THE GREATEST INTERVIEW (L.A.W.)

Ini adalah imaginary interview antara PANDJI PENYIAR vs PANDJI RAPPER…

 

Pandji Penyiar (PP) : Hai Pandji apa kabar?

Pandji Rapper (PR) : Baik baik aja… ganteng bener nih?

PP : Yaaaah biasalah , sehari hariii… anda juga terlihat tampan…

PR : Yaaa banyak yang bilang gitu…

PP : Okay, kita langsung ke interview gimana progress album ke dua?

PR: Lagu yang bener bener rampung baru 1 lagu dan itu yang rencananya akan jadi single pertama… Sisanya antara belum rampung banget atau malah belum di take sama sekali..

PP : Kok bisa gitu uda tau apa yang akan jadi single pertama sebelum lagu lagu lain selesai?

PR : Ya karena gue independent, pada akhirnya yang milih single pertama juga gue dan gue sudah punya bayangan yang jelas akan seperti apa semua lagu nantinya, ya tidak terlalu susah untuk tau yg mana yang akan jadi single pertama.

PP: Sebenarnya apa sih yang membedakan Pandji dengan rapper lainnya?

PR : Im not trying to make money out of this.

PP: Kenapa kemudian itu jadi unsur pembeda yang signifikan?

PR: When ur trying to make money, sometimes, well, MOST of the times you focus not on makin art , but on making something that would sell.

PP: Apa salahnya dengan itu?

PR : When you’re trying to sell, you compromise. You compromise and try to do things that will sell, you look at other musicians and start copying, and saying that you’re inspired. Come ooon even you and I know exactly the difference between copying and being inspired by!!

PP: Kenapa anda tidak mencari uang dari hiphop?

PR: Karena memang gue mencari uang dari sumber sumber lain, i hustle and make money to feed for my passion which is hiphop.

PP: Memang itu benar? Nyari uang dari sumber lain kemudian dijadikan bahan untuk membiayai karir musik?

PR: Entah, tanya aja sama Jay Z. Dia jualan drugs untuk kemudian punya modal membangun Roc-A Fella Records. Dia ditolak oleh semua major label. Karena dia yakin produknya bagus, dia publish aja sendiri. Mungkin justru itu yang harus dilakukan rapper di Indonesia, untuk menjamin musiknya “pure” dia hustle dengan cara lain, entah apa lah, nanti uang yang terkumpulkan jadi dana untuk hiphopnya…

PP: Lalu kalau bukan nyari uang, kenapa anda masuk hiphop?

PR: Karena gue butuh penyaluran. Gue punya banyak sekali pesan di kepala yang harus keluar kepada khalayak umum, kemudian juga karena gue ingin jadi rapper, ketiga karena gue ingin jadi bagian yang membangun hiphop di Indonesia dan menjadikannya sumber uang.

Saat ini orang kalau ditanya ”Pekerjaan kamu apa?”

Si rapper menjawab ”Saya rapper”

Biasanya dijawab lagi dengan kalimat ” Ooooh itu mah hobi, pekerjaannya apa?”

Orang belum percaya kalau hiphop bisa jadi sumber penghasilan… dan wajar saja, karena memang uang yang bersirkulasi disini (hiphop –red) tidak sebesar dengan jumlah uang yang bersirkulasi di musik yang pop.

PP: Jadi anda ingin menjadikan hiphop pop?

PR: Iyalah! Banyak orang yang merasa itu salah… Mereka lebih nyaman dengan tetep menjadi underground… Ya itu boleh boleh saja, tapi sebaiknya tidak menghalangi jalan orang orang yang ingin hiphop meledak di Indonesia. Ada banyak orang di hiphop yang menatap hiphop dengan kacamata yang salah.

PP: Seperti apa itu kacamata yang salah?

PR: Orang yang terlalu sibuk berkata ”Ini hiphop dan itu bukan hiphop”

Orang yang bilang berpakaian seperti itu tidak hiphop dan yang begini hiphop, orang yang mencaci maki rapper seperti Tata dari Tangga atau Rayi dari RAN karena menurut mereka yang pop itu tidak hiphop…

PP: Mungkin mereka mau bikin beef (perseteruan) ?? Hiphop kan identik dengan beef?

PR: Maaaaan, its hard enough to have rappers in Indonesia alive and making music, popping on the radio and we want to beef against each other? That’s stupid.

Beberapa orang nanya sama gue “Kok di siaran lo elo mainin lagunya J Flow? Dia kan pesaing elo?

Atau … “Dji udah denger lagu lagunya Boogeyman (upcoming hiphop artist dibawah The One Management -Red) belum ? Keren abis, wah bakal jadi saingan lo tuh? Takut nggak lo?” bertanya dengan nada nyindir…

Sedih banget gue denger pertanyaan itu… Ada rapper aja lagunya di mainin di radio susahnya setengah mati.. masa gue mau mematikan mereka? Gila apa? Gue ingin di setiap radio, setiap jam ada lagu hiphop yang mengudara!

I dont beef with these guys, i go to war WITH them. We go back to back trying to blow up hiphop.

PP: Tapi kan J Flow dan Boogeyman dan rapper rapper solo lain seperti Faro, Daviuz, Tabib Qiu, dll adalah saingan bisnis anda?

PR: Setiap orang punya pembelinya masing masing… gue percaya itu. Terutama, karena setiap rapper di Indonesia, punya gaya, pesan dan swagger masing masing.. kami sibuk untuk jadi berbeda… Nggak kayak di dunia band Indonesia

PP: Memang kenapa dunia band di Indonesia?

PR: Banyak yang sibuk ingin menyamakan diri mereka dengan Peterpan. Paling tidak gue merasa begitu. Nih ya.. di Indonesia, diantara nama nama band generasi baru (yang diluar generasi Slank, Dewa19, Gigi, Coklat, dll) cuma nama nama ini diantaranya yang menurut gue sound-nya original: Peterpan, Nidji, J Rocks…

PP: Pe..pe… Peterpan?

