Bersama Citilink ke Denpasar #SPON

BALI1

 

 

Ketika mendarat di Denpasar, saya berpikir “Okay, bandaranya denpasar sudah nggak mesakke lagi…”

Dulu saya berpikir bahwa Denpasar punya bandara (domestik) yang relatif menyedihkan mengingat Bali adalah destinasi favorit dunia. Tapi sekarang, bandaranya besar sekali dan walaupun belum 100% rampung, terlihat punya potensi untuk jadi bandara yang keren.

Kulinernya, sebenarnya juga cukup terkenal. Tapi sayangnya kami tidak cukup punya waktu untuk menjelajahi. Apalagi kalau mau jelajahi kami harus keluar dari Denpasar, sayangnya waktu terbatas sehingga kami makan di sebuah rumah makan yang saya kenal logonya. Karena di Jakarta ada, tapi saya selalu ragu untuk masuk. Takut liat logonya..

 

BALI2

 

Ternyataaaa, ini ayam enaknya banget bangetan.

Nyesel juga nggak dari lama nyobain ini ketika di Jakarta.

Bermodal perut kenyang, saya dan yang lain kembali ke hotel. Ritual saya adalah selalu tidur sampai jam 4-5 sore baru kemudian melatih set yang akan dibawakan.

Bangun bangun, si Babe yang jadi pembuka saya menghilang dari kamar. Ternyata dia lagi komat kamit sendiri di pinggir kolam renang. Diliatin ibu ibu yang mendekap erat anaknya. Kuatir si Babe orang gila kayaknya.

Sayang saya ga bawa kamera, lucu sekali dari arah pandang saya.

 

BALI5

 

Stand-Up di Bali adalah pengalaman menarik. Warganya terbuka terhadap keragaman, lebih plural dan lebih berpikiran terbuka. Karenanya materi materi saya bisa diterima dengan baik. Walaupun, saya sempat kuatir sedikit. Salah satu bit saya, berkaitan dengan ke-Islam-an. Sementara Denpasar mayoritasnya bukan muslim. Awalnya saya kuatir, tapi ternyata ketika bit tersebut saya lempar, berhasil menuai tawa dengan baik.

 

BALI3

 

Sebenarnya, ingin pergi ke pantai yang enak dipakai untuk berjemur atau berenang. Tapi namanya juga kerja, waktunya sedikit sekali untuk bisa melipir jauh ke pantai padang padang atau bahkan pantai kuta. Akhirnya kami nongkrong di pantai terdekat dari hotel kami dan nasib mujur membawa kami bertemu dengan si ibu yang menjajakan gorengan. Lumayan sarapan di pinggir pantai.

Kelak, keinginan kami untuk berenang di pantai terbalaskan di salah satu destinasi tur.

Tapi itu cerita untuk blogpost selanjutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*