Get Yourself Ready

Im a perfomer.

That is who i am, by heart.

Saya sudah berjalan jauh sebagai pemanggung dengan stand-up comedy. Kini, panggung pertama yang saya pernah jajal akan kembali saya jalani lagi.

Im back, rapping.

Produksi album terbaru sedang berjalan. Satu persatu single saya kerjakan. Sejumlah video klip sudah diproduksi.

Tapi sebelum itu rilis, ada yang mau duluan hadir. Sebagaimana Mixtape “Pemanasan”, sebagai single “Aksi Massa”, sebagaimana tur “Nusantarap” yang didesain untuk mengencangkan kembali otot otot hiphop saya dan mengondisikan kembali penikmat musik saya.

Ada lagi yang akan rilis sebagai jembatan menuju album.

Menjelang album ke 5 saya berjudul “Pembalasan” yang akan rilis tahun ini, sebuah album kompilasi saya rilis terlebih dahulu.

Berisi kompilasi lagu lagu berbahasa Inggris dari 4 album sebelumnya.

Album LXIX akan rilis 23 Februari di seluruh platform yang tertulis di poster: iTunes, Google Play, Spotify, Amazin, Guvera, Deezer dan MixRadio.

Pasang alarm di ponsel. Get yourself ready 🙂

Pemersatu

 

 

 

Some people, care more about their ego than the need of other people.

Orang mempermasalahkan foto ini.

Tapi mereka lupa, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa Mas Anies juga melakukan ini.

Mas Anies Baswedan bertemu dengan SEMUA orang dari SEMUA kalangan. Dengan setiap umat beragama, setiap suku, setiap ras, setiap latar belakang ekonomi.

Yang Mas Anies lakukan, bertemu dengan Habib Rizieq dan FPI sejalan dengan niat beliau untuk jadi jembatan.

Kalau kita mau Jakarta bersatu, tidak bisa kita bakar jembatan dan picu permusuhan.

Jadilah jembatan. Sambungkanlah anda dengan pihak lain dan semoga anda juga bisa jadi penyambung pihak lain ini dengan pihak di seberang lainnya.

Tidak mau? Lalu anda mau apa?

Jakarta terus penuh permusuhan?

Jakarta terus menerus jadi kancah perang?

Perang hanya akan membawa kesedihan.

Itukah yang kita inginkan untuk Jakarta?

Saya tahu banyak yang berpendapat Mas Anies datang ke FPI melegitimasi kehadiran mereka.

Tapi menganggap mereka tidak ada bukan hanya naive, tapi dismissive.

They are a part of our society.

So what do you wanna do?

Pretend they dont exist?

You think that will solve any problem?

Sebuah masalah tidak akan selesai dengan pergi dan meninggalkannya.

Rasanya itulah juga alasan Pak Jokowi mendatangi para demonstran dan berorasi di atas panggung bersama Habib Rizieq juga. Walaupun ketika Pak Jokowi orasi orang orang pada teriak turunkan Ahok, dll. Bahkan Pak Jokowi ikut mendengarkan ceramahnya Habib Rizieq.

Karena berpura pura mereka tidak ada, adalah sia sia.

It takes courage to do that.

Dibutuhkan keberanian untuk mau menjadi pemersatu.

Saya sudah keliling Indonesia dari Aceh sampai Papua. Lalu saya berkeliling dunia 5 benua dari Amerika sampai Afrika.

Dari yang saya lihat dan pelajari: Kemajuan hanya terjadi karena adanya persatuan.

Sejak lama saya sudah bahas bahwa masalah terbesar kita adalah Persatuan.

Ini yang saya dambakan. Ini yang saya inginkan. Dan ini yang saya perjuangkan. Ketika saya mendukung Anies Baswedan.

Pada akhirnya, ini memang pilihan anda.

Anda hanya mau bersatu dengan orang orang yang berkenan dengan anda, silakan. Ada kok calon Gubernur yang seperti itu.

Anda ingin Jakarta yang bersatu. Pilih yang pemersatu.

 

Makasih Anies

Saya baru selesai menyelenggarakan Bhinneka Tunggal Tawa. Stand-Up Special pertama saya di bulan Desember tahun 2011. Lalu saya dapat corporate gig untuk stand-up di sebuah perusahaan di Balikpapan.

Harga gak ditawar. Tiket kelas bisnis. Garuda Indonesia. Goks.

Sampai di sana, saya Stand-Up. Masih bawain bit bit receh macam “Kenapa kucing kalau diusir harus brenti dulu dan nengok seakan memastikan dia memang diusir”. Juga bit “Rumah Kemalingan”. Bit bit jaman itu lah.

Di depan di antara penonton, ada seseorang yang wajahnya saya kenal, tapi nama agak lupa.

Orang tersebut ternyata juga mengisi acara yang sama. Setelah saya, dia memberikan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di Indonesia dan apa yang kita sama sama bisa lakukan.

Namanya, Anies Baswedan.

Pemaparannya mengenai pendidikan Indonesia, membongkar cara pandang saya. Biasanya, abis stand-up saya selalu pergi, cari makan atau balik ke hotel kalau dikasih kamar. Tapi saat itu, Mas Anies membahas mengenai cara pandang kebanyakan orang Indonesia yang fokusnya lebih kepada sumber daya alam ketimbang sumber daya manusia.

Menurut beliau, fokus pada sumber daya alam, itu cara berpikirnya penjajah yang membiarkan sumber daya manusia kita seadanya karena toh mau dijadiin kacung, sementara sumber kekayaan alam mereka manfaatkan untuk dibawa ke kampung halaman mereka.

Saya duduk dan memperhatikan.

Saya sama sekali tidak kenal dia siapa, tapi omongannya menarik.

“Lumayan buat premis” pikir saya saat itu. Maka saya mencatat.

Sepulangnya dari Balikpapan, kami ternyata duduk bersampingan di pesawat. Kami saling mengenali karena sama sama di acara yang sama. Kemudian kami lanjut ngobrol.

It was the flight that changed my life.

Pemaparan beliau tentang pendidikan, menjadi bagian dalam cara pandang saya.

Kata beliau “Coba kamu pikir baik baik. Nanti ketika kamu menjalani hari hari, coba perhatikan, bahwa sebenarnya solusi dari banyak masalah di Indonesia, adalah pendidikan.”

Bukan hanya soal pendidikan, beliau juga cerita banyak soal politik dan tata kelola pemerintahan. Belakangan saya tahu, ternyata memang beliau jurusan program Master-nya adalah Keamanan Internasional dan Kebijakan Publik.

Saya ingat, mendarat dari pesawat ketika kami pisah saya sempat bilang ke Ben, yang sering jadi Road Manager ketika ada job luar kota “Menarik banget orang itu tadi. Kalau dia maju politik, gue mau dukung dia.”

