Hadapi

Sat, Dec 21, 2013

Uncategorized

Lucu ya bagaimana orang meyakini kebenaran yang mereka ingin yakini, sebagaimanapun fakta fakta dipaparkan dihadapannya.

Belakangan, ada banyak orang orang yang menanyakan kepada saya mengapa video video yang saya ikut kerjakan cenderung nyinyir kepada Jokowi.

Awalnya saya bingung, tapi lalu mereka mengacu kepada video Anies & Boko W Empuk.

Padahal, Boko W Empuk yg nama panjangnya adalah Bokong Wes Empuk (Pantat Sudah Empuk, bahasa Jawa. Ceritanya menggambarkan para pejabat yang pantatnya udah empuk duduk lama di kursi jabatan) adalah stereotip politisi Indonesia yang kita ingin hentikan kembang biaknya

Politisi yang merasa harusnya terkenal karena dia pejabat, politisi yang dalam pemenangannya beriklan jorjoran di baligo, poster, flyers, internet, TV, koran, dll. Politisi yang menggunakan robot robot yang bisa diprogram opininya.

Nah lucunya, banyak yang menyangka Boko W adalah plesetan dari Jokowi (mungkin karena video yang saya kerjakan sebelumnya cenderung menyerupai capres capres tertentu

Ada malah yang bilang “Rambutnya Jokowi banget!”

:)))

Padahal coba kita pikir baik baik. Bukankah kalau saya mau impersonate Jokowi, cara paling mudah adalah pakai kemeja kotak kotak dan senyum ramah tanpa pecicilan dan banyak ketawa kayak Boko? Si Boko ga ada Jokowi Jokowinya gitu :))

Lagipula, Jokowi kan nggak ngiklan jor joran. Jokowi menang adalah karena track record dan perilaku yang tulus dan unik yang memenangkan hati rakyat. Juga karena strategi brilian branding dengan kemeja kotak kotak. Sampai sekarang masih merupakan strategi kampanye paling brilian yang pernah saya temukan.

Jokowi juga nggak pake robot. Buat apa? Beliau nggak perlu karena rakyat ada di pihaknya. Di tulisan saya yang ini, saya menggambarkan bahwa Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil. Ibu Risma, adalah pemimpin politik yang dibela dan dicinta rakyatnya. Pemimpin Politik. Tidakkah itu angin segar untuk perubahan politik Indonesia menuju arah yang lebih baik?

Dengan semua yang saya sudah jelaskan di atas, saya terus terang bingung bagaimana orang bisa meyakini bahwa itu adalah Jokowi sementara fakta yang saya beberkan menggambarkan sebaliknya.

Ledakan kecurigaan ini, kayaknya berawal dari 1-2 media yang kemarin memberitakan sesuatu yang membingungkan menurut saya.

 

photo (32)

Perhatikan tulisannya baik baik, Pak Anies bilangnya “Saya gak mau pencitraan dengan blusukan”. Beliau tidak bilang “Blusukan itu pencitraan” dan beliau jelas tidak mengatakan “Saya ga mau pencitraan dengan blusukan seperti Jokowi”. Beliau sama sekali tidak bilang itu, namun media yang memberitakan menuliskan “Anies Baswedan menilai, blusukan Jokowi pencitraan.” Nah sekarang, dari mana coba muncul opini seperti itu, lha wong orangnya sendiri nggak ngomong apa apa ke arah sana.

Kalau ada yang menyanggah dan menuduh bahwa beliau benar benar bicara seperti itu di lapangan, silakan tunjukan buktinya. Rekamannya. Kalau tidak ada, maka dasar tuduhannya apa?

Saya selalu bilang, hati hati dengan media karena banyak yang dibelakangnya ada campur tangan politik. Yang paling penting, adalah kita semua paham bedanya Opini dan Fakta. Media harusnya memberikan fakta, bukan opini mereka. Karena opini sesungguhnya subjektif dan setiap orang punya opini yang berbeda.

Gini deh, kalau anda benar benar yakin bahwa berita itu benar. Coba tunjukan berita yang sama, tapi datang dari Kompas atau Tempo. Silakan cari. Verifikasi aja.

Lalu, apa kesimpulan saya dari semua ini?

Saya curiga, ada yang tidak ingin orang orang baik ini bersatu. Ada yang kuatir kalau orang orang baik ini bersatu.

