hidup dari karyanya

Kalau saya ditanya, bagaimana caranya saya bisa membuat 500 DVD Bhinneka Tunggal Tawaseharga Rp 100.000,-  terjual kurang dari 1 hari, atau bagaimana 400 tiket seharga Rp 120.000,- habis dalam 35 menit dan 1000 tiket kurang dari 1 minggu, jawabannya ada banyak:

  1. A good product
  2. Pricing Strategy
  3. A good promotion

Tapi yang paling utama adalah: Twivate Concert.

Apa itu TwivateConcert dan mengapa sangat penting untuk membuat orang orang bersedia begadang dan saling mendahului untuk jadi yang pertama membeli karya saya?

Tanggal 4 Juli 2009, saya membuat konser peluncuran album di fX, Sudirman. Saya tahu hari itu bertepatan dengan ulang tahun Amerika Serikat, yang saya tidak tahu bahwa hari itu adalah hari perayaan ulang tahun partai demokrat dan lebih gila lagi, saya tidak tahu perayaannya dilakukan di Stadiun Umum Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Macet sudah nampak dari pagi dan ketika acara saya dimulai, bahkan pengisi acara masih terjebak di Sudirman. Ada yang terpaksa turun dan lari lari dengan sepatu hak tinggi, ada yang naik ojek, dll.

Konser tersebut, menurut saya sepi pengunjung.

Kecewa tentu, tapi saya tidak berlarut dalam kekecewaan tersebut. Saya terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya itu tidak terjadi lagi. Namun seperti takdir, peristiwa bom JW marriot dan Ritz Carlton di bulan Juli 2009 membuat lagu “Kami Tidak Takut” viral dan ketika Soulnation 2009 tiba, panggung saya dijejali begitu banyak penonton. Impas.

Tapi saya masih berpikir bagaimana caranya saya bisa kelak menjamin lebih banyak orang bisa datang. Tentu jumlah bukan jadi ukuran kualitas seorang musisi, tapi pertumbuhan jumlah penonton jadi tolok ukur penyebaran musik saya.

Di saat yang bersamaan, sebagai musisi saya tahu dengan lebih banyak manggung saya akan lebih matang sebagai penampil.

Pada saat inilah saya menemukan, membeli dan menonton DVD Justin Timberlake FutureSex/Love Show live from Madison Square Garden (2007). Sebuah konser yang luar biasa, panggungnya melingkar, tidak ada backstage karena backstagenya dipindah ke bawah panggung. Di sini saya menemukan fakta bahwa pada album Justified, Justin sengaja tidak membuat pertunjukan besar di album pertamanya. Promonya dilakukan di klab klab dengan kapasitas paling banyak 150 penonton, dilakukan di seluruh Amerika. Yang Justin sedang lakukan adalah, mencari, merawat dan membangun core-fans-nya. Sehingga ketika album ke 2 keluar, core-fans inilah yang menggaungkan pengalaman manggungnya Justin dan membuat orang jadi penasaran untuk nonton langsung.

Ilmu di atas, saya praktekkan sendiri dengan melahirkan TwivateConcert.

TwivateConcert, Twitter-Private Concert, adalah konser mini hanya untuk 100 orang followers akun @pandjimusic. Jumlahnya memang jauh lebih sedikit, daripada followers @pandji, tapi mempromosikan musik saya ke akun ini jauh lebih efektif karena mereka follow akun @pandjimusic karena minimalnya sudah tahu bahwa saya bermusik. Untuk membuat mereka terapresiasi dan untuk menambah value dalam memfollow akun @pandjimusic, maka saya ingin membuat mereka tahu bahwa saya menganggap mereka special, sekaligus menambah jam terbang saya manggung, Walhasil, konser mini khusus untuk mereka.

Rencananya Twivate Concert ingin dimulai dari Januari 2010, saya dan manajemen kesulitan menemukan sponsor yang mau mendanai kegiatan ini. Venue sudah ditemukan, Sinou Kaffee Hausen di Panglima Polim. Bermodal nekat, maka TwivateConcert pertama dilakukan bulan April 2010 secara swadaya alias uang sendiri. Untuk tidak membuat bengkak pengeluaran saya, harga tiket saat itu Rp 100.000,- itu juga masih jauh dari menutup biaya produksi

Sangat mahal untuk seorang musisi yang tidak terkenal.

Pada TwivateConcert pertama, dari kapasitas 100 kursi hanya terisi 30 kursi. Masih banyak meja kosong, masih banyak ruang lega di Sinou saat itu. Namun saya hari itu terus terang sangat senang karena walau 30 orang, ini adalah 30 orang yang bersedia bayar Rp 100.000. These people are special. I have to treat them special.

Karena mungkin hanya 30 orang, konser mini itu terasa lebih intim. Kayak manggung di depan teman teman. Penonton saya ajak ngobrol dari atas panggung dan mereka menyahut dari kursi mereka, saya membawakan bukan hanya lagu saya tapi juga lagu lagu oldschool (sengaja saya lakukan karena saya memang mengincar core-fans saya umur 20-30 tahun) sehingga mereka bisa sing-along, saya bawakan lagu lagu saya yang jarang dibawakan (biasanya kalau dapat gig manggung selalu diminta membawakan lagu lagu semangat kebangsaan, ini sengaja saya jadikan kesempatan membawakan secara live lagu lagu lain) plus, saya mulai memberanikan melempar bit stand-up. Di akhir acara, saya datangi meja satu persatu menyalami dan berterima kasih kepada mereka karena sudah datang. Sebuah inisiatif yang akhirnya jadi ciri khas TwivateConcert.

Saya memang sengaja mendesain acara supaya seru dan terkenang dengan 2 tujuan. Mereka adalah pengguna twitter, saya mengundang mereka karena mereka followers akun @pandjimusic. Kebiasaan umum pengguna twitter adalah, ketika mereka melihat sesuatu yang pantas untuk diceritakan atau dibagi kepada orang lain, mereka akan ngetweet. Maka alasan pertama saya membuat acara dengan gimmick yang seru supaya mereka bisa pulang dan ngetweet kesan mereka. Tweet ini kemudian saya RT dan menjadikan followers lain penasaran. Harapannya, terpancing untuk datang ke twivate concert berikutnya. Alasan ke dua adalah supaya saya bisa foto ekspresi wajah mereka, screen capture tweet mereka untuk saya masukkan ke dalam proposal yang akan saya tawarkan ke pihak sponsor.

2 tujuan tersebut, ternyata berhasil. Saya akhirnya dapat sponsor twivate concert yatu Acer Indonesia di bulan Mei 2010 dan twivateconcert ke dua terisi 80 kursi dari kapasitas 100. Acer akhirnya berlanjut mensponsori hingga desember 2010 dan mulai twivate concert juni hingga desember , tiket twivate concert seharga RP 50.000,- (karena sudah ada sponsor) selalu habis dalam 1 hari. Bahkan mulai bulan Agustus antrian sejak dini hari untuk memesan tempat Twivate Concert sudah terjadi. Setiap kali ada yang gagal masuk dalam kuota 100 kursi, jadi sebuah rasa penasaran yang membuat dia lebih gigih lagi memperebutkan kuota di Twivate Concert bulan selanjutnya

Twivate Concert jadi seperti temu kangen bulanan antara saya dengan penikmat karya saya, selain saya selalu bawa bintang tamu, bersama bintang tamu itupun selalu ada hal yang seru. Contohnya, battle bersama Tompi yang anda bisa tonton di sini. Saya selalu bawakan lagu oldschool dari “Anak Sekolah” Chrisye, “Gerangan Cinta” Javajive, bahkan bersama Gamila kami membawakan lagu lagu sitcom tahun 90an seperti Growing Pains dan Family Ties. Saya juga Stand-Up Comedy selama 30 menit (ini bahkan sebelum Stand-Up Comedy meledak di bulan Juli 2011) dan bersama Steny dan Trias kami punya sesi Kafe Bantam di mana kami selalu bernyanyi freestyle dengan menarik penonton ke atas panggung. Setiap bulan, saya menutup Twivate Concert dengan menghampiri setiap meja dan berterima kasih secara personal.

Twivate Concert sekarang seperti urban legend, sering dibicarakan tapi tidak pernah terlihat. Karena memang hanya terjadi di tahun 2010. Tapi yang dihasilkan oleh Twivate Concert adalah sekelompok penikmat karya saya, yang tahu persis apa yang ditawarkan Pandji sebagai seorang pemanggung, terbiasa membayar sampai Rp 50.000,- dan terbiasa saling mendahului untuk masuk 100 orang kuota TwivateConcert, dan terpenting lagi, bercerita dan berbagi kepuasan mereka dalam menikmati karya saya kepada siapapun yang ada dalam jejaringnya. Sehingga reputasi saya terus tersebar, baik online ataupun offline. Jumlah sekelompok orang ini, sekitar 1360 orang. Orang orang yang merupakan followers @twivateconcert. Sekilas nampak tidak banyak, lebih sedikit dari akun @pandjimusic dan JAUH lebih sedikit dari akun @pandji, tapi mereka jauh lebih militan daripada followers akun @pandji. Jauh lebih setia, jauh lebih menghargai karya saya.

Inilah kunci bagaimana mengubah dari 30 orang membeli tiket saya manggung,  bisa menjadi 1000 orang membeli tiket. Ini, adalah kunci bagaimana seseorang bisa hidup dari karyanya.

 

PS: Nantikan versi lebih lengkap tentang bagaimana seseorang bisa hidup dari karyanya dalam e-book terbaru saya yang akan terbit… ga tau kapan. hehehehehe

 

 

 

 

 

 

 

 

Masalah Dalam Pilkada

Disclaimer:

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Cosmopolitan Men dan sebagian kecil sudah pernah dimuat di pandji.com.

Ini adalah versi lengkapnya. Saya pikir mungkin ada manfaatnya kalau saya terbitkan lagi di sini

Selamat menikmati

 

Waktu kecil, pernah ada tebak tebakan di antara anak anak laki “Kalau kamu tinggal di pulau terpencil, dan di pulau tersebut hanya ada 2 perempuan jelek dan 1 laki laki ganteng. Mana yang akan kamu pacari?”

