menggunakan gimmick angka 3 dalam salam, nanti anda akan banyak lihat materi kampanye yang bahkan tidak menampilkan wajah Anies-Sandi. Saya tahu banyak yang bilang ini tidak praktis. Tapi kalau kita semua terus terusan bertahan dengan cara cara lama, kapan negara ini akan bertemu kampanye menyegarkan yang mau meninggalkan yang usang? Kenapa tidak kita kembalikan ini ke masalah gagasan dan program?

img_8255

Ada lagi komentar Budi Waseso yang komplen karena katanya Anies diminta untuk membuat program mengatasi narkoba dalam bentuk buku panduan terkait narkoba yang diusulkan ke Mas Anies jamannya beliau masih jadi Mendikbud tapi tidak dijalankan. Katanya Buwas “Anies Cuma iya iya aja tapi tidak dijalankan”. Komentar ini boleh boleh aja sih diucapkan beliau. Masalahnya, buku yang beliau ingin, sudah ada.

img_8440

Dan beliaupun tahu itu. Mas Anies berkata terakhir kali ketemuan bahkan Buwas tidak membahas hal ini. Jadi pertanyaannya, kalau beliau tahu bukunya sudah ada, terakhir ketemuan tidak dibahas, lalu kenapa sekarang jadi masalah?

Nah tapi komentator paling banyak adalah dari orang orang yang berkomentar karena judul berita semata tanpa membaca isi. Atau dari gambar potongan berita yang lepas dari konteks sesungguhnya. Atau komentator dari media yang salah kutip bahkan ada juga yang mengisi artikelnya dengan opini penulis. Yang seperti ini sebaiknya berhati hati. Mudah sekali kita bereaksi tapi lebih bijak kalau sebelumnya kita bertanya “Ini beneran? Masak sih?”

Contoh kasus, adalah berita yang naik belakangan mengenai pernyataan Mas Anies terkait KIP dan KJP. Orang banyak bereaksi, ada yang ngamuk, ada yang mengaku “hilang respek” (yang ini paling kocak) tanpa benar benar paham atau setidaknya berusaha untuk memahami. Mungkin bias karena keburu benci. Kalau mau lihat dari sisi yang berbeda, coba baca jelasnya di sini. Sadari bahwa sebenarnya, yang Mas Anies inginkan, adalah hanya yang terbaik untuk warga Jakarta dan atas arahan Presiden Jokowi sendiri.

 

Pilkada, akan masih berjalan hingga 15 Februari.

Dibilang masih lama, sebenarnya Cuma 4 bulan. Dibilang sebentar, tapi lumayan lama.

Yah, sedang lah.

Tapi semoga, dalam perjalanan pilkada kali ini, kita tahu ke mana harus arahkan fokus. Siapa yang layak mendapatkan perhatian, siapa yang tidak. Mana yang perlu ditanggapi, mana yang sebaiknya didiamkan. Ada yang mengajak diskusi, ada yang hanya sekadar ingin memaki.

Ujungnya, rasanya tidak ada satupun yang menginginkan hal buruk terjadi pada Jakarta. Semua mau yang terbaik, walaupun dengan preferensi cara menuju ke sana yang berbeda beda.

Seandainya, dalam riuhnya pilkada kali ini anda sedikit pusing, ingat saja bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda antara pilkada dan sepakbola

Anies Akan Cabut Larangan Terima KIP Bagi Anak Tidak Mampu

*Anies Akan Cabut Larangan Terima KIP Bagi Anak Tidak Mampu*

Jakarta– Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akan mengintegrasikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai program nasional arahan Presiden dengan Kartu Jakarta Pintar (KJP) bila keduanya terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Terobosan ini mensyaratkan pencabutan Pasal 49 Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 174 Tahun 2015 yang melarang peserta didik pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk menerima bantuan biaya personal pendidikan lain, termasuk bantuan dari pemerintah pusat.

Pasal 49 Pergub ini membuat para penerima KIP yang sebetulnya dari keluarga tidak mampu di Jakarta tidak bisa mencairkan dana yang sebenarnya sudah ditransfer ke rekening mereka. “Larangan itu juga menghambat integrasi KIP dengan KJP di Jakarta,” kata Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta, Minggu (30/10).

Pada 2015 tercatat ada 117.414 siswa di DKI Jakarta yang dilaporkan Kemdikbud menjadi penerima KIP. Namun, ditemukan laporan dari bank penyalur bahwa tingkat pencairan dana tersebut sangat rendah. Artinya bahkan ketika siswa sudah menerima transfer uang dari Pemerintah Pusat ke rekening yang bersangkutan, siswa tidak mencairkan dana tersebut. Rupanya, keengganan pencairan dana yang sudah menjadi hak para siswa penerima KIP karena ada larangan dari Pergub 174/ 2015. Akibatnya sampai 25 April 2016 masih ada 87.627 siswa (74,6%) yang tidak mencairkan dana yang berasal dari Program Indonesia Pintar (PIP) yang disalurkan Kemdikbud itu.

Setelah melalui berbagai koordinasi antar-instansi yang belum optimal dan untuk klarifikasi lebih jauh, Anies Baswedan yang saat itu menjabat Mendikbud secara khusus mengirimkan surat kepada Gubernur DKI Jakarta. Surat bernomor 19239/MPK.A/KU/2016 tanggal 27 April 2016 ini selain menyampaikan perkembangan pencairan KIP yang lambat di ibu koya, secara tegas meminta agar Gubernur DKI Jakarta mengizinkan siswa penerima PIP tahun 2015 untuk mencairkan bantuan tersebut dan dalam hal ini meminta bahwa mereka dikecualikan dari ketentuan pasal 49 Pergub 174/ 2015. “Meminta agar Gubernur DKI Jakarta mengirimkan surat edaran ke sekolah tentang pengecualian tersebut,” demikian isi surat Kemdikbud kepada Gubernur DKI Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menjawab surat tersebut melalui surat Sekretaris Daerah dengan nomor 533/-078 tanggal 25 Mei 2016 yang menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki program Kartu Jakarta Pintar dan meminta agar bantuan dana untuk siswa miskin di Jakarta tersebut dialihkan ke daerah lain. Jawaban ini mengonfirmasi bahwa masalah pencairan PIP di wilayah Jakarta disebabkan oleh adanya Pergub 174/ 2015 dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bersedia untuk mengecualikan penerima KIP dari ketentuan ini.

“Kebijakan penolakan ini patut disesalkan karena sebenarnya konsep KJP dapat digabungkan dan diintegrasikan dengan konsep KIP,” ujar Anies Baswedan.

