Hidup Beragama

Untuk yang sudah nonton Mesakke Bangsaku, harusnya tau apa pendapat saya mengenai alasan Indonesia sulit bersatu.
Alasannya adalah: Yang mayoritas belagu di hadapan yang minoritas. Yang minoritas merasa kerdil di hadapan yang mayoritas.
Belagu itu definisinya apa?
Menurut definisi saya, “Belagu” adalah perangai semau dirinya sendiri dan tidak mau memikirkan orang lain. Sombong, mungkin kata lain yang mendekati dengan Belagu.

Yang minoritas sebaliknya, merasa kerdil & tidak berani (atau mungkin tidak mau) membela apa yang jadi haknya.

Ambil contoh: Pengguna kursi roda.

Kita yang kakinya sehat mungkin tidak pernah berpikir bahwa saudara saudara kita yang menggunakan kursi roda tidak bisa mandiri hidup di Indonesia karena tidak ada infrastruktur yang mendukung mereka untuk bisa beraktivitas sendirian.
Trotoar saja banyak yang dipake dagang, atau di tengah-tengah ada pohon atau putus di tengah tengah & tidak ada lanjutannya.
Banyak gedung gedung sekolah yang tidak menyediakan ramp apalagi lift untuk pengguna kursi roda bisa naik ke kelas yang ada di lantai atas.
Saya punya teman pengguna kursi roda yang diusir dari Masjid ketika mau Jumatan karena Masjidnya tidak ada area untuk pengguna kursi roda & kursi roda tidak boleh masuk area shalat karena kotor.
Memang tidak semua masjid seperti itu, tapi justru ini poin yang saya mau bahas dalam blog ini.

Blog ini, adalah opini saya terkait kabar yang tersiar belakangan ini. Gosipnya Mas Anies Baswedan memutuskan untuk menghilangkan doa secara Islam setiap kali mau membuka pelajaran di sekolah.

Itu gosipnya.

Faktanya: “Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengatakan, saat ini masih ada fenomena sekolah negeri di Indonesia, yang sering menjalankan praktik agama sesuai agama mayoritas saja. Maka itu, hal ini tidak boleh terjadi lagi.”

Diambil dari sini

Apa maksudnya & apa latar belakang usul tadi?
Apapula hubungannya dengan mayoritas & minoritas?

Perkenankan saya cerita dulu…

Waktu SMA, saya sekolah di Kolese Gonzaga. Sebuah sekolah katolik.
Waktu saya diterima masuk Gonzaga saya kuatir sekali. Saya tidak pernah sekolah di sekolah Katolik sebelumnya. SD & SMP saya sekolah di sekolah umum & umumnya anak di sana adalah muslim. Pelajaran agama & kehidupan saya sebagai muslim tidak pernah terganggu.
Masuk sekolah Katolik, adalah sesuatu yang mencemaskan. Tapi karena saya tidak diterima di semua SMA inceran saya (SMA 82, SMA 6 & SMA 70) saya terpaksa ambil pilihan Kolese Gonzaga. Daripada nganggur. Niatnya, 1 tahun kemudian akan pindah ke sekolah negri.

Ternyata yang saya kuatirkan tidak terjadi sama sekali, entah dengan sekolah Katolik lain, tapi di Kolese Gonzaga hak saya sebagai muslim tetap dibela. Walaupun saya minoritas. Di kelas 1 tidak ada pelajaran Agama, adanya pelajaran Etika. Ketika kelas 2 & 3 ada pelajaran Agama Katolik, tapi saya diperbolehkan untuk keluar kelas. Bahkan guru tersebut menyuruh saya bawa Al Quran supaya ketika pelajaran agama Katolik, saya mendalami sendiri Islam. Ternyata kebutuhan saya tetap diperhatikan.
Ketika pelajaran pertama mau dimulai, 1 orang anak diminta guru untuk memimpin doa secara Katolik. Saya tidak perlu berdiri & ikut. Saya dianjutkan untuk berdoa secara Islam.

Bahkan pertemananpun sangat toleran. Saya ingat pernah main sepakbola di bulan Ramadhan, ketika Adzan Maghrib permainan dihentikan supaya saya bisa buka puasa dulu. Padahal saya satu-satunya yg muslim di lapangan. Semua rela menunggu.

Pengalaman saya di Gonzaga sayangnya tidak dialami oleh teman teman di sekolah lain. Ada sekolah katolik lain yang tetap memaksakan agar yang beragama lain tetap berdoa secara Katolik, ada sekolah umum juga yang memaksakan untuk berdoa secara Islam.

