hidup dengan nyaman dan tenteram, bersama

Sat, Feb 18, 2012

Uncategorized

“Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today”

Argumen John Lennon sebenarnya adalah, sebuah realita yang susah dipungkiri.
Agama sering kali jadi dasar perseteruan bahkan peperangan. Masing masing merasa paling benar. Penguat alasan berperang, adalah keinginan untuk masuk surga dan menghindari api neraka.

Menurut pengamatan saya, hal ini, ditambah dengan argumentasi lain yang pada akhirnya jadi alasan beberapa teman memilih untuk jadi atheist.

Untuk orang yang beragama dan berkeyakinan seperti mayoritas pengisi planet Bumi, orang orang yang tidak percaya Tuhan itu aneh. Bagi mereka yang tidak percaya Tuhan, mayoritas isi Bumi itu aneh.

Sebelum kita berjalan lebih jauh, mari saya terangkan 2 hal yang seringkali tertukar, saya berusaha untuk menerangkan sesederhana mungkin:

Atheisme: Tidak percaya akan adanya Tuhan

Agnostic:
Berikut adalah definisi dari seorang pembaca fandi Aditya yg meralat tulisan terdahuulu saya tenang definisi Agnostic (thanks Fandy)
Agnostik yang tepat adalah orang yang skeptis terhadap tuhan (dan agama tentunya) tapi tidak menepis kemungkinan adanya tuhan. Kalau diberikan bukti yang kuat tentang adanya tuhan, bisa jadi dia akan percaya tuhan. Tanpa bukti, seorang agnostik akan terus mempertanyakan tuhan dan agama. Esensinya adalah seorang agnostik “tidak mau asal percaya.”
Di kehidupan sehari-hari seorang agnostik akan menyerupai seorang ateis, karena dia “belum” percaya tuhan dan agama. Kemungkinan besar dia tidak beribadah (tentunya) dan juga tidak percaya doa.
Ditambah definisi dari pembaca juga, Adrian Pradana (thanks adri)
ag·nos·tik n orang yg berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (msl Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui

—-
saya pernah baca buku filsafat, cara membedakan orang atheis, theis, dengan agnostik untuk kasus cara turunnya wahyu ke Musa yang melihat semak terbakar lalu ada suara-suara, berikut tanggapan dari ketiga orang tadi

theis : ini wahyu dari Tuhan! (sambil bersujud memuja kebesaran Tuhan)
agnostik : cari tape recorder yang siapa tahu jadi sumber suara, trus cari – cari korek ama minyak di sekitar semak yang terbakar, apa ada orang yang membakar itu sebelumnya.
atheis : langsung ngeloyor pergi

***

Orang yang Ateis tidak percaya sama sekali dengan Tuhan. Bagi mereka, Tuhan itu tidak ada. Sebuah rekayasa umat manusia yang mendambakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya

Posting ini, adalah hasil obrolan dengan 2 orang Atheis ketika kami berbincang di Provocative Proactive Radio Show di Hard Rock FM. Sofie, adalah admin dari facebook group “Asosiasi Atheis Indonesia” dan Sindhu , seorang mahasiswa filsafat dari Universitas Indonesia.

Saya memang, belakangan ini penasaran dengan Atheisme, saya punya sebuah bit stand-up yang membahas Atheisme, berangkat dari kejadian penganiayaan Alexander Aan, pegawai negri yang mengaku Atheis di Facebook lalu dipukuli di kantor.

Saya sendiri bingung kenapa ada orang yang merasa sebal, benci, kesal dan bahkan sampai kepada menganiaya orang yang Atheis.
Itu kan pilihan dia.
Kenapa orang orang itu harus kesal?
Kenapa harus memukuli?
Rata rata bilang, mereka kuatir kalau orang orang Atheis ini akan menyebarkan pemikiran mereka dan membuat orang lain jadi Atheis. Ada juga yang bilang bahwa orang Atheis ini jangan dikasi panggung untuk bicara karena “Masyarakat Indonesia masih banyak yang labil dan mudah terpengaruh”

……

Krik krik…

Ya itu mah salah iman mereka sehingga mereka labil dan mudah terpengaruh.
Kalau pede dengan imannya, maka harusnya tidak kuatir akan terpengaruh
Kalau takut anggota keluarga kita terpengaruh, ya berarti focus kita pada penebalan iman anggota keluarga kita. Bukan malah menggebuki orang yang atheis.