Program Indonesia Pintar merupakan pengembangan konsep bantuan siswa miskin yang artinya memang bersifat bantuan langsung tunai dan bukan beasiswa. Bantuan ini diberikan berdasarkan kondisi ekonomi siswa dan bukan berdasarkan prestasi. Keperluan biaya lain seperti beasiswa dan bahkan kebutuhan buku dan seragam untuk siswa sudah dialokasikan dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) atau dari KJP tetapi ditemukan bahwa kebutuhan untuk hadir di sekolah juga ditentukan oleh ketersediaan dana pendukung. Karena itu, KIP dapat digunakan termasuk untuk biaya transportasi, uang saku atau keperluan pendukung bersekolah lainnya.

Studi Bank Dunia dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyimpulkan bahwa kehadiran siswa ke sekolah tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan biaya bersekolah dan sarana pendidikan, tetapi juga masalah kebutuhan biaya pendukung seperti biaya transportasi, uang saku, dan kebutuhan lainnya. Sedangkan, BOS sudah diatur untuk menutup biaya bersekolah dan bahkan dapat untuk membeli seragam dan perangkat lain untuk siswa miskin. Namun, selama ini belum ada alokasi bantuan tunai untuk kebutuhan lain. Karena itulah bantuan semacam ini dirancang melalui Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang kemudian dikembangkan menjadi Program Indonesia Pintar melalui KIP.

Dengan penolakan ini terdapat 87.627 siswa (74,6%) di wilayah Jakarta yang kehilangan kesempatan untuk mencairkan uang sebesar antara Rp450 ribu sampai Rp1 juta per-siswa per tahun pada 2015. Bahkan untuk 2016 dikhawatirkan lebih besar lagi karena tahun ini terdapat 334.726 siswa yang akan menerima KIP, lebih banyak dari jumlah penerima tahun 2015 yaitu117.414 siswa. Bila kebijakan ini tidak diubah maka kesempatan ini juga akan hilang dan lebih besar lagi jumlah penerima yang kehilangan kesempatan bantuan ini.

“Dengan integrasi KJP dengan KIP itu nanti diharapkan dapat membuat program nasional berjalan beriringan dengan program daerah dan pada akhirnya warga dan siswa miskin di Jakarta dapat mengoptimalkan berbagai model bantuan yang dapat mereka terima dari berbagai sumber,” kata Anies.

img_8542

img_8543

StreetTeamMKS

Juru Bicara Makassar akan jadi kota terakhir sebelum akhirnya ditutup di Jakarta.

Tanggal 13 November akan jadi perjalanan terakhir saya. Terakhir kali packing koper. Terakhir kali terbang. Terakhir kali check in hotel. Terakhir berjelajah.

Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengajak followers di Makassar dan sekitarnya untuk gabung ke #StreetTeamMKS.
– Seluruh anggota Street Team MKS akan mendapatkan ID Card Street Team sebagai identitas resmi
– Tugas utama Street Team MKS adalah sales & promotion
– Ada kesempatan untuk kamu mendapatkan All Access ID. Nanti kamu bisa bebas kemanapun ketika acara. Kita bisa ngobrol-ngobrol di backstage & di ruang tunggu tapi pas saya mau latihan jangan ganggu ya. Juga ada kesempatan untuk mendapatkan 1 tiket Platinum gratis, terserah mau dijual lagi supaya uangnya jadi milikmu atau dipakai sendiri untuk nonton (siapa tahu belum punya tiket)
– Pendaftaran untuk street team MKS dilakukan via twitter atau instagram (tinggal komen di posting IG tentang StreetTeamMKS) cukup dengan menyatakan kesediaan kamu & menggunakan tagar #StreetTeamMKS. Pendaftaran ditutup 19 okt, jam 19.00 dan nanti akan ada @SetyaningWulan baik di twitter maupun IG dari manajemen saya yang akan menghubungi kamu untuk selanjutnya
Lebih lengkapnya tentang cara bekerja dan apa saja yang kamu dapatkan akan saya jelaskan secara langsung ketika kita ketemuan 🙂

Ini perjalanan terakhir saya. Lets make it special
Join the team,  be a part of StreetTeamMKS

Alasan Jokowi copot Anies Baswedan dari Mendikbud

Sering kali orang tidak percaya kebenaran yang dihadapkan kepadanya karena berlawanan dengan kebenaran yang ia INGINKAN.

Bias.

Seperti halnya banyak orang yang belakangan ini saya temui di jejaring sosial. Kalau ada 2 orang yang berbeda masing-masing menawarkan 2 kebenaran yang berbeda, maka yang dia percayai sering kali bukan kebenaran sesungguhnya tapi kebenaran yang dia inginkan, atau kebenaran yang diucapkan orang yang dia sukai.

Terus terang saya bingung dengan anggapan Mas Anies Baswedan dicopot dari jabatan karena tidak bisa bekerja sebagai Menteri. Minim prestasi. Ini orang orang kalau ditanya “Minim prestasi dibandingkan dengan siapa?”, gak pernah bisa jawab. Karena ada beberapa menteri yang juga mereka tidak pernah dengar prestasinya, masih menjabat hingga hari ini. Kalau ditanya “Memangnya apa prestasi Mendikbud yang sebelumnya?” juga nggak bisa jawab.

Sementara, yang Mas Anies lakukan dan capai adalah hal hal yang dengan mudah bisa ditemui apabila mau google sedikit saja. Riset sendiri saja. Jangan telan bulat bulat apa yang orang katakan. Termasuk saya. Anda dengarkan atau baca apa yang saya sampaikan, dan silakan cari tahu sendiri.

Berikut adalah 40 pencapaian Mas Anies ketika menjabat hanya selama 20 bulan sebagai Mendikbud.

1. Revisi Kurikulum 2013
Adanya target penerapan Kurikulum 2013 (K13) secara keseluruhan yang akan selesai pada tahun 2020. Kalau lupa, ini kurikulum yang sempat ramai dibahas di jejaring sosial karena rujukan untuk gurunya aneh. Diprotes oleh banyak praktisi termasuk guru sendiri. Sempat disebut dipaksakan padahal belum siap. Karenanya penerapannya hanya untuk beberapa sekolah sebagai uji coba. Sisanya kembali ke kurikulum sebelumnya.

2. Ujian Nasional (UN)
Setelah 11 tahun menjadi syarat kelulusan dan melahirkan banyak masalah di dunia pendidikan, UN tidak digunakan lagi menjadi syarat kelulusan siswa pada 2015. Kemenangan bagi banyak aktivis pendidikan.

