DP 0

“Kamu pasti suka lingkungannya…”

Itu kata Gamila sambil mengarahkan saya memasuki sebuah komplek perumahan di daerah Rawamangun.

Sejak menikah, kami tinggal di rumah Mama-nya Gamila di Kelapa Gading. Menyenangkan sesungguhnya, tapi sejak awal kami tentu mengidamkan rumah sendiri. Apalagi ketika 2007, 2008, 2009 selama 3 tahun berturut turut kami kebanjiran. Saya berjanji kepada Gamila, kalau 2010 kita masih kena Banjir, itu jadi kesalahanku. Kita akan cari rumah.

Saya nyari nyari rumah pakai rumah123.com hehe. Standar-laah, tentuin area, tentuin anggaran yang kami mampu, lalu cari. Rumah rumah yang saya temukan di website itu tidak ada yang sreg di hati. Gamila sementara itu, lebih suka naik mobil dan keliling keliling area tersebut. Sesuatu yang menurut saya buang buang waktu. Saya tidak ada waktu untuk itu.

Tapi suatu hari, Gamila bilang dia menemukan rumah mungil yang dijual. Belum tahu harganya, tapi dia mau ajak saya dulu untuk lihat.

Maka berangkatlah kami.

“Kamu pasti suka lingkungannya…”

Gamila mengarahkan saya yang masih agak nggak yakin dengan metodanya mencari rumah. Nyetir mondar mandir keluar masuk perumahan..

Saya sempat nanya “Ini gerbang kompleksnya yang mana? Kok tiba tiba udah perumahan?”

“Masuknya dari depan, dari jalan Pemuda. Ini aku ajak kamu masuk dari belakang..”

Tidak lama dari ucapan tadi, kami melintasi lapangan basket.

“Tuh ada lapangan basketnya” kata Gamila.

Mata saya langsung berbinar binar.

She knows how to win me 🙂

Tak jauh dari lapangan basket, saya ditunjukin rumahnya. Saya suka dengan rumah tersebut. Berjuang sekuat tenaga untuk kumpulin uangnya, rumah kami beli, renovasi sana sini, dibohongin arsitek dan kontraktornya, ngomel ngomel, lalu pada tanggal 18 November 2010, tepat di hari ulang tahun Gamila, kami pertama kali tinggal di rumah kami hari ini.

Saya masih ingat Tahun Baru 2011, saya Gamila dan Dipo melihat kembang api menghiasi langit Rawamangun dari kamar tidur kami yang belum terlalu lengkap furniture-nya.

Sampai detik ini, 7 tahun berlalu, saya tidak pernah main basket di lapangan yang Gamila tunjuk. Tidak perlu memang. Gamila hanya menunjukkan itu untuk memenangkan hati saya. Dan dia berhasil. Malahan saya sering ke lapangan tersebut untuk menemani anak anak main skuter.

Tapi perjuangan saya untuk bisa membeli rumah (dan mengongkosi renovasinya) itu teramat berat. Saya ingat uang yang saya gunakan untuk menyiapkan DP didapatkan dari mengerjakan bertahun tahun mengambil  program stripping (program yang tayang setiap hari dari senin-jumat atau bahkan senin-minggu) di televisi. Hole In The Wall RCTI dan Selamat Pagi Trans 7 di 2007-2008, CasCisCus di ANTV tahun 2008, lalu setelah kena banjir di 2009 dan berjanji 2010 tidak akan kena hal yang sama, saya ambil job stripping Boombastis di RCTI tahun 2009.

Rencananya sebelum Februari 2010 kami udah pindah ke rumah baru. Maklum tiap Februari curah hujan Jakarta menggila. Tapi arsitek dan kontraktor kami kerjanya lelet dan banyak alasan. Untung waktu itu tidak banjir. November 2010 kami pindah. Februari 2011, Gading banjir lagi. Sampai terakhir Februari kemarin rumah mertua saya dan akses menuju ke sana masih kena banjir.

Pada masa ngumpulin DP dan cicilan beberapa bulan itu, badan mau rontok rasanya karena dihajar kerjaan setiap hari dari subuh sampai jam 2 pagi. Kalau ada yang punya album ke dua saya (YNKWSCIAPPOYPL) pasti inget satu skit yang menggambarkan saya pulang jam 2 pagi dan besok harus stand-by subuh..

Tapi perjuangan saya membuahkan hasil.

Rumah kami miliki.

