Walk Away

‪A very special person asked me, why do i still wanna be friends with people who publicly mocked me for political reasons. ‬‪She asked me why i didn’t fire back.‬

‪The answer is because they don’t know any better.

They forgot that way before they even mention the word “politics” in their conversations, I lived it. I know more. Seen more. Met more. Understood more.

They speak as if they’re morally better than me, and so their truth is the truth.

But my eyes saw more than they ever can see.

Most importantly, I forgive them & my decision for not confronting them is a decision based on the unity I plan to keep after the election.‬

‪I care about how they feel. I can take the heat. And so I walk away. ‬

Bikin Gampang

Bingung milih siapa di Pilkada?
Kita bikin gampang deh

Mari bicara anti korupsi.

Dengan segala kasus Rp 23.3 trilyun Dana Guru, pameran buku Frankfurt yang dikaitkan ke Mas Anies, atau Panama Papers yang dikaitkan ke Bang Sandi, kenapa ada 4 mantan pimpinan KPK yang secara terbuka mendukung Mas Anies dan Bang Sandi?
Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Chandra Hamzah, Taufiequrachman Ruki.

4 orang mantan pimpinan KPK.

5 orang kalau kita hitung Busyro Muqoddas. Kedekatan beliau dengan Mas BW dan Mas Anies membuatnya mendukung Mas Anies walau tidak menjadi juru bicara dan jadi bagian dari tim pemenangan.

Pertanyaan kritis yang sederhana:
Kalau memang Pak Basuki bersih dari korupsi, kenapa tidak ada satupun mantan pimpinan KPK yang secara terbuka mendukung beliau?

Ada masalah apa dengan Pak Basuki?

Pesan apa yang ingin 5 orang mantan pimpinan KPK ini sampaikan dengan mendukung Anies Sandi dan bukan Pak Basuki?

Siapa yang anda percaya paling paham mengenai pemberantasan korupsi? Siapa yang anda percaya opininya dan penilaiannya terhadap siapa yang paling anti korupsi?

5 mantan pimpinan KPK, atau sebuah persona di Twitter?

Silakan direnungkan.

Kita ganti topik

Mari bicara kelayakan menjadi Pemimpin Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.

Bicara soal siapa yang tepat menjadi Gubernur.

Selain 4 nama mantan pimpinan KPK tadi, ada lagi barisan tokoh tokoh yang mendukung Anies Sandi:

Sudirman Said, Hamdan Zoelva dan Faisal Basri.
Iya, Bang Faisal.
Sekarang mungkin anda jadi tahu satu lagi alasan mengapa saya jalan bersama Mas Anies di Pilkada ini. Karena sayapun masih jalan bersama Bang Faisal. Dari 2012 sampai sekarang.

Tadi pagi kami baru saja bertemu. Sarapan bareng. Ngopi. Membicarakan persatuan Jakarta dan apa dampak Pilkada kali ini dengan Indonesia ke depannya nanti. Bang Faisal ingin gabung tapi harus jadi saksi untuk pernikahan keluarganya pagi tadi.

Lalu siapa yang anda percaya paling paham mengenai pemerintahan?

Siapa yang anda percaya opininya dan penilaiannya terhadap siapa yang paling tepat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta?

Sekadar entertainer di twitter? Atau nama nama hebat di atas?

Maksudnya, saya juga entertainer, tapi saya akan menyarankan anda menjadikan opini saya sebagai referensi. Tapi urusan siapa yang tepat jadi Pemimpin Pemerintahan Provinsi, ya jelas percayakan pada orang orang tadi.

Kalau mau nyari Indonesian Idol,  boleh kita pegang opini seorang penyanyi.

Kalau mau milih Film Terbaik, boleh pegang opini seorang sutradara.

Ini memilih Gubernur DKI Jakarta. Dengarkan opini mereka yang memahami pemerintahan dan penyelenggaraan negara.

Sekarang mari coba kita jajarkan semua nama tadi:

Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Chandra Hamzah, Taufiequrachman Ruki, Busyro Muqoddas, Sudirman Said, Hamdan Zoelva, Faisal Basri. Di depan mereka, Anies dan Sandi.

Justice League, lewat tuh.

Ada apa sehingga orang orang hebat ini bersatu mendukung Anies Sandi?

Benarkah ini sekadar memenangkan seorang di Pilkada Jakarta? Atau ada sesuatu yang lebih besar dan lebih penting untuk diperjuangkan?

Coba renungkan sebentar.

Mari Ganti Topik Lagi

Mari kita bicara keteladanan.

Pendukung Pak Basuki paling seneng mengatakan bahwa beliau hanya kasar kepada penjahat.

Anggaplah itu benar.

Maka sebagai Pemimpin, apa yang ingin diajarkan kepada warganya?

Apa yang ingin dijadikan teladan?

Bahwa kita boleh maki maki orang hanya karena kita benar?

Bahwa kalau kita merasa benar, kita boleh menuduh seseorang sebagai maling?

Kota seperti apa yang akan lahir dari pemimpin yang mencontohkan bahwa kita boleh memaki ketika merasa benar?

Apakah damai yang akan terjadi di Jakarta?

Baiklah, kita ganti topik lagi

Sekarang mari kita bicara kebijakan.
Reklamasi. Kita jadikan contoh kasus, sebagai simbol kebijakan era Pak Basuki.

Anda tentu dengar segala polemik dan perdebatannya. Sekarang mari saya kasih gambaran:
Pertama, yang menolak reklamasi, adalah Ibu Susi Pudjiastuti. Menteri Kelautan dan Perikanan.


Kedua. Greenpeace pun menolak reklamasi.

Ke tiga. WALHI juga menolak reklamasi.

Lalu siapa yang anda percaya opininya terkait Reklamasi?

Siapa yang menurut anda kompeten untuk anda pegang omongannya mengenai Reklamasi dan dampaknya terhadap lingkungan serta Nelayan?
Sebuah akun di Twitter, atau mereka di atas?

Pertambahan pertanyaan untuk anda pikirkan.

Nah sekarang, kalau memang buruk untuk lingkungan, buruk untuk nelayan, buruk untuk Jakarta karena menyebabkan banjir? Lalu mengapa dijalankan?

Untuk tahu alasannya, mari kita gabungkan kembali pertanyaan pertanyaan sebelumnya di atas.

Mengapa 5 pimpinan KPK bergabung mendukung Anies Sandi? Mengapa Faisal Basri, Sudirman Said juga berbaris dengan Anies Sandi? Mengapa ditentang Greenpeace, WALHI, Ibu Susi Pudjiastuti, tapi tetap dibangun pulau pulau Reklamasi? Mengapa kemudian kota ini penuh maki maki?

Jawabannya:

Karena yang bermasalah adalah keberpihakan Pak Basuki.

Yang bukan berpihak kepada warga Jakarta, kalau benar benar dipelajari dan dicermati.

Dalam kasus Reklamasi, coba kita baca kronologinya dari jaman Soeharto keluarkan Keppres 52, sampai PTUN Jakarta memenangkan gugatan nelayan Jakarta Utara melawan Pemprov DKI Jakarta.

Baca baik baik, di tanggal 12 Desember 2013 sampai 23 Desember 2014.

Penting untuk dicermati, nama pengembang Agung Podomoro.

Berpihak kepada siapa Pak Basuki?

Pengembang?

9 Naga?

Aguan?

Sekadar informasi, Pulau Reklamasi A, B, C, D dan E adalah milik Kapuk Naga Indah, satu grup dengan Agung Sedayu. Pulau A dan B ijinnya belum keluar karena terkait dengan Provinsi Banten. Pulau C dan D dihentikan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekitar Mei 2016.

Nah walau sudah secara hukum distop, tapi kalau kita lihat Google Map-nya hari ini, sudah berdiri begitu banyak ruko. Mau tau harganya berapa? Rp 11 Milyar. Dan, sudah habis terjual.

Jadi ini Pulau untuk siapa?

Harga ruko 11 Milyar Rupiah, sementara penghasilan Nelayan sejak Reklamasi adalah Rp 300.000 sehari .

Ini rakyat siapa yang bela?

Apakah tidak berpihaknya Pak Basuki kepada rakyat hanya sekali dua kali?

Sebagai gambaran, Pak Basuki tercatat sudah kalah di sidang lawan rakyatnya sendiri sebanyak 8 kali.

Dari Sidang Penggusuran gugatan warganya Pak Basuki yang tinggal di Bukit Duri . Tempat tinggal mereka digusur oleh Pemprov DKI.

Hingga ke Ibu Retno Listyarti, warganya Pak Basuki yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Jakarta . Yang dipecat Pak Basuki karena hadir di TV ketika membeberkan sejumlah kecurangan UN yang terjadi.

Sampai Reklamasi yang digugat warganya Pak Basuki Nelayan yang hidupnya dari laut karena di sidang terbukti menjalankan Reklamasi dengan diam diam

Ketika berkali kali seorang Gubernur digugat warganya sendiri DAN KALAH. Pantas kita bertanya: Untuk siapa kebijakan kebijakannya selama ini? Yang pasti bukan untuk warganya sendiri. Lah wong warganya menggugat dan menang atas Gubernur DKI.

 

Sekarang anda paham kan mengapa kami berdiri berbaris di seberang Pak Basuki?

Bukan karena dibayar.

Bukan karena teman.

Bukan karena diimingi jabatan.

Bukan karena kami toleran kepada yang intoleran.

Kendatipun dicemooh, kendatipun diolok olok, kami tetap suarakan dukungan.

Saya, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Chandra Hamzah, Taufiequrachman Ruki, Busyro Muqoddas, Sudirman Said, Hamdan Zoelva, Faisal Basri, seluruh dewan pakar, seluruh relawan dan seluruh pendukung, berdiri bersama karena yang diperjuangkan adalah Keadilan bagi Jakarta yang dititipkan harapannya kepada Anies Sandi.

Sebenarnya kan sederhana yang Mas Anies dan Bang Sandi perjuangkan.

Keadilan Sosial.

Anda bisa punya tempat tinggal sendiri, yang lain diperjuangkan supaya punya punya juga hunian yang bisa disebut sebagai milik sendiri.

Anda bisa punya pendidikan tinggi, yang lain diperjuangkan supaya punya pendidikan yang baik dan berkelanjutan.

Anda bisa punya penghasilan, yang lain diperjuangkan supaya punya penghasilan.

Anda punya kehidupan, yang lain dibela, dibantu, diperjuangkan supaya hak asasi yang tadinya direnggut darinya bisa dikembalikan: Kehidupan.

Walaupun harus melawan pihak pihak yang sukses atau tidaknya mereka didefinisikan dari tumbuh atau tidaknya profit perusahaan.

Ini kan yang namanya Keadilan Sosial?

Ini kan yang diinginkan?

Karena tanpanya, tidak akan ada Persatuan.

Mas Anies bilang, hari ini kita “Celebrating Diversity in the abscence of Unity”

Merayakan keberagaman dalam ketiadaan persatuan.

Kejahatan, kerusuhan, radikalisme dan intoleransi, itu dampak.

Dampak dari sebuah masalah sosial yang mendasar: Mereka tidak punya apa yang anda punya.

Belum terlambat untuk turun tangan dan ikut masuk ke jajaran dari mereka yang berjuang untuk keadilan sosial di Jakarta.

19 April 2017, anda tahu apa yang harus dilakukan.

Pilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Pilih nomor 3.

Pilih Persatuan Jakarta, yang datang dari Keadilan Sosial yang diperjuangkan.

Tuh saya kasih tau, biar kita bikin gampang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pikiran anda

Saya masih SMP ketika mereka bercerai.

Kedua orang tua saya.

Saya tahu mereka sudah tidak akrab. Pisah kamar cukup lama. Kami tidak lagi pernah makan siang atau makan malam bersama satu meja. Padahal dulu itu seperti sebuah kewajiban. Tidak sopan kalau tidak makan di meja makan bersama. Bersamaan dengan menurunnya kemampuan ekonomi kami, saya melihat melonggarnya Ibu dan Ayah.

Ketika mobil masih ada 2, keduanya sedan. Pembantu rumah tangga ada 4. Supir ada 1. Kami sering sekali berlibur bersama.

Ketika mobil tinggal suzuki carry hitam pinjaman temannya Ayah, celengan saya dibongkar Ibu untuk belanja ke pasar karena tak ada uang, rumah mulai kosong dan Ibu mulai beli makanan dari luar, kami tidak lagi pernah jalan jalan. Bahkan rumah besar itu mulai terasa mencekam.

Ibu dan Ayah jarang sekali secara terbuka berkelahi di depan anak anaknya, tapi kami pernah sekali waktu melihat mereka kelepasan berantem. Diakhiri dengan Ibu menangis dikelilingi anak anaknya.
“Biarin aja, biarin Ibu pergi dari sini”, katanya sambil menangis.

Tapi Ibu tidak pernah pergi.

Ibu tetap bersama kami.

Hingga akhirnya, suatu hari Ibu membuka omongan bahwa mereka akan bercerai dan Ibu mau anak anak bersama Ibu.

Ayah, ketika menjelang perceraian hanya pernah mengajak nonton ke bioskop. Mungkin ingin menghabiskan waktu tersisa bersama selama masih serumah.

Buat saya, rasanya aneh sekali melihat mereka bercerai.
Karena saya tidak benci keduanya.

Mungkin kalau saya benci salah satu, perceraian akan lebih masuk akal dan bahkan dinanti. Tapi saya tidak benci keduanya, saya bahkan sayang keduanya.

Karenanya, saya selalu bingung harus bagaimana bersikap.

