Mencari Minyak

Kadang menjadi seorang Pandji bisa teramat melelahkan.

Proses berpikir ketika saya menulis materi stand-up, menulis naskah film, mencari metoda promo untuk film atau misalnya untuk tur dunia, adalah sama: Dengan menggali.

Menggali terus, dan terus, dan terus, mencari sesuatu yang saya sebut sebagai Minyak. Analogi dari ide. Sesuatu yang berharga yang jadi bahan bakar.

Yang sulit adalah ketika pada saat yang bersamaan, keadaan membuat saya harus menggali hal yang berbeda. Menggali ide untuk materi stand-up, menggali ide untuk promo tur dunia, menggali ide untuk promo album, menggali ide untuk menulis naskah film baru dan seterusnya.

Ibaratnya ada sebuah lahan luas. Hari ini saya menggali sebuah titik. Lalu belum selesai saya gali, saya pindah titik dan menggali lagi. Kemudian saya pindah lagi dan menggali di tempat yang berbeda.

Mungkin kalau saya fokus di hanya 1 atau 2 titik, kelak saya akan menemukan minyak. Tapi karena saya pindah pindah dari satu titik ke titik lain kemudian kembali ke titik pertama, lalu muter lagi terus menerus, penggalian itu tidak kunjung menemukan minyak.

Ada titik yang hanya perlu digali satu-dua kali tiba tiba langsung ketemu. Itu yang terjadi dengan ide kampanye pilihpandji.com.

Saya sedang berada di sebuah lahan, saya perhatikan baik baik dan menyadari “Ada sesuatu di sini”. Saya gali, tiba tiba muncrat minyak.

Tapi di kesempatan lain saya bisa menggali terus menerus tapi tidak kunjung mendapatkannya.

Sering juga, saya tidak mau mengakui sebenarnya tapi bagaimanapun sering terjadi, saya dituntut untuk segera menemukan minyak, lalu dalam tekanan otak saya berputar lebih cepat, mata saya mencari sekeliling tiba tiba mungkin insting, mungkin pengalaman, atau mungkin sekadar keberuntungan, saya bisa melihat sesuatu dan berpikir “…. tunggu tunggu, ada sesuatu di sini”. Lalu saya gali dan tidak lama ketemu minyak.

Karena sering terjadi, saya tidak jarang meninggalkan sebuah titik eksplorasi sampai momen ketika saya tidak bisa menunda lagi. Dalam keterdesakan, sering kali Minyak justru ketemu.

Tapi yang sering saya pikirkan sebagai bahan argumen, “Apakah itu Minyak yang terbaik. Ataukah hanya yang terbaik PADA SAAT ITU?”

Itulah juga yang sedang saya lakukan saat ini.

Menunda.

Harusnya saya tidak menulis ini.

Harusnya saya sedang sibuk menggali. Mencari Minyak.

 

 

Untuk yang penasaran

Sering kali terjadi: Ingin seperti idola, tapi tidak mau kerja sekeras idola.

Saya suka sekali follow orang orang seperti Kevin Hart, The Rock, Chris Rock & Glenn Fredly di Instagram. Senang liat etos kerjanya. Sekalian mengingatkan saya selalu, bahwa mereka saja yang sudah sesukses ini masi kerja sekeras ini.
Apalagi saya.
Siapa saya sampai saya bermalas-malasan sementara orang orang yang saya kagumi pagi-pagi naik pesawat ke sebuah kota, kerja di sana sampai malam, pulang ke kota awal & sesampai di rumah masih olahraga atau mungkin besok paginya masih lari pagi.
Anehnya, cara berpikir saya tidak dimiliki orang orang lain. Padahal, menurut saya ini pemikiran yang sederhana sekali.
Kalau ada orang misalnya mengidolai saya. Atau berharap sesukses saya. Tapi di depan saya dia bilang males open-mic, males menulis materi baru, lalu ekspektasi dia apa?
Bagaimana dia berharap bisa jadi seperti saya kalau dia tidak mau kerja sekeras atau bahkan lebih keras dari saya.
Atau misalnya dalam konteks lain. Saya suka melihat, orang orang seperti The Rock & Kevin Hart yang sudah jelas terkenal masih kerja keras untuk mempromosikan karya karya mereka. Baik film maupun pertunjukan spesial.
Kalau mereka saja sekeras itu berpromosi, ya apalagi saya. Lha wong dunia sudah jauh lebih kenal dia saja dia masih tur promo. Apalagi saya yang di negara sendiri masih tidak dikenal atau sering kali hanya kenal wajah tapi lupa nama?
Nah lucunya, saya sering melihat komika komika yang malas malasan atau seadanya dalam mempromosikan pertunjukan mereka. Padahal saya saja, yang menurut penilaian objektif saya lebih terkenal daripada mereka masih mondar mandir radio, minta interview dengan vlogger ini dan youtuber itu. Masih bikin kerja sama barter untuk bisa berpromosi di KRL atau taksi. Lelah fisik karena mondar mandir, lelah mental karena harus menjawab pertanyaan yang sama atau menceritakan hal yang sama.
Kenapa mereka ngetweet pun jarang?
Mungkin malu mempromosikan dagangan sendiri? Takut disindir orang “jualan mulu?”
Saya pernah melewati itu. Saya lewati dengan pemikiran:
Saya antusias akan karya saya sendiri, makanya saya terus bercerita.
Dan..
Saya tahu kalau saya tidak komunikasikan, yang benar benar mau nonton / membeli karya kita tidak akan bisa tahu.
Di luar sana ada orang orang yang mau beli karya kita, tapi mereka harus dibantu.
Dibantu diberi informasi tentang karya kita. Tentang harganya. Tentang tanggal rilisnya. Mereka menunggu info itu dari kita. Yang kalau kita malu berbagi informasi, mereka tidak akan tahu. Apalagi mempersiapkan dirinya untuk membeli karya kita.
Tapi sebenarnya promosi, hanyalah satu aspek dari kecenderungan yang lebih penting.
Kecenderungan, untuk tidak mau kerja sekeras orang yang kita anggap lebih sukses.
Saya ingat Kevin Hart punya semacam matra yang dia selalu ucapkan bersama teman temannya sebelum naik panggung.
“Everybody want’s to be successful, but nobody wants to put the work in”
Mungkin ini penghalang orang orang biasa dengan mereka yang kita anggap sukses.
Tuh informasi penting. Untuk yang penasaran.

Pentingnya Perempuan BerHak

Boah Sartika, perempuan yang usianya belum 20 tahun ini baru saja meraih sebuah prestasi.

Di Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV dia sudah berjalan lebih jauh dari peserta perempuan manapun sejak pertama kali kompetisi ini berdiri. Boah berhasil masuk 6 besar. Sri Rahayu dari SUCI 4, tadinya memegang rekor dengan masuk 7 besar. Di season yang sama ada Gita Bebhita namun Gita keluar lebih dini dari Sri. SUCI 5 tidak ada finalis perempuan. SUCI 6 ada Vyna tapi dia tidak jalan sejauh Sri.

Baru Boah yang berhasil.

Di Stand-Up Comedy Academy Indosiar, prestasi lain diraih komika komika perempuan. SUCA 2 melahirkan 2 bintang: Arafah yang jadi juara 3 dan Aci Resti yang jadi juara 1.  Aci telah menjelma jadi komika luar biasa seperti yang banyak bisa tonton di pertunjukan 1/2 Jalan milik Ernest Prakasa di mana Aci tampil sebagai pembuka. Arafah memiliki ketenaran yang mungkin tidak pernah dia bayangkan dengan jumlah followers Instagram dan Twitter yang membludak, serta kontrak Brand Ambassador-nya dengan sebuah brand busana Muslim. SUCA 2 sebenarnya juga masih ada 1 nama perempuan lagi, Istiqomah alias Kokom.

SUCA 1 juga melahirkan bintang bernama Musdalifah yang dicintai karena kepolosannya dan logat Pinrang, Sulawesi-nya yang kental.

Menariknya, pada tahun yang sama, pertunjukan Stand-Up Comedy “Perempuan BerHak” kembali hadir setelah beberapa tahun hiatus. Pertunjukan ini sukses dalam banyak sekali hal. Performance seluruh perempuan di pertunjukan ini luar biasa, penjualan tiket mereka membanggakan, dan brand Bank Mandiri mempercayai mereka dan menjadi sponsor.

Namun ironisnya, tidak ada satupun nama nama perempuan yang saya sebut sebelumnya di atas yang menonton.

Bahkan, tidak ada satupun komika perempuan yang menonton.

Ini adalah hal pertama yang saya sadari setelah saya mengagumi hebatnya penampilan semua komika.

Karena setelah kekaguman itu reda, di kepala saya “Sayang amat mereka ga ditonton sama komika komika perempuan lain..”

Ketidak hadiran mereka membuat saya berpikir banyak.Tidak mau atau tidak bisa datang? Diundang datang atau tidak?

Karena Perempuan BerHak, bukanlah pertunjukan stand-up comedy perempuan yang hebat. Perempuan BerHak adalah pertunjukan Stand-Up Comedy yang hebat. Titik. Tidak perlu dimuat “Perempuan”. Saya cukup yakin ada banyak pertunjukan Stand-Up Comedy di Indonesia tahun ini yang tidak sematang, seberani, selucu mereka.