Waktu itu tidak ada keraguan sedikitpun untuk beli rumah karena kami tahu, nilainya akan naik terus. Ini bukan sekadar beli barang. Ini investasi. Nilai rumah kami hari ini (apalagi karena sudah renovasi besar dan fully furnished dengan furniture yang Gamila desain sendiri) sudah jauh dari ketika rumah kami beli.

Maka berjuanglah saya dan Gamila untuk mewujudkan mimpi: Punya rumah di Jakarta.

Tapi, untuk banyak sekali warga Jakarta, termasuk mungkin untuk anda, kondisinya jauh lebih susah dari pada yang saya alami.

Yang brengsek dari beli rumah ini karena harganya yang teramat mahal. Kecuali anda Raditya Dika, nggak mungkin beli rumah secara tunai.

Jadi orang orang seperti anda dan saya ya akhirnya KPR. Nyicil rumah. Tenornya panjang.

Tapi yang jadi perkara sekarang, adalah DP. Seperti cerita saya tadi, untuk seorang presenter semi-terkenal seperti saya, dibutuhkan 2-3 tahun untuk nyiapin DP dan tambahan cicilan beberapa bulan supaya aman ke depannya nanti. Saya bisa membayangkan beratnya anda yang first jobber misalnya atau karyawan.

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, niatnya sebenarnya sederhana: Memberikan warga Jakarta peluang untuk bisa memiliki rumah di Jakarta.

Banyak warga kelas menengah ke bawah terpaksa mencari ke luar kota Jakarta untuk memperbesar peluang untuk punya rumah. Dampaknya kepada waktu dan tenaga yang habis karena keluar – masuk Jakarta dari misalnya Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, dll. Bangun jauh lebih dini, berjuang di pagi hari untuk naik KRL, Trans Jakarta. Sampai kantor tenaga sudah tersedot. Nanti malam, ketika sudah tersedot habis, masih harus melakukan perjalanan yang sama.

Andai punya rumah di Jakarta.

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, premis-nya sebenarnya sederhana: Kenapa untuk barang barang yang nilainya turun, dimudahkan. Sementara untuk yang nilainya naik, yang bisa jadi investasi, tidak dicari terobosannya? Kita bisa nyicil HP, motor, yang nilainya turun. Sementara untuk beli rumah kok ga ada solusinya supaya rakyat digampangkan?

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, dasarnya sebenarnya sederhana: Keberpihakan.

Berpihak.

Itu dasarnya. Berpihak kepada rakyat yang mendambakan rumah. Sebagai pemimpin, Gubernur sebaiknya tidak berkata “Nggak bisa! Nggak mungkin”

Padahal bisa. Padahal mungkin.

Emang susah kalau bisa kerja tapi ga bisa punya gagasannya.

Taunya menjalankan tapi minim dalam strategi, gagasan dan perencanaan.

Losers say “ I Cant”, Champions say “Its hard, but we can try”

Berpihak kepada rakyat, baru sang pemimpin berkata: Mari kita cari caranya.

Karena kalau dipikir pikir, Sandang Pangan Papan adalah kebutuhan dasar.

Masak baju beli, makanan beli, rumah hanya boleh nyewa? Terutama kepada kelas menengah ke bawah?

Pilihan untuk bisa memiliki sudah sewajarnya disediakan Pemerintah. Dipikirkan caranya. Dirancang gagasannya.

Dan pada akhirnya, jalannya ketemu juga.


Rangorang di jejaring sosial ramai menertawakan dan mengatakan itu program mengawang awang..

Tapi mereka, adalah partisan. Antara mereka pendukung Petahana, atau tidak menyukai Anies dan/ atau Sandi.

Dalam heningnya, warga non-partisan memantau. Menunggu. Memperhatikan sambil berharap.

Karena merekapun, dalam heningnya di jejaring sosial berharap ini mungkin terjadi.

Lama lama, mungkin karena jengah juga cemoohan para pendukung Petahana yang mulai berlebihan, secara organik muncul orang orang yang menyatakan bahwa DP0 itu sangat mungkin dan justru bagus untuk menunjukkan keberpihakan Pemerintah.

Tulisan mulai bertebaran di jejarin sosial. Dari seorang mantan anggota DPR, pengamat housing and urban development, ekonom, sampai seorang perempuan Indonesia yang tinggal di Philadelphia dan merasakan program DP0 dari pemerintah sana.

