Belajar Dari Ali…

Gue baru aja nonton DVD dokumenter “Facing Ali” untuk ke 3 kalinya…
DVD itu, melengkapi film ALI karya MichaelMann dimana Will Smith dapet nominasi sebagai Best Actor di Oscar. Juga buku “The Greatest” sebuah auto biografi Muhammad Ali yg rilis sekitar tahun 70an akhir..
Gue dapet buku itu dari sebuah bazaar buku bekas di Bandung.
Ketika gue temukan, dada gue terasa sesek kayak orang mau nangis.
Gue ga percaya buku ini ada ditangan gue. Disampul plastik..
Dalamnya masih bagus. Kayak yg dibeli jaman dulu hanya utk disimpan…
Tapi airmata itu, baru menetes, setelah gue usai nonton DVD “Facing Ali”

ALI, dulu dikenal sebagai Cassius Clay.
Pernah dikenal, dan di mata gue masih merupakan Petinju Terbaik di dunia.

Semakin gue mengenal ALI, termasuk busuk2nya, semakin gue mengaguminya..

Sebagai petinju, Ali tidak sempurna. Dia tidak tahu kapan harus berhenti. Ada kalanya dia menganggap remeh lawan dan beberapa kali, ia kalah..

Sebagai umat muslim, Ali bisa jadi jauh dari sempurna.. Terutama petualangannya dgn perempuan. Ucapan2 kasarnya terhadap lawannya (terutama Larry Holmes) yg jauh dari kesan Islami

Sebagai manusia bahkan, Ali juga tidak bisa disebut sempurna

Tapi, itu tidak menghentikan orang untuk mengagumi sosok Ali.

Beberapa alasan, mengapa gue kagum dgn Ali adalah sebagai berikut..

1) He speaks his mind.

Hal terbaik yg bisa kita lakukan, adalah berbicara dengan jujur. Masalah orang nggak suka tentu akan jadi masalah etika. Tapi Ali tidak berbohong. Integritas adalah sesuatu yg gue dambakan terhadap diri gue sendiri. Kalau gue ngomong “A”, gue harus tanggung jawab. Jangan ngomong “A” di depan lalu “B” di belakang..
Ali, meyakini dirinya adalah “The Greatest” dan dia ucapkan berkali kali. Namun yg membuatnya hebat, adalah karena dia buktikan berkali kali
Katanya “I aint gotta be what everybody wants me to be. I say what I wanna say. Think how I wanna think”

2) He stood up for what he believes in

Ketika dia menolak wajib militer dan berkata “Aint no vietcong ever called me nigger”. Separuh Amerika bereaksi keras. Separuhnya lagi mendukung. Islam mengajarkan untuk tidak menyakiti apalagi membunuh orang tidak bersalah. Keyakinan ini yg dia pegang apapun yg terjadi.
Saat itu, Ali baru saja menjadi juara dunia. Di sidang, di hadapan majelis hakim (krn nampaknya sidang militer) ada sebuah dialog antara hakim dan Ali yg keren

Setelah bolakbalik meyakinkan Ali utk mau wamil dan gagal, para hakim nampak kesal dan bertanya dgn sinis kpd Ali:

Hakim: “Mr Clay..”
Ali: “My name is Muhammad Ali..”
Hakim: “Cassius Clay, Ali which ever it is..”
Ali: “Clay is my slave name given by the owner of my ancestor..”
Hakim: “Whatever.. Mr Ali you say that you are the people’s champion?”
Ali: “Yes Sir”
Hakim: “Do you think you’re acting like the people’ champion (by dodging military draft)
Ali (dgn lantang dan yakin): “Yes Sir”
Setelah itu, Ali meninggalkan ruang sidang.

Ali begitu yakin, bahwa tindakannya itu benar. Bahwa justru karena dia adalah The People’s Champion dia memberanikan diri utk tidak wamil. Bahwa dia harus menyuarakan ketidak setujuannya terhadap perang.

3) He’s a very very brilliant boxer

Tubuhnya itu kayaknya memang di desain utk jadi petinju. Ali tidak punya pukulan yg keras.. Tidak sekeras Foreman atau Ernie Shavers, tidak bertubi tubi seperti Frazier.. Ali andalannya ada 3: Dia cepat, dia cerdas (dgn sering menjebak lawannya sperti yg dia lakukan terhadap Liston, Foreman dan Leon Spinks partai ke 2) dan yg terakhir.. Andalan yg juga jadi bumerang: Ali kuat menerima pukulan.
Semua lawannya kaget Ali bisa bertahan menerima pukulan mereka. Kalaupun jatuh, Ali dgn cepat bisa bangun lagi. Kalau dalam sebuah ronde dia nampak nyaris habis, ketika break dan balik lagi tanding di ronde selanjutnya Ali bisa bugar “Like he was fighting on the 1st round” ujar Ernie Shavers yg terkenal pukulannya luar biasa keras.