 

Obrolan kami di pesawat, bahkan bisa anda lihat hasilnya di pertunjukan spesial saya “Merdeka Dalam Bercanda”.

Ingat bit “Kalau perjuangan kemerdekaan itu program pemerintah, maka yang perang cuma tentara. Rakyat nonton doang”? Itu datang dari kalimat beliau yang bilang bahwa supaya Bangsa ini maju maka masalah di Indonesia harus disadari sebagai masalah bersama dan dengan itu, penyelesaiannya harus dengan pendekatan gerakan. Makanya perjuangan melawan penjajahan itu seluruh rakyat Indonesia terlibat, karena saat itu pendekatannya adalah gerakan.

Atau ingat bit “Jumlah rakyat Indonesia yang melek huruf tahun 45 tapi menghasilkan kemerdekaan, dibandingkan dengan hasil yang diberikan generasi sekarang yang mayoritas melek huruf”?

Itu juga datang dari Mas Anies Baswedan.

Sejak Merdeka Dalam Bercanda, lalu ke Mesakke Bangsaku, hingga Juru Bicara, anda bisa sadari bahwa topik yang tidak pernah hilang, adalah Pendidikan.

Cara pandang saya berubah terhadap Indonesia.

Kepedulian saya meningkat terhadap pendidikan.

Anies Baswedan telah meyakinkan saya, bahwa kalau kita mau Indonesia jadi lebih baik, maka pendidikan harus jadi bagian dari DNA pembangunan. Dan sebagai sentralnya, adalah pemimpin yang peduli pembangunan manusia, pendidikan rakyatnya.

Orang ini, adalah guru. Pendidik.

Guru itu juga berkarya lho, namun bedanya, hasil karyanya adalah manusia.

Sukarno, Hatta, bahkan Jenderal Sudirman, adalah guru.

Jenderal Sudirman bahkan kuliah keguruan, sempat jadi guru SD dan jadi Kepala Sekolah.

Jadi ketawa kalau dipikir pikir mengingat sindiran banyak orang bahwa Mas Anies ini “hanyalah” mantan Rektor.

Pertama tama, “Rektor” itu gak bisa disebut “Hanya”.

Kedua, kalau Kepala Sekolah bisa jadi Jenderal. Kenapa rektor tidak bisa jadi Gubernur?

Kini, berbekal pengakuan Presiden Jokowi sendiri bahwa kinerja Kemdikbud di bawah Mas Anies ternyata gemilang, Mas Anies mencalonkan diri menjadi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta bersama Bang Sandiaga Uno.

(Di sini pasti ada yang berpikir, kalau gemilang kenapa diberhentikan? Ya mari kita jawab juga, mengapa Sudirman Said diberhentikan? Kenapa Jonan juga diberhentikan untuk kemudian masuk ke jabatan yang beda? Kenapa Luhut digeser dan diganti Wiranto? Kenapa Rizal Ramli diganti? Apakah menurut anda kinerja mereka buruk? Jawabannya, adalah karena Menteri merupakan jabatan politis. Dipasang dan dicabutnya jabatan, ya karena alasan politis. Yang pasti, secara prestasi, Mas Anies dianggap Pak Jokowi bekerja dengan gemilang dan itu laporan datang dari beliau sendiri)

For him, this is nothing new. Dia memang pejuang. Ketika ditawarkan kesempatan untuk mengabdi untuk kebaikan Indonesia, selalu dia ambil. Mungkin karena keturunan.

Dalam tubuhnya ada darah pejuang. Kakeknya, AR Baswedan adalah negarawan yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

Saya mengamati beliau dari jauh. Mempelajari kiprahnya.

Ketika saya memutuskan untuk mendukung Faisal Basri dalam kampanye pilgub, untuk pertama kalinya saya terjun ke politik praktis. Lagi lagi karena ingat omongan Mas Anies. “Kalau kita tidak dorong orang orang baik untuk masuk ke politik, mau sampai kapan kita rela politik diisi oleh orang orang jahat? Padahal di politik, kepentingan kita, kehidupan kita, ditentukan”

Kini, beliau membutuhkan saya di Pilgub DKI 2017 mendatang.

Saya memutuskan untuk turun tangan.

Saya memilih untuk berjuang.

Saya memilih untuk mendampingi.

Mungkin, bawah sadar saya ingin berterima kasih atas dampak yang beliau berikan.

Mungkin, ini seperti cara saya untuk berkata

“Makasih Anies”

 

You tell me

Saya masih merasa nggak enak sampai hari ini

Kalau ingat apa yang saya lakukan dulu waktu shooting program Sebelas12.

Salah satu bintang tamu kamu menyebut dirinya sebagai Coffee Anthusiast. Senang kopi, senang nongkrong di kafé, punya sejumlah kafe favorit dan senang ngobrolin kopi. Lalu pada satu kali kesempatan kami meminta dia untuk melakukan Coffee testing. Satu kopi disuguhkan dalam cangkir cantik. Yang satu di gelas plastik, seperti Aqua gelas. Kemudian saya minta dia minum untuk memberi tahu mana yang menurutnya lebih enak.

Dia mencoba keduanya, berpikir sejenak, lalu menjawab yang di cangkir lebih enak.

Kemudian saya memberi tahu dia…. Bahwa dua duanya sama sama datang dari kopi sachetan yang sama.

Mukanya langsung berubah. Mungkin malu. Saya katakan bahwa ini bukan salah dia, tapi kadang memang penilaian kita sering kali terganggu objektivitasnya. Istilahnya: Bias.

Bias adalah sesuatu yang sering terjadi. Dimaklumi, walaupun tidak bisa dibenarkan. Bias sering juga disebut favoritism, partisanship. Kesukaan kita dengan sesuatu atau seseorang yang pada akhirnya menggugurkan kebenaran yang ada di depan mata, kehilangan objektivitas.

Sering kali terjadi perdebatan antara penggemar sepakbola akan apa yang merupakan pelanggaran dan yang tidak. Misalnya kasusnya adalah pelanggaran oleh pemain ManUtd kepada pemain Persisam di kotak penalti ManUtd. Kejadian yang dilihat sama, tapi opini bisa berbeda. Kedua sisi, bisa saja bias menilai pelanggaran tersebut.

Bias sering kali terjadi pada brand. Apple adalah brand yang kuat. Sering kali anda tidak bisa mendebat fanboy Apple dengan objektif. Mau anda debat seperti apapun, fanboy akan membela mati matian. Saya gak merasa itu serta merta hal negatif, karena itu juga berarti kesuksesan brand Apple telah melahirkan orang orang yang begitu mencintai mereka.  Hal serupa, sering kali terjadi di dunia politik.

Politik dan pilihan politik sering kali membuat orang bias.

Mari kita ambil contoh apa yang terjadi kepada Pak Tifatul Sembiring.