Lama lama, mulai terungkap dengan sendirinya bahwa DP0 tidak berlawanan dengan aturan BI karena di aturan tersebut pada pasal 17 tertulis bahwa DP0 diperbolehkan HANYA untuk program perumahan pemerintah pusat dan/ atau pemerintah provinsi.


Lama lama orang sadar di luar negeri program penyediaan rumah untuk warga memang harus ada dan rata rata memang inovatif sesuai dengan kebutuhannya. Singapore adalah negara yang program penyediaan rumahnya betul betul inovatif, ada program untuk yang baru pertama kali mau beli rumah, untuk ke dua kalinya beli rumah, yang udah sepuh, bahkan yang jomblo. Okelah anda berargumen tapi pendapatan per kapita mereka beda dengan Indonesia, misalnya, tapi kalau anda baca baik baik, kuncinya adalah keberpihakan pemerintah. Jalannya dicari. Diperjuangkan.

Bahkan ada program perumahan dari Pemerintah Pusat berupa DP 1% hehehe

Kini semua pertanyaan soal “ Di mana rumahnya? Seperti apa rumahnya? Nanti kejadian Sub Prime Mortgage dong kayak di US?  Ancur dong APBD DKI? Ide gila macam apa ini? Emang pernah dipraktekkan di negara lain atau kota lain? Nanti orang orang kaya yg pada beli dong? DP 0 itungannya gimana? Emang mungkin?” terjawab sudah.

Yang tersisa adalah pertanyaan pertanyaan kurang signifikan dan sekadar sinikal seperti “Loh kok sekarang bentuknnya rusun? Katanya rumaaaah?”

  1. Rusun itu, RUMAH susun. Bukan RUJAK susun. Anak manajemen saya yang tinggal di rusun juga ngomongnya “Pulang ke rumah”. RUMAH is the place we live in. Rumah adalah tempat tinggal kita.
  2. Lagipula, hanya para pendukung kubu seberang yang ketika dengar kata “rumah” langsung berasumsi ini adalah rumah dengan atap. Memang begitu resikonya kalau bereaksi terburu buru sebelum dapat infonya dengan lengkap. Nyinyir didahulukan, akurasi terbelakangkan.

 

Untuk anda, yang memimpikan memiliki rumah di kota Jakarta, saya undang untuk membaca penjelasan lengkap tentang DP0 di sini.

Sebuah usaha dari Mas Anies dan Bang Sandi untuk menunjukkan keberpihakannya kepada anda. Dan memutuskan untuk memperjuangkan mimpi anda. Walaupun cemoohan orang orang di sekitaran terhadap mereka.

Jangan gusar dengan ucapan ucapan sekitar yang mengatakan “Nggak Mungkin”

Dulu, orang kita juga bilang seetelah ratusan tahun dijajah, Merdeka itu “Nggak Mungkin”

Dulu, orang bilang perbudakan dihilangkan itu “Nggak Mungkin”

Dulu bahkan, mungkin sekitar tahun 90an kalau anda bilang mau ke Bandung dari Jakarta dalam 2 jam, yang dengar akan bilang “Nggak Mungkin”

Hehe, jangankan itu, baru aja sekitar tahun 2000-an awal orang bilang Stand-Up Comedy “Nggak Mungkin” hadir di Indonesia. Orang Indonesia nggak akan siap.

Juga nggak mungkin orang Indonesia bisa tur dunia.

Saya tur dunia dengan melakukan stand-up comedy, 2 kali.

Its always impossible until someone does it.

Berlaku kepada banyak hal, termasuk kepada program penyediaan rumah untuk warga Jakarta gagasan Anies-Sandi, DP 0

 

 

 

 

 

29 thoughts on “DP 0”

  1. di debat ke3 Pak Djarot bertanya mengenai program DP 0% ato DP 0 rupiah ini
    Dimana rumahnya? Berapa ukurannya? Siapa yg mendapatkannya? dan apakah sesuai peraturan Kemenpera?

    bisa dilihat disini
    https://youtu.be/9QGdWpvcuQI?t=5992

    kenapa tidak dijelaskan ketika debat?

    Pak Anies hanya membahas DPnya ketika menjawab, tidak menjelaskan bentuk rumah, ukuran dan siapa yg berhak

    1. tambahan:
      Anies ada bilang “Bekerja sama dengan perbankan, bukan menyiapkan perumahan. Kerja sama dengan perbankan, dengan bank DKI, yang kita siapkan adalah kredit, mereka bisa mendapatkan kredit itu tanpa memberikan DP” dst, secara tidak langsung pendengar menganggap DP 0% itu membeli rumah di perumahan

        1. Gupta…jelas gimana? Pandji tdk memaparkan besaran cicilannya. Dan apakah ini sasarannya kalangan bawah atau menengah?

          ——–

          Dari semua paparan di atas, Pandji TIDAK BERANI menulis tentang besaran cicilannya.

