Duduk dipojokan angkot main Fruit Ninja di ipadnya..

Terkadang, saya suka kaget sendiri melihat harga kopi berukuran “tall” yang saya beli, sekitar Rp 30.000-an

Di kampus dulu saya minum kopi sachet-an dgn gelas plastik bening seharga 5000 perak.

Sama sama gagal membuat saya segar.

Lalu tagihan makan saya..

Rp 50.000,- sampai Rp 100.000,-

Dan saya makan sendiri..

Sekitar 15 tahun yg lalu saya bisa makan hanya dgn Rp 20.000an dan itu sudah nambah.

Kenyangnya sama

(Tiba tiba kangen skali dgn pece lele + kol goreng..)

Terkadang saya, mungkin juga bahkan kita semua, membeli sesuatu yang tidak kita perlukan hanya karena keadaan.

Contoh, makan saya yang mahal tadi dikarenakan sejumlah kondisi.

Kondisi pertama: Saya sedang berada di mal. Tidak ada pecel lele jadi secara rata rata, memang harga makan di sana lebih mahal.
Kalau mau, ada McDonalds atau KFC di mana saya bisa makan puas dgn Rp 20.000an tp ada kondisi ke 2

Kondisi kedua: Saya berencana mengurangi makanan fast food. Untuk orang dalam posisi saya, kesehatan adalah sesuatu yang sangat krusial.
Jam kerja saya tidak beraturan, mempengaruhi jam makan saya, jam istirahat saya, jam olahraga saya yg selalu tergeser oleh pekerjaan
Apalagi, belakangan ini, lebih dari 10 orang teman saya langsung dan temannya teman saya, meninggal karena serangan jantung di bawah usia 35thn

Bisa saja, saya keluar mal untuk menghindari restoran dgn harga mahal, tapi kemudian ada kondisi ke 3

Kondisi ke 3: Malas. Karena saya sebenarnya mampu

Karena kita merasa “mampu” akhirnya beberapa di antara kita sering kali kehilangan kebutuhan untuk berhemat. Padahal mau kaya ataupun miskin, berhemat, adalah sebuah gaya hidup yang sehat.

Chris Rock pernah bilang “Women can’t go back in lifestyle”. Kalau udah mendapatkan gaya hidup yg enak, tidak akan mau kembali ke gaya hidup lama walaupun sebenarnya bisa

Hermawan Kertajaya pernah berujar “We are all living in Venus. We all think like women. Di mana emosi dan perasaan merupakan pengambil keputusan utama.

Kalau 2 premis tadi digabung, maka jadinya “Everybody can’t go back in lifestyle”

🙂

Kayaknya itulah mengapa kita jarang ketemu orang kaya berdasi & jas duduk dipojokan angkot main Fruit Ninja di ipadnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*