The Big Picture

Sebuah kesempatan langka berkesempatan ke NTT, kala itu saya datang dalam rangka revitalisasi posyandu di sana. Sesuatu yang sangat dibutuhkan banyak masyarakat. NTT adalah propinsi dengan angka kematian anak tertinggi di Indonesia

 

Sampai hari ini pengalaman berharga itu masih membekas sampai hari ini, untuk yang belum baca perjalanan saya, silakan klik di sini

 

Pulang dari Kupang, saya menyimpan pertanyaan spesifik. Dari bertanya, saya akhirnya tahu jarak garis lurus antara Kupang dengan perbatasan timorleste adalah 140km, jarak tempuh ke sana dari Kupang sekitar…. 8 jam.

 

Jakarta-Bandung lewat Cipularang juga 120km bisa saya tempuh dalam waktu 2 jam, bahkan kalau saya nyetir dengan membayangkan film FastFive saya bisa sampai Bandung dalam 1 jam saja.

 

Mengapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah infrastruktur.

 

Pemerintah Indonesia, tidak terlihat konsisten dalam niatnya membangun Indonesia karena terutama di Indonesia Timur, infrastruktur yg abal abal membuat saudara saudara kita di sana tidak bisa mendapatkan kesempatan yang adil.

 

Ini pemahaman saya tentang infrastruktur

 

1. Misalnya anda mau menjual rumah anda, lalu jalan di depan rumah, rusaknya ampun ampunan. Kalau bawa mobil di jalan tersebut, anda akan merasa seperti sedang naik rover di permukaan bulan. Lalu, pemerintah kota memperbaiki jalan di depan rumah anda tersebut. Jalan menjadi mulus seperti paha personil cherrybelle. yang manapun. Otomatis, VALUE rumah anda akan naik. Harga rumah anda meningkat dan dengan itu uang yang anda terima jadi nambah.

 

Kejadian sebaliknya terjadi di Kelapa Gading, pasca banjir 2007 banyak rumah yang dijual. Harga rumah rumah yang dijual di Kelapa Gading ini seharga Rp 300juta. Sekedar informasi, sebelum banjir, nilainya sekitar Rp 1M. Mengapa bisa turun? Karena banjir. Si penjual hanya menjual dengan harga tanah karena siapapun yang membeli rumah tersebut pasti akan harus merobohkan rumah yang lama dan kemudian membangun kembali rumah yang ditinggikan untuk mengantisipasi banjir. Ketika infrastruktur berupa Banjir Kanal Timur diselesaikan dengan harapan banjir tidak akan lagi melanda Kelapa Gading, harga harga rumah mulai kembali normal.

 

2. Selain Grameen Bank ada sebuah perusahaan namanya Grameen Phone, inisiatif Muhammad Yunus ( inisiator Grameen Bank)  bersama Nokia, untuk menyediakan ponsel kepada para pedagang kecil di Bangladesh. Ponsel tersebut dilengkap juga dengan informasi mengenai harga bahan bahan dasar, dll yang berkaitan langsung dengan bisnis mereka Sejak program ini jalan, pemasukan para pedagang kecil Bangladesh meningkat pesat. Ternyata selama ini, jarak yang terlalu jauh antara pasar (market place) dengan sawah/ ladang/ peternakan menghambat bisnis mereka. Contoh paling sederhana, seorang peternak kambing mendapatkan kabar via teman yang baru datang dari pasar bahwa ada yang ingin membeli kambing. Sang peternak, jalan KAKI sekitar 6 jam hingga ke pasar hanya untuk menemukan fakta bahwa si pembeli sudah mendapatkan dari peternak lain, dan ternyata yang dia cari adalah SAPI .

 

Handphone, membantu efektivitas perdagangan para pelaku usaha kecil ini. Saya langsung ingat cerita Angga Sasongko tentang keadaan di Mentawai. Di sana, boro boro orang bisa tahu berapa angka pasti korban tsunami, wong telfon aja ga ada. Kemkominfo pernah memberi sejumlah telefon satelit untuk Mentawai, sekarang rusak semua. Boro boro untuk perdagangan, untuk urusan nyawa saja, infrastruktur seperti telefon tidak bisa disiapkan

 

3. Saya kemarin baru dari Pasar Senen untuk kebutuhan shooting, saya berbincang dengan banyak pedagang di sana, beberapa sudah ada di sana sejak 1970an. Mereka mengeluh, pemasukan yang berkurang. Mereka mayoritas tidak menyalahkan hypermart yang sekarang marak bermunculan karena memang, menyasar segmen yang berbeda, harga Hypermart juga sebenarnya lebih mahal dan mereka juga nampaknya sadar faktor kebersihan jadi alasan mengapa orang mulai meninggalkan dagangan mereka. Obrolan ini, terjadi di lantai dasar Pasar Senen, di area pasar basah, dengan kaki berkubang entah air apa yang membasahi lantai, dengan seorang pedagang ikan yang sibuk mengusir kecoak yang lari lari di atas ikan ikan dagangan mereka.