PR: Iya Peterpan… harusnya banyak sekali band berterima kasih kepada Ariel dan Peterpan. They actually started all this. This way of singing, this way of making songs, this way of dressing, this way of hairstyling, this way of everything that every other band is using. Nidji mungkin banyak yg bilang terdengar seperti Coldplay dan The Killers, tapi ketika mereka muncul ke permukaan industri musik Indonesia, paling tidak mereka tidak terdengar seperti Peterpan. Band lain malah mirip miripan dengan Peterpan. J Rocks mungkin terdengar seperti Larc En Ciel, tapi tidak ada band lain di Indonesia yang mirip mereka.

PP: Okay, mengingat issue “menjadi berbeda” ini dikaitkan dengan album anda, apa memangnya yang anda lakukan untuk menjadikan album anda berbeda dengan yang lain?

PR: Simple, I was just being myself. Everybody else was trying to be like someone else coz they were trying to SELL. So they did what sells. I did me. Everything I do , is me. I don’t have to sell so I don’t have to mimic anybody else. I just be me.

PP: Perbedaan apa yang jelas jelas terasa dari album anda?

PR: Dari sisi pesan, di dalam album gue ada banyak sekali topik dan pesan yang tidak terekspose ke permukaan. Tidak banyak lagu yang membahas hal hal seperti perceraian orang tua, pembajakan, demonstrasi, media massa, dll. Coba gue tanya, selain Cokelat dengan ”Bendera”, lagu apa lagi yang elo tau mempromosikan nasionalisme? ”Untuk Indonesia” dan apa lagi?

PP: Selain itu?

PR: Dari sisi musik, coba dengerin beat beat yang gue pilih untuk album pertama gue… Coba perhatikan musik lagu ”Untuk Indonesia”, lagu ”Kembali Tertawa”, lagu ”Hiphop Help” dan misalnya lagu ”Atas nama kebenaran” perhatikan musiknya dan jangan perhatikan liriknya… Have you ever heard a hiphop song like that in Indonesia? Beats like those?

Suatu ketika Endru (beatmaker, rapper, CEO Rizky Rekordz – Red) bilang “Elo cenderung milih beat yang gue ga akan pilih” . That was because I consciously did that on purpose.

Ketika gue pilih beat beatnya Endru didalam benak gue adalah “Gue mau ambil beat yang tidak terdengar seperti Soul ID” I did that coz I wanna be different.

I wanna make sure when I go out, I was myself and that I didn’t sound like Soul ID.

I have tremendous respect for Soul ID, but im not them.

PP: Apalagi perbedaan yang paling jelas?

PR: Yang paling jelas? Cover album gue. Udah liat belum? Do you noticed anything weird? I SMILED!

Coba kumpulin semua CD musisi hiphop dalam dan luar negri. SEMUA.

Pernahkah elo menemukan rapper yang senyum di albumnya?

Idan, temen gue yang juga desainer untuk REF Basketball Clothing bilang “Boy, tau nggak elo musti gimana di album? Elo musti senyum!”

Gue setuju.

See all im trying is to send out a message, that im a new type of rapper. And I don’t see any other way to say that bluntly, other than smiling on my cover.

Temen gue nanya “Kenapa sih elo musti senyum di album lo?

Gue jawab “Kenapa nggak? Kenapa gue musti nggak senyum? Apakah karena manyun itu hiphop dan senyum itu nggak hiphop? So if i smile on my covers and i rap my songs you wont call me a rapper? You’re an idiot!”

PP Lalu kenapa menurut anda semua rapper ga senyum di albumnya?

PR: Entah, mungkin di luar negri mereka mau mengesankan rasa getir dan kekecewaan yang terasa pada umumnya orang kulit hitam. Kalau itu benar, maka hilangnya senyum di wajah mereka adalah sebuah pernyataan sikap.

Nah kalau di Indonesia rapper pada manyun dan nggak senyum terus terang gue juga nggak tau kenapa. Feeling gue bilang, mungkin mereka lebih nyaman dengan tidak senyum.. rapper kan bukan model, susah disuruh gaya terkadang didepan kamera. Jangan sampai kalau ternyata mereka tidak senyum untuk terlihat COOL. Kalau itu benar, justru sangat menggelikan..

PP: Kenapa menggelikan untuk menjadi cool?

PR: “COOL”, is an attribute. You don’t call yourself cool, people call you cool.

You don’t embed yourself with coolness, people will see you and they will judge you and say you’re cool or you’re not. Jadi percuma elo berusaha untuk menjadi cool karena cool adalah predikat yang diberikan orang kepada elo.

Masak, karena gue senyum di album lalu gue menjadi tidak cool?

Cool itu adalah reputasi. Elo nggak bisa menciptakan reputasi, elo BANGUN reputasi, dan membangun reputasi membutuhkan lebih dari sekedar manyun di cover album.

PP: Apakah menurut anda album pertama anda sukses?

PR: Jelas!

PP: Tapi anda kan tidak menjual 1 juta kopi?

PR: Kan gue cuma nyetak 4000 kopi, gimana caranya gue bisa menjual 1 juta kopi?

PP: Oh iya ya… Lalu apa tolak ukur kesuksesannya dong?

