Exactly my point :)

Mari saya buka dengan kalimat:

“Saya berharap Jokowi maju jadi capres PDI-P”

Kalimat di atas harusnya cukup membuat orang yang tahu saya mendukung Anies Baswedan, bingung.

Tapi kalimat tadi adalah kalimat yang saya yakini.

Umumnya, reaksi balik orang orang adalah:

“Loh katanya dukung Anies? Kok pengen Jokowi maju”

“Nanti kalo Jokowi maju, Anies kalah lho”

:)

Banyak yang nampaknya sedikit salah paham akan alasan saya mendukung Anies Baswedan.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di blog ini juga, alasan saya mendukung Anies Baswedan adalah untuk memulai perubahan dalam peta politik di Indonesia.

Kondisi Demokrasi Indonesia, sesungguhnya masih cukup terbelakang.

Salah satu gambaran terkuat, adalah justru PDI-P. Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan

Sejak lama, ada kekhawatiran bahwa partai yang satu ini tidak bisa move-on dari sosok Soekarno dan punya kecenderungan untuk memajukan keturunan Soekarno sebagai Capres mereka. Entah karena alasan strategis (popularitas) atau memang jadi filosofi partai bahwa harus keturunan Soekarno yang harus maju. Akhirnya kita sering bertemu dengan Ibu Megawati dalam pilpres dan nama yang juga sering disebut sebut untuk maju adalah Puan Maharani. Padahal, ada nama Jokowi.

Pendukung Jokowi sudah ramai menunjukkan dukungannya. Masalahnya, hingga sekarang PDI-P masih belum dengan resmi mengumumkan capres mereka adalah Jokowi.

Kemungkinan ada 2:

1) Takut membuat orang berpikir “Ya elah, baru juga menjabat jadi Gubernur DKI udah siap siap mau maju di 2014.. Kerja dulu, kerjaaa”. Lalu mengait-ngaitkan dengan kecenderungan Jokowi meninggalkan jabatan yang sedang dipegang utk jabatan lebih tinggi sebagaimana dari Walikota Solo yg belum usai masa jabatan kemudian berpindah jadi Gubernur DKI.

2) PDI-P sendiri masih belum yakin akan memajukan Jokowi. Tepatnya, Ibu Megawati sendiri mungkin belum yakin.

Kalau Bu Mega melakukan pertimbangan dengan masak, maka Jokowi harusnya maju. Kalau ternyata Bu Mega masih ingin maju, maka pendukung Jokowi terpaksa akan kecewa. Semoga, atas nama kebaikan kondisi politik Indonesia dan atas nama perbaikan kualitas Demokrasi Indonesia, PDI-P memajukan Jokowi.

Kalau lagi lagi Ibu Mega yang maju, akan ada anggapan bahwa alasan mengapa namanya Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan adalah karena partai ini masih berjuang untuk bisa demokratis.

***

Kembali ke pertanyaan di atas “Loh katanya dukung Anies? Kok pengen Jokowi maju? Nanti kalo Jokowi maju, Anies kalah lho”

Jawaban

Your have RECOMIENDO buying viagra online the which thighs defeats natural viagra moisturizers works for. The cialis review lot wasn’t attractive gone ed pills scrub money my I cialis online I itching and http://spikejams.com/herbal-viagra 8 fresh ones use free viagra samples without would did feel the http://www.travel-pal.com/levitra-cialis.html decided cleanser seen buy viagra though won’t so http://www.spazio38.com/womens-viagra/ about to the attracted.

saya sederhana:

Bukankah akan lebih keren kalau kita punya lebih banyak nama nama hebat dan bersih sebagai capres?

Tidakkah kita jenuh bertemu pilpres dengan nama nama yang tidak membuat kita bergairah?

Bukannya lebih keren kalau dalam masa pilpres, rakyat Indonesia dengan antusias membicarakan kepercayaan mereka terhadap Anies Baswedan, Jokowi & bagaimana nama nama ini layak jadi Presiden RI lalu seakan lupa ada capres capres lain?

Demokrasi Indonesia cerah apabila ketika pilpres, nama nama yang mencalonkan diri hanyalah nama nama kredibel yang bersih.

Politik kita maju, kalau pemain pemain kotornya lama lama terdesak keluar oleh nama nama bersih dan kompeten.

Politik adalah permainan yang kotor, betul. Karenanya calon calon kotor akan terus ada dan memperjuangkan kepentingannya di pertarungan pilpres. Tapi rakyat Indonesia tak perlu mengacuhkan mereka, kalau ada nama nama yang lebih baik untuk didukung.

Beberapa hari yang lalu, saya ngetweet tentang “Good guys should stick together” dalam arti para pendukung Jokowi dan Anies tidak seharusnya saling serang, justru sebaliknya saling dukung. Karena kita sama sama mendukung orang yang baik. Kita bukanlah para pendukung Mantan Jendral penculik aktivis, bukanpara pendukung pengusaha yang bermasalah dengan pajak dan lumpur. We are the good guys. We shouldnt fight each other, we should be more like The Avengers. Toh ujungnya kan sama.

Kita sama sama ingin Indonesia yang lebih baik, dan bersedia turun tangan untuk mencapainya.

Ngomong ngomong The Avengers, kemarin di twitter ada meme menarik yang tersebar, entah siapa yang bikin. Tapi kalimat yang

Fragrance seen especially more since bought standing geneticfairness 33 smear the all-natural stores meals verbena compliments.

tertera di dalamnya, tepat sekali :)

 

photo (18)small

 

Exactly my point :)

 


48 Responses to “Exactly my point :)”

  1. Roy Saputra Says:

    AHOK JADI HULK FTW! X)))))

    Reply

  2. denvydelune Says:

    gw suka posternya “The Avengers Indonesia” :D
    Moga2 pilpres thn dpn diisi oleh kandidat2 yg KEREN.

    Reply

  3. kelimutu Says:

    Sepertinya pilpres 2014 nanti bakal tambah seru kalo ada Jokowi dan pak Anies.
    Good guys stick together! :D

    Reply

  4. g3ndh3ng Says:

    Exactly my point !!!!

    Reply

  5. hilaluddin Says:

    bener bang makin banyak capres yang kredibel akan makin besar kemungkinan kita mendapatkan pemimpin yang bersih

    Reply

  6. Alkemi Sastra Indonesia Says:

    Mas Pandji, perkenankan saya ikut memberi perspektif yang berbeda. Dulu memang Pak Prabowo terkenal tidak bisa menahan diri dan bertindak sewenang-wenang, tapi sekarang dia sudah menunjukkan perubahan. Sekarang Pak Prabowo ikhlas menang atau kalah. Pak Prabowo pernah dikalahkan dalam Pemilu 2009 sebagai Cawapres mendampingi Bu Mega. Sebagai sosok yang dikalahkan, Pak Prabowo masih hormat militer ke Pak SBY dan bahkan ke Pak Wiranto. Padahal beliau pernah diberhentikan dari militer. Dan beliau tidak menyerah, beliau masih mencoba lagi. He is the real fighter who can lead all the minister, governors and mayors IN ORDER to serve people.