Di luar Gamila yang bernyanyi, Perempuan BerHak diisi oleh 5 komika, 3 di antaranya datang dari SUCI. Sakdiyah SUCI 1, Jessica Farolan SUCI 2, Alison Bulebdg SUCI 3. Seluruh komika perempuan setelah angkatan ini tidak ada yang hadir. Bahkan Yuli dan Chandra yang seangkatan dengan Jessot dan Alison pun tidak kelihatan di antara penonton.

Selain mereka bertiga ada Fathia dan Ligwina Hananto.

Mereka berlima, layak disebut sebagai komika komika papan atas.

Sakdiyah hadir dengan sudut pandang dan topik yang tidak tertandingi. Pace-nya mungkin tidak selalu disukai banyak orang, tapi seluruh punchline yang Sakdiyah lempar kena dan semuanya memiliki bobot yang mengagumkan.

Jessot selalu berhasil mengejutkan penonton. Keberaniannya untuk mendobrak apa yang dianggap lingkungan sosial layak dan tidak layak dibahas oleh perempuan sungguh inspiratif. Dan kendatipun dia kembali membahas bit mengenai “Memek” (Merengek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia – red) tapi bit bitnya setelah itu justru yang mengagumkan dalam penulisan. This should be her legacy.

Fathia bisa jadi merupakan komika perempuan yang paling disukai banyak penonton. Tidak seperti Jessot yang berani dan Sakdiyah yang datang dengan misi, Fathia jadi penyambung lidah kebanyakan perempuan di ruangan. Apa yang Fathia bahas dari sisi keperempuanan dan relationship saya yakini membuat banyak perempuan menganggap Fathia sebagai pahlawannya.

Alison adalah komika favorit saya malam itu. Berani, lucu, itu sudah jadi kewajiban menjadi komika, tapi sudut pandang dan intelektualitas Alison malam itu… Unbelievable. Siapapun komika yang menonton Alison malam itu akan terhenyak dan kaget. Betapa mengagumkan bit bit yang dia bawakan.

Tapi superstar malam itu, bukanlah komika komika tadi. Saya tidak tahu ini hal baik atau tidak, tapi komika terbaik malam itu justru merupakan orang yang paling baru masuk ke dunia ini: Ligwina Hananto.

She had this swagger of a rockstar. Yang lain ada yang terlihat sedikit ragu, ada yang terlihat sedikit goyang. Wina dari masuk sampai keluar memegang penonton dalam genggamannya, bahkan dengan kondisi hijabnya sempat lepas ketika dia mau masuk panggung. Seluruh bitnya kena. Seluruh POV-nya diamini penonton. Bahkan bit favorit saya malam itu adalah bit Cinderella milik Wina. Ditulis dengan insightful, bit ini kalau kita cermati kata per kata, kalimat per kalimat, bisa jadi  bahan pembelajaran baik untuk siapapun yang mau belajar penulisan komedi. Ditambah pemahaman politiknya, Wina memberi warna yang terang pada Perempuan BerHak.

Perempuan BerHak adalah pertunjukan stand-up comedy yang sangat bagus dan terutama untuk komika perempuan Indonesia, menjadi sangat penting.

Karena jangkauan komika komika perempuan Indonesia kini sama rentangnya dengan yang laki. Dari yang membahas sospol seperti Sammy Notaslimboy, ke komika yang membahas keresahan seperti Acho, hingga yang absurd seperti Coki Anwar, juga ada di jajaran nama nama komika perempuan. Dari Wina dan Sakdiyah, ke Aci dan Jessot, hingga Boah dan Arafah, komika perempuan Indonesia memiliki ragam warna.

Kesemuanya butuh ruang untuk tumbuh dan pertumbuhan butuh inspirasi untuk jadi pemacu.

Kalau Perempuan BerHak terus melaju dengan konsisten. Mungkin tur, mungkin rutin tiap tahun, dia akan jadi motor untuk lahirnya lebih banyak komika perempuan berkualitas.

Ada amin ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BalasDi18 Spesial 2017

Wongsoyudan, bukanlah fanbase.

Mereka yang mengikuti karya saya sejak lama mungkin sering mendengar/ membaca betapa saya tidak menyukai punya fans.

Apa sih fans itu? Fans itu kan kependekan dari Fanatics. Kalangan orang orang yang fanatik.

Fanatik dalam hal apapun, selalu berbahaya.

“Bahaya” ini levelnya pun macam macam.

Dari mengamuk karena ganti potongan rambut (Justin Bieber), sampai membunuh karena kecewa terhadap ucapan idolanya (John Lennon).

Saya lebih baik dikagumi karyanya daripada dikagumi orangnya.

Karena orang bisa berubah. Gaya rambut bisa berganti. Kalau karena gaya rambut ganti lalu orang yang  mengaku ngefans sampai ngamuk, maka layak dipertanyakan: Yang selama ini anda suka itu karya saya atau penampilan saya?

Berapa waktu yang lalu, di Instagram saya ada orang yang mengatakan berhenti jadi fans saya. Gara gara saya main film dengan Young Lexx.

Lah, itu ngaku ngaku nge-fans sebenarnya mengagumi karya saya atau pertemanan saya?

I dont like fans.

Fans are demanding. Friends are understanding.

Karenanya, Wongoyudan lebih mirip sebagai kumpulan orang orang dengan ideologi yang sama: Bahwa hidup kita ini adalah perjuangan.

Wongso: Bangsa. Yudo: Perang. Secara harafiah adalah Bangsa Perang namun menurut almarhum Ayah yang membawa nama Wongoyudo, yang dimaksud dengan Wongsoyudo adalah Ksatria. Knights.

Itulah mengapa, Wongsoyudan mengikuti karya karya saya yang sebenarnya teramat subjektif, karena mungkin ada kesamaan rasa. Terlepas dari setuju atau tidak dengan sudut pandang saya, mereka bisa merasakan beratnya perjuangan saya dalam mengutarakan sesuatu atau dalam memperjuangkan sesuatu.

Hubungan saya dengan penikmat karya saya sifatnya sakral. Seperti saudara sedarah. Bayangkan rasanya menjadi saya yang mengutarakan kejujuran, disambut hangat oleh orang yang bahkan tidak pernah saya tatap wajahnya. Hanya karena kesamaan rasa, ini bisa terjadi.

Di Juni 2017 ini, seperti Juni-Juni sebelumnya selama 4 tahun ke belakang, saya mau mengapresiasi penikmat karya saya dengan memberikan hadiah:

Paket berlibur untuk 2 orang ke Lombok selama 3 hari 2 malam naik pesawat Garuda Indonesia. Tanggal liburannya akan ditentukan sendiri oleh si pemenang. 

Caranya: Fotolah bersama semua karya saya yang anda punya. Tidak harus lengkap kok. Yang penting semua yang anda punya, dan anda, di foto bersama. Boleh merchandise, CD, DVD, buku, Tiket pertunjukan saya, dll. Kemudian ceritakan mengapa anda mengikuti karya saya selama ini. Apa yang berkesan. Apa yang menempel. 

Formatnya bisa berupa tweet, bisa posting foto di Instagram. Bisa video di instagram. Bisa video di youtube. Bisa Steller. Bisa facebook notes. Bisa tulisan di blog.

Yang penting dipublikasikan dan colek saya di twitter atau instagram berserta link menuju postingan anda.

Kuis BalasDi18 saya buka dari 1 Juni 2017 sampai 18 Juni 2017 jam 21.00 WIB.

Pengumuman tanggal 19 Juni 2017 jam 09.00 WIB.

Sebelumnya, terima kasih karena sudah mengikuti karya karya saya selama ini. Tembus badai opini dan tsunami hujatan.

Selamat berjuang dalam BalasDi18 Spesial 2017

 

Walk Away

‪A very special person asked me, why do i still wanna be friends with people who publicly mocked me for political reasons. ‬‪She asked me why i didn’t fire back.‬

‪The answer is because they don’t know any better.

They forgot that way before they even mention the word “politics” in their conversations, I lived it. I know more. Seen more. Met more. Understood more.

They speak as if they’re morally better than me, and so their truth is the truth.

But my eyes saw more than they ever can see.

Most importantly, I forgive them & my decision for not confronting them is a decision based on the unity I plan to keep after the election.‬

‪I care about how they feel. I can take the heat. And so I walk away. ‬

Bikin Gampang

Bingung milih siapa di Pilkada?
Kita bikin gampang deh

Mari bicara anti korupsi.

Dengan segala kasus Rp 23.3 trilyun Dana Guru, pameran buku Frankfurt yang dikaitkan ke Mas Anies, atau Panama Papers yang dikaitkan ke Bang Sandi, kenapa ada 4 mantan pimpinan KPK yang secara terbuka mendukung Mas Anies dan Bang Sandi?
Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Chandra Hamzah, Taufiequrachman Ruki.

4 orang mantan pimpinan KPK.

5 orang kalau kita hitung Busyro Muqoddas. Kedekatan beliau dengan Mas BW dan Mas Anies membuatnya mendukung Mas Anies walau tidak menjadi juru bicara dan jadi bagian dari tim pemenangan.

Pertanyaan kritis yang sederhana:
Kalau memang Pak Basuki bersih dari korupsi, kenapa tidak ada satupun mantan pimpinan KPK yang secara terbuka mendukung beliau?