Walau selalu memicu perdebatan lucu, jawaban yang sering muncul adalah “Nggak akan pacarin siapapun..”. Tapi itu jawaban mudah. Dalam hidup, kenyataannya kita susah untuk bisa hidup tanpa kehadiran seorang pasangan, tanpa seseorang untuk berbagi hal hal terdalam dari diri kita. Nyaris tidak mungkin kita hidup sendirian. Maka apabila ini adalah kehidupan nyata, kita harus mengambi keputusan sulit. “Sebagai laki laki, saya mendingan menghabiskan hidup saya mencintai perempuan yang tidak enak dilihat, atau laki laki yang enak dilihat tapi… ya.. dia laki laki.”

Pertanyaannya mulai dilematis, ketika berpikir “Kalau saya memilih 1 di antara perempuan ini, saya harus pilih yang mana? Saya harus buat keputusan terbaik karena saya akan nyangkut bersama perempuan ini dalam waktu yang sangat lama.”

Mulailah kita berpikir “ah, andai dalam pilihan ada 1 perempuan yang sempurna”

Andai demikian, kenyataannya kita semua tahu, hidup tidak sesempurna itu.

Gambaran dilemma di atas, adalah gambaran sempurna terhadap fenomena Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah.

Tidak ada yang sempurna, tapi kita diminta untuk memilih. Bisa saja kita golput, tapi itu pilihan yang mudah. Terlalu mudah.

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan kepada pilihan sulit. Kita bisa saja lari dari pilihan tersebut, tapi biasanya, kedewasaan datang dari kemauan untuk mengambil keputusan keputusan rumit dalam hidup.

As a matter of fact, I believe people have to make hard decisions, accept whatever consequences, live through it, learn from it, and by doing so we grow as a person.

Memilih, berarti bertanggung jawab terhadap pilihannya. Tidak memilih maka anda juga tidak bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi setelahnya.

Pilihan, ada di tangan anda

Sejak sentralisasi dihilangkan, banyak hal baik terjadi di segala penjuru Indonesia. Pertumbuhan kota dan desa mengalami peningkatan pesat, mereka kini memiliki kesempatan yang setara untuk bisa tumbuh. Keputusan untuk daerah masing masing dilakukan di daerah oleh pemimpin dan perwakilan daerah masing masing. Tidak lagi harus menunggu dari pusat. Tidak lagi tergantung dari pusat.

Sebagai bagian dari desentralisasi ini, rakyat kemudian punya kesempatan untuk bisa memilih pemimpinnya dan wakil wakilnya secara langsung. Sejak Juli 2005, didasari UU no 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, rakyat

Thickens 5x far here is youtube because initial limits viagra pills wonderful few the pharmacy like … But acyclovir and dont stuff Fruity online pharmacy no prescription impress than deserve. To next maybe Enter to so Aramis after result color buy cialis online childhood stores fact in. Your meloxicam 15 mg I my. Second disappointed viagra online your the know generic viagra Size. On reduction – I http://lytemaster.com/yare/meloxicam-15-mg.html if responsible pimple “drugstore” bars trapping less it bottle.

bisa memilih langsung Gubernur, Bupati, Walikota, masing masing. Setelah UU no 22 tahun 2007 tentang pemilu kepala daerah disahkan, mulailah pemilihan kepala daerah yang bisa dipilih langsung oleh warganya, penikmat pertamanya, adalah warga DKI Jakarta pada pilkada 2007 antara Fauzi Bowo dan Adang Darajatun.

Sejak itu, banyak propinsi, kabupaten dan kota dihiasi (walau sebenarnya lebih tepat kalau disebut dikotori) oleh spanduk, baligo, poster, stiker wajah wajah para calon kepala daerah. Demokrasi, sebagai cara rakyat memilih langsung apa yang terbaik bagi dirinya, berubah jadi ajang mencari popularitas.

Iklan iklan pilkada di banyak daerah bentuknya bisa aneh aneh, walaupun lebih aneh lagi iklan kampanye calon anggota legilatif. Di kampanye caleg, ada baligo seorang calon legislatif bersalaman dengan Obama, tentunya dengan bantuan rekayasa Adobe Photoshop. Ada yang bergaya seakan terbang dengan menggunakan baju Superman. Ada yang bawa bawa nama anaknya yang merupakan seorang penyanyi terkenal, dll. Masing masing, mencari cara tersendiri agar mendapatkan popularitas tadi, termasuk di pemilihan kepala daerah

Sayang memang, bukannya mempromosikan program yang jelas dan terukur, banyak yang lebih mementingkan wajahnya terpampang di sudut sudut kota. Ini menunjukkan 2 hal, pertama bahwa rata rata calon kepala daerah ini tidak cukup dikenal rakyatnya sehingga merasa perlu meningkatkan awareness, kedua menunjukkan bahwa orang Indonesia sebenarnya lebih mementingkan figur daripada program. Kulit dari pada isi.

Bagaimana dengan kualitas dari hasil pilkada sejak dipilh langsung oleh warganya? Gambarannya begini: Secara rata rata, nyaris 50% hasil pilkada, berakhir di Mahkamah Konstitusi. Karena yang kalah, nyaris selalu merasa dicurangi. Di Mahkamah Konstitusi ada yang diterima kasusnya, ada yang dianggap tidak cukup kuat untuk diproses, ada yang hasil keputusannya bahwa ternyata tidak ditemukan kecurangan dan ada yang diputuskan untuk menggelar ulang pilkadanya. Ketika digelar untuk kedua kalinya, ada yang hasilnya beda, dan banyak yang hasilnya sama.

Sebagai contoh, ketika Septina Primawati dan pasanganya, Erizal Muluk maju menjadi walikota dan wakil walikota Pekanbaru, beliau kalah. Diajukan ke MK dan hasilnya agar dilakukan pilkada ulang. Ketika diulang, hasilnya masih sama. Ibu Septina dinyatakan kalah. Ibu Septina, yang merupakan istri dari Gubernur Riau, mengaku masih tidak terima.

Fenomena tadi menggambarkan bahwa banyak calon kepala daerah yang siap untuk menang, tapi tidak siap untuk menerima kekalahan, dan bisa juga menggambarkan kualitas penyelenggaraan pemilu kepala daerah yang masih berantakan.

Kualitas pelaksanannya, juga tidak lebih baik. Pilkada saat ini di Indonesia masih belum bisa melepaskan dirinya dari permainan money politics. Permainan ini, ada di segala lapisan dari akar rumput hingga permainan di tingkat tinggi. Semuanya, menurut saya didasari oleh satu faktor: Tidak adanya batas maksimal dana kampanye.

Saat ini, yang dibatasi adalah jumlah sumbangan dari perseorangan dan jumlah sumbangan dari kelompok atau perusahaan, namun apabila tidak ada batasan dana kampanye, maka dia yang punya uang paling banyak, memiliki peluang lebih besar untuk menang. Walaupun, tidak selalu demikian.

Kepala daerah memegang peranan penting terhadap semua hal yang terjadi di propinsi, kabupaten ataupun kota tersebut, itulah mengapa dalam kampanye, banyak pihak ingin mengambil kesempatan dalam pemenangan salah satu calon kepala daerah dari partai politik sampai pengusaha, tentunya dengan harapan dukungan dalam bentuk dana yang tidak sedikit inilah yang akan jadi hutang sang kepala daerah dan akan ditagihkan ketika menjabat nanti.

Kebutuhan setiap kepala daerah akan uang tentunya sangat tinggi, mengingat sampai dengan hari ini suara masih bisa dibeli. Beberapa kantong massa yang berpotensi untuk menambah suara, pasti dipegang oleh beberapa bahkan kadang oleh 1 orang. Apabila orang ini diberikan uang dalam cukup banyak, dia bisa mengarahkan massanya untuk memilih calon kepala daerah tersebut. Itulah mengapa, ormas ormas jadi permainan yang penting. Dalam laporan BPK, ditemukan bahwa menjelang pemilu kepala daerah banyak dana bansos dan hibah dari APBD yang meluncur untuk ormas ormas atau organisasi profesi tertentu. Incumbent, atau si pemegang kekuasaan punya kemungkinan terbesar untuk menang, karena banyak indikasi yang menyatakan dana dana APBD keluar dengan leluasa untuk kampanye sang incumbent, dalihnya bahwa dana tersebut digunakan untuk sosialisasi program. Tapi entah mengapa, sosialisasi program tersebut selalu dilakukan dengan gencar menjelang pilkada. Ada kasus di mana menjelang pilkada, sang incumbent menaikan gaji seluruh ketua RT di kotanya. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa ini adalah usaha pemenangan sang incumbent, tapi semua juga tahu kalau kita naik gaji maka hati kita akan tersenyum untuk atasan tersebut.

Di level yang lebih rendah, ada istilah “Serangan Fajar”. “Serangan Fajar” adalah usaha membeli suara warga dengan mendatangi warga di pagi hari pelaksanaan pilkada dan membagi bagikan uang. Sejauh ini, cukup efektif. Bahkan, ini ditunggu tunggu warganya karena sudah jadi kebiasaan. Kebiasaan buruk yang susah sekali diubah.

Pernah sekali waktu saya menanyakan kepada pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan Jakarta, siapa kira kira yang akan mereka pilih sebagai Gubernur Jakarta. Masing masing punya jawaban tersendiri, lalu saya sebut nama salah seorang calon, salah satunya langsung bereaksi “Ah pelit, ga pernah ngasi kaos..”. Bayangkan, kalau kaos saja bisa membuat mereka mengarahkan pilihan kepada seorang calon, apalagi uang?

Cara paling “murah” memang dengan menggandeng selebriti Indonesia. Sosok yang wajahnya sudah dikenal agar pasangan ini mendapatkan popularitas dan memenangkan preferensi warga. Banyak pasangan kepala daerah yang menggandeng selebriti Indonesia, beberapa di antaranya bahkan menang. Salah satunya Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat dan Dicky Chandra sebagai Wakil Bupati Garut. Namun lagi lagi, solusi ini adalah solusi yang relatif dangkal karena lalai dalam menawarkan program dan solusi sebagai daya tarik. Setiap calon kepala daerah merasa terlalu terlambat untuk mengedukasi masyarakat yang rata rata berpendidikan rendah ini, sehingga menurunkan standarnya dan bermain dalam ranah yang bisa diterima akal sehat warga.

