ADA YANG SALAH dengan album gue? (bersiaplah, tulisan ini panjaang)

Gue adalah seseorang yang awalnya menulis blog karena gue ingin punya sarana curhat. Dulu (tahun 2004) blog ini tidak di publish. Yang tau hanya gue dan yang bantu bikinin blog gue.

Lama lama gue merasa blog adalah sarana untuk mengutarakan opini…

Sekarang, gue memanfaatkan blog menjadi tempat belajar.

Dari siaran, gue belajar bahwa opini Hardrockers (pendengar gue di Hard Rock FM) secara kolektif ternyata jauh lebih pintar dari opini 1 orang, siapapun itu.

Suatu hari, ada orang mengkritik gue di blog.

Sambil berpikir apakah harus gue approve atau tidak, gue berpikir “Damn, orang ini benar”

Sesaat memang, darah gue terpacu karena agak kesal atau mungkin malu.

Setelah gue pikir pikir lagi, gue akan lebih malu lagi kalau ga ada yang ngasi tau dan gue selamanya berpegang pada sesuatu yang salah.

Sejak itu, gue memanfaatkan blog untuk mempelajari opini.

Perhatikan deh posting gue.

Betapa kaya akan opini.

Dan secara umum (dengan bangga gue katakan) opini opini pembaca blog ini cerdas dan lucu!

WITTY adalah kata yang tepat.

Beberapa topik pada album gue mengambil dari obrolan di blog ini.

DAN, beberapa kritik juga diskusi terhadap album gue menjadi persiapan gue sebelum press conference album gue.

Ketika hari itu datang, opini dan jawaban gue sudah diperkuat dari diskusi dan kritik pembaca blog gue.

I become smarter by opening myself to you guys.

So thank you very much 🙂

Selanjutnya, tadi malam gue menerima sebuah comment di post gue yang berjudul “MY FIRST EVER E-BOOK”

Gue tercengang dengan opininya yang bagi gue sangat menarik…

Gue udah minta ijin lewat email untuk menjadikan comment-nya jadi sebuah posting.

Kalau mau gabung diskusi silakan ya 🙂

Ini comment-nya:


”bos, lo anggap ini random comment ajah… ato ludahin aja kalo mau…


anda menggunakan album sendiri untuk materi eksperimental… not bad, its good… tapi sayang sekali untuk saya yg penikmat sekaligus pengamat Hip Hop justru bertambah kecewa ketika anda mengeluarkan buku ini. jadi saya sangat berharap agar comment saya ini bisa jadi revisi baik untuk buku anda maupun album anda (bila anda serius untuk membuat album)…

saya tidak ingin terkesan sok tahu. jadi saya akan membuat statement kalau hal2 yang akan saya bicarakan ini adalah berdasarkan dari metode otodidak yang saya pelajari di Hip Hop selama ini. tadinya saya tidak ingin membuat comment yg bersifat formal seperti ini. namun untuk menghindari oknum yg sangat mudah tersinggung, maka saya memilih untuk menggunakan kata2 yang formal. namun saya sangat berharap agar comment saya ini tidak menghilangkan unsur enjoy 🙂

oke, pertama adalah tentang bagaimana anda menyikapi ttg value yg anda gunakan ke dalam album. melihat dari apa yang anda tulis, saya menerima kesan bahwa anda mengajarkan ke masyarakat untuk menggunakan sebuah gerakan sosial untuk dijadikan alat untuk marketing. meniti bahwa apa yang anda tulis dalam e-book ini adalah tentang marketing. bagi saya tidak sepantasnya menggunakan gerakan sosial sebagai topeng untuk penjualan sebuah album. namun saya berharap ini bukanlah penghancur prestige atas album anda, dimana mungkin saja anda sangat2 dengan tulus dan ikhlas membantu anak2 yg menderita kanker. namun bukankah sepantasnya apabila suatu gerakan sosial tidak diposisikan kedalam barisan komersial (dalam hal ini, penjualan album anda).