Ada masalah apa dengan Pak Basuki?

Pesan apa yang ingin 5 orang mantan pimpinan KPK ini sampaikan dengan mendukung Anies Sandi dan bukan Pak Basuki?

Siapa yang anda percaya paling paham mengenai pemberantasan korupsi? Siapa yang anda percaya opininya dan penilaiannya terhadap siapa yang paling anti korupsi?

5 mantan pimpinan KPK, atau sebuah persona di Twitter?

Silakan direnungkan.

Kita ganti topik

Mari bicara kelayakan menjadi Pemimpin Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.

Bicara soal siapa yang tepat menjadi Gubernur.

Selain 4 nama mantan pimpinan KPK tadi, ada lagi barisan tokoh tokoh yang mendukung Anies Sandi:

Sudirman Said, Hamdan Zoelva dan Faisal Basri.
Iya, Bang Faisal.
Sekarang mungkin anda jadi tahu satu lagi alasan mengapa saya jalan bersama Mas Anies di Pilkada ini. Karena sayapun masih jalan bersama Bang Faisal. Dari 2012 sampai sekarang.

Tadi pagi kami baru saja bertemu. Sarapan bareng. Ngopi. Membicarakan persatuan Jakarta dan apa dampak Pilkada kali ini dengan Indonesia ke depannya nanti. Bang Faisal ingin gabung tapi harus jadi saksi untuk pernikahan keluarganya pagi tadi.

Lalu siapa yang anda percaya paling paham mengenai pemerintahan?

Siapa yang anda percaya opininya dan penilaiannya terhadap siapa yang paling tepat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta?

Sekadar entertainer di twitter? Atau nama nama hebat di atas?

Maksudnya, saya juga entertainer, tapi saya akan menyarankan anda menjadikan opini saya sebagai referensi. Tapi urusan siapa yang tepat jadi Pemimpin Pemerintahan Provinsi, ya jelas percayakan pada orang orang tadi.

Kalau mau nyari Indonesian Idol,  boleh kita pegang opini seorang penyanyi.

Kalau mau milih Film Terbaik, boleh pegang opini seorang sutradara.

Ini memilih Gubernur DKI Jakarta. Dengarkan opini mereka yang memahami pemerintahan dan penyelenggaraan negara.

Sekarang mari coba kita jajarkan semua nama tadi:

Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Chandra Hamzah, Taufiequrachman Ruki, Busyro Muqoddas, Sudirman Said, Hamdan Zoelva, Faisal Basri. Di depan mereka, Anies dan Sandi.

Justice League, lewat tuh.

Ada apa sehingga orang orang hebat ini bersatu mendukung Anies Sandi?

Benarkah ini sekadar memenangkan seorang di Pilkada Jakarta? Atau ada sesuatu yang lebih besar dan lebih penting untuk diperjuangkan?

Coba renungkan sebentar.

Mari Ganti Topik Lagi

Mari kita bicara keteladanan.

Pendukung Pak Basuki paling seneng mengatakan bahwa beliau hanya kasar kepada penjahat.

Anggaplah itu benar.

Maka sebagai Pemimpin, apa yang ingin diajarkan kepada warganya?

Apa yang ingin dijadikan teladan?

Bahwa kita boleh maki maki orang hanya karena kita benar?

Bahwa kalau kita merasa benar, kita boleh menuduh seseorang sebagai maling?

Kota seperti apa yang akan lahir dari pemimpin yang mencontohkan bahwa kita boleh memaki ketika merasa benar?

Apakah damai yang akan terjadi di Jakarta?

Baiklah, kita ganti topik lagi

Sekarang mari kita bicara kebijakan.
Reklamasi. Kita jadikan contoh kasus, sebagai simbol kebijakan era Pak Basuki.

Anda tentu dengar segala polemik dan perdebatannya. Sekarang mari saya kasih gambaran:
Pertama, yang menolak reklamasi, adalah Ibu Susi Pudjiastuti. Menteri Kelautan dan Perikanan.


Kedua. Greenpeace pun menolak reklamasi.

Ke tiga. WALHI juga menolak reklamasi.

Lalu siapa yang anda percaya opininya terkait Reklamasi?

Siapa yang menurut anda kompeten untuk anda pegang omongannya mengenai Reklamasi dan dampaknya terhadap lingkungan serta Nelayan?
Sebuah akun di Twitter, atau mereka di atas?

Pertambahan pertanyaan untuk anda pikirkan.

Nah sekarang, kalau memang buruk untuk lingkungan, buruk untuk nelayan, buruk untuk Jakarta karena menyebabkan banjir? Lalu mengapa dijalankan?

Untuk tahu alasannya, mari kita gabungkan kembali pertanyaan pertanyaan sebelumnya di atas.

Mengapa 5 pimpinan KPK bergabung mendukung Anies Sandi? Mengapa Faisal Basri, Sudirman Said juga berbaris dengan Anies Sandi? Mengapa ditentang Greenpeace, WALHI, Ibu Susi Pudjiastuti, tapi tetap dibangun pulau pulau Reklamasi? Mengapa kemudian kota ini penuh maki maki?

Jawabannya:

Karena yang bermasalah adalah keberpihakan Pak Basuki.

Yang bukan berpihak kepada warga Jakarta, kalau benar benar dipelajari dan dicermati.

Dalam kasus Reklamasi, coba kita baca kronologinya dari jaman Soeharto keluarkan Keppres 52, sampai PTUN Jakarta memenangkan gugatan nelayan Jakarta Utara melawan Pemprov DKI Jakarta.

Baca baik baik, di tanggal 12 Desember 2013 sampai 23 Desember 2014.

Penting untuk dicermati, nama pengembang Agung Podomoro.

Berpihak kepada siapa Pak Basuki?

Pengembang?

9 Naga?

Aguan?

Sekadar informasi, Pulau Reklamasi A, B, C, D dan E adalah milik Kapuk Naga Indah, satu grup dengan Agung Sedayu. Pulau A dan B ijinnya belum keluar karena terkait dengan Provinsi Banten. Pulau C dan D dihentikan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekitar Mei 2016.

Nah walau sudah secara hukum distop, tapi kalau kita lihat Google Map-nya hari ini, sudah berdiri begitu banyak ruko. Mau tau harganya berapa? Rp 11 Milyar. Dan, sudah habis terjual.

Jadi ini Pulau untuk siapa?

Harga ruko 11 Milyar Rupiah, sementara penghasilan Nelayan sejak Reklamasi adalah Rp 300.000 sehari .

Ini rakyat siapa yang bela?

Apakah tidak berpihaknya Pak Basuki kepada rakyat hanya sekali dua kali?

Sebagai gambaran, Pak Basuki tercatat sudah kalah di sidang lawan rakyatnya sendiri sebanyak 8 kali.

Dari Sidang Penggusuran gugatan warganya Pak Basuki yang tinggal di Bukit Duri . Tempat tinggal mereka digusur oleh Pemprov DKI.

Hingga ke Ibu Retno Listyarti, warganya Pak Basuki yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Jakarta . Yang dipecat Pak Basuki karena hadir di TV ketika membeberkan sejumlah kecurangan UN yang terjadi.

Sampai Reklamasi yang digugat warganya Pak Basuki Nelayan yang hidupnya dari laut karena di sidang terbukti menjalankan Reklamasi dengan diam diam

Ketika berkali kali seorang Gubernur digugat warganya sendiri DAN KALAH. Pantas kita bertanya: Untuk siapa kebijakan kebijakannya selama ini? Yang pasti bukan untuk warganya sendiri. Lah wong warganya menggugat dan menang atas Gubernur DKI.

 

Sekarang anda paham kan mengapa kami berdiri berbaris di seberang Pak Basuki?

Bukan karena dibayar.

Bukan karena teman.

Bukan karena diimingi jabatan.

Bukan karena kami toleran kepada yang intoleran.

Kendatipun dicemooh, kendatipun diolok olok, kami tetap suarakan dukungan.

Saya, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Chandra Hamzah, Taufiequrachman Ruki, Busyro Muqoddas, Sudirman Said, Hamdan Zoelva, Faisal Basri, seluruh dewan pakar, seluruh relawan dan seluruh pendukung, berdiri bersama karena yang diperjuangkan adalah Keadilan bagi Jakarta yang dititipkan harapannya kepada Anies Sandi.

Sebenarnya kan sederhana yang Mas Anies dan Bang Sandi perjuangkan.

Keadilan Sosial.

Anda bisa punya tempat tinggal sendiri, yang lain diperjuangkan supaya punya punya juga hunian yang bisa disebut sebagai milik sendiri.

Anda bisa punya pendidikan tinggi, yang lain diperjuangkan supaya punya pendidikan yang baik dan berkelanjutan.

Anda bisa punya penghasilan, yang lain diperjuangkan supaya punya penghasilan.

Anda punya kehidupan, yang lain dibela, dibantu, diperjuangkan supaya hak asasi yang tadinya direnggut darinya bisa dikembalikan: Kehidupan.

Walaupun harus melawan pihak pihak yang sukses atau tidaknya mereka didefinisikan dari tumbuh atau tidaknya profit perusahaan.

Ini kan yang namanya Keadilan Sosial?

Ini kan yang diinginkan?