Ketika bersama Ibu, Ibu selalu marah marah mengenai Ayah. Ketika bersama Ayah, Ayah yang ngomel ngomel mengenai Ibu.

Berdiri di tengah tengah orang yang saya sayangi tapi mereka saling membenci, adalah perasaan yang hingga hari ini tidak saya sukai.

Ini, saya yakini, jadi alasan mengapa Persatuan adalah isu yang sangat melekat dengan saya.

Lama saya berpikir, mengapa saya peduli sekali dengan persatuan Indonesia? Tidak mungkin karena saya sosok bijak yang begitu peduli akan bangsanya. Mana mungkin karena saya seorang patriot yang bak pahlawan ini berjuang untuk kebaikan semua.

Pasti ada hal lain. Pasti ada hal yang lebih mendalam. Pasti ini karena hal yang personal.

Karena saya sangat terganggu melihat orang berseteru, terutama ketika saya kenal dua duanya dan berteman dengan keduanya.

Saya sering terjebak dalam kondisi seperti ini.

Waktu di SD Triguna, saya dalam limbo yang aneh. Saya berteman dengan anak anak populer sekolah, tapi berkawan dengan anak anak badung di sekolah. Dana dan Beni, adalah 2 anak yang teramat badung. Sayapun mengakui itu. Kesamaan mereka, adalah sama sama bongsor dan ingusan. Dana sering sekali bicara kasar, matanya melotot dan senyumnya lebar kalau mau melakukan sebuah kenakalan. Beni anaknya sering bohong. Sering nipu. Dan sering nemu aja barang untuk dijual. Dari kertas surat warna warni sampai foto kopian dari buku mewarnai. Tapi ketika mereka bilang mau main ke rumah saya, saya tidak menolak.

Tidak ada anak anak lain yang mau ke rumah kalau lagi ada mereka. Sering kali saya bermain berdua dengan Dana di rumah. Atau bermain berdua dengan Beni. Beni tidak mau ke rumah kalau ada Dana dan begitu juga sebaliknya. Lucu, sesama anak nakal ternyata tidak akrab.

Usai saya main benteng dengan anak anak di sekolah, Beni atau Dana mendatangi untuk ngobrol. Anak anak lain bubar. Kadang kejadiannya sebaliknya, saya lagi sama Beni atau Dana, didatangi teman teman lain, Beni atau Dana beranjak pergi.

Ketika di SMP 29 pun serupa. Karena saya sering dibully, melawak jadi cara saya melindungi diri. Kemampuan melawak membuat saya diterima anak anak nakal di SMP, tapi tetap akrab dengan anak anak lain di sana. Bermain dengan 2 kelompok ini benar benar berbeda. Yang anak anak baik punya geng mobil (padahal yang bisa nyetir cuma 1, dan padahal masih SMP pula) namanya Eclipso. Mainnya di rumah seorang kawan di Bintaro. Rumahnya gede. Yang punya rumah ganteng. Anak anak populer lah.

Kalau sama yang nakal nakal, saya punya nama julukan “K-Chill” yang sebenarnya artinya “Kecil”. Maaf alay, namanya juga anak SMP. Kalau main selalu di sekolah sampai sore atau kalaupun main ke rumah selalu ganti ganti rumahnya. Dan pulangnya pasti ada aja sepatu yang ilang. Saya pernah main ke rumah salah satu teman yang rumahnya adalah rumah kosong yang didobrak pintunya. Di dalam hanya ada tiker dan kertas koran serta sejumlah lukisan. Teman saya, namanya Gajah Mada, ayahnya adalah pelukis jalanan. He literally, has nothing.

Ketika main sama yang geng nakal mereka nanya ngapain saya main sama anak anak borju geng mobil yang gak pada punya mobil. Ketika main sama anak anak populer saya ditanya ngapain main main sama anak anak nakal, mereka pada suka mabok, nelen megadon, dll. Bahkan ketika SMP, saya tahu bahwa siapa yang nakal dan siapa yang sok, adalah hanya masalah perspektif.

Di Kolese Gonzaga ketika SMA saya terus terang tidak merasakan konflik batin ini. Tidak ada gap sosial di sana. Semuanya sama. Kaya, miskin, orang jawa, flores, cina, semuanya sama. Budayanya sudah terbentuk sejak lama. Keputusan Gonzaga untuk hanya menggunakan seragam putih abu 3 hari dalam 6 hari sekolah membuat dampak seragam berangsur hilang, dan menampilkan semua apa adanya. Selama bertahun tahun SMA tersebut mengajarkan bahwa beda itu udah kondisi yang terjadi dari sananya, yang harus dipikirkan kemudian adalah bagaimana bersatu dalam perbedaan. Interaksi adalah cara yang Gonzaga ambil. Dari ospek dan Jambore yang diawasi ketat para guru, tempat nongkrong bernama Pohon Mangga, Gardu dan Parmo (semuanya sekarang udah nggak ada), bahkan tawuran antar angkatan (saya tahu ini terdengar aneh, tapi ini memang cara mereka “kenalan”, karena berantemnya tidak pernah didasari benci, hanya usil usilan aja. Kapan kapan saya ceritain lebih dalam), anak anak Gonz itu selalu punya sarana interaksi antar anak anaknya.

Ketika kuliah di FSRD ITB, wuah ini gapnya banyak.

Anak Bandung – Anak Jakarta. Yang anak Bandung merasa anak Jakarta sok keren. Yang anak Jakarta ngerasa anak Bandung suka nyindir mereka.

Anak Seni Rupa – Anak teknik. Yang anak SR ngerasa anak teknik sok pinter dan nggak asik. Yang anak teknik ngerasa untuk apa sekolah teknik ada Seni Rupa.

Anak Konseptor – Anak Kerja. Yang anak anak kerja ngerasa geng konseptor ini bossy dan cuma mau ngonsep tapi nggak mau kerja. Mereka merasa dijadiin kuli. Yang geng konseptor merasa “Kan gue udah ngonsep, masak kerja juga? Emang elo kemarin ikut ngonsep? Nggak kan?”

Nah saya, main dengan orang orang di 6 kelompok tadi.

Bisa dibayangkan nggak pusingnya saya hehehehe.

Bahkan kalau anda masih ingat ramainya #IndonesiaTanpaFPI serta #IndonesiaTanpaJIL, saya berteman dengan orang orang di kedua kelompok ini. Waktu saya wawancara orang ITJ saya dibilang pro FPI, waktu saya wawancara orang JIL saya dibilang pro islam liberal.

Makhluk apa saya ini? :)))

Sebenarnya, saya adalah makhluk yang berteman dengan siapa saja.

Makhluk yang sejak lama merasa bahwa sering kali konflik antar manusia, terjadi karena prasangka.
Makhluk yang tahu persis, bahwa di benak setiap manusia, dia adalah orang yang baik dan benar.
Pilkada (Nah, saya tahu anda dari tadi nunggu kapan tulisan ini mulai nyambung ke pilkada hehehehe) membuka peluang terhadap konflik antar manusia ini. Konflik sosial, begitu sering disebutnya.
Tidak selesai selesai konflik terjadi yang sebenarnya sih kaitannya dengan politik politik juga.
Belakangan ini, tidak berbeda.

Belum dingin kepala karena bertebarannya spanduk Jakarta Syariah, kemarin timses Paslon 2 merilis sebuah iklan di jejaring sosial. Saya asumsikan anda tahu video yang saya maksud. Video ini dibuka dengan sebuah adegan kerusuhan dan dilanjutkan dengan pesan pesan mengenai kebhinnekaan. Versi awal yang saya lihat, menggunakan suara Pak Djarot yang seakan berorasi, ditutup dengan pesan “Pilih Keberagaman”. Tau video yang saya maksud?

Menurut saya, iklan itu bisa jadi merupakan iklan politik terbaik yang saya pernah lihat. Kualitas produksinya, musiknya, pidato Pak Djarotnya, talentnya, kostumnya.


The ad is SO good. But it is SO wrong at the same time.

Orang banyak memasalahkan adegan kerusuhannya. Orang dengan identitas Islam, melakukan aksi massa yang rusuh, membawa spanduk “Ganyang Cina”.

Bagi saya, adegan itu tidak salah. Adegan itu pernah terjadi di Jakarta. Tidak perlu menoleh jauh ke 98, kejadian tersebut baru baru ini terjadi di Jakarta. Rasanya menolak itu pernah ada, hanya terjadi karena 2 hal: Buta sejarah atau berpura pura demi politik saja.

Bukan di situ letak kesalahannya.

Letak kesalahannya, adalah pesan yang tidak sengaja tersampaikan secara tersirat dalam iklannya. Justru karena tidak sengaja, makanya berbahaya.

Mari saya jelaskan.

Yang diinginkan iklan itu, adalah agar kita memilih Kebhinnekaan.

Kelihatannya, yang membuat iklan dan semua yang terlibat lupa:
Kebhinnekaan adalah kenyataan kita. Kita sekarang sudah Bhinneka. Kita bahkan tidak punya kuasa akan kebhinnekaan Jakarta. Begitu tidak kuasanya kita menahan kebhinnekaan ini, warga Jakarta tidak akan pernah kehilangan kebhinnekaannya.

Dan ketika saya bicara Bhinneka, saya tidak hanya bicara agama. Tidak hanya bicara suku. Saya juga bicara latar belakang pendidikan. Saya bicara kebhinnekaan latar belakang ekonomi. Saya bicara kebhinnekaan opini. Cara pandang. Tata bahasa. Gaya hidup.

Jakarta, adalah kota yang Bhinneka, dan dia akan Bhinneka selamanya.


Yang jadi masalah tidak pernah kebhinnekaannya, yang jadi masalah adalah Persatuan dari kebhinnekaan itu tadi.

Kalau kita menerima kebhinnekaan kita, lalu lalai dalam memperjuangkan persatuannya, kita akan tinggal dalam sebuah kota yang ramai dan jadi sempit karena sekat sekat. Lalu apa bedanya dengan Jakarta di era Belanda yang sengaja mempraktekkan politik segregasi dan membagi bagi kebhinnekaan Jakarta dalam sekat sekat berupa kampung homogen di dalam kota yang beragam. Kampung Ambon, Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Bandan, dll. Bahkan ada aturan Belanda yang menyatakan bahwa pendatang harus tinggal berkumpul dengan sesamanya. Karena itu lahirlah, Kampung Cina.

Bukan ini kan yang kita mau?

Bukan sekadar Kebhinnekaan yang kita perjuangkan, tapi justru persatuannya.

Lalu kalau memang persatuan yang kita harus perjuangkan, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan?


Hal yang paling kita hindari, adalah, mendorong orang menjauh dan membangun tembok pemisah. Terutama dalam situasi politik yang panas ini 

Iklan di atas tadi, mencoba memberi garis batas yang jelas: Ini kita, ini mereka.
Kalau kita bersatu, mereka tidak akan bisa menang.

Dan sialnya, yang digambarkan dengan “mereka” diberi identitas Islam.

Saya tahu, bukan itu yang diniatkan.

Tapi justru ketidak sengajaan ini menunjukkan satu hal: Mereka tidak tahu cara bersikap di Jakarta yg Bhinneka.

Jakarta tidak butuh konflik.

Jakarta tidak butuh cara pandang “Kita vs Mereka”

Kalau ini gaya kampanyenya, ketika mereka menang, bisakah dibayangkan apa yang tersisa darinya?
Masalahnya, cara pandang ini sudah mereka miliki sejak lama. Apakah anda sudah melihat iklan ini?

Kalimat “Apakah anda memilih berpihak pada penyeragaman, radikal serta intoleran, atau memilih berpihak kepada keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika” justru menggambarkan sikap yang jauh dari keinginan untuk mempersatukan.

Saya tahu mereka bicara kepada anda dan ingin mengajak anda masuk dalam barisan yang mereka sebut “Keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika”, tapi itu berarti mereka meninggalkan bahkan mendorong jauh orang orang yang tidak memilih mereka dengan melabeli orang tersebut sebagai “Penyeragaman, radikal dan intoleran”.

Kalimat itu saja, sudah menyinggung dan membuat kecewa banyak orang. Mungkin juga anda. Karena anda tidak merasa sebagai orang jahat. Tapi kini, iklan barusan memasukkan anda ke dalam sebuah kotak dengan label radikal dan intoleran. Padahal niatnya, ingin memilih pemimpin yang peduli dengan pendidikan, misalnya.


How does that makes you feel?

Kini kita bisa bayangkan kalau mereka menang, mereka menyisakan kelompok di luar lingkaran mereka.


This is us, that is them.

Ketika hari itu datang, saya ragu persatuan akan hadir di Jakarta.

Yang bikin situasi membingungkan, saya bingung harus arahkan kekecewaan soal video video dan arahan kampanye di atas kepada siapa. Karena Pak Basuki ketika ditanya wartawan terkait iklan tersebut, jawabannya “Kamu tanya timses” seakan beliau tidak mau tahu apa apa tentang iklan ini.

Memang Pak Basuki di sebuah wawancara pernah berkata beliau tidak mikirin strategi. Strategi urusannya parpol dan pemenangan (timses).

Nah kita musti bagaimana ketika arah sebuah kampanye cenderung memicu konflik lanjutan, tapi paslonnya sendiri tidak tahu apa apa mengenai strategi kampanye-nya. Diserahkan sepenuhnya kepada parpol dan timses.

Kita ini mau memilih Pemimpin lho.


Commander In Chief. The Leader. The guy with the vision.

