Memandikan

Mungkin anda pernah lihat foto ini.

Atau bahkan sering, melihat foto ini dan semacamnya bersirkulasi di twitter atau facebook feed anda belakangan ini.

Meresahkan memang.

Saya juga sebal melihatnya.

Menteri Agama RI, Pak Lukman Saifuddin sempat ngetweet bahwa info di atas adalah hoax, tapi pasca keterangan beliau, foto bahkan video serupa malah makin banyak. Maka beliau bikin pernyataan agar Masjid tidak jadi tempat yang justru memicu terjadinya konflik

Saya sering ditanya pendapat mengenai kejadian ini dan sering kali mau saya bahas di twitter. Tapi saya sadar, 140 karakter tidak akan cukup. Sejumlah tweet-pun tidak akan mampu. Saya harus menulisnya di blog. Dengan satu tujuan.

Meningkatkan traffic blog.

GAHAHAHAHA.

Nggak deng.

Tulisan panjang seperti ini memang lebih tepat supaya orang membacanya tidak terpotong potong berhubung ini adalah kondisi yang menurut saya rumit.

Mari kita mulai dari pertanyaan yang ada di benak semua orang:

Apakah ini ada kaitannya dengan pilkada?

Satu pihak ada yang bilang bahwa kekesalan mereka kepada Pak Basuki tidak ada hubungannya dengan Pilkada. Kalaupun tidak ada Pilkada tapi ujaran beliau waktu itu terucap maka mereka akan sama kesalnya. Sebagai argumen pendukung, mereka akan mengatakan bahwa sejumlah aksi terhadap Pak Basuki bahkan tidak terjadi di Jakarta. Saya pernah tulis bahwa saya tidak merasa beliau menistakan agama namun ucapan beliau tetap merupakan kesalahan dan karenanya saya memahami kalau ada yang marah.

Di pihak lain, rasanya naif juga kalau tidak terpikir bahwa kejadian Al Maidah kemudian dimanfaatkan untuk keuntungan politik. Melihat turunnya elektabilitas beliau, sulit memungkiri Mas Agus dan Mas Anies tidak diuntungkan dengan itu di putaran pertama kemarin. Dengan munculnya spanduk spanduk tersebut menjelang putaran ke 2, maka aman untuk berasumsi spanduk tersebut diniatkan untuk mengancam atau setidaknya membuat gentar umat muslim yang mempertimbangkan memilih Pak Basuki.

Para pendukung spanduk tersebut berargumen tindakan ini didukung ayat suci (At-Taubah : 84), MUI sudah rilis pernyataan bahwa seluruh jenazah wajib dimandikan karena toh yang menentukan siapa kafir dan munafik hanya Allah SWT. Dan sejujurnya, spanduk yang membentang di mana mana ini juga dimanfaatkan kubu seberang untuk memberatkan kampanye Anies-Sandi.

Istilahnya: Guilty by associaton.

Perdebatan ini tidak ada ujungnya. Pendukung Pak Basuki jadikan spanduk ini untuk mengajak orang tidak memilih Anies-Sandi. Pendukung Mas Anies jadikan spanduk ini untuk mengajak orang tidak memilih Basuki-Djarot. Pihak resmi dari kedua kubu sama sama tidak bisa menahan pendukung masing masing untuk tidak melakukan itu. Karena dalam diamnya, mereka berdua tahu mereka sama sama diuntungkan. Agak aneh memang, tapi benar adanya.

Pertanyaannya kemudian, lalu kita musti bagaimana?

Menurut saya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh orang yang hidup dengan kebebasan berpendapat, adalah tahu mana pendapat yang tidak perlu didengar.

Kita bisa tetap jadikan ini sebagai pertarungan gagasan, kalau kita memilih untuk memfokuskan perhatian kita hanya pada pertarungan gagasan.

Karena semua orang boleh bicara apapun. Semua orang boleh berpendapat apapun. Dan kita yang harus bijak bijak dalam memutuskan siapa yang layak dapat perhatian kita serta siapa yang tidak.

Karena toh, ketika ada yang meninggal siapa yang tahu waktu itu dia nyoblos siapa? Mau cek timeline twitternya? Kalaupun tahu, ya tinggal pindah ke yang mau saja. Saya yakin masih banyak di Indonesia yang mau kok. Kalau anda google picture, anda akan sadari bahwa foto masjid yang memasang spanduk tersebut ternyata itu itu saja. Menurut laporan sejumlah media memang hanya 3 masjid yang memasang. Bayangkan ada berapa banyak Masjid di Jakarta saja yang tidak memasang spanduk tersebut.

Apakah intoleransi bukan masalah? Tentu masalah. Tapi bukanlah masalah yang bisa kita selesaikan dalam waktu dekat. Siapapun yang kelak menjabat akan bertemu masalah yang sama. Tinggal anda yang harus memilih siapa yang anda percaya memahami masalah intoleransi dengan mendalam, dan mampu menyelesaikannya. Mampu membuka dialog, menyelesaikan tanpa melahirkan masalah baru dan menjembatani segala keragaman warna warni Jakarta.

Lagi pula, dalam temuan lembaga survey Indikator Politik ditemukan bahwa jumlah pemilih putaran pertama yang memilih karena agama hanya 7% dan sisanya memilih berdasarkan kelayakan, kejujuran, program kerja, dan performa ketika debat. Menurut laporan SMRC pemilih pemula lebih suka Anies-Sandi, berapa besar kemungkinan mereka suka Anies-Sandi karena sentimen agama? Rasanya kecil. Sentimen agama bukanlah alasan utama pemilih pemula menjatuhkan pilihan.

Mereka memilih karena KJP+ yang akan memberikan pendidikan berkualitas dan tuntas, OKOCE yang akan bantu anda untuk menumbuh kembangkan bisnis yang sedang anda bangun dan dengan itu juga membuka begitu banyak peluang kerja, OKOTRIP yang akan memberikan anda single trip fare sebesar Rp 5000,- saja sudah termasuk naik angkot pindah Trans Jakarta dan pindah lagi angkot. Satu trip, 5000 saja. Dan kemungkinan pemilih tertarik karena DP 0%.

Kemarin kemarin pendukung seberang senang mengkritisi program DP 0% kan? Ya udah mending diskusinya dikembalikan ke sini aja. Benarkah program ini melanggar aturan? Di mana memang lahan yang mau dipakai? Memang masih ada tanah kosong di Jakarta? Siapa yang dapat menikmati program ini? Seperti apa bentuk rumahnya? Seperti apa hitung hitungannya?

Bukankah ini yang membuat anda penasaran?

Bukankah ini yang seharusnya kita diskusikan? Daripada memikirkan ketika meninggal nanti mandiin jenazahnya di mana? Tidakkah anda juga sebenarnya bermimpi ingin memiliki rumah? Tidakkah anda merasa bahwa seharusnya pemerintah membantu anda untuk memiliki tempat tinggal sendiri dan tidak hanya menyewa?

Kalau anda penasaran dengan semua jawaban dari pertanyaan di atas, saya undang untuk masuk ke sini dan baca baik baik.

Untuk yang mendukung Pak Basuki dan Pak Djarot juga boleh kok. Saya tahu kalau anda kesampingkan siapa yang anda akan pilih, anda juga ingin tahu apakah anda masuk dalam syarat syarat yang bisa mendapatkan program DP 0%.

Memiliki rumah, adalah impian.

Cari tahu apakah untuk anda, ini impian yang punya peluang untuk jadi kenyataan. Kalau mau, ini yang kita perdebatkan. Bukan siapa kelak ketika waktunya anda tiba, akan memandikan.