Karena tanpanya, tidak akan ada Persatuan.

Mas Anies bilang, hari ini kita “Celebrating Diversity in the abscence of Unity”

Merayakan keberagaman dalam ketiadaan persatuan.

Kejahatan, kerusuhan, radikalisme dan intoleransi, itu dampak.

Dampak dari sebuah masalah sosial yang mendasar: Mereka tidak punya apa yang anda punya.

Belum terlambat untuk turun tangan dan ikut masuk ke jajaran dari mereka yang berjuang untuk keadilan sosial di Jakarta.

19 April 2017, anda tahu apa yang harus dilakukan.

Pilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Pilih nomor 3.

Pilih Persatuan Jakarta, yang datang dari Keadilan Sosial yang diperjuangkan.

Tuh saya kasih tau, biar kita bikin gampang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pikiran anda

Saya masih SMP ketika mereka bercerai.

Kedua orang tua saya.

Saya tahu mereka sudah tidak akrab. Pisah kamar cukup lama. Kami tidak lagi pernah makan siang atau makan malam bersama satu meja. Padahal dulu itu seperti sebuah kewajiban. Tidak sopan kalau tidak makan di meja makan bersama. Bersamaan dengan menurunnya kemampuan ekonomi kami, saya melihat melonggarnya Ibu dan Ayah.

Ketika mobil masih ada 2, keduanya sedan. Pembantu rumah tangga ada 4. Supir ada 1. Kami sering sekali berlibur bersama.

Ketika mobil tinggal suzuki carry hitam pinjaman temannya Ayah, celengan saya dibongkar Ibu untuk belanja ke pasar karena tak ada uang, rumah mulai kosong dan Ibu mulai beli makanan dari luar, kami tidak lagi pernah jalan jalan. Bahkan rumah besar itu mulai terasa mencekam.

Ibu dan Ayah jarang sekali secara terbuka berkelahi di depan anak anaknya, tapi kami pernah sekali waktu melihat mereka kelepasan berantem. Diakhiri dengan Ibu menangis dikelilingi anak anaknya.
“Biarin aja, biarin Ibu pergi dari sini”, katanya sambil menangis.

Tapi Ibu tidak pernah pergi.

Ibu tetap bersama kami.

Hingga akhirnya, suatu hari Ibu membuka omongan bahwa mereka akan bercerai dan Ibu mau anak anak bersama Ibu.

Ayah, ketika menjelang perceraian hanya pernah mengajak nonton ke bioskop. Mungkin ingin menghabiskan waktu tersisa bersama selama masih serumah.

Buat saya, rasanya aneh sekali melihat mereka bercerai.
Karena saya tidak benci keduanya.

Mungkin kalau saya benci salah satu, perceraian akan lebih masuk akal dan bahkan dinanti. Tapi saya tidak benci keduanya, saya bahkan sayang keduanya.

Karenanya, saya selalu bingung harus bagaimana bersikap.

Ketika bersama Ibu, Ibu selalu marah marah mengenai Ayah. Ketika bersama Ayah, Ayah yang ngomel ngomel mengenai Ibu.

Berdiri di tengah tengah orang yang saya sayangi tapi mereka saling membenci, adalah perasaan yang hingga hari ini tidak saya sukai.

Ini, saya yakini, jadi alasan mengapa Persatuan adalah isu yang sangat melekat dengan saya.

Lama saya berpikir, mengapa saya peduli sekali dengan persatuan Indonesia? Tidak mungkin karena saya sosok bijak yang begitu peduli akan bangsanya. Mana mungkin karena saya seorang patriot yang bak pahlawan ini berjuang untuk kebaikan semua.

Pasti ada hal lain. Pasti ada hal yang lebih mendalam. Pasti ini karena hal yang personal.

Karena saya sangat terganggu melihat orang berseteru, terutama ketika saya kenal dua duanya dan berteman dengan keduanya.

Saya sering terjebak dalam kondisi seperti ini.

Waktu di SD Triguna, saya dalam limbo yang aneh. Saya berteman dengan anak anak populer sekolah, tapi berkawan dengan anak anak badung di sekolah. Dana dan Beni, adalah 2 anak yang teramat badung. Sayapun mengakui itu. Kesamaan mereka, adalah sama sama bongsor dan ingusan. Dana sering sekali bicara kasar, matanya melotot dan senyumnya lebar kalau mau melakukan sebuah kenakalan. Beni anaknya sering bohong. Sering nipu. Dan sering nemu aja barang untuk dijual. Dari kertas surat warna warni sampai foto kopian dari buku mewarnai. Tapi ketika mereka bilang mau main ke rumah saya, saya tidak menolak.

Tidak ada anak anak lain yang mau ke rumah kalau lagi ada mereka. Sering kali saya bermain berdua dengan Dana di rumah. Atau bermain berdua dengan Beni. Beni tidak mau ke rumah kalau ada Dana dan begitu juga sebaliknya. Lucu, sesama anak nakal ternyata tidak akrab.

Usai saya main benteng dengan anak anak di sekolah, Beni atau Dana mendatangi untuk ngobrol. Anak anak lain bubar. Kadang kejadiannya sebaliknya, saya lagi sama Beni atau Dana, didatangi teman teman lain, Beni atau Dana beranjak pergi.

Ketika di SMP 29 pun serupa. Karena saya sering dibully, melawak jadi cara saya melindungi diri. Kemampuan melawak membuat saya diterima anak anak nakal di SMP, tapi tetap akrab dengan anak anak lain di sana. Bermain dengan 2 kelompok ini benar benar berbeda. Yang anak anak baik punya geng mobil (padahal yang bisa nyetir cuma 1, dan padahal masih SMP pula) namanya Eclipso. Mainnya di rumah seorang kawan di Bintaro. Rumahnya gede. Yang punya rumah ganteng. Anak anak populer lah.

Kalau sama yang nakal nakal, saya punya nama julukan “K-Chill” yang sebenarnya artinya “Kecil”. Maaf alay, namanya juga anak SMP. Kalau main selalu di sekolah sampai sore atau kalaupun main ke rumah selalu ganti ganti rumahnya. Dan pulangnya pasti ada aja sepatu yang ilang. Saya pernah main ke rumah salah satu teman yang rumahnya adalah rumah kosong yang didobrak pintunya. Di dalam hanya ada tiker dan kertas koran serta sejumlah lukisan. Teman saya, namanya Gajah Mada, ayahnya adalah pelukis jalanan. He literally, has nothing.

Ketika main sama yang geng nakal mereka nanya ngapain saya main sama anak anak borju geng mobil yang gak pada punya mobil. Ketika main sama anak anak populer saya ditanya ngapain main main sama anak anak nakal, mereka pada suka mabok, nelen megadon, dll. Bahkan ketika SMP, saya tahu bahwa siapa yang nakal dan siapa yang sok, adalah hanya masalah perspektif.

Di Kolese Gonzaga ketika SMA saya terus terang tidak merasakan konflik batin ini. Tidak ada gap sosial di sana. Semuanya sama. Kaya, miskin, orang jawa, flores, cina, semuanya sama. Budayanya sudah terbentuk sejak lama. Keputusan Gonzaga untuk hanya menggunakan seragam putih abu 3 hari dalam 6 hari sekolah membuat dampak seragam berangsur hilang, dan menampilkan semua apa adanya. Selama bertahun tahun SMA tersebut mengajarkan bahwa beda itu udah kondisi yang terjadi dari sananya, yang harus dipikirkan kemudian adalah bagaimana bersatu dalam perbedaan. Interaksi adalah cara yang Gonzaga ambil. Dari ospek dan Jambore yang diawasi ketat para guru, tempat nongkrong bernama Pohon Mangga, Gardu dan Parmo (semuanya sekarang udah nggak ada), bahkan tawuran antar angkatan (saya tahu ini terdengar aneh, tapi ini memang cara mereka “kenalan”, karena berantemnya tidak pernah didasari benci, hanya usil usilan aja. Kapan kapan saya ceritain lebih dalam), anak anak Gonz itu selalu punya sarana interaksi antar anak anaknya.

Ketika kuliah di FSRD ITB, wuah ini gapnya banyak.

Anak Bandung – Anak Jakarta. Yang anak Bandung merasa anak Jakarta sok keren. Yang anak Jakarta ngerasa anak Bandung suka nyindir mereka.

Anak Seni Rupa – Anak teknik. Yang anak SR ngerasa anak teknik sok pinter dan nggak asik. Yang anak teknik ngerasa untuk apa sekolah teknik ada Seni Rupa.

Anak Konseptor – Anak Kerja. Yang anak anak kerja ngerasa geng konseptor ini bossy dan cuma mau ngonsep tapi nggak mau kerja. Mereka merasa dijadiin kuli. Yang geng konseptor merasa “Kan gue udah ngonsep, masak kerja juga? Emang elo kemarin ikut ngonsep? Nggak kan?”

Nah saya, main dengan orang orang di 6 kelompok tadi.

Bisa dibayangkan nggak pusingnya saya hehehehe.

Bahkan kalau anda masih ingat ramainya #IndonesiaTanpaFPI serta #IndonesiaTanpaJIL, saya berteman dengan orang orang di kedua kelompok ini. Waktu saya wawancara orang ITJ saya dibilang pro FPI, waktu saya wawancara orang JIL saya dibilang pro islam liberal.