 

Saya lalu berbincang dengan seorang bernama Pak Suwito beliau seorang pengusaha properti (mal tepatnya) yang menulis buku “Jakarta dan Pusat Perbelanjaan”. Saya bertanya, apa yang bisa pemerintah lakukan untuk membantu pasar tradisional tidak terluka seperti sekarang ini. Jawabannya, lagi lagi infrastruktur “Pemerintah daerah harusnya memberi dukungan dalam bentuk perbaikan infrastruktur. Perbaiki kondisi pasar pasar tradisional, bersihkan, buat agar pasar kembali menjadi nyaman dan bersih sehingga punya daya saing”. Beliau kemudian mencontohkan bagaimana pemda banten memberi dukungan kepada Pasar Tradisional di Serpong dengan membawa BPOM masuk ke pasar tersebut. Pasar kemudian dibimbing agar dagangannya bersih dan sehat, hingga kini akhirnya omset pedagang di sana meningkat karena harganya murah tapi kebersihan terjamin. Saya lalu bertanya, “Lalu apa yang membuat Pasar Senen sebagai pasar besar pertama di Jakarta bisa bertahan sampai sekarang?” Jawabannya lagi lagi karena infrastruktur “Coba kamu lihat, ke Pasar Senen itu gampang, mau naik bis trans jakarta bisa, mau naik KRL stasiunnya ada, mau naik mikrolet ada trayeknya, lalu ada jembatang penyebrangan ber AC dengan toko toko di dalamnya untuk orang yang mau menyebrang dari Atrium Senen ke Pasar Senen dan sebaliknya”

 

NAH

 

Saya tahu anda masuk ke blog ini untuk membaca tentang kenaikan BBM, anda mungkin bingung mengapa jadi membaca semua yang ada di atas. Jawabannya adalah, karena saya ingin memberikan gambaran umum mengenai pentingnya pembangunan dan perbaikan infrastruktur di Indonesia untuk menstimulasi kesejahteraan masyarakat. Sehingga ketika anda tahu bahwa alokasi dana untuk pembangunan infrastruktur (di APBN tulisannya: belanja modal) kecil, anda akan kaget dan mempertanyakan di mana keseriusan pemerintah

 

Apalagi karena siapapun yang menolak kenaikan BBM dengan alasan kasian kepada rakyat kecil harusnya tahu bahwa kalau memang peduli kepada rakyat kecil, harusnya uangnya dialihkan kepada infrastruktur seperti apa yang direncanakan pemerintah ( saya baca di sini dan menurut saya komik tadi itu merupakan inisiatif menarik dari pemerintah untuk menerangkan soal kenaikan BBM)

 

Mungkin sudah jelas sampai sini bahwa saya berpihak kepada kenaikan BBM. Yang belum jelas saya terangkan adalah, bahwa menurut saya anjuran untuk tidak menaikkan harga BBM juga bukan sesuatu yang salah.

 

🙂

 

Bingung?

 

Mari saya jelaskan…

 

Di Provocative Proactive Radio selasa malam kemarin (27 maret 2012) saya mewawancara Mas Aco Patunru seorang peneliti dari LPEM FEUI dan juga dosen Mikro Ekonomi, Makro Ekonomi, Perencanaan Pembangunan, Ekonomi Pembangunan dan Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan di FEUI. Saya juga membawa ke studio Mas Arief Budimanta seorang anggota DPR Komisi 11 yang membidangi keuangan, perencanaan keuangan nasional,  perbankan dan lembaga keuangan bukan bank. Beliau dari PDI-P.

 

Mas Aco pro kenaikan BBM, Mas Arief kontra kenaikan BBM.

 

Saya membawa mereka berdua ke studio karena saya lelah melihat, mendengar, membaca opini opini. Saya ingin bertemu dengan fakta fakta baik dari mereka yang mendukung dan yang tidak. Saya ingin bertanya agar kemudian saya bisa berkesimpulan sendiri dengan keyakinan penuh.

 

Latar belakang diskusinya begini, Pemerintah tidak kuat terus terusan mensubsidi BBM apalagi dengan harga minyak yang terus meningkat. Pemerintah merasa APBN bisa jebol kalau terus terusan begini.