 

Saya dibayar Anies Baswedan

“Dji.. Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?”

Itu kalimat pembuka yang sering teman teman saya tanyakan. Biasanya duduk mendekat, suaranya tiba tiba memelan supaya yang lain tidak dengar. Lalu mereka mulai membuka obrolan dengan “Gimana Anies?”

Lalu setelah saya cerita tentang situasi pilkada terkini dari kaca mata seorang jubir, baru setelah itu baru mereka melemparkan kalimat tadi…

“Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?”

“Nggak kenapa napa” balas saya sembari tertawa. Yang terjadi selanjutnya adalah obrolan terbuka dan apa adanya dari saya kepada siapapun teman yang bertanya. Saya memang selalu senang kalau teman memilih untuk bertanya langsung, karenanya saya akan berikan jawaban seterbuka mungkin untuk apresiasi kebaikan dirinya untuk bertemu saya langsung ketimbang ngomel ngomel secara terbuka apalagi di social media. Nyari 100% pasti tidak saya gubris. Twitter, Facebook, Whatsapp, bukanlah medium yang saya pilih kalau mau berdiskusi. Capek tek-tok-nya. Bales balesin satu persatu nggak selesai selesai, belum lagi yang lain nyamber, lalu orang lain lagi nyamber. Berusaha menjelaskan sesuatu yang krusial di jejaring sosial itu seperti disidang di depan khalayak umum. Argumentasi bukan jadi utama lagi, akan jadi kesempatan bagi orang untuk menghardik dan menghakimi. And im not in any trial. I don’t have to answer to anybody. Tapi kalau mau berbincang langsung, saya jawab dengan senang hati.

Biasanya, setelah pertanyaan “Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?” saya jawab dengan becanda, dia selalu lempar pertanyaan sebenarnya “Jadi elo tuh kenapa milih Anies?”

Nah ini saya bisa jawab. Lebih mudah, kalau saya mulai dengan:

“Kenapa saya tidak memilih Pak Basuki”, baru “Kenapa saya memilih Mas Anies”

Setuju? Baiklah mari kita mulai.

Mengapa tidak memilih Pak Basuki?

Karena saya sejak awal tidak memilih beliau. Saya memilih Pak Jokowi. Saya memilih Gubernur yang peduli dengan CARA dia melakukan sesuatu bukan hanya melakukan tanpa pertimbangan dalam tindakan. Gubernur yang memilih pendekatan humanis. Yang berjanji tidak akan menggusur dan memilih menggeser. Gubernur yang ingat sakitnya digusur.

Penggantinya, tidak memiliki pendekatan yang sama. Anda bisa cek di TL akun akun pendukungnya dan anda mungkin bisa tonton argumennya di youtube, setiap kali ditanya soal janji kampanye jawaban mereka selalu sama: “Yang janji kan Pak Jokowi. Bukan Pak Basuki.”

Berarti anggapan saya benar. Semakin kuat alasan tidak berlanjut dengan Pak Basuki, karena beliau memilih jalan sendiri yang berbeda dengan jalan yang diambil Pak Jokowi.

Dampaknya, dalam beberapa bulan Pak Basuki menggusur 8000 kepala keluarga. Coba bandingkan dengan Fauzi Bowo yang menggusur 3200 kepala keluarga dalam 5 tahun!

Sampai sini saja harusnya cukup membuat anda tercengang. 8000 dalam beberapa bulan vs 3200 dalam 5 tahun. Kalau dibilang Pak Basuki bisa kerja, kelihatannya bisa banget bahkan lebih gesit daripada Pak Foke dalam urusan menggusur. Kelihatannya Pak Basuki ingin bekerja dengan cepat agar pembangunan berjalan. Tapi Ayah almarhum pernah berpesan “Cepat, boleh. Buru-buru, jangan”.

Kalau angka itu tidak cukup membuat anda kaget karena anda bilang “Tapi kan dipindahin ke tempat tinggal yang lebih baik, yang dulu begitu nggak?” coba anda baca artikel ini. Kalau anda peduli dengan warga Jakarta dan bukan hanya peduli siapa yang menang pilkada, dengan segala hormat, coba baca artikel tadi.

Selain anda bisa baca cerita mengenai pilunya orang orang yang dipindah ke rusun setelah dicabut dari kehidupan lamanya sehingga tidak bisa berpenghasilan (Ya bayangin aja seumur hidup biasa nyari penghasilan dari laut tiba tiba dipindah 24km dari sana) juga dituliskan di artikel itu bahwa warga gusuran menambah jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan.

Saya tahu ada video penghuni rusun yang bilang hidupnya nyaman dan nikmat di tempat yang sekarang. Okay, berapa orang tuh? Coba bandingkan dengan yang kecewa dan tidak terima digusur.

Kalau memang relokasi itu dilakukan dengan baik dan dengan manusiawi, ya mana mungkin sih sebanyak itu yang protes?

Kan warga itu hanya ingin untuk tetap punya kehidupan. Punya penghasilan. Punya pekerjaan. Kalau hidup mereka nyaman sebagaimana harusnya dijamin oleh pemerintah, mana mungkin sih mereka protes?

Sebagaimana banyaknya warga yang protes dengan reklamasi teluk Jakarta. Sesuatu yang nggak tahu kenapa ngotot dibela oleh banyak pendukung Pak Basuki. Kurang jelas apa, ditolak Greenpeace yang hidup matinya mengenai lingkungan. Ditolak Ibu Susi Pudjiastuti yang jelas jelas adalah Menteri Kelautan dan Perikanan. Ditolak oleh Marco Kusumawidjaja yang reputasinya dibangun sejak begitu lama sebagai ahli tata kota.

Saya tahu banyak yang membela reklamasi di timeline twitter anda, tapi kompetensi mereka dibandingkan Greenpeace, Ibu Susi dan Mas Marco itu apa?

Anda mau membandingkan argumen seorang persona di twitter dengan Menteri?

Itu keyakinan anda?

Mungkin pertanyaan lebih mendasar di Pilkada DKI Jakarta ini adalah: Anda memilih Gubernur untuk anda. Atau untuk seluruh warga Jakarta?

Anda mencari pemimpin yang bisa memperjuangkan kepentingan anda, atau anda mencari pemimpin yang bisa memperjuangkan kepentingan seluruh warga Jakarta?

Karena untuk setiap jawaban, anda akan bertemu dengan nama Gubernur yang berbeda.

Kalau anda mencari Gubernur untuk anda sendiri, maka pilih Pak Basuki, saya tidak akan menghalangi anda. Bahkan saya mendukung anda.

Tapi saya akan ada di seberang anda.

Karena saya tidak perlu dibantu oleh Gubernur DKI Jakarta. Saya terdidik dan saya berdaya. Saya bisa mandiri dan memperjuangkan keperluan saya sendiri. Adalah warga Kampung Akuarium, warga Kampung Duri, dan seluruh warga DKI Jakarta lain yang suaranya tidak ada di social media, yang lebih butuh bantuan dari seorang Gubernur DKI Jakarta.

Mereka butuh dibantu untuk bisa memiliki rumah.

Mereka butuh dibantu untuk bisa memiliki pekerjaan.

Mereka butuh dibantu agar anak anak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Mereka ini yang perlu dibela.

Bukan saya.

Saya mencari pemimpin yang mau bekerja untuk SEMUA warga Jakarta.

Saya mencari pemimpin yang bahkan mengajak SAYA ikut bekerja.

