Diingat Indonesia ketika masih muda saja.

Entah sudah jam ke berapa dari total 13 jam perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam, tempat kami transit sebelum ke tujuan kami London.

Di pesawat saya lagi nonton film CHEF yg diperankan & disutradarai Jon Favreau tentang seorang Chef yang mencoba mencari kebebasan dalam berkarya. Setidaknya sejauh yang saya tonton sampai sekarang begitu ceritanya. Film saya hentikan di tengah karena saya terpikir untuk menulis ini.

Di film ini, tokoh yang diperankan Jon, Chris, punya seorang anak laki laki yang sudah tidak tinggal serumah dengannya karena Chris sudah pisah dengan istrinya.
Chris setiap akhir pekan selalu mengajak anaknya nonton bioskop, main roller coaster, dll. Sementara anaknya hanya ingin Ayahnya untuk ngobrol dengannya. Menghabiskan waktu bersama di rumah. Seperti sebelum perceraian mereka dulu.

Anak ini sangat mengingatkan saya akan Dipo & sayapun teringat hal hal yang saya perjuangkan setiap hari untuk Dipo, Shira juga Gamila.

Gamila sedang dalam proses merampungkan album, Dipo & Shira masing masing sedang dalam perjalanan mencari dirinya sendiri, kesukaannya, kebisaannya, keinginannya.

Ketiganya, sedang saya perjuangkan 1 hal yang sama: Indonesia yang siap membawa mereka lepas landas.

Saya tahu pasti terdengar menggelikan & terlalu berlebihan. Agak terlalu lebay nasionalismenya.

Tapi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan nasionalisme.

Ini adalah kekhawatiran seorang Ayah & suami yang ingin supaya istri & anak anaknya bisa jadi apapun yang mereka inginkan. Karena negaranya siap untuk mengakomodir.

Ada 2 hal kekhawatiran saya:

1) Kita sering mendengar cerita bagaimana anak anak kita sering jadi juara olimpiade fisika, matematika, paduan suara, teater anak, lalu kita juga pernah mendengar Indonesia juara Wimbledon junior, atau anak anak kita juara sepakbola se-Asia, atau yang paling dekat di benak kita adalah Garuda U-19 yang membanggakan.
Tapi cerita cerita tadi, tidak pernah berlanjut hingga dewasa. Entah apa yang terjadi, tapi anak anak hebat tadi seakan akan menguap, menghilang & tidak terlihat kiprahnya justru ketika mereka dewasa.
Cerita Garuda U-19, bukanlah hal baru untuk kita bangsa Indonesia. Hanya skitar 1 dekade yang lalu, sekelompok pemain sepakbola muda kita yang bermain di Primavera mengejutkan dunia. Salah satu pemainnya, Kurniawan Dwi Julianto jadi pemain dengan peraihan gol tertinggi ke 2 di Primavera. Di atas Kurniawan, adalah Alessandro Del Piero.
Angelique Widaja adalah juara Wimbledon junior. Mengalahkan seorang pemain yang akhirnya di tahun 2009 jadi petenis nomor 1 dunia versi WTA tour & mencapai semi-final Wimbledon : Dinara Safina

Dunia tau nama Del Piero & Dinara Safina, tapi bahkan anak anak muda Indonesia jaman sekarang bisa jadi tidak tahu Angelique Widjaja.

Salah Kurniawan & Angelique? Sama sekali tidak.
Saya menyalahkan negara Indonesia yang tidak mampu mengangkat anak anak mudanya ke level profesional. Terlalu banyak krisis pemimpin di seluruh jenjang, terlalu banyak praktek politik busuk di setiap lini kehidupan, terlalu banyak yang akhirnya memilih untuk mengambil jalan belakang. Yang mengingatkan saya akan poin ke 2….

2) Pasti anda pernah dengar cerita, seseorang yang berpendidikan tinggi di luar negri ketika kembali ke Indonesia tidak bisa mendapatkan pekerjaan, bahkan tidak bisa jadi apa-apa. Lalu ketika mereka kembali ke luar negri, mereka diakui kehebatannya lalu berkarir dengan begitu luar biasanya.
Pernah kan dengar cerita demikian?
Mengapa bisa begitu? Menurut saya, adalah karena Indonesia itu ibarat jalan masih semruwet & amburadul.