3. Ujian Nasional berbasis komputer
UNBK untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 2015. Dalam waktu satu tahun, jumlahnya naik 800% jadi 60.067 satuan pendidikan.

4. Indeks Integritas Ujian Nasional
Banyak kecurangan yang selama ini terjadi di pendidikan Indonesia. Tahun 2015, untuk pertama kalinya apresiasi diberikan kepada sekolah-sekolah yang mempertahankan kejujuran dalam Ujian Nasional (UN).

5. Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Bantuan pendidikan berbentuk tunai kepada 17 juta siswa. Pada tahun 2015, penyaluran mencapai 19 juta siswa. Pada semester I 2016, KIP sudah tersalur 96,3%. Saya tahu banyak yang menuding Anies Baswedan gagal soal ini. Sebaiknya, riset dulu sebelum menelan tudingan itu mentah mentah. Silakan baca di sini

6. Penumbuhan Budi Pekerti
Diantaranya, mengembalikan upacara bendera wajib setiap Senin, menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi, dan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Tujuan akhir untuk melahirkan kecintaan terhadap tanah air yang diyakini dimulai dari rumah dan sekolah

7. Menjadikan Sekolah lebih aman
Sejak dulu, kita tahu bahwa sekolah bisa jadi tempat yang berbahaya justru untuk murid. Dengan adanya palak, bully dan pelecehan seksual. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 82/2015: membentuk gugus anti-kekerasan di sekolah dan mewajibkan pemasangan papan informasi berisi nomor-nomor penting. Publik bisa langsung melaporkan bila ada kasus kekerasan di sekolah melalui http://sekolahaman.kemdikbud.go.id.
8. Belajar bersama Maestro
Siswa-siswa peminat seni & budaya punya kesempatan tinggal selama 2 minggu bersama para maestro seni dan budaya, untuk mempelajari proses berkarya para maestro tersebut.

9. Belajar bersama mentor
Ketua OSIS terpilih, selama seminggu penuh, punya kesempatan untuk tinggal dan berinteraksi langsung dengan orang-orang sukses dari berbagai latar belakang profesi

10. Mengatasi peredaran buku liar di sekolah

Untuk mendorong penulis bertanggung jawab terhadap isi buku teks dan mendorong pengguna buku (siswa, guru, orang tua) untuk berinteraksi dengan penulis, Anies Baswedan mewajibkan sekolah menggunakan buku teks yang memuat biografi lengkap penulisnya.

11. Keluarga Sebangsa
Pada olimpiade siswa yang diadakan Kemendikbud, ribuan siswa dan guru pendamping tidak menginap di hotel, tapi di rumah-rumah warga di daerah pelaksanaan olimpiade tersebut. Gerakan ini didesain untuk membangun persaudaraan antar anak bangsa.

12. Guru Garis Depan (GGD)
Pemerataan guru merupakan salah satu masalah utama pendidikan. Hanya sedikit guru yang mau mengajar di daerah terdepan, terluar, dan terpencil. Program GGD mengirimkan guru guru terbaik untuk mengajar secara permanen di daerah tersebut. Pada 2015 ada 795 guru dikirim ke daerah ke sana dan pada 2016 ada 7.500 guru dikirim.

13. Program Sekolah Garis Depan
Membangun sekolah-sekolah di daerah terdepan, terluar dan terpencil dengan sarana dan prasarana yang baik,  dengan mengadopsi budaya kearifan lokal dan model pendidikan di abad 21.

14. Baju Adat sebagai baju kerja
Pada masa Anies Baswedan menjabat sebagai Mendikbud, ada kebijakan mengenakan baju adat sebagai pakaian kerja. Menurut Anies ini untuk menumbuhkan kebiasaan positif dan cinta tanah air kepada pegawai Kemendikbud. Kalau ke Kemdikbud pada hari tersebut, rasanya ramai seperti festival. hehe.

15. Penghapusan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Perploncoan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang pendidikan Indonesia, pada Tahun Ajaran 2016 tidak ada lagi korban dalam MOS dan siswa-siswa baru pun tidak lagi mengenakan atribut yang membuat mereka malu.

16. Larangan merokok di lingkungan sekolah
Bahkan tidak membolehkan kegiatan sekolah disponsori perusahaan rokok dan lembaga yang berkaitan dengan rokok.

17. Gerakan Orang Tua di Hari Pertama Sekolah
Mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak dengan mengantar anak di hari pertama mereka sekolah. Di sekolah, orang tua berkenalan dengan guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidikan untuk kepentingan pendidikan anak mereka. Jutaan orang tua di berbagai daerah terlibat dalam kegiatan ini. Dan bahkan didukung oleh sejumlah kementrian yang akhirnya mengirimkan surat edaran mengijinkan jajarannya untuk mengantar anak ke sekolah.

18. Kawah kepemimpinan pelajar
Membangun para ketua OSIS SMP dan SMA dari seluruh Indonesia untuk menjadi pemimpin muda penggerak perubahan positif yang punya integritas dan memiliki semangat anti korupsi.

19. Pengayaan kosa kata Bahasa Indonesia 
Daripada menambah kosa kata alay macam “Ea” dan “Qu Puchienq”, Anies mengajak publik untuk lebih aktif dalam pengayaan kosa kata bahasa Indonesia lewat app “Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia” yang bisa diunduh di Android dan Ios Store.

20. Ejaan Bahasa Indonesia 2016
Menggantikan Ejaan Yang Disempurnakan pada tahun 1972 dan membuat bahasa Indonesia menjadi lebih mudah beradaptasi dan berkembang.

21. Kamus Besar Bahasa Indonesia IV dalam jaringan
Mengembalikan hak publikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia IV Dalam Jaringan setelah sebelumnya dipegang penerbit swasta.

22. Uji kompetensi guru
Untuk pertama kalinya, 3 juta guru mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Langkah ini menjadi langkah awal untuk pemetaan kualitas guru dan menjadi bahan bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

23. Keuangan Bersih
Dalam rangka mencanangkan praktek bebas korupsi di Kemdikbud, dijalankan program pembangunan zona integritas. Capaian kemdikbud, adalah pemangkasan anggaran pada 2016, Kemendikbud berhasil menghemat anggaran sebesar Rp 6,5 Triliun. Secara berturut-turut pula Kemendikbud selama tiga tahun (2013, 2014, dan 2015) mendapatkan status Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Dan mendapatkan apresiasi ICW agar WTP dalam laporan keuangan pendidikan bisa juga dicapai oleh pemerintah daerah dalam laporan pendidikannya

24. Lelang Terbuka Jabatan
Memastikan proses berjalan secara baik dengan pengangkatan eselon I melalui lelang terbuka jabatan untuk para pegawai internal Kemendikbud. Sebelumnya, rata-rata eselon I Kemendikbud diambil dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, untuk pertama kalinya Direktur Jenderal Kebudayaan adalah seorang budayawan dan bukan yang berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN).