Saya mencari pemimpin yang datang dan bicara “Pandji, mohon maaf tapi saya butuh bantuanmu. Warga Jakarta banyak yang perlu dibela dan diperjuangkan. Kamu punya expertise yang dibutuhkan. Maukah?”

Saya mencari pemimpin yang menggerakkan.

Saya mencari pemimpin yang punya gagasan. Jelas dari sisi pendidikan dia punya dukungan ilmu untuk bisa menemukan gagasan terbaik untuk Jakarta.

Saya mencari Arsitek bagi kota Jakarta. Arsitek itu kan tidak ikut kerja nyusun bata dan nyemen tembok. Itu dikerjakan oleh pekerjanya. Arsitek itu kerjanya adalah menggagas bangunannya. Mendesain. Mengukur. Menghitung. Bahkan di banyak firma Arsitek, sang Arsitek tidak menggambar apapun karena ada lagi yang kerjanya melakukan itu. Kendatipun dia tidak ikut menyusun batu bata, kendatipun dia tidak menggambar apa-apa, tapi kehadiran Arsitek, gagasan seorang Arsitek, menentukan hasil akhir dari bangunan tersebut.

Kalau anda mau memilih pekerja, ya silakan. Tapi di mana-mana, pekerja ya kerja untuk yang punya gagasan.

Saya mencari pemimpin yang bisa memberikan Grand Design.

Saya mencari pemimpin yang punya gagasan.

Saya juga mencari pemimpin yang tahu caranya berhadapan dengan warganya sendiri.

Tahu bagaimana cara berbicara dengan rakyatnya sendiri. Mendengarkan sebagai pimpinan, bukan sebagai atasan yang merasa jadi pemilik kebenaran. Mengerti ketika warganya salah dan mengerti caranya menyikapi kesalahan warganya.

Saya tidak mau punya pemimpin yang bilang dia ingin isi watercanon dengan bensin untuk membakar pendemo bayaran. Lah ketika di jalanan berhadapan dengan watercanon bedainnya mana yang dibayar dan engga gimana?

Saya tidak mau punya pemimpin yang ketika tahu ada warganya yang menangis karena rumah yang dia punya lenyap digusur, karena dicabut kehidupannya, malah disebut nangis sinetron. Kok ya insensitif amat jadi pemimpin. Biarlah cukup Amerika yang punya pemimpin seperti itu (Donald Trump juga pernah menuding senator Schumer pura pura nangis ketika Schumer protes terhadap kebijakan imigrasi Trump).

Saya tidak mau punya pemimpin yang ngebully warganya sendiri di depan awak media.

Saya tahu Pak Basuki dan pendukungnya bilang Ibu Yusri adalah pencuri karena menguangkan KJP sementara KJP tidak boleh diuangkan. Ibu itu salah.

Betul saya setuju Ibu itu salah, tapi Ibu Yusri BUKAN MALING.

Kenapa saya bisa bilang begitu?

Karena mana pernah sih maling komplen ke orang yang baru dia curi uangnya?

Kalau Ibu Yusri itu sadar dia maling, mana mungkin sih dia datengin Pak Basuki untuk protes?

Mana ada orang abis nyuri TV, besoknya nyamperin korban dan protes “Semalem saya nyuri TV Bapak nih, saya pasang di rumah kok gambarnya kresek kresek?”

Mana ada?

Ibu Yusri itu bukan maling. Ibu Yusri adalah warga DKI Jakarta yang tidak mengerti aturannya. Makanya dia datang untuk bertanya dengan nada protes.

.

Kalau Pak Basuki tidak tahu caranya berhadapan dan menjelaskan kepada warganya sendiri yang tidak mengerti aturan, mungkin ada baiknya Pak Basuki ga usah jadi Gubernur sekalian.

Lebih krusial lagi, ketidak mampuan Pak Basuki (dan pendukungnya) mengidentifikasi Bu Yusri sebagai warga yang kebingungan, jadi indikator kuat betapa beliau (dan pendukungnya) jauh jaraknya dengan warga DKI Jakarta menengah ke bawah.

Itulah mengapa, saya memilih pemimpin yang bisa dan mampu bekerja untuk seluruh warga Jakarta.

Itulah mengapa pilihan saya jatuh ke Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

.

Bagaimana dengan segala tudingan terhadap Anies-Sandi?

Bagaimana dengan program Anies-Sandi?

🙂

Saya percaya anda punya cukup kebijakan untuk mencari tau sendiri jawabannya. Anda bisa baca dari berbagai sumber, anda bisa bandingkan, anda bisa perhatikan diskusinya, anda bisa simpulkan sendiri. Saya adalah jubir resmi, apapun jawaban saya sebagaimanapun saya berusaha untuk objektif, tentu saya besar kemungkinannya untuk bias. Silakan cari tahu sendiri.

Sebaliknya, saya mau perlihatkan anda ini.

 

Dari beberapa survey, kelihatan sekali elektabilitas Agus-Sylvi turun sementara Anies-Sandi mendekat ke Basuki Djarot.

Bahkan kalau dilihat trend-nya, Agus-Sylvi terus turun sementara momentum Anies-Sandi begitu tinggi.

Apa artinya? Artinya yang kini punya peluang untuk mengalahkan Basuki-Djarot kini tinggallah Anies-Sandi.

Pasangan underdog yang awalnya bahkan tidak pernah dianggap punya peluang.

Kalau anda percaya dengan yang saya percayai, kita bisa sama sama bergabung untuk memastikan Jakarta kembali punya pemimpin yang humanis.

Yang peduli dengan perasaan warganya.

Yang punya gagasan untuk mengarahkan yang kerja.

Yang bisa jadi jembatan segala keragaman di Jakarta.

Yang bisa berdialog dengan semua kalangan ketika masalah terjadi tanpa perlu minta bantuan orang lain untuk selesaikan.

Yang bisa mempersatukan.

Yang dibutuhkan seluruh warga Jakarta termasuk dia yang suaranya tidak pernah anda lihat di social media.

Sampai di sini, pasti ada yang dibenaknya bertanya tanya

“Gila nih Pandji. Dibayar berapa sih dia sampai seperti ini?”

Demikianlah cara pandang orang orang self-righteous yang merasa hanya dirinya yang benar. Hanya dirinya yang tulus. Yang lain salah. Yang lain pasti bayaran.

Rada arogan menurut saya.

Biarlah mereka berkubang di kolam blunder-nya.

Biar mereka yakini saya dibayar.

Karena kalau dibayarnya dengan “Jakarta yang maju kotanya, bahagia warganya” saya berani bilang, betul, saya dibayar Anies Baswedan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lo Pikir Lo Keren

Adriano doesnt care.

Mari kita mulai dari situ.

Adriano tidak peduli anda suka atau tidak, Adriano tidak peduli dengan perasaan anda, ketika dia di atas panggung untuk Stand-Up Comedy dia hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan. Sesuatu yang membuatnya jadi serupa dengan Lenny Bruce daripada siapapun di Indonesia.

Komentar.

Social Commentary, mungkin istilah yang lebih keren.

Tidak ada yang luput dari lawakan Adri. Keluarga di grup whatsapp, istri, dirinya sendiri, ketiga paslon DKI dari Basuki, Agus dan Anies juga Sandi semuanya kena. Bahkan, Adri menertawakan penontonnya sendiri.

Tapi bukan itu yang menjadikan “Lo Pikir Lo Keren” itu spesial.

The Jokes are out of this world.

He is in a class of his own. Nobody else.