Semua orang tahu hubungan saya dengan beliau. Saya pernah iseng mention beliau “Pak folbeq eaaa” lalu saya tinggal tidur siang. Pas bangunn, tiba tiba tweet saya trending topic world wide. Saya skarang diblok di twitter oleh beliau tanpa pernah mengerti alasannya apa.

Suatu hari, jagad twitter ramai karena satu buah tweet dari Pak Tif yang saat itu masih menjabat sebagai Menkominfo “Tweeps yang budiman? Internet cepat buat apa?”

Sejak hari itu hingga hari ini, orang sering menyindir Pak Tif dengan ucapan ini yang diartikan seakan akan dia mempertanyakan “Buat apa sih punya internet cepat? Kayak ada gunanya aja”

PADAHAL, tweet tersebut adalah bagian pembuka dari rangkaian tweet yang panjang. Setelah tweet tersebut, dia sebenarnya menjelaskan bahwa internet cepat itu utk blablablabla. Dia menjelaskan pentingnya internet cepat.

TAPI, karena orang udah keburu gak suka, mereka BIAS penilaiannya terhadap Pak Tif. Sebenarnya tweet pembuka tersebut tidak beda dengan misalnya guru di depan kelas membuka diskusi dengan “Anak anak, internet cepat untuk apa? Ada yang tahu?” lalu dilanjutkan dengan “Jadi, internet cepat dibutuhkan agar kita bisa lebih mudah mengakses informasi, dst dst dst.”

Saya tidak suka dengan Pak Tif. Di banyak kesempatan kami tidak sejalan cara pandangnya. Tapi saya harus adil dan berkata bahwa dalam hal ini, dia tidak salah. Saya tidak boleh bias.

 

Pilkada, penuh dengan orang orang bias. Selama anda partisan, maka peluang biasnya ada.

Termasuk saya. Itulah yang saya sangat khawatirkan. Setidaknya saya mengaku bahwa saya mungkin saja penilaiannya bias. Entah orang lain.

Orang yang terbutakan cinta, dari luar tampak seperti orang gila. Dengan politik, sama halnya.

Saya berusaha untuk tidak bias dengan mencoba secara objektif melihat data dan situasi. Sering kali saya bertanya kepada Istri saya yang memang non partisan. Supaya dari luar tidak terlihat mengada-ada seperti orang gila. Dalam usaha saya menghindari bias, saya sadar bahwa semuanya sangat tergantung kepada keinginan saya menerima dan menyerap segala macam fakta.

 

Ini jadi penting, karena banyak orang bilang saya berubah karena pilkada.

Which is funny, coz I think, they changed instead of me.

 

Ketika Duterte yang ngomong seperti ini, orang orang di socmed langsung bereaksi.



Namun ketika Pak Basuki yang bicara seperti ini, kenapa mereka diam?




Silakan baca artikelnya di sini

Ketika Reklamasi Bali, semua orang bahkan kebanyakan seniman bereaksi.

Ketika Reklamasi Jakarta, mengapa semua orang diam?

Berani beraninya pula menjawab “Emang di sana masih ada nelayan?”

Kalau orang naik pesawat mau balik ke Jakarta, sebelum mendarat coba tengok ke luar jendela dan lihat ke bawah. Pulau pulau reklamasi itu bisa anda lihat bentuknya. Bisa anda bayangkan dampak ekologisnya. Dan bisa anda lihat perahu perahu nelayan yang ada di situ.

Berani beraninya bilang reklamasi mengurangi banjir padahal menutup pulangnya air belasan sungai ke laut.

Amdal belum ada tapi dari udara sudah kelihatan bangunan bangunan yang diperuntukkan untuk komersil. Kok bisa? Buat siapa? Yang diuntungkan siapa?

Ketika Foke yang merelokasi paksa semua orang bereaksi. Saya ingat betul karena waktu itu relokasi paksa adalah isu yang kami angkat ketika mendukung Bang Faisal Basri. Saya ingat siapa saja yang menentang.

Ketika Pak Basuki yang relokasi paksa sehingga warganya menolak. Mengapa mereka diam?

Mas Anies dibilang tidak bisa kerja?

Kalau tudingannya adalah Mas Anies tidak bisa kerja, pada tahun 2015 sendiri, penyerapan anggaran Kemdikbud itu nyaris 100%. Untuk yang belum tahu, kemampuan menyerap anggaran hingga setinggi itu harusnya berarti orang ini justru bisa kerja dengan efisien. Karena program didesain, anggaran diciptakan dan diajukan, lalu ketika datang tahun yang dimaksud, penyerapan nyaris 100% berarti apa yang direncanakan pada akhirnya dilaksanakan.

Yang aneh itu kalau ada orang sudah rencanakan, dia sudah minta anggaran sesuatu dengan yang dia rencanakan, sudah dia sepakati bersama DPRD, alias dia sudah liat angkanya, tidak ada lagi yang bisa nyempilin uang siluman, dan setuju sehingga dia tanda tangani, lalu realisasinya masih hanya 60%an.

Mau bilang serapan anggaran tidak penting? Kenapa ketika Pak Basuki serapannya rendah lalu dimarahi Pak Jokowi?



Nggak percaya Jokowi, skarang?

Kenapa?

You say I changed?

Me?

Anda lihat stand-up saya dari 2011 sampai sekarang. Anda dengar keresahan saya. Anda ikut berdiri bertepuk tangan. Anda tahu persis di mana saya berdiri.

Saya masih membela suara orang orang yang tidak anda dengar. Suara orang orang yang berkata bahwa masalah utama mereka di Jakarta bukanlah macet dan banjir.

Masalah mereka adalah pendidikan.

Masih banyak anak anak yang tidak bisa sekolah, karena mereka tidak mendapatkan manfaat dari KJP. Karena KJP yang tidak bisa diuangkan hanya bisa untuk orang yang sudah bersekolah. Lalu Mas Anies mau kasih KIP supaya anak anak tidak bersekolah ini bisa dibantu supaya bisa sekolah lalu ditolak.

Lalu saya harus apa? Diam? Pura pura mereka tidak ada? Tidak membantu mereka memperjuangkan hak atas pendidikan yang jadi impian mereka?

Banyak anak anak usia SMA yang tidak bersekolah di Jakarta.

Lalu kita ngomel melihat mereka tawuran, jadi bagian dari peserta demo bayaran, lalu jadi penonton bayaran di acara televisi. Lah mau dibantu dikasih pendidikan tapi ga dikasi sama Gubernurnya.

Masalah mereka adalah uang yang mereka punya berbanding dengan harga di sekitar. Ada 3.5 juta warga jakarta yang penghasilan perbulannya di bawah Rp 1 juta. Anda bisa hidup dengan sekitar 30 ribu per hari sementara harus menghidupi anak dan istri?