 

Mengapa harga minyak dunia meningkat? Sederhana saja, minyak bumi adalah sumber energi yang tidak dapat terbarukan. Kelak akan habis. Sementara, jumlah manusia yang mondar mandir di atas Bumi meningkat terus. Kalau ada barang dagangan yang menipis dan yang mau beli jumlahnya banyak, pasti harga akan naik. Seperti cinta saya. Saya cuma punya cinta sedikit, yang pengen cinta dari saya banyak, walhasil cinta saya mahal….. hehehe

 

Selain itu, konflik antara Amerika Serikat dengan Iran juga menambah buruk keadaan. Iran yang ngotot terus mengembangkan teknologi nuklir akhirnya “dihukum” Amerika Serikat. AS “memerintahkan” negara negara termasuk negara kita untuk tidak membeli minyak dari Iran. Maklum, kita sudah keluar dari OPEC dan tidak lagi mengekspor minyak. Kita cuma boleh produksi 650 ribu barrel perhari sementara yg harus disokong adalah kebutuhan sejumlah 1 juta barrel. Akhirnya kita banyak mengimpor. Karena kita mengimpor maka harga minyak dunia sangat berpengaruh kepada kita. Pertanyaannya, kenapa kita musti nurut atas perintah Amerika Serikat?

 

Karena Indonesia saat ini emang masih jadi kacungnya Amerika Serikat hehehehehehehehe

 

Banyak aliran dana dari Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia baik dalam bentuk pinjaman maupun hibah. dari US AID, dan lain lain. Biasanya uang uang tersebut masuk untuk pembangunan infrastruktur. Makanya kalau kita nggak nurut, uangnya ga turun, sementara kita tahu alokasi dana untuk infrastrukur jauh di bawah yang dibutuhkan itulah mengapa pemerintah RI kemarin kemarin ini sangat mengandalkan uang dari asing.

 

Sayang memang. Padahal kalau bisa pake uang sendiri, mending pake uang Indonesia sendiri. Oiya lupa, uangnya dipake untuk subsidi BBM, hehehe

 

Kembali ke BBM, dari penuturan di atas berarti kita sama sama sepakat bahwa harga minyak dunia akan terus naik. Kalau kita terus menerus mensubsidi, maka lama lama jumlah subsidinya akan terus naik dan semakin memberatkan APBN.

 

Cadangan BBM yang Indonesia miliki, yang diperkirakan masih tersisa dalam bumi pertiwi, akan habis 25 tahun dari sekarang. Kalau habis, berarti 100% kebutuhan BBM kita akan import dari asing, pada saat itu terjadi maka kita mau nggak mau harus pakai harga dunia dan akan sangat berat. Kalau nggak percaya, silakan google sendiri harga BBM di negara negara lain. harga kita adalah yang termurah.

 

Bahkan negara lain sering bertanya “Bagaimana, Indonesia sudah menarik pajak dari BBM?” , kita akan jawab boro boro, ngurangin subsidi aja diprotes hehehe

 

Ya, betul sekali. Negara lain mulai menarik pajak dari penggunaan BBM sebagai diinsentif penggunaan BBM. Bahasa sederhananya, supaya orang males pake BBM.

 

Mengapa orang harus dibuat males? Supaya membuka jalan untuk pengembangan energi alternatif

 

Di Indonesia pengembangan energi alternatif tidak berjalan. Tidak ada investor yang mau masuk ke area itu. Mengapa? Karena harga BBM di Indonesia murah. Energi alternatif yang mereka akan tawarkan tidak akan bisa bersaing harga. Saya tahu ini karena beberapa waktu lalu saya bertanya kepada banyak pihak mengapa di Indonesia tidak ada yang mengembangkan tenaga matahari, atau arus bawah laut dan masih banyak lagi potensi energi alternatif terbarukan yang Indonesia miliki. Bahkan negara negara lain mengakui, Indonesia adalah rumah untuk sumber sumber energi alternatif terbarukan terbesar di dunia. Tapi mengapa tidak ada yang mengembangkan? Jawabannya, karena mahal dan tidak dapat bersaing dengan BBM yang masih murah di Indonesia.

 

Mas Arief, yang notabene seorang anggota DPR fraksi PDI-P, sebuah partai yang keras menolak kenaikan BBM juga mengakui bahwa harga minyak dunia akan terus naik, beliau juga setuju harga BBM di Indonesia kelak memang terpaksa harus dinaikkan

 

Saya tanya kepada beliau, “Kalau misalnya Mas Arief ga setuju kenaikan BBM sekarang, lalu Mas setujunya akan naik kapan?”