PR: Album gue sukses karena pesannya sampai. Gue mau cerita sedikit tentang Pixar Animation Studio. Suatu ketika John Lassiter yang kala itu masih ngurus animasi bersama teman temannya bikin sebuah animasi pendek tentang lampu meja dan anaknya , si lampu meja kecil. Sekarang lampu meja itu jadi ikon Pixar, setiap film Pixar selalu awalnya ada si lampu meja itu lompat lompat sebelum akhirnya jadi huruf “ I “ pada kata Pixar…

PP: Oh iya, saya tau itu…

PR: Nah, setiap tahun di Silicon Valley ada pekan teknologi paling bergengsi dan Pixar berniat untuk menunjukkan keberhasilan mereka dalam animasi lewat film pendek lampu meja tersebut… Film animasi itu menampilkan teknologi dan pendekatan pendekatan baru dalam animasi… Kisahnya sendiri tentang Lampu Meja dan anaknya yang senang main main dengan bola…

Ketika film itu tayang… penonton bersorak tepuk tangan terhadap film yang cuma 3 menit itu… di akhir film , seorang tokoh animasi besar datang menghampiri John Lassiter dan berkata ”John, saya mau bertanya…”

Pada detik itu, John langsung deg degan ”Waduh, dia pasti mau mengkritik teknik rendering atau teknik pembayangan, atau teknik pewarnaan…”

Pria tersebut kemudian melanjutkan pertanyaannya

”Saya mau bertanya, itu Lampu dewasanya Mama-nya atau Papa-nya?”

John merasa lega seketika, dan berkata “We did it…” dia kemudian melanjutkan

” People see past the technical things and was captivated by the story, which is exactly what movies should do”

PP: Hubungannya dengan album anda?

PR: My album is a rookie’s album. Mau gimana juga, album itu pasti tidak sempurna dari berbagai sisi teknis, tapi orang tidak terjebak dengan hal hal teknis pada album tersebut. Nggak ada atau mungkin sedikit sekali yang bilang “Cara elo ngerap aneh” atau “Beatnya nggak enak” , kebanyakan mereka bereaksi terhadap pesan yang ada di dalam album itu, dan itulah yang sangat gue inginkan… terlepas dari reaksi itu positif atau negatif…

PP: Keberhasilan lain dari album tersebut?

PR: Banyak orang yang masuk ke www.pandji.com (blog pandji – red) dan bilang mereka terinspirasi oleh album gue, banyak yang nangis (!!!!) dan gue liat dengan mata kepala gue sendiri ketika gue membawakan “Kembali Tertawa” atau “Dulu dia bukan siapa siapa” dan bahkan banyak yang datang ke gue dengan anaknya dan anaknya langsung nge-rap “Angkat tanganmu Untuk Indonesia…” For me, that’s quite and achievement, its enough for me to wanna do it again… Elo boleh percaya atau tidak, ada remaja masih belasan tahun, bilang ke gue, setelah denger lagu “Untuk Indonesia” dia ingin jadi Presiden RI. Sumpah!!!

PP: Karena anda bikin album tidak berharap dapat uang, apakah anda berharap untuk mendapatkan penghargaan berupa sebuah award misalnya?

PR: Penghargaan itu seperti ramalan horoskop. Kalau bagus kita percaya, kalau tidak kita tidak percaya… Sama dengan awarding, kalau gue dapet maka gue akan seneng, tapi kalau gue ga dapet, ga akan membuat gue berpikir bahwa musik gue lebih jelek.

PP: Ngomong ngomong.. apa judul album anda yang ke dua ini

PR: Judulnya ”You’ll never know when someone comes in and press play on your paused life”

PP: A.. a.. appaa ?

PR:”You’ll never know when someone comes in and press play on your paused life”

PP: Pa..panjang amaat? Kenapa panjang gitu?

PR: Kenapa tidak?

PP: Ya.. orang kan susah untuk menyebutnya…

PR: Exactly my point. Pengalaman gue selama promo radio atau di interview oleh wartawan, ada 2 jenis media.. Media yang cerdas.. dan yang tidak. Media yang cerdas tidak pernah menemui kesulitan dalam menulis atau menyebut “Provocative Proactive”. Media yang tidak, kadang menulis seperti ini “Proaktif Profokativ” dengan “f’ dan “v” yang ketuker.. atau ada juga yang menulis “Provokatip Proaktip” dengan “p”…. Gue sih ketawa ketawa aja… Sekarang judul album yang panjang ini seperti jebakan terhadap media… nanti akan ketauan sendiri mana media yang cerdas dan yang tidak… Mana yang niat dan yang tidak…

PP: Nggak takut dianggap menjebak?

PR: Kalau bersih kenapa harus risih? (sambil bernyanyi seperti iklan layanan masyarakat – red)… hehehe, kalau emang yakin nggak akan salah pasti ga akan terjebak…

PP: Tapi orang nggak akan inget judul albumnya lhoo..

PR: Coba gue tanya.. lagu ”Superstition”-nya Stevie Wonder ada di album-nya yang mana? Atau lagu ”Heaven and Earth”nya Al Jerreau ada di album yang mana? Atau lagu Eminem yang “Kim” ada di album yang mana?

Bisa jawab nggak?

Pada akhirnya, kita akan lupa dengan judul album, tapi yang penting adalah lagunya…

Album dan judulnya adalah cara musisi untuk mengelompokkan lagunya saja dalam periode tertentu, tapi judul album tidak lebih penting dari lagu lagunya sendiri… paling tidak itu menurut gue…

PP: Jadi apa judulnya tadi?

PR: ”You’ll never know when someone comes in and press play on your paused life”

PP: Dari mana dapet kalimat itu? Mengutip seseorang?

PR: Sama sekali tidak, i came up with it… suatu saat gue merasa pengen nulis itu di twitter… lalu kemudian Gamila (istri Pandji – red) nanya “Dapet dari mana tuh?” gue bilang itu buatan sendiri.. lalu dia bilang ”bagus”

Seketika gue merasa, kayaknya sayang kalau cuma jadi tulisan di twitter… maka gue putuskan jadi judul album

PP: Sedikit out of context… apa bedanya anda di www.pandji.com dengan di microblogging anda di www.twitter.com/pandji?