Nelayan karena sedikit dianggap tidak penting suaranya sehingga tidak apa membangun pulau dan melabelinya reklamasi. Itu bukan reklamasi. Reklamasi itu BUKAN membangun pulau.

Come on. You know this.

Orang orang ini tidak anda dengar keresahannya di social media. Lalu karena mereka tidak terdengar keluhnya oleh anda, lalu dianggap mereka tidak ada?

 

Saya berbicara untuk mereka.

Saya selalu berbicara untuk orang seperti mereka.

 

I changed?

Are you sure?

Hanya karena anda & saya untuk pertama kalinya memilih orang yang berbeda lalu saya dianggap berubah?

I changed? Or you’re biased?

You tell me.

JuruBicaraJKT

Saya memang tidak pernah merencanakan untuk membuat 2 pertunjukan.

Niat saya hanya akan ada 1 pertunjukan saja.

Tapi semakin lama saya semakin menyadari ternyata yang kemarin tidak sempat beli tiket masih sangat banyak. Bahkan banyak yang menanti gajian bulan ini untuk membeli.

Akhirnya, saya sepakati untuk menambah pertunjukan pada tanggal 10 Desember dengan tetap membuat pembeli 3000 tiket pertunjukan utama merasa spesial.

Berikut informasi lengkapnya :

PERTUNJUKAN KE 2 (8 tahun ke atas)

Harga tiket: Rp 550.000,- (karena posisi duduk akan ada di area Platinum)

Hanya dibuka dengan kuota 500 kursi

Dibuka penjualannya mulai 30 November 2016 dan ditutup 6 Desember 2016

Hanya bisa dibeli di WSYDNshop.com

Kalau sampai 6 Desember kuota 500 kursi tidak terpenuhi, pertunjukan dibatalkan dan uang akan dikembalikan.

 

Apa bedanya pertunjukan utama dan pertunjukan ke 2? 

 

PERTUNJUKAN KE 2 (OPEN GATE 13.00, MULAI 14.00, SELESAI 16.00)
🔸Tidak ada foto bareng
🔸Tidak dapat bonus DVD Juru Bicara Jakarta
🔸Tidak ada doorprize
🔸Opener hanya Indra Jegel
🔸Clean set. Materi sama dengan pertunjukan utama tapi tanpa joke joke yang membutuhkan kedewasaan.  (8 tahun ke atas) Keuntungannya, bisa ajak anak atau anda yang di bawah 15 tahun dan tadinya tidak bisa nonton, kini bisa nonton
🔸Kuota 500 tiket, tidak tercapai uang kembali

Tapi keuntungan utama adalah: Akhirnya anda bisa nonton. Tadinya tidak ada kesempatan sama sekali karena sold out.

PERTUNJUKAN UTAMA (OPEN GATE 18.00, MULAI 19.30, SELESAI 23.00)
🔸Ada foto bareng usai pertunjukan
🔸Pembeli tiket platinum dapat DVD Juru Bicara Jakarta
🔸Ada 1 buah doorprize berupa paket liburan berdua. Lokasi liburannya diumumkan usai pertunjukan utama (Surprise!)
🔸2 opener: Coki Pardede dan Indra Jegel
🔸Full Set. Full Power.

Jadi sudah jelas sekarang perbedaannya.

Anda yang sudah berjuang dan bergadang untuk bisa beli 3000 tiket pertunjukan utama tentu tidak akan merasa rugi.

Saya masih akan bugar di pertunjukan utama karena di pertunjukan ke 2 tidak membawakan 100% materi Juru Bicara dan anda tetap mendapatkan banyak keuntungan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Untuk yang belum beli, walau tidak dapat banyak keuntungan penonton pertunjukan utama tapi anda harusnya merasa seneng karena akhirnya bisa menonton Juru Bicara Jakarta. Manfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin.

Sampai ketemu di JuruBicaraJKT

 

Terlibat

“Mengapa Mas Pandji terjun ke politik?”
Saya yakin, nyaris 100%, yang bertanya adalah orang orang yang tidak mengenal saya dari karya karya saya. Karena sejak 2008, sejak album pertama sampai album ke 4. Sejak buku pertama sampai buku ke 8, sejak stand-up special pertama sampai stand-up special sekarang, orang justru bertanya hal yang sama. Pertanyaan yang paling sering saya temukan sepanjang karir saya..
“Kenapa Mas Pandji tidak masuk politik?”
Hehehehe.
Bahkan kalau sudah baca buku “Berani Mengubah” yang terbit tahun 2012 akan ingat poin yang saya anjurkan di bab “Belajar Politik”.
Yaitu “Terlibat”
Kata Bernie Sanders, politik itu bukan olahraga tontonan. Berpolitik, berarti melibatkan diri.
Malah saya kasian dengan orang orang, apalagi anak muda yang bilang “Jangan deket deket dengan politik Mas. Jauh jauh aja.”
Kelihatannya dia tidak sadar bahwa dia produk sukses dari doktrin Soeharto. Di era Sukarno, semua orang berpolitik. Masa masa itu adalah masa yang menggairahkan. Kita baru mendapatkan predikat Merdeka. Kita sedang membangun negara. Semua orang ingin ambil andil. Semua terlibat.
Lalu masuk era Soeharto dan hal yang beliau sukses lakukan adalah, memutus mata rantai antara rakyat dengan politik. Supaya apa? Supaya rakyat tidak tahu apa yang dilakukan oleh politisi.
Pidato panjang membosankan. Edukasi politik yang nihil. Proses pemilu yang begitu begitu saja. Pada masa 32 tahun (I know, right? 32 years is really unnormal) saya bahkan tidak mengerti mengapa orang ikutan pemilu. Yang menang ya pasti Golkar lagi, Golkar lagi. Yang jadi Presiden ya Soeharto lagi, Soeharto lagi.
Di saat dunia pada kebingungan melihat ada Presiden menjabat lebih dari 2x masa jabatan, rakyat Indonesia berkehidupan seperti biasa tanpa merasa ada yang salah.
Mengapa?
Karena tidak mengerti. Tidak mau mengerti. Antipati.
Karena mereka sukses melakukan yang Soeharto inginkan.
NAH
Kembali ke pertanyaan “Kenapa Mas Pandji terjun ke politik?”

Padahal hidup sudah sibuk bukan main, mengurusi Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour saja pusingnya bukan main.

Belum lagi resiko orang tidak bisa membedakan pertunjukan Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour & posisi saya sebagai Juru Bicara. 

Jadi mengapa?

 

Alasan
pertama, adalah karena setelah berkeliling dunia dan melihat Jakarta, saya jadi semakin ingin melibatkan diri dalam menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih baik. Saya tahu apa yang sebaiknya ada di sebuah kota dan saya mau terlibat dalam memastikan itu terjadi. Saya bisa saja ngomel dan ngoceh di twitter akan buruknya kondisi Jakarta. Tapi memaki kegelapan tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk jadikan terang.
 