Karena mereka tahu orang orang baik ini bisa jadi pemicu persatuan, dan persatuan adalah sesuatu yang paling sering dikhawatirkan para penjahat.

Sudah lama saya pernah tulis bahwa harusnya orang orang baik ini bersatu dan bukan berseteru

Saya sendiri merasa, video video yang kami buat ini ternyata berdampak. Besar bahkan. Kayaknya ada yang kuatir dan ingin berusaha menggembosi dan sayangnya, banyak pihak yang termakan hasutan tersebut.

Tidak apa. Saya sih tidak kuatir, saya mah bisa terima kritik kritik keras termasuk dari akun akun yang identitasnya tersembunyi.

Orang tidak akan tahu dia siapa tapi semua orang tahu siapa saya, kredibilitas saya, integritas saya. Identitas saya jelas.

I can take it :)

Sementara Mas Anies Baswedan sendiri, beliau terlalu sibuk melakukan tur Jawa (kelanjutan tur Sulawesi , Sumatra, Kalimantan) yang sudah dijalani sebelumnya. Beliau dari kota kota menyalakan harapan akan perubahan.

Saya tidak kuatir soal hubungan Mas Anies dan Jokowi. Lha wong mereka berteman baik kok :)

Kalau merekanya saja tidak merasa ada masalah, lah ngapain kita bermasalah. Kita kan dukung mereka. Mereka baik baik saja, ya kita baik baik saja lah :))

c5077191957449c6ae430580aeb36997

Ada yang menarik Jokowi – Anies ini.

Dulu teman teman saya pendukung Jokowi ketika Pilgub DKI sempat berkeluh kepada saya “Banyak yg melintir Jokowi nih.. Busuk banget. Kabar kabar miring aneh aneh ada keluar semua soal Jokowi”

The tables have turned.

Kini Mas Anies yang mengalami hal tersebut, namun yang tersulut adalah pendukung Jokowi (tapi teman teman saya yang pendukung Jokowi banyak yang tidak mempermasalahkan sih, entah nih kenapa byk yg bereaksi negatif)

Mas Anies pernah berkata “Saya bisa saja pilih jalan yang penuh tepuk tangan, penuh puja puji, tapi saya memilih untuk turun tangan dan berjuang”

Saya setuju. Namanya juga politik, kalau berharap bersih mah jalan jalan aja di mal dan kalau mau yang  mudah mah kerjain aja soal matematika anak kelas 1 SD.

Ini perjuangan. Ini langkah perubahan.

Memang selayaknya kotor. Memang sewajarnya susah.

Susah, tapi pasti bisa.

Biarkan saja Mas Anies didzolimi.

Kalau kata Mas Anies “HADAPI!”

:)

PS: Ada perkembangan baru dari keadaan ini. Belum lama yang lalu, saya dihubungi oleh seseorang yang kecewa karena saya terkesan mengolok olok Gita Wiryawan di video Boko ini. Saya langsung ngakak (dalam hati) karena berarti ini bukan tentang nama Boko. Ini tentang orang yang terlalu sensitif saja. Lha wong Boko W Empuk ga ada mirip miripnya dengan nama Gita Wiryawan tapi dia dan kawan kawannya yakin banget saya menyindir Gita.

Yang satu bilang namanya mirip Jokowi

Yang satu bilang bajunya mirip Gita

Padahal, Boko W Empuk bukan keduanya. Boko (seperti yang sudah dijelaskan di atas) adalah personifikasi dari stereotip politisi busuk yang ingin kita cabut dari kursi kursi empuk.

Intinya apa? Orang minder mudah tersinggung. Kalau pede, gak perlu sensi.

Kalau tidak merasa calonnya mirip dengan yang digambarkan oleh Boko ya gak perlu tersinggung.

Kalau ternyata kelakuannya sama dengan Boko, ya itu urusan lain lagi :))


17 Responses to “Hadapi”

  1. sitratmut Says:

    Maksudnya Anies Baswesan gini bukan sih: dia nggak mau blusukan karena itu membuat dirinya seperti sedang melakukan pencitraan.

    Balik ke persepsi masing-masing lagi ding. Tiap orang kan beda-beda. :D

    Reply

  2. g3ndh3ng Says:

    Langsung di konfirmasi… Hehehehehe..

    selamat berjuang bro..