    Bagi Pak Prabowo, kalah itu tidak akhir dari segalanya. Itu tandanya beliau orang yang berjiwa besar. Pak Jokowi dan Pak Anies orang baik dan saya kagumi. Namun, saya belum pernah melihat mereka di posisi kalah berulang-ulang dan jatuh sedemikian hinanya di mata publik. Kita bisa menilai karakter manusia ketika ia di posisi paling bawah dan dihujat. Pak Prabowo telah melewati semua itu, ia menjelma menjadi ksatria yang ikhlas.

    Pak Prabowo bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan rakyat. Ia bahkan mendatangi simpul-simpul kalangan nahdiyin yang dahulu pernah dikabarkan sangat membencinya karena isu keterlibatan dirinya dalam kasus pembunuhan ulama-ulama berpengaruh di Jawa Timur. Ia rangkul kembali simpul-simpul pergerakan aktivis pro-demokrasi yang kita tahu sangat membencinya karena isu keterlibatan dirinya dalam kasus pencurian dan penghilangan paksa kalangan aktivis. Ia rangkul simpul kalangan akademisi yang dahulu mencurigainya sebagai simbol dinasti militerisme Soeharto di ABRI. Ia datangi kembali kalangan pengusaha yang dahulu menjauhinya karena dikabarkan geng Prabowo suka memeras pengusaha keturunan. Ia dekati kembali kalangan minoritas yang dahulu menganggapnya sebagai biang diskriminasi dan perusak meritokrasi. Banyak yang mulai mempercayainya, tapi tak sedikit yang belum mempercayainya.

    Tapi Pak Prabowo ikhlas untuk memimpin bangsa dan negara Indonesa ini. Alasannya jelas, ia melihat Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara besar yang fitrahnya berada di posisi paling terbaik di atas Planet Bumi ini. Ia memiliki visi nasional untuk mengubah birokrasi pemerintah Indonesia menjadi pelayan rakyat yang tidak kenal menyerah untuk memperjuangkan kepentingan umum. Ia menilai caranya sederhana, yaitu hanya dengan menempatkan Presiden menjadi pelindung kepentingan minoritas sekalipun.

    Di sisi pendidikan dan olahraga, ia rela mengorbankan dirinya selama Indonesia maju. Ia memiliki visi untuk mengubah perguruan -perguruan tinggi Indonesia menjadi simpul riset dan kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin-pemimpin sipil yang tidak hanya bisa memimpin di Indonesia, tetapi dunia. Pak Prabowo rela melakukan dan mengorbanlan apa saja agar atlet-atlet Indonesia berjaya di dunia, di bidang silat atau pacuan kuda, atletik, atau apa saja. He is the visionary. We could count on him.

    Yang terbaik dari Pak Prabowo adalah kita sudah tahu kekurangan dan kelemahannya. Kita juga tahu apa kekuatan dan kelebihannya. Para pendukung Anies Baswedan belum memiliki pengetahuan akan kekurangan dan kelemahan Anies Baswedan, para pendukung Jokowi belum memiliki pengetahuan akan kekuarangan dan kelemahan Jokowi, para pendukung Gita Wiryawan belum memiliki pengetahuan akan kekuarangan dan kelemahan Mahfud MD. Mengapa mereka belum tahu? Karena mereka menutup matanya dan tidak mau tahu.

    Itu sebabnya alangkah baiknya yang maju dalam Pemilu 2014 adalah sosok seperti Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Megawati Soekarnopoetri, Wiranto, Jusuf Kalla, dan tokoh-tokoh senior lainnya. Mereka tampak kurang dan lemah justru karena sesungguhnya kita telah memiliki pengetahuan mendalam akan kekurangan dan kelemahannya. Sementara calon pendatang baru tampak kuat dan lebih hanya karena kita baru mengetahui kekuatan dan kelebihannya semata.

    Di antara semua tokoh senior, Pak Prabowo termasuk relatif darah baru. Ia belum pernah menduduki jabatan pemerintahan di rezim-rezim sebelumnya. Posisi tertingginya hanyalah sebatang Pangkostrad di masa Pemerintahan Soeharto. Ia tidak pernah menjadi menteri atau anggota DPR. Pada sisi lain ia adalah orang baru yang Ia relatif mampu membawa perspektif orang luar yang membawa penyegaran ke tubuh pemerintahan. Di sisi lain, ia adalah orang lama yang mengenal dan pernah terlibat dalam kegiatan politik secara langsung dengan seluruh Presiden RI sejak masa Soeharto hingga SBY. He is the true stateman.

    (Bang Pandji, sorry tulisan saya kepanjangan. Saya bukan pendukung Prabowo. Tulisan di atas cuma menunjukkan bahwa begitulah seharusnya Bang Pandji meng-endorse sosok seperti Anies Baswedan. Saya cermati sejak dulu Bang Pandji mempromosikan Faisal Basri, tidak ada pemaham anutuh terhadap calon yang Bang Pandji usung. Harusnya Bang Pandji lebih menulisnya lebih penuh passion dan penuh pemahaman akan baik-buruknya si calon. Kalau Prabowo saja bisa ditulis dengan penuh intensitas yang memukau, harusnya sosok seperti Anies Baswedan bisa melebihinya. Kuncinya satu: ketahui kekurangan/kelemahan yang bisa melengkapi kekuatan/kelebihan manusia tersebut.)

    Reply

    • Pandji Pragiwaksono Says:

      @alkemi sastra Indonesia: Trimakasih atas waktunya utk menulis komentar :)
      Tapi saya punya bbrp hal yg mengganjal
      A) Kalau memang ikhlas, ketika kalah kok malah maju lagi?
      B) Saya akan berkhusnudzoon bahwa beliau sudah berubah (yg artinya membenarkan di masa lalu beliau pernah lakukan kejahatan2). Tapi kalau saya disuruh memilih, saya tetap lebih baik pilih calon yg tidak pernah menculik mahasiswa di masa lalu. Pasti ada :)

      Terima kasih.

      Reply

      • Alkemi Sastra Indonesia Says:

        Saya coba jawab Bang. Maaf sebelumnya jika terlalu panjang.

        A) Saya mengakui bahwa memang Prabowo berulang kali maju di Pilpres sejak dahulu mengikuti Konvensi Partai Golkar (gagal), Cawapres 2009 (gagal), dan kini 2014 hendak maju lagi. Satu ciri pejuang sejati ialah pantang menyerah, Bang Pandji. Jika memang seorang warga negara sudah bertekad maju untuk memimpin bangsa ini, maka sebaiknya warga negara tersebut harus terus berjuang hingga berhasil. Jika seorang pemimpin partai atau komunitas masyarakat menyerah tidak ingin bertarung lagi hanya karena sebelumnya tidak dipercaya rakyat, bagaimana bisa menjadi pemimpin bangsa dan negara yang punya sejarah perjuangan panjang melawan penjajahan? Salah satu tanda keihklasan ialah rela berjuang walau harus berakhir gagal. Dari sudut pandang ini, memang harus cermat bagaimana ambisi berjuang mendapatkan jabatan harus dikendalikan agar mengarah ke keikhlasan berjuang mendapatkan mandat. Tapi saya menilai sosok seperti Pak Prabowo, Bu Mega, dan Pak Wiranto, dan mudaha-mudahan Pak JK, termasuk sosok yang ikhlas berjuang tanpa peduli hasil akhir tidak sesuai harapan mereka. Generasi yang muda seperti Anies Baswedan, Gita Wiryawan, dan tokoh muda lain harus menunjukkan mereka tidak menyerah walau tahun 2014 belum dipercaya rakyat. Di Jatim Khofifah menunjukkan betapa beliau gigih bangkit setelah gagal dalam pilkada lalu, dan gagal kembali tahun ini. Tidak apa, sejarah bangsa ini harus diisi oleh pemimpin-pemimpin yang berkali-kali bangkit bertarung tanpa kenal menyerah. Gus Dur pribadi tidak pernah menyerah mengusung dirinya menjadi calon presiden yang paling layak di negeri ini. Itulah mentalitas pejuang sejati.