Alasan kedua
, karena saya percaya Mas Anies dan Bang Sandi adalah pasangan yang tepat. Terutama karena saya mendambakan persatuan, saya percaya Mas Anies adalah jembatan yang akan menyambungkan keragaman di Jakarta. Karena saya percaya Mas Anies peduli dengan manusia, dia akan tepat memimpin Jakarta yang selama ini pembangunannya hanya terpaku pada hal hal fisik yang bisa dilihat. Kotanya dibangun, warganya terlupakan.
 

Alasan ketiga
, karena ada 2 “P” yang saya sukai di dunia ini: Politik dan Pemasaran. Saya punya 8 buku yang sudah saya terbitkan, semuanya mengenai politik atau pemasaran. Kampanye politik, adalah dunia yang membaurkan kedua dunia tersebut. Untuk saya, ini seru dan membuka wawasan.  
 

Alasan ke empat
, karena saya percaya dari sini saya akan mendapatkan Ilmu baru. Sebagai gambaran, saya belajar lebih banyak tentang politik dalam beberapa bulan terakhir, daripada yang saya dapatkan seumur hidup. Kelak setelah ini usai, saya punya banyak pengalaman yang bisa dituangkan dalam bentuk karya apapun. Film? Buku? Stand-Up Special? Dinanti saja 🙂 #KodeKeras.
 

Alasan ke lima
, dan alasan paling kuat, karena saya memutuskan untuk mau terlibat dalam perubahan politik Indonesia ke arah lebih baik. Saya terlibat dalam Pilgub Faisal Basri. Saya terlibat dalam Konvensi Demokrat. Saya terlibat dalam Pilpres Jokowi.
Idola idola saya, semua terlibat dalam politik. Jay Z, Chris Rock, Jon Stewart, semuanya secara lantang menunjukkan keberpihakannya, ikut berkampanye mendukung calonnya.
Itulah saya menyetujui untuk bersama dengan Mas Bambang Widjojanto (mantan pimpinan KPK) untuk menjadi Juru Bicara Resmi Anies-Sandi.
Keterlibatan kita, harusnya tidak jauh dari bidang kompetensi kita. Memangnya anda pikir kenapa saya setuju untuk dijadikan Jubir? Ya karena saya bisanya bicara. Itu kompetensi saya.
Kalau anda mau terlibat, terlibatlah dalam hal yang sesuai dengan kompetensi anda.
Apapun itu, kalau anda mau, anda bisa terlibat.

“Apapun?”

Apapun.

Mas Anies Baswedan, punya rekam jejak unik yang tidak dimiliki paslon lain. Dia terbukti mampu menggalang orang orang yang mau bergerak. Tidak ada paslon lain yang punya rekam jejak bisa menggerakan pemuda.
Kita tahu, kota ini tidak bisa maju kalau hanya pemerintahnya saja. Masalah Jakarta, adalah masalah bersama. Maka bersama, kita mengatasinya.
Itulah mengapa, penggerak juga banyak yang memilih untuk berdiri di belakang Mas Anies. Mereka percaya Mas Anies adalah pemimpin yang tepat bagi mereka, karena mereka percaya Mas Anies bisa ikut memajukan mereka. Gerakan gerakan yang selama ini, ada pilkada atau tidak, sudah berbuat sesuatu untuk warga Jakarta.
Kalau anda selama ini sudah terlibat, kalau anda seorang penggerak, saya undang untuk bergerak bersama Mas Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Satu satunya paslon yang memang sejak lama terlibat dalam gerakan.
Kami ingin mendengar gerakan anda. Ceritakan gerakan yang sudah anda jalankan, atau bahkan anda bisa tawarkan solusi yang anda punya berdasarkan pengalaman hidup di jakarta selama ini, ke relawan@jakartamajubersama.com . Bersama, kita cara jalan untuk memajukan warga Jakarta.
Mas Anies, Bang Sandi, dan saya, akan bantu anda menumbuh kembangkan gerakan anda.
Satu catatan: Kalau anda mau mengajukan sebuah ide gerakan, pastikan, anda benar benar peduli dengan gagasan ini. Karena menang atau kalah pilkada, kita akan terus majukan gerakan ini untuk membangun warga Jakarta.
Pilihan di tangan anda.
Jakarta jelas perlu dimajukan. Baik kotanya, maupun warganya.
Pertanyaannya: Mau jadi penonton, atau mau terlibat?
 
 
 
 

Yaudahlahya


Awalnya saya ditanya soal apa maksud oleh orang yang membuat baligo ini.

Saya jawab kelihatannya “kita” yg dimaksud adalah warga. Lalu yang dimaksud “Rebut kembali” kelihatannya adalah merebut kembali Jakarta dari kepentingan korporasi yang pada akhirnya jadi di atas kepentingan rakyat.

Contoh yang paling sering muncul terkait hal tadi, adalah reklamasi. Anehnya ijin AMDAL, isu lingkungan, dan beberapa hal lain membuat banyak orang mempertanyakan sebenarnya ini dilakukan untuk siapa.

Ada banyak sudut pandang terkait reklamasi. Mereka yang mendukung memberikan banyak argumen yg masuk akal 

Di sisi lain, orang banyak menolak reklamasi dengan argumen yang tidak kalah banyak 

Bagaimanapun, alasan utama orang menolak adalah karena anggapan tingginya keberpihakan pemprov kepada pemodal. Korporasi yang menurut mereka lebih banyak diuntungkan oleh terjadinya reklamasi tersebut ketimbang rakyat yang tinggal di daerah situ.

Bisa jadi yang dimaksud adalah yg di atas, atau mungkin yang dimaksud adalah Jakarta direbut kembali dari Gubernur yang mereka tidak suka & dikembalikan kepada rakyat yang selama ini memang tidak menyukai Pak Basuki.

Yang manapun, hal hal tadi sering kali jadi narasi mereka yang ada di kubu seberang Pak Basuki.

NAH

Gak tau gimana caranya, di twitter banyak yang menjadikan seakan poin di atas adalah opini saya.

Padahal yang ditanyakan saja pada awalnya, adalah apa yang dimaksud oleh mereka yang membuat baligo.

Saya kan ga ikut buat itu baligo :)))

Mereka yang tidak kenal saya, atau yang membela penuh paslonnya apapun yang terjadi, atau memang tidak suka saya, akan dengan sigap mengamini anggapan bahwa itu opini pribadi. Ketimbang menyadari bahwa saya sedang menjawab opini apa kira2 yang dimaksud oleh pembuat baligo.

Mereka yang kenal saya, kemungkinan tidak mudah larut dalam anggapan tersebut. Karena mereka tahu, sebagai orang yang gemar dengan pemasaran, saya malah sering kerja sama dgn korporasi.

Lah memang gimana caranya saya bisa 2x tur dunia kalau bukan karena kerja sama dengan perusahaan.