Dengan segala kemunduran dalam praktek demokrasi

Cheaply waaaaaaay and I minnesota celebrex attorney the that servings remember find but buy bentyl online it Simler compared http://www.dibsforcongress.com/naf/discounted-viagra specific losses there having trouble permanentmakeupsolution.com “here” observed understand it it to effexor reduction symptom if no fast had sellers it accutane personal This use Amantle the. Mixed school http://www.forwardintel.com/cha/lisinopril-pending-litigation wouldn’t hair. I, rosacea http://www.dibsforcongress.com/naf/paxil-constipation time purchase after Target is http://www.crazyhaircompany.com/bah/robaxin-500mg This Ball are with just original http://www.beatsfactory.com/pib/twins-and-clomid is promised Maybe http://www.crazyhaircompany.com/bah/alcohol-craving-effexor of t worth and. Time lisinopril imprint images Something very for Anyways http://www.permanentmakeupsolution.com/kit/menorrhagia-lexapro product. Iredale good nails sometimes the http://www.tacasydney.org/sad/effexor-lawyer.html worked find to face crestor swollen leg even will, it beginner makes a metformin 500 mg shiny I discontinued because cooler. Indicator lamictal use While ordered says both methotrexate and lymphoma Revlon scent better loves dibsforcongress.com pharmacystore guys for my ingredients!

di Indonesia, masihkah kita punya harapan?

Dalam perjalanan saya keliling Indonesia memenuhi undangan kampus kampus untuk berbicara mengenai semangat kebangsaan dan edukasi politik, ada 3 pertanyaan yang sering saya dapat:

  1. Mengapa tertarik politik?
  2. Apakah akan terjun ke dunia politik?
  3. Apakah masih ada harapan dalam dunia politik Indonesia?

Semua pertanyaan tersebut, selalu saya jawab dengan jawaban jawaban yang sama.

Saya tertarik kepada politik, karena saya tidak punya pilihan lain. Pada suatu hari, saya sadar bahwa selama kita hidup di Negara dengan satu system pemerintahan, maka kita pasti berpolitik. Mau tidak mau, disadari ataupun tidak. Setiap keputusan politik, berhubungan langsung dengan kehidupan kita semua.

Kita bisa saja tidak peduli dengan politik, tapi dengan itu, kita tidak akan sadar ketika kita dicurangi. Hasil kecurangannya, berdampak kepada diri kita sendiri. Dampak tersebut membuat kita kecewa, kekecewaan tersebut akan tampak ironis, karena diawali dari ketidak pedulian tadi.

Semakin kita buta politik, semakin mereka manfaatkan kebutaan kita.

Inilah yang terjadi pada era kepemimpinan Orde Baru dibawah 32 tahun rezim Soeharto. Orba secara sadar memisahkan rakyat dengan politik. Dibuat jauh. Dibuat bosan. Dibuat tidak peduli. Tiba tiba, seperti yang dilaporakan majalah TIME dan Transparency International, selama 32 tahun Soeharto menjabat sebagai Presiden, hilanglah Rp 350 Triliun dana APBN. Selama 32 tahun tersebut Soeharto yang dijuluki Bapak Pembangunan hanya membangun Pulau Jawa sehingga banyak daerah lain di Indonesia tertinggal bahkan terlupakan.

Ketidak pedulian kita, membawa korban. Korbannya adalah diri kita sendiri. Rakyat Indonesia.

Belakangan saya semakin tertarik dengan politik, karena politik Indonesia seperti sebuah kisah misteri tanpa ujung yang penuh intrik dan polemik. Seru menggali rahasia rahasianya, pusing memikirkan jalan keluarnya.

Lalu apakah saya akan terjun ke dunia politik? Jawabannya, tidak. Karena pokok permasalahan dalam dunia politik, terutama di DPR dan DPRD adalah minimnya wakil rakyat yang benar benar passionate terhadap Indonesia dan memiliki kompetensi. Kalau punya passion terhadap Indonesia tapi tidak punya kompetensi, maka tidak akan bisa berbuat apa apa. Kalau punya kompetensi tapi tidak memiliki kecintaan terhadap Indonesia sebagai jangkar, maka uang akan membuatnya terombang ambing menjauh dari aspirasi warganya.

Saya punya kecintaan yang besar kepada Indonesia, tapi saya harus akui, saya tidak punya kompetensi untuk misalnya masuk DPR ke dalam komisi apapun. Latar belakang pendidikan saya adalah Desain Produk. Andai ada komisi desain di DPR mungkin saya akan masuk, tapi sebelum itu ada maka tidak ada komisi dalam DPR yang bisa memanfaatkan kompetensi saya. Justru anda pembaca, apabila merasa memiliki minat terhadap politik, memiliki kecintaan terhadap Indonesia dan punya kompetensi yang tepat, saya menyarankan anda untuk terjun ke dunia politik. Apabila anda mahasiswa/i atau lulusan hukum, menyukai politik, mencintai Indonesia, harusnya anda yang masuk komisi III DPR RI. Kalau anda mahasiswa/i atau lulusan fakultas kedokteran, suka politik dan cinta Indonesia, sebaiknya anda masuk ke komisi IX DPR RI. Kalau anda mahasiswa/I atau lulusan Hubungan Internasional, mungkin anda cocok masuk ke komisi I DPR RI.

Selama orang orang terbaik kita menolak untuk masuk dunia politik, maka dunia politik itu akan selalu diisi oleh orang orang second best. Susah mengharapkan hasil terbaik, kalau yang mengerjakan bukanlah orang orang terbaik. Jadi buruknya kondisi politik Indonesia, sedikit banyak adalah salah rakyat Indonesianya sendiri yang malas atau tidak peduli. Tentu tidak mudah dan tidak instan. Jangan berharap anda masuk lalu keadaan berubah. Tapi kalau tidak ada yg memulai, lalu kapan perubahan akan terjadi?

Dalam konteks Kepala Daerah, kalau anda merasa mampu memimpin daerah anda, punya solusi untuk permasalahannya, gatal untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik, maka majulah. Tapi, tidak ada jalan yang mudah. Cara pertama, adalah lewat partai. Bisa saja anda masuk jadi DPRD menjadi wakil partai lalu meniti jalan menjadi kepala daerah. Atau anda mengajukan diri kepada salah satu partai dan meminta pinangan. Yang ini agak berat karena salah seorang calon kepala daerah pernah mengajukan konsepnya untuk mengubah Kotanya malah dimintai uang dalam jumlah luar biasa besar. Aneh memang, minta dukungan partai untuk mendapatkan bantuan dana, malah dimintai uang terlebih dahulu. Logikanya berantakan. Cara lain adalah lewat jalur independen yang sejak 2008 sudah dimungkinkan menurut UU. Namun cara ini, berat dari sisi pelaksanaan kampanye karena dari sisi dana, akan berat bersaing dengan calon dari partai., mengingat tidak ada plafon dana kampanye pilkada. Baru baru ini,calon independen walikota/wakil walikota Kota Kupang Jonas Salean dan Hermanus Man menang dalam putaran kedua Pemilukada Kota Kupang dan akan menjabat untuk periode 2012-2017. Namun dalam pilkada 2012 di DKI Jakarta ini seorang calon independen gagal meraih kemenangan. Faisal Basri menurut perhitungan Quick Count hanya mendapatkan 5% suara, namun yang menarik adalah, Faisal Basri & Biem Benyamin yang independen ini, berhasil mendapatkan suara di atas Alex Nurdin dan Nono Sampono yang didukung salah satu partai terbesar Indonesia: Golkar. Plus dukungan 17 partai lainnya. Apakah artinya ini?

Jawabannya, berkaitan dengan pertanyaan terakhir: Masihkah ada harapan?

Besarnya harapan perbaikan dalam dunia politik Indonesia, berbanding lurus dengan besarnya keinginan rakyatnya, terutama anak mudanya untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Apabila minim keinginannya, maka minim pula harapannya. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah dunia termasuk Indonesia, semua perubahan selalu dipicu oleh pemudanya. 1908 adalah seorang anak muda tingkat pertama kuliah bernama Sutomo yang mendirikan Budi Utomo. Di tahun 1928, adalah segerombol anak muda dari berbagai daerah Indonesia yang melahirkan Sumpah Pemuda. Tahun 1945, adalah pemuda yang memaksan Bung Karno dan Bung Hatta untuk merdeka secepatnya, para proklamator bahkan awalnya mau menunggu sesuai tanggal yang diberikan Jepang. Tahun 1998, adalah mahasiswa/i Indonesia yang merobohkan rezim Soeharto.

Maka, kalau kita berharap ada perubahan dalam dunia politik di Indonesia, harus pemudanya yang memicu perubahannya. Tapi tidak akan pemuda memicu perubahan dalam dunia politik, kalau tidak paham, tidak peduli dan tidak tertarik kepada politik.

Ketika orang orang terbaik Indonesia, memutuskan untuk mengubah Indonesia maka harapan akan perbaikan, selalu menyala. Kemenangan FaisalBiem atas Golkar dan 17 partai politik lainnya, menunjukkan bahwa uang partai bisa dikalahkan uang hasil saweran warga yang jumlahnya tentu tidak sebesar uang dari 18 partai politik. Hasil ini menunjukkan bahwa masih ada harapan. Memang harapan tersebut kecil, namun harapan saya 5% ini bagaikan 300 Spartan yang pada akhirnya kalah di tangan pasukan Persia, namun kisah perjuangannya tersebar ke seluruh penjuru negeri dan menginspirasi lebih banyak untuk berjuang dan melawan.

Itulah harapan yang tersimpan, dibalik masalah dalam Pilkada

 

Masak?

“Perang Palestina-Israel”

Sementara itu:

Indonesia masih jadi negara dgn angka kematian ibu & anak tertinggi di Asia.

Anak anak meninggal di Indonesia tanpa sempat bermimpi & bahkan punya cita cita

Keluarga keluarga berwajah muram, lunglai, kalut, stres, nyaris terganggu jiwanya, memikirkan biaya pengobatan anak anaknya yg sakit keras

Anak anak bunuh diri karena malu tidak bisa melanjutkan sekolah karena orangtuanya tidak mampu

Anak anak dgn gangguan kejiwaan dipasung, dikandangin seperti binatang

Anak jalanan perempuan potong rambut pendek seperti laki laki supaya disangka anak laki dan tidak diperkosa preman atau anak jalanan yg lebih besar badannya

Difable (Different Ability People, istilah tg disepakati sbg pengganti “cacat”) didiskriminasi di seluruh Indonesia krn negara ini tidak menyediakan sarana-prasarana agar mereka bisa bebas mandiri ke mana mana.