Makhluk apa saya ini? :)))

Sebenarnya, saya adalah makhluk yang berteman dengan siapa saja.

Makhluk yang sejak lama merasa bahwa sering kali konflik antar manusia, terjadi karena prasangka.
Makhluk yang tahu persis, bahwa di benak setiap manusia, dia adalah orang yang baik dan benar.
Pilkada (Nah, saya tahu anda dari tadi nunggu kapan tulisan ini mulai nyambung ke pilkada hehehehe) membuka peluang terhadap konflik antar manusia ini. Konflik sosial, begitu sering disebutnya.
Tidak selesai selesai konflik terjadi yang sebenarnya sih kaitannya dengan politik politik juga.
Belakangan ini, tidak berbeda.

Belum dingin kepala karena bertebarannya spanduk Jakarta Syariah, kemarin timses Paslon 2 merilis sebuah iklan di jejaring sosial. Saya asumsikan anda tahu video yang saya maksud. Video ini dibuka dengan sebuah adegan kerusuhan dan dilanjutkan dengan pesan pesan mengenai kebhinnekaan. Versi awal yang saya lihat, menggunakan suara Pak Djarot yang seakan berorasi, ditutup dengan pesan “Pilih Keberagaman”. Tau video yang saya maksud?

Menurut saya, iklan itu bisa jadi merupakan iklan politik terbaik yang saya pernah lihat. Kualitas produksinya, musiknya, pidato Pak Djarotnya, talentnya, kostumnya.


The ad is SO good. But it is SO wrong at the same time.

Orang banyak memasalahkan adegan kerusuhannya. Orang dengan identitas Islam, melakukan aksi massa yang rusuh, membawa spanduk “Ganyang Cina”.

Bagi saya, adegan itu tidak salah. Adegan itu pernah terjadi di Jakarta. Tidak perlu menoleh jauh ke 98, kejadian tersebut baru baru ini terjadi di Jakarta. Rasanya menolak itu pernah ada, hanya terjadi karena 2 hal: Buta sejarah atau berpura pura demi politik saja.

Bukan di situ letak kesalahannya.

Letak kesalahannya, adalah pesan yang tidak sengaja tersampaikan secara tersirat dalam iklannya. Justru karena tidak sengaja, makanya berbahaya.

Mari saya jelaskan.

Yang diinginkan iklan itu, adalah agar kita memilih Kebhinnekaan.

Kelihatannya, yang membuat iklan dan semua yang terlibat lupa:
Kebhinnekaan adalah kenyataan kita. Kita sekarang sudah Bhinneka. Kita bahkan tidak punya kuasa akan kebhinnekaan Jakarta. Begitu tidak kuasanya kita menahan kebhinnekaan ini, warga Jakarta tidak akan pernah kehilangan kebhinnekaannya.

Dan ketika saya bicara Bhinneka, saya tidak hanya bicara agama. Tidak hanya bicara suku. Saya juga bicara latar belakang pendidikan. Saya bicara kebhinnekaan latar belakang ekonomi. Saya bicara kebhinnekaan opini. Cara pandang. Tata bahasa. Gaya hidup.

Jakarta, adalah kota yang Bhinneka, dan dia akan Bhinneka selamanya.


Yang jadi masalah tidak pernah kebhinnekaannya, yang jadi masalah adalah Persatuan dari kebhinnekaan itu tadi.

Kalau kita menerima kebhinnekaan kita, lalu lalai dalam memperjuangkan persatuannya, kita akan tinggal dalam sebuah kota yang ramai dan jadi sempit karena sekat sekat. Lalu apa bedanya dengan Jakarta di era Belanda yang sengaja mempraktekkan politik segregasi dan membagi bagi kebhinnekaan Jakarta dalam sekat sekat berupa kampung homogen di dalam kota yang beragam. Kampung Ambon, Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Bandan, dll. Bahkan ada aturan Belanda yang menyatakan bahwa pendatang harus tinggal berkumpul dengan sesamanya. Karena itu lahirlah, Kampung Cina.

Bukan ini kan yang kita mau?

Bukan sekadar Kebhinnekaan yang kita perjuangkan, tapi justru persatuannya.

Lalu kalau memang persatuan yang kita harus perjuangkan, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan?


Hal yang paling kita hindari, adalah, mendorong orang menjauh dan membangun tembok pemisah. Terutama dalam situasi politik yang panas ini 

Iklan di atas tadi, mencoba memberi garis batas yang jelas: Ini kita, ini mereka.
Kalau kita bersatu, mereka tidak akan bisa menang.

Dan sialnya, yang digambarkan dengan “mereka” diberi identitas Islam.

Saya tahu, bukan itu yang diniatkan.

Tapi justru ketidak sengajaan ini menunjukkan satu hal: Mereka tidak tahu cara bersikap di Jakarta yg Bhinneka.

Jakarta tidak butuh konflik.

Jakarta tidak butuh cara pandang “Kita vs Mereka”

Kalau ini gaya kampanyenya, ketika mereka menang, bisakah dibayangkan apa yang tersisa darinya?
Masalahnya, cara pandang ini sudah mereka miliki sejak lama. Apakah anda sudah melihat iklan ini?

Kalimat “Apakah anda memilih berpihak pada penyeragaman, radikal serta intoleran, atau memilih berpihak kepada keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika” justru menggambarkan sikap yang jauh dari keinginan untuk mempersatukan.

Saya tahu mereka bicara kepada anda dan ingin mengajak anda masuk dalam barisan yang mereka sebut “Keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika”, tapi itu berarti mereka meninggalkan bahkan mendorong jauh orang orang yang tidak memilih mereka dengan melabeli orang tersebut sebagai “Penyeragaman, radikal dan intoleran”.

Kalimat itu saja, sudah menyinggung dan membuat kecewa banyak orang. Mungkin juga anda. Karena anda tidak merasa sebagai orang jahat. Tapi kini, iklan barusan memasukkan anda ke dalam sebuah kotak dengan label radikal dan intoleran. Padahal niatnya, ingin memilih pemimpin yang peduli dengan pendidikan, misalnya.


How does that makes you feel?

Kini kita bisa bayangkan kalau mereka menang, mereka menyisakan kelompok di luar lingkaran mereka.


This is us, that is them.

Ketika hari itu datang, saya ragu persatuan akan hadir di Jakarta.

Yang bikin situasi membingungkan, saya bingung harus arahkan kekecewaan soal video video dan arahan kampanye di atas kepada siapa. Karena Pak Basuki ketika ditanya wartawan terkait iklan tersebut, jawabannya “Kamu tanya timses” seakan beliau tidak mau tahu apa apa tentang iklan ini.

Memang Pak Basuki di sebuah wawancara pernah berkata beliau tidak mikirin strategi. Strategi urusannya parpol dan pemenangan (timses).

Nah kita musti bagaimana ketika arah sebuah kampanye cenderung memicu konflik lanjutan, tapi paslonnya sendiri tidak tahu apa apa mengenai strategi kampanye-nya. Diserahkan sepenuhnya kepada parpol dan timses.

Kita ini mau memilih Pemimpin lho.


Commander In Chief. The Leader. The guy with the vision.

Bagaimana kita mau percaya ini adalah orang yang bisa membawa persatuan, kalau dia tidak punya kuasa kemana arah kampanyenya?

Sekarang, pertanyaan terpenting:

Apa yang kita harus lakukan agar tercipta persatuan?


Dengan mencoba memahami, sebelum membenci

Karena seringkali ketika kita akhirnya memahami, tidak lagi kita membenci.

Pahami, apa sebenarnya yang memicu konflik ini. Apa yang menyebabkan peruncingan ini.
Karena di balik setiap anak yang mem-bully, ada masalah mendalam yang tidak pernah diselesaikan. Menghukum anak itu, tanpa menyelesaikan masalah mendalam tadi, hanya akan membuat si anak semakin dendam dan kelak kembali membully.

Lalu bagaimana caranya bisa memahami mereka?

Dengan interaksi.

Dengan membuka jalur komunikasi.

Tidak dengan mendorong mereka, tapi justru menarik mereka dekat. Cukup dekat untuk bisa diajak berdialog.

Betul, dibutuhkan keberanian. Karena mereka dikenal memiliki cara cara yang beringas.

Betul, dibutuhkan keteguhan. Karena caci maki akan datang mengatakan kita seakan lupa apa yang pernah mereka lakukan.

Betul, semua hal di atas.

Karena itu memang tidak semua orang bisa melakukannya 🙂

Kita perlu pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan siapa saja, bisa mengundang siapa saja, bisa memfasilitasi pertemuan dengan kelompok mana aja. Namun pada saat yang bersamaan, tegas ketika sudah ada yang melanggar aturan.

Agar kita bisa sama sama jembatani perbedaan di antara kita dan saling selam keresahan dan keinginan masing masing.

Saya curiga, sebenarnya masalahnya selama ini hanyalah kecemburuan.

Mas Anies selalu bilang bahwa kita sulit bisa mengharapkan ada persatuan kalau masih ada ketidak adilan sosial.

Jelas ada kecemburuan, ketika tinggal di kota yang sama, menghirup udara yang sama, sama sama menyebut dirinya warga Jakarta, tapi yang satu tidak bisa bersekolah, yang satu tidak punya pekerjaan, yang satu pekerjaannya hanya sebatas buruh karena pendidikannya tidak tinggi, yang satu tidak punya rumah, yang satu direnggut dari kehidupannya.