 

Jawaban Mas Arief “Entah, tergantung momentum..”

 

Mungkin maksud beliau “Tergantung siapa Presidennya”, karena sekarang Presidennya SBY maka ini momentum yang tepat untuk menolak kenaikan tersebut. PDI-P jadi keliatan oke di mata rakyat. hehehe

Karena kenyataannya, waktu Megawati jadi presiden, harga BBM juga naik, 3 kali bahkan. Mas Arief bilang “Waktu itu kondisinya beda..”

Iya, beda Presidennya. Kalau Presidennya dari partai PDI-P tentu keputusan naikin BBM akan dibela.

hehe

Diskusi kami, saya, Mas Aco dan Mas Areif akhirnya mondar mandir di urusan besarnya APBN dan dan berapa banyak yang harus dikurangi.

 

Mas Arief berargumen sebenarnya pemerintah tidak perlu menaikkan BBM kalau yg dikhawatirkan adalah uangnya ga cukup.

Karena uangnya ada. Bahkan dari sisa anggaran yang lalu bisa dipakai dan dimasukkan kepada rencana APBN sekarang.

Mas Arief bilang, kenaikan BBM harusnya tahun 2011 ketika daya belanja masyarakat sedang tinggi tingginya. Ketika saya tanya, “Bukankah sekarang juga kuat?” Jawaban Mas Arief, “Sedikit melemah dibandingkan tahun lalu”

Mas Arief bilang, perkuat dulu kemampuan ekonomi masyarakat baru naikkan BBM.

Cari solusi solusi lain agar APBN bisa selamat tanpa harus mengorbankan rakyat. Dampak inflasinya akan mencekik rakyat.

Masuk akal argument Mas Arief, apalagi karena solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mengtasi dampak inflasi adalah solusi yang saya kurang sreg. BLSM. Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Di mana 30% masyarakat dengan ekonomi terbawah di Indonesia akan mendapatkan uang sebesar Rp 150.000 selama 3 bulan untuk mengurangi dampak inflasi tersebut dengan asumsi setelah 3 bulan masyarakat sudah bisa menyesuaikan dengan dampak inflasi.

Saya tidak pernah suka dengan BLT dan juga BLSM. Saya bingung dengan praktek dan efektifitasnya.

Kata Mas Aco dibandingkan Negara Negara lain yang menjalankan program seperti BLSM, Indonesia ternyata angka kebocorannya terrendah.

Tidak membuat saya tenang.

Itu seperti “Naik mobil ini gapapa kok, kecelakaannya lebih sedikit. Tetep nabrak, tapi sedikit…”

Mas Aco beropini, kenaikan BBM harusnya tidak dilihat dari urusan defisit anggaran saja seperti yang selama ini diperdebatkan.

Menurut Mas Aco, kenaikan BBM harus dilakukan karena memang hal yang benar. Menurut SUSENAS, Survey Ekonomi Sosial Nasional, yang menikmati subsidi BBM hanya 10% masyarakat teratas di Indonesia.  Aneh menurut saya karena masyarakat bawahpun mendapatkan efek dari kendaraan umum yang dia gunakan dan harga harga pokok kan juga terpengaruh dari BBM

Kedua menurut Mas Aco kalau memang peduli kepada penggunaan energi alternative, harus dipaksa untuk mengurangi penggunaan BBM dengan menaikkan harga sehingga ada peluang untuk mengembangkan energy alternative (demandnya ada) dan energy alternative bisa bersaing secara harga. Di sini saya setuju.

Ketiga dan ini poin yang saya setujui juga, adalah alasan pengalihan sisa dana untuk infrastruktur.

 

Kesimpulan: Tidak ada yang salah, kedua solusi sama sama benar.

Kalau anda mempelajari jalan yang ingin diambil pemerintah dan jalan yang ditawarkan oleh PDI-P, sebenarnya tidak ada yang salah

Hanya saja kebanyakan di antara kita kalau sudah pro terhadap 1 sisi, cenderung enggan untuk mencoba memahami sisi yang lain.

Saya sih memaksa diri untuk memahami keduanya. Dan sejauh yang saya amati, keduanya ada sisi baik dan buruknya

 

PRO kenaikan BBM:

Positif:

Langkah yang benar, tidak melakukan pembodohan kepada masyarakat dengan “harga palsu”

Mengurangi kemungkinan kecurangan, korupsi akibat kesenjangan harga minyak antar Negara bahkan daerah di Indonesia

Memberi ruang untuk pembangunan infrastuktur di daerah daerah Indonesia yang tertinggal

Memberi harapan terhadap pengembangan energi alternative

Negatif:

Berat untuk seluruh rakyat Indonesia. Yang menengah ke atas bisa lebih mudah menyesuaikan, berat tapi bisa menyesuaikan. Yang menengah ke bawah akan sulit untuk beradaptasi. BLSM bagi saya beresiko.