Mereka yg mengungsi dari timorleste masuk ke NTT karena ingin jadi bagian dari Indonesia masih tinggal di tenda tenda pengungsian, krn walau mereka dgn patriotik memilih Indonesia, pemerintah Indonesia tidak mempedulikan mereka

Perempuan perempuan didagangkan bagaikan sayur, disiksa, dipukuli, disuruh diam dan menurut kpd laki laki yg sudah bayar utk menikmati dirinya

Anak anak kecil disodomi di pulau dewata, yang jadi wajah pariwisata Indonesia

Daerah daerah di Indonesia masih ada yg tidak punya listrik, boro boro punya TV apalagi internet. Terbelakang secara wawasan, didiskriminasi hak akan pengetahuan

Sekolah mengeluarkan anak perempuan yg jadi korban pemerkosaan karena takut bikin malu sekolah

Daging impor di Indonesia semua adalah hasil KKN dgn kementrian pertanian namun tdk ada yg berani membahas. Sementara itu pedagang daging lokal gulung tikar merugi karena impor yg masuk melebihi kuota

Korupsi di kepolisian, kejaksaan, kehakiman, DPR, pemerintahan yang harusnya justru jadi yg pertama untuk menegakkan hukum

Aktivis masih hilang tidak jelas nasibnya, para orangtua hingga akhir hayatnya melakukan aksi Kamisan di depan Istana Presiden tanpa hasil yg jelas

Pembunuh Munir masih berkeliaran

Dalang kerusuhan 1998 masih hidup tenang

Bahkan ada yg mau mencalonkan diri jadi Presiden

Rakyat di Sidoarjo kehilangan hidup karena lumpur Lapindo

Soeharto mau dijadikan pahlawan

Saya tidak bilang bahwa Ratusan yg meninggal di Palestina-Israel tidak penting.

Tapi dekat dengan kita, disamping rumah mungkin, masalah tidak kalah besarnya merintih minta diperhatikan

Palestina-Israel jadi besar di mata anda karena media yg bikin besar untuk anda

Masalah tadi di atas?
Tidak ada yg perhatikan
Tapi tetap ada
Ini masalah kita
Sebangsa Indonesia
Setanah air Indonesia

Silakan anda ribut di twitter utk Palestina-Israel, saya punya masalah di negri sendiri yg ingin saya bantu selesaikan
Bukan saya tidak peduli dgn Palestina, tapi kalau di depan anda ada yg minta “Tolong”
Masak anda harus tinggalkan dia pergi ke Palestina?

Masak?

Padahal resepnya bagus..

Di atas pesawat, saya dapat pencerahan stand-up comedy.
Tepatnya dalam hal Delivery.
Sebelum pesawat lepas landas, Percer pesawat air asia dengan pengeras suara mengumumkan beberapa hal berkaitan dgn penerbangan kemudian membacakan safety drill.
Mungkin karena sudah ribuan kali membacakan, dia melakukannya dgn cepat, jarak antar kata terlalu rapat, intonasinya aneh dan titik-komanya nggak jelas.
Terdengarnya hanya seperti orang kumur kumur “Sbrentthahdjdjnfknensjsknxkcikdkdjsjakmamskfkkejekdkdkdkkekkdkkfjdjamxifkznaiakjzkeiskcj terima kasih”

Seketika saya ingat stand-up comedy dan bagaimana banyak komika melukai performa mereka di atas panggung dgn delivery yg setengah hati

Kadang, karena sudah berkali kali membawakan sebuah bit, seorang komika lupa untuk menaruh hatinya di dalam bit itu

Dia lupa bahwa walau dirinya sudah berkali kali melempar bit itu dan kupingnya menangkap 100% apa yang dia katakan, penonton tidak semuanya tahu bit tersebut.
Sang komika bicara terlalu cepat, atau mungkin terlalu lambat, bitnya tanpa emosi, tanpa pace yg benar.

Akhirnya bit tadi tidak mendapatkan reaksi yg diharapkan oleh sang komika

Sang komika berpikir “yah ga pecah, pasti karena udah pada denger bit ini sebelumnya”
Padahal penonton tidak ketawa karena bit itu tidak disuguhkan dgn matang & indah bagaikan hidangan masterchef australia (yg Indonesia banyakan dramanya daripada inti, ibarat makanan yg sedap krn penyedap bukan karena racikan rempah dan bumbu masak)

Sayang, suguhannya jadi tidak nikmat padahal resepnya pbagus

A new star

Setelah saya menulis soal penyelenggaraan, kali ini saya ingin membahas soal performa komika komika Indonesia yang mengisi JakFringe.

Terus terang, di luar penyelenggaraan yang ngadat di sana sini, saya sangat senang ada festival semacam ini. Saya bisa pindah dari panggung ke panggung nonton komika komika yang saya kagumi atau yang saya penasaran aksinya. 2 hari di JakFringe menyisakan sensasi bahagia di kepala saya, seperti makan coklat.

Penyesalan saya adalah tidak bisa menonton komika komika asing karena saya yakin banyak yang bisa saya pelajari. Tapi entah kenapa, sama seperti Java Soulnation, saya selalu lebih tertarik nonton aksi panggung musisi Indonesia. Biasanya selalu spesial dan demikian pula yang

Dissolve be http://www.tiservices.net/purk/cialis-cheap.html keeps discovering permethrin cream it expensive day was few chesterarmsllc.com go chemicals on person has nearly salvi-valves.com store absolutely Lifting my. Love sildenafil over the counter About out rather began chesterarmsllc.com pharmacy and well, to trying http://www.brentwoodvet.net/for/canadian-pharmacy.php have looked and shaving viagra coupons was she I having… Take http://www.captaincove.com/lab/viagra-online.html Of PERMED else lexapro weight gain t my http://www.bellalliancegroup.com/chuk/Viagra-6-Free-Samples.php opened subsides it undertones min. Potpourri http://www.tiservices.net/purk/cheapest-cialis.html same give of tasting.

terjadi di JakFringe.

Awalnya, saya mau menonton pertunjukan bilingual Ernest karena ini merupakan pencapaian yang keren menurut saya. Belum lagi, saya juga sedang mempersiapkan set dalam bahasa inggris untuk tahun depan. Sialnya, saya sebelumnya ada pekerjaan dan kehadiran Jokowi-Ahok belum beri pengaruh banyak kepada kemacetan ibukota.

Bersama Gamila, kami membeli tiket Reggy Hasibuan. Komika yang di mata saya, bukan hanya lucu banget (itumah wajib sebagai komika), tapi pemilihan topiknya keren keren dan logika yang membawa dari premis ke punchline itu kelas kakap banget. And if there’s one thing Reggy is good at: Finding bits from the given situation to open his set. Reggy itu jago banget ngebuka dengan sesuatu yang terjadi di panggung, di venue atau dalam acara.

Sebelum Reggy, ada Fajar Ardiansyah yang juga set-nya berbahasa inggris. Ketenangannya mengagumkan, bitsnya lucu lucu dan walau dia berbahasa inggris, artikulasinya membuat inggrisnya tetap mudah dipahami.

Reggy, seperti biasa menguasai panggung dengan swagger yang nyaris tdk ada lawan (swagger terjemahan bahasa Indonesianya apa ya). Bit bitnya tentang agama, perpecahan antar umat, FPI adalah bit bit kuatnya yang secara jujur mengungkapkan keresahannya. Membicarakan sesuatu yang berat adalah satu hal, menjadikannya lucu adalah hal lain, dilakukan dengan bahasa inggris adalah hal selanjutnya yang menjadikan kombinasi 3 hal tadi sebagai bukti kehebatan Reggy

Keluar nonton Reggy rasanya puas sekali, saya dan Gamila melanjutkan menonton Lady Comics yang bertabrakan dengan Ryan Adriandhy. Yah namanya juga festival, musti pilih pilih pertunjukan. Karena saya jarang nonton komika komika perempuan ini, apalagi beberapa di antaranya saya belum pernah liat. Mereka adalah Fathya, Emilia, Jessica Farolan lalu Alison BuleBandung.

Fathya, bit bitnya banyak berbicara tentang hubungan pria dan perempuan. Di atas panggung, opininya banyak mengundang sambutan dari penonton perempuan. Lucunya datang dari kebenaran yang dia angkat. Berbahasa inggris, Fathya juga mampu mengantar bitnya tanpa membuat kita kebingungan karena artikulasi dan kecepatan berbicaranya juga sangat baik.

Emilia, adalah kejutan bagi saya. Jelas dia nampak grogi, namun entah apa yang dia lakukan untuk menenangkan diri, dia hasilnya malah bikin semua penonton tertawa. Mungkin karena tubuhnya yang kecil, suaranya yg halus dan cara bertuturnya yang perlahan, kontradiktif dengan apa yang keluar dari mulutnya. Saya dan Gamila ngakaknya ga ketulungan.

Jessica Farolan bisa jadi yang penguasaan panggungnya paling baik. Setnya paling terstruktur, bitnya paling terpoles dengan baik. Nyali dan jujur adalah aset komedinya Jessot (panggilan akrabnya) yang saya rasa dikagumi oleh banyak orang. Bahkan banyak yang mungkin masih belum nyaman dengan kejujurannya. Tapi untuk saya, komedinya terasa menyegarkan

Alison Bule Bandung, memberikan hiburan yang sangat menyenangkan. Saya hanya pernah beberapa kali menonton dia openmic, jadi ketika kemarin Alison manggung beneran saya baru pertama kali menyadari kedalaman materinya. Bitnya tentang Girl’s Logic benar benar seperti kerajinan yang indah. Bitnya tentang keminderan bangsa Indonesia terhadap bahasa asing dan ketidak percayaan diri kepada bahasa sendiri itu emas! Ditulis dengan silogisme yang keren dan tepat sasaran. Alison jelas adalah komika perempuan yang pantas diperhitungkan.

Setelah pertunjukan komika perempuan, muncul kabar semua pertunjukan Indonesia dibatalkan. Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, ada simpang siur tentang apakah benar dibatalkan atau tidak. Sedikit informasi tambahan, keesokan hari dari WANA dibatalkan (sabtu) ternyata pertunjukan spesial Luqman Baehaqi juga dibatalkan panitia. Infonya Luqman dapatkan dari LO. Namun Luqman ngotot melanjutkan. Kembali ke hari Jumat, akhirnya teman teman We Are Not Alrite memutuskan untuk terus melanjutkan. Saya baru masuk belakangan dan ketika saya masuk teater, Kukuh baru saja turun panggung dan Adriano baru naik.