Adriano itu lucu bukan karena dia pintar membedah premis, bukan karena mind-mapping, bukan karena wajahnya bisa berubah-ubah ekspresi dan bukan karena gerak tubuhnya gila.

Adriano lucu karena cara berpikir dia memang lucu, ditambah kedisiplinan dan kerja keras untuk menemukan analogi yang tepat dalam bit-bit-nya.

Analogi, jadi semacam jurus andalan Adri. Dan setiap analogi yang dia akhirnya pakai, selalu tepat.

Cara dia bicara, intonasi, suara, jadi karakter yang berbaur sempurna dengan tipikal komedinya.

Begitu banyak catchphrase yang muncul dari mulut Adri, kalau semuanya dijadiin kaos, saking banyaknya dia bisa bikin Giordano sendiri.

Setiap kali ada kalimat keren yang muncul dari mulut Adri, saya selalu mikir “Gue musti inget inget nih kalimat buat gue tulis di blog nanti” tapi kenyataannya dia munculin lagi kalimat baru yang bikin saya lupa dengan yang tadi. Ini terjadi terus sepanjang malam.

Yang juga menarik adalah Adri tampak 100% sadar dengan apa yang ada di depannya. Tidak seperti banyak komika yang ketika di atas panggung seperti robot dan menjalankan set-nya tanpa mengindahkan penontonnya, Adri tampak sangat terkoneksi dengan penontonnya. Rasanya hanya itu yang membuat dia bisa seketika merasa harus membatalkan untuk membawakan sebuah bit. Dia buka bitnya, liat reaksi penontonnya, lalu memutuskan untuk meninggalkan bit itu. Agak seperti Kanye West.

Adri juga tampaknya sadar bahwa ada rasa janggal di benak penonton ketika dia membaca set-listnya yang ditempel di lantai depannya. Saya tidak menggunakan istilah “contekan” karena contekan itu disembunyikan, ini tidak. Semua orang bisa lihat urutan bit Adri. Dan dia tidak diam diam ketika membaca.

Awalnya, gerak gerik ketika dia membaca dan omongannya yang tiba tiba belok tanpa bridging masih lucu. Lama lama penonton tidak tertawa lagi dan Adri juga tidak berlama lama ketika membaca. Tapi dia tidak peduli. Baginya ini adalah “lomba” lucu-lucuan bukan hafal-hafalan. Yang penting joke-nya lucu.

Memang “Lo Pikir Lo Keren” bukan pertunjukan untuk semua orang. Justru itu adalah kualitas terbaik dari Stand-Up Specialnya Adriano ini. Kami yang menonton merasa nyaman berada di antara orang orang sepemikiran. Kami tau rasanya menjadi bagian dari penonton yang tidak sama seleranya, tidak sama kelakuannya. Terkadang bisa terasa sangat menyebalkan. Tapi kemarin di “Lo Pikir Lo Keren” kami seperti nongkrong bareng dengan orang orang yang satu selera, satu referensi.

Adri berencana untuk menggelar pertunjukan ini bukan hanya keliling Indonesia, tapi juga di Jakarta lagi.

Kalau kesempatannya tiba, saya sarankan untuk tonton dia.

Kalau suka, pasti akan suka sekali.

Kalau tidak, bisa jadi akan jadi benci.

Tapi tak apa, kemungkinan besar, Adriano Qalbi tidak akan peduli.

 

 

Get Yourself Ready

Im a perfomer.

That is who i am, by heart.

Saya sudah berjalan jauh sebagai pemanggung dengan stand-up comedy. Kini, panggung pertama yang saya pernah jajal akan kembali saya jalani lagi.

Im back, rapping.

Produksi album terbaru sedang berjalan. Satu persatu single saya kerjakan. Sejumlah video klip sudah diproduksi.

Tapi sebelum itu rilis, ada yang mau duluan hadir. Sebagaimana Mixtape “Pemanasan”, sebagai single “Aksi Massa”, sebagaimana tur “Nusantarap” yang didesain untuk mengencangkan kembali otot otot hiphop saya dan mengondisikan kembali penikmat musik saya.

Ada lagi yang akan rilis sebagai jembatan menuju album.

Menjelang album ke 5 saya berjudul “Pembalasan” yang akan rilis tahun ini, sebuah album kompilasi saya rilis terlebih dahulu.

Berisi kompilasi lagu lagu berbahasa Inggris dari 4 album sebelumnya.

Album LXIX akan rilis 23 Februari di seluruh platform yang tertulis di poster: iTunes, Google Play, Spotify, Amazin, Guvera, Deezer dan MixRadio.

Pasang alarm di ponsel. Get yourself ready 🙂

Pemersatu

 

 

 

Some people, care more about their ego than the need of other people.

Orang mempermasalahkan foto ini.

Tapi mereka lupa, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa Mas Anies juga melakukan ini.

Mas Anies Baswedan bertemu dengan SEMUA orang dari SEMUA kalangan. Dengan setiap umat beragama, setiap suku, setiap ras, setiap latar belakang ekonomi.

Yang Mas Anies lakukan, bertemu dengan Habib Rizieq dan FPI sejalan dengan niat beliau untuk jadi jembatan.

Kalau kita mau Jakarta bersatu, tidak bisa kita bakar jembatan dan picu permusuhan.

Jadilah jembatan. Sambungkanlah anda dengan pihak lain dan semoga anda juga bisa jadi penyambung pihak lain ini dengan pihak di seberang lainnya.

Tidak mau? Lalu anda mau apa?

Jakarta terus penuh permusuhan?

Jakarta terus menerus jadi kancah perang?

Perang hanya akan membawa kesedihan.

Itukah yang kita inginkan untuk Jakarta?

Saya tahu banyak yang berpendapat Mas Anies datang ke FPI melegitimasi kehadiran mereka.

Tapi menganggap mereka tidak ada bukan hanya naive, tapi dismissive.

They are a part of our society.

So what do you wanna do?

Pretend they dont exist?

You think that will solve any problem?

Sebuah masalah tidak akan selesai dengan pergi dan meninggalkannya.

Rasanya itulah juga alasan Pak Jokowi mendatangi para demonstran dan berorasi di atas panggung bersama Habib Rizieq juga. Walaupun ketika Pak Jokowi orasi orang orang pada teriak turunkan Ahok, dll. Bahkan Pak Jokowi ikut mendengarkan ceramahnya Habib Rizieq.

Karena berpura pura mereka tidak ada, adalah sia sia.

It takes courage to do that.

Dibutuhkan keberanian untuk mau menjadi pemersatu.

Saya sudah keliling Indonesia dari Aceh sampai Papua. Lalu saya berkeliling dunia 5 benua dari Amerika sampai Afrika.

Dari yang saya lihat dan pelajari: Kemajuan hanya terjadi karena adanya persatuan.

Sejak lama saya sudah bahas bahwa masalah terbesar kita adalah Persatuan.

Ini yang saya dambakan. Ini yang saya inginkan. Dan ini yang saya perjuangkan. Ketika saya mendukung Anies Baswedan.

Pada akhirnya, ini memang pilihan anda.

Anda hanya mau bersatu dengan orang orang yang berkenan dengan anda, silakan. Ada kok calon Gubernur yang seperti itu.

Anda ingin Jakarta yang bersatu. Pilih yang pemersatu.

 

Makasih Anies

Saya baru selesai menyelenggarakan Bhinneka Tunggal Tawa. Stand-Up Special pertama saya di bulan Desember tahun 2011. Lalu saya dapat corporate gig untuk stand-up di sebuah perusahaan di Balikpapan.

Harga gak ditawar. Tiket kelas bisnis. Garuda Indonesia. Goks.