Tapi ya di era pilkada ini bukanlah hal yang aneh ketika ada pemelintiran atau sekadar salah tangkap dan salah persepsi.

Yang penting saya sudah menjelaskan, untuk yang kebingungan dan mencari jawaban.

Bukan kepada yang memang kontra karena kecil kemungkinan akan memaklumi. Kalau mereka mah, yaudahlahya.

 

Pilkada dan Sepakbola

Pilkada itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sepak bola.

Ambil contoh, kritik banyak orang terhadap ucapan Mas Anies yang mau melanjutkan program Pak Basuki yang baik untuk warganya. Dituding sebagai bukti bahwa Anies-Sandi tidak punya program dan hanya mendompleng program sukses orang.

Di Sepakbola, apabila seorang manager baru datang ke sebuah klub. Dia akan mempelajari pemain pemain yang dia miliki, dipertimbangkan dengan strategi yang akan dia jalankan. Yang dirasa tidak akan sesuai dengan pola dan strategi dia ke depan, akan diganti. Besar kemungkinan dia akan membawa pemain baru ke klub. Tapi pemain pemain lain yang dirasa cocok, ya tentu dipertahankan. Tidak perlu dijual. Untuk apa?

Buat apa semua pemain dibuang dan diganti 100% dengan yang baru? Dana yang sudah keluar untuk beli pemain itu jadi percuma. Sia-sia. Apalagi kalau sebenarnya pemain tersebut memang akan terpakai karena sesuai strategi. Toh tujuan akhirnya adalah kemenangan tim. Kemenangan yang akan dipersembahkan untuk fans klub tersebut.

 

Atau kita ambil contoh lain, banyak yang mempertanyakan Anies dan Sandi yang kini dalam 1 tim. Kata mereka, dulu Anies jubirnya Jokowi, Sandi jubirnya Prabowo. Lalu mereka menyindir bahwa semuanya bisa terjadi karena kesamaan kepentingan.

Ini lucu sebenarnya. Sepertinya di benak mereka, pilpres belum selesai. Ini 2016 akhir, dan sudah mau masuk 2017. Pilpres sudah lama selesai. Sudah tidak ada dikotomi. Bangsa ini sudah tidak terpecah oleh 2 pilihan lagi. Semua orang sudah kembali berkegiatan kembali, bekerja seperti biasa, kecuali mereka yang benaknya masih dihiasi pertarungan pilkada.

Kalau di tim sepakbola, ketika Juan Mata masuk ke Manchester Utd, tidak ada yang masih terjebak masa lalu dan menolak kehadirannya. Apalagi ketika Mourinho ke Utd. Ini adalah manager yang paling menyulitkan Sir Alex Ferguson. Di ManUtd pun, tidak ada pemain lama yang menolak kehadiran pemain baru yang dulunya datang dari klub lawan. Karena mereka, mengajarkan sesuatu yang penting untuk orang yang di kepalanya masih dalam pilpres-mode. Kita bisa saja berlawanan, tapi kita masih tetap bisa berkawan.

 

Satu lagi contoh yang membuktikan bahwa pilkada ternyata tidak jauh beda dengan sepakbola, adalah dalam urusan suporter.

Belakangan anda bisa lihat, FPI dan FUI berdemo ingin menurunkan Ahok, bahkan ada yang mengancam membunuh. Di khotbah Jumatan bahkan ada yang mengajak demonstrasi. Lalu Anies-Sandi dituding jadi pihak yang salah. Karena pada suatu hari, Anies-Sandi pernah berfoto dengan mereka.

Padahal coba kita pikir pikir: Semua orang boleh dong menjadi pendukung ManUtd? Mereka juga boleh dong berfoto bersama dengan Jose Mourinho, dan tentu Mourinho tidak perlu menolak diajak foto oleh supporter.  Tapi kalau supporter itu tiba tiba rusuh dan berantem dengan pendukung Liverpool, masak jadi tanggung jawabnya Mourinho? Lah orang orang ini tidak ada di bawah kendali Mourinho. Mereka bukan pemain, bukan staf, bukan karyawan Old Trafford. Mereka ini, supporter.

Seperti juga FPI dan FUI, terkadang, supporter sepakbola bisa melakukan hal hal yang mengerikan. Kalau anda ingat, Piala Dunia 98 pasca Beckham menerima kartu merah dan pada akhirnya berdampak kepada keluarnya Inggris dari Piala Dunia, amarah supporter inggris begitu menakutkan. Mereka membakar boneka Beckham dan ada yang menusuk nusuk boneka tersebut. Itu, adalah sebuah ancaman yang serius. Mereka melakukan itu, karena mereka merupakan pendukung Inggris yang ingin Inggris menang. Saking inginnya, kekecewaan mereka beralih wajah jadi kebencian. Apakah kemudian FA bertanggung jawab terhadap aksi mengerikan pada supporter? Ya tentu tidak.

Yang Beckham lakukanpun setelah itu hanya bisa meminta maaf. Karena memang dia salah dan pada akhirnya tindakan dia (menendang Simeone) menyebabkan kerusuhan.

Saya halnya dengan reaksi mengerikan dari FPI dan FUI, Pak Basuki sadar bahwa memang itu adakah reaksi dari apa yang beliau katakan. Tapi, Mas Anies dalam beberapa kesempatan pernah mengungkapkan ketidak setujuannya dengan pendekatan SARA yang diambil berbagai pihak. Berulang kali beliau mengingatkan untuk mengembalikan pilkada kepada pertarungan gagasan dan program. Beliau sadar betapa krusialnya pendekatan radikal yang diambil banyak pihak dan mencoba meredam bahkan hingga pendekatan personal.

Banyak yang bertanya kepada saya, apa pendapat saya tentang kejadian tersebut.

Menurut saya, Pak Basuki ada benarnya dan juga ada salahnya.

Benar, bahwa beliau tidak menghina ayat dan tidak menghina agama.

Itu benar. Makanya banyak orang yang memarahi saya karena katanya kenapa saya mendukung Anies-Sandi tapi tidak pernah secara terbuka memarahi Pak Basuki karena ucapannya menghina agama. Ya karena saya merasa dia tidak menghina.

Yang beliau katakan kalau anda lihat videonya, adalah bahwa program yang sedang beliau sosialisasikan saat itu akan berjalan walaupun beliau sudah tidak menjabat. Jadi masyarakat tidak perlu kuatir. Ini program yang bagus dan baik untuk warga, dan walau beliau tidak lagi menjabat karena misalnya kalah dalam pilkada, program akan jalan terus.

Nah sebenarnya, harusnya omongan Pak Basuki sudah cukup sampai sini saja. Karena toh, yang dimaksud sudah tersampaikan dengan baik. Cukup.