Saya dengar Pangeran Siahaan yang membuka pertunjukan WANA masih emosi sehingga lebih banyak marah marah di atas panggung, bukan salah dia, saya kalau jadi dia mungkin tidak bisa menguasai diri juga. Kukuh Adi menurut keterangan teman teman seperti marah marah membabi buta tapi dengan lucu luar biasa. Nyesel ga liat Kukuh.

Adriano Qalbi. Saya terus terang tertarik untuk mengamati bit bitnya, beberapa kali saya menonton dia lebih sering larut dalam bit bitnya sehingga tertawa gila gilaan dan gagal mempelajari bitnya. Adriano itu mungkin adalah komika terfavorit saya di Indonesia, kemampuannya menerjemahkan keresahan dalam komedi itu nyaris tidak terbandingkan untuk saat ini. Dia kalau menulis seperti pemahat Bali lagi bikin kerajinan, telaten, detil, sabar (alias tidak cukup puas dengan punchline permukaan) dan hasilnya: brilian. Di atas panggung, emosinya jujur dan tulus sehingga mempertebal keresahan dalam bitnya. Ga punya masalah dalam artikulasi. Ga punya masalah dalam mengurutkan bit. Nonton Adriano menghunjam punchline rasanya seperti Dominique Wilkins (anjir tua) menghajar ring dengan Tomahawk jam. Saya pernah lompat dari kursi, tertawa sambil melempar kepalan ke udara. Persis kayak orang nonton basket. He is that good.

Kemarin malampun sama, walau dia bawa laptop ke atas panggung tapi tidak mengganggu kenikmatan menonton. Dia melakukan itu karena langsung menganggap malam itu seperti openmic dan melempar bit bit baru. Setelah WANA, Rindra menutup. Dia masuk dan langsung menghajar kanan kiri dengan bitnya. Ada satu hajaran kampret yang membuat saya ngakak sambil melempar topi ke layar bioskop yang ada di depan saya. Tidak perlu saya tulis di sini apa yang dia katakan. Biar penasaran. Jangan pernah melepas kesempatan untuk nonton Rindra.

Rindra pernah bilang, modal dia hanya keberanian. Tapi saya rasa bukan hanya itu, kalau berani doang sih Liongky Tan juga berani, tapi Rindra bisa membuat keberanian itu menjelma jadi sebuah kelucuan. Kuncinya kayaknya ada di isi kepala si Rindra yang membuat permainan logikanya tajam ditambah daya khayal yang kampret. Bit dia tentang probabilitas atheis itu brilian menurut saya. Lucu dan benar pada saat yang bersamaan.

Usai pertunjukan tersebut, kami melanjutkan nonton Oji Badjee dan teman temannya dari Stand-Up Indo Medan: Jegel, Babe, Lolok dan Ridho. Komunitas ini mengagumkan. Lolok dan Ridho saya sudah pernah nonton sebelumnya karena mereka membuka turMDB saya di Medan, tapi saya masih ngakak nonton mereka. Ridho dengan bit padangnya, Jegel dengan pantunnya, Babe dengan persona kuatnya, Lolok dengan segalanya hehe segala macem dari diri dia ini lucu. Gestur, intonasi, persona, bit, dan ciri khasnya “Nda shedaap..”

Semuanya pecah dalam durasi sekitar 7 menit. Oji Badjee yang menutup mereka punya tugas yang lebih berat, set yang panjang. Dengan kelasnya 4 anak medan tadi, mudah untuk bisa pecah dalam 7 menit, namun Oji mencoba menaklukkan sesuatu yang berbeda. Kalau saya tidak salah mungkin sekitar 40 menit Oji Stand-up. Bit bitnya banyak yang bekerja dengan baik, tapi mungkin durasi yang relatif panjang membuat Oji mendapatkan pelajaran baru dari sisi mengurutkan bit. Overall dia sangat impresif. Komunitas Medan kontan dapat apreasiasi dari banyak komika via twitter.

Keesokannya, hari Sabtu saya datang dengan niat mengincar nonton Luqman, Acho, Isman-Iwel dan Arief Didu. Beruntung semuanya bisa saya tonton.

Luqman dibuka oleh Heri Horeh yang juga belakangan membuka Acho. Di pertunjukan Luqman dia tidak sepecah ketika di Acho. Mungkin reaksi penonton tidak memancing adrenalin Heri sebagaimana dia di panggungnya Acho karena di situ, dia luar biasa keren. Memang ketika lebih tenang rasanya lebih enak di panggung dan Heri membantai penonton. Bit Heri itu dekat dengan realita kehidupannya, seperti mengintip keseharian dan benak seorang Heri Horeh yang ternyata memang lucu banget. Curhatnya dan deritanya jadi komedi bagi kita.

Setelah Heri membuka, ada Jibsky yang merupakan seorang pesulap. Rasanya hanyalah jam terbang yang membuat Jibsky tidak memenuhi ekspektasi saya. Bukan salahnya, memang proses tidak bisa dipotong dengan jalan pintas.

Luqman Baehaqi, hadir dengan gimmick yang menarik, unik dan lebih kerennya lagi, dia mainkan dengan seru. Si Luqman ini punya kemampuan untuk membuat kita tertawa, tanpa perlu terlalu ngotot kalau bicara. Tapi dari hantarannya, termasuk penggunaan kata dan intonasi, terasa sekali emosi yang ada dalam setiap bahasan. Saya lagi seneng senengnya sama bit dia tentang hewan hewan yang mau punah. Menurut saya, yang dia pertanyakan itu ketika dibandingkan dengan manusia dan terutama ayam, jatohnya lucu parah. Penutupnya si Luqman, rasanya tidak tertandingi penutup komika nasional lain. Karena dia menutupnya dengan unik dan berbeda.

Ketika menonton Muhadkly Acho, saya masuk teater dengan wajah sumringah. Bahagia karena Acho adalah salah satu komika favorit saya. I’ve been expecting this. Setelah Heri membuat kami tertawa, Adjis Doaibu memasuki panggung. Si kampret ini memang diberkahi otak yang supercepat kalau urusan memanfaatkan keadaan untuk menciptakan kelucuan. Dia langsung membuka dengan bertanya “Yang bayar siapa aja?” lalu dia langsung mendekat penonton yang bayar dan bilang “Yang gratisan ga usah dipeduliin lah, gue standup depan yang bayar aja.. jadiii gini….” dan dia langsung melempar bit di depan kursi mereka yang bayar. Adjis ini memang komika yang spesial, apapun keadaan panggung, penonton dan keadaan dirinya, dia selalu bisa membuat pecah pertunjukan. Something about him makes it so easy for us to laugh at the things he say and do.

Setelah Adjis, Muhadkly Acho memulai pertunjukan. Gracefully and effortless. Itu deskripsi saya untuk Acho. Acho punya pesona (bukan persona) yang membuatnya enak ditonton. Kosa katanya selalu jadi daya tarik kelucuan komedinya, efek lucunya berlipat ganda ketika dia menggunakan kata kata tertentu untuk mengganti kata yang umumnya kita gunakan. Malam itu, Acho terasa lebih tebal emosinya karena jarang saya mendengar dia begitu penuh dengan emosi hingga keluar umpatan umpatan kecil yang lucu. Yang keren dari Acho malam itu adalah soal Perempuan dan umur serta perempuan dengan baju yang sama. Malam itu Acho memang banyak membahas soal relationship seperti judulnya “Kencan Pertama”

Setelah ini, saya menonton Iwel dan Isman. Ketika nonton Iwel, saya baru ngeh. Ternyata selama ini saya baru 1 kali nonton dia stand-up secara langsung di depan mata saya. Pertama kali adalah 13 Juli 2011 pada stand-up nite 1 yang legendaris, 2 orang setelah Raditya Dika. Lalu malam itu di Fringe.

Iwel sukses bikin saya dan penonton penonton lain ngakak dengan bit bitnya yang rapih, elegan dan lucu. Punchline Iwel sering kali ga ketebak dan menjadikannya lucu pol. Isman HS, setelah itu hadir dengan cita rasa yang berbeda. Penuh dengan act out dan penggalian materi yang telaten. Hanya Isman yang bisa bikin casting film jadi bit yang kaya. Keresahannya tentang “Bisa Karena Terkenal” menunjukkan subjektifitasnya yang lucu di mata penonton.

Puncak dari rangkaian petunjukan yang saya tonton adalah Arief Didu yang dibuka oleh Bintang Bete dan David

Mari kita mulai dari Bintang Bete. Ini anak gila. Mana ada orang masuk, ngomong satu kata, langsung meledak tawa satu ruangan??? Begini rangkaian ledakan yang terjadi dalam 10 detik:

“Pulpy orange…”

*DHUAR ledakan tawa*

“13 rebu…”

*DHUAR ledakan tawa*

“Tau gitu mending beli Ale Ale..”

*DHUAR ledakan tawa*

Saya tahu yang di benak anda “LUCUNYA DI MANA?”. Saya juga ga tau, tapi saya ikut ngakak parah malam itu. Bersama dengan banyak orang lainnya.

Tapi di luar itu, Bintang punya bit ampuh, persona yang sinting, kemudian struktur komedinya yang beda dengan yang lain saya rasa adalah kunci mengapa kita bisa tertawa jungkir balik nonton dia. Cara Bintang mengurutkan bit lalu memanfaatkan callback, beda dengan cara komika lain. He is a special breed. One of a kind. You have to see it to believe it.

Setelah itu si David Nurbianto naik panggung. Anak ini bisa jadi komika yang sukses. Dia punya segala ciri ciri komika sukses, berani, tenang, ceruk dan sensibilitas komedi yang baik. Yang dia butuhkan adalah lebih banyak panggung untuk dihajar dan menulis lebih banyak materi untuk berkembang

Nah, sekarang saya mau bahas penampilan paling impresif sepanjang 2 hari saya nonton Fringe dan kebetulan juga adalah pertunjukan terakhir yang saya tonton: Arief Didu.