25. Anggaran
Pada 2015 penyerapan anggaran Kemendikbud berada di 3 besar dari 10 K/L dengan anggaran terbesar, yaitu 93,4%.

26. Unit layanan terpadu
Menyatukan 50 unit layanan yang terpencar di beberapa unit Kemendikbud sehingga menjadi lebih terintegrasi. Selain itu juga berhasil memecahkan 5.000 jenis laporan menjadi nol laporan dalam waktu satu bulan.

27. Neraca Pendidikan Daerah (NPD)
Ini salah satu yang terpenting tapi orang jarang tahu. Karena sebenarnya ini mengembalikan akuntabilitas praktek pendidikan oleh Pemda. 15 tahun setelah otonomi daerah, Kemendikbud membuka data kinerja pengelolaan pendidikan semua daerah di Indonesia, mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai provinsi. Melalui NPD pula masyarakat bisa mengetahui dengan detail segala hal tentang pendidikan, misalnya angka ujian nasional, jumlah sekolah rusak, kualitas guru, sampai anggaran pendidikan daerah. Publik bisa mengakses semua data NPD melalui http://npd.data.kemdikbud.go.id
28. Membuka Data Pendidikan
Halaman yang berisi informasi lengkap tentang kondisi pendidikan dan kebudayaan di setiap daerah yang bisa diakses lewat http://jendela.data.kemdikbud.go.id.

29. Sekolah Kita
Bagus dan lagi lagi jarang diketahui. Cocok untuk orang tua bingung sepert saya. Berisi data-data lengkap sekolah se-Indonesia yang bermanfaat untuk membantu orang tua dalam memilih sekolah terbaik bagi anak mereka. Bisa diakses melalui http://sekolah.data.kemdikbud.go.id

30. Membuka Kanal Pengaduan
Masyarakat kini bisa mengadukan secara langsung masalah-masalah pendidikan melalui jalur yang aman dan responsif:

https://sahabat.dikbud.kemdikbud.go.id: untuk melaporkan kondisi jalan atau jembatan rusak menuju sekolah.
https://sekolahaman.kemdikbud.go.id: untuk melindungi siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari kekerasan yang terjadi di sekolah.
https://laporpungli.kemdikbud.go.id: untuk melaporkan pungutan liar yang terjadi di sekolah.

31. Pelibatan Publik
Mengajak masyarakat untuk lebih terlibat dalam keputusan keputusan penting Kemendikbud, mulai dari desain gagasan, penyusunan regulasi, sampai pelaksanaan. Mereka ini tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transformasi Pendidikan (KMSTP), yang terdiri dari gabungan berbagai lembaga, misalnya: Indonesian Corruption Watch (ICW).

32. Guru Pembelajar
Memberikan pelatihan interaktif bagi seluruh guru yang merupakan tindak lanjut dari program Uji Kompetensi Guru (UKG).

33. Residensi Penulis
Menyediakan dana hibah bagi para penulis Indonesia agar mereka bisa berkarya dan menghasilkan karya dan buku dengan lebih baik tanpa disertai kekhawatiran masalah finansial.
34. Penerjemahan buku Indonesia ke bahasa bahasa Internasional 
Menerjemahkan karya karya penulis Indonesia ke bahasa internasional sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia ke dunia luar.

35. Registrasi Benda Cagar Budaya
Pencapaian 2015 yang melebihi target: 10.000 lebih benda cagar budaya teregistrasi, sebelumnya ditargetkan hanya 3.000.

36. Direktorat Pendidikan Keluarga
Pembentukan Direktorat Pendidikan Keluarga merupakan bentuk konkret perhatian terhadap pendidikan keluarga. Program utama direktorat ini adalah mengajak dan mendorong orang tua untuk lebih terlibat dalam pendidikan anak. Ini sering diprotes karena katanya pemerintah ikut campur urusan orang tua. Padahal, banyak sekali orang tua yang tidak terlibat dalam tumbuh kembang anaknya. Dampak sosialnya kepada kita semua juga.

37. Visioning
Pelatihan untuk semua pegawai Kemendikbud yang berisi informasi kegiatan atau program prioritas kementerian, supaya mereka mengetahui semua detail kegiatan utama kementerian.

38. Simposium Pendidikan Nasional
Mempertemukan guru guru inovator dan kreatif agar saling belajar dan bertukar pengalaman. Sebanyak hampir 1.000 guru terlibat aktif dalam simposium ini.

39. Sekolah aman asap
Membuat sistem yang murah dan mudah diterapkan di sekolah sekolah yang terkena bencana asap , atau sekolah yang rentan terkena polusi asap. Hal ini juga termasuk dalam memberikan kelonggaran jadwal UN kepada daerah yang terkena bencana asap.

40. Lintasan beresiko bagi pelajar
Meski infrastruktur bukan urusan dan kewenangan Kemendikbud, Anies mengajak publik untuk lebih peduli dengan melaporkan kepada kementerian bila di lintasan utama menemukan jalan/ jembatan berisiko dan bisa menghambat siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, banyak daerah yang lebih aman untuk dilintasi anak-anak dan tenaga pendidik. Salah satunya dengan membuka kanal pengaduan di poin 30 tadi.

Jadi, dengan semua pencapaian di atas, terus terang saya bingung kira kira apa alasan Jokowi copot Anies Baswedan dari Mendikbud.

StreetTeamBPN

Juru Bicara Balikpapan menjelang.Tanggal 23 Oktober sudah tidak jauh lagi. Tapi saya masih butuh bantuan dalam menyelenggarakan pertunjukan ini. 