Bahkan saya punya teman beragama Katolik, namanya Christophorus Priyonugroho yang bisa Adzan, Shalat, Ngaji & khatam Al Quran. Saya tanya kenapa, jawabnya karena di kampung dia cuma ada 1 sekolah dasar. Di situ dia wajib ikut pelajaran agama Islam walau dia Katolik, “Kalo nggak, ga naik kelas gue..”
“Tapi kan elo Katolik”
“Emang, makanya gue sempet bingung”
Saya tanya pernahkah dia protes, dia menjawab “Pernah tapi ga ditanggepin. Cuma 2 yang bukan muslim di SD gue”

Nah. Kalau ada umat muslim yang kesulitan berempati dengan yang terjadi terhadap teman saya, bayangkan dibalik situasinya.
Bayangkan satu satunya SD di desa / kota anda adalah SD Katolik & anda dipaksa belajar Katolik. Gimana rasanya?

Kondisi ini yang diusulkan oleh Mas Anies agar diubah. Memang ada sekolah yang toleran dan mau memikirkan yang minoritas, tapi ada juga yang tidak.
Mas Anies ingin membuat peraturan agar semua sekolah mempraktekkan toleransi umat beragama & tidak memaksakan agar yang minoritas harus berdoa dengan ajaran mayoritas.

“Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengatakan, saat ini masih ada fenomena sekolah negeri di Indonesia, yang sering menjalankan praktik agama sesuai agama mayoritas saja. Maka itu, hal ini tidak boleh terjadi lagi.”

Jadi, bukan berarti berdoa dengan agama Islam dilarang. Tapi berdoa dibebaskan agar sesuai dengan agamanya masing masing tanpa harus ikut yang mayoritas.

๐Ÿ™‚

Saat ini, lagi banyak sekali anak muda ngamuk, kesal, marah-marah.

Saya bisa memahami kemarahan mereka.
KALAU MEMANG BENAR DEMIKIAN. Masalahnya kan engga seperti yang digosipkan.
Saya cenderung kecewa dengan teman teman muslim yang cenderung berkesimpulan dari info yang sepotong.
Iqra.
Bacalah.
Baca dahulu yang lengkap & runut dari berbagai sisi, baru bentuk opini.

Ada lagi yang memang mau agama Islam tetap diwajibkan kepada semua anak sekolah termasuk yang tidak beragama Islam. Yang ini juga bisa saya pahami keinginannya… KALAU INDONESIA SUDAH JADI NEGARA ISLAM.
Tapi selama Indonesia belum jadi negara Islam, maka Indonesia harus toleran kepada semua agama yang ada di Indonesia.
Selama ini masih Indonesia yang menghargai keragaman & merayakan indahnya perbedaan, maka setiap individu memiliki Hak yang sama.

Termasuk dalam hidup beragama

57 thoughts on “Hidup Beragama”

  1. Poinnya seirama dengan pemahanan saya bang. Menurut saya berdoa di sekolah itu, jangan dilafalkan, cukup diminta berdoa dalam hati sesuai keyakinan masing-masing.

    Lagipula memang, inti dari pak menteri bukan menghilangkan doa, tapi perlu pengaturan agar tidak mendominasi.

  2. pengalaman yang anda ceritakan diatas terjadi juga kepada saya bung… memang segala yang ada di indonesia tercinta ini masih setengah setengah, mungkin kita harus memakluminya secara terpaksa… heheh

  3. Saya beragama islam dan bersekolah di SMAN 2 jakarta yang murid-muridnya beragama berbeda-beda (islam, budha, katolik, kristen) dalam jumlah banyak.
    Bahkan di angkatan saya, hanya ada 35 murid yg beragama islam, tapi masih tetap bisa saling menghargai dan bertoleransi.
    Bahkan untuk masalah doa sebelum belajar pun, diucapkan dalam hati sesuai dengan caranya masing-masing

  4. Turut prihatin dengan kondisi dengan kawan mas pandji yang menjadi minoritas dikawasannya. Semoga saja tidak ada paksaan dihari kemudian ๐Ÿ™‚
    Saya sepakat dengan tidak ada paksaan tentang hal berdoa menurut agama dan kepercayaan masing”,
    Done oke.

    Saya hanya berharap sebagai muslim kita turut mencerahkan dan memberikan informasi tanpa harus mencari kambing hitam atau mengkerdilkan Islam itu sendiri sebagai mayoritas. Adalah keniscayaan bila mayoritas memimpin minoritas dalam konteks demokrasi (suara terbanyak), pun maka bila ada hal yang mengusik identias muslim semisal doa atau yang menyinggung aqidah umat Islam maka reaksinya akan cepat ditanggapi (dikomentari).