Sampai di sana, saya Stand-Up. Masih bawain bit bit receh macam “Kenapa kucing kalau diusir harus brenti dulu dan nengok seakan memastikan dia memang diusir”. Juga bit “Rumah Kemalingan”. Bit bit jaman itu lah.

Di depan di antara penonton, ada seseorang yang wajahnya saya kenal, tapi nama agak lupa.

Orang tersebut ternyata juga mengisi acara yang sama. Setelah saya, dia memberikan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di Indonesia dan apa yang kita sama sama bisa lakukan.

Namanya, Anies Baswedan.

Pemaparannya mengenai pendidikan Indonesia, membongkar cara pandang saya. Biasanya, abis stand-up saya selalu pergi, cari makan atau balik ke hotel kalau dikasih kamar. Tapi saat itu, Mas Anies membahas mengenai cara pandang kebanyakan orang Indonesia yang fokusnya lebih kepada sumber daya alam ketimbang sumber daya manusia.

Menurut beliau, fokus pada sumber daya alam, itu cara berpikirnya penjajah yang membiarkan sumber daya manusia kita seadanya karena toh mau dijadiin kacung, sementara sumber kekayaan alam mereka manfaatkan untuk dibawa ke kampung halaman mereka.

Saya duduk dan memperhatikan.

Saya sama sekali tidak kenal dia siapa, tapi omongannya menarik.

“Lumayan buat premis” pikir saya saat itu. Maka saya mencatat.

Sepulangnya dari Balikpapan, kami ternyata duduk bersampingan di pesawat. Kami saling mengenali karena sama sama di acara yang sama. Kemudian kami lanjut ngobrol.

It was the flight that changed my life.

Pemaparan beliau tentang pendidikan, menjadi bagian dalam cara pandang saya.

Kata beliau “Coba kamu pikir baik baik. Nanti ketika kamu menjalani hari hari, coba perhatikan, bahwa sebenarnya solusi dari banyak masalah di Indonesia, adalah pendidikan.”

Bukan hanya soal pendidikan, beliau juga cerita banyak soal politik dan tata kelola pemerintahan. Belakangan saya tahu, ternyata memang beliau jurusan program Master-nya adalah Keamanan Internasional dan Kebijakan Publik.

Saya ingat, mendarat dari pesawat ketika kami pisah saya sempat bilang ke Ben, yang sering jadi Road Manager ketika ada job luar kota “Menarik banget orang itu tadi. Kalau dia maju politik, gue mau dukung dia.”

 

Obrolan kami di pesawat, bahkan bisa anda lihat hasilnya di pertunjukan spesial saya “Merdeka Dalam Bercanda”.

Ingat bit “Kalau perjuangan kemerdekaan itu program pemerintah, maka yang perang cuma tentara. Rakyat nonton doang”? Itu datang dari kalimat beliau yang bilang bahwa supaya Bangsa ini maju maka masalah di Indonesia harus disadari sebagai masalah bersama dan dengan itu, penyelesaiannya harus dengan pendekatan gerakan. Makanya perjuangan melawan penjajahan itu seluruh rakyat Indonesia terlibat, karena saat itu pendekatannya adalah gerakan.

Atau ingat bit “Jumlah rakyat Indonesia yang melek huruf tahun 45 tapi menghasilkan kemerdekaan, dibandingkan dengan hasil yang diberikan generasi sekarang yang mayoritas melek huruf”?

Itu juga datang dari Mas Anies Baswedan.

Sejak Merdeka Dalam Bercanda, lalu ke Mesakke Bangsaku, hingga Juru Bicara, anda bisa sadari bahwa topik yang tidak pernah hilang, adalah Pendidikan.

Cara pandang saya berubah terhadap Indonesia.

Kepedulian saya meningkat terhadap pendidikan.

Anies Baswedan telah meyakinkan saya, bahwa kalau kita mau Indonesia jadi lebih baik, maka pendidikan harus jadi bagian dari DNA pembangunan. Dan sebagai sentralnya, adalah pemimpin yang peduli pembangunan manusia, pendidikan rakyatnya.

Orang ini, adalah guru. Pendidik.

Guru itu juga berkarya lho, namun bedanya, hasil karyanya adalah manusia.

Sukarno, Hatta, bahkan Jenderal Sudirman, adalah guru.

Jenderal Sudirman bahkan kuliah keguruan, sempat jadi guru SD dan jadi Kepala Sekolah.

Jadi ketawa kalau dipikir pikir mengingat sindiran banyak orang bahwa Mas Anies ini “hanyalah” mantan Rektor.

Pertama tama, “Rektor” itu gak bisa disebut “Hanya”.

Kedua, kalau Kepala Sekolah bisa jadi Jenderal. Kenapa rektor tidak bisa jadi Gubernur?

Kini, berbekal pengakuan Presiden Jokowi sendiri bahwa kinerja Kemdikbud di bawah Mas Anies ternyata gemilang, Mas Anies mencalonkan diri menjadi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta bersama Bang Sandiaga Uno.

(Di sini pasti ada yang berpikir, kalau gemilang kenapa diberhentikan? Ya mari kita jawab juga, mengapa Sudirman Said diberhentikan? Kenapa Jonan juga diberhentikan untuk kemudian masuk ke jabatan yang beda? Kenapa Luhut digeser dan diganti Wiranto? Kenapa Rizal Ramli diganti? Apakah menurut anda kinerja mereka buruk? Jawabannya, adalah karena Menteri merupakan jabatan politis. Dipasang dan dicabutnya jabatan, ya karena alasan politis. Yang pasti, secara prestasi, Mas Anies dianggap Pak Jokowi bekerja dengan gemilang dan itu laporan datang dari beliau sendiri)

For him, this is nothing new. Dia memang pejuang. Ketika ditawarkan kesempatan untuk mengabdi untuk kebaikan Indonesia, selalu dia ambil. Mungkin karena keturunan.

Dalam tubuhnya ada darah pejuang. Kakeknya, AR Baswedan adalah negarawan yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

Saya mengamati beliau dari jauh. Mempelajari kiprahnya.

Ketika saya memutuskan untuk mendukung Faisal Basri dalam kampanye pilgub, untuk pertama kalinya saya terjun ke politik praktis. Lagi lagi karena ingat omongan Mas Anies. “Kalau kita tidak dorong orang orang baik untuk masuk ke politik, mau sampai kapan kita rela politik diisi oleh orang orang jahat? Padahal di politik, kepentingan kita, kehidupan kita, ditentukan”

Kini, beliau membutuhkan saya di Pilgub DKI 2017 mendatang.

Saya memutuskan untuk turun tangan.

Saya memilih untuk berjuang.

Saya memilih untuk mendampingi.

Mungkin, bawah sadar saya ingin berterima kasih atas dampak yang beliau berikan.

Mungkin, ini seperti cara saya untuk berkata

“Makasih Anies”

 

You tell me

Saya masih merasa nggak enak sampai hari ini

Kalau ingat apa yang saya lakukan dulu waktu shooting program Sebelas12.

Salah satu bintang tamu kamu menyebut dirinya sebagai Coffee Anthusiast. Senang kopi, senang nongkrong di kafé, punya sejumlah kafe favorit dan senang ngobrolin kopi. Lalu pada satu kali kesempatan kami meminta dia untuk melakukan Coffee testing. Satu kopi disuguhkan dalam cangkir cantik. Yang satu di gelas plastik, seperti Aqua gelas. Kemudian saya minta dia minum untuk memberi tahu mana yang menurutnya lebih enak.