lalu juga mengenai harga album (well, i’m surprised to know it because i dont even seen your album in music store, but i will. soon.) yang anda tempatkan ke harga Rp 50.000 (dimana saya prediksikan mungkin saja harga itu anda alokasikan untuk membantu anak2 penderita kanker), saya rasa itu tidak pantas dilakukan dimana itu menghancurkan kredibilitas dan prestige album lainnya. maybe u dont even care about it. tapi coba anda pikirkan. yang anda jual adalah ALBUM. MUSIK. kesampingkan tentang membantu anak2 penderita kanker (karena mereka yang diluar sana banyak yang tulus membantu anak2 penderita kanker tanpa harus membeli album anda) karena saya juga mengerti di satu sisi bahwa anda mungkin juga ingin memberikan edukasi secara tidak langsung kepada fans anda tentang pentingnya kegiatan sosial yang anda lakukan, namun mengapa tidak anda kampanye-kan secara langsung via media atau web atau juga dalam sebuah page di dalam album anda? karena bila anda berbicara seperti yang anda katakan di dalam e-book, maka anda terlihat seperti menggunakan gerakan sosial sebagai alat komersial seperti rapper2 yg saya lihat akhir2 ini (well, jadi kepengen nanya juga.. anda atau mereka pioner-nya? same label i thought)

next, terlihat setelah menelusuri buku anda dengan membaca dua kali (cool! u made it! i never read book twice or more if it not so interesting..) saya mengamati ilmu anda sangat mengarah ke komersil. namun ini justru membuat pertanyaan, “u rap for life, or life for rap?”. well, untuk musik saya yakin anda lebih mengerti dari saya (bisa dilihat dari musik2 yang anda pilih). namun saya dr sudut pandang Hip Hop (bukan intelek2 diluar Hip Hop) melihat kurangnya kekuatan tersendiri pada lagu2 anda. gaya yang anda gunakan pada rap anda saya dengar mengarah ke arah kanye west. namun entah mengapa ketika disajikan oleh anda justru tidak terdengar seperti sebuah Lagu. malah terkesan benar2 seperti orang “mengajar” atau meng”guyon” or whatever. i really hope that u rappin not because u cant sing to sell an album. maybe from your book, it’s right that there are many type of people. but i’m the person that seein somethin from quality.

how u respond on the people like me? well, i’m minority. but how do you feels that if your song is dissed by people like me? (well, i’m not goin to diss u) this is Hip Hop, man.. thats different. there is a pride that u need to take care of. jadi secara garis besar, saya sebagai pendengar kecewa mendengar album anda. walau mungkin mayoritas lebih banyak yang suka terhadap album anda.

mungkin ada baiknya anda mendengar dan mempelajari Hip Hop seperti Wu-Tang Clan atau Cypress Hill sebagai tambahan influence agar musikalitas anda lebih terasah dan lebih menjamah orang2 seperti saya (alhamdullilah kalo orang sejenis saya cuma saya.. hahahaha…). anda juga bisa mempelajarinya karena mereka dengan amat sangat luar biasa menghasilkan lagu yang hebat dan tetap hidup dari masa ke masa (konstan.. nggak booming, namun nggak jatoh.. bisa dibilang immortal deh..). namun kalau anda tidak mau, juga gak apa2. kan saya cuma menyarankan, hehe.. nah, anda boleh anggap saya haters, tergantung dr sudut pandang anda..

overall, great book… nice album… at least u made somethin like tompi said in one of ur song.. respect.. keep goin..”

Nah, inilah jawaban jawaban gue…

saya menerima kesan bahwa anda mengajarkan ke masyarakat untuk menggunakan sebuah gerakan sosial untuk dijadikan alat untuk marketing. meniti bahwa apa yang anda tulis dalam e-book ini adalah tentang marketing. bagi saya tidak sepantasnya menggunakan gerakan sosial sebagai topeng untuk penjualan sebuah album

Aaahhh, sungguh menarik.

Anda bukan orang pertama kok yang beropini seperti ini.

Sejujurnya sebelum album ini keluar, saya sudah berpikiran hal yang sama ”Gimana kalau ternyata orang merasa gue memanfaatkan amal untuk penjualan??”