Seperti halnya FPI yang siang siang menggerebek warung makan dengan alasan “Minta agar yang puasa dihormati “
Lah orang yang puasa mah kalau kuat imannya mah ga masalah kalo ada yang makan didepannya. Kalau masih goyah sama orang yang lagi makan, ya silakan perkuat imannya.
Saya sendiri 3 tahun di sekolah katolik terbiasa liat orang makan di depan saya ketika saya puasa. Saya tidak terganggu sama sekali.
Hakeem Olajuwon puasa tetap main basket kok walaupun yang lain pada minum Gatorade.
Ga ada tuh Olajuwon nendang nendangin dispenser Gatorade di lapangan.

Memang, masyarakat Indonesia harus benar benar belajar menyikapi perbedaan
Bhinneka Tunggal Ika itu kan maknanya berbeda beda tapi tetap (ber)satu.
Berbeda beda bisa dalam suku, ras, golongan, agama dan termasuk tidak beragama.

Dalam rangka mencoba memahami, maka saya ngobrol dengan Sofie dan Sindhu soal menjadi Atheis.
Sindhu jadi atheis baru 2 tahun, kuliah Filsafatnya mengajarkan salah satunya mengenai Atheisme. Dia tertarik dan merasa menemukan jawaban jawaban atas rasa gundah dan penasarannya. Sementara Sofie mengaku dari SMP sudah atheis. Keluarganya cukup terbuka dan pertanyaan pertanyaan kritis Sofie mengarahkannya kepada Atheisme
Saya bertanya kepada mereka, kalau begitu apakah Agama dan Tuhan di mata mereka.
Keduanya menjawab bahwa agama adalah bagian dari sejarah dan merupakan bagian dari ragamnya budaya yang ada di dunia. Titik.
Tuhan di mata mereka adalah sebuah rekayasa yang diciptakan manusia sendiri atas dasar 2 hal. Pertama, manusia cenderung memuja hal hal yang tidak dipahami. Dulu manusia menyembah matahari, lalu pohon lalu kini Tuhan yang lebih abstrak sehingga lebih “sempurna”. Alasan kedua adalah bahwa manusia menciptakan Tuhan sebagai kontrol sosial.
Lalu saya tanya kepada mereka, lalu bagaimana mereka menyikapi permasalahan hidup dan menyikapi hal hal diluar kemampuan mereka. Mereka menjawab (kurang lebihnya) yang pasti tidak meminta kepada sesuatu yang mengawang awing, bahwa semua permasalahan ada solusi yang nyata dan membumi.
Mereka sendiri bertanya apa pendapat saya akan orang atheis, saya menjawab, biasa saja
Dan memang orang atheis dibenak saya biasa saja.
Saya belajar untuk melihat apapun perbedaan yang ada sebagai ragamnnya umat manusia
Saya melihat orang buta, orang atheis, orang yang kakinya buntung, orang gay, sama saja seperti saya melihat orang ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang rambutnya kriting, ada yang botak, dll.
Bagi saya, semua itu hanyalah perbedaan manusia yang sangat bisa dimaklumi.
Saya tidak melihat mereka sebagai sesuatu yang aneh.
Mungkin dasar pemikiran ini pula yang membuat mereka terbuka kepada saya dalam ngobrol.
Saya juga tanya mereka soal Alexander Aan tadi, menurut Sofie harusnya yang menganiaya juga dijerat pasal karena jelas penganiayaan adalah pelanggaran. Sementara mengungkapkan pendapat bukanlah sebuah pelanggaran. Mengapa Alex dijerat pasal penghinaan agama. Saya tanyakan hal ini on air kepada seorang teman yang juga pengacara, Taufik Basari. Dia membenarkan bahwa harusnya orang orang yang menganiaya ditangkap dan dapat diproses secara hukum dan bahwa sebenarnya, hukum Indonesia tidak bisa menangkap orang yang atas pemikirannya. Artinya dalam hal ini, Alex harusnya tidak bisa dihukum 5 tahun penjara atas dasar penghinaan agama.