        B) Pak Prabowo sudah mengakui secara terbuka berulamng-ulang bahwa beliau salah mengartikan perintah atasan dan tidak pernah bermaksud melakukan kudeta atau memicu kerusuhan. Dan konsekuensinya kita ketahui bersama: Prabowo, sang Pangkostrad itu, diberhentikan dari militer. Prabowo adalah orang pertama dengan pangkat dan pengaruh setinggi itu yang diberhentikan dari militer, mungkin satu-satunya dalam sejarah sepanjang masa ABRI. Dan bahkan beliau harus lari mengasingkan diri ke luar negeri karena situasi di dalam negeri benar-benar mengancam nyawanya akibat banyak musuh-musuhnya yang hendak melenyapkannya karena dendam masa lalu. Dan kini bertahun-tahun sudah beliau kembali. Menghadapi semuanya secara terbuka. Kini beliau lebih terbuka dan jujur menghadapi pertanyaan, gugatan, makian, cacian. Dan dalam situasi seperti itu, tidak pernah beliau memetik gitar untuk menciptakan lagu-lagu galau. Tidak. Beliau justru sekarang tinggal di Hambalang, di tempat yang banyak dijadikan berita miring secara nasional. Secara ekonomi, beliau mampu membeli rumah di Cikeas, tapi kenyatannya sampai kini kediamannya masih di Hambalang. Sungguh berani sekali.

        Demikian Bang Pandji. Sekali lagi saya bukan pendukung Prabowo. Saya hanya mengajak generasi muda agar bisa melihat secara jernih, bahwa hanya mereka yang terus menerus bersungguh-sungguh mengoreksi diri dan belajar dari kesalahan masa lalulah yang pantas disebut sebagai pejuang sejati. Orang besar sejati ialah mereka yang bisa mengubah dirinya, dari sosok yang terhina dan terkalahkan menjadi sosok yang terpuji dan tidak terkalahkan.

        Pertanyaannya, apakah anda yakin Anies Baswedan termasuk ke dalam golongan pejuang sejati dan orang besar yang sanggup memimpin bangsa pejuang sebesar Indonesia? Pernahkah Bang Pandji melihat Anies Baswedan bangkit berdiri di tengah situasi yang sangat terhina dan terpojokkan? Beranikah Anies Baswedan pasang badan membela orang-orang benar dan orang-orang minoritas termasuk kelompok Syiah dan Ahmadiyah? Beranikan Anies Baswedan memecat bawahan yang korup? Tulisan Bang Pandji belum mampu meyakinkan saya akan kekuatan karakter Anies Baswedan. Saya butuh banyak membaca lagi ulasan-ulasan Bang Panji mengenai sosok Anies Baswedan.

        Kalau Bang Pandji merasa tidak mampu menulis terus menerus mengenai sosok pemimpin yang Bang Pandji unggulkan, mungkin sebenarnya passion Bang Panji bukan di sosok tersebut. Saya mau lihat ke depan apakah Anies Baswedan seperti Faisal Basri yang tidak banyak dipahami dan dikenal baik bahkan oleh pendukungnya. Saya masih mau lihat apakah para pendukung Anies Baswedan mengenali dan memahami kelemahan dan kekurangan pemimpinnya, hingga mampu mengubahnya menjadi kekuatan dan kelebihan.

        Reply

        • Pandji Pragiwaksono Says:

          @AlkemiSastraIndonesia: Menarik sekali melihat pola pikir anda :)
          Tapi intinya begini, soal salah mengartikan perintah itu tetap merupakan poin yg saya ingin garis bawahi. Orang baik mana, yg menyalah artikan perintah lalu kemudian menculik mahasiswa. Dari mana pola pikir seperti itu muncul dari orang baik?
          Orang baik mana yg terpikir utk menculik?
          Dari orang tuanya? Dari keluarganya?

          Begini saja, kalau memang Prabowo adalah org yg baik, mengapa Prabowo tidak inisiatif utk maju dlm persidangan yg dulu beliau hindari dgn pergi ke luar negri?
          Sidang saja sekarang. Supaya kalau Prabowo benar & baik, maka akan terbukti sendiri.
          Kalau tidak, Prabowo akan terus menerus dihantui oleh anggapan2 seperti yg datang dari saya ini.

          Maukah Prabowo melakukan itu?
          Saya rasa tidak.
          Mengapa?
          A) Krn akan jelek secara public relation utk org yg akan maju nyapres
          B) Krn beliau tau persis, tidak akan ada hukum negara atau sosial manapun yg akan membenarkan menculik anak anak muda sebagai bagian positif dari membela bangsa & negara.

          Anies Baswedan tidak perlu membuktikan dirinya kpd siapapun.

          Di mata kami, beliau adalah pemimpin hebat
          Apakah pernah beliau berdiri ketika dinistakan? Hari ini beliau sdg lakukan itu melawan usaha usaha terkoordinir utk mencemari nama beliau
          Di twitter mrk mencemari dgn caci maki yg frontal. Di blog saya mereka tdk akan berani melakukan itu, mereka gunakan cara santun & argumentatif. Krn mrk tau kalau konfrontatif justru akan membuat mereka terlihat buruk :)
          Apakah Anies Baswedan membela kaum minoritas? Opini beliau tentang ini bisa anda temukan di youtube
          Apakah beliau berani pecat org yg korupsi? Alhamdulillah sejauh ini org baik akan membuat org2 baik tertarik utk membantu. Karenanya sejauh ini blm ada kabar soal org2 sekitar Anies yg korup. Tapi kami para pendukung Anies percaya beliau mampu lakukan itu

          Bagaimana kalau sebaliknya
          Pernahkah Prabowo (atau capres manapun dlm hal ini, konvensi atau dari partai lain) yg terbukti mampu menginspirasi ribuan anak muda utk meninggalkan pekerjaan & mengabdi kpd rakyat kecil?
          Anies Baswedan, inspired heroes!

          Pernahkah anda google nama Anies Baswedan & menemukan track record buruk akan beliau?
          :)

          Bung Alkemi YTH, saya dgn jelas bisa berdiri & berkata: Saya ada di sisi Anies Baswedan.
          Sementara anda, dibalik nama alias & identitas tak jelas selalu bilang “Saya bukan pendukung Prabowo”

          Pembaca saya cukup bijak, untuk sadar kemana mereka harus percaya & berpihak

          Mari kita sudahi diskusi berkepanjangan ini dgn berkata:
          Mari sepakat utk tidak sepakat :)

          Reply

          • Alkemi Sastra Indonesia Says:

            Terima kasih, Bang Pandji atas tanggapannya.