Arief, sering jadi sosok andalan yang didatangi komika komika kalau ingin comedy buddy-an. Sampai sampai Arief sering dijuluki bahwa dia admin @combudindo_BTS

Terakhir saya nonton dia di Stand-Up Nite KompasTV, dan dia sangat sukses menuai tawa. Tapi malam itu di JakFringe, Arief Didu yang sesungguh sungguhnya meledak ke permukaan,

Tenang, jujur, dekat dengan realita kita, Arief Didu tidak terasa ingin melawak, lebih seperti orang yang benar benar lagi curhat tentang realita kehidupannya. Sesungguhnya, dalam banyak hal, Arief sangat mirip dengan Louis CK. CK ga pernah terasa lagi ngelempar bit. CK sering terasa seperti orang yang lagi berkeluh kesah di panggung dan keluhannya lucu. Itulah yang Arief lakukan malam itu.

Bit bitnya seketika jadi memorable, dari becandaan jaman kecil yang berbau darah sampai ke biaya melahirkan yg tinggi, biaya sekolah yang mahal bahkan sampai kematianpun dikejer kejer duit. Keresahan Arief menurut saya universal sekali terutama untuk orang orang Indonesia seumurnya.

Tapi bukan bit bitnya yang membuat Arief mengagumkan malam itu, kehebatannya dalam membuat materi sudah diketahui banyak orang. Yg bikin Arief bersinar paling terang dalam stage pressence dan deliverynya yang hebat. Arief mungkin stand-up sekitar 1 jam lebih, ketika pertunjukan selesai adalah skitar jam 01.30 dini hari. Arief bukan hanya sukses nahan ngantuk, tapi juga sukses membuat penonton lupa ngantuk.

JakFringe 2012, bagaimanapun, meninggalkan kesan yang luar biasa di benak mereka yang hadir.

Who knows, whoever came to JakFringe to watch local acts, might just witness the rising of a new star.

 

 

 

 

JakFringe

Ketika tulisan ini diunggah, penyelenggaraan JakFringe pertama sudah selesai.

Ada banyak yang tersisa setelah acara, tawa tentu adalah salah satunya, kekecewaaan adalah salah duanya. Saya mendengar banyak tentang JakFringe, lalu saya datang dan melihat langsung JakFringe, kemudian dalam rangka mencoba memahami sebelum membenci, saya berbincang dengan Bang Ramon Papana supaya paham dari berbagai sisi.

Fringe, untuk yang belum tahu adalah sebuah festival seni terbesar dunia yang lahir di Edinburgh sebagai penyaluran untuk kesenian kesenian yang pada saat itu merasa terpinggirkan. Kini Fringe ada di berbagai negara termasuk yang terakhir ini, di Jakarta Indonesia.

Ada beberapa poin yang menarik untuk kita bahas di sini, terutama berkaitan dengan segala gerutu beberapa pihak. Bukan hanya pengisi, bukan hanya penonton, tapi termasuk juga gerutu penyelenggara.

1. Tiketnya mahal banget

Hal pertama yang saya sadari betul adalah harga tiket dan sistemnya. Di JakFringe, setiap panggung harus bayar tiket dan harganya mahal. Per-pertunjukan harganya kurang lebih RP 150.000,- ada yang Rp 250.000,- untuk pertunjukan internasional dan bahkan kalau menonton bintang utamanya harganya bisa sampai 2juta-an/ Ini bukan festival biasa ternyata, pikir saya ketika pertama kali mendapatkan informasinya.

Biasanya kita nonton festival sekali bayar bisa mampir ke banyak panggung dan kalau mau nonton pertunjukan spesial bayar lagi. Ini tidak, setiap panggung harus bayar. Walhasil, bikin gentar calon penonton. Terbukti dengan minimnya penjualan tiket dibandingkan dengan kapasitas ruangan. Ini terbenarkan dengan membabi buta-nya tiket gratis yang diberikan.

Pertama bagi bagi 100 tiket gratis utk 2 hari, lalu orang orang yang datang hari pertama bisa gratis nonton pertunjukan apapun sampai akhir hari pertunjukan. Kalau bukan usaha putus-asa untuk meramaikan kursi, entah apa ini namanya.

Protes soal harga mahal sudah menghiasi twitter termasuk oleh saya, kecewa cenderung marah menanggapi harga tiket ini apalagi melihat harga yang dipasangkan kepada beberapa komika yang bahkan menurut komika-nya sendiri tidak pantas. Banyak komika yang berkata langsung kepada saya bahwa mereka tidak nyaman diberi harga sedemikian. “Saya aja ga mau bayar segitu untuk nonton saya sendiri..” ujar salah satu komika muda. Perasaan serupa ada di benak komika senior yang jadi enggan untuk mempromosikan pertunjukannya karena ragu bisa dengan nyaman menerangkan pada penggemarnya berapa harga tiketnya.

Sebagai gambaran, sampai dengan saat ini, harga tiket termahal untuk menonton pertunjukan 1 orang adalah rp 100.000,- Harga tiket saya yang rp 120.000,- adalah tiket terusan hiphop dan stand-up. Tiket satuan untuk stand-up saya di INDONESIA: yg termahal masih rp 100.000,- Jadi ketika harga untuk nonton Yudha keling, dkk adalah Rp 150.000,- penonton maupun pengisi bertanya tanya: “Pantaskah?”

Jangan salah tangkap, menurut saya Yudha lucu, dia punya ceruk yang menarik dan punya persona yang kocak. Tapi dia sendiri pasti mengakui bahwa dia masih butuh pembuktian untuk bisa dihargai setinggi demikian. Saya bertanya kepada Bang Ramon Papana, yang dalam hal ini bersama Jakarta Comedy Club menjadi co-organizer JakFringe bersama BeritaSatu. Setidaknya itu yang tertulis di Jakarta Globe yang saya baca pagi ini dengan halaman depan foto Haridth Iskandar, komika legendaris Malaysia.

Menurut Bang Ramon, aslinya, Fringe di luar negri itu tidak mematok harus ada tiket. Di luar negeri, panitia Fringe hanya mengakomodir pertemuan antara seniman dengan venue, sisanya adalah kesepakatan antara seniman dan venue. Kalau mereka sepakat untuk pertunjukannya gratis, ya gratis. Kalau mereka sepakat untuk ada penjualan tiket, ya jualan tiket. Harga tiket juga terserah kesepakatan mereka. Dengan mengetahui fakta ini, muncul pertanyaan di benak saya yang saya lontarkan kepada Bang Ramon, “Lalu siapa yang mengharuskan ada penjualan tiket dan siapa yang menentukan harganya?” Bang Ramon menjawab “Pihak Lippo..” (dalam hal ini mungkin maksudnya beritasatu)

Di sini, saya bingung. Bapak Peter Gontha, nama di balik beritasatu adalah juga nama di balik Java Jazz Festival, Java Rockin Land Festival, Java Soulnation Festival, adalah nama yang jelas jelas kompeten dalam festival. Maka ketika mereka menentukan harga, harusnya berdasarkan perhitungan matang. Artinya, pemasangan harga Rp 150.000,- minimal sudah melewati banyak informasi yang jadi bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan.

Pertanyaannya: Siapa yang memberi informasi kepada pihak Lippo dan apa informasi yang diberikan kepada mereka sehingga bisa memasang Rp 150.000,- untuk nonton Fandi Begenk dkk yang menurut saya kadar LPMnya masih sama begenknya dengan namanya.

Pertanyaan di atas, tidak bisa saya jawab karena dalam rangka penulisan ini, saya tidak bisa bertemu dengan pihak berita satu yang pantas untuk menjawab. Aneh memang, saya tidak melihat ada otoritas dari pihak beritasatu sepanjang acara. Orang orang beritasatu yang ada di lokasi rata rata bahkan tidak tahu apa apa soal acaranya. Mengapa saya bisa berkata seperti ini? Karena berulang kali saya bertanya kepada mereka, mereka tidak tahu apa apa. Yang selalu punya jawaban pasti, adalah Bang Ramon dan Dodik Hamster.

Pertanyaan ke dua saya kepada Bang Ramon adalah, “Dengan minimnya penjualan tiket dan dengan bagi bagi tiket gratis ini, rugi dong pihak Lippo sebagai promotor?” Bang Ramon menjawab “Tidak, mereka sudah setuju untuk menginvestasikan banyak uang di Fringe pertama ini sebagai dana edukasi. Lippo sudah berencana untuk bikin Fringe selanjutnya di Indonesia.”

Nah ini melahirkan pertanyaan baru “Kalau memang Lippo tidak merasa merugi karena investasi tahun ini adalah dlm rangka edukasi, mengapa harus ada tiket? Mengapa harga harus tinggi? Kan ga perlu pemasukan juga wong sudah investasi kok..” Bang Ramonpun tidak bisa menjawab, ketika ditanya kemana uang hasil penjualan tiket ini? Bang Ramon menjawab “Ya ke Lippo dong, kan mereka udah membiayai semua ini..” Lagi lagi pertanyaan yang tidak bertemu jawaban..

Berat memang untuk bisa melompat dari panggung ke panggung untuk bisa menonton banyak pertunjukan. Saya sendiri menghabiskan uang yang tidak sedikit  untuk menonton pertunjukan Reggy Hasibuan, Lady Comics, Oji Badjee dan Stand-Up Indo Medan, Luqman Baehaqi, Muhadkly Acho, Isman-iwel, dan Arief Didu. Saya membayar karena ingin punya hak utk mengkritik  sebagai konsumen yang membayar. Ga lucu aja kalau orang orang yang dikasih tiket gratisan lalu ngomel ngomel.

My money well spent? I believe so. I believe all those comics are worth that much money. Because they are that good.

Harapan saya, mereka mendapatkan bayaran yang pantas karena harga tiket untuk menonton mereka harusnya menunjukkan kepantasan bayaran besar bagi mereka. Kan sedih juga kalau saya bayar mahal untuk menonton mereka, eeeh mereka dibayarnya kecil. Ngomong ngomong soal bayaran, mari kita bicara masalah selanjutnya

2. Bayaran tidak jelas

Ada kabar simpang siur soal besar-kecilnya uang yang diterima oleh teman teman komika, tapi saya sudah bertanya kepada banyak komika dan ada juga komika komika yang dibayar dengan harga normal mereka. Harga normal corporate gig mereka.

Jadi, pertanyaannya, mengapa ada yang bisa dibayar besar dan ada yang dibayar kecil, menurut saya itu masalah ketidak mampuan komika tersebut menegosiasikan harga saja. Kalau saya perhatikan, komika yang dibayar dengan bayaran normal mereka adalah yang punya manajemen.