Keadilan Sosial, adalah kunci penting agar persatuan bisa terjadi.

Dan memang itulah yang jadi program Mas Anies dan Bang Sandi.

Pendidikan untuk semua yang berkualitas dan berkelanjutan sehingga kita tidak diamkan anak anak yang tidak bersekolah.

Peluang kerja untuk warga Jakarta.

Tempat tinggal di Jakarta.

Transportasi yang dapat diandalkan dan sesuai dengan kebutuhan warga.

Itu semua di atas, adalah instrumen yang membantu hadirkan Keadilan Sosial.

Keadilan yang akan membuka jalan menuju persatuan.

Saya tahu, Pak Basuki menginginkan anda agar memilih kebhinnekaan.

Tapi anda dan saya tahu, Mas Anies Baswedan lah yang mengerti cara meraih persatuan.
Tidak percaya? Mari kita berandai andai.

Ketika kondisi Jakarta memanas, lalu ada potensi konflik antar agama akan terjadi di Jakarta, siapa yang anda utus untuk bertemu mereka agar konflik mereda?

Basuki Tjahaja Purnama atau Anies Baswedan?

Tidak perlu menjawab.

Saya bisa dengar jawaban di pikiran anda.

Gak Dateng Debat

Ada yang merasa nggak, Pilkada kali ini sangat panas?

Lebih panas daripada Pilkada 2009. Mungkin lebih panas daripada Pilpres 2014 kemarin. Makanya banyak yang bilang ini “Pilkada rasa Pilpres”.

Tensi tinggi. Maki maki.

Mau tau alasannya mengapa kampanye Pilkada 2017 sepanas ini?

Ada beberapa.

Yang pertama:

Karena banyak yang masih belum melepas muatan kampanye Pilpres yang lalu.

Dan kalau kita tidak belajar untuk melepas muatan kampanye Pilkada kali ini, kampanye Pilpres 2019 akan jauh lebih membakar lagi.

Kampanye Pilpres 2014 memang berakhir kurang enak dengan salah satu kubu (Prabowo-Hatta) mengajukan tolak banding ke MK karena memiliki bukti kecurangan-kecurangan yang mereka nyatakan mereka bawa dalam 10 mobil box. Tapi walau begitu toh akhirnya Prabowo hadir pada acara sumpah jabatan Presiden-Wakil Presiden sebagai penutup bab tersebut.

Banyak kubu pada akhirnya belum bisa melepas muatan kampanye pilpres akhirnya ketika mulai memasuki kampanye Pilkada DKI. Yang kalah masih kesel. Yang menang masih jumawa.

Tapi di Pilkada DKI, ada sesuatu yang menarik terjadi.

Pak Jokowi berniat untuk mendatangi Pak Prabowo. Lawannya dalam kontestasi Pilpres kemarin. Pak Jokowi tidak mengundang Pak Prabowo ke Istana, justru ingin bertamu ke kediaman Pak Prabowo.

Pak Prabowo menyambut baik niat tersebut dan menyambut Pak Jokowi dengam Marching Band. Memberikan hormat, sebelum kemudian menjabat tangan Pak Jokowi. Mereka kemudian berkuda dan difoto media massa. Foto yang setiap kali saya lihat saya selalu menggumamkan lagu “You’ve got a friend in me” dari soundtrack Toy Story.

Di kesempatan lain, Pak Prabowo datang ke Istana kemudian mereka berfoto media ketika sedang ngeteh sore.

Apa yang terjadi? Dua orang ini kan bertarung sengit di kampanye pilpres. Kok malah asik asik santai begini?

Selain ada langkah politik yang diambil Pak Jokowi terkait situasi saat itu, dua sosok ini mau menunjukkan gestur “Pilpres 2014 sudah berlalu”

Dan memang sesungguhnya, sudah jauh berlalu.

Orang orang yang terlibat langsung di kampanye, pasca Pilpres sudah kembali ke kehidupan masing masing, kembali beraktivitas dan kembali berbuat untuk kebaikan dirinya atau bangsa.

Siapa yang belum?

Banyak Pendukungnya.

Saya sendiri sering ditanya terkait tweet tweet saya yang lampau mengenai Pak Prabowo. Padahal saya sudah jelaskan di wawancara dengan Pange dan Iman di #Asumsi bahwa penilaian saya berubah terhadap Pak Prabowo tapi sikap saya sama.

Sejak pertemuan Pak Jokowi dan Pak Prabowo penilaian saya terhadap beliau berubah. Saya mulai bisa melihat figur Prabowo yang dikagumi begitu banyak pendukungnya. Saya bisa melihat ada perubahan positioning juga dari Pak Prabowo. Kalau orang yang melihat pertemuan Prabowo dan Jokowi tidak berubah penilaiannya saking bencinya, maka seharusnya penilaiannya berubah terhadap Jokowi karena beliau jelas kini menunjukkan gestur bersahabat.

Tapi sikap saya terhadap beliau masih sama. Bahwa kalau beliau mau maju sebagai capres, sebaiknya dijalani dulu saja sidang HAM yang lama tertunda. Karena selama kasus 98 terus terkait dengan beliau tanpa kejelasan maka orang akan terus mempertanyakan.

Saya pernah bahas ini dengan seorang kawan di Gerindra dan dia memahami sikap saya. Bahkan menurutnya Pak Prabowo tidak pernah menghindar dari sidang yang menyangkut hal ini, karena dari awal pun beliau selalu menjawab panggilan dari pemerintah bahkan pernyataan bahwa beliau siap bertanggung jawab atas tindakan yang diambil anak buahnya pun keluar dari masa sidang kode etik yang sudah berjalan. Sebuah pertanyaan besar juga untuk pemerintah RI mengapa sidang atas semua kasus HAM yang pernah terjadi di Indonesia tidak dijalankan sesuai dengan janji Presiden Jokowi semasa kampanye 2014.

Maka dengan damainya Jokowi dan Prabowo, yang perlu ditanya tanya adalah: Kenapa pendukung pendukungnya masih pada panas? Apalagi dengan panasnya Pilkada kini, pertanyaannya kemudian ketika mereka tidak bisa melepas muatan kampanye Pilpres, untungnya apa?

Ketika kampanye Pilkada ini usai, kita semua harus belajar untuk melepas atribut kampanye dan kembali ke kehidupan sehari hari. Supaya kampanye Pilpres tidak lebih panas lagi kondisinya.

 

Yang kedua:

Pilkada kali ini panas karena maraknya fitnah.

Ini sebenarnya bukan hal baru. Yang baru itu bukan fitnahnya, tapi siapa yang menyebarkan fitnah. Kali ini pelakunya, banyak orang orang terdidik yang berpengaruh

Kelihatannya juga tidak semua yang menyebarkan fitnah, sadar bahwa itu fitnah.

Banyak yang menyebarkan konten yang narasinya sesuai dengan keyakinannya sendiri, tanpa mencoba memverifikasi.

Begitu besar keyakinan seseorang akan sesuatu, sering kali dia menyebar luaskan informasi yang sejalan dengan keyakinannya tanpa benar benar mencoba mencari tahu apakah yang dia sebarkan itu benar atau tidak dan lebih penting lagi, akan membuat kondisi lebih sejuk atau justru lebih parah.

Kata Chris Rock

“Anyone who makes up their mind before they hear the issue is a damn fool”

Ini karena kadang kadang orang terjebak dengan ideologi mereka dalam menentukan pendapatnya terkait sebuah isu, sebelum memahami atau mendalami isu tersebut. Dalam kasus Chris Rock yang dimaksud adalah “Liberal” dan “Conservative”.

Di Pilkada kali ini, ideologi yang dipegang dan dimainkan adalah “Kebhinnekaan”

Contoh kasus, ketika banyak orang percaya pada anggapan bahwa Mas Anies intoleran karena didekati oleh ormas ormas yang dikenal intoleran, maka ketika muncul di twitter foto “Kontrak Politik Jakarta Bersyariah” orang langsung mengambil sikap ini pasti benar. Tanpa terlebih dahulu mencoba mendalami. Atau setidaknya bertanya kritis saja kepada diri sendiri “Masak sih?”

Itu pertanyaan yang valid lho.

“Masak sih Mas Anies akan membuat Jakarta Bersyariah? Masak orang orang sekitarnya setuju? Masak Pandji yang dalam stand-upnya membahas regulasi prostitusi diam diam saja akan kontrak ini?”

Sebenarnya kan asal kritis dikit, sudah bisa terbaca bahwa ini besar kemungkinan hoax.

Tapi ya namanya juga bias, sikap langsung diambil sebelum sejenak mencoba memahami.

Kejadian paling lucu soal sebaran Kontrak Syariah ini adalah proses fitnahnya disebar dan direvisi sebelum kemudian disebar lagi oleh pelakunya hehe

Pertama tama yang menyebar adalah kontrak seperti di bawah ini

Fitnah ini dengan mudah dipatahkan karena semua orang-pun bisa bikin beginian lalu diprint, difoto dan disebar.