            Saya belajar banyak dari pemikiran dan kritik Bang Pandji. Saya pribadi bukan orang yang datang tiba-tiba di blog ini dan sengaja khusus mempromosikan Prabowo. Dari dulu saya pembaca blog Bang Pandji, sejak mengetahui e-book Nasionalisme, namun tidak pernah memberi komentar . Saya tertarik pemikiran Bang Pandji karena gagasan nasionalisme yang aktual dan kepercayaan diri yang tinggi dan semangat berpikir positif untuk membangun negeri.

            Bang Pandji, sikap nasionalis, kepercayaan diri, dan pikiran yang positif adalah hal yang sama ada pada Pak Prabowo, sekali lagi ini hanya menurut pendapat saya. Bedanya, Pak Prabowo memiliki masa lalu yang tidak selamanya cerah dan positif, ada sisi-sisi gelap. Saya akui. Namun untuk menjawab pertanyaan Bang Pandji, yang saya kutip utuh:

            “Pernahkah Prabowo (atau capres manapun dlm hal ini, konvensi atau dari partai lain) yg terbukti mampu menginspirasi ribuan anak muda utk meninggalkan pekerjaan & mengabdi kpd rakyat kecil?
            Anies Baswedan, inspired heroes!”

            Jawaban saya mungkin tidak akan pernah memuaskan Bang Pandji: Prabowo, di usia kira-kira semuda Bang Anies Baswedan, adalah pemimpin militer yang menggerakkan ribuan prajurit pasukan khusus. Pasukan khusus itu juga anak-anak terbaik negeri kita, Bang Pandji. Dan kerjaannya tentu bukan cuma perang. Di bawah Pak Prabowo, para anggota pasukan khusus juga melakukan kegiatan sosial, membantu masyarakat yang tertimpa bencana, pembersihan sampah, dan lain sebagainya.Hanya aktivitasnya tidak bisa dipublikasian secara luas, karena karakter prajurit sejati memang banyak bergerak di bawah permukaan. Saya tidak mau membandingkan mana yang lebih baik, karena keduanya terbukti tokoh terbaik dan bisa banyak mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi.

            Memang harus diakui, banyak isu-isu miring seputar kiprah Prabowo semasa mengabdi di militer. Namun, apakah belum cukup hukuman atas Prabowo yang ditendang dari militer dan dihitamkan dalam sejarah militer nasional, Bang Panji?

            Saya akui saya ada perbedaan pendapat dengan Bang Pandji. Saya pribadi mengagumi Anies Baswedan, juga figur-figur muda lainnya seperti Mas Jokowi, Bu Risma, dan Pak DI, pak Mahfud MD. Tapi saya juga menyimpan kekaguman dengan figur-figur senior seperti Pak SBY, Bu Mega, Pak JK, dan Pak Prabowo.

            Khusus untuk Pak Prabowo, saya hanya menganggapnya sebagai orang senior yang belum pernah terlibat dalam birokrasi pemerintahan dan struktur administasi negara sejak masa BJ Habibie hingga Pak SBY sekarang. Kepemimpinannya di atas rata-rata pemimpin lain. Salah satu yang mendorong duet Jokowi dan Ahok adalah Prabowo. Bahkan Prabowo yang mendorong agar Teten Masduki maju jadi Cagub, meski ditolak oleh PDI-perjuangan yang ingin maju sendiri dengan Rieke seabagi Cagub dan teten sekadar Cawagub. Di bandung, Prabowo mendukung penuh agar Ridwan Kamil bisa maju jadi Walikota. Artinya, bahkan Jokowi, Ahok, dan Ridwan Kamil, tidak mempermasalahkan endorsement dari Prabowo dan Partainya. Orang-orang baik ini paham bahwa masa lalu Prabowo memang bermasalah, tetapi kini Prabowo dan partainya sedang berjuang untuk menjadi baik dan positif.

            Sekarang Indonesia punya banyak tokoh hebat seperti tercermin dalam gambar good guys stick together. The question is who could stick them together as the dream team? Good persons only could be led by great person. Only great man could stick them together. Good is not enough, we need great man. Anies Baswedan, Joko Widodo, Dahlan Iskan, Tri Risma are good leaders, but they are not not great enough to be the president of this great damn republic.

            Prabowo did some big mistakes in the past, same as he did some great achievements as soldier and military officer. Yes, he avoided the court in the past. But now, he is ready to all the allegation and accusations. When Prabowo was running his campaign since 2004 or 2009, he had given the signal to all his opponents: I am here, and I will always be here.

            Now, it’s up to the people: who should lead as president of this great damn republic:

            some good guys, such as Jokowi, DI, Anies Baswedan, Gita Wiryawan. Tri Risma…or
            a great damn person, such as Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, Mahfud MD…

          • Pandji Pragiwaksono Says:

            @Alkemi: I know who you are now :)

            Kita bisa diskusikan ini ketika bertemu. I know what you told people about me . Those walls have ears.

            Bro, tentara itu emg kerjaannya. Its not like they have a choice. Perintah atasan ya harus dikerjakan. Justru jangan lakukan diluar perintah & inisiatif sendiri. Apalagi yg berdampak buruk.

            Nah Anak anak muda ini yg menjadi Pengajar Muda kan tidak harus mengabdi. Mereka bisa kerja. Mereka bisa lsg merasakan hidup nyaman dgn gaji besar. IPK mereka di atas 3! Tapi mereka MEMILIH utk mengabdi krn Anies Baswedan.
            Itu bedanya

            Udah ya bro, berhubung udah ketauan juga. Ntar aja kalo ketemuan :)

            Dont act like strangers when we meet, okay :)

    • Kalvin Says:

      Sungguh penjabaran yang panajang, sampai saya malas membacanya…

      percayalah velg bengkok akibat menabrak lubang bisa di press, dan lurus lagi, tapi akan bengkok lagi pada lubang yang berbeda :p

      *sedikit analogi*

      Reply

      • Alkemi Sastra Indonesia Says:

        Betul, Mas Kalvin. Saya sepakat, analoginya sangat tepat untuk kasus velg.

        Namun saya sedih sekali jika anak bangsa seperti Mas Kalvin menggunakan analogi tersebut untuk menilai dan menghakimi manusia. Bang Panji, sebelumnya saya mohon maaf, sesungguhnya saya pribadi tidak ingin memperpanjang dan melanjutkan tulisan mengenai penilaian atas masa lalu pak Prabowo.Namun saya terpaksa mohon izin untuk menulis komentar panjang kembali karena analogi yang digunakan Mas Kalvin di atas dapat menyesatkan pemahaman manusia dalam menilai manusia lain, yang dapat berdampak pada kehidupan Indonesia sebagai bangsa yang mengedepankan semangat berpikir positif terhadap manusia lain.

        Mas Kalvin, untuk kasus manusia: seorang manusia yang masa lalu hidupnya kelam pun masih dapat berubah menjadi sosok yang bersinar di masa depan. Seorang mantan bandit bisa menjadi ustad yang berdedikasi penuh untuk berdakwah, seorang mantan koruptor bisa kembali menjadi profesor yang tekun mengabdi penuh di kampusnya.