Untuk itu, saya akan membuka kesempatan bagi followers, penikmat karya saya, yang ada di Balikpapan dan sekitarnya termasuk Samarinda & kota kota Kalimantan lain yg berminat, untuk gabung ke #StreetTeamBPN. 
– Seluruh anggota Street Team BPN akan mendapatkan ID Card Street Team sebagai identitas resmi
– Tugas utama Street Team BPN adalah sales & promotion
– Ada kesempatan untuk kamu mendapatkan All Access ID. Nanti kamu bisa bebas kemanapun ketika acara. Kita bisa ngobrol-ngobrol di backstage & di ruang tunggu tapi pas saya mau latihan jangan ganggu ya.
– Pendaftaran untuk street team BPN dilakukan via twitter atau instagram (tinggal komen di posting IG tentang StreetTeamBPN) cukup dengan menyatakan kesediaan kamu & menggunakan tagar #StreetTeamBPN. Pendaftaran ditutup 15 okt, jam 12.00
Lebih lengkapnya tentang cara bekerja dan apa saja yang kamu dapatkan akan saya jelaskan secara langsung ketika kita ketemuan 🙂
I need your support, for Juru Bicara Balikpapan. 
Ditunggu bergabungnya kamu, ke StreetTeamBPN

Anies ternyata jahat

Kenapa orang tidak terbiasa untuk pelan pelan dalam menerima informasi?

Dicerna saja dulu.

Bingung saya.

Ayah saya almarhum pernah menasehati, “Mas, cepat boleh. Buru buru, jangan”

Karena Ayah tahu persis dulu saya saking inginnya cepat, malah terburu buru sehingga tidak teliti dan ujungnya melakukan sesuatu yang salah. Sejak Ayah nasehati tadi, saya selalu berusaha untuk ngerem atau setidaknya nggak ngebut sebelum/ ketika berkata atau bertindak.

Nampaknya, lebih banyak orang perlu melakukan hal yang sama. Karena banyak orang bereaksi terhadap berita, atau menyebarkan berita, tanpa benar benar meneliti isinya. Dicermati kata per kata sebelum keburu emosi dan beraksi.

Mungkin lalai. Atau mungkin disengaja. Dimanfaatkan judul berita yang didesain sebagai click bait (pancingan berupa judul yang sengaja sedikit melenceng, supaya orang klik link atau retweet beritanya) untuk mendiskreditkan pihak tertentu. Ini juga bisa jadi salah satu alasannya.

Contohnya beberapa hari ini, terkait ucapan Mas Anies bahwa pembersihan Kali di Jakarta dimulai dari era Foke. Banyak banget pada ngamuk. Saya juga kurang yakin kenapa. Karena kalau mereka pelan pelan saja dan memproses dulu infonya, dipikirkan lagi konteksnya. Mereka akan menyadari satu hal, Pak Basuki sama sekali tidak membantah. Ni orang orang musti ingat lagi, Pak Basuki dan Mas Anies ini kan berteman, jadi mungkin sekali informasi yang Mas Anies punya datangnya dari Pak Basuki langsung. Kenapa kok pada ngamuk ya. Lagipula, andai mereka verifikasi pernyataan tersebut, google google dikit aja, langsung ketauan benar atau tidaknya pernyataan ini.

Awalnya, proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) itu idenya datang dari Fauzi Bowo pada tahun 2008. Beliau berencana nyari uangnya dari pinjaman World Bank. Tapi waktu itu dilarang Ibu Sri Mulyani yang saat itu menjabat jadi Menkeu, karena aturannya uang dari World Bank itu harusnya masuk lewat pemerintah pusat, ga bisa langsung ke pemerintah daerah. Akhirnya itu proyek baru bisa dimulai Maret 2012 setelah pemerintah pusat keluarkan dua Peraturan Pemerintah Baru terkait pinjaman World Bank >> http://www.berita8.com/berita/2011/11/fauzi-bowo-kecewa-terkait-proyek-jedi

Pada akhirnya proyek JEDI dimulai di era Jokowi jadi Gubernur DKI tahun 2013. Bahkan beliau sendiri bilang program JEDI yang beliau resmikan adalah program lama yang tertunda >> http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/11/1045245/Tertunda.di.Era.Foke.Proyek.JEDI.Diresmikan.Jokowi
>> http://jakartabagus.rmol.co/read/2013/12/11/136136/Soal-Proyek-JEDI,-Jokowi-Hanya-Lanjutkan-Program-Foke-
>> http://ahok.org/berita/news/video-jokowi-ground-breaking-jedi/

Pak Jokowi jadi Presiden, programnya lanjut ke Pak Basuki.
>> http://m.monitorday.com/read/detail/26003/ahok-ngebet-selesaikan-proyek-warisan-foke
>> http://m.monitorday.com/read/detail/26003/ahok-ngebet-selesaikan-proyek-warisan-foke

Belakangan ini kedua pendukung lagi dibikin ramai atau saling tuduh yang menyimpang.

Banyak yang tunjukkan link ini.

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/03/14223271/ahok.mungkin.pak.anies.tak.tahu.sungai.bersih.karena.ppsu.dan.petugas.upk.badan.air
Dan memang betul. Bahwa sungai bersih karena program PPSU & petugas UPK. Itu menunjukkan bahwa kinerja Pak Basuki memang baik. Aplikasi lanjutannya terbukti memberi dampak baik.

Yg Mas Anies bilang kan bahwa ini semua “Dimulai dari era Foke”. Salahnya di mana pernyataan itu? 

Kedua kalimat di ata sama sama benar dan berkaitan. Andai orang mau baca pelan pelan harusnya tidak mudah jatuh dalam hasutan.

Nah pernyataan Mas Anies-pun diucapkan bukan dalam konteks menghina. Justru memuji Pak Basuki, sekaligus menghormati 2 pendahulu beliau. Dengan ikut mengapresiasi 2 Gubernur terdahulu dalam andilnya terhadap JEDI yang hari ini kita bisa nikmati sama sama hasilnya karena kerja keras Pak Basuki.

Apa maksudnya memuji Pak Basuki?

Karena Pak Basuki, punya niat baik melanjutkan program program yang baik walau datang dari Gubernur sebelumnya. Kalau anda mengikuti berita berita terkait politik dan pemerintahan sejak lama, harusnya anda tahu masalah terbesar kita adalah: Ganti menteri, ganti semua kebijakan. Ganti gubernur, ganti semua kebijakan. Ganti pemimpin, ganti semua kebijakan. Seakan akan anti banget dengan pendahulunya atau takut disebut dibayang bayangi pemimpin sebelumnya. Padahal, program yang baik butuh waktu untuk dijalankan. Kalau sebuah program baik lalu berhenti karena pemimpinnya berganti, ya ga selesai selesai dong pembangunan?