Alex juga terjerat pasal “pemasuan identitas” karena di KTP tertulis Islam padahal Atheis.
Bagi saya ini lucu, lha wong Negara tidak menerima atheisme. Gimana caranya dia mau mengaku di KTP?
Apalagi kalau bikin e-KTP tidak ada pilihan “Atheis” atau minimalnya seperti yang tersedia kalau kita bikin KTP biasa: “Kepercayaan lain”
Orang orang seperti Sofie dan Sindhu secara teknis tidak diterima oleh Negara. Negara tidak mengakui adanya mereka. Lebih sedih lagi, Indonesia tidak mengakui mereka yang berkeyakinan diluar yang diterima Negara: Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, Kristen, Islam. Padahal seperti yang kita tahu, di Indonesia ada banyak sekali keyakinan tradisional.
Contohnya, masyarakat Mentawai punya keyakinan sejak lama yang tidak diterima Negara. Mereka juga percaya akan Tuhan yang banyak. Bayangkan, masyarakat seperti ini banyak di Indonesia. Sedih sekali kalau Negara tidak mengakui keberadaan mereka. Lalu mereka warga Negara apa?
Sofie sempat mempertanyakan soal Pancasila kepada saya. Dia bertanya bagaimana dengan sila pertama “Ketuhanan yang maha Esa” dan konsistensinya kepada Hindu yang memiliki banyak dewa dan dewi. Saya terangkan bahwa “Ketuhanan yang maha Esa” itu banyak disalah artikan. Kalimat tadi bukan berarti percaya dengan 1 Tuhan. Kalimat tadi menerangkan bahwa setiap orang harus punya 1 buah konsep ketuhanan. Alias , harus punya sebuah agama / kepercayaan.
Tulisannya “Ketuhanan” bukan “Tuhan” dan bukan pula “Keagamaan”. Indonesia menyadari bahwa setiap orang punya konsep Ketuhanan masing masing dan Indonesia menginginkan masyarakatnya percaya dengan sebuah keyakinan. Itulah mengapa Hindu bisa diterima, namun inilah juga mengapa Atheisme tidak diterima di Indonesia.
Di akhir wawancara, saya tadinya berusaha untuk menemukan orang yang bisa kontra dengan mereka tapi bisa berdebat dgn sehat, bukan debat kusir dan terpenting, tanpa bawa bawa dalil agama.
(LHO? Kenapa tanpa bawa Agama?)
Ya, karena mereka tidak percaya agama. Percuma bawa bawa dalil agama wong mereka tidak percaya kok. Seperti berusaha mematikan api yang terpicu dari listrik dengan menggunakan air. Nggak ngaruh. Yang musti dilakukan adalah mematikan sumber listriknya.
Tapi ternyata susah mencari orang yang bisa seperti itu, sayapun susah untuk mendebat mereka karena pada dasarnya saya tidak punya masalah dengan mereka. Akhirnya, saya memutuskan untuk memutar balik keadaan. Saya minta mereka berdua, untuk meyakinkan saya, bahwa Tuhan itu tidak ada.
Usul ini, diterima dengan baik oleh Sofie dan Sindhu.
Mereka membuka dengan pertanyaan
“Mengapa agama elo Islam?”
Saya tahu arah pertanyaan itu, pertanyaan itu berusaha menyadarkan saya bahwa agama yang saya pilih diturunkan dari orang tua saya dan kalau orang tua saya beragama Hindu kemungkinan besar saya akan beragama Hindu, itu menandakan, tidak ada iman dan keyakinan dalam pilihan saya karena itu semua by default.