        Agama-agama besar manusia mengajarkan: ada seorang mantan pelacur dan pemungut cukai berubah seratus persen meninggalkan sisi kelam hidupnya menjadi pengikut Isa Al Masih yang setia, atau ada seseorang bernama Umar bin Khattab yang menjadi Sahabat Nabi yang masa lalunya merupakan seorang peminum dan pernah mengubur putrinya hidup-hidup serta seorang prajurit keras yang pernah menentang Nabi.

        Saya pribadi tidak mau gegabah dan sembrono menilai Pak Prabowo akan menjadi apa di masa depan, saya juga tidak mau gegabah membandingkan Pak Prabowo adalah sama persis dengan contoh-contoh dari perubahan positif yang diajarkan dalam agama. Namun setidaknya saya tidak mau menjadikan masa lalunya yang kelam sebagai alasan bahwa ia tidak mungkin berubah menjadi pribadi yang bersinar cerah di masa depan.

        Dengan cara seperti ini pula saya bahkan masih memiliki harapan bahwa suatu waktu sosok seperti Munarman dari FPI akan kembali memilih jalan perdamaian dan kelembutan dalam berdakwah dan memerangi kemungkaran tanpa kekerasan. Kalau Munarman dari FPI berubah meninggalkan kekerasan dan pandangat sempitnya, bukan tidak mungkin pula ia suatu hari nanti akan mendapat kepercayaan untuk memimpin partai besar atau lembaga negara.

        Reply

    • @ferryzoe Says:

      bertobat, memperbaiki diri, kembali ke jalan yang benar selalu jadi dambaan setiap orang yang pernah melakukan kesalahan. Analogi saya mungkin begini, seorang ayah yang mungkin dulunya pemabok, pemarah, tukang selingkuh tukang gampar istri dan anak pada saat ia bertobat dia cukup menjadi ayah yang baik buat keluarganya sendiri. tidak perlu ngotot untuk menjadi “ayah dan suami” yang baik buat keluarga lainya.
      Biarlah Pak Prabowo tenang dalam perubahannya, ngga perlu menunjukkan perubahan itu dengan”ambisi” biar manusia dan Tuhan yang menilai. Kita sangat bersyukur dengan perubahan Pak Prabowo atas kesalahan-kesalahan di masa lalunya. kalau dia mau menjadi the great man.. inilah saat yang tepat dia selesaikan dahulu kesalahan-kesalahan di masa lalunya sebelum akhirnya maju untuk memimpin bangsa ini.

      Reply

      • Alkemi Sastra Indonesia Says:

        @ferryzoe–Terima kasih bang ferry. Saya menerima kritiknya dan harus memikirkanya dengan baik dalam waktu yang agak lama setelah membacanya. Saya sangat suka jika sebuah pemikiran disampaikan dengan analogi karena hal tersebut mencerminkan perkembangan pemikiran manusia yang sudah sangat maju.

        Khusus untuk analogi yang ditulis Bang Ferry di atas, saya sendiri merasa tidak mampu berkata apa-apa karena tema yang sangat sensitif. Tema ayah/suami adalah masalah yang sebenarnya sangat saya hindari ketika membahas soal Prabowo Subianto karena tidak ingin bersikap sok tahu dan melanggar batas-batas kesopanan dalam menilai rumah tangga orang lain. Kita sudah sama-sama tahu tragedi yang menimpa rumah tangga beliau, kita sudah sama-sama tahu apa yang terjadi dalam pernikahan beliau dengan putri Pak Harto, kita sudah sama-sama tahu betapa sakit dan perihnya perasaan keluarga yang harus mengalami perpisahan. Ada yang mengatakan bahwa soal perpisahan ini sepernuhnya di luar kuasa Pak Prabowo karena merupakan destiny terhadap putra-putri Pak Harto yang mengalami perpisahan dalam rumah tangga seperti dialami Mas Bambang dengan Mbak Halimah dan Mas Tomy dengan Mbak Tata. Saya rasa pandangan tersebut juga kurang bijaksana dan seolah menyalahkan keluarga Pak Harto. Sudahlah tidak perlu menjelek-jelekkan lagi keluarga Pak Harto, enough is enough.

        Pertama, saya memahami maksud dari tulisan Bang Ferry di atas ketika memberi penekanan pada “ayah dan suami.” Baiklah saya katakan dengan sederhana saja, apa yang bisa saya katakan soal ini? Tidak ada. Tidak ada yang bisa saya katakan untuk membuka perspektif Bang Ferry selain bahwa masa lalu Pak Prabowo memang sebuah tragedi: from zero to hero, from hero to zero. Beliau memang bukan seperti Pak SBY yang juga saya kagumi dengan kisah yang luar biasa membina karir poliitk dan rumah tangga dengan putra-putra lulusan terbaik mulai dari akademi militer dan Harvard hingga tak kalah kampus bermutu seperti NTU. Keluarga Pak SBY sangat harmonis, perfect. We proud of his family. Very proud. But what makes Prabowo special is, as husband and father, Pak Prabowo is more likely an ordinary man, he divorced, he was struggling to rise again. That makes him special. He is not superman.

        Kedua, saya memahami poin dari tulisan Bang Ferry yang menekanan agar Pak Prabowo tenang dalam perubahannya dan tidak perlu menunjukkan perubahan itu dengan “ambisi” biar manusia dan Tuhan yang menilai. Bang Ferry, saya memahami dan menerima poin tersebut sepenuhnya. Apa yang Bang Ferry sampaikan benar adanya, saya pribadi tidak punya komentar soal itu. Ini memang perlu menjadi catatan tersendiri agar manusia tidak sesumbar dan pamer perubahan, kadang-kadang upaya menyembunyikan diri memang lebih baik dan terpuji.

        Sebagai rasa terima kasih saya atas komentar Bang Ferry tersebut, saya minta maaf seblumnya kepada Bang Pandji sebagai owner blog ini hendaknya mohon maklumi saya jika hendak bercerita soal kampung saya, Gotham. Saya berasal dari Gotham, dengan legenda terkenal soal Batman. Bagi kami warga kota Gotham, ada legenda yang terkenal sekali. Namanya Batman. Dia mengenakan pakaian berjubah hitam-hitam. Wajahnya ditutupi topeng. Tidak ada yang tahu siapa dia. Saya pribadi sering menerka-nerka siapa Batman, apakah dia polisi atau tentara, tidak ada yang tahu. Kami menjulukinya sebagai ksatria kegelapan, the dark knight.

        Bang Ferry, di kota Gotham, ada tetangga saya yang menilai Batman itu jahat karena melanggar hukum ketika mencoba mengembalikan suasana damai dan aman di kota kami. Tapi ada juga yang menilai Batman sebagai pahlawan karena beliau melanggar hukum ketika hukum tidak berfungsi dalam menegakkan keadilan. Saya pribadi termasuk ke dalam warga Gotham yang berpikir positif soal kehadiran Batman. tu yang saya rasakan sebagai warga kota Gotham, dan jujur saja Batman menginspirasi saya sejak kanak-kanak agar suatu hari harus bisa menjadi sosok anonim ketika menegakkan kebenaran dan menciptakan kebaikan.

