Demokrasi yang muda

“Angkat saja capres yang kamu dukung. Jangan menjatuhkan yang jadi lawanmu. Kampanye yang bermartabat”

Pertama tama, bukan ucapan saya yang membuat dia jatuh, melainkan tindakannya sendiri.

Kedua, ada bedanya Negative campaign & Black campaign.

Negative campaign: Mengangkat hal hal negative dari lawan yang benar adanya & berdasarkan fakta

Black campaign: Mengangkat hal negative dari lawan yang tidak berdasarkan fakta alias fitnah.

Secara moral, yang pertama menurut saya WAJIB dilakukan demi kemaslahatan orang banyak.
Terus terang bagi saya sangat bersalah kalau saya diam saja & tidak melakukan negative campaign.

Sederhananya begini, misalnya adik perempuan anda mau menikah dengan laki laki yang anda tahu persis suka mukul perempuan.
Masak anda diam saja dengan kenyataan yang anda tahu? Anda tega kepada adil perempuan anda?

Atau, di RT anda ada pemilihan Ketua RT. Lalu anda tahu persis secara fakta bahwa orang ini pernah dipenjara karena sodomi anak anak di bawah umur.
Okelah dia sudah “menjalani hukuman” tapi masak anda tidak bilang sama sekali tentang hal itu? Setidaknya warga RT tahu masa lalunya & kalau mereka memutuskan untuk tetap jadikan orang ini sebagai ketua RT ya itulah pilihan warga. Tapi setidaknya anda sudah memberi tahu.
Daripada anda diam saja & kemudian kejadian lagi praktek sodom oleh orang ini & anda akan diliputi rasa bersalah.

Karenanya, secara moral saya tidak bisa diam saja. Buat saya diam saja itu salah ketika anda lihat ada kejahatan di depan mata.

Pertanyaannya kemudian: Lalu bedain mana negative & black campaign bagaimana?

🙂

Ya inilah mengapa saat ini pilpres jadi ramai & bising. Karena informasi dilemparkan untuk saling mendukung atau melawan isu yang ada.
Sebagai rakyat Indonesia yang hidup di era informasi terbuka, yang diberkahi dengan kebebasan berpendapat: Cerdaslah. Baca sebanyak banyaknya dan berpikirlah.
Betul, media banyak dikooptasi kubu kubu capres tapi anda serap semua dan saring dengan akal anda. Baca buku. Dengarkan diskusi. Berbincanglah dengan teman. Perhatikan tweet orang orang yang anda percayai.
Lalu, kembali pikirkan.

Itulah maknanya hidup di Republik Indonesia, negara demokrasi yang muda

15 thoughts on “Demokrasi yang muda”

    1. Tidak prematur lah, cuma usianya masih balita. Proses dan tahapan ini tetap harus dilalui untuk mejadi dewasa

      1. Dikatakan masih balita pun tidak, karena umur demokrasi negeri ini sudah 16 tahun. Ibarat anak ABG, demokrasi negeri ini masih labil harus kemana kita mengambil keputusan (memilih presiden) dan menentukan pergaulan (internasional dalam konteks bernegara).
        Tapi, ibarat pilpres ini adalah ulang tahun ke – 17 pemimpin berikutnya lah yg menentukan demokrasi negeri ini, apakah menjadi ABG yang masih labil atau akan jadi ABG yang matang dan dewasa?

  1. nemu link yg bagus mengenai bedanya republik dan demokrasi capitalismmagazine.com/2003/01/republic-democracy-whats-the-difference/

  2. mas Pandji ini ada-ada saja, mempersempit sebuah isu dengan isu yang gak ada hubungannya, itu teori apa ya namanya?? hmm teori usang jd sy lupa. yang sama itu sama-sama isu tapi isinya beda, itu saja. lagian mas kalau berandai-andai mah masalah gampang mas Pandji, gimana klo kejadian lagi, gmn kalau begini-bgitu.. coba kita balik gimana kalau pak RT tobat beneran, bantuin orang susah, orang2 jadi suka Tuhan juga jadi suka, gimana tuh mas kalau begitu?
    lagian klo ngingetin tetangga gak mesti tiap hari juga bisa-bisa dilempar piring karena bosan itu melulu yang dibahas hahahaa.. 😀
    btw thanks udah diingetin supaya banyak cari info, tapi sekalipun kebenaran terungkap telanjang bulat kalau pikiran sudah benci, air selaut gak menghilangkan haus mas hahahaa..
    usaha yang bagus dengan teorinya, terbukti ada yang iya iya aja tuh anda berhasil mempersempit pandangan sesuai yang anda mau, cocok banget jadi timses mah *pisss broo

    1. kalo bertobat??? ya baguslah… apalagi kalo kita tau bahwa dulu dia pernah dosa/jatuh, tapi kemudian bisa bangkit dan jadi orang baik… hal itu akan lebih luar biasa daripada kita taunya dia baik-baik aja dan emang baik… hahaha yang penting memang kita memilih dengan mengetahui “resiko” nya, dilihat dari rekam jejak dan prestasi masing2… perkara sering mengingatkan? ya kalo untuk tetangga yang itu2 aja (sebut saja si A) emang ngeselin, bisa disebut menghasut mungkin,, tapi kalo mengingatkan tetangga2 lain (B-Z), yang lagi pada ngerumpi dan ngumpul? dan kebetulan aja selalu ada si A… ya maap maap.. hahaha peace !!!

    2. Esensi bertobat itu kalo dia mau mengakui kesalahannya, menyadari bahwa yang dilakukannya salah, dan meminta maaf atas perilaku salahnya. Baik kepada Tuhannya maupun kepada sesamanya, terutama terhadap mereka yang pernah disalahi… Serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya tadi…
      Maaf kalo sok tau, ini cuma opini abal-abal aja ^^

  3. tapi bukan berarti capres nomor dua gak ada kekurangannya dong. kalau udah gini kan ya juga perlu pendukung dari pihak capres nomor satu buat menceritakan kekurangan capres nomor dua . Sehingga rakyat tahu semua kekurangan masing-masing calon mereka…
    Bang Panji juga sama lho… Kalau secara moral bang Panji gak bisa diam melihat kejahatan ‘itu’ di pihak capres nomor satu, seharusnya bang Panji juga gak bisa diam melihat kejahatan dari pihak capres dua…
    alhasil bang panji juga harus mengangkat hal negatif dari capres nomor dua… 🙂 jadi gak timpang sebelah….

  4. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Tapi kalau ada pilihan yang lebih baik, mengapa tidak? That’s why I stand on the right side *wink. Tulisan yang bagus, mas Pandji (y) . Salam dua jari 🙂

  5. Bang kalo gitu berarti boleh dong negative campaign ke capres pilihan kita sendiri? Kan katanga mau ngingetin orang, demi kesejahteraan banyak orang kan? Ya jujur gue swing voters sih.

  6. PIlihan no 2. Lebih banyak negatif nya , makan tangan kiri, baca alfatihah salah, pakai baju ihram salah dan banyak lagi kayak bukan muslim aja. Ufs .. Ck..ck.ck.. Cekakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*