Bagaimana kita mau percaya ini adalah orang yang bisa membawa persatuan, kalau dia tidak punya kuasa kemana arah kampanyenya?

Sekarang, pertanyaan terpenting:

Apa yang kita harus lakukan agar tercipta persatuan?


Dengan mencoba memahami, sebelum membenci

Karena seringkali ketika kita akhirnya memahami, tidak lagi kita membenci.

Pahami, apa sebenarnya yang memicu konflik ini. Apa yang menyebabkan peruncingan ini.
Karena di balik setiap anak yang mem-bully, ada masalah mendalam yang tidak pernah diselesaikan. Menghukum anak itu, tanpa menyelesaikan masalah mendalam tadi, hanya akan membuat si anak semakin dendam dan kelak kembali membully.

Lalu bagaimana caranya bisa memahami mereka?

Dengan interaksi.

Dengan membuka jalur komunikasi.

Tidak dengan mendorong mereka, tapi justru menarik mereka dekat. Cukup dekat untuk bisa diajak berdialog.

Betul, dibutuhkan keberanian. Karena mereka dikenal memiliki cara cara yang beringas.

Betul, dibutuhkan keteguhan. Karena caci maki akan datang mengatakan kita seakan lupa apa yang pernah mereka lakukan.

Betul, semua hal di atas.

Karena itu memang tidak semua orang bisa melakukannya 🙂

Kita perlu pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan siapa saja, bisa mengundang siapa saja, bisa memfasilitasi pertemuan dengan kelompok mana aja. Namun pada saat yang bersamaan, tegas ketika sudah ada yang melanggar aturan.

Agar kita bisa sama sama jembatani perbedaan di antara kita dan saling selam keresahan dan keinginan masing masing.

Saya curiga, sebenarnya masalahnya selama ini hanyalah kecemburuan.

Mas Anies selalu bilang bahwa kita sulit bisa mengharapkan ada persatuan kalau masih ada ketidak adilan sosial.

Jelas ada kecemburuan, ketika tinggal di kota yang sama, menghirup udara yang sama, sama sama menyebut dirinya warga Jakarta, tapi yang satu tidak bisa bersekolah, yang satu tidak punya pekerjaan, yang satu pekerjaannya hanya sebatas buruh karena pendidikannya tidak tinggi, yang satu tidak punya rumah, yang satu direnggut dari kehidupannya.

Keadilan Sosial, adalah kunci penting agar persatuan bisa terjadi.

Dan memang itulah yang jadi program Mas Anies dan Bang Sandi.

Pendidikan untuk semua yang berkualitas dan berkelanjutan sehingga kita tidak diamkan anak anak yang tidak bersekolah.

Peluang kerja untuk warga Jakarta.

Tempat tinggal di Jakarta.

Transportasi yang dapat diandalkan dan sesuai dengan kebutuhan warga.

Itu semua di atas, adalah instrumen yang membantu hadirkan Keadilan Sosial.

Keadilan yang akan membuka jalan menuju persatuan.

Saya tahu, Pak Basuki menginginkan anda agar memilih kebhinnekaan.

Tapi anda dan saya tahu, Mas Anies Baswedan lah yang mengerti cara meraih persatuan.
Tidak percaya? Mari kita berandai andai.

Ketika kondisi Jakarta memanas, lalu ada potensi konflik antar agama akan terjadi di Jakarta, siapa yang anda utus untuk bertemu mereka agar konflik mereda?

Basuki Tjahaja Purnama atau Anies Baswedan?

Tidak perlu menjawab.

Saya bisa dengar jawaban di pikiran anda.

Gak Dateng Debat

Ada yang merasa nggak, Pilkada kali ini sangat panas?

Lebih panas daripada Pilkada 2009. Mungkin lebih panas daripada Pilpres 2014 kemarin. Makanya banyak yang bilang ini “Pilkada rasa Pilpres”.

Tensi tinggi. Maki maki.

Mau tau alasannya mengapa kampanye Pilkada 2017 sepanas ini?

Ada beberapa.

Yang pertama:

Karena banyak yang masih belum melepas muatan kampanye Pilpres yang lalu.

Dan kalau kita tidak belajar untuk melepas muatan kampanye Pilkada kali ini, kampanye Pilpres 2019 akan jauh lebih membakar lagi.

Kampanye Pilpres 2014 memang berakhir kurang enak dengan salah satu kubu (Prabowo-Hatta) mengajukan tolak banding ke MK karena memiliki bukti kecurangan-kecurangan yang mereka nyatakan mereka bawa dalam 10 mobil box. Tapi walau begitu toh akhirnya Prabowo hadir pada acara sumpah jabatan Presiden-Wakil Presiden sebagai penutup bab tersebut.

Banyak kubu pada akhirnya belum bisa melepas muatan kampanye pilpres akhirnya ketika mulai memasuki kampanye Pilkada DKI. Yang kalah masih kesel. Yang menang masih jumawa.

Tapi di Pilkada DKI, ada sesuatu yang menarik terjadi.

Pak Jokowi berniat untuk mendatangi Pak Prabowo. Lawannya dalam kontestasi Pilpres kemarin. Pak Jokowi tidak mengundang Pak Prabowo ke Istana, justru ingin bertamu ke kediaman Pak Prabowo.

Pak Prabowo menyambut baik niat tersebut dan menyambut Pak Jokowi dengam Marching Band. Memberikan hormat, sebelum kemudian menjabat tangan Pak Jokowi. Mereka kemudian berkuda dan difoto media massa. Foto yang setiap kali saya lihat saya selalu menggumamkan lagu “You’ve got a friend in me” dari soundtrack Toy Story.

Di kesempatan lain, Pak Prabowo datang ke Istana kemudian mereka berfoto media ketika sedang ngeteh sore.

Apa yang terjadi? Dua orang ini kan bertarung sengit di kampanye pilpres. Kok malah asik asik santai begini?

Selain ada langkah politik yang diambil Pak Jokowi terkait situasi saat itu, dua sosok ini mau menunjukkan gestur “Pilpres 2014 sudah berlalu”

Dan memang sesungguhnya, sudah jauh berlalu.

Orang orang yang terlibat langsung di kampanye, pasca Pilpres sudah kembali ke kehidupan masing masing, kembali beraktivitas dan kembali berbuat untuk kebaikan dirinya atau bangsa.

Siapa yang belum?

Banyak Pendukungnya.

Saya sendiri sering ditanya terkait tweet tweet saya yang lampau mengenai Pak Prabowo. Padahal saya sudah jelaskan di wawancara dengan Pange dan Iman di #Asumsi bahwa penilaian saya berubah terhadap Pak Prabowo tapi sikap saya sama.

Sejak pertemuan Pak Jokowi dan Pak Prabowo penilaian saya terhadap beliau berubah. Saya mulai bisa melihat figur Prabowo yang dikagumi begitu banyak pendukungnya. Saya bisa melihat ada perubahan positioning juga dari Pak Prabowo. Kalau orang yang melihat pertemuan Prabowo dan Jokowi tidak berubah penilaiannya saking bencinya, maka seharusnya penilaiannya berubah terhadap Jokowi karena beliau jelas kini menunjukkan gestur bersahabat.

Tapi sikap saya terhadap beliau masih sama. Bahwa kalau beliau mau maju sebagai capres, sebaiknya dijalani dulu saja sidang HAM yang lama tertunda. Karena selama kasus 98 terus terkait dengan beliau tanpa kejelasan maka orang akan terus mempertanyakan.

Saya pernah bahas ini dengan seorang kawan di Gerindra dan dia memahami sikap saya. Bahkan menurutnya Pak Prabowo tidak pernah menghindar dari sidang yang menyangkut hal ini, karena dari awal pun beliau selalu menjawab panggilan dari pemerintah bahkan pernyataan bahwa beliau siap bertanggung jawab atas tindakan yang diambil anak buahnya pun keluar dari masa sidang kode etik yang sudah berjalan. Sebuah pertanyaan besar juga untuk pemerintah RI mengapa sidang atas semua kasus HAM yang pernah terjadi di Indonesia tidak dijalankan sesuai dengan janji Presiden Jokowi semasa kampanye 2014.

Maka dengan damainya Jokowi dan Prabowo, yang perlu ditanya tanya adalah: Kenapa pendukung pendukungnya masih pada panas? Apalagi dengan panasnya Pilkada kini, pertanyaannya kemudian ketika mereka tidak bisa melepas muatan kampanye Pilpres, untungnya apa?

Ketika kampanye Pilkada ini usai, kita semua harus belajar untuk melepas atribut kampanye dan kembali ke kehidupan sehari hari. Supaya kampanye Pilpres tidak lebih panas lagi kondisinya.

 

Yang kedua:

Pilkada kali ini panas karena maraknya fitnah.

Ini sebenarnya bukan hal baru. Yang baru itu bukan fitnahnya, tapi siapa yang menyebarkan fitnah. Kali ini pelakunya, banyak orang orang terdidik yang berpengaruh

Kelihatannya juga tidak semua yang menyebarkan fitnah, sadar bahwa itu fitnah.

Banyak yang menyebarkan konten yang narasinya sesuai dengan keyakinannya sendiri, tanpa mencoba memverifikasi.

Begitu besar keyakinan seseorang akan sesuatu, sering kali dia menyebar luaskan informasi yang sejalan dengan keyakinannya tanpa benar benar mencoba mencari tahu apakah yang dia sebarkan itu benar atau tidak dan lebih penting lagi, akan membuat kondisi lebih sejuk atau justru lebih parah.

Kata Chris Rock

“Anyone who makes up their mind before they hear the issue is a damn fool”

Ini karena kadang kadang orang terjebak dengan ideologi mereka dalam menentukan pendapatnya terkait sebuah isu, sebelum memahami atau mendalami isu tersebut. Dalam kasus Chris Rock yang dimaksud adalah “Liberal” dan “Conservative”.

Di Pilkada kali ini, ideologi yang dipegang dan dimainkan adalah “Kebhinnekaan”

Contoh kasus, ketika banyak orang percaya pada anggapan bahwa Mas Anies intoleran karena didekati oleh ormas ormas yang dikenal intoleran, maka ketika muncul di twitter foto “Kontrak Politik Jakarta Bersyariah” orang langsung mengambil sikap ini pasti benar. Tanpa terlebih dahulu mencoba mendalami. Atau setidaknya bertanya kritis saja kepada diri sendiri “Masak sih?”

Itu pertanyaan yang valid lho.

“Masak sih Mas Anies akan membuat Jakarta Bersyariah? Masak orang orang sekitarnya setuju? Masak Pandji yang dalam stand-upnya membahas regulasi prostitusi diam diam saja akan kontrak ini?”

Sebenarnya kan asal kritis dikit, sudah bisa terbaca bahwa ini besar kemungkinan hoax.

Tapi ya namanya juga bias, sikap langsung diambil sebelum sejenak mencoba memahami.

Kejadian paling lucu soal sebaran Kontrak Syariah ini adalah proses fitnahnya disebar dan direvisi sebelum kemudian disebar lagi oleh pelakunya hehe

Pertama tama yang menyebar adalah kontrak seperti di bawah ini

Fitnah ini dengan mudah dipatahkan karena semua orang-pun bisa bikin beginian lalu diprint, difoto dan disebar.

Setelah tidak dimakan netizen, muncul versi dengan tanda tangan di bawah ini supaya lebih dipercaya…

Tapi sebelum Netizen kemakan tanda tangan yang keliatannya rekayasa digital ini, fitnah di atas langsung cepat dipatahkan. Karena ternyata tanda tangan Mas Anies tidak seperti yang di atas. Bahkan kalau buka wikipedia-pun kita semua bisa melihat seperti apa tanda tangan Mas Anies.

Berhubung sudah tahu bentuk tanda tangan Mas Anies seperti apa, baru muncullah hasil revisi hoax terbaru di bawah ini hehehe

Kocak ya?

Harusnya, anda sekarang sudah meyakini bahwa yang di atas adalah fitnah. Fitnah yang kurang terkoordinir, tapi ya tetap saja fitnah. hehe.

Dan kalau anda percaya bahwa itu adalah fitnah, anda bisa coba pikirkan dengan kritis, dari mana fitnah itu datang. Berhubung peserta Pilkada DKI tinggal 2 pasang.

🙂

Itulah mengapa ada situs fitnahlagi.com

Karena kalau dikumpul-kumpulin, ternyata banyak amat fitnahnya. Dari Anies beristri dua sampai kontrak Jakarta Syariah, semuanya dikumpulin dan ditunjukkan untuk memberi pesan. Terkadang kalau sudah panik, cara tidak terhormat-pun dijalankan.

Termasuk soal meme, spanduk, poster, kontrak politik yang berseliweran di jejaring sosial, bisa dibaca di sana.

Ted Koppel pernah berujar ketika mewawancara Sean Hannity

Sekilas info, Ted adalah news anchor senior di CBS yang sangat dihormati dan Sean adalah pembawa acara Fox News yang cenderung konservatif dan sangat mendukung Republican. Sering kali dalam acaranya, Sean jauh dari objektif, teramat bias dan memihak tapi itu karena menurutnya acaranya adalah acara Opini bukan acara berita yang mendahulukan fakta.

Ted Koppel  berujar ketika mewawancara Sean Hannity…

“You have attracted people who thinks that ideology is more important than facts”

Punya pengaruh, itu memang musti hati hati. Musti bijak dalam menyebar luaskan informasi. Saya sadar itu karena saya-pun pernah terjebak dalam menyebarkan berita yang ga bener. Saking pengen buru buru nyebarin informasinya. Karena kan sering kali ketika menemukan sesuatu yang menarik atau mengejutkan suka ada pemikiran “Wah orang musti liat nih”. Padahal kalau kita ngerem sedikit, kita akan cepat tahu bahwa itu adalah hoax.