Saya menjawab “Karena cara berkomunikasi dengan Tuhan yang ditawarkan dengan Islam sesuai dengan yang saya suka”
Saya melihat agama sebagai ragam jenis cara berkomunikasi dengan Tuhan. Saya bahkan percaya bahwa kita semua berdoa kepada Tuhan yang sama sebenarnya dan siapapun nama yang umat manusia sebut dalam doanya, yang menjawab adalah Tuhan yang sama. Banyaknya agama adalah pilihan akan banyaknya cara berkomunikasi dan berinteraksi dan hidup atas ajaran Tuhan. Di antara semua yang ada, saya menyukai cara Islam.
Mereka tanya “kenapa sukanya Islam?”. Saya jawab “karena di sekolah katolik saya belajar banyak agama (bahkan kelas 1 di Gonzaga ga ada pelajaran agama, adanya pelajaran Etika) dan saya suka dengan caranya Islam. “ Ini selera seleraan, sama seperti mengapa ada yang suka jazz ada yang suka rock ada yang suka hiphop. Selera.
Lalu mereka bertanya lagi,
“Apakah anda percaya Tuhan dan apa bukti keberadaan Tuhan?”
Saya jawab saya percaya Tuhan dan saya tidak perlu bukti lain karena saya merasakan kehadiran Tuhan.
Ditanya lagi oleh mereka “Bagaimana anda bisa tahu Tuhan itu ada, apakah anda bisa melihat, pernah ketemu?” . Saya jawab “Saya tidak pernah melihat udara tapi saya tahu udara itu ada” dan saya juga tidak pernah melihat wujud cinta, tapi ketika saya melihat istri dan kedua anak saya, saya yakin cinta itu ada. Argumentasi saya sama.
“Udara itu bisa dibuktikan keberadaannya dengan sains. Tuhan tidak bisa”. Itu adalah karena sains kita belum sampai kesana dan bahkan mungkin tidak akan sampai ke sana. “Lalu buktinya apa?” tanya mereka “Masak percaya begitu saja tanpa ada bukti?” mereka bertanya itu dengan dasar bahwa kitab suci juga rekaan manusia. Saya jawab “Terlalu sering dalam hidup saya, terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kebetulan. Kalau kebetulan, ini terlalu ekstrim kebetulannya. Saya meyakinkan itu bukan kebetulan dan bahwa itu adalah campur tangan Tuhan”
Mereka bertanya apa kejadian itu. Saya jawab, “Banyak banget. Contohnya, gue pengen banget punya anak ke 2. Gue berusaha terus menerus tapi tidak ada hasil apa apa. Lalu gue berdoa dengan amat khusyuk, meminta, berserah diri, dan pada masa itu, Gamila hamil.” Sofie bertanya “Tapi hamil karena kalian bercinta kan? Kalau tidak bercinta mana mungkin hamil kan?” . Saya jawab, dari dulu juga saya bercinta tapi tidak jadi apa apa, namun setelah meminta, langsung hamil. Makanya saya bilang, its too much of a coincidence. Kejadian seperti ini banyak sekali terjadi dalam hidup saya. Karenanya saya merasakan sekali kehadiran Tuhan”
Mereka lalu bertanya, “Okay, elo percaya Tuhan karena doanya dikabulkan. Bagaimana dengan doa orang miskin yang kelaparan di banyak sekali daerah di dunia, bolehkah mereka tidak percaya Tuhan? Apakah Tuhan tidak mau mengabulkan doa mereka? Mengapa Tuhan pilih kasih? Mengapa justru orang yang teramat sangat butuh bantuan tidak dikabulkan doanya, mengapa orang seperti anda (mungkin maksudnya yang hidup lebih enak dan tidak mendesak kebutuhannya) malah dikabulkan? Memangnya anda lebih baik daripada mereka?”