    Reply

  3. Bhagas Dani Says:

    Sip bang.. Provokasinya si @PartaiSocmed cuma nyari masalah. Mereka kelihatan tendensius, mirip kayak @TrioMacan2000. Hehehehe

    Reply

  4. erick paramata Says:

    Yuupp.. Langsung dibuat penjelasannya. Hahaha.. :D

    Semangat bang, yahh.. Biasalah yg kek gitu2. Hehe…
    Tapi sy penasaran di twit akhir bang pandji bilang tau siapa si partai sosmed. Siapa bang?
    Hahaha.. #penasaran

    Semangat bang, jgn sampai gara2 semalam merusak hari besar ini. Tampilkan yg terbaik di messake bangsaku, kalo perlu bahas ini juga. :3

    Reply

  5. ilham Says:

    Awalnya tau sosok Anies dari video youtube Pandji beberapa minggu lalu. Lalu hari ini iseng nyari nama Anies Baswedan di google dengan keyword “anies baswedan kompasiana” harapannya muncul berita-berita apa yang memuat beliau? hal baik atau buruk kah? Gak taunya malah dibawa masuk ke salah satu postingan di blognya pandji ini. lalu ngecek post terbaru dan ahaa.. ternyata ada yang bener-bener baru hohoho..
    Bro, coba kampanyekan pak Anies melalui ava mu, pakai twibbon. Aku yakin efeknya lumayan besar.

    Reply

  6. Yohanes Pasaribu Says:

    The tables have turned (but they thought the tables were still on them =)) )

    jadi inget, dari mana gue lupa, ada yang bilang kalo pendukung pak Joko udah nggak rasional. Disentil sedikit langsung bereaksi. Gue nggak sepenuhnya setuju, karena masih banyak yang rasional, yang bisa paham maksud di belakang sentilan itu.

    Gue dari dulu emang ragu sama merdekadotcom, redaksi beritanya malah masih terlihat ‘terjajah’.

    Reply

  7. Roby Sar'benett Says:

    it’s so bautiful!
    masih berasa banget, hektiknya suara applous campur ketawa di teater jakarta malam ini.
    thanks for made us laugh and think again about the unity. inspiring!
    indonesia sangat butuh pemikir keras seperti kalian dan frontal terhadap kesalahan persepsi di masyarakat.

    awesome!

    Reply

  8. hasudungan Says:

    nah itu lagi2 gan pandji, peran media disini uda kebablasan emg.
    makanya kalo ama AHOK media yg macem2 pasti disikat ama dia. ga takut ama pemiliknya.
    TV OON, METEOR TV, TRANPORTASI TV uda pernah kena ama dia.
    masalahnya JOKOWI itu terlalu baik, dia ga pernah mau marahin media. dia itu emg SOLO bgt sifatnya, kalo uda keterlaluan pasti dimarahin. kayak waktu 100 hari di tv oon.

    emg sih di 6 bulan pertama di mana media terus menerus memberitakan jokowiahok, jadi banyak yg suka dgn mereka. dan yg tadinya suka menjadi “ultras fanatik” itu suatu yg salah walaupun jokowi adalah org yg memiliki track record yg baik. tapi dia harus tetap dikritisi.
    dan banyak MEDIA yg memprovokasi, yah begitulah kerja media sekarang bad news is a good news.
    nah masalahnya yg mengkritisi jokowi itu kadang2 juga ga memakai akalnya. contoh Nurhayati demokrat: 1000 rumah kebakaran. ramadhan pohan demokrat : penyadapan tanggung jwb jokowi. caleg pks(entah siapa namanya) : penempatan lurah susan dikaitkan dengan Kristenisasi.

    nah ketika kritik2 yg masuk ke jokowi ahok mulai tidak masuk akal, maka penggemar mereka berdua terpancing dan mulai tidak masuk akal juga menanggapi.
    banyak yg kesal karena ejaan BOKO W, itu yah agak2 mirip dengan JOKOWI.
    dan mengaitkan capres dg robot itu seperti jokowi yg dituduh memiliki tim social media, padahal jokowi tidak pernah membayar tim media.

    saya sendiri sempat bertanya2 siapa itu BOKO W, tapi yah kocak juga dan santai saja.
    nah ketidak raionalan fans jokowi ahok juga jangan dianggap semuanya seperti itu, masih banyak kok yg rasional.

    santai saja mas pandji, jokowi pas mau naik jadi gubernur dki diserang berbagai isu2 negatif kok. banyak sekali dari SARA, tidak amanah dll.

    jadi ujian buat ANIES pasti lebih berat, tetap santai dan semangat.
    tonjolkan kinerja ANIES sbg pencetus GIM dan REKTOR PARMAD.
    lalu beberkan PROGRAM2 kerja dia ketika nanti jadi PRESIDEN.
    isu ekonomi, keamanan, toleransi beragama, dll. kalo pendidikan mah ga usa ditanya lagi yah.