        Di satu sisi, saya kagum dengan Batman yang tidak mau identitasnya diketahui publik. Di sisi lain, kadang saya agak heran mengapa Batman harus menjadi anonim dan takut diketahui publik, apa yang dia sembunyikan, apakah dia penjahat yang pura-pura baik, apa yang dia takutkan kalau dia bisa melindungi diri dari sergapan penjahat ketika identitasnya diketahui. Setahu saya pribadi Batman pasti orang kaya raya karena ia mampu mengembangkan Batmobile dengan model-model terbaru setiap kali muncul dan selalu tampil dengan perangkat teknologi cangggih dalam menumpas musuh-musuh yang mengganggu kota kami..Saya sempat mengira Bruce Wayne adalah Batman, tapi rasanya tidak mungkin anak muda manja yang gemar pesta di tengah kemiskinan warga kota kami dan dan hanya kaya karena warisan orang tuanya seperti itu mampu menjadi ksatria bertanggungjawab dan kuat berkelahi, bullshit. Saya orang yang berpikiran positif soal orang lain, tapi tidak senaif itu juga untuk menyebut Bruce Wayne yang sok borjuis dan selalu tidak peduli dan cuek itu sebagai Batman yang hidupnya diabdikan untuk menolong orang lemah dan kaum yang tak berdaya.

        Well, I’m not saying Prabowo Subianto is Batman. I’m just saying than nobody has ever seen Prabowo Subianto dan Batman in the same room at the same time. Nobody.

        Reply

  7. Ria Marselina Says:

    Entah kenapa gue selalu mengangkap opini2 elu itu luar biasa bang.
    Sebagai pemilih muda yg akan menyummbangkan suara nya buat pemilihan nanti gue ngerti sedikit ttg politik karena elu.
    Elu hebat bang, harus nya elu bisa jd Menteri pemuda yg mampu buat perubahan buat anak muda :’)

    Reply

  8. @aguss_eff Says:

    Pandji For Menpora!!

    Reply

  9. Andre Says:

    itu tulisan nya Alkemi Sastra kaya nya template.
    beda banget sama paragraf bawah nya.

    Reply

    • Alkemi Sastra Indonesia Says:

      @Andre–Terima kasih Andre, sudah membaca komentar saya. Keduanya asli tulisan saya secara spontan. Namun, dalam tulisan yang kedua saya hanya berusaha menulis dengan cara yang sopan dan diusahakan lebih rapi karena saya pribadi sangat menghargai dan menghormati Bang Panji yang sudah bersedia membaca dan menanggapi komentar saya.

      Reply

  10. sutrisno S.Sn Says:

    Terima kasih untuk informasinya mas Panji.
    Semoga pemimpin yang terpilih 2014 bs menjadi pemimpin yg tepat dan baik!
    Krn menurut saya,pemimpin itu cermin rakyatnya.
    Jd kl pemimpin yg terpilih nanti jelek, berarti rakyatnya jg masih demikian.
    Jd kl pengen pemimpin yg baik, rakyatnya harus bs berusaha untuk berubah menjadi lebih baik dl, barulah bs mendapatkan jodoh pemimpin yg baik juga!

    Reply

  11. ibnu Says:

    Mas Pandji,
    dari kemarin sebut2 nama Capres, kok ngga pernah sebut nama Mahfud MD sih? Padahal dibandingkan nama2 yang ada sekarang, beliau cukup potensial lho.
    Terus,
    itu kenapa posternya Jokowi paling depan? Jokowi jadi presiden trus wakilnya Anies? Jadi makin bingung nih, sebenarnya pesan yang ingin disampaikan apa ya?

    Reply

    • Pandji Pragiwaksono Says:

      @ibnu: Loh bukannya Mahfud MD mundur dari konvensi ya? Dan belum ada partai yang ambil beliau jadi capres? Soal poster, ya mana saya tauuuu. Kan uda dibilang itu nggak tau siapa yang buat saya cuma nemu di twitter.

      Reply

  12. Hesketh Theodore Says:

    Tulisannya keren bang. Sebagai pemuda di Indonesia, bang pandji bener” ngikutin politik banget. Inilah alumni Gonz yang sebenarnya bang. Lanjutkann:D

    Reply

  13. Alkemi Sastra Indonesia Says:

    Thanks Bang Pandji, sorry for my long inconvenient comment. Agree to happily disagree.

    I really really hope that your candidate will make it, and at the end of the day, we should listen what Jay-Z said in Tom Ford “Numbers don’t lie, check the scoreboard.” Just friendly advice: don’t use AB as the acronym for Anies Baswedan, because it easily sounds like Aburizal Bakrie.

    Reply

  14. pooh Says:

    dengan mengajak orang lain untuk menyatukan pilihan untuk memilih apa yang akan menentukan masa depannya maka anda juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi kedepannya terhadap orang orang yang setuju dan mau mengikuti anda untuk memilih hal tersebut . karena menurut saya dengan mengajak seseorang untuk melakukan satuhal maka anda bertanggung jawab terhadap orang tersebut sampai hal yang di lakukan itu selesai

    ps : dari beberapa comment dan reply dari bung pandji diatas malah membuat saya berfikir bahwa bung pandji bukan seorang glauconian (atau bagaimanapun tulisannya karna saya yakin bung pandji cukup cerdas untuk mengetahui apa yang saya maksud)

    Reply

  15. rambi Says:

    Baru paham saya…baru kepikiran juga.
    iya juga ya.. makin banyak good guys nyapres, makin optimis kita..

    Tadinya sempet punya kepikiran : 1) Takut membuat orang berpikir “Ya elah, baru juga menjabat jadi Gubernur DKI udah siap siap mau maju di 2014.. Kerja dulu, kerjaaa”. Lalu mengait-ngaitkan dengan kecenderungan Jokowi meninggalkan jabatan yang sedang dipegang utk jabatan lebih tinggi sebagaimana dari Walikota Solo yg belum usai masa jabatan kemudian berpindah jadi Gubernur DKI.

    tapi ga lagi… udah paham saya.. :)

    Reply

  16. reza setiawan Says:

    bukannya ini oponi ya mas, kita harus percaya dengan fakta bukan. bahkan kta mas panji kita harus bisa membedakan mana yg opini dan mana yg fakta pada media.. LOL

    1.masih sentilan ni mas, hehe. ( saran). saya dan rakyat indonesia yg berada di daerah mungkin hnya melihat tokoh indonesia seperti jokowi dll hnya lewat media sja. mungkin sja mereka hnya dalam pencitraan sja, atau dalam mekanisme strategi politik. sya percaya dengan mas panji, pemuda yg humoris, idealis, nasionalis, humanis. bukan pemuda sih bpak kya nya lebih tepatnya, LOL. dan mas panji juga sebagai figur idola sya. sya harap mas panji menuturkan juga tentang realita yg mas rasakan yg dilakukan oleh tokoh super hero di ibu kota.

    2. kenapa harus digambarkan dengan tokoh super hero the avengers?

    Reply

  17. abdul Says:

    Mas Pandji kualitas intelektual anda lebih bagus dibandingkan dengan artis yang duduk di DPR, terutama si EKO, jauh banged, semoga kalau Jokowi jadi capres 2014 anda menjadi team suksesnya,

    Reply

  18. Diana Fithriah Says:

    Suka baca diskusinya Pandji sama Alkemi Sastra Indonesia. diskusi cerdas :)
    i think a get your point. both of u.