Saya jawab, “Di mata saya, Tuhan memberi keadaan keadaan seperti ini sebagai sebuah ujian bagi saya. Saya harusnya merupakan jawaban dari doa mereka. Bahwa Tuhan akan menjawab doa umatnya lewat tangan dan kaki umatnya yang lain. Doa orang orang kelaparan itu, harusnya dijawab oleh saya. Karena Tuhan memberi tahu saya akan keadaan mereka.”

Seringkali, ketika saya berbicara di depan umum tentang kanker pada anak, saya selalu menutup dengan kalimat “Kita semua percaya Tuhan kan? Artinya kita semua percaya semua dalam hidup kita adalah karena kuasa Tuhan?” Semua penonton mengangguk “Maka berarti, dengan kesepakatan tadi maka kita sama sama sepakat hari ini Tuhan menginginkan anda tahu tentang keadaan anak anak pasien kanker ini. Pertanyaan saya untuk anda, kalau anda tahu Tuhan yang memberi tahu ini kepada anda, maka… apa yang akan anda lakukan?”
Artinya, kalau mereka yang kemiskinan, dan hampir mati kelaparan sudah berdoa kepada Tuhan tapi keadaan mereka tidak berubah, maka bukan salah Tuhan. Tapi salah saya yang SADAR akan keadaan itu tapi tidak berbuat apa apa.
Mereka bertanya kembali “Mengapa ada Neraka yang jahanam dan mengapa Tuhan senang menghukum kalau memang katanya Tuhan Maha Baik?”
Saya menjawab, konsep Neraka yang kebanyakan orang percayai, itu terdistorsi oleh buku anak anak yang menggambarkan neraka itu sebagai tempat di mana lidah akan dipotong, kulit akan disayat, mata akan dicongkel. Sementara keyakinan saya, Neraka tidak seperti demikian. Sebagaimana menurut saya, Surga bukanlah tempat di mana sungai sungai coklat mengalir (itu mah di Jakarta ada, namanya Kali Ciliwung. Coklat cenderung hijau, hehehe)
Bahwa Neraka adalah tempat kesalahan kesalahan kita ditebus adalah benar namun bahwa isinya penuh siksa yang mengerikan adalah akibat penuturan yang ditulis untuk disesuaikan dengan kondisi dan jaman tempat surat dan ayat tersebut diturunkan
“Lalu mengapa harus ada hukuman? Kenapa yang salah manusia? Kan Tuhan maka kuasa termasuk kuasa untuk membuat manusia tidak berbuat kesalahan?”
Disinilah saya menganggap Tuhan adalah pemimpin terhebat di muka jagad raya.
Dari yang saya tahu, pemimpin yang baik tidak menyuruh anak buahnya. Pemimpin yang baik mengkondisikan sedemikian rupa, sehingga anak buahnya tahu apa yang benar untuk dilakukan. Anak buah tersebut akan melakukannya atas kesadaran penuh dan bukan karena keterpaksaan disuruh suruh.
Kalau misalnya anda seorang pemimpin dan anda ingin anak buah anda menyapu, maka pemimpin baik tidak akan menyuruh. Tapi dia mengajak anda berbincang dan bertanya serangkaian pertanyaan seperti “Sudah berapa lama tinggal di sini?
“Enaknya tinggal di sini kalau kondisi rumahnya bagaimana?”
“Oiya? Anda senang kalau rumahnya bersih? Saat ini rumahnya bersih atau kotor?”
“Kalau anda sadar kotor, maka sebaiknya musti diapain biar bersih?”
“Kalau menyapu akan membuat rumah ini bersih sementara cuman anda yang tingga di sini, maka harusnya gimana biar rumah ini bersih?”
Si anak buah akan menjawab dengan mulutnya sendiri “harusnya saya sendiri yang sapu rumah ini biar bersih dan saya nyaman tinggal di sini…”