PR: www.pandji.com adalah pemikiran saya… www.twitter.com/pandji adalah perasaan saya…

PP: Kalau perbedaan album pertama dan kedua?

PR; Apa coba judul album kedua gue???

PP: ”You’ll never know when someone comes in and press play on your paused life”

PR: Pinter juga lu…

PP: Iyalaaah, ganteng juga lagi.. balik ke pertanyaan tadi, bedanya album pertama dengan kedua?

PR: Album pertama banyak hasil pemikiran gue… album ke dua lebih kepada perasaan gue… album pertama lebih provokatif.. album ke dua lebih inspiratif…

PP: jadi kisi kisi album ke 2 bisa ditemukan di twitter?

PR: Pinter bangeeet loooo

PP: Iyalah, ganteng juga lagi…

PR: iya gue tau itu… elo udah bilang tadi…

Penasaran gak dgn video klip gua???

Video klip gue sudah bisa di download di www.dmazone.multiply.com

BTW

Gue yakin, kebanyakan pembaca blog ini kemarin nggak dateng ke acara Grand Launch Album gue pada tanggal 25 Maret 2008 kemarin di Hard Rock Cafe.

Padahal gue pajang disini pengumumannya cukup lama.

Gue yakin kebanyakan pembaca langganan gue baca tulisan itu…

Hanya sekedar penasaran…

Kenapa ya nggak dateng?

Soalnya Tgl 31 Agustus di La Piazza gue mau relaunch album, and its free.

I just need to know 🙂

Supaya bisa evaluasi.

Comment yaaa!


Btw mending mana nih jam relaunch gue? Sore? Atau Malam?

Jam 15.00 – 18.00 atau 19.00 – 22.00?

Berhubung di Kelapa Gading nih venue-nya…

BAB 2: LEARN FROM THE OUTSIDE and the BOX OFFICE METHOD inspired by this book: I CAN CRE8 & TIPPING POINT by MALCOLM GLADWELL

Di Bab 1 dari tulisan gue HOW I SOLD 1000 CD IN 30 DAYS gue bercerita tentang berbeda lebih baik daripada menjadi lebih baik. Di Bab 2 gue cerita tentang saran gue untuk selalu belajar dari luar dunia kita untuk memperkaya keilmuan kita… Enjoy.

Intinya begini:

Kalau elo baca buku yang sama dengan yang dibaca oleh orang lain, bagaimana caranya elo bisa lebih pintar dari yang lain?

Untk memiliki pengetahuan yang lebih lengkap, wawasan yang lebih luas, seringkali kita harus keluar dari lingkungan kita dan belajar dari dunia lain.

Gue sering berkata bahwa hiphop di Indonesia entah kenapa selalu kerjasama dengan mereka yang ada di dalam komunitas hiphop.

Padahal apa yang mereka tahu tidak akan jauh berbeda.

They will never get that quantum leap.

Inilah salah satu alasan kenapa gue ajak Tompi, Angga, Arif kerjasama.

Ini juga mengapa banyak orang setelah bertahun tahun kerja untuk satu perusahaan kemudian keluar untuk kerja di industri dan bidang yang berbeda.

Mereka memperluas ilmu dan wawasan.

Banyak yang setelah mendapatkan ilmu yang mereka cari, kembali ke kantor semula. Dan menempati posisi yang lebih tinggi lagi.

Sekali lagi gue tahu bahwa gue tidak bisa melakukan metoda promosi yang serupa dengan umumnya teman teman di Hiphop Indonesia.

Bahkan gue memilih untuk melakukan pendekatan yang berbeda dengan umumnya industri musik.

Buku I can cre8 isinya tentang berpikir kreatif.

Didalam, ada kutipan dari Thoman Alfa Edison yang berkata “Inventor harus rajin rajin mengintip dunia luar, dunia lain, dunia yang tidak berhubungan dengan dunia diri sendiri dan mencari tahu apa yang sukses disana. Bawa apapun kesuksesan tersebut dan aplikasikan di duniamu. Itu tidak mencontek, itu namanya terinspirasi”

Memang dari dulu, gue sering kali memikirkan hal hal yang tidak seharusnya gue pikirkan.

Maklum, dulu waktu SMA gue seringkali terjebak dalam perjalanan angkot yang sangat panjang dari Pasar Minggu sampai Bintaro Regency (jauh di belakang bintaro sektor 9).

Satu satunya hiburan gue adalah tidur dan kalau nggak ngantuk gue menganalisa hal hal yang gue liat.

Mengapa ini begini, mengapa itu begitu.

Berkaitan dengan pembuatan album ini, gue mengambil studi kasus industri film di amerika.

Gue selalu bingung mengapa produser film amerika selalu mengandalkan minggu pertama pemasukan.

Bagi mereka, semuanya dipertaruhkan di minggu pertama.

Setelah itu, semuanya downhill.

Jadi konsentrasi tim marketing mereka lewat divisi promosi adalah bagaimana caranya membuat sebanyak banyaknya orang nonton pada minggu pertama.

Gue kemudian membeli sejumlah DVD dan mencari bonus behind the scenes-nya.

Studi kasus gue adalah

  1. Transformers
  2. 300
  3. Pixar, a collection of short animated features

Dari 3 DVD tersebut gue menemukan kata kunci bagaimana dunia perfilman Amerika bisa memancing orang menonton film di minggu pertama peluncurannya.

“Anticipation”

Semua usaha mereka difokuskan pada bagaimana cara membuat orang penasaran.

Tidak semua orang. Hanya beberapa orang yang tepat.

Sebelum menjelaskan ini, gue mau menerangkan tentang sesuatu yang gue baca di buku Tipping Point oleh Malcolm Gladwell.

Ini adalah Diffusion model.

Sebuah skema yang menerangkan fenomena Epidemi.

Malcolm Gladwell pada bukunya menerangkan apa yang membuat sebuah produk, sebuah fenomena bisa mewabah dan menjadi sebuah epidemi, sebuah kebiasaan beberapa orang menjadi sebuah budaya.