    Reply

  9. santosa Says:

    Sepakat dengan mas Pandji, saya juga percaya orang baik selalu bisa bergabung, bekerja sama dengan orang baik.

    Jangan sampai kita termakan dengan adu-domba yg ujung2ya merugika diri-sendiri. Support terus orang2 baik itu untuk membuat sebanyak2nya kebaikan bentengi dari adu domba. Ciptakan kompetisi bersih dengan banyaknya aksi nyata yg dibuat untuk kemajuan bangsa bukan dengan jatuh-menjatuhkan

    Reply

  10. Gustian Says:

    HADAPI. harapan baru 2014 :)

    Reply

  11. aauliab Says:

    menurut saya, maksud dari perkataan Pak Anies adalah pencitraan (dalam denotasi positif) itu penting. Pencitraan yg beliau pilih ya yang modelnya turun tangan, berbicara kepada khalayak ramai, membuat solusi dan perubahan. Bukan dengan cara blusukan..
    Sama-sama cara pencitraan yg baik kok, hanya siapa dan model apa yg mau dipakai. Itu saja :)

    Reply

  12. ratuusemadaria Says:

    if you know what i mean bang. karena pas saya pasang Twibbon, ga ada reaksi apapun dr temen2 saya. wkwkwk. saya rasanya blm ‘turun tangan’ jadi saya cari celah aja :p kita lihat apakah twit td bikin temen2 bereaksi. kalo ga juga. saya cari cara lain lagi deh. salam Turun Tangan

    Reply

  13. Rosa Says:

    Waktu di acara mata najwa on stage Solo, pak anies ditanya kalo dipaksa memilih pasangan capre-cawapres dr tokoh yg hadir hari itu (Jusuf Kalla, Jokowi, Ganjar Pranowo, Abraham Samad), pilih siapa. Pak anies bilang ingin memilih yang ‘penyelenggara negara’ karena pak Anies sendiri bukan penyelenggara negara. dan kode-kodenya lebih mengarah ke Jokowi. Jokowi – Anies hubungannya sangat baik. Pasangan yang saya inginkan sebenernya.. tapi yah.. lihat nanti saja..

    Reply

  14. Ridwan Says:

    Sukses terus, Mas Pandji!. Video2nya bagus dan mengena. Cuman saya rasa viewershipnya perlu ditingkatkan. Any idea?

    O ya, mengenai nama, kenapa tidak ditulis nama panjang saja, Bokong Wes Empuk, di videonya? Atau minimal di bagian “about” nya agar bisa dibaca semua orang. Jadi tidak ada misinterpretasi.

    Reply

  15. hanari Says:

    harus berani menghadai apapun yang akan terjadi

    Reply

  16. dheche Says:

    Bagi saya, sampai saat ini yg agak ngganjel dari kampanyenya mas Anis baru masalah nama “Boko W”. Meski mas Pandji jelaskan kepanjangan dari boko w ini apa, tetap saja persepsi kebanyakan orang ketika mendengar nama Boko W pasti mengarah ke salah satu calon dari partai tetangga.

    Yang kita tidak suka dari para politisi kebanyakan kan masalah kelakuannya, bukan masalah nama, bukan masalah fisik. Saya justru sepakat sekali ketika mas Pandji menyentil kelakuan negatif dari para caleg (robot, pendukung bayaran, kampanye jor-joran, dsb), tapi kenapa harus pakai nama Boko W.

    Saya juga tau, mas Anis dan pak Joko Wi juga berhubungan baik, dan saya rasa mereka berdua pun gak ada masalah. Tapi ya itu tadi, masalah pilihan nama ini yg masih bener-bener ngganjel buat saya.

    Ganti plis namanya .. plis … ya … plis … :)

    Reply

  17. Royger Simamora Says:

    Lanjutkan Pak Anies.. Semoga sukses segala langkahnya. :)

    Reply

Leave a Reply


× 8 = seventy two