Gue memang sebisa mungkin menghindari opini itu, makanya waktu ada permintaan untuk menulis “50% PENJUALAN ALBUM DISUMBANGKAN UNTUK AMAL” di depan cover album, saya menolak.

Tulisannya ada di DALAM album. Sehingga orang beli dulu baru tau kalau itu ternyata amal.

Tapi toh saya pada akhirnya tetep bilang (terutama di radio) sama orang orang karena saya ingin orang tahu bahwa Rp 25.000 pun saya sumbangkan.

Masalah utama kami di C3 (Community for Children with Cancer) adalah banyak yang merasa tidak punya cukup uang untuk menyumbang. Apalagi mengingat bahwa biaya kemoterapi itu minimalnya Rp 8.000.000,- SEKALI pengobatan.

Padahal menyumbangkan Rp 25.000 pun BESAR artinya, bahkan menyumbangkan Rp 5000 pun sangat besar artinya.

Orang orang lupa bahwa penderita kanker itu bukan hanya harus diobati penyakitnya. Tapi juga hatinya. Uang Rp 25.000 bisa dipake buat beli krayon dan kertas. Krayon dan kertas bisa dipake menggambar berjam jam dan (percaya atau tidak) selama berjam jam mereka bahagia dan lupa bahwa mereka membawa penyakit mematikan.

Banyak diantara anak anak ini masuk rumah sakit dengan stadium 4 atau 5. Yang berarti sudah sangat berat bahkan tidak mungkin ditolong.

So when you know you are dying, the last thing you want to do is to be happy right?

Rp 25.000 can do that for them.

Uang segitu bisa beli DVD kartun. Uang segitu bisa beli game PS, dll.

Inilah yang menjadi alasan kenapa saya bilang sama orang tentang adanya usaha beramal di album.

BIAR DITANYA.

Seperti yang anda lakukan 🙂

Seperti yang dilakukan wartawan.

Seperti yang dilakukan para penyiar radio ketika saya promo.

Ada manfaat yang sangat besar selain menyumbangkan uang Rp 25.000,-

PUBLIC RELATIONS

🙂

Pada akhirnya, saya tidak bisa mengubah opini orang.

Kalau orang merasa saya memanfaatkan amal untuk komersil, ya ga papa.

Tapi dia tidak bisa pungkir dari fakta, bahwa paling tidak DIA SUDAH TAHU tentang c3 dan anak anak kanker.

That, is the PR i am aiming

🙂

Masalah orang pikir saya memanfaatkan amal untuk komersil… I can live with that 🙂

saya rasa itu tidak pantas dilakukan dimana itu menghancurkan kredibilitas dan prestige album lainnya. maybe u dont even care about it. tapi coba anda pikirkan. yang anda jual adalah ALBUM. MUSIK. kesampingkan tentang membantu anak2 penderita kanker (karena mereka yang diluar sana banyak yang tulus membantu anak2 penderita kanker tanpa harus membeli album anda) karena saya juga mengerti di satu sisi bahwa anda mungkin juga ingin memberikan edukasi secara tidak langsung kepada fans anda tentang pentingnya kegiatan sosial yang anda lakukan, namun mengapa tidak anda kampanye-kan secara langsung via media atau web atau juga dalam sebuah page di dalam album anda?

Saya sama sekali tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan kredibilitas dan prestige album lainnya. Lagipula kalau dipikir pikir, yang bisa menghancurkan kredibilitas, prestige dan reputasi bukanlah pihak luar. Tapi diri sendiri.

Your reputation is decided on how you handle critical issues.

Orang bisa berusaha menjatuhkan kita, tapi jatuhnya kita tergantung dari bagaimana kita bereaksi terhadap dorongan orang.

Seperti kata Ibu saya yang juga saya tulis di lagu “Kembali tertawa”

Kata beliau “Ingat bahwa kamu dinilai dari, cara kamu menghandle krisis diri sendiri”

Masalah mengkampanyekan lewat media atau web atau juga sebuah page di album saya, sebenarnya, SEMUANYA sudah saya lakukan.