          Ya…TIDAK BERANI karena di situlah kemustahilan program ini. Sandi Uno sdh menyatakan bhw dg Rusun dan DP 0% tsb pembeli harus menyicil 2,3jt/bln.

          Sekarang saya TANTANG Pandji utk menjawab “siapa sasaran pembeli yg sanggup menyicil 2,3jt/bln”?

          UMR di Jakarta hanya berkisar 3,35jt. Jika sdh punya rumah/rusun maka harus jg bayar listrik, air, sampah dan keamanan. Lalu biaya transportasi dan telepon.

          Semua itu akan menghabiskan UMR…lalu makan dari mana??

          Pandji saya tantang anda menjawab atau maaf saya sebut anda BANCI KALENG yg senang ngelawak di panggung (politik).

          Thank you.

          1. Yang kurang adalah menjawab ‘how’ nya. Why, wht, who, udah bagus sih.

            Kalo berlindung dalam kalimat ‘keberpihakan’ dan ‘dicari jalannya’, yaaa… Susah juga yaa..

    2. Kan kalo jualan kecap trus diiklanin bahwa kecap mengandung bahan pengawet kan gak ada yang mau beli…hehehe…kira kira begitu mungkin komparasinya…kira-kira…

      biar kita lihat sendiri di produk kecapnya secara detail ^_^

  2. Bang tulisan blog lu gak bisa di share ke fesbuk yak,,?
    Biar gak dikira hoax ama pendukung2 sebrang,,

  3. Dari semua paparan di atas, Pandji TIDAK BERANI menulis tentang besaran cicilannya.

    Ya…TIDAK BERANI karena di situlah kemustahilan program ini. Sandi Uno sdh menyatakan bhw dg Rusun dan DP 0% tsb pembeli harus menyicil 2,3jt/bln.

    Sekarang saya TANTANG Pandji utk menjawab “siapa sasaran pembeli yg sanggup menyicil 2,3jt/bln”?

    UMR di Jakarta hanya berkisar 3,35jt. Jika sdh punya rumah/rusun maka harus jg bayar listrik, air, sampah dan keamanan. Lalu biaya transportasi dan telepon.

    Semua itu akan menghabiskan UMR….lalu makan dari mana??

    Pandji saya tantang anda menjawab atau maaf saya sebut anda BANCI KALENG yg senang ngelawak di panggung (politik).

    Thank you.

    1. Menurut asumsi saya, 2,3jt perbulan itu dalam sasaran kelas menengah. Mungkin nanti jika rumah susun dapat terlaksana, ada range utk menentukan kelas, misal kelas ekonomi utk yg paling bawah. Bicara soal dana saya yakin bisa diusahakan, hal seperti ini sudah dilakukan di Venezuela sebagai ‘Revolusi Perumahan’ bisa dicari informasinya di internet. Masalahnya hanya pada berani atau tidak?punya rencana matang atau tidak?Kalo bicara soal untung dan takut rugi memang tidak akan menemui titik terang soal perumahan saya rasa. Reklamasi yang merusak dilanjutkan hanya karena mungkin alasan keuntungan, tapi soal keberpihakan kita patut pertanyakan.
      Penggusuran yang dilakukan tanpa kompensasi dan berakhir pada rusunawa saya rasa lebih menyakitkan bagi mereka yang sudah tinggal lebih dari 4/5 generasi. Ini bukan lagi bicara soal keuntungan, takut rugi, ini bicara soal keberpihakan dan hati. Maka disinilah tugas pemimpin.

  4. Saya yg sekian tahun di bidang multifinance…. Bisa sedikit komentar bahwa dp nol persen atau revisinya nol rupiah itu tidak akan mungkin bisa menyasar kalangan miskin di Jakarta….. Saya udah ngutak ngatik skema, untuk range gaji ga dapat. Monggo Mas Panji, cmiiw dengan skema nya. Keberpihakan pada rakyat itu harus tapi janji manis tanpa bisa di buktikan itu sama dengan bohong.

