Ayah

Fri, Mar 2, 2012

Uncategorized

Hal terbesar yang beliau ajarkan adalah kegigihan.

Apabila ada 1 hal yang saya dapatkan dari beliau, adalah mentalitas pantang menyerah.

Ayah saya, Koes Pratomo Wongsoyudo, adalah orang yang eksentrik.

Jiwanya keras. Tidak punya sedikitpun ruang untuk kompromi.
Beliau terkenal mulutnya pedas, tapi orangnya juga dikenal senang bercanda

Foto foto mudanya sering bergaya dgn wajah yg dibikin lucu

Tapi kenangan saya akan beliau adalah teriakan teriakannya yang keras.

Sebagai anak tertua di keluarganya, Ayah saya sudah jadi pemimpin bagi adik adiknya. Merasa paling dekat dgn ibunya, karena itu ketika ibu kandungnya meninggal dunia dan Ayahnya menikah lagi, Ayah saya susah untuk bisa menerima Ibu “baru”nya

Ayah saya, teramat cerdas terutama dalam eksakta.
Dapat beasiswa untuk kuliah di UGM. Belum selesai kuliah di UGM dapat tawaran kuliah ke ITB. Belum selesai kuliah di ITB dapat tawaran untuk kuliah ke jepang. Jurusan Electrical Engineering.

Makanya beliau hanya bisa geleng geleng liat anaknya dapat nilai 2 di raport untuk pelajaran Matematika.

Sejak kecil, Ayah saya dikenal nyalinya besar. Karena itu walaupun bertubuh relatif kecil dibandingkan kawan kawannya, Ayah saya kalau main bola selalu jadi kiper karena berani menerjang lawan dan senang salto saltoan

Mungkin nyali inilah yang membuat beliau ketika di Jepang selalu dapat perintah untuk jadi divisi keamanan. Karena ini pula, Ayah saya belajar Karate, dari murid langsungnya M.Nakayama.
M.Nakayama, adalah murid langsung dari Gichin Funakoshi, pencipta Karate di Okinawa sana.

Pulang ke Jakarta bersama 7 rekan mahasiswa Indonesia lainnya yang juga berlatih Karate, Ayah dan yang lainnya jadi orang orang pertama yang mendirikan Karate di Indonesia.

Waktu saya kuliah di ITB, nama Ayah saya keluar di ujian mata kuliah olahraga

Saya, anaknya, ikutan Karate hanya sampai ban hijau.

Kisah hidup Ayah saya kalau dari penuturan beliau, sangat penuh masalah dan problema. Ditambah wataknya yg keras membuat keadaan jadi semakin runyam.

Ayah saya bermasalah dgn orba karena menolak kehadiran Jendral era-nya Soeharto yang dipasang jadi ketua FORKI. Menurut Ayah saya, INKAI adalah organisasi karate pertama di Indonesia, kehadiran FORKI di atas INKAI dan dengan diketuai Jendral adalah cara Soeharto menguasai kekuatan kekuatan sipil..

Ayah saya bermasalah dgn pernikahannya dgn Ibu saya. Hingga akhirnya bercerai.

Dari situ, hidupnya tidak lebih mudah.

Lucunya, walaupun beliau bercerai dgn Ibu saya, namun kehadiran beliau sebagai Ayah tidak pernah terasa hilang

Bahkan, kalau bukan karena Ayah saya, bisa saja saya tidak bisa masuk SMA..

Saya lulus dari SMP dengan nilai paspasan. Saya tidak diterima di semua SMA yang saya incar. Saya mau masuk sekolah negeri tapi diminta nyetor uang yang jumlahnya terlalu besar bagi kondisi ekonomi kami saat itu.

Ayah saya, membawa saya ke Kolese Gonzaga. Saya ujian masuk dan ternyata hanya bisa masuk ke kelompok cadangan 3. Artinya, kalau yg keterima ada yg batal, langsung ambil calon murid dari kelompok cadangan 1. Saya kelompok cadangan 3.

Sejujurnya, saya kurang yakin bisa diterima :p

Ayah saya, selama seminggu mendatangi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Melobi.
Selama seminggu penuh Ayah selalu ke Gonzaga.
Entah apa yang beliau katakan. Yang pasti ga mungkin disogok pake uang karena kami tidak punya uang sama sekali..

Hari Jumat/Sabtu saya diajak datang ke Gonzaga dan dikabari bahwa saya diterima masuk sekolah.

Kisah kisah kegigihan, keuletan seperti ini, berulang kali terjadi thd hidup Ayah saya.