Dalam siklus tersebut ada beberapa elemen yang penting

  1. INNOVATORS
  2. EARLY ADAPTORS
  3. EARLY MAJORITY
  4. LATE MAJORITY
  5. LAGGARD

5 ini adalah 5 jenis manusia / konsumen di dunia.

INNOVATORS adalah tipe orang yang selalu mencari sesuatu yang baru. Selalu bertualang dan tidak kuatir akan trend yang berlaku. Mereka tidak pernah mengikuti trend. Mereka ada di depan semua trend. Bagi mereka, menjadi yang terdepan sangat penting.

Orang orang ini biasanya fashion designer, product designer, I.T experts, musisi, dll.

Biasanya mereka masuk ke kalangan orang orang mampu.

EARLY ADAPTORS adalah orang orang pertama yang mengadaptasi hal hal yang dilakukan INNOVATORS. Mereka jumlahnya tidak banyak. Hanya beberapa orang, namun lebih banyak daripada jumlah para INNOVATORS.

Mereka adalah orang orang yang influential.

Apa yang mereka lakukan biasanya dianggap keren oleh orang lain.

Mereka seringkali browsing internet, baca majalah majalah luar, nonton TV kabel, beli DVD bajakan film film yang tidak keluar di Indonesia dan tidak ada versi aslinya.

Orang orang ini biasanya kerja di industri kreatif walaupun tidak mutlak hanya dari industri tersebut.

Mereka yang berkerja di dunia entertainment dan elemen pendukungnya, advertising agency, dan lingkungan sekitarnya.

Agar lebih gampang, EARLY ADAPTORS biasanya adalah orang orang yang sudah nonton dan menganggap keren serial Heroes, Prison Break, jauh sebelum dua serial tersebut masuk televisi nasional.

Contoh yang paling sederhana (namun rada aneh) adalah METEOR GARDEN.

Orang orang yang sudah mengaku nonton maraton METEOR GARDEN dan mengaku tidak bisa berhenti sebelum METEOR GARDEN masuk TV adalah para EARLY ADAPTORS.

Mereka dengan sukarela bercerita kepada semua orang betapa keren METEOR GARDEN, cerita itu memicu lingkaran pertemanannya menonton juga dan kemudian ikut ngobrol dengan begitu antusias betapa kerennya METEOR GARDEN, dst, dst, hingga suatu saat, executive stasiun televisi mengendus fenomena ini dan menayangkannya di TV.

Merekalah trend setters. Bukan para INNOVATORS.

Mereka orang orang yang ga mau standard. Ga mau generic.

Orang orang EARLY ADAPTORS inilah yang sering disebut sebut buku marketing sebagai LAW OF THE FEW.

LAW OF THE FEW adalah segerombolan orang orang yang biasanya memicu epidemi.

Jenis orang tersebut adalah

MAVEN, CONNECTORS, SALESMEN.

Maven adalah orang yang sering anda tuju untuk bertanya karena dibenak anda, dia tahu banyak hal. Maven memang haus informasi. Biasanya karena pekerjaannya membutuhkan dia untuk cari informasi. Maven sering dengan sukarela ngasih tau orang info yang dia dapat. Mudah menandai maven. Maven sering ngomong “Eh, udah tau belum… bla bla bla” Dari info belanja baju import dengan harga miring sampai kepada gossip artis terbaru. Dari gadget yang lagi hot di Amerika, sampai ke serial korea yang menyayat hati. Maven sering bercerita tanpa diminta.

Connectors adalah teman anda yang punya banyak sekali koneksi dari banyak sekali dunia. Phonebooknya penuh dengan nomor handphone koneksi koneksinya. Secara aktif dia memang suka mengumpulkan koneksi.

Salesmen adalah bukan orang sales beneran, tapi orang yang mampu “menjual” sebuah ide kepada teman temannya. Kesannya kalau dia yang ngomong, pasti bener.

Kebetulan, tiga tipe LAW OF THE FEW diatas, adalah deskripsi yang sangat tepat kepada para penyiar radio.

Steny Agustaf teman saya masuk kedalam kategori LAW OF THE FEW.

EARLY MAJORITY adalah mayoritas masyarakat yang paling duluan mengadaptasi para EARLY ADOPTERS.

LATE MAJORITY adalah kalangan mayoritas yang belakangan mengadaptasi.

Sederhananya, EARLY MAJORITY adalah mereka yang nonton METEOR GARDEN ketika sudah masuk televisi nasional, dan LATE MAJORITY adalah mereka yang nonton re-runnya.

LAGGARD adalah tipe yang paling doyan mengkonsumis basi-an.

EARLY dan LATE MAJORITY adalah kalangan yang tidak mau ambil resiko dan memiilih untuk melakukan apa yang sudah dilakukan orang. LATE MAJORITY lebih konservatif lagi malah dari EARLY. Kalau udah banyak orang yang lakukan, baru dia mau lakukan juga.

Pertanyaannya: MENGAPA INI SEMUA PENTING?

Jawabannya: KARENA PERIKLANAN SUDAH MATI.

Tidak ada lagi yang jaman sekarang percaya atau kepengaruh iklan.

Kita tahu bahwa itu adalah iklan dan hanya sekedar cara jualan. Tidak ada ketulusan dalam pesannya.

Orang percaya dengan peer to peer recommendation.

Kita lebih percaya dengan perkataan temen kita daripada iklan.

That is the world we are living today.

Karena kita lebih percaya teman, maka penting untuk mengarahkan sasaran kita pada EARLY ADAPTORS.

Jumlah mereka lebih sedikit, dengan itu effortnya secara ekonomi tidak terlalu besar.

