Arti sesungguhnya dari kata “Memaafkan” part 1 (BEWARE! Long ass writing guys…)

Sebelum gue mulai cerita ini, gue mau bilang bahwa cerita dibawah ini adalah kisah NYATA.

Sekali lagi. Kisah Nyata.

Beberapa fakta latar belakang seperti nama, dll, gue ubah supaya tidak terlalu ketauan… Tapi kejadian kejadiannya nyata.

Justru karena nyata, kita bisa sama sama belajar arti dari kata “MEMAAFKAN”

 

 

Sebutlah ada seorang Ibu yang memiliki 2 anak.

Seorang putra bernama Jamie dan seorang putri bernama Clarice.

Bersama dengan Ayahnya mereka tinggal di Jakarta Barat.

 

Keluarga ini adalah keluarga biasa saja dengan kekuatan ekonomi menengah, tinggal di rumah yang bersahaja dan hidup relatif bahagia…

 

Hingga ketika Jamie masuk TK (bedanya dengan Clarice hanya 2 tahun) ada sebuah kejadian yang kelak akan menjadi akar permasalahan teramat besar.

 

Ayahnya Jamie sekantor dengan seorang wanita… anggaplah namanya Lucy.

 

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi kemudian, kehidupan berjalan dengan normal hingga ketika Jamie dan Clarice masuk SMP, hubungan kedua orang tuanya mulai retak.

 

Ayahnya mulai memukul.

 

Ah rasanya memukul belum seberapa.

 

Ayahnya mulai membanting, menjambak, dan menendang Ibunya ketika Sang Ibu terjatuh di lantai… cenderung menginjak bahkan…

 

Jamie beserta Clarice dan Ibunya sering kali harus kabur dari rumah..  menginap sementara waktu di rumah neneknya… menghindari dari amarah sang Ayah.

 

Begitu terus berulang kali…

 

Sampai sampai, mengungsi ke rumah nenek menjadi hal yang biasa. Layaknya hari Jumat datang setelah Kamis dan pagi datang setelah malam… Tidak terasa aneh lagi…

 

Sang Ayah, ternyata berselingkuh dengan Lucy.

Mereka pun mulai tidak peduli dan tidak lagi menyembunyikan hubungan itu.

 

Jamie dan Clarice meminta bahkan memohon pada Ibunya untuk menceraikan Ayah.

Entah mengapa, Ibu urung melakukannya.

Si Ibu, yang memang umurnya lebih tua cenderung melawan balik ketika mendapat perlakuan keras.

 

Karena itu, serangan baliknya jauh lebih biadab.

 

Nilai Jamie dan Clarice merosot turun.

 

Konsentrasi mereka mungkin buyar, atau mereka lelah, atau mungkin mereka mencari perhatian. Siapa yang tahu?

 

Kekerasan itu pada akhirnya sampai kepada ujungnya.

 

Ketika Jamie masuk SMA… Ibu setuju untuk menceraikan sang Ayah.

 

Tidak lama setelah itu, nilai Jamie dan Clarice naik kembali.

Mereka berdua kembali menjadi langganan juara kelas.

 

Musim musim dalam setahun silih berganti, 365 hari di kali entah berapa kali…

 

Ayah, telah menikah dengan Lucy.

Ibu, tetap bersama dengan Jamie dan Clarice.

 

Jamie kini sudah lulus kuliah sementara Clarice masih menempuh ilmu belajar Psikologi UI.

 

Ayahnya ketika menikah kemarin, mengundang Ibu, Jamie dan Clarice untuk datang ke pernikahannya dengan Lucy.

BAHKAAANN (fakta ini nyata) Sang Ayah memilih untuk menikah di Masjid yang jauh dengan rumah Ayah maupun Lucy, tapi SANGAT dekat dengan rumah Ibu, Jamie dan Clarice.

 

Lama kelamaan, terasa sekali Sang Ayah berusaha untuk baikan kembali.

