Banjir, pengungsi, dan Fauzi Bowo

Ini namanya Agung.
Gue ketemu dia di Kamp penampungan korban banjir di Kampung Melayu.
Rumah dia kelelep sampe setinggi atap rumah.
Gaya yang dia perlihatkan itu bukan sakit gigi.
Itu memang gayanya kalau di foto.
kata temen temennya, cita cita Agung adalah menjadi foto model.

Agung hanya sedikit dari banyak sekali anak anak yang ada di kamp penampungan tersebut.

Bersama dengan keluarga masing masing, setiap tahun mereka ngumpul di kamp pengungsian ini yg terletak di sebuah sekolah katolik.

Yang miris adalah, sangking seringnya mereka kena banjir, mengungsi sudah bukan hal yg menyedihkan lagi. Banjir dan ngungsi sudah sama lazimnya dengan bulan puasa dan Ramadhan. Selalu ada tiap tahun, dan waktunya paling cuma geser dikit dari tahun lalu.

Dibawah ini adalah foto foto yg gue ambil waktu liputan untuk “Selamat Pagi Trans 7”

Salah satu gaya Agung. Untuk ngangkat kakinya dan dipangkukan ke kaki kirinya susah banget. Sampe temen temennya ikut bantu.

Yang satu dipalak, yang satu nonton. Antrian obat dan perawatan manula dan balita.

Suasana di pengungsian. Lihat wajah anak anak… Ignorance is Bliss

Gue foto bareng dengan mereka. Perhatiin anak ditengah yg nutup mukanya, dia bukan nangis, dia malu. Sangking malunya mukanya ga pernah dibuka pas ada gue dan kamera.

Anak anak tadi jadi lupa kegiatan “malak” pas difoto. Sebelah kanan adalah gang yg sempat kena banjir sampe setinggi genteng.

Tali yg diangkat bapak ini adalah batas ketinggian banjir. Tali tambang ini dipakai orang utk bergelantungan biar ga tenggelam, dan digunakan kapal karet utk gerak ala getek.
Sebelah kanan adalah salah satu angle dari kamp pengungsian.

Ini adalah Fauzi Bowo yg sempet gue interview. Ternyata pada saat itu, gue adalah satu satunya orang yg berhasil menginterview beliau. Yg lain ga ada yg ngikut jalan di bajir dengan kedalaman sedengkul.
Dari interview gue, kesan pertama gue terhadap beliau ternyata salah.
Abisnya, kalau kita lihat dari fotonya yg ada dimana mana, rasanya mukanya itu laki laki jawa yg ramah dan tidak kuat.
On the contrary, Bpk Fauzi Bowo ini sama “keras”nya dalam urusan watak dengan Bang Yos.
Bedanya, watak keras Bang Yos udah keliatan dari muka 🙂
Bapak Fauzi Bowo bercerita tentang solusinya berupa pemukiman sistem panggung dan waduk utk menahan air dari Ciliwung.
Dia juga menyempatkan foto foto bersama dengan orang orang yang kebanjiran.
Lucunya ketika dia bertemu dengan si nenek ini dia bertanya “Ibu orang apa?”
Si Ibu ternyata ga bisa ngomong selain dgn bahasa jawa (pertanyaan terjawab dengan sendirinya)
Beliau langsung bilang “Kalau udah tinggal lama di Jakarta, otomatis udah jadi orang Betawi dong ya?” dengan logat betawinya.
I think he’s trying to justify himself being Jawa in Jakarta.
Terakhirnya setelah sejumlah foto, dengan absurd dia bilang ke Nenek
“Saya Wakil Gubernur Jakarta”
Salah satu penjilatnya yg berseragam PEMDA langsung nyahut
“Calon Gubernur Bu! Inget inget!”

Pak Fauzi Bowo hanya senyum senyum.
Sama seperti si Nenek yg tersenyum, tapi mengingat dia ga bisa bahasa apapun selain Jawa, entah kenapa dia senyum, ngerti juga mungkin nggak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*