Pilkada kali ini, menampilkan banyak sekali orang orang terpercaya menyebar luaskan fitnah. Setelah baca ini, kini kita bisa mengukur seseorang dari kelakuannya di jejaring sosial.

Apakah dia terburu buru? Ataukah dia sengaja menyebarkan?

Bahan perenungan bersama.

Nah dua hal yang kita bahas tadi, krusial untuk bisa menjalankan kampanye Pilpres 2019 dengan lebih sejuk dari pada sekarang.

Belajar melepas beban muatan kampanye Pilkada kali ini dan belajar lebih bijak menyikap hoax.

Karena yang tidak boleh jadi korban dalam kampanye politik, hari ini atau kapanpun, adalah Persatuan Indonesia.

Seberapa pentingkah, menang pilkada hingga bersedia mengambil jalan jalan curang?

Mas Anies pernah bilang

“Masih ada kehidupan setelah Pilkada. Jadi jangan ngetweet atau posting yang hanya akan bikin awkward saja ketika ketemuan setelah Pilkada Jakarta”

Dan omongan ini saya pegang betul.

Karena apa artinya menang pilkada, kalau akhirnya yang dikorbankan adalah persatuan kita?

Sudah, tinggalin fitnah fitnah dan kembali ributin program. Bahas tuh DP Nol, OK OTRIP, KJP + dan OK OCE. Atau bahkan kalau perlu, ramein deh tuh kenapa kemarin Mas Anies dan Bang Sandi gak datang debat

KJP+

Apa persamaan radikalisme, korupsi, dan terorisme?

Sama sama diakarkan dari masalah pendidikan.

 

Saya sering ditanya, “Gila nih intoleransi, udah ga bener, gak bisa ditolerir, harus dihentikan sekarang juga. Ayo kita bikin gerakkan. Apa kira kira hashtagnya?”

Terus terang, saya langsung bisa menebak arahnya.

Ini mah dengan mudah bisa menjebak kita kepada Slacktivism

Slacktivism adalah aktivisme yang membuat pelakunya merasa sudah melakukan sesuatu tanpa benar benar ada dampak yang nyata ataupun terukur.

Anda mau benar benar menyelesaikan masalah di atas?

Mulai mendukung usaha untuk membuat pendidikan lebih merata dan terakses oleh semua.

Sudah begitu banyak penelitian dan diskusi yang menjelaskan peranan pendidikan terhadap hal hal di atas.

Ini tidak terkecuali dengan kondisi di Jakarta.

Di Jakarta, kesenjangan ekonomi berdampak kepada kesenjangan dalam pendidikan.

Yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin miskin.

Ini bukan kalimat yang klise, ini realitanya Jakarta seperti yang Mas Anies jelaskan di video ini.

Banyaknya anak yang tidak bersekolah, akan kelak menjadi masalah sosial di Jakarta.

Seperti yang saya sudah pernah bahas di tulisan saya mengenai FPI. Ketidak pedulian kita, kepada permasalahan masyarakat kecil akan berbalik kepada kita dalam wujud masalah masalah yang berdampak langsung kepada kita.

Itulah mengapa, keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil teramat penting. Kelas menengah ke atas seperti anda dan saya, sudah cukup punya modal untuk mandiri. Orang orang tidak mampu ini tidak punya apa apa.

Itulah mengapa, KJP+ yang diusulkan Mas Anies dan Bang Sandi jadi teramat penting dan jadi salah satu alasan utama saya mendukung mereka. KJP+ akan bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka yang saat ini tidak bersekolah karena bantuan non tunai-nya.

Itulah mengapa, Mas Anies merupakan orang yang tepat kalau kita sama sama merasa bahwa untuk menjadikan Jakarta lebih baik maka pendidikan jadi kunci.

Dari 4 nama yang sedang berlaga di Pilkada Jakarta hanya ada 1 nama yang paham betul dan sudah dari jauh jauh hari berkontribusi terhadap pendidikan.

Begitu mengerti pendidikan, sampai Mas Anies paham di mana letak kesalahan KJP sebelumnya. Keluhan Pak Basuki mengenai KJP yang sering disalah gunakan (ada yang untuk karaoke, dll) adalah karena kesalahan dalam metoda pendataan.

KJP melakukan pendataan dari sekolah. Sekolah mengumpulkan siapa siapa saja yang mau dibikinkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), lalu kesemuanya diajukan kepada Kelurahan. Di sini tentu akan ada kemungkinan error yang tinggi. Sekolah (Kepala Sekolah dan guru guru) tentu tidak dalam kapasitasnya untuk melakukan pendataan. Makanya banyak orang orang yang tergolong mampu, mendapatkan KJP. Dari mana kita bisa tahu ini? Ya kalau ada yang sampe dipakai untuk Karaoke kayaknya itu bukan kelas bawah deh.

Mas Anies melakukan pendataan KJP+ dengan bekerja sama dan menggunakan data dari BPS. Badan Pusat Statistik. Yang memang ahli dan memang pekerjaannya melakukan pendataan. Sehingga seperti kata Mas Anies “Yang paling penting, adalah tepat sasaran”.

KJP+ harus diberikan kepada yang membutuhkan. Diberikan kepada yang justru tidak mampu. Jangan sampai orang yang mampu, yang dalam gaya hidupnya ada kegiatan karaokean, justru yang dapat manfaatnya.

Lalu bagaimana cara Mas Anies untuk mengurangi resiko penyalah gunaan? Seperti yang Mas Anies udah pernah jelaskan di media, Mas Anies mengatakan akan membagi periode turun uangnya setiap tahun ajaran baru. Sehingga, uangnya turun tepat ketika kebutuhan akan pendidikan sedang mendesak. Yang jadi masalah adalah kalau uang diturunkan bulanan, maka uangnya keburu terpakai duluan sebelum kondisi membutuhkan. Sebuah solusi cerdik.

Begitu pahamnya Mas Anies akan pendidikan, beliau sampai menyelamatkan 23,3 Trilyun uang rakyat karena menemukan keanehan dalam dana tunjangan guru.

Saya tahu, di socmed banyak yang menuding justru ini salahnya Mas Anies. Tapi sebenarnya sudah dijelaskan di sejumlah media dan bahkan sudah pernah saya tulis di blog lengkap dengan surat dari kemendikbud kepada kemenkeu.

Saya juga tahu, belakangan banyak yang mencoba mengarahkan opini mengatakan Mas Anies ga beres jadi Menteri Pendidikan. Argumennya, adalah yang di bawah ini…

Mungkin anda juga sudah pernah melihat video yang dimaksud.

Sebenarnya ini menarik. Karena andai dia tahu, bahwa sebenarnya gaji guru (PNS maupun honorer) merupakan tanggung jawab Pemprov. Bahwa guru sampai menemui Mas Anies, justru menggambarkan betapa guru tersebut tidak diurusi oleh Pemprov, dalam hal ini dinas pendidikannya.

Kemungkinannya cuma 2: Yang ngetweet nggak ngerti, atau ngerti tapi pura pura dengan tujuan merusak nama Mas Anies.

Dalam rangka khusnudzon saya merasa yang mungkin adalah yang pertama. Mungkin nggak tahu. Tapi kok malah jadi kasian.

Jangan lupa, Mas Anies ini adalah orang yang berhasil membatalkan UN sebagai syarat kelulusan. Ini juga orang yang akhirnya dengan resmi mengeluarkan aturan yang melarang perploncoan. Juga orang yang menangguhkan kurikulum 2013 yang kontroversial tersebut.

Jangan lupa, dibandingkan dengan Bang Sandi, Pak Basuki, Pak Djarot, Mas Anies adalah yang paling berpengalaman dan memahami pendidikan.

Jangan lupa, bahwa anda bisa saja membenci orang orang intoleran, berkata bahwa anda melawan korupsi, mengutuk aksi terorisme, tapi berhenti di situ saja, anda tidak akan menyelesaikan masalah.

Maka kalau anda seperti saya percaya bahwa solusi banyak masalah di Indonesia adalah pendidikan, maka kita pastikan untuk memilih pemimpin yang paling paham pendidikan.

Karena yang Mas Anies dan Bang Sandi perjuangkan, adalah pendidikan berkualitas dan berkelanjutan. Untuk semua. Lewat program mereka, KJP+

 

 

 

Perempuan Berhak

“Kenapa jarang ada komika perempuan di Indonesia?”

Pertanyaan yang cukup sering saya dapatkan dari orang orang sejak pertama kali Stand-Up Comedy meledak di Indonesia.

Sebenarnya, bukan hanya di Indonesia. Komika perempuan di dunia juga jumlahnya jomplang dengan komika laki laki.

Kalau dilihat lebih dalam lagi, sebenarnya bukan hanya profesi komika. Ada banyak sekali pekerjaan yang perbandingan pelaku laki laki dan perempuannya jomplang. Pilot, Arsitek, Pemain sepakbola, Supir, dan walaupun untuk anda, memasak identik dengan perempuan, realita-nya Chef lebih banyak laki laki daripada perempuan. Bahkan White House baru punya head chef perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah di era kepemimpinan Obama.

Jadi sebenarnya, masalahnya bukan di dunia komedi.

Masalahnya ada di dunia gender.

Jadi sulit untuk bisa menjawab dengan tepat mengapa lebih banyak komika laki laki daripada perempuan karena permasalahannya lebih mendasar.

Kalau pertanyaannya diganti “Apakah ada komika perempuan yang bagus di Indonesia?”, saya bisa jawab.

Banyak.

Seperti seni lainnya, tentu komedi juga bagus buruknya tergantung selera. Maka ketika saya menjawab “Banyak” maka yag saya maksud, adalah ada banyak pilihan komika bagus untuk banyak jenis selera komedi.

Bahkan sebenarnya, sejak meledaknya Stand-Up Comedy di Indonesia 2011 yang lalu, SUCI Kompas TV sudah hadirkan komika perempuan dan sampai sekarang masih berkarir bahkan pencapaiannya mengagumkan.

Namanya, Sakdiyah Ma’ruf.

Dan nama tersebut, sudah tersiar sampai luar negeri.

Anda mungkin belum pernah menonton dia Stand-up, tapi orang orang di Australia sudah mengenal komika perempuan muslim pertama Indonesia ini yang membahas mengenai Islam, ekstrimisme, tradisi, dan keperempuanan.

Menariknya, Sakdiyah jadi komika bukan karena dia berencana untuk itu. Dia menggemari Stand-Up Comedy dan menghubungi saya (kalau nggak salah lewat komentar di blog atau di twitter) ingin bertemu ketika audisi SUCI 1 hadir di Jogja karena dia sedang menulis thesis S2 mengenai Stand-Up Comedy. Kami janjian untuk bertemu. Dia datang ke audisi. Saya kenalkan dia kepada Kompas TV lalu Kompas TV berhasil meyakinkan Sakdiyah untuk ikutan audisi.

Kagum bukan hanya dengan kelucuannya tapi dengan sudut pandang yang ditawarkan dan ketenangannya di audisi tersebut, dia diterima masuk. Walau pada akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Hingga hari ini, nama nama komika perempuan terus bermunculan. Angkatan terkini mengenal Aci Resti dan Arafah . Bahkan SUCI 7 yang baru mulai ini, hadirkan komika perempuan Bo’ah dan Nury.

 

Kini yang kita nanti, tinggalah konsistensi.

Karena kalau ada perbedaan mendasar antara umumnya komika laki dan perempuan di Indonesia, adalah jumlah jam terbang dalam melakukan stand-up comedy.

Seharusnya, jumlah yang lebih sedikit tidak berarti mereka kalah lucu. Seharusnya walau lebih sedikit, bisa sama lucunya. Bahkan mungkin lebih. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat jumlah komika perempuan juga jauh lebih sedikit dari pada laki laki, tapi Ellen, Wanda Sykes, Amy Schumer, Whoopi, Sarah Silverman, Tina Fey, lucunya luar biasa. Mengalahkan banyak komika laki laki di sana.

Konsistensi komika komika perempuan Indonesia ini yang masih harus digenjot lagi. Malah di antara begitu banyak nama komika perempuan yang pernah didata oleh Jessot (Jessica Farolan) hanya 5 yang masih stand-up kalau saya tidak salah. Tapi tentu ada nama nama baru yang hadir dan belum tercatat di situ.

Banyak di antara komika perempuan ini yang tidak openmic serajin yang laki-laki. Mungkin juga tidak serajin yang laki-laki dalam menulis materi. Bisa jadi karena Openmic selalu sampai larut malam, penuh asap rokok pula, pokoknya bukan situasi yang kondusif untuk perempuan. Makanya saya pernah usulkan ada baiknya komika komika perempuan bikin aja openmic sendiri yang kondusif. Sekalian berjejaring dengan sesama komika perempuan. Soalnya kalau jarang openmic, ya penampilan akan terus angin anginan.

Konsistensi, bisa jadi adalah alasan mengapa pertunjukan Stand-Up Comedy “Perempuan Berhak” dihadirkan kembali. Komika komika perempuan, Sakdiyah, Fathia, Alison, Jessot, ditambah musik oleh Gamila Arief.

Pertunjukan pertama mereka waktu itu dilakukan di Eclectic Citos tahun 2014. Dan mereka, mengagumkan.

Masing masing komika bukan hanya lucu, tapi mereka juga berani dan masing masing punya warna yang unik.