 

KONTRA kenaikan BBM:

Positif:

Rakyat tidak kaget dengan kenaikan ini dan tidak terkena dampak inflasi (walaupun sebenarnya sih akan kerasa terus untuk selamanya..)

Soal anggaran ada banyak cara untuk mengisi kekurangan yang dibutuhkan seperti sisa anggaran sebelumnya dan termasuk menyumbat kebocoran kebocoran anggaran akibat korupsi

Negatif:

Kurang mendidik, karena hanya mengundurkan bom waktu. Bomnya akan meledak. Hanya saja kalau bisa meledaknya jangan sekarang. Jangan ketika kita yang merasakan nanti saya generasi mendatang yang merasakan (maaf terdengar sinis hehe)

Keterangan di atas memang sangat disederhanakan.

Intinya, 2 jalan tadi ada positif dan negatifnya, tapi secara umum keduanya benar.

Naif sekali apabila kita berpikir, hanya ada 1 jalan menuju Indonesia yang lebih baik

Buka peta Indonesia dan buka mata anda baik baik.

Lihat dan pahami bahwa Indonesia terlalu luas, terlalu beragam , terlalu banyak perbedaan untuk punya 1 solusi maha sakti yang mujarab

Lalu pertanyaan di benak anda, kalau dua duanya benar, kita menjalankan yang mana?

Jawabannya, bukan kita yang menjalankan.

Pemerintah.

Pemerintah yang punya kewenangan untuk menjalankan.

Its their choice.

Setiap pemerintahan tentu punya subjektitas dalam cara menjalankan keputusan dan dalam mengambil jalan.

Masalahnya, kita percaya atau engga kepada pemerintah

Iya kan? J

Pasti kita semua sepakat, kalau pemerintahan kita jalannya bener, bersih, baik, dan terbukti  dengan nyata, kita juga tidak akan separno ini terhadap apapun keputusan yang di ambil mereka

Kalau PDI-P lebih sreg dengan jalan yang mereka tawarkan, ya silakan jalankan ketika mereka jadi partai yang berkuasa.

Kalau saya pribadi, saya akan setuju agar pengeluaran pemerintah utk subsidi BBM bisa berkurang agar bisa dialihkan kepada pembelanjaan modal.

Memang ada argument yg berbunyi begini:

“Kalau misalnya dananya dialihkan kepada infrastruktur lalu apa jaminannya benar benar akan dibangun infrastruktur tersebut?”

Pertanyaan itu sama naifnya dengan “Kalau BBM tidak dinaikkan, apa jaminannya rakyat tidak akan tercekik hidupnya?

Dengan tidak adanya listrik di daerah daerah pelosok Indonesia, air bersih tidak ada, fasilitas pendidikan yang mengenaskan, fasilitas kesehatan yang menyedihkan, sarana komunikasi yang terbelakang dan keadaan transportasi yang busuk?

Ketika saya bilang transportasi saya bukan hanya bicara tentang kendaraan umum untuk rakyat, tapi terlebih lagi, ketersediaan JALAN RAYA yang bisa mengeliminir masalah jarak dan medan di daerah daerah terpencil Indonesia

Masalah Indonesia adalah Negara kita luar biasa besar.

Bukan hanya itu, kita terpisah lautan!

Secara medan, Indonesia itu luar biasa menantang. Kalau bukan infrastruktur, lalu bagaimana lagi kita bisa membantu saudara saudara kita terutama di Indonesia Timur?

Ada lagi argumen:

“Kalau dialihkan ke infrastruktur apa jaminannya tidak jadi lahan korup?”

Pertanyaan itu sama naifnya dengan “Siapa bilang tidak ada yang korup dengan kondisi harga BBM seperti sekarang ini?”

Peluang korupsi dari selisih harga yang terlalu jauh ini, jadi arena bermain yang menarik bagi kampret kampret yang ada di Indonesia. Banyak yang membeli dengan harga murah di sini, lalu menjual dengan harga tinggi di tempat lain. Memanfaatkan murahnya harga BBM di Indonesia.

Lagipula, sudahlah. Tidak perlu kita lama lama terpecah seperti ini.

Sekarang, ketika memahami peta keseluruhan, saya baru sadar bahwa 80% dari segala pembicaraan soal kenaikan BBM ini, adalah hasil manuver politik.