Tapi entah kenapa, beliau melanjutkan dengan membahas soal kemungkinan warga tertipu atau terhasut orang yang menggunakan sebuah ayat dari surat Al Maidah. Ini, yang salah. Ini, yang tidak perlu. Ini, yang membuat banyak orang mengatakan bahwa Pak Basuki punya komunikasi politik yang buruk. Yang ngomong bukan saya lho ya, coba aja google “komunikasi politik ahok” & lihat siapa saja yg bicara demikian

Di dunia public speaking saja, termasuk stand-up comedy, sudah jadi aturan dasar bahwa kalau kita adalah umat dari sebuah agama tertentu, sebaiknya dalam omongan kita di atas panggung tidak bawa bawa agama lain apalagi ayat sucinya. Ini dasar sekali. Karena kita bukanlah umat dari agama tersebut. Pertama tama, pemahaman kita akan dengan mudah dipatahkan oleh umat dari agama yang kita bahas bahas. Kedua, akan dengan mudah memancing kesalah pahaman.

This is basic public speaking.

Di sini, Pak Basuki salah. Makanya, beliau pada akhirnya meminta maaf. Sebagaimana David Beckham minta maaf, karena tindakannya menendang Simeone itu benar benar tidak perlu. PS: Coba lihat video Beckham nendang Simeone deh, bener bener ga penting.

img_8260

Sejauh ini, kita sudah lihat beberapa aspek yang membuat kita semakin yakin bahwa Pilkada dan sepakbola tidak jauh berbeda. Tapi, masih banyak yang bisa kita bahas.

 

Selanjutnya, adalah mengenai komentator.

Di pilkada, sebagaimana sepakbola, ada banyak komentator. Baik yang resmi di televisi, maupun komentator amatir yang ada di jejaring sosial. Semua komentar yang berseliweran di jejaring sosial, sah sah saja. Siapapun bebas berkomentar. Tinggal kita pintar pintar menyaring mana yang sekiranya benar. Lagipula, sebanyak banyaknya komentar yang ada di jejaring sosial, toh penentunya, adalah yang ada di lapangan.

Komentator Pilkada belakangan mengkritik pilihan Anies – Sandi menggunakan Salam Bersama. Yaitu bentuk tangan terbuka sebagai salam, yang diambil inspirasinya, dari Bung Karno.  Ternyata, “Merdeka” tidak disampaikan dengan tangan terkepal ke atas, tapi dengan tangan terbuka. Itu arahan resmi dari negara yang diperintahkan Bung Karno.

Seperti ini contohnya

img_8521

 

Maaf salah foto, maksudnya yang ini…

img_8254

 

Komentator berkata, salam terbuka itu tidak praktis karena tidak bisa menggunakan tangan untuk mengeluarkan gestur angka 1, 2, atau dalam konteks Anie-Sandi, angka 3. Padahal, saya merasa lelah dengan gimmick semacam itu. Sudah sangat ketebak, usai paslon dapat angka, segala meme dan gimmick terkait angka langsung berkeliaran. Jangankan menggunakan gimmick angka 3 dalam salam, nanti anda akan banyak lihat materi kampanye yang bahkan tidak menampilkan wajah Anies-Sandi. Saya tahu banyak yang bilang ini tidak praktis. Tapi kalau kita semua terus terusan bertahan dengan cara cara lama, kapan negara ini akan bertemu kampanye menyegarkan yang mau meninggalkan yang usang? Kenapa tidak kita kembalikan ini ke masalah gagasan dan program?

img_8255

Ada lagi komentar Budi Waseso yang komplen karena katanya Anies diminta untuk membuat program mengatasi narkoba dalam bentuk buku panduan terkait narkoba yang diusulkan ke Mas Anies jamannya beliau masih jadi Mendikbud tapi tidak dijalankan. Katanya Buwas “Anies Cuma iya iya aja tapi tidak dijalankan”. Komentar ini boleh boleh aja sih diucapkan beliau. Masalahnya, buku yang beliau ingin, sudah ada.

img_8440

Dan beliaupun tahu itu. Mas Anies berkata terakhir kali ketemuan bahkan Buwas tidak membahas hal ini. Jadi pertanyaannya, kalau beliau tahu bukunya sudah ada, terakhir ketemuan tidak dibahas, lalu kenapa sekarang jadi masalah?

Nah tapi komentator paling banyak adalah dari orang orang yang berkomentar karena judul berita semata tanpa membaca isi. Atau dari gambar potongan berita yang lepas dari konteks sesungguhnya. Atau komentator dari media yang salah kutip bahkan ada juga yang mengisi artikelnya dengan opini penulis. Yang seperti ini sebaiknya berhati hati. Mudah sekali kita bereaksi tapi lebih bijak kalau sebelumnya kita bertanya “Ini beneran? Masak sih?”

Contoh kasus, adalah berita yang naik belakangan mengenai pernyataan Mas Anies terkait KIP dan KJP. Orang banyak bereaksi, ada yang ngamuk, ada yang mengaku “hilang respek” (yang ini paling kocak) tanpa benar benar paham atau setidaknya berusaha untuk memahami. Mungkin bias karena keburu benci. Kalau mau lihat dari sisi yang berbeda, coba baca jelasnya di sini. Sadari bahwa sebenarnya, yang Mas Anies inginkan, adalah hanya yang terbaik untuk warga Jakarta dan atas arahan Presiden Jokowi sendiri.

 

Pilkada, akan masih berjalan hingga 15 Februari.

Dibilang masih lama, sebenarnya Cuma 4 bulan. Dibilang sebentar, tapi lumayan lama.

Yah, sedang lah.

Tapi semoga, dalam perjalanan pilkada kali ini, kita tahu ke mana harus arahkan fokus. Siapa yang layak mendapatkan perhatian, siapa yang tidak. Mana yang perlu ditanggapi, mana yang sebaiknya didiamkan. Ada yang mengajak diskusi, ada yang hanya sekadar ingin memaki.

Ujungnya, rasanya tidak ada satupun yang menginginkan hal buruk terjadi pada Jakarta. Semua mau yang terbaik, walaupun dengan preferensi cara menuju ke sana yang berbeda beda.

Seandainya, dalam riuhnya pilkada kali ini anda sedikit pusing, ingat saja bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda antara pilkada dan sepakbola

Anies Akan Cabut Larangan Terima KIP Bagi Anak Tidak Mampu

*Anies Akan Cabut Larangan Terima KIP Bagi Anak Tidak Mampu*

Jakarta– Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akan mengintegrasikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai program nasional arahan Presiden dengan Kartu Jakarta Pintar (KJP) bila keduanya terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Terobosan ini mensyaratkan pencabutan Pasal 49 Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 174 Tahun 2015 yang melarang peserta didik pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk menerima bantuan biaya personal pendidikan lain, termasuk bantuan dari pemerintah pusat.