Kalau di luar negri, membangun karir itu ibaratnya tinggal mengambil jalan lurus. Ikuti saja jalan tersebut dengan tekun maka kita akan sampai ke tujuan.
Kalau bensin habis, akan ada POM bensin tersedia di pinggir jalan. Kalau bingung akan ada rambu rambu jalan yang mengarahkan. Yang penting pelajari peta perjalanan, lalu tekun menjalaninya, maka kelak akan sampai ke tujuan.

Di Indonesia, membangun karir itu ibaratnya seperti mengambil jalan yang banyak jalan belakang, banyak jalan tikusnya, tidak ada lampu jalan, rambu rambu ada tapi tidak jelas karena terhalang daun daun pepohonan, jalanan banyak yang bolong dan rusak. Di beberapa bagian macet karena ada galian. Mau coba menghindar dengan menggunakan Waze tapi rute yang diarahkan Waze ternyata ditutup portal jalan, abis itu masih dipalakin preman.

Hanya yang Street Smart yang bisa sampai tujuan.

Inilah masalahnya Indonesia.
Di luar negri untuk sukses anda musti pintar. Di Indonesia pintar saja tidak cukup. Anda musti cerdik. Cerdik itu ilmu kehidupan, bukan ilmu sekolahan. Nah kebanyakan orang di Indonesia, hidupnya habis di sekolah tanpa benar benar pernah menarik ilmu dari kehidupan. Sudah berjam jam di sekolah, masih ditambah les pula.
Itulah mengapa di Indonesia banyak zombie. Tau zombie kan? The living dead? Nah di Indonesia itu banyak yang hidup tapi tanpa kehidupan.
Hanya menjalani rutinitas keseharian tanpa pernah tahu apa mimpinya, apa passionnya, apa yang akan membuatnya benar benar merasa hidup.

Pusing ya? Tapi pusing saja tidak menyelesaikan masalah. Saya harus turun tangan & terlibat dalam mengubah keadaan. Karena ini Istri & anak anak saya yang bisa jadi korban.

Bagi saya, jalan keluar untuk Indonesia ada 2.
Jangka pendeknya, ajarkan anak anak ilmu kehidupan. Real life skills. Teach them to be Street Smart & not just Book Smart.

Jangka panjangnya, benarkan jalan di Indonesia. Rapihkan jalannya, benarkan rambunya, terangkan jalan rayanya, rapihkan infrastrukturnya.

Itu lah mengapa saya berjuang untuk menyiapkan Indonesia yang akan bisa membawa istri & anak anak saya lepas landas.

Karena saya tidak ingin, anak anak & istri saya hanya jadi orang orang yang diingat Indonesia ketika masih muda saja.

PS: blog post setelah ini, adalah tulisan mengenai mengapa kalau kita turun ke jalan SAJA tanpa pemikiran matang, akan merusak perjuangan saya menyiapkan Indonesia sebagai landasan pacu yang berkualitas.

13 thoughts on “Diingat Indonesia ketika masih muda saja.”

  1. Tulisan yg bagus bang panji, cuma sebagai penggemar berat tennis ada yg sedikit perlu diluruskan bahwasanya Dinara Safina Walaupun pernah jadi no.1 Dunia WTA, dia belum pernah sekalipun juara grandslam sama sekali, mentok dia jd finalis di french open dan australia open sebagai finalis. Jadi dinara tidak pernah juara grandslam wimbledon.Itu saja kok. Thanks Tulisannya bang, mantap

    Yusuf
    Nguli di Malaysia

  2. Suka!
    Banyak aktivis yang tidak cerdas secara akademis di sekolah tapi bisa jadi master dan doktor dari universitas terbaik dunia. Bahkan mereka eksis dari muda sampai tua tidak kenal lelah memimpin bangsa, masyarakat, dan jadi pejabat negara. Mereka mengambil ilmu di buku-buku dan kepemimpinan dari demonstrasi jalanan,

    Mas Pandji, School Smart jangan dipertentangkan dengan Street Smart, keduanya melengkapi. Kalau besok2 Dipo mau demo jangan buru-buru dilarang ya Mas, siapa tahu banyak alasan mulia di balik aksi demonstrasi jalanan.

Leave a Reply to agung kusuma adi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*