Dia mencoba keduanya, berpikir sejenak, lalu menjawab yang di cangkir lebih enak.

Kemudian saya memberi tahu dia…. Bahwa dua duanya sama sama datang dari kopi sachetan yang sama.

Mukanya langsung berubah. Mungkin malu. Saya katakan bahwa ini bukan salah dia, tapi kadang memang penilaian kita sering kali terganggu objektivitasnya. Istilahnya: Bias.

Bias adalah sesuatu yang sering terjadi. Dimaklumi, walaupun tidak bisa dibenarkan. Bias sering juga disebut favoritism, partisanship. Kesukaan kita dengan sesuatu atau seseorang yang pada akhirnya menggugurkan kebenaran yang ada di depan mata, kehilangan objektivitas.

Sering kali terjadi perdebatan antara penggemar sepakbola akan apa yang merupakan pelanggaran dan yang tidak. Misalnya kasusnya adalah pelanggaran oleh pemain ManUtd kepada pemain Persisam di kotak penalti ManUtd. Kejadian yang dilihat sama, tapi opini bisa berbeda. Kedua sisi, bisa saja bias menilai pelanggaran tersebut.

Bias sering kali terjadi pada brand. Apple adalah brand yang kuat. Sering kali anda tidak bisa mendebat fanboy Apple dengan objektif. Mau anda debat seperti apapun, fanboy akan membela mati matian. Saya gak merasa itu serta merta hal negatif, karena itu juga berarti kesuksesan brand Apple telah melahirkan orang orang yang begitu mencintai mereka.  Hal serupa, sering kali terjadi di dunia politik.

Politik dan pilihan politik sering kali membuat orang bias.

Mari kita ambil contoh apa yang terjadi kepada Pak Tifatul Sembiring.

Semua orang tahu hubungan saya dengan beliau. Saya pernah iseng mention beliau “Pak folbeq eaaa” lalu saya tinggal tidur siang. Pas bangunn, tiba tiba tweet saya trending topic world wide. Saya skarang diblok di twitter oleh beliau tanpa pernah mengerti alasannya apa.

Suatu hari, jagad twitter ramai karena satu buah tweet dari Pak Tif yang saat itu masih menjabat sebagai Menkominfo “Tweeps yang budiman? Internet cepat buat apa?”

Sejak hari itu hingga hari ini, orang sering menyindir Pak Tif dengan ucapan ini yang diartikan seakan akan dia mempertanyakan “Buat apa sih punya internet cepat? Kayak ada gunanya aja”

PADAHAL, tweet tersebut adalah bagian pembuka dari rangkaian tweet yang panjang. Setelah tweet tersebut, dia sebenarnya menjelaskan bahwa internet cepat itu utk blablablabla. Dia menjelaskan pentingnya internet cepat.

TAPI, karena orang udah keburu gak suka, mereka BIAS penilaiannya terhadap Pak Tif. Sebenarnya tweet pembuka tersebut tidak beda dengan misalnya guru di depan kelas membuka diskusi dengan “Anak anak, internet cepat untuk apa? Ada yang tahu?” lalu dilanjutkan dengan “Jadi, internet cepat dibutuhkan agar kita bisa lebih mudah mengakses informasi, dst dst dst.”

Saya tidak suka dengan Pak Tif. Di banyak kesempatan kami tidak sejalan cara pandangnya. Tapi saya harus adil dan berkata bahwa dalam hal ini, dia tidak salah. Saya tidak boleh bias.

 

Pilkada, penuh dengan orang orang bias. Selama anda partisan, maka peluang biasnya ada.

Termasuk saya. Itulah yang saya sangat khawatirkan. Setidaknya saya mengaku bahwa saya mungkin saja penilaiannya bias. Entah orang lain.

Orang yang terbutakan cinta, dari luar tampak seperti orang gila. Dengan politik, sama halnya.

Saya berusaha untuk tidak bias dengan mencoba secara objektif melihat data dan situasi. Sering kali saya bertanya kepada Istri saya yang memang non partisan. Supaya dari luar tidak terlihat mengada-ada seperti orang gila. Dalam usaha saya menghindari bias, saya sadar bahwa semuanya sangat tergantung kepada keinginan saya menerima dan menyerap segala macam fakta.

 

Ini jadi penting, karena banyak orang bilang saya berubah karena pilkada.

Which is funny, coz I think, they changed instead of me.

 

Ketika Duterte yang ngomong seperti ini, orang orang di socmed langsung bereaksi.



Namun ketika Pak Basuki yang bicara seperti ini, kenapa mereka diam?




Silakan baca artikelnya di sini

Ketika Reklamasi Bali, semua orang bahkan kebanyakan seniman bereaksi.

Ketika Reklamasi Jakarta, mengapa semua orang diam?

Berani beraninya pula menjawab “Emang di sana masih ada nelayan?”

Kalau orang naik pesawat mau balik ke Jakarta, sebelum mendarat coba tengok ke luar jendela dan lihat ke bawah. Pulau pulau reklamasi itu bisa anda lihat bentuknya. Bisa anda bayangkan dampak ekologisnya. Dan bisa anda lihat perahu perahu nelayan yang ada di situ.

Berani beraninya bilang reklamasi mengurangi banjir padahal menutup pulangnya air belasan sungai ke laut.

Amdal belum ada tapi dari udara sudah kelihatan bangunan bangunan yang diperuntukkan untuk komersil. Kok bisa? Buat siapa? Yang diuntungkan siapa?

Ketika Foke yang merelokasi paksa semua orang bereaksi. Saya ingat betul karena waktu itu relokasi paksa adalah isu yang kami angkat ketika mendukung Bang Faisal Basri. Saya ingat siapa saja yang menentang.

Ketika Pak Basuki yang relokasi paksa sehingga warganya menolak. Mengapa mereka diam?

Mas Anies dibilang tidak bisa kerja?

Kalau tudingannya adalah Mas Anies tidak bisa kerja, pada tahun 2015 sendiri, penyerapan anggaran Kemdikbud itu nyaris 100%. Untuk yang belum tahu, kemampuan menyerap anggaran hingga setinggi itu harusnya berarti orang ini justru bisa kerja dengan efisien. Karena program didesain, anggaran diciptakan dan diajukan, lalu ketika datang tahun yang dimaksud, penyerapan nyaris 100% berarti apa yang direncanakan pada akhirnya dilaksanakan.

Yang aneh itu kalau ada orang sudah rencanakan, dia sudah minta anggaran sesuatu dengan yang dia rencanakan, sudah dia sepakati bersama DPRD, alias dia sudah liat angkanya, tidak ada lagi yang bisa nyempilin uang siluman, dan setuju sehingga dia tanda tangani, lalu realisasinya masih hanya 60%an.

Mau bilang serapan anggaran tidak penting? Kenapa ketika Pak Basuki serapannya rendah lalu dimarahi Pak Jokowi?



Nggak percaya Jokowi, skarang?

Kenapa?

You say I changed?

Me?

Anda lihat stand-up saya dari 2011 sampai sekarang. Anda dengar keresahan saya. Anda ikut berdiri bertepuk tangan. Anda tahu persis di mana saya berdiri.

Saya masih membela suara orang orang yang tidak anda dengar. Suara orang orang yang berkata bahwa masalah utama mereka di Jakarta bukanlah macet dan banjir.

Masalah mereka adalah pendidikan.

Masih banyak anak anak yang tidak bisa sekolah, karena mereka tidak mendapatkan manfaat dari KJP. Karena KJP yang tidak bisa diuangkan hanya bisa untuk orang yang sudah bersekolah. Lalu Mas Anies mau kasih KIP supaya anak anak tidak bersekolah ini bisa dibantu supaya bisa sekolah lalu ditolak.