Tahu nggak Tembok Cina itu dibuat berapa lama? Itu tembok berdiri total sepanjang 21.000 km lebih. Tembok China dibangun selama 2000 tahun, Dinasti Ming sendiri ngerjainnya 200 tahun. Dibangun untuk menahan serangan dari luar masuk ke kekaisaran China. Kebayang gak kalau tiap ganti pemimpin trus ganti program. Ketika berganti kepemimpinan, pemimpin berikutnya bilang “Program Tembok China adalah kebijakan pendahulu saya dan tidak akan saya lanjutkan!”. Kalau itu terjadi, Tembok China tidak akan disebut “The Great Wall Of China”. Disebutnya “That weird looking 200 meter wall standing alone in the middle of nowhere in China”

Pemimpin baik akan melanjutkan kebijakan dan program baik dari yang terdahulu karena dia tahu itulah yang terbaik untuk rakyatnya. Makanya Mas Anies juga bikin pernyataan, beliau akan lanjutkan program Pak Basuki yang baik dan bagus. Anehnya, pernyataan itu dianggap pernyataan cagub yang ga punya program dan males kerja. Lah gimana sih, yang bener kan harusnya begitu. Bahkan Pak Basuki melanjutkan punya Pak Jokowi, Pak Jokowi melanjutkan punya Pak Foke, Pak Foke melanjutkan punya Bang Yos, dan seterusnya. Ini kan hal baik yang menggambarkan Mas Anies dan Pak Basuki berkawan baik sehingga program Pak Basuki yang belum selesai akan dilanjutkan. Bukan dihentikan serta merta.

>> http://news.detik.com/berita/3310459/anies-akan-teruskan-program-ahok-yang-baik-jika-terpilih-jadi-gubernur

Ada lagi nih kasus yang buru buru diramaikan tanpa pelan pelan dicermati. Terkait kelebihan dana Tunjangan Profesi Guru. Diramaikan seakan akan itu indikasi Mas Anies korup di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal asal verifikasi dikit aja, google google dikit, aja. Langsung keliatan yang sebenarnya.

TPG  bukan anggaran Kemdikbud. Itu dana transfer daerah karena guru adalah PNS Pemda. (Fakta ini banyak yang tidak tahu, bahwa terkait pendidikan di daerah sebenarnya dibawah pemda bukan kementerian) Jadi transfer dari Kementerian Keuangan langsung jatuh ke Pemda. Selama ini Pemda mengusulkan anggaran pegawai yang terlalu banyak. Sehingga sering terjadi sisa.

Jumlah Guru di banyak daerah rata rata sekitar 80% dari total PNS di daerah tersebut. Besar jumlahnya. Sering kali, guru sudah pensiun, atau mutasi tapi oleh pemda tetap dicatat sbg pegawai sehingga ketika dijumlahkan secara nasional jadi timbul kelebihan anggaran.

Masalah ini sudah ada sejak 2007. Bahkan di tahun 2013, kelebihan anggaran di Pemda telah mencapai Rp 10 T, dan Irjen Kemdikbud saat itu juga sudah permasalahkan ini.

Makanya Kemendikbud minta ke Kemenkeu supaya Rp 23,3 T kelebihan anggaran tersebut tidak disalurkan.

kemdikbud

kemkeu

Jadi pemotongan ini bukan inisiatif Menteri Keuangan (yg baru dilantik 27 Juli 2016) tapi melanjutkan hal baik (tuh, lagi lagi melanjutkan program baik / hal baik dari pendahulunya) yang sudah dimulai Kemdikbud sejak bulan Mei 2016, di era Mendikbud Anies dan Menkeu Bambang Brodjonegoro.

Jadi andaikan orang orang mau lebih sabar dan tidak langsung nurut diarah arahkan oleh pihak lain yang juga mungkin buru buru,   ini justru prestasi Mas Anies. Ingat nggak waktu Pak Basuki selamatkan dana APBD sampai sekitar 12 Trilyun? Nah ini sama situasinya, Mas Anies justru selamatkan dana kelebihan sekitar 23.3 Trilyun.

Coba tuh liat. Udah mah ni 2 orang bertemen, sama sama mau melanjutkan program pemimpin sebelumnya yang baik, sama sama menyelamatkan uang rakyat, kenapa sama orang orang Pak Basuki dan Mas Anies malah diadu adu ya?

 

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/27/079799434/pemangkasan-tunjangan-guru-ternyata-diusulkan-kementerian-pendidikan

http://nasional.kompas.com/read/2016/08/28/11431651/kelebihan.anggaran.tunjangan.profesi.guru.karena.silpa.daerah.sejak.2007

https://acdpindonesia.wordpress.com/2013/09/10/dana-rp-10-triliun-mengendap-di-pemda/em

 

Kejadian seperti di atas, itu terjadi berulang ulang dalam beberapa waktu terakhir ini. Orang orang tidak mau sabar dulu dan mencoba meresap informasi yang dia terima dengan baik, akhirnya terburu buru lalu malah ikut ikutan menyebarkan yang salah.

Misalnya mengenai meme yang tersebar, isinya ada hubungannya dengan becandaan garing sunat sunatan. Disebarkan dengan dikatakan ini datang dari akun FB resmi Anies-Sandi. Padahal ya, asal orang yang nerima infonya memutuskan untuk buka akun itu dan liat liat isinya, langsung nyata ketauan itu gak mungkin resmi dari Anies – Sandi.

Apa susahnya coba? Tinggal buka dulu aja. Cek aja dulu sendiri. Tapi orang malah buru buru menyebarkan.

Terus yang terakhir soal kontrak Politik, ramai membahas Mas Anies mau melegalkan yang ilegal. Padahal andai orang orang pelan pelan aja bacanya, langsung keliatan di poin 1A yang dimaksud. Tulisannya kan “Melegalisasi kampung kampung YANG DIANGGAP ilegal”. Itu kan artinya, sebenarnya memang legal. Jadi bukannya Mas Anies mau nyulap status kampung. Ini memang sebenarnya legal tapi dianggap sebaliknya. Ini masalah aturan dan kebijakan yang mau dibenarkan. Kalimat selanjutnya juga menjelaskan banget padahal “Kampung kampung yang sudah ditempati warga selama 20 tahun dan tanahnya TIDAK BERMASALAH akan diakui haknya dalam bentuk sertifikasi hak milik.”

kontrak

Lah? Kurang bagus apa coba?

Jangankan Mas Anies, Pak Basuki dan Agus kalau disodorkan juga akan setuju. Wong poinnya baik semua kok.

Gak percaya? Pak Basuki bersama Pak Jokowi juga pernah menanda tangani hal serupa


http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/12/11312221/.Harusnya.Ahok.Ikuti.Kontrak.Politik.Jokowi.Ketika.Menjadi.Calon.Gubernur.?page=all

Kalau diperhatikan baik baik, Mas Anies berusaha untuk adil dengan melakukan proses legalitas guna mendukung keadilan tersebut. Mas Anies bilang,  bahwa di Pancasila juga tulisannya kan “Keadilan Sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia” bukan “Legalitas Sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia”. Lakukan dulu yang adil bagi rakyat (Kampung kampung yang sudah ditempati warga selama 20 tahun dan tanahnya tidak bermasalah akan diakui haknya) baru dibuat kerangka legalitasnya (diakui haknya dalam bentuk sertifikasi hak milik).