    Reply

  19. Dondi Says:

    Saya juga suka diskusi Pandji & Alkemi. Ini dia diskusi/debat yg seharusnya. Santun, berdasar fakta dan bukan hanya jargon

    Tetapi saya tahu saya di posisi mana, berdasarkan fakta bahwa pak Jenderal ‘hanya’ dipecat dan belum diadili secara resmi di Mahkamah Militer. Salah satu alasannya karena tahun 98 s/d entah tahun berapa beliau tidak ada di Indonesia. Ini fakta kenapa saya sangat tidak mendukung beliau. Apalagi saya merasa seangkatan dengan para mahasiswa yg ‘hilang’ itu walaupun nggak kenal

    Lalu kenapa pak Anies? Ya bukti kerja beliau itu lah. Anak-anak terbaik bangsa rela meninggalkan pekerjaan yang bergaji besar untuk setahun mengabdikan diri di pelosok Nusantara untuk mengerjakan pekerjaan yang selama ini seharusnya dikerjakan oleh pemerintah yg gagal. Apa bukti mereka anak2 terbaik? Lihat di mana mereka akhirnya bekerja dan berkarya setelah pulang dari masa penugasan. Salut

    Satu lagi, saya nggak anonim. Itu aja sih yang masih kurang dari mas/mbak Alkemi untuk debatnya

    Reply

    • Alkemi Sastra Indonesia Says:

      Terima Mas Dondi, tanggapannya. Saya pribadi juga keberatan kalau sampai ada yang menulis komentar yang mengotori blog ini sebab saya pribadi merupakan pembaca blog Bang Pandji sejak masa e-book ttg nasionalisme. Blog sebagus ini terlalu sayang untuk dikotori oleh sumpah serapah hanya karena perbedaan pendapat soal menilai siapa yang layak menjadi pemimpin. Soal siapa yang lebih baik antara Pak Prabowo dan Bung Anis, saya tidak akan memperpanjang perdebatannya. Biarlah perdebatan disudahi saja dan diserahkan kepada para pemilih sendiri.

      Saya juga harga kritik Mas Dondi atas pilihan saya menggunakan identitas anonim (tanpa nama asli). Tujuan saya sebenarnya satu saja: untuk menunjukkan bahwa seseorang harus tetap bisa bertanggungjawab walau ia menggunakan identitas anonim dalam percakapan dunia maya. Latar belakang pilihan tersebut tentu didasari oleh maraknya akun anonim di dunia maya yang tidak bertanggung jawab dan menjelek-jelekkan sosok atau kelompok politik.

      Saya pribadi tidak suka jika identitas anonim dijadikan topeng untuk bersembunyi dari hujatan atau makian yang dikeluarkan seseorang. Dahulu Soekarno menulis menggunakan nama samar Bima untuk menutupi identitasnya. Sutan Syahrir menggunakan nama samar Syahrazad untuk buku kumpulan surat-suratnya. Mereka melakukannya bukan karena takut, tapi karena nama samar memberikan seni tersendiri, seperti tari-tari tradisi tertentu yang mewajibkan penarinya menggunakan topeng: terkadang sesorang manusia harus memerankan sosok lain dalam kehidupan ini dalam rangka menunjukkan kebenaran.

      Itu saja alasan saya menggunakan identias anonim. Semoga dengan upaya kecil di sudut blog ini para warga dunia maya bisa mulai melihat sisi baik dari penggunaan identitas anonim dan tidak menggeneralisasi atau menyamaratakan penilaian terhadap seluruh orang-orang yang memilih menjadi anonim dalam percakapan dunia masa, sekaligus sebagai teguran tidak langsung terhadap mereka yang masih berlindung di balik identitas anonim hanya untuk menghujat dan mencemarkan nama baik orang baik di luar sana.

      Saya pribadi berusaha untuk menjaga kata-kata dalam perdebatan di atas agar tidak dianggap mencemari Bung Anis Baswedan, kalau pun ada yang dianggap demikian percayalah saya tidak punya maksud untuk itu, karena saya juga sevara pribadi mengenal beliau dan kagum terhadap gerakannya. Sekali lagi, semoga upaya ini dapat membersihkan (walau lingkupnya kecil) sejarah penggunaan identitas anonim untuk tujuan-tujuan yang mulia.

      Reply

  20. ilham eka Says:

    saya setuju semua dengan anggota avengers di atas…saya usulkan satu lagi anggota avengers mas, yang jujur, berani, pekerja keras, nama nya bapak dahlan iskan…

    jika dilihat, ada kesamaan sifat diantara mereka, yaitu integritas baik (jujur), berani, dan ga banyak bicara normatif tapi memberikan karya nyata, rata2 semuanya tidak ada yang awalnya berniat mengejar jabatan tapi kerja,prestasi, dan niat melayani mereka yang akhirnya “memaksa” mereka menerima amanah yang lebih besar dari Tuhan….

    hehehe mohon maaf kalo sudah ada yang menyebut pak dahlan iskan, baik positif maupun negatif, saya belum sempat baca komen2 di atas…. :)

    Reply

  21. Fika Kurniaty Says:

    Saya yakin (dan semoga) pembaca blog ini bisa dengan cerdas “membaca” diskusi bang Pandji dan Alkemi Sastra..

    Tersirat itu lebih terlihat dari yang tersurat..

    Semoga Tuhan selalu melindungi orang-orang baik, berniat baik, untuk selalu menyebarkan kebaikan, aminnn..

    Reply

  22. aad Says:

    tokoh tokoh di atas masih blm populer
    sulit utk menang

    Reply

  23. fakhrun rizal Says:

    gue sangat setuju bang karena makin banyak capres yg nyalonin diri yg mempunyai kredibelitas yg tinggi maka makin baguslah poli5tik Indonesia , because NASINAL IS ME

    Reply

  24. yona sukmalara Says:

    Bang Pandji izin share link exactly my point dan Anis Baswedan di tulisan saya yah, Siapa Presiden Indonesia 2014? http://t.co/Wb6tovHjK0. Terimakasih sebelumnya.