Pasal 49 Pergub ini membuat para penerima KIP yang sebetulnya dari keluarga tidak mampu di Jakarta tidak bisa mencairkan dana yang sebenarnya sudah ditransfer ke rekening mereka. “Larangan itu juga menghambat integrasi KIP dengan KJP di Jakarta,” kata Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta, Minggu (30/10).

Pada 2015 tercatat ada 117.414 siswa di DKI Jakarta yang dilaporkan Kemdikbud menjadi penerima KIP. Namun, ditemukan laporan dari bank penyalur bahwa tingkat pencairan dana tersebut sangat rendah. Artinya bahkan ketika siswa sudah menerima transfer uang dari Pemerintah Pusat ke rekening yang bersangkutan, siswa tidak mencairkan dana tersebut. Rupanya, keengganan pencairan dana yang sudah menjadi hak para siswa penerima KIP karena ada larangan dari Pergub 174/ 2015. Akibatnya sampai 25 April 2016 masih ada 87.627 siswa (74,6%) yang tidak mencairkan dana yang berasal dari Program Indonesia Pintar (PIP) yang disalurkan Kemdikbud itu.

Setelah melalui berbagai koordinasi antar-instansi yang belum optimal dan untuk klarifikasi lebih jauh, Anies Baswedan yang saat itu menjabat Mendikbud secara khusus mengirimkan surat kepada Gubernur DKI Jakarta. Surat bernomor 19239/MPK.A/KU/2016 tanggal 27 April 2016 ini selain menyampaikan perkembangan pencairan KIP yang lambat di ibu koya, secara tegas meminta agar Gubernur DKI Jakarta mengizinkan siswa penerima PIP tahun 2015 untuk mencairkan bantuan tersebut dan dalam hal ini meminta bahwa mereka dikecualikan dari ketentuan pasal 49 Pergub 174/ 2015. “Meminta agar Gubernur DKI Jakarta mengirimkan surat edaran ke sekolah tentang pengecualian tersebut,” demikian isi surat Kemdikbud kepada Gubernur DKI Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menjawab surat tersebut melalui surat Sekretaris Daerah dengan nomor 533/-078 tanggal 25 Mei 2016 yang menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki program Kartu Jakarta Pintar dan meminta agar bantuan dana untuk siswa miskin di Jakarta tersebut dialihkan ke daerah lain. Jawaban ini mengonfirmasi bahwa masalah pencairan PIP di wilayah Jakarta disebabkan oleh adanya Pergub 174/ 2015 dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bersedia untuk mengecualikan penerima KIP dari ketentuan ini.

“Kebijakan penolakan ini patut disesalkan karena sebenarnya konsep KJP dapat digabungkan dan diintegrasikan dengan konsep KIP,” ujar Anies Baswedan.

Program Indonesia Pintar merupakan pengembangan konsep bantuan siswa miskin yang artinya memang bersifat bantuan langsung tunai dan bukan beasiswa. Bantuan ini diberikan berdasarkan kondisi ekonomi siswa dan bukan berdasarkan prestasi. Keperluan biaya lain seperti beasiswa dan bahkan kebutuhan buku dan seragam untuk siswa sudah dialokasikan dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) atau dari KJP tetapi ditemukan bahwa kebutuhan untuk hadir di sekolah juga ditentukan oleh ketersediaan dana pendukung. Karena itu, KIP dapat digunakan termasuk untuk biaya transportasi, uang saku atau keperluan pendukung bersekolah lainnya.

Studi Bank Dunia dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyimpulkan bahwa kehadiran siswa ke sekolah tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan biaya bersekolah dan sarana pendidikan, tetapi juga masalah kebutuhan biaya pendukung seperti biaya transportasi, uang saku, dan kebutuhan lainnya. Sedangkan, BOS sudah diatur untuk menutup biaya bersekolah dan bahkan dapat untuk membeli seragam dan perangkat lain untuk siswa miskin. Namun, selama ini belum ada alokasi bantuan tunai untuk kebutuhan lain. Karena itulah bantuan semacam ini dirancang melalui Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang kemudian dikembangkan menjadi Program Indonesia Pintar melalui KIP.

Dengan penolakan ini terdapat 87.627 siswa (74,6%) di wilayah Jakarta yang kehilangan kesempatan untuk mencairkan uang sebesar antara Rp450 ribu sampai Rp1 juta per-siswa per tahun pada 2015. Bahkan untuk 2016 dikhawatirkan lebih besar lagi karena tahun ini terdapat 334.726 siswa yang akan menerima KIP, lebih banyak dari jumlah penerima tahun 2015 yaitu117.414 siswa. Bila kebijakan ini tidak diubah maka kesempatan ini juga akan hilang dan lebih besar lagi jumlah penerima yang kehilangan kesempatan bantuan ini.

“Dengan integrasi KJP dengan KIP itu nanti diharapkan dapat membuat program nasional berjalan beriringan dengan program daerah dan pada akhirnya warga dan siswa miskin di Jakarta dapat mengoptimalkan berbagai model bantuan yang dapat mereka terima dari berbagai sumber,” kata Anies.

img_8542

img_8543

StreetTeamMKS

Juru Bicara Makassar akan jadi kota terakhir sebelum akhirnya ditutup di Jakarta.

Tanggal 13 November akan jadi perjalanan terakhir saya. Terakhir kali packing koper. Terakhir kali terbang. Terakhir kali check in hotel. Terakhir berjelajah.

Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengajak followers di Makassar dan sekitarnya untuk gabung ke #StreetTeamMKS.
– Seluruh anggota Street Team MKS akan mendapatkan ID Card Street Team sebagai identitas resmi
– Tugas utama Street Team MKS adalah sales & promotion
– Ada kesempatan untuk kamu mendapatkan All Access ID. Nanti kamu bisa bebas kemanapun ketika acara. Kita bisa ngobrol-ngobrol di backstage & di ruang tunggu tapi pas saya mau latihan jangan ganggu ya. Juga ada kesempatan untuk mendapatkan 1 tiket Platinum gratis, terserah mau dijual lagi supaya uangnya jadi milikmu atau dipakai sendiri untuk nonton (siapa tahu belum punya tiket)
– Pendaftaran untuk street team MKS dilakukan via twitter atau instagram (tinggal komen di posting IG tentang StreetTeamMKS) cukup dengan menyatakan kesediaan kamu & menggunakan tagar #StreetTeamMKS. Pendaftaran ditutup 19 okt, jam 19.00 dan nanti akan ada @SetyaningWulan baik di twitter maupun IG dari manajemen saya yang akan menghubungi kamu untuk selanjutnya
Lebih lengkapnya tentang cara bekerja dan apa saja yang kamu dapatkan akan saya jelaskan secara langsung ketika kita ketemuan 🙂

Ini perjalanan terakhir saya. Lets make it special
Join the team,  be a part of StreetTeamMKS