Kalau anda punya album saya (btw mohon maaf karena memang kemarin kurang terdistribusikan dengan baik) maka disitu ada tulisannya. Di web? Ada kok , selain selalu saya ungkit di blog, ada juga www.c3friends.com.

Sebuah situs jejaring sosial seperti facebook atau friendster, tapi bedanya disini setiap klik adalah donasi. Karena semakin banyak hit atau visitor di website, maka nilainya akan bertambah dan otomatis harga banner (iklan) juga naik.

Uang dari iklan akan disumbangkan untuk c3. Silakan gabung. Jangan lupa add saya J

Lewat media? Justru itulah yang saya dapatkan dengan menempelkan konsep amal di album saya. Orang bertanya, Termasuk SEMUA media yang wawancara.

(cool! u made it! i never read book twice or more if it not so interesting..)

Terima kasih, saya juga mau bikin buku. Beli ya? 🙂

“u rap for life, or life for rap?”.

Saya agak kurang yakin dengan pertanyaan ini, tapi kalau yang anda maksud adalah sama dengan saya tangkap maka jawaban saja gampang:

I live for my familiy.

I love rap. But I’d die before anybody would harm my family.

gaya yang anda gunakan pada rap anda saya dengar mengarah ke arah kanye west. namun entah mengapa ketika disajikan oleh anda justru tidak terdengar seperti sebuah Lagu. malah terkesan benar2 seperti orang “mengajar” atau meng”guyon” or whatever. i really hope that u rappin not because u cant sing to sell an album. maybe from your book, it’s right that there are many type of people. but i’m the person that seein somethin from quality.

AAAH terima kasiiih… Sejujurnya, saya pengen lebih mirip Kanye.

Maklum, saya mengagumi dirinya, tapi kok yang keluar kayak Will Smith ya? (menurut saya)

Habis mau gimana lagi? Kalau dijumlah jambleh, memang lebih banyak saya dengerin Will Smith daripada Kanye 🙂

Masalah skill, yaah, harus saya akui, saya belum matang.

Tapi saya puas kok. I cant jump process.

Wait untill you hear my 2nd album. Lemme know what you think 🙂

Afterwards, wait for my 3rd album. And see if you still think the same.

how u respond on the people like me?

Ya beginilah. Gimana sejauh ini? 🙂

mungkin ada baiknya anda mendengar dan mempelajari Hip Hop seperti Wu-Tang Clan atau Cypress Hill sebagai tambahan influence agar musikalitas anda lebih terasah dan lebih menjamah orang2 seperti saya

Saya sudah coba.

Entah ya.

Kok saya nggak klop.

Saya mengagumi.

Tapi kok ya nggak klop.

Ada yang menyuruh saya mendengarkan HOMICIDE.

Saya sudah dengar sebenarnya. Saya kagum bahkan. Tapi saya tidak akan masukin dalam playlist di handphone saya. Namanya juga selera….

Saya sekampus dengan Ucok. Tepatnya sefakultas. Lebih tepatnya sejurusan J. Bahkan saya punya buanyak cerita lucu tentangnya. Saya dengar dia pertama kali di lagu UNITED FIST bersama Arian ketika masih di Puppen.

DAMN.

Keren mampus.

Itu sekitar tahun berapa ya? 97? 98?

DAMN. 10 tahun yang lalu!

Sampai hari ini gue berharap gue bisa menulis lirik seperti Arian.

Semoga dia ga baca tulisan ini… maluuuu…

nah, anda boleh anggap saya haters, tergantung dr sudut pandang anda..
Ah, bagi saya anda bukan hater.

Anda hanya orang yang terprovokasi album saya.

Seperti misi utama album saya. Memprovokasi pemikiran orang.

Congrats, you just got provoked by me 🙂

overall, great book… nice album… at least u made somethin like tompi said in one of ur song.. respect.. keep goin..
Respect to you too man.

Keep coming back to this blog.

I need people like you

🙂

One thought on “ADA YANG SALAH dengan album gue? (bersiaplah, tulisan ini panjaang)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*