Untuk gambaran saja, iklan TV biasanya disasarkan kepada EARLY dan LATE MAJORITY. Itulah alasan mengapa iklan efektifitasnya menurun. Namun tidak pada radio dan majalah.

Radio dan majalah lebih segmented. Lebih sempit pangsanya sehingga komunikasinya bisa lebih efektif. Tidak mass seperti pada TV.

Nah, kembali pada industri film amerika.

Yang dilakukan oleh 300 dan TRANSFORMER adalah memancing rasa penasaran kalangan yang tepat.

Mereka bisa menemukan EARLY ADAPTORS untuk film mereka.

Mereka tahu PR saat ini lebih efektif daripada iklan.

Karena itu mereka menghembuskan isu film ini lewat situs situs film yang sering di akses para EARLY ADOPTERS.

Mereka masuk ke forum forum diskusi komik dan forum diskusi film.

Mereka membocorkan beberapa informasi, foto dan beberapa ilustrasi.

Cukup untuk membuat orang penasaran dan berdiskusi.

Semakin panjang diskusi tersebut semakin tersebar omongan akan film itu.

The next thing you know, its on everybody’s blog, being read by everybody else.

Langkah berikutnya, mereka menyiapkan teaser trailer, 15 sec trailer, 30 sec trailer dan 60 sec trailer.

Inilah yang semakin membuat rasa penasaran memuncak dan diskusi memanas.

They focus everything that got on creating anticipation.

It’s a pre conditioning thing. People are anticipating the movie, even before it was out.

They waited for the right time to release to get maximum effect.

Itulah bedanya dengan umumnya yang terjadi di industri lain. Mereka siap dulu produknya tanpa menyiapkan permintaan terhadap produk tersebut.

Kelak ketika mereka berhasil mendapatkan para EARLY ADOPTERS pada hari hari pertama, mereka yang akan menceritakan betapa keren (atau tidak)nya film tersebut kepada orang lain. Kemudian fenomena epidemi berlanjut.

Untuk menciptakan rasa penasaran gue terlebh dahulu harus tau siapa yang akan gue bikin penasaran.

Siapakah EARLY ADOPTERS yang gue incar?

Setiap dunia, setiap industri punya EARLY ADOPTERS masing masing.

Karena misalnya apabila gue EARLY ADOPTERS untuk film film keren, gue bisa jadi masuk ke LATE MAJORITY untuk urusan trend berpakaian.

Kalau gue EARLY ADOPTERS untuk situs situs baru yang seru, bisa jadi gue EARLY MAJORITY untuk urusan café café yang happening.

Gue memutuskan untuk tidak masuk ke komunitas hiphop. Karena alasan gue diawal tadi.

Gue mau mengambil pasar yang berbeda.

Maka gue memutuskan untuk membuat penasaran pendengar gue di HRFM.

Mereka tepat sekali mewakili kalangan yang gue inginkan dan mewakili gue sendiri.

Dan sepanjang 7 tahun gue siaran di radio dengan segmentasi HRFM, gue mengenali bahwa ternyata umumnya pendengar gue adalah kaum yang ada di dalam LAW OF THE FEW.

Hard Rock FM (Jakarta terutama) memang menyuguhkan segala kebutuhan Maven. Karena itu gue ga kaget kalau diantara pendengar gue ada maven-nya.

Which is exactly why Im targeting my own listeners.

Bersambung…

Di bagian selanjutnya dari BAB 2 ini, gue akan cerita bagaimana gue menerapkan apa yang sudah gue pelajari dari dunia film ke album hiphop gue…

Stay Tuned.

Bab 1: FIND A NICHE inspired by this book: PURPLE COW by SETH GODIN (part 2)

Pada bagian pertama dari BAB 1, gue menulis tentang pentingnya memiliki perbedaan.
Kini gue menulis lanjutannya tentang bagaimana cara gue menciptakan perbedaan tersebut.

…Untuk bisa melakukan itu, semua dimulai dari pemilihan beat ketika gue berkunjung ke kantor Rizky Rekordz di Veteran.

Secara sadar gue memilih beat yang bagi gue tidak terdengar seperti hiphop lain, terutama tidak seperti SOUL ID. Berhubung yang bikin beat adalah orang orang yang biasa bikin beat untuk SOUL ID.

Gue memilih yang lebih melodius, yang seperti musik acid jazz.
Tidak susah untuk memilih beat seperti itu, karena gue hanya perlu untuk jujur pada diri gue sendiri dan memilih apa yang gue suka.
Balik lagi, gue siaran 7 tahun untuk orang di umur 20-30 tahun.
Bawah sadar gue seakan tahu apa yang akan mereka suka.
What I like is what they would like.

Pada saat gue mulai menulis dan mulai membuat rap gue mendengarkan sejumlah lagu rap Indonesia cukup banyak untuk membuat gue ingat untuk tidak terdengar seperti itu secara lirik dan cara ngerap.

Sebelum gue pernah berniat bikin album rap gue udah berpikir kenapa orang dewasa jarang yang mengaku suka mendengarkan musik hiphop Indonesia.
Umumnya orang berumur 20-35 berkata
“Liriknya tidak mewakili gue. Apa yang mereka katakan di lagu bukanlah hal yang ingin gue katakan dalam keseharian. Apa yang menurut mereka penting, tidaklah penting di benak gue”

Ketika gue mulai bikin album gue bertanya kepada diri gue sendiri, apa yang kira kira penting bagi gue.
Dan apakah yag penting bagi gue juga penting bagi orang seumuran gue.

To find answers to that question, I go to my blog.
Back then it was spandji.blogspot.com
Posting dari 2004 – 2007 gue bacain, dan gue membaca comments orang terhadap posting gue.

Dari situ gue menemukan apa yang menurut mereka penting.
Ketika googling dan mencari blog yang menulis nama gue, gue menemukan orang yang terinspirasi dengan omongan gue di radio dan tulisan gue diblog.