Adalah hal yang pasti, PDI-P berseberang jalan dengan pemerintah. Kan mereka partai oposisi.

Masalahnya, PDI-P saat ini sedang punya 2  pertaruhan besar.

Pemilihan Gubernur dan 2014

Di Pemilihan Gubernur, citra pro rakyat pasti tercermin dalam sentimen para pemilih terhadap calon mereka. Apalagi Jokowi dan Ahok kalau dijumlah hasilnya adalah: Merakyat.

Untuk 2014, mereka butuh citra yang baik untuk mendapatkan hati masyarakat

Walaupun, perasaan saya berkata, rakyat akan ilfil ketika tahu calonnya lagi lagi adalah Megawati atau setidaknya Puan Maharani. Kenapa ilfil? Gimana rakyat percaya PDI-P pro demokrasi kalau partainya aja kayak kerajaan gitu. Tidak bisa move on dengan calon diluar keturunan Bung Karno.

Salahkah PDI-P melakukan politik pencitraan seperti itu? Ya ga salah secara politis

Cuman aja saya sebel karena alasan utama mereka terhadap penolakan BBM bukan karena baik untuk rakyat, tapi karena baik untuk citra partai.

Buktinya?  PKS yang harusnya 1 suara dengan koalisinya, malah asik asik koar koar di media tidak setuju. Semua demi citra yg “pro” rakyat.

Here’s what I know about leadership: Leaders often time, make the hard decision because it’s the right thing to do

Ketika misalnya, anda memilih saya untuk memimpin. Maka saya akan ambil keputusan keputusan yang terbaik. Tentu saya akan mendengar suara anda, tapi saya harus tetap mengambil jalan yang benar. Anda memilih saya (harusnya) karena anda percaya saya kompeten di mata anda. Kalau benar begitu, biarkanlah saya bekerja. Saya tidak harus mengambil keputusan yang anda inginkan hanya untuk memenangkan hati anda. Saya sudah terpilih. Kalau ada yang ingin memenangkan hati anda, itu adalah karena mungkin dia mau mengambil jabatan saya.

 

Alasan politis kedua, adalah bahwa semua ini gara gara SBY juga

Tahun 2008 atau 2009 saya lupa, Presiden SBY memutuskan untuk menurunkan harga BBM. Dua kali bahkan

Beliau sendiri yang muncul di TV untuk penurunan BBM. Taking credit. Seakan akan itu keberhasilan beliau. Padahal dalam kenyataannya, memang harga minyak dunia lagi turun

Mengapa turun?

Bayangkan anda dagang pisang. Lalu pembeli terbesar anda, bangkrut dan tidak bisa beli pisang anda. Takut pisang anda busuk, anda akan menjual pisang anda dengan harga yang murah.

Itulah yang terjadi di 2008. Amerika Serikat, kolaps. Pembeli terbesar tidak lagi mampu membeli, maka harga minyak dunia turun.

Alasan SBY menurunkan harga BBM adalah “Untuk terus menyesuaikan dan mengikuti trend harga  dunia”

Maka ketik a harganya turun, ya SBY ikut turunkan.

MASALAHNYA, ketika harga minyak dunia naik lagi di tahun 2010, dia nggak kembali menaikkan harga. Padahal katanya dia ingin terus menyesuaikan. Mengapa tidak dinaikkan?

Kayaknya (ini opini subjektif ya) karena takut citranya jelek di mata rakyat.

Benar kata Mas Arief, harusnya naikin aja setelat telatnya 2011 ketika kemampuan konsumsi rakyat Indonesia lagi hebat hebatnya.

SBY yang terlalu so slow bimbang you don’t know, akhirnya blunder sendiri ketika mentri mentrinya bilang, kenaikan tidak dapat dihindari.

Akhirnya, dia harus mengambil jalan yang ga enak, meminta DPR utk merevisi UU yg berkaitan dengan subsidi BBM. Ketika, dia minta bantuan DPR, maka DPR yang berisi partai partai pencari kesempatan dalam kesempitan, langsung riang memanfaatkan keadaan. Seperti piranha yang mencium bau darah. Kecil kecil, banyak, beringas.

Nah alasan politis ketiga:

Ada yang tidak mau kita mengembangkan energi alternatif

Siapakah orang orang itu?

Ya orang orang yang hidup dari migas.

Mereka mencoba agar ketergantungan terhadap BBM tinggi karena investasi dan bisnis mereka besar di migas. Walaupun gas dipegang mereka juga dan ada kecenderungan beralih ke gas, tapi sesungguhnya iklimnya belum siap. Konsumsi BBM masih sangat tinggi.