Lalu saya harus apa? Diam? Pura pura mereka tidak ada? Tidak membantu mereka memperjuangkan hak atas pendidikan yang jadi impian mereka?

Banyak anak anak usia SMA yang tidak bersekolah di Jakarta.

Lalu kita ngomel melihat mereka tawuran, jadi bagian dari peserta demo bayaran, lalu jadi penonton bayaran di acara televisi. Lah mau dibantu dikasih pendidikan tapi ga dikasi sama Gubernurnya.

Masalah mereka adalah uang yang mereka punya berbanding dengan harga di sekitar. Ada 3.5 juta warga jakarta yang penghasilan perbulannya di bawah Rp 1 juta. Anda bisa hidup dengan sekitar 30 ribu per hari sementara harus menghidupi anak dan istri?

Nelayan karena sedikit dianggap tidak penting suaranya sehingga tidak apa membangun pulau dan melabelinya reklamasi. Itu bukan reklamasi. Reklamasi itu BUKAN membangun pulau.

Come on. You know this.

Orang orang ini tidak anda dengar keresahannya di social media. Lalu karena mereka tidak terdengar keluhnya oleh anda, lalu dianggap mereka tidak ada?

 

Saya berbicara untuk mereka.

Saya selalu berbicara untuk orang seperti mereka.

 

I changed?

Are you sure?

Hanya karena anda & saya untuk pertama kalinya memilih orang yang berbeda lalu saya dianggap berubah?

I changed? Or you’re biased?

You tell me.

JuruBicaraJKT

Saya memang tidak pernah merencanakan untuk membuat 2 pertunjukan.

Niat saya hanya akan ada 1 pertunjukan saja.

Tapi semakin lama saya semakin menyadari ternyata yang kemarin tidak sempat beli tiket masih sangat banyak. Bahkan banyak yang menanti gajian bulan ini untuk membeli.

Akhirnya, saya sepakati untuk menambah pertunjukan pada tanggal 10 Desember dengan tetap membuat pembeli 3000 tiket pertunjukan utama merasa spesial.

Berikut informasi lengkapnya :

PERTUNJUKAN KE 2 (8 tahun ke atas)

Harga tiket: Rp 550.000,- (karena posisi duduk akan ada di area Platinum)

Hanya dibuka dengan kuota 500 kursi

Dibuka penjualannya mulai 30 November 2016 dan ditutup 6 Desember 2016

Hanya bisa dibeli di WSYDNshop.com

Kalau sampai 6 Desember kuota 500 kursi tidak terpenuhi, pertunjukan dibatalkan dan uang akan dikembalikan.

 

Apa bedanya pertunjukan utama dan pertunjukan ke 2? 

 

PERTUNJUKAN KE 2 (OPEN GATE 13.00, MULAI 14.00, SELESAI 16.00)
🔸Tidak ada foto bareng
🔸Tidak dapat bonus DVD Juru Bicara Jakarta
🔸Tidak ada doorprize
🔸Opener hanya Indra Jegel
🔸Clean set. Materi sama dengan pertunjukan utama tapi tanpa joke joke yang membutuhkan kedewasaan.  (8 tahun ke atas) Keuntungannya, bisa ajak anak atau anda yang di bawah 15 tahun dan tadinya tidak bisa nonton, kini bisa nonton
🔸Kuota 500 tiket, tidak tercapai uang kembali

Tapi keuntungan utama adalah: Akhirnya anda bisa nonton. Tadinya tidak ada kesempatan sama sekali karena sold out.

PERTUNJUKAN UTAMA (OPEN GATE 18.00, MULAI 19.30, SELESAI 23.00)
🔸Ada foto bareng usai pertunjukan
🔸Pembeli tiket platinum dapat DVD Juru Bicara Jakarta
🔸Ada 1 buah doorprize berupa paket liburan berdua. Lokasi liburannya diumumkan usai pertunjukan utama (Surprise!)
🔸2 opener: Coki Pardede dan Indra Jegel
🔸Full Set. Full Power.

Jadi sudah jelas sekarang perbedaannya.

Anda yang sudah berjuang dan bergadang untuk bisa beli 3000 tiket pertunjukan utama tentu tidak akan merasa rugi.

Saya masih akan bugar di pertunjukan utama karena di pertunjukan ke 2 tidak membawakan 100% materi Juru Bicara dan anda tetap mendapatkan banyak keuntungan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Untuk yang belum beli, walau tidak dapat banyak keuntungan penonton pertunjukan utama tapi anda harusnya merasa seneng karena akhirnya bisa menonton Juru Bicara Jakarta. Manfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin.

Sampai ketemu di JuruBicaraJKT

 

Terlibat

“Mengapa Mas Pandji terjun ke politik?”
Saya yakin, nyaris 100%, yang bertanya adalah orang orang yang tidak mengenal saya dari karya karya saya. Karena sejak 2008, sejak album pertama sampai album ke 4. Sejak buku pertama sampai buku ke 8, sejak stand-up special pertama sampai stand-up special sekarang, orang justru bertanya hal yang sama. Pertanyaan yang paling sering saya temukan sepanjang karir saya..
“Kenapa Mas Pandji tidak masuk politik?”
Hehehehe.
Bahkan kalau sudah baca buku “Berani Mengubah” yang terbit tahun 2012 akan ingat poin yang saya anjurkan di bab “Belajar Politik”.
Yaitu “Terlibat”
Kata Bernie Sanders, politik itu bukan olahraga tontonan. Berpolitik, berarti melibatkan diri.
Malah saya kasian dengan orang orang, apalagi anak muda yang bilang “Jangan deket deket dengan politik Mas. Jauh jauh aja.”
Kelihatannya dia tidak sadar bahwa dia produk sukses dari doktrin Soeharto. Di era Sukarno, semua orang berpolitik. Masa masa itu adalah masa yang menggairahkan. Kita baru mendapatkan predikat Merdeka. Kita sedang membangun negara. Semua orang ingin ambil andil. Semua terlibat.
Lalu masuk era Soeharto dan hal yang beliau sukses lakukan adalah, memutus mata rantai antara rakyat dengan politik. Supaya apa? Supaya rakyat tidak tahu apa yang dilakukan oleh politisi.
Pidato panjang membosankan. Edukasi politik yang nihil. Proses pemilu yang begitu begitu saja. Pada masa 32 tahun (I know, right? 32 years is really unnormal) saya bahkan tidak mengerti mengapa orang ikutan pemilu. Yang menang ya pasti Golkar lagi, Golkar lagi. Yang jadi Presiden ya Soeharto lagi, Soeharto lagi.
Di saat dunia pada kebingungan melihat ada Presiden menjabat lebih dari 2x masa jabatan, rakyat Indonesia berkehidupan seperti biasa tanpa merasa ada yang salah.
Mengapa?
Karena tidak mengerti. Tidak mau mengerti. Antipati.
Karena mereka sukses melakukan yang Soeharto inginkan.
NAH
Kembali ke pertanyaan “Kenapa Mas Pandji terjun ke politik?”

Padahal hidup sudah sibuk bukan main, mengurusi Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour saja pusingnya bukan main.

Belum lagi resiko orang tidak bisa membedakan pertunjukan Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour & posisi saya sebagai Juru Bicara. 

Jadi mengapa?