Fathia dengan premis yang rasanya dekat dengan banyak perempuan ketika kita bicara soal relationship. Jessot yang sejak dulu berani dengan opininya dan brilian dalam premis, kala itu banyak self depracating tapi tidak dengan cara yang membuat dirinya terkesan cemen. Sakdiyah yang tentu ada di kelas yang berbeda dengan rata rata komika Indonesia. Dan Alison yang malam itu, melempar bit yang sampai saat ini masih jadi salah satu bit terfavorit saya di Indonesia. Mengenai keminderan orang Indonesia terhadap Bahasa Indonesia sendiri. Dihantarkan oleh seorang perempuan Inggris.

Kini mereka kembali, dengan tambahan 1 nama: Ligwina Hananto.

Dengan Wina, Perempuan Berhak kini punya seseorang yang akan menghadirkan warna yang beda. Saya belum pernah menonton dia selama ini openmic di Standupindo Jaksel, tapi karena Wina punya Political views, akan sangat menarik menyaksikan dia di atas panggung melakukan Stand-Up Comedy.

Tahun yang tepat pula untuk Perempuan Berhak kembali.

2017 adalah tahun yang ramai dengan pertunjukan Stand-up Comedy. Ernest, Soleh, Adri, Awwe, Bintang, Gilbhas, dan masih banyak lagi komika komika Indonesia membuat pertunjukan spesial dan tur tahun ini. Perempuan Berhak hadir juga di tahun paling seru untuk standupindo ini.

Usul saya, perempuan ataupun laki, sebaiknya tonton pertunjukan ini. Ketika presale dibuka, sikat secepat mungkin tiketnya. Tiket presale hanya ada 100. Hanya 100 tiket. Coba bayangin followers mereka di twitter, dijumlah lalu diingat lagi bahwa presale hanya akan menjual 100 tiket.

Nah kan, mulai kuatir 🙂

Beli tiketnya, dan ajak teman teman lain.

Bisa jadi, ini akan jadi pengalaman nonton Stand-Up Comedy paling berkesan tahun ini.

PS:

Sebagai referensi berikut nama nama komika perempuan yang saya kenal (di luar yang saya kenal masih banyak lagi sebenarnya) dan mungkin bisa dicari di youtube video stand-upnya.

Sakdiyah , Jessica Farolan, Fathia, Alison, Ligwina Hananto, Musdalifah (bukan yang mantan istrinya ), Chevrina, Gita Bhebita, Sacha Stevenson, Alonki, Chandra, Arafah, Aci Resti, Vina, Sri Rahayu, Istiqomah, Bo’ah, Nuri.

Sampai ketemu di pertunjukan Stand-Up Comedy, Perempuan Berhak

Satria Piningit

Pada hari ulang tahun Munir, 8 Desember 2012, saya memakai kaos ini.

Berdiri di depan ratusan orang dan membawakan lagu Menolak Lupa. Lagu tentang Mohammad Hatta, Gus Dur, Wiji Thukul dan Munir.

Masih merinding saya ketika melihat Pange mengangkat gelas dan berkata “Mereka bisa meracuni satu gelas saja tapi takkan bisa meracuni gelas sebangsa!”

Kaos tersebut adalah artwork sampul album rap ke 4 saya berjudul “32” yang secara digital saya rilis 21 Mei 2012 tepat 14 tahun setelah Soeharto turun. Album ini didesain untuk mengingatkan orang agar kita tidak kembali ke era Soeharto.

Waktu bis tur Nusantarap memasuki kota Malang, saya mewajibkan teman teman untuk ke Omah Munir di Batu, yang juga merupakan Museum HAM. Saya dan Mbak Suciwati cukup dekat, keesokannya beliau dan teman teman ikut menonton konser saya di Malang.

Terakhir kami bertemu di perayaan 10 tahun Aksi Kamisan. Di depan Istana Presiden.

Mengapa saya cerita hal hal di atas? Karena beberapa hari belakangan ini, saya dibilang menjilat ludah sendiri, lupa, dibayar dan yang terlucu disebut indigo hehehe.

Saya dibilang lupa album dan kaos 32 yang saya pakai. Lupa Munir, lupa perjuangan HAM dan lupa Orba.

Apa iya saya lupa Munir?

Ataukah ada yang saya tahu dan anda tidak?

Tahukah anda nama Hendropriyono? Beliau adalah Kepala BIN pada masa Munir dibunuh. Berhubung ada anggota BIN yang terlibat, maka indikasi mengatakan beliau terkait dengan pembunuhan Munir. Asumsinya, ya masak ada anggota BIN yang terlibat, lalu atasannya tidak tahu? Tapi seperti yang kita tahu, kasus pembunuhan Munir berhenti di Pollycarpus sebagai pelaku. Perencana dan yang memerintahkan tidak pernah.

Di manakah Hendropriyono sekarang? Yang pasti kemarin waktu debat pilgub putaran 1, beliau duduk di Kubu Pak Basuki

Apa iya saya lupa Munir?

Tahukah anda, apa artinya melanjutkan perjuangan Munir?

Adalah untuk mengurangi kenyamanan diri kita sendiri, berbagi kenyamanan untuk rakyat kecil yang tertindas oleh penguasa.

Oleh, penguasa.

Misalnya: Digusur rumahnya oleh penguasa.

Misalnya: Dihilangkan penghidupannya oleh penguasa.

Menjadi Munir bukanlah buka akun twitter dan ngetweet #MenolakLupa. Tapi menunjukkan keberpihakan. Mendengar apa yang mereka inginkan. Memperjuangkan mereka karena kalau bukan oleh kita, mungkin tidak cukup kuasa mereka mengubah dirinya.

Sudah dengar kabar terakhir?

Pak Gubernur DKI Jakarta kalah dari para nelayan dalam kasus Reklamasi.

Rakyat menang karena 3 pulau ternyata cacat hukum.

Apaiya saya lupa HAM?

Saya baru saja kemarin menyelesaikan tur ke 24 kota di 5 benua dan membawakan materi tentang HAM. Dari 65, Tragedi Trisakti, sampai mengenai menjadi Atheis dan Gay di Indonesia. Saya kurang yakin ada pelawak lain yang membahas hal hal ini apalagi di kota dan jumlah penonton sebanyak saya.

Bahkan Tur Juru Bicara ditutup di Jakarta pada tanggal 10 Desember, di Hari HAM Internasional.

Apaiya saya lupa HAM?

Ataukah ada yang saya tahu dan anda tidak?

Sebenarnya awalnya semua ini gara gara kehadiran Mas Anies dan Bang Sandi di Haul Supersemar.

Supersemar, adalah keputusan yang teramat kontroversial dalam sejarah Republik Indonesia. Jadi pintu masuknya Orde Baru yang dampak kerusakannya masih terasa hingga hari ini.

Semua dimulai dari Amerika Serikat.

Komunisme jadi ancaman terbesar terhadap Kapitalisme di Amerika. Untuk negara yang ekonominya sedang bertumbuh dengan mengandalkan peran korporasi, untuk negara yang berharap banyak pada kompetisi walau artinya harus ada yang kalah, walau harus ada yang kaya dan miskin, maka Kapitalisme harus dibela. Komunisme, paham yang percaya akan ketiadaan pengkelasan dalam masyarakat memang merupakan ancaman.

Begitu tinggi ketakutannya, hingga lahirlah sesuatu yang disebut McCarthyism. Diambil dari nama Senator US, Joseph McCarthy yang memberikan sebuah usul yang kelak akan ada dampaknya terhadap Indonesia.

Ada masanya di Amerika Serikat, anda dipanggil pemerintah untuk ditanya tanya cara pandang politik, siapa teman anda, dan kalaupun anda tidak melanggar hukum tapi anda dianggap terkait komunisme, anda akan dikucilkan dan dibuat sulit hidupnya. Itu namanya McCarthyism. Didesain untuk menemukan dan mengungkap seorang komunis. Gilanya lagi, McCarthyism dipraktekkan di perusahaan perusahaan. Mereka melempar pertanyaan serupa dan kalau misalnya selera musik anda, lingkungan anda, bahkan mungkin warna favorit anda dianggap kekomunis komunisan, anda ditolak.

Anda dikucilkan.

Ini, terjadi juga di Indonesia.

Memang parno-nya Amerika Serikat terhadap Komunisme, melebar ke luar negeri.

Indonesia, adalah negara muda yang dipantau Amerika karena masih kuat-nya aroma Komunisme dari PKI. Bung Karno dikabarkan dekat dengan PKI apalagi ketika NASAKOM-nya diperkenalkan ke publik. Usaha Bung Karno menyatukan Nasionalisme-Agama-Komunis.

Maka beraksilah Amerika, dengan diam diam mendukung Soeharto melakukan “pembersihan” terhadap komunisme. Sesuatu yang bahkan diakui dan disebut oleh Mitt Romney dalam debat presiden beberapa tahun yang lalu. Saat itu Mitt bilang dia usul Pakistan diatasi seperti ketika Amerika mengatasi Indonesia di 60-an. Mitt kayaknya nggak tahu, di Indonesia itu belum benar benar dibuka. Di luar negeri ini sudah rahasia umum. Jangankan Mitt Romney, pembaca komik Captain America saja tahu.

Diperkirakan 500.000 sampai 1 juta orang, diburu, disiksa, dibunuh, karena dituduh komunis tanpa melewati sidang.

Setelah itu, mulai lah McCarthyism di Indonesia.

Banyak yang akhirnya kesulitan mendapatkan pekerjaan karena ini. Jatuh miskin karena tidak punya penghidupan. Ada yang kabur ke luar negeri. Ada yang sedang sekolah di luar negeri dan tidak bisa balik ke Indonesia.

Usai Sukarno turun, Soeharto kemudian menjabat jadi Presiden Republik Indonesia dan memerintah selama 32 tahun. Sebuah era yang kemudian dikenal dengan sebutan Orba. Orde Baru. New Order. Menggantikan Orla, eranya Sukarno.

Kalau mau baca lebih banyak tentang dampak era Soeharto kepada Indonesia yang masih terasa hari ini, silakan baca tulisan saya pandji.com/membieber

Belakangan, saya dituding lupa tulisan saya sendiri karena paslon yang saya dukung bertemu dengan Titiek Soeharto dan Mas Anies tertangkap ada dalam 1 foto dengan Tommy Soeharto. Padahal kan bisa aja Tommy-nya photobomb. Hehehe.

Anyway.

Salah satu bagain penting dari tulisan Membieber di atas adalah ini

Lagipula, mengatakan Soeharto adalah bapak pembangunan, memberi kesan lupa bahwa 30% dana pembangunan Republik Indonesia selama 32 tahun Soeharto memimpin, menghilang ditelan Soeharto dan kroninya total sebesar 350 Triliun dari APBN

Ini bukan hanya fakta yang ditemukan oleh kita sendiri di Indonesia, fakta ini ditemukan oleh Transparency International, majalah TIME asia, dan masih banyak lagi. TIME asia bahkan sampai dituntut oleh keluarga Soeharto yang berakhir pada kekalahan keluarga Soeharto

Dalam konteks pembangunan, Soeharto inc (julukan majalah TIME asia untuk Soeharto dan kroninya) menguasai property seluas 3.6 juta hektar. Tahu ga itu sebesar apa? Itu sebesar Negara Belgia -_-*

Ada tautan di situ yang kalau anda klik, anda akan masuk ke sebuah artikel berbahasa inggris dari Slate.

Untuk yang kesulitan berbahasa Inggris, mari saya ceritakan. Intinya, Soeharto waktu itu melakukan praktek korupsi dengan satu buah metoda favoritnya: Dana Off Budget.

Dana dari perusahaan, biasanya dianggap sebagai dana CSR, yang masuk ke yayasan yayasan beliau. Yayasan Cendana, Yayasan Supersemar, dan masih banyak lagi.

Uang tersebut konon digunakan untuk banyak program Pemerintah. Mungkin yang paling besar dan beberapa anak angkatan saya masih ingat, adalah Beasiswa Supersemar.

Yang jadi masalah dengan Dana Off Budget adalah, uangnya tidak masuk kas negara, sehingga tidak bisa diawasi penggunaannya. Tidak bisa diaudit. Tidak bisa diperiksa BPK.

Inilah yang berjalan dengan begitu lama hingga jaman beliau begitu koruptif.

Tau nggak siapa yang saat ini paling seneng menjalankan program dengan dana off budget?

Bapak Basuki Tjahaja Purnama.

Bahkan Bang Faisal Basri pernah menegur dan mempertanyakan Ahok Center

 

Sebenarnya begini, sebelum kita mencoba menuding Pak Basuki punya kecenderungan mirip Orba, pertanyaannya, apakah ketakutan kita akan pertemuan Anies dengan Bu Titiek adalah karena kita benar benar yakin Titiek Soeharto punya kemampuan untuk melakukan hal hal yang bapaknya lakukan?

Jangankan Ibu Titiek Soeharto. Bu Megawati saja mungkin tidak ada setengahnya Bung Karno dari sisi kapasitas. Beliau saja tidak punya kemampuan orasi ayahnya sendiri. Apalagi, anaknya Bu Megawati, Bu Puan Maharani yang sempat bingung kenapa beliau kalau pidato jarang ada yang tepuk tangan. Sebuah berita yang akhirnya jadi bahan monolog di Late Night saya Sebelas12 di Kompas TV (RIP)

Tommy Soeharto tuh yang mungkin bisa mendekati Pak Harto. Tapi apa yang kita takutkan dari Tommy? Dia jadi Presiden?