Setelah tidak dimakan netizen, muncul versi dengan tanda tangan di bawah ini supaya lebih dipercaya…

Tapi sebelum Netizen kemakan tanda tangan yang keliatannya rekayasa digital ini, fitnah di atas langsung cepat dipatahkan. Karena ternyata tanda tangan Mas Anies tidak seperti yang di atas. Bahkan kalau buka wikipedia-pun kita semua bisa melihat seperti apa tanda tangan Mas Anies.

Berhubung sudah tahu bentuk tanda tangan Mas Anies seperti apa, baru muncullah hasil revisi hoax terbaru di bawah ini hehehe

Kocak ya?

Harusnya, anda sekarang sudah meyakini bahwa yang di atas adalah fitnah. Fitnah yang kurang terkoordinir, tapi ya tetap saja fitnah. hehe.

Dan kalau anda percaya bahwa itu adalah fitnah, anda bisa coba pikirkan dengan kritis, dari mana fitnah itu datang. Berhubung peserta Pilkada DKI tinggal 2 pasang.

🙂

Itulah mengapa ada situs fitnahlagi.com

Karena kalau dikumpul-kumpulin, ternyata banyak amat fitnahnya. Dari Anies beristri dua sampai kontrak Jakarta Syariah, semuanya dikumpulin dan ditunjukkan untuk memberi pesan. Terkadang kalau sudah panik, cara tidak terhormat-pun dijalankan.

Termasuk soal meme, spanduk, poster, kontrak politik yang berseliweran di jejaring sosial, bisa dibaca di sana.

Ted Koppel pernah berujar ketika mewawancara Sean Hannity

Sekilas info, Ted adalah news anchor senior di CBS yang sangat dihormati dan Sean adalah pembawa acara Fox News yang cenderung konservatif dan sangat mendukung Republican. Sering kali dalam acaranya, Sean jauh dari objektif, teramat bias dan memihak tapi itu karena menurutnya acaranya adalah acara Opini bukan acara berita yang mendahulukan fakta.

Ted Koppel  berujar ketika mewawancara Sean Hannity…

“You have attracted people who thinks that ideology is more important than facts”

Punya pengaruh, itu memang musti hati hati. Musti bijak dalam menyebar luaskan informasi. Saya sadar itu karena saya-pun pernah terjebak dalam menyebarkan berita yang ga bener. Saking pengen buru buru nyebarin informasinya. Karena kan sering kali ketika menemukan sesuatu yang menarik atau mengejutkan suka ada pemikiran “Wah orang musti liat nih”. Padahal kalau kita ngerem sedikit, kita akan cepat tahu bahwa itu adalah hoax.

Pilkada kali ini, menampilkan banyak sekali orang orang terpercaya menyebar luaskan fitnah. Setelah baca ini, kini kita bisa mengukur seseorang dari kelakuannya di jejaring sosial.

Apakah dia terburu buru? Ataukah dia sengaja menyebarkan?

Bahan perenungan bersama.

Nah dua hal yang kita bahas tadi, krusial untuk bisa menjalankan kampanye Pilpres 2019 dengan lebih sejuk dari pada sekarang.

Belajar melepas beban muatan kampanye Pilkada kali ini dan belajar lebih bijak menyikap hoax.

Karena yang tidak boleh jadi korban dalam kampanye politik, hari ini atau kapanpun, adalah Persatuan Indonesia.

Seberapa pentingkah, menang pilkada hingga bersedia mengambil jalan jalan curang?

Mas Anies pernah bilang

“Masih ada kehidupan setelah Pilkada. Jadi jangan ngetweet atau posting yang hanya akan bikin awkward saja ketika ketemuan setelah Pilkada Jakarta”

Dan omongan ini saya pegang betul.

Karena apa artinya menang pilkada, kalau akhirnya yang dikorbankan adalah persatuan kita?

Sudah, tinggalin fitnah fitnah dan kembali ributin program. Bahas tuh DP Nol, OK OTRIP, KJP + dan OK OCE. Atau bahkan kalau perlu, ramein deh tuh kenapa kemarin Mas Anies dan Bang Sandi gak datang debat

KJP+

Apa persamaan radikalisme, korupsi, dan terorisme?

Sama sama diakarkan dari masalah pendidikan.

 

Saya sering ditanya, “Gila nih intoleransi, udah ga bener, gak bisa ditolerir, harus dihentikan sekarang juga. Ayo kita bikin gerakkan. Apa kira kira hashtagnya?”

Terus terang, saya langsung bisa menebak arahnya.

Ini mah dengan mudah bisa menjebak kita kepada Slacktivism

Slacktivism adalah aktivisme yang membuat pelakunya merasa sudah melakukan sesuatu tanpa benar benar ada dampak yang nyata ataupun terukur.

Anda mau benar benar menyelesaikan masalah di atas?

Mulai mendukung usaha untuk membuat pendidikan lebih merata dan terakses oleh semua.

Sudah begitu banyak penelitian dan diskusi yang menjelaskan peranan pendidikan terhadap hal hal di atas.

Ini tidak terkecuali dengan kondisi di Jakarta.

Di Jakarta, kesenjangan ekonomi berdampak kepada kesenjangan dalam pendidikan.

Yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin miskin.

Ini bukan kalimat yang klise, ini realitanya Jakarta seperti yang Mas Anies jelaskan di video ini.

Banyaknya anak yang tidak bersekolah, akan kelak menjadi masalah sosial di Jakarta.

Seperti yang saya sudah pernah bahas di tulisan saya mengenai FPI. Ketidak pedulian kita, kepada permasalahan masyarakat kecil akan berbalik kepada kita dalam wujud masalah masalah yang berdampak langsung kepada kita.

Itulah mengapa, keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil teramat penting. Kelas menengah ke atas seperti anda dan saya, sudah cukup punya modal untuk mandiri. Orang orang tidak mampu ini tidak punya apa apa.

Itulah mengapa, KJP+ yang diusulkan Mas Anies dan Bang Sandi jadi teramat penting dan jadi salah satu alasan utama saya mendukung mereka. KJP+ akan bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka yang saat ini tidak bersekolah karena bantuan non tunai-nya.

Itulah mengapa, Mas Anies merupakan orang yang tepat kalau kita sama sama merasa bahwa untuk menjadikan Jakarta lebih baik maka pendidikan jadi kunci.

Dari 4 nama yang sedang berlaga di Pilkada Jakarta hanya ada 1 nama yang paham betul dan sudah dari jauh jauh hari berkontribusi terhadap pendidikan.

Begitu mengerti pendidikan, sampai Mas Anies paham di mana letak kesalahan KJP sebelumnya. Keluhan Pak Basuki mengenai KJP yang sering disalah gunakan (ada yang untuk karaoke, dll) adalah karena kesalahan dalam metoda pendataan.

KJP melakukan pendataan dari sekolah. Sekolah mengumpulkan siapa siapa saja yang mau dibikinkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), lalu kesemuanya diajukan kepada Kelurahan. Di sini tentu akan ada kemungkinan error yang tinggi. Sekolah (Kepala Sekolah dan guru guru) tentu tidak dalam kapasitasnya untuk melakukan pendataan. Makanya banyak orang orang yang tergolong mampu, mendapatkan KJP. Dari mana kita bisa tahu ini? Ya kalau ada yang sampe dipakai untuk Karaoke kayaknya itu bukan kelas bawah deh.

Mas Anies melakukan pendataan KJP+ dengan bekerja sama dan menggunakan data dari BPS. Badan Pusat Statistik. Yang memang ahli dan memang pekerjaannya melakukan pendataan. Sehingga seperti kata Mas Anies “Yang paling penting, adalah tepat sasaran”.

KJP+ harus diberikan kepada yang membutuhkan. Diberikan kepada yang justru tidak mampu. Jangan sampai orang yang mampu, yang dalam gaya hidupnya ada kegiatan karaokean, justru yang dapat manfaatnya.

Lalu bagaimana cara Mas Anies untuk mengurangi resiko penyalah gunaan? Seperti yang Mas Anies udah pernah jelaskan di media, Mas Anies mengatakan akan membagi periode turun uangnya setiap tahun ajaran baru. Sehingga, uangnya turun tepat ketika kebutuhan akan pendidikan sedang mendesak. Yang jadi masalah adalah kalau uang diturunkan bulanan, maka uangnya keburu terpakai duluan sebelum kondisi membutuhkan. Sebuah solusi cerdik.

Begitu pahamnya Mas Anies akan pendidikan, beliau sampai menyelamatkan 23,3 Trilyun uang rakyat karena menemukan keanehan dalam dana tunjangan guru.

Saya tahu, di socmed banyak yang menuding justru ini salahnya Mas Anies. Tapi sebenarnya sudah dijelaskan di sejumlah media dan bahkan sudah pernah saya tulis di blog lengkap dengan surat dari kemendikbud kepada kemenkeu.

Saya juga tahu, belakangan banyak yang mencoba mengarahkan opini mengatakan Mas Anies ga beres jadi Menteri Pendidikan. Argumennya, adalah yang di bawah ini…

Mungkin anda juga sudah pernah melihat video yang dimaksud.

Sebenarnya ini menarik. Karena andai dia tahu, bahwa sebenarnya gaji guru (PNS maupun honorer) merupakan tanggung jawab Pemprov. Bahwa guru sampai menemui Mas Anies, justru menggambarkan betapa guru tersebut tidak diurusi oleh Pemprov, dalam hal ini dinas pendidikannya.