Lalu kenapa orang pada ngamuk?

Sederhana.

Karena nggak dibaca baik baik

Atau

Sengaja berharap orang gak baca baik baik dan sengaja menyebar luaskan informasi yang salah. Mungkin, tujuannya untuk menjelekkan nama dan reputasi.

Kalau kita tidak mau terjebak melakukan hal yang salah, atau diperalat orang untuk menyebarkan hal yang salah, kita hanya perlu untuk sedikit menahan diri sebelum bereaksi.

Nih, tips yang bagus untuk anda di sosial media, apalagi di masa masa seperti sekarang:

“Verifikasi, sebelum anda berbagi”

Dan setiap kali dalam masa masa pilgub ini anda melihat ada indikasi yang seakan menggambarkan permusuhan antar calon Gubernur dan wakil, kembalikan ingatan anda ke foto ini.

img_7017

Dan tanya baik baik kepada diri anda sendiri “Apakah mereka saling membenci? Kalau tidak, wajarkah para pendukungnya saling benci?”

Ingat, bahwa DKI Jakarta sebagaimana kota kota lain, selayaknya dipimpin terus oleh orang orang terbaik. Maka kalau ada sejumlah kandidat yang kita tahu menurut kita baik dan layak, ya kita dukung sama sama.

Orang baik beradu rebutan jabatan dengan orang jahat, kemungkinan hasilnya akan dimenangkan oleh orang baik.
Tapi kalau orang baik diadu dengan orang baik, hasilnya, adalah orang yang TERbaik.

Jadi, bersabar sebelum ikut membiarkan kesalahan menyebar. Supaya kita tidak jadi bagian dari orang yang memperluas kabar yang nyasar.

Kalau anda mau perhatikan baik baik, anda akan sadar bahwa di setiap kubu para cagub ada orang orang yang dengan liar melempar kabar yang belum tentu benar. Entah apa motivasi mereka. Saking ingin calonnya menang atau saking ingin lawannya kalah. Tapi nyata nyatanya, ada selalu orang orang yang ingin meyakinkan kita bahwa kandidat lain itu jahat. Di kubu Pak Basuki ada, kubu Agus ada, saya bahkan akui di kubu Mas Anies pasti ada. Dan orang orang ini sulit untuk dipasung karena mereka akan selalu muncul lagi. Sulit untuk diatur karena mereka tidak benar benar ada di bawah komando masing masing cagub.

Tapi kuncinya adalah, tidak membiarkan mereka menang dengan niat mereka. Caranya, verifikasi sebelum kita berbagi.

Supaya tidak terjadi di benak orang “Wah, gila juga nih berita, Pak Basuki / Agus / Anies ternyata jahat!”

 

 

 

PS:

  1. Kalau anda belum sadar, judul posting ini sengaja saya desain sebagai click bait. Sengaja ingin menunjukkan ironinya. Bahwa memang diluar sana banyak #SiJariCepat yang kerjanya menyebarkan berita dari judul tanpa membaca isi. Kini anda bisa buktikan sendiri, justru karena judulnya begini, tulisan ini jadi tersebar luas. Sebagai pengingat bahwa memang kita musti bersabar dan berhati hati. Verifikasi sebelum berbagi. Kalau anda kesal karena terjebak, saya minta maaf, saya khilaf 🙂
  2. Saya memanggil Ahok dengan nama Pak Basuki karena ajakan Mas Anies. Beliau ingin contohkan berkampanye dengan baik dan sopan, sehingga kami diajak untuk memanggil Pak Gubernur dengan nama baik yang diberikan orang tuanya. Maaf kalau sempat bingung.

 

 

Louis CK

Zaindra, manajer saya, adalah orang yang pertama mengingatkan.

“Coba cek cek jadwal artis favoritnya, siapa tahu pas kita lagi di Amerika mereka lagi ada jadwal manggung”

Buka laptop, google “Chris Rock US tour”. Tidak ada hasil. Saya dengar juga dia tidak sedang nongol openmic di sejumlah comedy club US. Saya ingat ingat lagi siapa yang belakangan ini suka tiba tiba nongol.

Yang muncul di ingatan adalah Louis CK, Seinfeld dan Chappelle. Saya follow beberapa akun comedy club di LA seperti Comedy Store dan Laugh Factory dan nama nama tadi beberapa bulan yang lalu pernah tiba tiba nongol di openmic. Pertanda mereka sedang menyiapkan sesuatu. Mungkin corporate gig, mungkin mau tampil di TV, mungkin mau tur.

Louis CK saya google duluan.

I cant believe my luck. Ada tanggal Louis CK manggung di Madison Square Garden New York. 3 pertunjukan di 3 tanggal yang berbeda. Saya cek jadwalnya, tanggalnya ada di antara jadwal saya manggung di Philly dan DC. Saya cek tiket yang tersedia.

Terhenyak.

Ada tiket nganggur. Saya kucek kucek mata. Saya perhatikan lagi situs yang menjual. Takutnya nipu. Saya google dan tanya tanya ternyata memang ini situs third party yang terkenal. Saya beranikan diri memesan tiket. Ternyata masih bisa. Saya pesan 3 tiket di pertunjukan ke tiga Louis di MSG. Pertunjukan ke 3 dari 3. Pertunjukan terakhir.

Sebelum bayar, saya perhatikan lagi denah venue dan mencari tahu saya mau beli tiket yang di mana. Kaget saya, ternyata ini ada di area tepat depan panggung. Buru buru bayar dan tidak lama tiket dikirimkan ke email. Attached adalah tiketnya, tidak perlu ditukar, tapi harus diprint. Begitu penerangan di email yang saya terima.

Segera saya lapor ke grup, minta dipesankan transportasi untuk bolak balik sehari demi nonton Louis CK, di Madison Square Garden.

Tiket bis dipesankan.

Semuanya sudah beres. Hanya perlu jaga kesehatan supaya bisa berangkat.

Ketika harinya tiba, saya sulit tidur. Tidak sabar mau berangkat. Bis kami jalan dari stasiun pagi pagi sekitar jam 8 dan menempuh 5 jam perjalanan. Saya ingat sekali, ketika sudah sebentar lagi akan sampai, mata saya menatap ke luar jendela. New York terlihat di kejauhan.