Rasanya sangat kecil kemungkinannya. Lha wong syarat jadi Presiden tidak pernah terbukti korupsi, tidak pernah terbukti membunuh dan dipenjara. Tommy sudah 3-3nya. Itu partai yang katanya mau mengusung Tommy jadi Presiden perlu dipertanyakan motivasinya, atau setidaknya wawasan sejarahnya.

Tapi okelah, anggap saja Anies Sandi dikatakan ingin membangkitkan Orba dengan pertemuannya dengan Titiek Soeharto.

Lah Pak Djarot juga dateng ke haul Supersemar dan juga ketemuan dengan Bu Titiek. Bahkan Pak Basuki bilang diterima dengan baik oleh Bu Titiek.

Pak Basuki juga bertemu dengan Probosutedjo, adik Soeharto.

Tentu Pak Basuki belakangan bikin pernyataan beliau bukan minta dukungan Cendana. Tapi ya kan sama aja dengan Mas Anies yang juga bilang hal serupa.

Baru baru ini bahkan Pak Basuki bilang bahwa menolak reklamasi itu menghina Soeharto sebagai “yang buat reklamasi”. Sebuah pernyataan yang membuat Anies bertanya tanya kenapa kebijakan salah jaman Orba malah dilanjutkan. Jadi sebenarnya yang pro Orba siapa?

Sampai sini mungkin anda bingung siapa sebenarnya yang mau membangkitkan lagi era Orba. Anies-Sandi atau Basuki-Djarot?

Mungkin kita mulai dengan pertanyaan ini.

Kalau rombongan Cendana mau bangkitkan lagi era Orba, dari mana peluang mereka?

Tommy Soeharto sedang tidak punya fasilitas politik yang mumpuni. Kalaupun ada partai yang serius mengusung Tommy jadi Presiden, partainya tidak punya pengaruh sejauh ini dalam konstelasi politik Indonesia. Karena bahkan Golkar-pun tidak tertarik mengusung Tommy jadi Presiden.

Titiek Soeharto masih berpolitik. Beliau ada di partai Golkar.

Nah, ngomong ngomong Golkar…

Tahu kan siapa yang masih punya peluang besar untuk mengembalikan era koruptif Orba?

GOLKAR.

Karena Golkar masih ada di DPR.

Golkar masih ada di Pemerintahan.

Golkar justru salah satu partai yang mengusung Basuki-Djarot.

Orang kayaknya lupa (atau pura pura lupa) Setya Novanto ada di tengah tengah 2 kasus korupsi yang masuk jajaran kasus terbesar Indonesia. Mafia Migas dan E-KTP.

Setya Novanto yang dijuluki “Papa Minta Saham” itu lho.

Yang diadukan oleh Pak Sudirman Said karena nyatut nama Jokowi JK dalam urusan Freeport. Yang sidangnya seru banget itu dan bikin warga Twitter ngamuk ngamuk kepada DPR dan bangkit membela Pak Sudirman Said.

Belakangan, Sudirman Said yang diberhentikan dari posisi Menteri. Setya Novanto malah jadi Pimpinan DPR.

Jadi Jokowi ini posisinya gimana sebenarnya?

Pak Jokowi ini ketika mau mencalonkan diri jadi Presiden sempat menelfon Mbak Suciwati Munir (saya diceritakan Mbak Suci sendiri). Berjanji akan membantu mengungkap kasus kasus HAM di masa lalu. Eh, Pak Hendropriyono malah jadi penasehat dan Wiranto sekarang jadi Menteri. Padahal namanya bahkan disebut PBB terkait pelanggaran HAM di Timor Leste, disebut Komnas HAM dan KontraS terkait dengan sejumlah kasus HAM.

Pusing ya?

Dukung Pak Basuki tapi beliau dekat dengan Orba.

Dukung Mas Anies tapi dekat dengan Orba.

Dukung Pak Jokowi tapi beliau juga sama.

PUCINGPALABERBI

 

Nah ini yang mau saja jelaskan sekarang, merupakan alasan utama saya menulis ini.

Berhentilah menggunakan Asosiasi jadi senjata kampanye politik,

Karena sesungguhnya itu benar benar blo’on. Mau sok sokan menuding yang lain pro Orba, lalu belakangan bingung harus berkelit ketika ternyata yang dibela juga merapat ke Orba.

Sudahlah, kembalikan saja pertarungannya kepada gagasan.

Bahas nih KJP+ yang akan memberikan warga Jakarta pendidikan yang baik dan berkelanjutan. Akan mengembalikan anak anak yang saat ini tidak bersekolah, kembali ke sekolah.

OKOCE yang akan lahirkan banyak pengusaha muda, membantu bisnis dan karya anda, melahirkan begitu banyak peluang kerja dan dengan itu mendorong roda ekonomi, memberi pemerataan kepada warga warga kecil

OKOTRIP , yang akan memberikan single fare fee alias sekali bayar untuk 1 kali perjalanan walaupun anda berpindah naik angkot ke Trans Jakarta, lanjut angkot lagi.

DPNol , yang akan memberikan anda peluang untuk memiliki rumah sendiri. Program yang cocok untuk anda yang merasa berat mengumpulkan DP dan terutama yang bukan pekerja kantoran sehingga tidak punya slip gaji rutin untuk diberikan kepada KPR

Di blog pandji.com ini juga saya menulis mengenai beberapa program program di atas. Silakan baca baca sendiri.

Lalu, yang juga penting ingin saya sampaikan.

Sadari yang satu ini:

Pak Jokowi akan mengecewakan kita

Mas Anies akan mengecewakan kita

Pak Basuki akan mengecewakan kita

Lalu kita harus bagaimana?

Berhenti berharap akan ada Satria Piningit yang akan menyelamatkan kita semua.

Jangan senderkan harapan kepada seseorang. Senderkan harapan pada diri kita sendiri.

Apalagi di Politik

Masuk Politik itu seperti berenang di Septic Tank.

Udah pasti akan senggolan sama tai.

Kitalah Ksatria Piningit yang selama ini kita nanti nanti.

Berpeganganlah dengan prinsip kita sendiri. Dukungan dalam politik, kita berikan kepada siapapun yang saat itu sejalan dengan prinsip kita.

Prinsip kita persatuan? Dukung sosok yang kita yakini sejalan dengan prinsip kita.

Prinsip kita HAM? Dukung sosok yang kita yakini sejalan dengan prinsip kita.

Prinsip kita anti korupsi? Dukung sosok yang kita yakini sejalan dengan prinsip kita.

Tapi jangan terlalu naif dalam memberikan dukungan. Jangan buta dalam mendukung karir politik. Di politik orang orang tadi harus melakukan keputusan sulit. Namanya juga berenang di Septic Tank, kan. Kurang sulit apa tuh.

Setialah kepada prinsip kita sendiri.

Kita lah Satria Piningit yang kita nanti nanti.

Kita lah alasan Orba tidak kembali.

Bukan Anies, bukan Basuki, bukan Jokowi.

Itulah mengapa saya memberi like kepada sejumlah tweet yang bagi banyak orang, dianggap menjelekkan saya.

Itu karena yang diperjuangkan dalam tweet tweet itu, benar.

Saya tidak peduli dengan tweet tersebut tujuannya untuk merusak nama dan integritas saya.

Nama saya kan juga nggak bagus bagus amat hehehehe.

Yang saya suka, adalah niatnya. Yang saya ingin sebar luaskan, adalah semangatnya.

Memang sudah seharusnya kita memastikan bahwa apa yang terjadi di era Soeharto tidak terjadi lagi.

Gagasannya dari tweet tweet tersebut, benar. Bagus. Dan penting untuk terus dipelihara.

Hanya butuh untuk diarahkan saja. Diingatkan kita tidak seharusnya berharap banyak pada politisi bahwa dia akan bersih 100% dari persinggungannya dengan orang orang yang salah

Arahkan kesetiaan anda, bukan pada manusia. Tapi pada sikap dan prinsip diri sendiri.

Berhenti berharap banyak.

Pada orang lain dan pada politisi.

Ingat ingat selamanya ucapan saya:

Anda sendiri lah, sang Satria Piningit

 

OKOTRIP

Apa yang salah dengan pertanyaan di atas?

Selain bahwa orang tersebut yang ceritanya mau mendukung Pak Basuki mungkin ga tau bahwa bis Trans Jakarta di foto tersebut ironisnya adalah sumbangan salah satu perusahaan Sandiaga Uno, Tower Bersama,  pertanyaan di atas seharusnya dijawab dengan “Tergantung”.

🙂

Saya terus terang sangat tertarik ketika membicarakan masalah transportasi kota. Kalau anda sudah baca buku saya yang judulnya “Menemukan Indonesia” yang anda bisa beli di sini , anda tahu saya membahas secara dalam soal ini dari pengalaman saya keliling dunia.

Rejeki Tuhan, bakat melawak, dan kemampuan handal dalam jualan proposal, memberikan saya kesempatan bisa mencoba moda transportasi umum di sejumlah negara. Saya nyobain subway di negara dengan penduduk terbanyak dunia. Tepatnya di Beijing, Shanghai dan Guangzhou. Saya juga nyobain naik bis di Beijing dan ketika saya kuatir akan berdesakan (kan penduduknya China terbanyak di dunia), ternyata bisnya kosong. Menurut kawan, adalah karena jumlah bisnya yang banyak dan tidak pernah telat.

Saya juga pernah nyobain NYC Subway yang bisa mengangkut sekitar 6 juta manusia per hari. PER HARI. Ada jam jam penuh, ada pula jam jam kosong. Miriplah dengan Commuter Line Jakarta.

Dengan kemampuan angkut 6 juta manusia per hari, NYC masih macet pula.

Saya pernah nyoba Tube-nya London, salah satu moda transportasi umum tertua di dunia, bisa 1 milyar manusia per tahun.

Saya pernah nyoba berbagai moda transportasi umum di Melbourne yang mendapatkan predikat “The Best City To Live In The World” salah satunya karena infrastrukturnya.

Saya juga pernah nyoba MRT di Tokyo, Jepang. Yang merupakan target orang bunuh diri di sana.

Jadi ketika ada kabar bahwa DKI Jakarta akan punya LRT. Saya girang bukan main.

“Sudah waktunya” pikir saya.

Kalau anda nonton Bhinneka Tunggal Tawa, pertunjukan spesial stand-up comedy saya di 2011, saya bahas mengenai Jakarta yang malnya begitu mewah hanya punya Trans Jakarta sebagai moda transportasi paling mutakhir. Kalah dengan Guangzhou yang sudah punya subway. Sebuah kota di Tiongkok yang penduduknya masih boker di trotoar jalan dan orang naikin mobilnya ke trotoar karena mau melawan arah.

Walaupun agak terlambat memulai, tapi diperkirakan LRT ini akan selesai dalam 2 tahun. Setelahnya akan terus ada penambahan koridor, seperti Trans Jakarta yang merupakan gagasan Bang Yos, programnya berlanjut terus ke jaman Foke, Jokowi dan kini Basuki. Kekhawatiran terbesar proyek LRT bukanlah pada pergantian Gubernur, tapi pada pendanaan proyek LRT ini seperti yang dikuatirkan oleh Bang Faisal Basri.

Tapi pertanyaannya kemudian, apakah LRT saja akan menyelesaikan macet ibu kota?

Rasanya tidak. Pertama karena adanya pembangunan 6 ruas jalan tol.

Lebih banyak infrastruktur kendaraan menghasilkan lebih banyak pengguna kendaraan pribadi, yang akan menghasilkan kebutuhan lebih tinggi lagi untuk infrastruktur kendaraan. Muter terus ga selesai selesai. Masalah dari 6 ruas jalan tol ini sudah diperdebatkan sejak lama. Kawan saya Benhan pernah bercerita dengan jelas di sini. Dan memang 6 ruas jalan tol ini sudah problematik sejak lama

Kedua, karena tidak semua area Jakarta bisa dilalui oleh LRT dan Bis Trans Jakarta. Beberapa area pelosok, jalannya tidak terlalu lebar untuk bisa dilalui bis. Karena itu yang penting adalah Integrated Public Transportation System. Integrasi antar seluruh moda transportasi di Jakarta.

Nah sekarang saya mulai dekat dengan pertanyaan dari foto di atas tadi. Orang tadi bertanya “Pilih naik Mikrolet atau bis Trans Jakarta”.

Tergantung.

Tergantung saya mau ke mana.

Coba lihat realitanya kota Jakarta.

Ini adalah foto foto yang saya ambil dan rasanya pemandangan ini jamak anda temui di banyak daerah menuju anda tinggal.

Banyak sekali area di Jakarta yang tidak bisa dilalui oleh Bis Trans Jakarta.

Coba saya tanya…

Apa persamaannya bajakan dengan angkot?

Sama sama lahir dari kebutuhan.

Saya sering mengatakan “Bajakan adalah cara konsumen memaksa industri untuk melakukan perubahan”. Kalau anda sudah baca buku INDIEPRENEUR yang bisa anda beli di sini, anda akan tahu bahwa setiap kali industri berubah, adalah karena ada para pembajak. Akankah ada iTunes hari ini seandainya tidak ada Napster?

Makanya perubahan jangan dilawan, tapi dirangkul.

Hubungannya dengan angkot?

Angkot lahir karena konsumen memaksa.

Jakarta itu kota yang rada aneh dari sisi bentuk.

Umumnya kota itu antara radial atau grid, ada beberapa bentuk lain tapi rasanya yang umum adalah 2 tadi. Ini kelak akan mempengaruhi rancangan transportasi umum di kota tersebut.