Kemungkinannya cuma 2: Yang ngetweet nggak ngerti, atau ngerti tapi pura pura dengan tujuan merusak nama Mas Anies.

Dalam rangka khusnudzon saya merasa yang mungkin adalah yang pertama. Mungkin nggak tahu. Tapi kok malah jadi kasian.

Jangan lupa, Mas Anies ini adalah orang yang berhasil membatalkan UN sebagai syarat kelulusan. Ini juga orang yang akhirnya dengan resmi mengeluarkan aturan yang melarang perploncoan. Juga orang yang menangguhkan kurikulum 2013 yang kontroversial tersebut.

Jangan lupa, dibandingkan dengan Bang Sandi, Pak Basuki, Pak Djarot, Mas Anies adalah yang paling berpengalaman dan memahami pendidikan.

Jangan lupa, bahwa anda bisa saja membenci orang orang intoleran, berkata bahwa anda melawan korupsi, mengutuk aksi terorisme, tapi berhenti di situ saja, anda tidak akan menyelesaikan masalah.

Maka kalau anda seperti saya percaya bahwa solusi banyak masalah di Indonesia adalah pendidikan, maka kita pastikan untuk memilih pemimpin yang paling paham pendidikan.

Karena yang Mas Anies dan Bang Sandi perjuangkan, adalah pendidikan berkualitas dan berkelanjutan. Untuk semua. Lewat program mereka, KJP+

 

 

 

Perempuan Berhak

“Kenapa jarang ada komika perempuan di Indonesia?”

Pertanyaan yang cukup sering saya dapatkan dari orang orang sejak pertama kali Stand-Up Comedy meledak di Indonesia.

Sebenarnya, bukan hanya di Indonesia. Komika perempuan di dunia juga jumlahnya jomplang dengan komika laki laki.

Kalau dilihat lebih dalam lagi, sebenarnya bukan hanya profesi komika. Ada banyak sekali pekerjaan yang perbandingan pelaku laki laki dan perempuannya jomplang. Pilot, Arsitek, Pemain sepakbola, Supir, dan walaupun untuk anda, memasak identik dengan perempuan, realita-nya Chef lebih banyak laki laki daripada perempuan. Bahkan White House baru punya head chef perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah di era kepemimpinan Obama.

Jadi sebenarnya, masalahnya bukan di dunia komedi.

Masalahnya ada di dunia gender.

Jadi sulit untuk bisa menjawab dengan tepat mengapa lebih banyak komika laki laki daripada perempuan karena permasalahannya lebih mendasar.

Kalau pertanyaannya diganti “Apakah ada komika perempuan yang bagus di Indonesia?”, saya bisa jawab.

Banyak.

Seperti seni lainnya, tentu komedi juga bagus buruknya tergantung selera. Maka ketika saya menjawab “Banyak” maka yag saya maksud, adalah ada banyak pilihan komika bagus untuk banyak jenis selera komedi.

Bahkan sebenarnya, sejak meledaknya Stand-Up Comedy di Indonesia 2011 yang lalu, SUCI Kompas TV sudah hadirkan komika perempuan dan sampai sekarang masih berkarir bahkan pencapaiannya mengagumkan.

Namanya, Sakdiyah Ma’ruf.

Dan nama tersebut, sudah tersiar sampai luar negeri.

Anda mungkin belum pernah menonton dia Stand-up, tapi orang orang di Australia sudah mengenal komika perempuan muslim pertama Indonesia ini yang membahas mengenai Islam, ekstrimisme, tradisi, dan keperempuanan.

Menariknya, Sakdiyah jadi komika bukan karena dia berencana untuk itu. Dia menggemari Stand-Up Comedy dan menghubungi saya (kalau nggak salah lewat komentar di blog atau di twitter) ingin bertemu ketika audisi SUCI 1 hadir di Jogja karena dia sedang menulis thesis S2 mengenai Stand-Up Comedy. Kami janjian untuk bertemu. Dia datang ke audisi. Saya kenalkan dia kepada Kompas TV lalu Kompas TV berhasil meyakinkan Sakdiyah untuk ikutan audisi.

Kagum bukan hanya dengan kelucuannya tapi dengan sudut pandang yang ditawarkan dan ketenangannya di audisi tersebut, dia diterima masuk. Walau pada akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Hingga hari ini, nama nama komika perempuan terus bermunculan. Angkatan terkini mengenal Aci Resti dan Arafah . Bahkan SUCI 7 yang baru mulai ini, hadirkan komika perempuan Bo’ah dan Nury.

 

Kini yang kita nanti, tinggalah konsistensi.

Karena kalau ada perbedaan mendasar antara umumnya komika laki dan perempuan di Indonesia, adalah jumlah jam terbang dalam melakukan stand-up comedy.

Seharusnya, jumlah yang lebih sedikit tidak berarti mereka kalah lucu. Seharusnya walau lebih sedikit, bisa sama lucunya. Bahkan mungkin lebih. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat jumlah komika perempuan juga jauh lebih sedikit dari pada laki laki, tapi Ellen, Wanda Sykes, Amy Schumer, Whoopi, Sarah Silverman, Tina Fey, lucunya luar biasa. Mengalahkan banyak komika laki laki di sana.

Konsistensi komika komika perempuan Indonesia ini yang masih harus digenjot lagi. Malah di antara begitu banyak nama komika perempuan yang pernah didata oleh Jessot (Jessica Farolan) hanya 5 yang masih stand-up kalau saya tidak salah. Tapi tentu ada nama nama baru yang hadir dan belum tercatat di situ.

Banyak di antara komika perempuan ini yang tidak openmic serajin yang laki-laki. Mungkin juga tidak serajin yang laki-laki dalam menulis materi. Bisa jadi karena Openmic selalu sampai larut malam, penuh asap rokok pula, pokoknya bukan situasi yang kondusif untuk perempuan. Makanya saya pernah usulkan ada baiknya komika komika perempuan bikin aja openmic sendiri yang kondusif. Sekalian berjejaring dengan sesama komika perempuan. Soalnya kalau jarang openmic, ya penampilan akan terus angin anginan.

Konsistensi, bisa jadi adalah alasan mengapa pertunjukan Stand-Up Comedy “Perempuan Berhak” dihadirkan kembali. Komika komika perempuan, Sakdiyah, Fathia, Alison, Jessot, ditambah musik oleh Gamila Arief.

Pertunjukan pertama mereka waktu itu dilakukan di Eclectic Citos tahun 2014. Dan mereka, mengagumkan.

Masing masing komika bukan hanya lucu, tapi mereka juga berani dan masing masing punya warna yang unik.

Fathia dengan premis yang rasanya dekat dengan banyak perempuan ketika kita bicara soal relationship. Jessot yang sejak dulu berani dengan opininya dan brilian dalam premis, kala itu banyak self depracating tapi tidak dengan cara yang membuat dirinya terkesan cemen. Sakdiyah yang tentu ada di kelas yang berbeda dengan rata rata komika Indonesia. Dan Alison yang malam itu, melempar bit yang sampai saat ini masih jadi salah satu bit terfavorit saya di Indonesia. Mengenai keminderan orang Indonesia terhadap Bahasa Indonesia sendiri. Dihantarkan oleh seorang perempuan Inggris.

Kini mereka kembali, dengan tambahan 1 nama: Ligwina Hananto.

Dengan Wina, Perempuan Berhak kini punya seseorang yang akan menghadirkan warna yang beda. Saya belum pernah menonton dia selama ini openmic di Standupindo Jaksel, tapi karena Wina punya Political views, akan sangat menarik menyaksikan dia di atas panggung melakukan Stand-Up Comedy.

Tahun yang tepat pula untuk Perempuan Berhak kembali.

2017 adalah tahun yang ramai dengan pertunjukan Stand-up Comedy. Ernest, Soleh, Adri, Awwe, Bintang, Gilbhas, dan masih banyak lagi komika komika Indonesia membuat pertunjukan spesial dan tur tahun ini. Perempuan Berhak hadir juga di tahun paling seru untuk standupindo ini.

Usul saya, perempuan ataupun laki, sebaiknya tonton pertunjukan ini. Ketika presale dibuka, sikat secepat mungkin tiketnya. Tiket presale hanya ada 100. Hanya 100 tiket. Coba bayangin followers mereka di twitter, dijumlah lalu diingat lagi bahwa presale hanya akan menjual 100 tiket.

Nah kan, mulai kuatir 🙂

Beli tiketnya, dan ajak teman teman lain.

Bisa jadi, ini akan jadi pengalaman nonton Stand-Up Comedy paling berkesan tahun ini.

PS:

Sebagai referensi berikut nama nama komika perempuan yang saya kenal (di luar yang saya kenal masih banyak lagi sebenarnya) dan mungkin bisa dicari di youtube video stand-upnya.

Sakdiyah , Jessica Farolan, Fathia, Alison, Ligwina Hananto, Musdalifah (bukan yang mantan istrinya ), Chevrina, Gita Bhebita, Sacha Stevenson, Alonki, Chandra, Arafah, Aci Resti, Vina, Sri Rahayu, Istiqomah, Bo’ah, Nuri.

Sampai ketemu di pertunjukan Stand-Up Comedy, Perempuan Berhak