Kebetulaaaaaaaan, ada petinggi partai, ada mentri yang bisnisnya di migas. Hehehe..

Padahal, peneliti dari Negara Negara lain iri dengan Indonesia, bahkan memberi julukan Indonesia sebagai Negara dengan sumber energy terbarukan terbesar di dunia.

Panas bumi

Matahari melimpah (ingat khatulitiwa?)

Arus bawah laut (ingat lautan kita yang merupakan bagian terbesar Indonesia?)

Dan masih banyak lagi, merupakan kekayaan kita yang tidak bisa digali untuk kebaikan bangsa kita sendiir.

Karena apa? Karena dihalang halangi. Ada yang tidak mau harga BBM naik karena akan memberi jalan kepada eksplorasi energy alternative. Kalau eksplorasi itu berjalan, jelas bisnis mereka akan mati

Percaya sama saya, semua perusahaan migas dalam dan luar negri membubuhkan kata “alternative energy” di website mereka, tapi sedikit sekali yang benar benar serius menggarap ke sana Mereka membubuhkan itu agar terkesan “peduli lingkungan”

 

Saya kasih fakta penutup:

Saya sedang baca buku “The Future Of Freedom” karya Fareed Zakaria. Disitu ditulis, dan ini didukung dengan sumber sumber lain yang saya baca di internet:

Negara yang masih mengandalkan natural resources tidak bisa berkembang secara ekonomi.

Negara yang ekonominya tidak berkembang, susah untuk bisa meraih kebebasan dari demokrasi yang benar. Ada satu hal yang disebut illiberal democracy alias demokrasi pura pura, contohnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Mengapa kalau mengandalkan natural resource tidak bisa mengembangkan ekonomi? Karena bisnis bisnis sumber daya alam bisa berjalan tanpa fundamental perekonomian yang sehat.

Salah satu contoh sederhananya, bisnis SDA tidak menarik banyak SDM . Padahal menurunkan angka kemiskinan bisa dilakukan dengan membuka lahan pekerjaan seluas luasnya, sementara bisnis di Indonesia belum memiliki ekosistem yang cocok. Ekosistem terhadap bisnis belum cocok karena masih bergantung kepada bisnis berbasis Sumber Daya Alam.

Contoh, Venezuela. Kaya akan sumber daya alam memiliki simpanan minyak bumi terbesar di dunia di luar Negara Negara timur tengah, lama berkutat di sana, akhirnya economic mismanagement yang berujung kepada political corruption

Lagi nih..

Apa persamaan dan perbedaan Cina dan Russia?

Persamaannya, sama sama ingin menuju kemakmuran

Perbedaannya, Russia mengambil jalan perubahan politik dengan harapan ekonomi kemudian akan membaik. Sementara Cina merubah system ekonomi mereka jadi lebih terbuka dan efeknya (diluar keinginan mereka) politiknya jadi lebih terbuka.

Memang sekarang Cina masih represif, tapi sekarang rakyatnya mulai berani melawan DAN MENANG.

Tahun 97 rakyat Cina melakukan tuntutan kepada pemerintahannya sebanyak 90.557 tuntutan. Bandingkan dengan jumlah tuntutan yang dilakukan rakyat kepada pemerintah di tahun 1984: 0 tuntutan.

Sementara Russia masih berkutat dalam perjuangan politiknya. Kenapa susah memperbaiki politiknya? Selama perut orang orang masih lapar dan masih banyak orang orang yang kurang terdidik, potensi pelencengan di atas sana selalu besar.

Ekonomi membaik = rakyat yang lebih makmur = pendidikan lebih terjangkau = masyarakat yang lebih cerdas = rakyat yang lebih kritis = Pemerintahan tidak bisa lagi membohongi rakyat = Praktek politik yang benar = Pembangunan yang baik = Negara yang hebat

Sederhananya gitu..

Perubahan ekonomi yang lebih baik selalu dalam sejarah dan hingga hari ini, mengakibatkan perubahan ke arah pemerintahan yang lebih sehat.

Jadi sekarang pertanyaannya, masih mau berlama lama mengandalkan minyak bumi?

Atau mau mulai berani menatap masa depan, dengan memanfaatkan potensi yang kita punya?

Kalau anda memilih untuk menatap masa depan dan memanfaatkan potensi yang kita punya, maka anda akan setuju untuk mulai meninggalkan industri berbasis sumber daya alam, yang berarti anda juga pro terhadap pemanfaatan energy alternative yang berarti juga anda setuju terhadap kenaikan harga bbm karena itu akan membuka potensi dan peluang untuk eksplorasi sumber energy alternative terbarukan.