Jakarta, adalah kota yang unik. Kalau anda lihat dari ketinggian, anda akan menyadari bahwa Jakarta itu awut awutan.

Bandingkan dengan kota seperti New York atau Chicago yang bentuknya grid sehingga anda bisa memahami konturnya. Kita bisa hitung berapa blok jarak dari sini ke sana.

Karena bentuknya yang berantakan, lahirlah kebutuhan untuk punya moda transportasi yang bisa masuk ke pedalaman. Ke area area perumahan. Lahirlah kebutuhan akan Mikrolet, Angkot , dan Ojek.

Saya sempat lama tinggal di Villa Bintaro Regency di belakangnya sektor 9. Sekolah saya di Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Pasar Minggu.

Dari sekolah, saya naik KWK S.11 lalu lanjut KWK 08, lalu lanjut D.09, lalu lanjut C.02, baru sisanya saya jalan sekitar 15 menit untuk sampai ke rumah. Sebenarnya dari Gonzaga saya bisa naik Kopaja, tapi naik angkot lebih cepat karena dia bisa masuk masuk rute memotong yang tidak bisa dilalui Kopaja dan Metro Mini karena terlalu besar.

Angkot. Lahir dari kebutuhan.

Angkot adalah cara masyarakat menuntut perubahan.

Jangankan angkot, di komplek perumahan saya, Odong-odomg jadi mda transportasi. Kaga bohong saya.

Isinya ibu-ibu semua, sampe supermarket, turun ngasi duit ke supirnya.

Itu terjadi karena kebutuhan.

Jangan angkot dihapus dan diganti bis 9-10 meter seperti keinginan Pak Basuki.

Angkot dijadikan bagian dari perubahan yang harus dirangkul dan diubah sistemnya jadi lebih baik.

Sebagaimana kini naik Ojek jadi jauh lebih dapat diandalkan, ketika lahir Gojek dan Grab Bike yang memberikan sistem lebih baik kepada para riders. Dulu orang padahal maki maki ojek. Sekarang, orang bule aja pada naik ojek karena mereka tahu inilah solusi transportasi yang cocok dengan kontur Jakarta. Ini yang Jakarta butuhkan.

Anda mau punya bayangan kira kira bis 9-10 meter yang Pak Basuki inginkan seperti apa?

Besarnya seperti ini.

Ini 10 meter. Coba bayangkan masuk area perumahan anda.

Solusi Pak Basuki, menggambarkan ketidak mampuan beliau untuk membaca keadaan sesungguhnya kota Jakarta dan keengganan beliau untuk mendengar kebutuhan warganya sendiri.

Ya begitulah kalau Cuma bisa kerja tapi ga bisa punya gagasannya.

Lalu memang apa yang ditawarkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno?

Perkenalkan: OKOTRIP

Sebuah solusi integrasi transportasi umum Jakarta dari Anies Sandi

Klik di sini untuk lengkapnya http://jakartamajubersama.com/transportasi-terintegrasi

 

Ketimbang menghapus angkot yang adalah wujud keinginan masyarakat Jakarta.

Ketimbang menghapus angkot dan menghilangkan penghasilan sebagian warga Jakarta (karena kalau diganti bis, tentu 1 bis akan memuat lebih banyak penumpang dan menjadikan jumlah bisnya lebih sedikit daripada jumlah angkot, yang berarti jumlah supir yang dipekerjakan lebih sedikit)

Mas Anies dan Bang Sandi berencana merangkul angkot dan mengubah mereka jadi lebih akuntabel. Lebih profesional sehingga ga ada kejadian gantian supir di tengah jalan.

Dibangun manusianya sehingga lebih tertib dalam berkendara. Mas Anies memang berencana membuat pendidikan dan sertifikasi supir kendaraan umum, termasuk angkot. Sesuatu yang disetujui oleh instruktur pengemudi Trans Jakarta.

Diganti sistem penghasilannya jadi berdasarkan kilometer tempuh sehingga tidak perlu ngetem dan kebut kebutan.

Lalu ketika sudah dirangkul, diintegrasikan dengan Trans Jakarta.

Sehingga misalnya anda mau pacaran, anda bisa naik angkot dari rumah, lanjut Trans Jakarta, lanjut angkot lagi sampai depan rumah dia, dengan tarif hanya Rp 5000,-

Gimana caranya?

“Tap-in, Tap-out”

Masyarakat Jakarta akan dibiasakan menggunakan kartu electronic money dari Bank DKI. Setiap kali naik angkutan umum, penumpang diminta untuk menempelkan kartunya (tap-in) di card reader yang tersedia di dekat pintu masuk angkutan tsb. Begitu pula ketika hendak turun, harus tap-out. Ketika turun dari angkot dan hendak naik Transjakarta, maka penumpang tsb akan tap-in kartunya lagi di halte Transjakarta. Apabila jarak antara tap-out di moda sebelumnya dan tap-in di moda lanjutannya kurang dari 30 menit, maka saldo tidak akan terpotong lagi.

Sistem ini sudah sangat umum di banyak negara dunia.

Di Indonesia bahkan pernah diterapkan di BRT Trans Musi di Palembang.

Lah emang pemprov dana-nya ada?

Lah adaaaa. Banyaaak. Pemasukan pemprov DKI Jakarta dari kendaraan pribadi itu begitu tinggi. Sementara subsidi ke Trans Jakarta dari pemasukan tersebut masih relatif kecil.

Pajak dari sektor transportasi (pajak penjualan kendaraan bermotor, pajak balik nama, pajak bahan bakar, pajak dan retribusi parkir) secara keseluruhan merupakan Pendapatan tertinggi bagi pemprov DKI Jakarta. Tahun 2016 yang lalu, nilainya sekitar 15 triliun rupiah. Jauh lebih tinggi dibanding PBB yg ada di peringkat ke-2 urutan penyumbang PAD terbesar sekitar 6 triliun saja.

Selama ini, dari 15 triliun itu, ga lebih dari 20% yang dialokasikan kembali ke sektor transportasi dalam bentuk pembangunan dan perawatan jalan, maupun untuk penyelenggaraan Transjakarta dan sistem pendukungnya.

Harusnya berlaku polluters pay principle di mana penyebab polusi dituntut  berkontribusi lebih. Dalam hal ini untuk transportasi umum kota Jakarta.

FYI: 75% polusi udara di Jakarta bersumber dari asap knalpot kendaraan bermotor.

Jadi sebenarnya kalau pemprov mau, mereka bisa jadikan Trans Jakarta gratis. Ada kok uangnya. Tapi tentu kita tahu, yang gratisan akan membuat orang kurang menghargai, jadi dibikin murah. Hanya Rp 3500,- saja.
Ini hanya masalah keberpihakan. Bisakah pemimpin Jakarta memahami warganya, bukan hanya yang naik mobil, tapi yang naik kendaraan umum. Bukan hanya yang naik kendaraan umum tapi yang mengendarai kendaraan umum.

Maukah pemimpin Jakarta menunjukkan keberpihakannya? Memperjuangkan, apa yang sebenarnya warganya inginkan.

Sampai sini saya mau mengatakan bahwa solusi yang Pak Basuki tawarkan tidak salah. Menghilangkan angkot dan menggantinya dengan bis bisa jadi solusi yang beliau anggap terbaik. Saya sangat yakin sudah beliau pikirkan. Beliau bahkan bisa jamin angkot kalau tetap mau beroperasi tidak akan bisa menang lawan beliau.

Pada akhirnya, itu keputusan yang jadi hak pemimpin Jakarta.

Anda tinggal memilih mau cara memimpin yang mana.

Kalau saya, jelas sekali lebih menyukai OKOTRIP

Bayangkan, akhirnya anda bisa mengukur pengeluaran transportasi dengan lebih jelas. Rp 5000 sekali jalan. One Trip. Naik angkot, pindah TJ, pindah angkot. Sekali bayar. Atau naik angkot, ganti angkot, pindah ke TJ, tetap hanya bayar Rp 5000

Betapa leluasa sisa uang yang anda miliki.

Kita tahu hidup di Jakarta, penuh perjuangan. Sebisa mungkin segala kepastian dibutuhkan untuk perencanaan. Termasuk keuangan. Termasuk perencanaan kebutuhan uang untuk transportasi Jakarta.

Kalau menurut anda ini solusi yang sip, jangan lupa pilih OKOTRIP.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Strategi

Kenapa pendukung Paslon 2 seneng banget ngomongin Anies Sandi ya…

Kenapa mereka nggak fokus pada Paslonnya sendiri?

Padahal kalau dipikir pikir, bukan Anies Sandi lho, Petahana yang tingkat populeritasnya sempat 92,6%  tapi gagal memenangkan satu putaran karena hanya mampu unggul 3.04%. Tidak sampai 300.000 suara.

Bukan Anies Sandi lho yang gagal meraih suara pemilih muda. Padahal punya dukungan selebritas luar biasa dari Tompi sampai Slank, lihat saja Konser Gue 2 yang dipenuhi para pendukung.

Bukan Anies Sandi lho yang punya jumlah pasukan digital terbanyak

Anak muda paling banyak di mana sih? Socmed kan?

Yang tim digitalnya paling gede siapa sih? Petahana kan?

Kok bisa gagal meraih suara pemilih pemula di putaran pertama?

Kok gagal?

 

Pendukung sebelah sana selalu menuding agama sebagai alasan Anies Sandi unggul. Karena itu yang mereka yakini, sulit untuk diberi tahu kebenaran yang ditemukan oleh orang yang memang pekerjaannya melakukan riset untuk kampanye politik seperti ini. Bahwa..

data putaran pertama pilkada menunjukkan kecerdasan pemilih Jakarta. Mereka tak membeli isu murahan–suku, agama, antargolongan.
Exit poll Indikator Politik menunjukkan hanya 7 persen pemilih menjadikan agama sebagai alasan mencoblos. Sebanyak 93 persen lainnya memilih karena kecakapan kandidat, kejujuran, program kerja, atau alasan lain. 

Baca lengkapnya di sini

Mereka tidak bisa percaya itu. Menurut mereka, survey itu tidak mungkin benar. Dengan segala hingar bingar sentimen Agama di social media, pasti alasan utama mereka gagal satu putaran dan hanya unggul tipis dari Anies Sandi adalah, Agama.

Di sinilah mereka gagal untuk memahami permasalahan mereka sendiri. Terlalu sibuk menunjuk kesalahan orang lain, tapi gagal mengangkat kebaikan diri sendiri.

Perhatikan baik baik artikel ini.

Di situ dibahas (sudah dibahas sejak lama bahkan) dan juga disebut sendiri oleh Pak Basuki,  bahwa tingkat kepuasan kinerja Pak Basuki sebenarnya tinggi. Tapi tingkat elektabilitas jauh lebih rendah.

Alias suka sama hasil kerjanya tapi ga suka sama orangnya.

Lalu bagaimana cara tim paslon 2 menyikapi ini?

Selama ini kampanye-nya petahana selalu mengenai apa yang sudah dikerjakan. Dari Kalijodo yang diubah jadi RTH, foto foto artis pendukung Petahana di proyek Subway, Sungai yang bersih, dll.

Lah orang orang mah udah tahu soal ini dan memang sudah menyatakan puas dengan kinerja.

Yang bikin mereka tidak memilih seperti yang artikel tadi katakan, adalah gaya kepemimpinannya. Ini yang harusnya jadi fokus kampanye-nya. Ini yang orang harap lihat ada perubahannya.

Lalu kenapa mereka tidak kampanye ke arah sini?

Karena mereka tahu mereka tidak bisa ubah gaya kepemimpinan Pak Basuki.

Dari ucapan beliau terkait Al Maidah, sampai ucapan beliau bahwa memilih berdasarkan agama itu melawan konstitusi, sampai marah marah pergi meninggalkan acara KPUDKI padahal sendirinya entah kenapa tidak menunggu di ruangan yang diberikan KPUDKI, masyarakat berulang ulang melihat dengan mata kepalanya sendiri: Ternyata beliau tidak berubah.

Maka ketika mengangkat kinerja itu seperti menggarami air laut, mengubah perilaku Pak Basuki tidak mungkin, maka mereka pindah melakukan hal yang belakangan ini gencar sekali lakukan: Menjatuhkan Mas Anies dan Bang Sandi dengan cara asosiasi.

Apakah berhasil?

Apakah berhasil mengingatkan publik bahwa Titiek Soeharto, Tommy Soeharto adalah bagian dari klan Cendana? Apakah berhasil mengingatkan pemilih bahwa FPI rapat ke Anies Sandi? Bahwa pendukung Anies Sandi ada yang menggunakan sentimen agama?

Bisa jadi berhasil.

Tapi datang dengan resiko.

Melakukan semua di atas, jatuhnya jadi keliatan kayak menyerang dan marah marah di jejaring sosial.

Anak muda tidak suka itu. Pemilih pemula tidak suka itu.

Sejak awal masa kampanye, saya berpikir di mana kelemahan Goliath bernama Basuki Tjahaja Purnama ini?

Lalu secara tidak sengaja saya nonton film “World War Z”-nya Brad Pitt. Di situ, ada kalimat “Perhatikan baik baik, biasanya justru dibalik kehebatannya (virus yang menyebabkan orang jadi kayak zombie) justru tersimpan kelemahannya.”

Saya baru sadar.

Kehebatan tim Paslon 2, adalah jumlah pasukan digital yang luar biasa. Tapi justru disitulah, letak kelemahannya. Saking banyaknya jadi cenderung mem-bully. Saking banyaknya jadi susah diatur.