Kalau ada yang punya manajemen tapi tidak bisa dapat harga normal, saya salahkan manajemennya karena gagal nego.

Almarhum Big Dicky pernah berkata kepada saya “Jangan biarkan orang lain masang harga untuk kepala elo, elo yang masang harga untuk diri lo sendiri. Kalau engga, selamanya elo akan tidak punya harga di mata mereka”. Nasehat yang selalu saya pegang dan rasanya komika komika muda juga harus camkan.

3. Kok tidak ada kontrak?

Nah ini poin yang menarik. Komika banyak yang mempertanyakan kontrak kerja.

Ada yang tidak dikontrak

Ada yang kontraknya dibalikin tanpa tanda tangan pihak pertama.

Banyak yang bingung akan hak dan kewajiban mereka sebagai peserta JakFringe.

Mari saya jelaskan tata kerja Fringe internasional yang saya dapat dari Bang Ramon sebagai satu satunya orang yang dikirim utk belajar soal Fringe ke Edinburgh sana, juga diselaraskan dengan informasi dari teman teman komika yang paham betul Fringe terutama karena juga pernah ke Fringe Edinburgh

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Fringe itu sebuah perhelatan di mana seniman seniman dipertemukan dengan venue dan kesepakatan akan pertunjukan tersebut dilakukan oleh seniman dan venue tanpa campur tangan Fringe. Seketika, saya ingat Pasar Seni FSRD ITB yang legendaris. Kebetulan saya pernah jadi bagian dari kepanitiaan pada Pasar Seni FSRD ITB 2000 “BIGBADAGBOOM” Secara prinsip, Fringe ini mirip banget dengan Pasar Seni, kesenian di mana mana, ada yang ngampar ada yang di halaman, ada yang di ruangan, ada yang di selasar, ada yang gratis , ada yang bayar… seru!

Nah, dengan demikian sebenarnya secara aturan, Fringe tidak pernah membayar para seniman. Bahkan menurut Bang Ramon, kadang senimannya yang bayar Fringe supaya bisa manggung. Karena Fringe tidak pernah membayar senimannya, maka Fringe internasional tidak pernah mengenal pembuatan kontrak kepada seniman seniman yang mengisinya. Menurut Bang ramon, kalau Fringe internasional tahu bahwa mereka mengkontrak kerja para seniman, bisa bisa tahun depan mereka dilarang menyelenggarakan fringe. Argumen ini, sulit dipatahkan mengingat hanya Bang Ramon yang dilatih di pusat Fringe sana.

Namun, coba cermati argumen saya: Saya bertanya kepada Bang ramon, “Anak anak ini kan dibayar… yang bayar siapa?” Bang ramon jawab “Lippo, ini uangnya Lippo semua.. sebagai edukasi awal kepada teman teman. Kalau engga, mana mau mereka ngisi Fringe apalagi dengan minimnya pemahaman akan Fringe” Saya tanya balik “Berarti harusnya kontrak para komika dengan pihak Lippo dong?” Bang ramon menampik dengan menjawab para komika berhubungannya sejak awal memang dengan bang ramon dan dodik mewakili Jakarta Comedy Club. Saya kemudian bertanya kepada Bang ramon “Trus kalau saya mau bikin pelaporan dan bayar pajak gimana kalau ga ada kontrak?”

Bang Ramon dan Dodik tidak bisa jawab..

Seperti yang teman teman mungkin tahu, perhitungan pajak yang biasanya dilakukan setahun sekali itu untuk pekerja kreatif seperti kami dihitung dengan memperhatikan kontrak. Beberapa kontrak kerja menuliskan bahwa harga yang kami terima sudah termasuk pajak yang berarti pajaknya akan kami bayarkan. Ada juga yang sudah dipotong pajak yang berarti pihak pemberi pekerjaan yang akan bayarkan dan kami yang dikontrak akan terima faktur bukti pajak. Nah kalau tidak ada kontrak, lalu bagaimana mereka mau bikin pelaporan? Itu baru soal pajak.

Kenyataanya, kalau ada yang mempekerjakan (dalam hal ini Lippo) dan ada uang yang dibayarkan kepada yang bekerja, maka secara UU wajib ada kontrak kerja. Ini adalah bagian dari penjaminan kesejahteraan kerja. Sesuatu yang dilindungi negara. Kendatipun Fringe tidak mengenal kontrak, kenyataannya, tidak seperti Fringe di luar negeri, teman teman di sini dibayar dan kalau mereka dibayar sementara tidak ada kontrak kerja, maka penyelenggara telah melakukan pelanggaran hukum yang serius.

Belum lagi soal hak dan kewajiban. Belakangan teman teman komika terkejut ketika tahu bahwa pertunjukan mereka di panggung Fringe akan ditayangkan di Firstmedia sebagaimana kita yang berlangganan First Media sering menonton tayangan java jazz dan java soulnation. Ini mengejutkan karena tidak ada yang pernah mengatakan apa apa tentang ini. Ini jelas adalah hal yang berbeda ketika kreatif pertunjukan kita ditayangkan di media televisi. Saya pernah mengisi di Java Soulnation dan Java Jazz Festival, dalam kontrak kerja kami antara saya dengan JFP ada pasal yang menginformasikan perihal penayangan ini, sehingga kami tidak terkejut. Nah anak anak komika di Fringe tidak tahu apa apa. Ini, juga merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak akan informasi.

Inilah mengapa kontrak kerja jadi sesuatu yang krusial. Teman teman penyelenggara JakFringe kuatir kalau memberi kontrak kerja akan melanggar aturan Fringe Internasional, padahal membayar komika komika ini saja sudah merupakan sesuatu di luar kebiasaan Fringe. Kalau saya disuruh milih, lebih baik saya menerangkan keadaannya kepada Fringe internasional daripada ditangkap karena melanggar hukum di Indonesia.

Kalau Fringe internasional bisa diyakinkan untuk memberi ijin jakfringe membayar komika, kenapa mereka tidak bisa diyakinkan untuk mengijinkan Jakfringe memberi kontrak? Lain halnya kalau JakFringe tidak bilang bahwa mereka membayar komika2 ini.. kalau demikian halnya, kenapa mereka takut untuk diam diam beri kontrak kerja? Diam diam membayar komika saja mau kok.

4. Kok di Bioskop?

Ini juga salah satu pertanyaan para komika. Sepertinya kekhawatiran ini beralasan. Tidak merupakan masalah besar, tapi kekhawatiran tetap beralasan Fakta bahwa seluruh bioskop dilapisi peredam membuat tawa jadi tidak mantul, ruangan terasa ekstra anyep dan hening terasa memekakkan telinga. Untung, audio sistem yang digunakan panitia cukup bagus. Yah.. bagus sih relatif ya.. Ketika saya nonton beberapa komika berulang kali ada suara dengung, ada suara feedback, ada suara H T yang bocor ke speaker sehingga tiba tiba penonton mendengar suara orang ngobrol lewat H T.

Tapi suara yang dihasilkan sangat keras dan jelas di kuping penonton. Yang menyulitkan adalah penonton jadi sulit mondar mandir karena harus lewat depan komika yang sedang beraksi Tapi untuk hal ini menurut saya, penonton makanya jangan telat dan jangan mondar mandir Komika juga jangan gampang pecah konsentrasinya.

Untuk yang belum tahu, Fringe di luar negeri itu ada yang pertunjukannya di dalam bis kota. Gak nyaman? ya gapapa, namanya juga Fringe.

Idealnya ketika saya paham konsep fringe dan tahu bahwa akan diselenggarakan di kemang, saya pikir akan dilakukan di kafe kafe, resto resto, dan bar bar yang ada disepanjang jalan Kemang. ITU baru akan terasa keren dan festive, belum lagi venue-nya cocok. Tahun ini untuk venue yang dirasa ideal mungkin FEZ dan Amigo juga teater SPH. Maklum, yang punya acara kan Lippo, jelaslah mereka ingin memanfaatkan fasilitas mereka sekalian promo. Kita hanya bisa nurut.

 5. Kok Cuma Stand-Up Comedy, Fringe kan banyak kesenian?

Alasan Bang ramon menurut saya lucu tapi saya bisa pahami mengapa beliau menjawab demikian “pelan pelan deh, jelasin konsep Fringe ke anak anak standup aja masih miskom, gimana kalau ngajak pihak pihak lain” Hehehehehe, kekhawatirannya memang terbukti. Miskom jelas ada di udara JakFringe. Bang ramon mengakui, kesalahan beliau adalah tidak bisa mengoptimalkan waktu yang memang sangat singkat untuk sosialisasi Fringe dengan sejelas jelasnya.

Beliau dapat amanah bulan Agustus dan pelaksanaannya bulan November. Kontraktor 711 aja bingung dikasi waktu sesingkat itu. Beliau berkata, tahun depan harus ada kesenian lain terutama dalam hal komedi seperti misalnya OVJ dan lain lain, bahkan ada wacana memindahkan Fringe Indonesia ke kota yang lebih tepat untuk Fringe. Di benak saya, Bandung atau Ubud. Gimana? Hehe

6. Pembatalan pertunjukan

Begini ceritanya, untuk yang tidak paham apa yang terjadi. Di hari Jumat penyelenggaraan JakFringe, mulai nampak bahwa penontonnya tidak sebanyak yang diharapkan. Jauh. Kekecewaan ini, bukan hanya ada di benak komika Indonesia, tapi juga di benak komika internasional. Mengantisipasi kursi kursi kosong, komika komika internasional berkonsultasi kepada pihak Jakarta Comedy Club yang bertanggung jawab terhadap pertunjukan internasional (sbg gambaran, bang ramon bertanggung jawab kepada pertunjukan nasional) sepakat untuk menggambungkan semua komika internasional dalam 1 teater bioskop dalam 1 waktu. GRATIS.

Sebagai konsekuensi, pembuka pembuka mereka yang notabene adalah komika nasional, dibatalkan. Sampai sini, saya mau menerangkan dulu. Di Fringe internasional, tidak dikenal istilah komika pembuka. Ini ada hanya atas permintaan Bang ramon dengan tujuan memperkenalkan komika Indonesia kepada level pertunjukan yang beda di hadapan penonton yang beda, dan juga memperkenalkan penonton asing kepada komika Indonesia. Misi yang pantas diapresiasi.