Pemimpin yang baik akan mengungkap fakta sebanyak banyaknya, memberikan pilihan seluas luasnya, dan dengan kemampuannya, membuat anak buahnya sadar.
Itulah yang Tuhan berikan kepada kita. Fakta, kejadian, kenyataan, pilihan ditunjukan semua kepada kita. Dan kita disuruh untuk memilih.
Saya percaya, kalau ada 1 hal yang diserahkan kepada diri kita, adalah pengambilan keputusan.
Sisanya, dibawah kuasa Tuhan. Ambillah keputusan lalu kita hanya perlu untuk menjalankan. Kalau terasa berat, jalani terus karena Tuhan sudah berjanji tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita sendiri.
“Lalu mengapa harus ada hukuman?”
Untuk orang yang sadar akan pilihan yang benar tapi tidak menjalankan, maka itu bukan hukuman. Itu konsekuensi.
Saya rasa, cara paling mudah untuk memahami adalah seperti ini.
Anggaplah, anda punya anak.
Okay, itu poin pertama: Anda punya anak.
Lalu anda tentunya tidak akan mau anak anda meninggal.
Poin pertama, anda punya anak
Poin kedua, anda tidak mau anak anda meninggal.
Nah sekarang situasinya:
Kalau anda punya anak, lalu anak anda suka ngencingin colokan listrik lalu memasukkan jari ke colokan yang basah itu, maka pasti anda akan menahan anak tersebut lalu menerangkan apa yang akan terjadi atas kelakuannya.
Anda terangkan sejelas jelasnya, anda berikan contoh contoh kejadian serupa, lalu anda yakin anak anda mengerti. Kemudian anak anda melakukan hal yang sama karena badung. Alias karena sadar dia salah tapi dia tetap mau melakukannya.
Apa yang anda lakukan?
Ingat bahwa ini anak anda dan anda tidak mau anak anda celaka apalagi meninggal.
Maka pilihannya adalah menghukum anak tersebut.
Agar anak tersebut jera.
Hukuman itu sama sekali tidak berarti kita benci, justru adalah karena kita sangat mencintai anak kita. Bukanlah takdir orang tua untuk mengubur anaknya.
Toh setelah hukuman tersebut, kita akan tetap mencintai anak kita.
Begitulah, neraka di mata saya.
Ini baru ilustrasi kalau anaknya satu, sekarang bayangkan anda adalah orang tua dengan jumlah anak 7 miliar (jumlah populasi manusia di Bumi)
Bayangkan memimpin dengan baik anak anak sebanyak itu.
Itulah mengapa Tuhan adalah pemimpin terbaik yang oleh kita umatnya tidak akan bisa dipahami.
Karena banyak yang tidak paham, maka banyak yang enggan untuk menurut dan enggan untuk percaya.
Di benak orang orang yang tidak percaya, saya pasti tampak bodoh dan naïf.
Lucunya dibenak kita yang beragama, mereka yang tidak percaya Tuhan adalah bodoh dan naïf.
Lalu kita musti bagaimana?
Gampang.
Kita harus menerima.
Kita harus terbuka.
Terbuka artinya, kita mungkin tidak setuju dengan opini dan pilihan mereka, tapi kita bisa memahami.
Bahwa perbedaan bukan hanya merupakan pilihan, tapi juga keadaan yang diciptakan Tuhan
Bukan urusan kita membuat seisi Bumi jadi seragam.
Tugas kita adalah hidup, nyaman, damai, bahagia dengan perbedaan tersebut.
Biarlah, ada orang orang yang tidak percaya Tuhan. Tapi mari kita yang percaya akan kuasa Tuhan, yang membantu menjamin, merekapun bisa hidup dengan nyaman dan tenteram, bersama