Saya sering sekali naik bis atau kereta menuju sebuah kota baik di dalam maupun selama tur dunia di luar negeri. Saya belum pernah lihat kota yang sudah menampakkan kemegahannya dari kejauhan. New York dari jauh sudah terlihat menjulang dengan semua gedung gedung tingginya.

Supaya tidak berkepanjangan, saya akan ceritakan New York di tulisan lain, saya balikkan fokusnya ke Louis CK saja.

depan

Ketika kami sampai di Madison Square Garden, ada kekhawatiran bahwa kami tidak bisa bawa kamera. Saya, Arie dan Mbicu sama sama bawa kamera. Mbicu, mungkin kameranya lebih terlihat seperti profesional. Pada akhirnya, dia tidak boleh membawa kameranya masuk. Kameranya dititipkan kepada Yafi, kawan kami yang memang ada di New York untuk menjaga kami. Dia sudah datang lebih dulu ke NYC dan menemui kami ketika kami turun dari bis. Kamera saya dan Arie boleh dibawa masuk tapi berulang kali keamanan mengingatkan “Ini bukan peraturan dari kami pihak MDS, ini peraturan Louis CK, dia sangat melarang ada yang mengambil foto selama pertunjukkan. Kalau kalian ngotot akan diusir keluar”

Lepas dari keamanan dan pemeriksaan tiket, kami seperti anak kecil yang berjalan dengan cepat menuju kursi kami. Bukan hanya karena nonton Stand-up, bukan hanya karena Louis CK, tapi karena ini Madison Square Garden. Ini venue legendaris. Bukan hanya markas New York Knicks, tapi juga tempat pernah dihelat berbagai acara legendaris. Ali vs Frazier pernah dilangsungkan di sini. Frank Sinatra pernah manggung di sini (panggungnya bentuknya kayak ring tinju), Jay Z pernah bikin konser di sini, Eddie Murphy, Chris Rock, Kevin Hart pernah manggung di sini.

ali

Ketika kaki kami melangkah masuk area panggung, mata kami terbelalak melihat megahnya gedung ini. Untuk konser, kapasitasnya 20.000 kursi. Lebih kaget lagi ketika kami diarahkan oleh usher di mana kami duduk setelah saya tunjukkan tiket kami. Ternyata, bukan hanya di area depan panggung, kami bertiga duduk di baris paling depan. Berhadapan langsung dengan panggung. Orang yang mengantar kami senyum melihat kami kaget dan berkata “Now, i dont want to hear you complain about leg room okay”. Kami tertawa sambil melihat dia pergi. Ya jelaslah, kami bisa selonjoran. Duduk paling depan!

duduk

dilarang

mic

Pertunjukan dimulai telat sekitar 20-30 menit. Mungkin Louis memikirkan yang telat ketimbang menghargai yang tepat.

Ada 3 komika pembuka, saya lupa siapa saja namanya, tapi makin ke belakang semakin lucu. 2 komika perempuan lalu 1 komika laki laki.

Louis kemudian masuk, pake jas!

Untuk orang yang mengikuti dia sejak awal, kita semua tahu Louis selalu tampil kasual. Kaos hitam atau biru tua, paling mentok di specialnya yang terakhir “Oh My God!” dia pakai polo shirt biru tua. Tapi kali ini, jas, lengkap dengan dasi. Di awal, dia langsung jelaskan “The elephant in the room” yaitu mengenai pakaiannya. Dia hanya menjelaskan “I want to appreciate life more..” lalu dia bridging ke bit pertamanya dengan menggambarkan bahwa orang dulu naik pesawat pakai jas karena dulu naik pesawat adalah sebuah kesempatan langka. Jaman sekarang orang pakai sendal dan kaos kutung.

And just like that, the show is on a roll.

Saya dan Arie sepakat, ini adalah specialnya yang terbaik. Topik topiknya luar biasa. Louis membahas ISIS memenggal kepala dan menjadikannya bahan tertawaan. Dia juga membahas bunuh diri, membahas profesi guru sekolah negeri yang menurutnya menyedihkan, membahas aborsi, membahas agama yang menang, membahas titit bapaknya yang menurutnya mirip ujung bantal. He was absolutely brilliant. Apalagi bit terakhirnya yang membahas mengenai Kalender. Di akhir tawa yang menggelegar, Louis kemudian mengembalikan mikrofon ke mic-stand dan berkata “I want you to remember the worst day you had in the last month.. the worst. Got it? Okay, well, you guys laughed so hard tonight. So life is okay. Please, dont kill yourself

Kemudian dia melambaikan tangan dan pergi.

Just like that.

Penutupannya, seperti mencoba merapihkan bitnya tentang dia ingin bunuh diri. Dia tahu bunuh diri adalah sesuatu yang serius karenanya dia tutup dengan pesan tadi.

Saya, Arie dan Mbicu pulang dengan hati bahagia, kami tidak terburu buru keluar karena toh kami paling depan. Pada akhirnya kami benar benar orang orang terakhir yang keluar sampai disuruh cepat cepat oleh keamanan

bubaran

Menyaksikan Louis CK secara langsung, membawa banyak hal baik untuk saya. Salah satunya, adalah semangat untuk terus berkarya. Terus berkembang. Belakangan saya google, pertunjukan ini adalah bagian dari tur dunia ke 22 kota yang Louis lakukan. Louis bilang di email yang dia tulis untuk subscriber websitenya “Its new jokes and i think i’m better at comedy right now”

Saya jadi bagian dari proses bertumbuhnya Louis CK. Saya fans yang sukses.

Saya bilang ke Arie, saya jadi gatel pengen manggung.

Kami sampai balik di DC jam 7 pagi. Malamnya saya dan Arie Kriting manggung utk Juru Bicara Washington DC. Ketika saya turun dari panggung, Arie bilang “2 jam 55 menit..”

Saya kaget dan berkata “Yang bener? Masak selama itu?”

Lalu penonton yang sedang berfoto dengan saya berkata “Ah gak kerasa! Kurang lama, mas!”

“Kurang lama mata lo benjut!?” kata saya dalam hati. Tapi saya memaklumi karena banyak dari mereka naik bis atau kereta atau bahkan menyetir selama 2-3 jam, bahkan ada yang 7 jam nyetir mau nonton saya. Tapi bagaimanapun, 2 jam 55 menit non-stop itu keterlaluan. Kebanyakan improv. Sekrup harus dikencangkan kembali. Saya ingin pertunjukan saya sekitar 2 jam saja.

Sial, keasikan manggung. Pasti gara gara nonton Louis CK.