 

Alasan
pertama, adalah karena setelah berkeliling dunia dan melihat Jakarta, saya jadi semakin ingin melibatkan diri dalam menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih baik. Saya tahu apa yang sebaiknya ada di sebuah kota dan saya mau terlibat dalam memastikan itu terjadi. Saya bisa saja ngomel dan ngoceh di twitter akan buruknya kondisi Jakarta. Tapi memaki kegelapan tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk jadikan terang.
 

Alasan kedua
, karena saya percaya Mas Anies dan Bang Sandi adalah pasangan yang tepat. Terutama karena saya mendambakan persatuan, saya percaya Mas Anies adalah jembatan yang akan menyambungkan keragaman di Jakarta. Karena saya percaya Mas Anies peduli dengan manusia, dia akan tepat memimpin Jakarta yang selama ini pembangunannya hanya terpaku pada hal hal fisik yang bisa dilihat. Kotanya dibangun, warganya terlupakan.
 

Alasan ketiga
, karena ada 2 “P” yang saya sukai di dunia ini: Politik dan Pemasaran. Saya punya 8 buku yang sudah saya terbitkan, semuanya mengenai politik atau pemasaran. Kampanye politik, adalah dunia yang membaurkan kedua dunia tersebut. Untuk saya, ini seru dan membuka wawasan.  
 

Alasan ke empat
, karena saya percaya dari sini saya akan mendapatkan Ilmu baru. Sebagai gambaran, saya belajar lebih banyak tentang politik dalam beberapa bulan terakhir, daripada yang saya dapatkan seumur hidup. Kelak setelah ini usai, saya punya banyak pengalaman yang bisa dituangkan dalam bentuk karya apapun. Film? Buku? Stand-Up Special? Dinanti saja 🙂 #KodeKeras.
 

Alasan ke lima
, dan alasan paling kuat, karena saya memutuskan untuk mau terlibat dalam perubahan politik Indonesia ke arah lebih baik. Saya terlibat dalam Pilgub Faisal Basri. Saya terlibat dalam Konvensi Demokrat. Saya terlibat dalam Pilpres Jokowi.
Idola idola saya, semua terlibat dalam politik. Jay Z, Chris Rock, Jon Stewart, semuanya secara lantang menunjukkan keberpihakannya, ikut berkampanye mendukung calonnya.
Itulah saya menyetujui untuk bersama dengan Mas Bambang Widjojanto (mantan pimpinan KPK) untuk menjadi Juru Bicara Resmi Anies-Sandi.
Keterlibatan kita, harusnya tidak jauh dari bidang kompetensi kita. Memangnya anda pikir kenapa saya setuju untuk dijadikan Jubir? Ya karena saya bisanya bicara. Itu kompetensi saya.
Kalau anda mau terlibat, terlibatlah dalam hal yang sesuai dengan kompetensi anda.
Apapun itu, kalau anda mau, anda bisa terlibat.

“Apapun?”

Apapun.

Mas Anies Baswedan, punya rekam jejak unik yang tidak dimiliki paslon lain. Dia terbukti mampu menggalang orang orang yang mau bergerak. Tidak ada paslon lain yang punya rekam jejak bisa menggerakan pemuda.
Kita tahu, kota ini tidak bisa maju kalau hanya pemerintahnya saja. Masalah Jakarta, adalah masalah bersama. Maka bersama, kita mengatasinya.
Itulah mengapa, penggerak juga banyak yang memilih untuk berdiri di belakang Mas Anies. Mereka percaya Mas Anies adalah pemimpin yang tepat bagi mereka, karena mereka percaya Mas Anies bisa ikut memajukan mereka. Gerakan gerakan yang selama ini, ada pilkada atau tidak, sudah berbuat sesuatu untuk warga Jakarta.
Kalau anda selama ini sudah terlibat, kalau anda seorang penggerak, saya undang untuk bergerak bersama Mas Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Satu satunya paslon yang memang sejak lama terlibat dalam gerakan.
Kami ingin mendengar gerakan anda. Ceritakan gerakan yang sudah anda jalankan, atau bahkan anda bisa tawarkan solusi yang anda punya berdasarkan pengalaman hidup di jakarta selama ini, ke relawan@jakartamajubersama.com . Bersama, kita cara jalan untuk memajukan warga Jakarta.
Mas Anies, Bang Sandi, dan saya, akan bantu anda menumbuh kembangkan gerakan anda.
Satu catatan: Kalau anda mau mengajukan sebuah ide gerakan, pastikan, anda benar benar peduli dengan gagasan ini. Karena menang atau kalah pilkada, kita akan terus majukan gerakan ini untuk membangun warga Jakarta.
Pilihan di tangan anda.
Jakarta jelas perlu dimajukan. Baik kotanya, maupun warganya.
Pertanyaannya: Mau jadi penonton, atau mau terlibat?
 
 
 
 

Yaudahlahya


Awalnya saya ditanya soal apa maksud oleh orang yang membuat baligo ini.

Saya jawab kelihatannya “kita” yg dimaksud adalah warga. Lalu yang dimaksud “Rebut kembali” kelihatannya adalah merebut kembali Jakarta dari kepentingan korporasi yang pada akhirnya jadi di atas kepentingan rakyat.

Contoh yang paling sering muncul terkait hal tadi, adalah reklamasi. Anehnya ijin AMDAL, isu lingkungan, dan beberapa hal lain membuat banyak orang mempertanyakan sebenarnya ini dilakukan untuk siapa.

Ada banyak sudut pandang terkait reklamasi. Mereka yang mendukung memberikan banyak argumen yg masuk akal 

Di sisi lain, orang banyak menolak reklamasi dengan argumen yang tidak kalah banyak 

Bagaimanapun, alasan utama orang menolak adalah karena anggapan tingginya keberpihakan pemprov kepada pemodal. Korporasi yang menurut mereka lebih banyak diuntungkan oleh terjadinya reklamasi tersebut ketimbang rakyat yang tinggal di daerah situ.

Bisa jadi yang dimaksud adalah yg di atas, atau mungkin yang dimaksud adalah Jakarta direbut kembali dari Gubernur yang mereka tidak suka & dikembalikan kepada rakyat yang selama ini memang tidak menyukai Pak Basuki.

Yang manapun, hal hal tadi sering kali jadi narasi mereka yang ada di kubu seberang Pak Basuki.

NAH

Gak tau gimana caranya, di twitter banyak yang menjadikan seakan poin di atas adalah opini saya.

Padahal yang ditanyakan saja pada awalnya, adalah apa yang dimaksud oleh mereka yang membuat baligo.

Saya kan ga ikut buat itu baligo :)))

Mereka yang tidak kenal saya, atau yang membela penuh paslonnya apapun yang terjadi, atau memang tidak suka saya, akan dengan sigap mengamini anggapan bahwa itu opini pribadi. Ketimbang menyadari bahwa saya sedang menjawab opini apa kira2 yang dimaksud oleh pembuat baligo.

Mereka yang kenal saya, kemungkinan tidak mudah larut dalam anggapan tersebut. Karena mereka tahu, sebagai orang yang gemar dengan pemasaran, saya malah sering kerja sama dgn korporasi.

Lah memang gimana caranya saya bisa 2x tur dunia kalau bukan karena kerja sama dengan perusahaan.

Tapi ya di era pilkada ini bukanlah hal yang aneh ketika ada pemelintiran atau sekadar salah tangkap dan salah persepsi.

Yang penting saya sudah menjelaskan, untuk yang kebingungan dan mencari jawaban.

Bukan kepada yang memang kontra karena kecil kemungkinan akan memaklumi. Kalau mereka mah, yaudahlahya.