Inilah yang memperkuat keyakinan gue untuk jujur dan menulis lirik berisi hal hal yang penting bagi gue.

Pada akhirnya, gue mendapatkan lirik lirik yang sama sekali berbeda dengan rap yang ada sekarang.

Setelah gue punya rencana untuk membedakan segmen dan sebelum mulai menulis, gue tahu gue harus menggandeng musisi yang segmennya sama dengan yang gue incar.
Sesuatu yang tidak sama sekali berkaitan dengan hiphop Indonesia.

Ketika mulai menulis, gue sadar ada beberapa lagu yang sangat tepat untuk Tompi dan Angga dari Maliq & D’Essentials.
Mereka tepat sekali sesuai dengan yang gue pikirkan.
Ketika mereka mendengar nama Tompi dan Angga dalam sebuah album, hiphop sekalipun, mereka tahu dimana positioning album ini.

Yang harus digaris bawahi disini adalah, walaupun secara sadar gue memang berusaha untuk berbeda dengan yang lain, tapi gue tidak harus berpura pura.
Gue memang beda dengan yang lain.
All I did was be honest with myself.

Look back to every rapper that made it big.
Eminem.
50 cent.
Kanye west
Lil Wayne.
Lirik mereka, sound mereka, cara mereka ngerap beda dengan yang saat itu ada.

That is called niche.
That is a marketing strategy.
That is what everybody needs.

Di bab 2 gue akan menunjukkan bahwa belajar dari dunia yang berbeda akan membawa kita selangkah lebih maju.

BAB 1: FIND A NICHE inspired by this book: PURPLE COW by SETH GODIN

Ketika melihat begitu banyaknya band baru di Indonesia, gue cukup bingung dengan banyaknya diantara mereka yang terdengar sama.

Musik mereka dan lirik mereka terdengar serupa.

Yang lebih lucu lagi, rambut mereka semua juga sama.

Rambut belah pinggir poni panjang, dengan bagian belakang memanjang seperti mullet.

I think you know what I mean.

Mereka seperti itu kelihatannya karena sedang nge-trend.

Nge-trend, dari dulu sudah menjadi sebuah instilah yang membingungkan bagi gue.

Kenapa orang mau perpenampilan sama dengan orang lain?

Belakangan gue sadar ternyata ada 2 jenis orang.

Ada yang mau “cari aman”.

Ada yang mau “kelihatan”.

Yang mau cari aman akan mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Supaya sama. Dengan itu dia akan merasa aman. If I wear the same thing that everybody else is wearing, then no body will blame me for looking weird.

Aman.

Ada juga yang mau keliatan oleh orang lain. Dia ingin berbeda. Omongannya pun sering kali berseberangan dengan umumnya orang. Dia nyaman berada dibawah spotlight karena yakin dengan dirinya sendiri. Terlepas dari apakah dia betul atau salah.

I think I’m this type.

Di dunia musik, mengikuti apa yang trend adalah sesuatu yang aman untuk dilakukan. Toh banyak band sudah berhasil menjual CDnya dengan musik seperti itu dan penampilan seperti itu.

Tapi itu masih relevan kalau di industri musik Indonesia hanya ada sekitar 5 band yang berpikiran seperti itu.

Tapi kalau ada lebih dari 1000 band berpikiran seperti itu, maka yang akan terjadi adalah munculnya 1000 band dengan musik, lirik dan gaya rabut yang sama.

Who would want another UNGU? We just want 1 UNGU. The original UNGU.

Who would want another SAMSON? We just want 1 SAMSON. The original SAMSON.

Di buku PURPLE COW, Seth Godin berkata bahwa agar produk kita bisa muncul ke permukaan dan dikenal orang kita harus berbeda dengan yang lainnya.

Kenapa harus seperti ini? Karena di dunia terutama di Indonesia sudah ada begitu banyak produk dari begitu banyak kategori dengan begitu banyak penawaran dan begitu banyak iklan.

Kita sudah jenuh dengan semua ini dan terusterang tidak punya banyak waktu untuk memilih.

Bayangkan anda sedang mengendarai mobil melewati sebuah peternakan dimana ada sekitar 100 sapi dengan warna corak pada tubuhnya hitam dan putih. Diantara semua sapi, ada seekor sapi yang warnanya ungu.

Ketika anda sampai dirumah, sapi mana yang akan anda ingat?

Being different is better than being better.

Kalau ada 1000 jarum diatas meja.

Bisakah anda menemukan jarum yang punya kualitas paling tajam, besi paling kuat dan tidak akan bengkok hanya dengan melihat?

Tapi kalau ada jarum yang warnanya ungu bisakah anda menemukannya diantara 1000 jarum biasa hanya dengan melihatnya?

Its exactly the same when it comes to the music industry.

This is the age of being different.

Tompi dan Maliq & D’Essentials tried years untill they were finally noticed by people.

Dengar dari cerita mereka, dulu susah sekali berusaha menjual Tompi dan Maliq & D ‘ Essentials.

Kenapa? Dulu orang mau yang aman aman saja. Sekarang semakin banyak orang mencari yang baru, terbuka dengan pilihan baru dan ingin yang berbeda.

The Upstairs made it big because at the time they were the ONLY band like that.

Everybody with a niche will meet their market.

Because the market finds them.

Ketika gue mau bikin album rap gue sadar bahwa gue harus berbeda.

Ada beberapa alasan kenapa gue mau berbeda.

Pertama karena dengan gaya rap Indonesia sekarang, gue sudah tau kemampuan penjualannya.

Jadi kalau gue muncul dengan gaya yang sama, maka kurang lebih penjualan gue akan sama seperti mereka.

I don’t want that.

Kemudian kalau gaya rap gue dan musik gue sama dengan gaya hiphop indonesia sekarang, maka segmen pasar gue juga akan sama dengan mereka.