7 Responses to “hidup dengan nyaman dan tenteram, bersama”

  1. johandi Says:

    Menarik tulisannya. Memang sulit terkadang bagi masyarakat untuk menerima atheis. Faktor sejarah ada pengaruhnya. Atheis sering dikaitkan dengan komunis (ingat waktu kejadian 30 september 65), dan mungkin bagi sebagian orang takut jika atheis ini berkembang menjadi komunis.
    Terkait dengan kepercayaan lain (tradisi) sejauh ini tidak ada masalah. Kepercayaan kepercayaan itu ada yang menjadi tradisi (kejawen, adat2 jawa, dsb) tetapi ada pula yang menjadi agama sendiri ( contoh agama marapu di sumba yang menyembah roh leluhur). Kepercayaan lokal tersebut tetap berkembang meski tidak secara resmi diakui negara. Negara tidak ikut campur dengan kepercayaan lokal karena dianggap sebagai budaya atau warisan leluhur. Berbeda dengan atheis, akibat warisan dari orde baru paham ini dianggap berbahaya. Sehingga orang yang ingin hidup di indonesia harus punya agama meski dia tidak percaya Tuhan. Akibatnya banyak diantara kita yang mengaku beragama tetapi pada prakteknya tidak melakukan tata cara agama yang dianut apalagi berdoa.
    Saya sendiri setuju dengan pernyataan terakhir tulisan yang mas buat. Percaya atau tidak percaya Tuhan, berbeda agama, tidak bisa dijadikan alasan untuk saling membenci. Meski berbeda, kita bisa hidup berdampingan kok. Karena kita hidup di bawah langit dan di atas tanah yang sama. Semoga mereka yang berpikiran sempit dapat memahami itu semua.

    Reply

  2. JS1897 Says:

    Klo saya pribadi sih gak masalah dengan orang yang atheis, cuma…
    kadang-kadang suka risih sama ateist yg suka merendahkan theist, bahwa theist itu gak kritis, asal telen, dll. Dan mereka merasa bahwa mereka itu kritis, pemikir, dan “sudah mencari jawaban atas kegundahan mereka”

    Btw, jawaban Mas Pandji tentang cinta itu kyknya kurang valid deh. Cinta kan kata sifat, jadi gak emg gak bisa diliat, sama aja dengan sakit, sedih yg gak ada wujudnya.

    Coba deh kasih contoh benda yg kita tau ada, tapi gak bisa diliat dan dibuktikan..pasti org atheistnya langsung convert..
    Tapi kyknya gak ada deh benda kyk gitu ya

    Reply

  3. adhit Says:

    saya setuju dengan JS1897 tentang terkadang orang ateist memandang theist seperti orang bodoh bahkan orang tertentu cenderung melecehkan.

    btw, bang titip pertanyaan kalo suatu saat ketemu lagi dengan mereka (atheist).
    bagaimana mereka bisa menjelaskan bahwa di tahun 600 sekian Masehi ada yang sanggup menjelaskan tentang proses perkembangan janin manusia didalam kandungan dengan tepat, tentang adanya sungai dibawah laut dan banyak fenomena lain yang mustahil pada saat itu seorang buta huruf bisa menjelaskannya didalam al quran kalau tidak diberi tahu oleh TUHANnya.

    Reply

  4. Abe Says:

    Saya agnostic, semenjak beberapa tahun lalu, aslinya saya Islam dr orang tua.
    Saya gak memungkiri adanya kemungkinan Tuhan, karena saya sendiri merasakan kalo terlalu banyak hal yg tidak bisa dijelaskan terjadi di hidup saya sama seperti Tuhan itu sendiri. Jadi saya menunggu mendapatkan cukup bukti untuk mempercayai Tuhan (lagi).

    Btw, JS1987 itu Juventtini ya,haha

    Reply

  5. luthfi Says:

    Ulasannya sangat menarik sekali dan sangat membuka wawasan dan pemaham saya,terima kasih..

    Reply

  6. rian Says:

    coba atheist jelaskan tentang rasa sakit, bisa tidak diuktikan dengan sains, bisa tidak diukur berapa perbedaan rasa sakit ketika dipukul dan terjatuh, wujud dari rasa sakit itu seperti apa, besar, tinggi, dan lain lainnya ? Saya rasa perumpaan Tuhan itu seperti itu :)

    Reply

  7. mridwanpurnomo Says:

    posting yang manarik. terimkasih. bisa jadi bahan untuk buat posting yang serupa….

    Reply

Leave a Reply


nine − 4 =