  5. Dp 0 aja sudah kaget, pernah dengar gak bagi-bagi uang 1,000 T (seribu triliun)???

    Di debat pilkada, Anies janjikan 100 jt utk setiap warga DKI dgn mengunakan dana 1,000T.

    Anies:
    Salah-satu idaman bagi semua keluarga di Jakarta punya rumah sendiri di ibukota, tapi kendalanya adalah bukan tidak mampu kreditnya, tapi beban untuk membayar downpayment itu besar sekali. Saya masih KPR sampai sekarang; merasakan betul bagaimana mencari uang untuk bisa membayar downnpayment. Jadi, kita bukan mau membangun perumahan, tapi mau memberikan fasilitas kredit untuk warga Jakarta agar mereka bisa memiliki rumah. Rumahnya dimana saja, silahkan mereka menentukan. Tetapi dengan mengunakan skema ini, maka warga bisa menabung, mereka bisa menabung selama 6 bulan, dan selama 6 bulan itu konstan, mereka bisa memiliki saldo senilai 10%. Sesudah itu, maka mereka berhak mendapatkan rumah tanpa uang downpayment. Dengan cara seperti ini, maka warga jakarta bisa memiliki rumah. Mengunakan apa? Jakarta punya aset namanya Bank DKI. Dan Jakarta ini kalau di total, maka aset yang dimilikinya lebih dari 1,000 triliun, kalau tiap keluarga yang dihitung, satu orang jika dibagi rata-rata. 1,000 triliun dibagi 10,150,000 penduduk di Jakarta, apa yang terjadi? Kira-kira seratus 100 juta per orang. Ijinkan warga Jakarta merasakan aset 100 jutanya dalam bentuk downpayment 0 rupiah. Terima kasih.

    1. 1,000T itu asetnya dapet dari mana? Bank DKI? Aset Bank DKI cuma sekitar 42T.
    APBD cuma 70T, aset pemprov DKI cuma 400-500T maksimal.

    2. Warga DKI yg punya KTP cuma sekitar 7 juta, terus kenapa dia bisa bilang 10 juta?
    Apakah dari 1,000T yg dibagi-bagi, mau masuk kantong pribadi 300T ato gimana?!

    3. Katanya DP sudah 0 rupiah karena dibayarin pake 100jt, terus ngapain lagi tabung cicilan 6 bulan?

    4. 100 jt ini supaya DP rumah bisa 0 rupiah, klo rumahnya mahal dan harga DP diatas 100 jt gimana?

    5. Klo SETIAP warga DKI berhak mendapatkan 100jt, berarti seharusnya yg sudah punya rumah pun boleh dong dapatkan 100jt utk kepentingan lain (misalnya piara bini muda).

    6. Oh,ya, soal bagi-bagi uang yg katanya aset Jakarta, berarti ini komunis ato sosialis?
    Padahal pendukung mereka seperti FPI katanya sangat anti komunis….

    1. setuju, saya hitung dengan bunga rendah aja hasilnya 1.7 juta / bulan. apalagi kalo bunga yg lebi tinggi bisa seperti hitungan anda 2.3 juta / bulan.

      sepertinya pandji takut mengekspos informasi ini karena tahu kecil skali % rakyat yg mampu bayar cicilan sebesar ini? belum bayar biaya2 lain seperti transportasi, makan, listrik , air dll dll…

  6. Ahoker pada kepanasan.. Komen terus dimana2 nyerang program yg pro rakyat, krn tau gubernurnya pro cukong dan adalah musuh warganya sendiri…wkwkwk..

    1. Yang nempel sama cukong Hary Tanu & Tommy Suharto bukannya malah junjungan ente Anies Oche? Wkwkwkwkwkwkwk
      -Joko Susilo-

      Best Reply.. lol..
      Apa bedanya sama Anies yg lg anget nempel sama Hary Tanu??

    2. Kalo udah kena janji manis gini nie . Gak bias realitis jadi nya kebanyakan di boongin sama anies. Sampe orang kritis di bilang ahokers

  7. Pandji,di pasal 17 peraturan BI no 18 thn 2016 disebutkan jg bahwa prinsip kehati-hatian harus diperhatikan. Saya rasa DP 0 sdh mengesampingkan hal tersebut.