Sejak itu, saya berhenti berargumen dengan buzzer buzzer paslon 2. Membiarkan mereka beringas. Membiarkan mereka mengamuk. Membiarkan mereka secara tidak sadar menampilkan, apa yang ternyata merupakan kelemahannya.

Di mana fokus saya dan teman teman digital paslon 3?

Kampanye gagasan dan program, serta menggaet suara pemilih pemula.

Seperti yang saya jelaskan di sini

Kenapa? Karena kami percaya diri dengan paslon kami sendiri, sehingga kami sudah terlalu sibuk membahas dan beradu program serta kompetensi kami untuk bahkan membahas yang lain.

Misalnya membahas program OKOCE atau DP 0 atau bahkan mengenai KJP+ dan KJS+

Harapannya, dengan paslon 2 terus membicarakan kami, mereka jadi tidak membahas paslon mereka sendiri. Sementara pemilih terus membaca mengenai gagasan gagasan kami. Termasuk yang ikut diramaikan di social media oleh pendukung paslon 2 hehehe.

Jadi, kepada pendukung paslon 2 yang membaca ini, sisa masa kampanye putaran 2 ini mungkin sebaiknya berhenti ngomongin paslon lain seakan akan dari paslon sendiri tidak ada yang bisa diomongin.

Kecuali, saking bingungnya mau angkat apa tentang paslonnya sendiri, hanya itu yang anda pilih sebagai sebuah strategi.

 

DP 0

“Kamu pasti suka lingkungannya…”

Itu kata Gamila sambil mengarahkan saya memasuki sebuah komplek perumahan di daerah Rawamangun.

Sejak menikah, kami tinggal di rumah Mama-nya Gamila di Kelapa Gading. Menyenangkan sesungguhnya, tapi sejak awal kami tentu mengidamkan rumah sendiri. Apalagi ketika 2007, 2008, 2009 selama 3 tahun berturut turut kami kebanjiran. Saya berjanji kepada Gamila, kalau 2010 kita masih kena Banjir, itu jadi kesalahanku. Kita akan cari rumah.

Saya nyari nyari rumah pakai rumah123.com hehe. Standar-laah, tentuin area, tentuin anggaran yang kami mampu, lalu cari. Rumah rumah yang saya temukan di website itu tidak ada yang sreg di hati. Gamila sementara itu, lebih suka naik mobil dan keliling keliling area tersebut. Sesuatu yang menurut saya buang buang waktu. Saya tidak ada waktu untuk itu.

Tapi suatu hari, Gamila bilang dia menemukan rumah mungil yang dijual. Belum tahu harganya, tapi dia mau ajak saya dulu untuk lihat.

Maka berangkatlah kami.

“Kamu pasti suka lingkungannya…”

Gamila mengarahkan saya yang masih agak nggak yakin dengan metodanya mencari rumah. Nyetir mondar mandir keluar masuk perumahan..

Saya sempat nanya “Ini gerbang kompleksnya yang mana? Kok tiba tiba udah perumahan?”

“Masuknya dari depan, dari jalan Pemuda. Ini aku ajak kamu masuk dari belakang..”

Tidak lama dari ucapan tadi, kami melintasi lapangan basket.

“Tuh ada lapangan basketnya” kata Gamila.

Mata saya langsung berbinar binar.

She knows how to win me 🙂

Tak jauh dari lapangan basket, saya ditunjukin rumahnya. Saya suka dengan rumah tersebut. Berjuang sekuat tenaga untuk kumpulin uangnya, rumah kami beli, renovasi sana sini, dibohongin arsitek dan kontraktornya, ngomel ngomel, lalu pada tanggal 18 November 2010, tepat di hari ulang tahun Gamila, kami pertama kali tinggal di rumah kami hari ini.

Saya masih ingat Tahun Baru 2011, saya Gamila dan Dipo melihat kembang api menghiasi langit Rawamangun dari kamar tidur kami yang belum terlalu lengkap furniture-nya.

Sampai detik ini, 7 tahun berlalu, saya tidak pernah main basket di lapangan yang Gamila tunjuk. Tidak perlu memang. Gamila hanya menunjukkan itu untuk memenangkan hati saya. Dan dia berhasil. Malahan saya sering ke lapangan tersebut untuk menemani anak anak main skuter.

Tapi perjuangan saya untuk bisa membeli rumah (dan mengongkosi renovasinya) itu teramat berat. Saya ingat uang yang saya gunakan untuk menyiapkan DP didapatkan dari mengerjakan bertahun tahun mengambil  program stripping (program yang tayang setiap hari dari senin-jumat atau bahkan senin-minggu) di televisi. Hole In The Wall RCTI dan Selamat Pagi Trans 7 di 2007-2008, CasCisCus di ANTV tahun 2008, lalu setelah kena banjir di 2009 dan berjanji 2010 tidak akan kena hal yang sama, saya ambil job stripping Boombastis di RCTI tahun 2009.

Rencananya sebelum Februari 2010 kami udah pindah ke rumah baru. Maklum tiap Februari curah hujan Jakarta menggila. Tapi arsitek dan kontraktor kami kerjanya lelet dan banyak alasan. Untung waktu itu tidak banjir. November 2010 kami pindah. Februari 2011, Gading banjir lagi. Sampai terakhir Februari kemarin rumah mertua saya dan akses menuju ke sana masih kena banjir.

Pada masa ngumpulin DP dan cicilan beberapa bulan itu, badan mau rontok rasanya karena dihajar kerjaan setiap hari dari subuh sampai jam 2 pagi. Kalau ada yang punya album ke dua saya (YNKWSCIAPPOYPL) pasti inget satu skit yang menggambarkan saya pulang jam 2 pagi dan besok harus stand-by subuh..

Tapi perjuangan saya membuahkan hasil.

Rumah kami miliki.

Waktu itu tidak ada keraguan sedikitpun untuk beli rumah karena kami tahu, nilainya akan naik terus. Ini bukan sekadar beli barang. Ini investasi. Nilai rumah kami hari ini (apalagi karena sudah renovasi besar dan fully furnished dengan furniture yang Gamila desain sendiri) sudah jauh dari ketika rumah kami beli.

Maka berjuanglah saya dan Gamila untuk mewujudkan mimpi: Punya rumah di Jakarta.

Tapi, untuk banyak sekali warga Jakarta, termasuk mungkin untuk anda, kondisinya jauh lebih susah dari pada yang saya alami.

Yang brengsek dari beli rumah ini karena harganya yang teramat mahal. Kecuali anda Raditya Dika, nggak mungkin beli rumah secara tunai.

Jadi orang orang seperti anda dan saya ya akhirnya KPR. Nyicil rumah. Tenornya panjang.

Tapi yang jadi perkara sekarang, adalah DP. Seperti cerita saya tadi, untuk seorang presenter semi-terkenal seperti saya, dibutuhkan 2-3 tahun untuk nyiapin DP dan tambahan cicilan beberapa bulan supaya aman ke depannya nanti. Saya bisa membayangkan beratnya anda yang first jobber misalnya atau karyawan.

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, niatnya sebenarnya sederhana: Memberikan warga Jakarta peluang untuk bisa memiliki rumah di Jakarta.

Banyak warga kelas menengah ke bawah terpaksa mencari ke luar kota Jakarta untuk memperbesar peluang untuk punya rumah. Dampaknya kepada waktu dan tenaga yang habis karena keluar – masuk Jakarta dari misalnya Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, dll. Bangun jauh lebih dini, berjuang di pagi hari untuk naik KRL, Trans Jakarta. Sampai kantor tenaga sudah tersedot. Nanti malam, ketika sudah tersedot habis, masih harus melakukan perjalanan yang sama.

Andai punya rumah di Jakarta.

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, premis-nya sebenarnya sederhana: Kenapa untuk barang barang yang nilainya turun, dimudahkan. Sementara untuk yang nilainya naik, yang bisa jadi investasi, tidak dicari terobosannya? Kita bisa nyicil HP, motor, yang nilainya turun. Sementara untuk beli rumah kok ga ada solusinya supaya rakyat digampangkan?

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, dasarnya sebenarnya sederhana: Keberpihakan.

Berpihak.

Itu dasarnya. Berpihak kepada rakyat yang mendambakan rumah. Sebagai pemimpin, Gubernur sebaiknya tidak berkata “Nggak bisa! Nggak mungkin”

Padahal bisa. Padahal mungkin.

Emang susah kalau bisa kerja tapi ga bisa punya gagasannya.

Taunya menjalankan tapi minim dalam strategi, gagasan dan perencanaan.

Losers say “ I Cant”, Champions say “Its hard, but we can try”

Berpihak kepada rakyat, baru sang pemimpin berkata: Mari kita cari caranya.

Karena kalau dipikir pikir, Sandang Pangan Papan adalah kebutuhan dasar.

Masak baju beli, makanan beli, rumah hanya boleh nyewa? Terutama kepada kelas menengah ke bawah?

Pilihan untuk bisa memiliki sudah sewajarnya disediakan Pemerintah. Dipikirkan caranya. Dirancang gagasannya.

Dan pada akhirnya, jalannya ketemu juga.


Rangorang di jejaring sosial ramai menertawakan dan mengatakan itu program mengawang awang..

Tapi mereka, adalah partisan. Antara mereka pendukung Petahana, atau tidak menyukai Anies dan/ atau Sandi.

Dalam heningnya, warga non-partisan memantau. Menunggu. Memperhatikan sambil berharap.

Karena merekapun, dalam heningnya di jejaring sosial berharap ini mungkin terjadi.

Lama lama, mungkin karena jengah juga cemoohan para pendukung Petahana yang mulai berlebihan, secara organik muncul orang orang yang menyatakan bahwa DP0 itu sangat mungkin dan justru bagus untuk menunjukkan keberpihakan Pemerintah.

Tulisan mulai bertebaran di jejarin sosial. Dari seorang mantan anggota DPR, pengamat housing and urban development, ekonom, sampai seorang perempuan Indonesia yang tinggal di Philadelphia dan merasakan program DP0 dari pemerintah sana.

Lama lama, mulai terungkap dengan sendirinya bahwa DP0 tidak berlawanan dengan aturan BI karena di aturan tersebut pada pasal 17 tertulis bahwa DP0 diperbolehkan HANYA untuk program perumahan pemerintah pusat dan/ atau pemerintah provinsi.


Lama lama orang sadar di luar negeri program penyediaan rumah untuk warga memang harus ada dan rata rata memang inovatif sesuai dengan kebutuhannya. Singapore adalah negara yang program penyediaan rumahnya betul betul inovatif, ada program untuk yang baru pertama kali mau beli rumah, untuk ke dua kalinya beli rumah, yang udah sepuh, bahkan yang jomblo. Okelah anda berargumen tapi pendapatan per kapita mereka beda dengan Indonesia, misalnya, tapi kalau anda baca baik baik, kuncinya adalah keberpihakan pemerintah. Jalannya dicari. Diperjuangkan.

Bahkan ada program perumahan dari Pemerintah Pusat berupa DP 1% hehehe

Kini semua pertanyaan soal “ Di mana rumahnya? Seperti apa rumahnya? Nanti kejadian Sub Prime Mortgage dong kayak di US?  Ancur dong APBD DKI? Ide gila macam apa ini? Emang pernah dipraktekkan di negara lain atau kota lain? Nanti orang orang kaya yg pada beli dong? DP 0 itungannya gimana? Emang mungkin?” terjawab sudah.

Yang tersisa adalah pertanyaan pertanyaan kurang signifikan dan sekadar sinikal seperti “Loh kok sekarang bentuknnya rusun? Katanya rumaaaah?”

  1. Rusun itu, RUMAH susun. Bukan RUJAK susun. Anak manajemen saya yang tinggal di rusun juga ngomongnya “Pulang ke rumah”. RUMAH is the place we live in. Rumah adalah tempat tinggal kita.
  2. Lagipula, hanya para pendukung kubu seberang yang ketika dengar kata “rumah” langsung berasumsi ini adalah rumah dengan atap. Memang begitu resikonya kalau bereaksi terburu buru sebelum dapat infonya dengan lengkap. Nyinyir didahulukan, akurasi terbelakangkan.

 

Untuk anda, yang memimpikan memiliki rumah di kota Jakarta, saya undang untuk membaca penjelasan lengkap tentang DP0 di sini.

Sebuah usaha dari Mas Anies dan Bang Sandi untuk menunjukkan keberpihakannya kepada anda. Dan memutuskan untuk memperjuangkan mimpi anda. Walaupun cemoohan orang orang di sekitaran terhadap mereka.

Jangan gusar dengan ucapan ucapan sekitar yang mengatakan “Nggak Mungkin”

Dulu, orang kita juga bilang seetelah ratusan tahun dijajah, Merdeka itu “Nggak Mungkin”

Dulu, orang bilang perbudakan dihilangkan itu “Nggak Mungkin”

Dulu bahkan, mungkin sekitar tahun 90an kalau anda bilang mau ke Bandung dari Jakarta dalam 2 jam, yang dengar akan bilang “Nggak Mungkin”

Hehe, jangankan itu, baru aja sekitar tahun 2000-an awal orang bilang Stand-Up Comedy “Nggak Mungkin” hadir di Indonesia. Orang Indonesia nggak akan siap.

Juga nggak mungkin orang Indonesia bisa tur dunia.

Saya tur dunia dengan melakukan stand-up comedy, 2 kali.

Its always impossible until someone does it.

Berlaku kepada banyak hal, termasuk kepada program penyediaan rumah untuk warga Jakarta gagasan Anies-Sandi, DP 0