Ayah saya bilang “Kita ini Wongsoyudan, sudah takdir kita untuk hidup dgn penuh perjuangan”

Wongsoyudo adalah nama keluarga saya yg diturunkan dari Ayah.
Nama beliau Koes Pratomo Wongsoyudo
Nama saya Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo

Wongsoyudan, artinya secara harafiah adalah bangsa perang. Namun yg dimaksud dgn wongsoyudan adalah para ksatria. Kalangan yang berjuang. Seperti Spartan yang dilahirkan untuk berperang, dipilih, dididik dari kecil karena nasibnya adalah utk berperang

Perjuangan terbesarnya, adalah untuk menerbitkan buku.

Selama nyaris 8 tahun Ayah saya lewat bantuan saya mencari cara agar bukunya bisa diterbitkan. Ada beberapa judul yang sudah beliau selesaikan.
Namun tidak ada satupun yg tembus penerbit.

Sekalinya Bentang Pustaka dgn baik hati menerima untuk menerbitkan, Ayah saya kurang sreg dgn hasil editan yang diberikan Bentang. Sifat keras kepalanya muncul lagi.

Kini, beliau sudah tiada.

Menyisakan penyesalan yg teramat besar dalam hati saya

“Ayah hanya minta 1 hal. Buku Ayah terbit sebelum Ayah meninggal”

Untuk 1 permintaan terakhir beliau, saya gagal.

Sedih rasanya, saya tidak bisa segigih beliau, seulet beliau, dalam memperjuangkan yang beliau cita citakan..

Sampai detik saya menulis ini, saya tidak berhenti menyalahkan diri sendiri atas kegagalan ini..

….

Aneh.. Saya tidak tahu mau menulis apa lagi..

Malah mau nangis lagi..

Am I writing this to ease my pain?

Was I looking for someone to talk to?

Is this my effort trying to reach out to someone? Anyone?

I don’t really feel like talking so where’s the sense in sharing all this?

….

Ayah, Mas Pandji mohon maaf.

Bukan hanya Mas Pandji gagal memberikan yang Ayah minta, Mas Pandji tidak ada di sana ketika Ayah menghembuskan nafas terakhir.

Mas Pandji tahu Ayah pasti ingin aku ada di sana.

Mas Pandji ingin dengar apapun yg Ayah mau ucapkan untuk terakhir kalinya kepada Mas Pandji

Maaf karena aku tidak bisa menggenggam tangan Ayah ketika menutup mata

Aku tahu Ayah pasti juga ingin ketemu Dipo dan Shira..

Aku tahu Ayah selalu bahagia ngobrol dengan Dipo.

Aku bisa lihat dari senyum Ayah

Maafkan Mas Pandji karena selalu lama membalas SMS Ayah

Maafkan Mas Pandji karena selalu terlalu sibuk dan tidak bisa sesering yg aku mau untuk ngobrol ngobrol bersama Ayah

Maafkan karena Mas Pandji belum selesai sebenarnya mencoba membuat Ayah bangga

I love you Ayah

I do even if I never say so

I’m proud of you

And hoping that you feel the same for me

Goodbye Ayah

You’re my best friend.

Love, Mas Pandji

PS: I hope they have free wifi in heaven so u can read this


5 Responses to “Ayah”

  1. arga jirga Says:

    I used to be lost in your writings, for me it’s like a new world that I haven’t reached yet. A new purpose. And a better one.

    But now, i cried all over when you write about your father. He was such a great father. An inspiration and a guru. My pray is for him, and for my father, who is also in heaven. May the light of ther love illuminates the night of our life.

    Reply

  2. ferryzoe Says:

    Rasanya ga ada yang lebih membanggakan, ketika seorang anak sangat membanggakan ayahnya..
    Trimakasih buat Bapak, aku akan belajar jadi Bapak yang baik dan dibanggakan anak-anakku waktu mereka dewasa nanti

    Reply

  3. dhaniy Says:

    Ayah adalah jendral bintang tak terhingga. Proud of your dad, Mas Pandji.

    Reply

  4. vera Says:

    “Kalian tidak akan pernah tahu apa yang kalian punya, sebelum semua itu hilang.”

    Klise memang, tapi itu yang kebanyakan dirasakan oleh beberapa orang. Menyesal ∂ΐ kemudian hari tidak ada artinya, lebih baik do the right thing with the right way.

    Love our Dad

    Reply

  5. DaughterOfAres Says:

    Halo mas panji,kenapa buku ayahnya tidak di free publish semisal dalam bentuk PDF?
    i mean, setidaknya walaupun tidak dipublish oleh publisher, tujuan utamanya untuk menyebarkan ide kan
    tetep kesampaian :)) isnt it?

    Reply

Leave a Reply


3 + = seven