  8. Saran Saya ke Bang Pandji, kalau programnya memang masih mengawang2 lebih baik tidak usah dibahas, lebih baik membahas program2 paslonnya yang memang sudah matang dan jelas….apalagi cagub dan cawagubnya masih melemparkan komentar2 mengenai progam ini yang menandakan bahwa mereka belum merencanakan secara matang…

    Lama2 saya bisa terinspirasi jadi developer, dengan slogan “Beli rumah 0 rupiah!!*”

    (* : penggantian dana diambil dari tabungan secara konsisten sebesar 6juta rupiah sebulan selama 30 tahun)

  9. sudah baca sampai ke link2 yang ada, yg panji tulis cuma retorika dan satire, seperti material stand up. Penjelasan dilink resmi pun sama saja, rumah yg harga 350 juta “belum ada”, dan yg sudah pasti bisa ikut gaji minimal 7juta. hmm yg dipindahkan ke rumah susun oleh gubernur skr, penghasilannya tidak ada yg sampai 7 juta, wong bayar cicilan motor aja senin kamis. all in all, program ini full BS, dan jauh panggang dr api.

  10. Sepertinya kalau skema program2 Pak Anies dijelaskan dgn lbh detil, khalayak umum jg gk akan menyerang beliau sampai segininya (tentu dgn catatan program tsb memang masuk diakal). Saya tidak mengerti knp team pak anies kok agak tertutup masalah program2nya, terutama ttg DP 0% ini. Padahal kalo memang bagus, jelasin aja masyarakat mengertidan mendukung, tidak usah takut dicontek Pak Ahok, toh masyarakat sudah kritis dan pasti akan balik mengkritik Pak Ahok kalau beliau berani mencontek program revolusioner Pak Anies.
    Dan lagi, Pak Anies kan bolak balik bicara akhlak, kenapa tidak dijelaskan saja skemanya, kalaupun pak Ahok yg terpilih dan menggunakan program ini, bukannya ini merupakan sesuatu yg baik? Pak Anies sudah membantu pembangunan Jakarta tanpa pamrih. Saya yakin masyarakat akan lebih simpatik dgn bapak. Tp yah memang bicara ttg politik memang tdk segampang bicara ttg akhlak, ya kan Pak?

  11. Intinya pemprov yg skrg aja berani rugi triliunan buat dana nanggulangin banjir yg ternyata GAGAL.. lha apa salahnya sih mereka nanti rela rugi2 dikit buat warganya yg non-elit.. . 😁😁😁

  12. Gini deh mas Pandji, karena kita bicara program real, saya (sebagai milenials baru nikah dan pengen punya rumah di jakarta) minta rincian perhitungannya dong.

    Daripada sekedar bicara “Bisa” dan “Mungkin”, mbok ya langsung paparkan dengan jelas pakai hitung2an.

    Bank mana yang akan approve program ini dan syarat kreditnya apa.

    Apalagi rakyat jakarta pasti udah pinter2 nih kalo soal ngitung dan ngutang. Berpendidikan iya, konsumtif juga iya. Tau lah syarat2nya. Hehe

    Jadi saya jg bisa siap2 kalau memang ini possible.

  13. Mas, maaf ya agak oot nih dari postingan ini.
    Saya mau saran aja nih ke Mas Pandji yang notabene adalah salah satu timses dari Pak Anies-Sandi.

    Kemarin, tanggal 6 April 2017, Pak Anies-Sandi menjadi bintang tamu di acara Pesbuker. As we know that Pesbuker is one of the motherfucker jerk TV program in this country. Mengapa Pak Anies-Sandi mau maunya ke acara paling tidak mendidik itu. Padahal concern paslon nomer 3 ini kan di bidang pendidikan amat sangat oke.

    Dan setelah ke acara Pesbuker, Pak Anies-Sandi taping kuiz Super Family 100. Di situ mereka melawan pemain Pesbuker yang salah duanya adalah RA dan ATT.
    Mereka berdua adalah bad influencers di negeri ini. Skandal mereka lagi panas-panasnya sekarang ini. Saya takutnya karena Pak Anies-Sandi yang secara tak langsung berhubungan dengan 2 Bad Influencer ini, Pak Anies-Sandi malah kena “api” nya.

    Maka itu, saya sih pingin ngasih saran. Tolong dong Pak Anies-Sandi untuk tidak memakai Bad Influencers sebagai timses. You all should learn from Prabowo when AD was his Timses 😁

    Maaf ya kalo agak frontal. Saya cuma ga tahan mau nyampein unek2 yang udah di ubun-ubun ini.

    Thank you Mas Pandji.

  14. Program ini tidak menjawab kebutuhan rumah bagi kelas menengah kebawah.. yang hidup di gang sempit dan tidak layak huni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*