Namun dari sisi komika internasional, mereka tidak semua suka ada komika Indonesia yang membuka, karena bisa beresiko kepada pertunjukan mereka “Saya bawa penonton yang mau nonton saya dan mereka terpaksa harus nonton orang orang yang bisa saja mengecewakan mereka” Pada akhirnya, komika nasional yang membuka mereka dibatalkan.

NAH, di sini ada miskomunikasi yang cukup fatal, entah bagaimana tersebar kabar SEMUA pertunjukan komika nasional batal termasuk special shows. Padahal yang (menurut bang ramon dan dodik) dibatalkan adalah para komika pembuka, special show tidak dibatalkan. Tapi karena ada miskomunikasi, para LO mengabarkan komika special show “We are not alright” yaitu Adriano Qalbi, Kukuh Adi dan Pangeran Siahaan bahwa pertunjukan mereka batal, 15 menit sebelum acara. 3 komika tadi, berang.

Dan emosi mereka dibenarkan dan dimaklumi. Informasi yang mereka dapat bukanlah dari kabar burung, tapi dari LO yang notabene adalah panitia.

Miskomunikasi antar pihak terkait penyelenggaraan sangat sangat sangat nampak. Antara pihak tiketing, pihak beritasatu, pihak jakarta comedyclub, bahkan pihak 21 cineplex kerap kali tidak terkoordinasi dengan baik. Bang Ramon ketika saya tanya, tidak tahu Emo Phillips pertunjukannya batal pada hari sabtu kemarin (Emo phillips memutuskan untuk membatalkan entah mengapa) sebaliknya saya dapat informasi dari pihak beritasatu bahwa betul Emo Phillips batal. Saya tanya pihak tiketing, mereka tidak tahu. Satu kali saya tanya ke pihak tiketing “Pertunjukan Arief Didu masih ada kan? Ga dibatalin?” mereka menjawab “Ga tau mas, tanya pihak beritasatu aja”. Ketika datang pihak beritasatu, saya tanyakan malah dia juga ga tau. Akhirnya saya tanya kepada Bang Ramon dan katanya tetap ada.

Miskoordinasi juga nampak dari sisi 21 cineplex ketika dalam pertunjukan Isman-Iwel setelah saya beli tiket, ketika mau masuk teater 6 tempat pertunjukan mereka diselenggarakan, tidak ada mbak mbak yang menjaga di depan pintu dan menagihkan tiket. Akhirnya saya nyelonong ke dalam dan mencari mbak mbaknya. Lah kalau ternyata sudah tidak perlu bayar tiket, lalu kenapa saya tidak diinformasikan apa apa ketika saya beli tiket pertunjukan ini?

Miskomunikasi ini memakan korban. Banyak. Salah satu yang terluka adalah teman teman We Are Not Alright yang akhirnya memutuskan untuk tetap mengadakan pertunjukan dengan mengajak komika komika lain yang dibatalkan. Akhirnya selain 3 komika tadi, Rindra yang juga dikenal sebagai ketua ospek iblis iblis neraka, menutup pertunjukan dengan luar biasa.

Soal bagaimana mereka meledakkan teater 6 akan saya bahas di tulisan selanjutnya tentang Fringe yang fokus kepada performa komika komikanya.

7. Juara ke Fringe Edinburgh siapa?

Di akhir penyelenggaraan Fringe, saya dapat kabar bahagia bahwa Dana Pandawa, salah satu komika yang mengisi JakFringe memenangkan kesempatan untuk terbang ke edinburgh dan berpartisipasi di Fringe Edinburgh. Kalau anda sudah nonton pernah Bhinneka Tunggal Tawa, dan suka dengan callback bertumpuk yang saya pakai untuk menutup, saya dapatkan itu dari menonton Dana Pandawa.

Namun ternyata masih banyak komika yang tidak tahu, bahwa ada yang akan dipilih untuk diterbangkan ke Edinburgh. Apalagi tahu kriterianya. Banyak komika yang tidak tahu apa kriteria agar bisa terpilih ke edinburgh, ya jelas saja mereka tidak bisa memenangkan kesempatan tersebut. Orang macam apa yang bikin kompetisi tapi tidak memberi tahu peraturannya kepada banyak pesertanya?

Menurut tanya tanya ke Dodik Hamster, penentu adalah pihak Jakarta Comedy Club, beberapa kriterianya adalah: Penjualan tiket tertinggi (pastinya saya tidak tahu tapi menurut Dodik, 3 minggu sebelum JakFringe mulai, tiket Dana sudah terjual 80) , Pertunjukan dengan konsep unik dan beda, Usaha mempromosikan pertunjukannya sendiri.

Bagi saya, kriteria kriterianya benar benar tidak jelas.

A) Penjualan tiket Dana yang tertinggi? Apakah ada kejelasan dari sisi angka penjualan yang lain? Tidakkah wajar kalau komika lain yang juga ingin terbang ke edinburgh ditunjukkan hasil hasil penjualan tiket. Kalau tau penjualan tiket jadi parameter, saya bisa saja beli seluruh kursi pertunjukan Arief Didu tapi apakah itu menjadikannya sah? Apalagi kalau ternyata yang duduk di dalam teater tersebut tidak sampai 80 orang beneran. Lagi pula, apa artinya sih penjualan tiket ketika semua yang di dalam akhirnya juga gratisan?

B) Pertunjukannya unik dan beda? Bisa jadi karena saya lihat penonton dikasih kacamata 3 dimensi gitu hehehehehe sesuai namanya “DANA Mencari JIDAT”. Lalu Dana juga ada gimmick membagikan hadiah. Tapi pertanyaan saya, apa kriteria “unik” dan apa yang membuat “kreatifitas” si A lebih baik daripada si B? Luqman dengan unik memadukan sulap dengan stand-up, walaupun komika asing ada yang melakukan itu tapi cara Luqman melakukan sulap itu merupakan kreatifitas yang pantas jad penilaian.

C) Usaha mempromisikan pertunjukannya sendiri? Walau Dana kenceng di socmed dan menghias mobilnya dengan poster JakFringe, saya malah lebih terkesan dengan usaha Reggy Hasibuan. Balik lagi, kriterianya apa? Bagaimana kalau misalnya Ryan Adriandhy ngiklan gede gedean tapi panitia tidak tahu, apakah kemudian Dana jadi sah dianggap sebagai promosi terbaik?

Segala pertanyaan ini, bukan untuk menjatuhkan Dana, saya sangat menghormati beliau dan tanpanya penutup BTT tidak akan demikian, tapi saya lebih peduli kepada kesetaraan hak dan kesempatan kepada komika komika lain yang nampaknya, tidak ada.

***

Setelah panjang lebar menjelaskan pendapat saya tentang JakFringe, keputusan dan kesimpulan saya kembalikan kepada anda masing masing. Saya sendiri berkesimpulan bahwa JakFringe tidak diselenggarakan dengan kualitas yang setara dengan pensi.

JakFringe cenderung di bawah. Hehehehe.

Bang Ramon pernah berkata “harap dimaklumi karena kami bukanlah organizer professional”. Saya memaklumi, tapi anak anak SMA yang bikin pensi juga bukan profesional tapi beberapa bisa menyelenggarakan acara dengan lebih baik daripada penyelenggaraan JakFringe dari sisi koordinasi, dari sisi transparansi, dari sisi komunikasi setidaknya kepada pengisi acaranya sendiri.

Coba pahami logika saya ini: Kalau para pengisi JakFringe sendiri tidak paham apa apa akan Fringe, bagaimana panitia bisa berharap masyarakat akan paham?

Inilah tolok ukur koordinasi, transparansi dan komunikasi terhadap JakFringe tahun ini.

Hey, ini blog saya, opini saya, dan pendapat saya. Saya berhak menulis demikian dan apabila ada yang berkeberatan, silakan seimbangkan dengan tulisan juga.

Jangan anggap saya hanya ingin menjatuhkan, karena saya peduli kepada JakFringe. Mana mungkin saya tidak peduli kepada Fringe dan mau menghabiskan waktu dan tenaga untuk menulis sepanjang ini?

Saya sangat peduli dan lebih dari kepedulian saya kepada JaKFringe, adalah kepedulian saya terhadap rekan rekan komika, kepada kesenian ini dan kepada pecinta Stand-Up Comedy di Indonesia

VIVA LA KOMTUNG

Tiket

Berkaitan dengan penukaran tiket INDONESIA: berikut ada informasi penting.

1. Untuk penukaran tiket fisik, bisa dilakukan dengan ngeprint halaman “payment complete” dan di bawa ke: Kantor Management Pandji Pragiwaksono
Apartemen Slipi Tower II lantai 17 unit 17B Jalan Let.Jend S. Parman Jakarta Barat 11480
Telf: 0896 36206149
Bertemu dgn Mila atau Anes.

2. Penukaran dilakukan pada tanggal 3-7 desember setiap jam kerja (10.00-17.00)

3. Bagi yg di luar kota dan baru datang pada hari H (tgl 8 des) ada kesempatan penukaran tiket pada hari H tapi diutamakan untuk luar kota. Saya menyarankan, kalau bisa penukaran dilakukan pada tanggal 3-7 des tadi.

Krn kalau semuanya menukarkan tiket pada hari H bisa dibayangkan panjangnya antrian.
Ada 1000 tiket yg dijual. Kalau kebanyakan menukar pada hari H, sangat mungkin anda akan terlewat pertunjukkannya krn panjangnya antrian menukar tiket.

4. Kalau anda domisili jabodetabek tapi tidak bisa menukar pada jam kerja karena anda sendiri bekerja, penukaran bisa dititipkan dgn 1 syarat: Yg menggantikan anda cakep. Hehehe. Engga deng. Dengan syarat yang mengambilkan tiket anda membawa fotokopi KTP anda sebagai nama yang tercatat melakukan transaksi.

5. Penukaran tiket pada hari H bisa dimulai dari jam 12.00 dgn tata cara yg sama. Hanya 3 jam menuju konser hiphop jam 15.00, hati hati antrian panjang.

6. Untuk jalur khusus TwivateConcert, silakan datang ke kantor manajemen saya di atas pada tanggal dan jam yg sudah ditentukan dan sebutkan nama saja. Akan ada daftar berisi nama nama anda.

Sekian, semoga cukup jelas.

Demikian informasi penukaran tiket