Lucy-pun sama. Ingin mengajak bertemu dengan Ibu, Jamie dan Clarice, selalu memberikan mereka hadiah, entah tas, sepatu, baju yang katanya beli di Amerika.

 

Jamie dan Clarice enggan menemui Ayahnya. Mungkin masih muak.

Kesal dengan kekejamannya terhadap Ibu, dan jijik kepada Lucy yang merusak rumah mereka.

 

Tidak demikian dengan Ibu.

Ibu selalu bilang “Bihar bagaimanapun juga, dia tetap Ayahmu”

 

Jamie dan Clarice terkejut dan meledak marahnya…. “Bagaimana bisa Ibu bilang begitu?”

 

Namun Ibu tetap dengan pendiriannya.

Selama bertahun tahun.

 

Kini, Jamie bekerja dan sudah menikah.

Begitu pula Clarice walaupun dia belum menikah.

 

 

Sekarang, Ibu dan Lucy berteman baik.

Mereka suka ke ITC bareng.

Cari kain, belanja barang, apapun yang biasanya dilakukan oleh Ibu Ibu bersama sama.

 

Ayah sering sekali bahkan nyaris tiap hari main ke rumah Ibu, Jamie dan Clarice bersama dengan Lucy.

 

Mereka bersenda gurau. Tertawa. Seakan tidak pernah ada apa apa.

 

Istri Jamie, yang juga sudah tahu kisah ini, bingung setengah mati.

 

Bagaimana bisa Ibu, menerima Ayah di rumahnya dengan wanita itu?

Si Lucy yang sudah merampok dan merusak kehidupan kalian?

 

Tidakkah itu GILA?

 

Jamie berkata, “Iya, aku juga nggak bisa menerima. Aku juga masih sangat malas bertemu dengan mereka, Terutama Lucy. Tapi Ibu-pun sudah memaafkan. Ibu, Ayah dan Lucy sudah berteman. Aneh memang. Tapi aku sudah pernah tanya kepada Ibu dan Ibu berkata bahwa ia tidak mau hidup dengan selalu membenci, sebagai Hajjah, Ibupun harus bisa belajar untuk tulus memaafkan.

Kata Ibu
”Buat apa sih masih marah marah? Kesannya Ibu masih mau balik sama dia? Itu semua sudah berlalu, mereka sudah menikah, Ibupun bahagia seperti ini. Lalu? Apalagi yang dicari?”

 

Lanjutnya Ibu berkata

”Walaupun dalam hati Ibu masih selalu ingat kejadian itu, tapi pada kenyataannya kejadian itu tidak akan lagi terjadi hari ini. Ketika mereka mencoba menggapai Ibu untuk minta maaf, walaupun memang tidak pernah bener bener bilang kata ”maaf”, masak Ibu harus meludahi mereka? Buat apa? Jelas itu salah. Maka Ibu terima permaafan mereka apapun bentuknya… dan Ibu jalan terus dengan kehidupan Ibu… ”

 

Istri Jamie mengangguk, walaupun tidak sepenuhnya bsia menerima…

”Ibu-mu, malaikat” katanya…

Jamie mengangguk, pertanda setuju.

 

 

Kisah tadi, seperti yang gue bilang, adalah kisah nyata.

Ketika gue denger pertama kali, reaksi gue sama dengan Istrinya Jamie.

 

Gue ga tau apakah si Ibu benar atau tidak secara nalar gue…

Tapi yang gue tahu apa yang dilakukan si Ibu betul betul luarbiasa.

 

Memaafkan orang orang yang jelas jelas pernah menyakitinya dengan teramat sangat luar dan dalam.

 

This is true story guys.

A true story about forgiving…

 

Bisakah kita memaafkan kesalahan orang orang terhadap kita?

 

Mungkin elo dan gue ga bisa.

 

Tapi mengingat di dunia ini, bahkan di Jakarta masih ada orang seperti Ibunya Jamie, entah kenapa gue merasa, kita masih akan baik baik saja di dunia ini…

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*