Now, what do you think after you see the big picture?

🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8 thoughts on “The Big Picture”

  1. bagaimana rakyat bisa terbuka matanya orang rata-rata semua sumber informasi itu ngejatuhin pemerintah apalagi televesi liat aja Metr* Tv yg punya nasdem Ant*& TvOn* punya golkar MN*Group punya Hanura

    mereka mebuat berita seolah-olah kebijakan pemerintah selalu salah dan mereka memanfaatkan sebagai penceritaan, lihat saja masalah yang sebenernya sepeleh hanya sekecil ujung kuku tiba-tiba di besar-besarkan seperti ada masalah sebesar gunung

    memang ada TV yang netral tapi gak pernah kedengeran suaranya hanya diam membisu

  2. Menarik banget topiknya. Saya seneng dengan beberapa kutipan di atas, antaralain:

    1. Pasti kita semua sepakat, kalau pemerintahan kita jalannya bener, bersih, baik, dan terbukti dengan nyata, kita juga tidak akan separno ini terhadap apapun keputusan yang di ambil mereka.

    2. “Kalau misalnya dananya dialihkan kepada infrastruktur lalu apa jaminannya benar benar akan dibangun infrastruktur tersebut?”
    Pertanyaan itu sama naifnya dengan “Kalau BBM tidak dinaikkan, apa jaminannya rakyat tidak akan tercekik hidupnya?

    3. “Kalau dialihkan ke infrastruktur apa jaminannya tidak jadi lahan korup?”
    Pertanyaan itu sama naifnya dengan “Siapa bilang tidak ada yang korup dengan kondisi harga BBM seperti sekarang ini?”

    Ya, mudah”an tujuan/rencana mulia dari Pemerintah dengan menaikkan harga BBM dapat direalisasikan dengan baik dan benar.

    #Bagimu Negeri

  3. setuju banget.
    orang-orang yang menikmati subsidi bbm adalah orang-orang yang “punya”. mereka punya mobil, motor, harus siap dengan segala kondisi donk.
    orang-orang yang hanya bersepeda atau jalan kaki, gk pernah merasakan nikmatnya subsidi bbm.

  4. Setuju sma kutipannya Pandji. Pda dsarnya, negara harus cari untung. Jujur hati nurani qta tentu menolak, tp kemanjaan dri subsidi yg qta nikmati selama ini membuat bngsa qta smakin tertinggal. Ktakanlah menjadi tdak cerdas. Akhirnya qta berpikir, kenapa negara2 maju pda dsarnya adalah negara2 yg miskin. Dri miskin dan terpepet inilah, mreka menjdi cerdas. Knapa qta tdk bsa meniru sperti itu? Akhirnya toh mreka mnjadi negara2 raksasa, negara2 kaya krena teknologi yg begitu maju luar biasa. Dri unsur kterpaksaan ini smua. Contoh yg nyata di depan mata qta adalah: (1) JEPANG, (2) KOREA itu nyata dll. Msh ada lgi, tak usah disebutkan. Terlalu rumit.

  5. masalahnya tdk sesederhana bahwa harga BBM harus dinaikkan demi meningkatkan pemasukan APBN, yg kemudian digunakan u/ membangun infrastruktur, seperti sekolah, jalanan, dan pasar demi kesejahteraan rakyat & perekonomian negara.

    yang terjadi bahwa 80% subsidi BBM tdk tepat sasaran, lbh dinikmati masyarakat diperkotaan dibanding dengan masyarakat yg ada dipedesaan, dan sejak desember 2009 600 T subsidi BBM salah sasaran

    adalah jalan keluar yg sangat instan bahwa harga BBM perlu dinaikkan demi meningkatkan pemasukan APBN yg bertujuan u/ membangun infrastruktur, sekolah, jalanan, demi kesejahteraan rakyat dan perekonomian negara, …, yg ada malah kebijakan ini menyengsarakan rakyat (apalagi rakyat kecil) krn mengakibatkan inflasi dan kenaikan harga barang2!

    Pemerintah mestinya memikirkan cara2 yg lebih bijaksana dalam meningkatkan pemasukan APBN dan pengehamatn pengeluaran APBN bukan dng cara instan yaitu : naikkan harga BBM!!
    misalnya dng pengehematan pengeluaran belanja birorasi, dan pengahpusan BLT u/ 15 jt KK yg sm skali tdk efektif membantu keuangan mereka dan malah melahirkan mental pengemis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*