Dengan modal 3 itu, ALI jadi sebuah petinju yg luar biasa. Daya tahan dan stamina yg luar biasa. Tinggi besar tapi kaki dan tangannya cepat. Namun kecerdasannya yg jadi aset luarbiasa.
Ali tau kapan musti memancing lawan dan body waving atau bobbing lalu melontar maju dan melepaskan jab2nya..
Ali vs Sonny Liston 1 dan vs Ernie Terrel (dimana sepanjang pertandingan Ali teriak teriak “What’s my name?? What’s my name??” Krn Terrel ga mau manggil Ali dan manggil dgn nama Clay) adalah partai paling sempurna menggambarkan itu.
Ketika kembali bertinju dari vakum 3 tahun gara gara ijin bertinjunya dicabut pemerintah amerika, kecepatannya menurun. Sebelumnya, lawan tidak bisa menyentuh Ali. Setelahnya, lawan2 mulai bisa memukul Ali. Tapi Ali gunakan staminanya, untuk memancing lawannya memukul habis tubuhnya hingga lelah.. Baru kemudian dia habiskan lawannya. Seperti lawan Foreman.

Semua dari yg gue jelasin di atas, jadi alasan mengapa lawan2nya menghormati Ali..

Di ring tinju mereka bertarung, saling pukul mati matian.. Di luar, mereka bersahabat.

Kesalahan Ali yg utama adalah, bahwa Ali tidak pernah tau kapan harus berhenti.

Ketika dia menang lawan Foreman, dia sudah cukup tua di dunia tinju. 32tahun. Umurnya jauh dgn lawan2nya..
Harusnya pensiun disitu.

Ketika menang lawan Frazier di partai ke 3 mereka harusnya pensiun.

Ketika menang lawan Ernie Shavers harusnya pensiun. Karena dia sudah terlalu lamban dan terlalu banyak menerima pukulan

Ketika kalah lawan Spinks harusnya juga pensiun.

Tapi dia minta rematch. Ketika menang lawan Spinks dan untuk ke 3 kalinya jadi juara dunia. Ali akhirnya memutuskan pensiun.

Namun Ali masih menerima pertandingan2 eksebisi demi uang.

Puncaknya, adalah ketika Larry Holmes (dulu teman latih tanding) bilang “There is no more Ali. Its Larry Holmes time now”, Ali kembali dari pensiun ( a comeback he shouldn’t have done, but you know how everybody loves a comeback rite? Hehe)
2 tahun pensiun, Ali kembali bertanding dgn bayaran yg luarbiasa pada jamannya: 8 Juta dolar.
Disitulah, Ali hancur. Hingga tak mampu bangkit dari kursinya dan dinyatakan TKO. Setelah itu, kita tahu apa yg terjadi dgn kesehatan Ali..

Terlalu banyak menerima pukulan di badan (bodyshots) merusak organ tubuhnya. Ali kencing darah. Terlalu banyak menerima pukulan di kepala (tepatnya kata dokter di belakang kepala) merusak sel otaknya dan memperparah kondisi Parkinson.

Dunia termasuk petinju2 membenci Holmes karena membantai Ali yg sudah tua dan tidak dlm kondisi prima..

Larry Holmes menjawab “They (Don King’s team) put me in a bad situation. If I beat him (Ali) people will say I beat up an old man. If I lose, I’ll never be the greatest”

Setelah mengalahkan Ali, Holmes mendatangi ruang ganti Ali dan berkata “I love you man..”
Ali menjawab dgn nada bercanda “If you love me why did u beat up on me like that?”

Ali was never the same again.

Bahkan pidato pensiunnya setelah ngalahin Spinks di rematch, bicaranya sudah lamban dan tampak “aneh”…

Gue sempat mikir, kenapa kok Ali ga brenti brenti bertarung…

Lalu, seorang petinju bernama Ron Lyle di DVD Facing Ali berkata
“As a fighter, you always want to know if you can do it one more time..”

Disitulah gue mengerti. Mentalitas seorang petarung.

Sesuatu yg bisa gue pahami dan mengerti dan akhirnya, gue kagumi..

Hari ini, dgn kegiatan amal dan sosialnya. Ali masih mengajarkan sesuatu kepada kita semua dgn segala keterbatasannya..

Itulah ilmu yg gue dapatkan dari sosok yg gue kagumi.

Setelah gue belajar dari Ali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*