I don’t want that either.

Berada di lingkungan radio begitu lama membuat gue paham dan hafal karakteristik tiap segmentasi.

Radio adalah media yang personal, karena itu tabiat mereka terbaca dalam keseharian gue sebagai penyiar radio.

Segmentasi hiphop Indonesia sekarang adalah 15 – 25 tahun.

Mungkin bahkan lebih banyak di umur 15 – 20 tahun.

Di radio, biasanya mereka masuk ke dalam radio anak muda.

Segmen seperti ini, bukan hard spender.

Bukan tipe pembelanja.

Mereka berkoloni, berkumpul bersama, tapi kalau mereka nongkrong di sebuah café bersama sama, hanya beberapa yang beli minum.

Sisanya.. minta.

It is their nature. Bukan salah mereka juga karena mereka belum berpenghasilan.

Kemampuan spending mereka tergantung dengan kemampuan orang tua mereka dan kebaikan hati orang tua mereka

Again, they cant help it.

Bahkan mereka yang punya orang tua yang relatif mampu juga tidak akan membiarkan anaknya beli CD lebih dari 3 atau beli CD setiap minggu.

Its tough for music industry trying to aim them coz you and I know there are a lot of CDs out there to buy.

And when you want everything but cant have the money to buy everything whaddyou do?

You download.

You buy pirated CDs that might give you 5 CDs for the price of 1 original CD.

You get the RBT, but not the CD.

You save from someone else’s CD or MP3 player.

But not the CD.

Mengingat segmentasi hiphop di Indonesia saat ini seperti itu, maka gue memilih untuk tidak melakukan hal yang sama.

I want to go out different.

I hafta sound different. Music wise, lyric wise, delivery wise.

Bagaimana cara gue melakukan itu?

BERSAMBUNG…

HOW I SOLD 1000 CD in 30 DAYS, the chapters.

Dibawah ini adalah 7 cara yang ketika di kombinasi menghasilkan 1000 CD dalam 30 hari.

7 cara itu gue bagi menjadi 7 bab.

Setiap bab terinspirasi oleh buku buku yang gue baca

(Sebuah bukti bahwa membaca betul betul mencerdaskan elo, before reading all those books, i know nothing)

1. “FIND A NICHEinspired by this book: PURPLE COW by SETH GODIN

Mengenai perbedaan dan keunikan membuat abum gue naik ke permukaan.

2. “LEARN FROM THE OUTSIDE and the BOX OFFICE METHOD” inspired by this book: I CAN CRE8 & TIPPING POINT by MALCOLM GLADWELL

Mengenai keinginan untuk belajar dari dunia yang berbeda membawa ilmu yang baru untuk album gue.

3. “TRADE UP” inspired by this book: TREASURE HUNT by MICHAEL J. SILVERSTEIN

Mengenai harga album gue yang relatif mahal justru membawa keuntungan.

4. “ADD VALUEinspired by this book: FREE PRIZE INSIDE by SETH GODIN & FAKE FACTORS by SARAH MC CARTNEY

Mengenai cara gue melawan pembajakan.

5. “TELL A STORY” inspired by this book: MARKETERS ARE LIARS by SETH GODIN

Mengenai cara gue me-market album gue. Tidak dengan iklan, tapi dengan diomongin orang.

6. “INVOLVE THE MARKET” inspired by this book: WE ARE SMARTER THAN ME by Barry Libert & Jon Spector and thousands of contributors

Mengenai keikutsertaan pembeli gue dalam proses gue bermusik memperkuat jaringan pembeli gue

7. “DON’T MAKE HITS” inspired by this man: Jay Z.

Mengenai cara gue membuat orang mau untuk membeli CD gue.

Siap membaca dari bab 1 ?

🙂

HOW I SOLD 1000 CD IN 30 DAYS

“Iya, penjualan lo bagus. It’s a fact karena mereka minta repeat order. U should be happy man. Walau bajakan elo ada, orang tetep mau beli yang asli.”

Endru March Sukardi A.K.A. Drusteelo –

SOUL ID member & RIZKY REKORDZ CEO –

Ketika gue trima SMS dari Endru tersebut, gue tersenyum.

Tanggal 21 April, kurang dari sebulan sejak gue launching album tgl 25 maret.

This is not a surprise to me.

My target was to finish 1000 CD in 1 month.

It sounded crazy at the moment, but now it has been confirmed.

I did it.

Untuk ukuran SAMSON, PETERPAN, PADI, UNGU, dll ini sama sekali bukan hal yang membanggakan.

Tapi untuk hiphop?

Hiphop Indonesia? Industri yang katanya stagnan?

How did it happen?

Apakah hanya karena gue udah duluan terkenal sebagai presenter?

Ataukah karena gue sudah punya massa pendengar GMHR di HARDROCK FM?

Elo bisa percaya itu, tapi guepun secara sadar merencanakan dengan sangat detail agar hal ini terjadi.

Gue melakukan sejumlah strategi untuk bisa menjual 1000 CD dalam waktu sebulan.

Kalau elo percaya bahwa gue bisa menjual 1000 CD hanya karena status gue, elo bisa berhenti baca disini.

Tapi kalau elo mau tau… Kasi comment disini

🙂

Finally… It’s out.

It’s out.
I’m proud.

Terima kasih yang udah beli.

Malam ini jam 19.00-21.00 gue tunggu kalian di STARBUCKS SKYLINE BUILDING. Itu lhooo yg DJAKARTA THEATRE.
Dan dapatkan voucher gratis starbucks ukuran tall apa saja.

Yang ga bisa datang ke Starbucks silakan ambil aja di resepsionis HRFM.
Sarinah lantai 8.
Tapi mulai Jumat tanggal 14 ya ngambilnya.
Di resepsionis akan gue titipin CD elo dan daftar nama elo.

….

I love you guys for supporting me.

🙂