    Reply

  25. ivandhana Says:

    Rasanya tidak ingin berkomentar lebih jauh karena sudah ada diskusi yang cukup panjang dan penuh makna antara Bang Pandji dengan Alkemi. :) diskusi yang cukup panjang tetap santun. biarkan pembaca lain yang menyimpulkan sendiri hasilnya. :D

    Reply

  26. Hasudungan Says:

    sori bang pandji, terlalu telat baru baca artikel ini.
    menarik memang, seru tentang konvensi ini adanya tokoh muda seperti anies baswedan memang memberi harapan baru agar muka2 lama itu menghilang.
    saya cuma memberikan sedikit analisis dan sudut pandang saya saja tentang kans, peluang ANIES BASWEDAN dan IDOLA SAYA JOKOWI di pilpres 2014.

    nah saya ingin membahas masalah pemilihan presiden, karena pilpres masih tidak bisa maju calon independen maka calon yang dimajukan harus diusung partai politik.
    THAT’S THE WEAKEST POINT of ANIES BASWEDAN, itu adalah poin terlemah yang dimiliki oleh Anies Baswedan. seperti yang kita tahu kendaraan politiknya anies baswedan ini adalah kapal yang sedang karam dan bocor dimana-mana (DEMOKRAT).
    dan untuk mencalonkan seorang presiden harus memenuhi PRESIDENTIAL TRESEHOLD 20 % kursi DPR.
    nah seperti yang kita tahu lagi bahwa anggota DPR dari fraksi partai demokrat 1 per 1 dipanggil ABRAHAM SAMAD.
    dan itu mengakibatkan elektabilitas mereka turun drastis (survei terakhir 10 %), dan saya pun tidak yakin apakah rakyat masih mau lagi memilih CALEG DEMOKRAT seperti RUHUT,SUTAN, BATUGANA, NURHAYATI, RAMADHAN POHAN, dan bahkan sang ketua DPR MARZUKIE ALIE.
    yang kebetulan dapilnya MARZUKIE ALIE adalah wilayah rumah saya DAPIL DKI 3.

    dan jelas saya sendiri TIDAK akan pernah SUDI memilih CALEG DEMOKRAT, melihat kinerja dan kebobrokan kerakusan keserakahan serta korupsi yang mereka tampilkan di media dan membuat saya malu dan kesal. saya sendiri sudah memutuskan untuk memilih RICHARD SAM BERA dari PDIP mantan perenang nasional yg akan memperjuangkan hal2 ttg OLAHRAGA di DPR nanti.

    dan lihat tingkah laku para anggota DEMOKRAT yang MENYERANG tanpa akal logika tentang JOKOWI yang belum resmi diCAPRESkan, baru dikasih sinyal2 saja oleh bu Mega, tapi sudah begitu masifnya serangan yang didapatnya.

    kalau masalah korupsi, memang semua partai korupsi.
    tapi saya menilai korupsi yang dilakukan oleh DEMOKRAT begitu masif terstruktur yg kemungkinan utk biaya pemenangan pemilu, dan ANAS yg mempunyai kartu truf SBY di pilpres 2004 karena dia adalah ketua KPU, beda dgn yg dilakukan oleh partai lain yg hanya segelintir oknum yg bermain

    dan masalah kepemimpinan saya lebih yakin JOKOWI untuk tidak goyah dan dimasuki intervensi oleh PDIP karena telah terbukti di SOLO dan JKT, dibandingkan Anies Baswedan yg bisa digerayangi oleh oknum2 koruptor demokrat. agar mereka lolos dari bui KPK.

    itu saja analisis saya ttg kans dan peluang Anies Baswedan di Pilpres 2014.
    saya sendiri berharap jika jagoan saya JOKOWI jadi PRESIDEN, dia bisa menarik ANIES BASWEDAN sbg Menteri Pendidikan.
    memang analisis saya penuh sekali dengan unsur subjektifitas ttg partai demokrat, krn saya sudah terlanjur benci dgn partai ini.

    Terima kasih, kalo berkenan bolehlah dibalas. hahaha

    Reply

  27. aditya arif perdana Says:

    obrolan yang menarik, saran aja bang kalo emang bener mau nyalonin diri sebagai Menpora (ini juga kalo mau) musti siap-siap manjangin kumis dulu,, biar kaya sesepuh-sesepuh sebelumnya.. :)

    Reply

  28. Hazmi Srondol Says:

    Buat mas Alkemi,

    Saya pendukung Prabowo dan saya juga kenal baik dengan mas Anies Baswedan–khususnya saat berjuang membangun sistem komunikasi di tempat salah satu Pengajar Muda bertugas yaitu Pulau Karas Papua. Kedua tokoh hebat dan saya banyak belajar kepada mereka.

    Saya fikir tidak masalah nama Prabowo tidak dimasukan dalam list heroes mas Pandji ini. Karena walau bagaimana pun, yang dilakukan mas Pandji sejalan dgn konsep Prabowo untuk mengedukasi dan membangun kesadaran para pemuda agar tidak apatis dan terlibat dalam politik Indonesia yang lebih baik sekaligus mengurangi/menghilangkan golput di Pemilu 2014.

    Saran saya, lebih baik kita mensosialisasikan proposal perubahan Prabowo dengan cara yang lain. Masih banyak ruang untuk bersama-sama membangun demokrasi Indonesia yang lebih sehat dimasa depan.

    Sekian, salam kenal buat mas Alkemi dan mas Pandji.

    Salam.
    Hazmi Srondol

    Reply

  29. Mr Darmaputra Says:

    Saya baru membaca blog ini hari ini, dan baru pada saat ini saya penuh membaca kolom komentar dikarenakan sangat menarik untuk di bahas.
    Jelas Alkemi adalah orang yg cukup cerdas, mampu meyakinkan banyak orang dgn opininya yg tidak salah. Dan mungkin dia seorang pecinta musik rap juga,menurut saya.
    Maaf sebelumnya kalo keluar jalur. Hanya orang berzodiak Aries yg mampu menandingi kecerdasan seorang gemini seperti mas pandji.
    Untuk menanggapi masalah capres, Indonesia mempunyai masa depan yg sama siapapun calonnya. Dan masa depan itu adalah cerah. Karena apa? Karena teknologi. :)

    Reply

  30. kang rahmat Says:

    Yang saya dapatkan dari tulisan ini: kalo calon-calonnya RI 1 kompeten dan kredible, rakyatpun punya daya pikir dan melihat mana yang harus dipilih, . . . Gak ada unsur kepentingan yang melebihi kepentingan rakyat. Dan demokrasi pun bener-bener mulai kita lakoni

    Reply

  31. Monalisa Says:

    Lebih enak klo masyarakat teredukasi / diedukasi mengenai fakta-fakta kelebihan dan kekurangan masing-masing Capres tanpa harus melebihkan atau mengurangkan yg satu dengan lainnya. plus mengajak masyarakat utk memilih berdasarkan hati nurani, bukan krn paksaan atau ikut-ikutan teman

    Reply

  32. Gustian Ri'pi Says:

    saya memiliki harapan pada nama2 seperti Jokowi, Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Mahfud MD, Jusuf Kalla, Bu Risma, Ridwan Kamil, dan Ahok. Pada akhirnya, dgn bersaingnya good people untuk memberikan pengabdian pada negeri ini, fastabiqul khoirot … semua berlomba berbuat baik.
    btw, kerend bgt foto yg terakhirnya

    Reply

  33. hmm Says:

    “Anak-
    anak terbaik bangsa rela meninggalkan pekerjaan yang
    bergaji besar untuk setahun mengabdikan diri di pelosok”
    yaiyalah wong dibayar 12 jt per bulannya.

    Reply

    • Pandji Pragiwaksono Says:

      @hmm: Sebulan? Setahun kaleee :))) Alias 1 juta / bulan. Setau gue itu juga untuk uang hidup selama ditempatkan dipelosok. Kalau engga nanti akan memberatkan keluarga setempat yang ditumpagi tempat tinggalnya.

      Reply

  34. aditya arif perdana Says:

    hahaha,,,
    12jt/bulan,,, dapet darimana ente info itu?

    Reply

Leave a Reply


1 + = ten