    Yg jadi pertanyaan saya adalah apa yang menjadi consern mas pandji dgn harus menyikapi prihal ini dengan men-diskreditkan kaum Mayoritas Islam sebagai orang yang BELAGU atau sombong..? bisa dibuktikan bagaimana kesombongannya?
    menurut saya contoh ini contoh nyata kata BELAGU (sombong) yg tepat :
    – Pelarangan Pemakaian Jilbab di Bali
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/08/24/nat1xz-ini-kronologis-pelarangan-pemakaian-jilbab-di-bali
    Apakah mas Pandji menyikapi ini? disana Islam minoritas, apakah mas panjdi membela kaum minoritas ini?

    ini soal muslim yang menjadi minoritas di Myanmar :
    – PBB: Penindasan Muslim Rohingya adalah Kejahatan Serius
    http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/10/25/mv7uy4-pbb-penindasan-muslim-rohingya-adalah-kejahatan-serius
    di myanmar hindu adalah agama mayoritas disana, dan nyata menyakiti bahkan menyiksa dan membunuh atas nama ini itu yang dibuat2. apakah mas Pandji menyikapi ini? Islam yang menjadi agama mas Pandji dikucilkan, disiksa, dst di negara Myanmar sana. apakah mas Pandji membela kaum minoritas (Islam) ini?

    saya akan sangat mengagumi mas Pandji jika juga consern memperhatikan saudara” muslim yang lainnya. ketimbang menghibur sesekali waktu di tivi atau internet dengan lelucon. Membela kemanusiaan adalah kebaikan sebanding amalan di dunia dan akhirat.

    Semoga Allah menunjukan jalan yang benar adalah benar untuk kita semua, aamiin.
    yg baik datangnya dari Allah, dan yang jelek adalah kesalahan saya pribadi. mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

    Salam, Andri saputra.

    1. – myanmar mayoritas Budha
      – konflik bukan dasar agama tapi suku… dan kebetulan mayoritas suku rohingya beragama islam
      – anda berkoar tentang pelarangan jilbab di bali,, sama halnya nonmuslim harus doa menurut muslim di daerah lain,, anda juga tidak terimakan di perlakukan diskriminatif..???
      – saya sarankan mulai dari sekarang anda tidak membaca berita dari portal berita yg tidak kredibel dan netral.. karena dari penyajian beritanya sering banyak kebohongannya drpd kebenarannya,, salah satu contoh berita tentang hal yg lagi di bahas di blog ini/

    2. Mas Andri yang baik,

      Mohon ijin ikut komen ya. Kebetulan saya muslim dan kebetulan juga nggak bisa dibilang fansnya mas Pandji. Dengan bekgron ini, semoga saya bisa komentar dengan obyektif ya.

      Mas Pandji bilang bahwa alasannya susah bersatu adalah: “Yang mayoritas belagu di hadapan yang minoritas. Yang minoritas merasa kerdil di hadapan yang mayoritas.”
      Dan dilanjutkan dengan beberapa contoh. Baik yang mayoritas islam, maupun mayoritas lain (tidak selalu terkait agama, lihat yang trotoar).

      Saya rasa yang Mas Pandji lakukan adalah memaparkan contoh yang memang dia tahu secara langsung (sehingga sahih untuk dia angkat).

      Saya tidak merasa Islam di-diskreditkan.
      Ini tulisan ditujukan untuk kita dalam konteks sebagai BANGSA INDONESIA.

      Kalau mas Andri (yang sepenangkapan saya adalah muslim.CMIIW) merasa tersindir, ya wallahu alam.
      Jangan-jangan mas Andri semata-mata melihatnya dalam konteks sebagai bagian dari umat MUSLIM sedunia.

      Saya ingin mengajak Mas Andri untuk melihat tulisan ini secara lebih obyektif, karena memang ditulis dengan cukup obyektif.
      Dalam tulisan itu Mas Pandji pun bilang bahwa tidak semua sekolah non-muslim melakukan toleransi seperti yang dia rasakan, yang mana itu (lagi2) mengkonfirmasi bahwa yang mayoritas cenderung belagu.
      (baca: “Pengalaman saya di Gonzaga sayangnya tidak dialami oleh teman teman di sekolah lain. Ada sekolah katolik lain yang tetap memaksakan agar yang beragama lain tetap berdoa secara Katolik”)

      Kalau memang cukup banyak pihak2 tidak bisa membaca tulisan ini secara obyektif, mungkin alasan sulit bersatunya perlu ditambahkan dengan:
      “Banyak orang kita yang kurang bisa introspeksi diri dan kurang obyektif”

      Atau kalau mau lebih spesifik (inget saya juga muslim loh, ini otokritik)
      “Banyak orang islam di Indonesia yang ‘bawaannya nggak bisa kesenggol dikit’ ”

      Hehehehe…

      Ayolah kita jadikan saja tulisan ini sebagai pengingat bagi kita untuk lebih toleran (tanpa mencampur-adukkan ya; beuh Orde baru banget ngga sih bahasa gw….??? qeqeqeqe).
      In syaa Allaah dengan semakin banyak orang yang toleran, makin bersatu negri tercinta ini.

      Salam damai untuk Indonesia yang bersatu!!!

  5. Setuju om,klu boleh share,sma ku,akhir akhir ini malah lebih diskriminasi,untuk penerimaan siswa baru murid yg non muslim di batasi,masuk dan yg mau masuk harus di tes mengaji terlebih dahulu,padahal sma itu adalah sma negri,belum lg dilingkungan tersebut ada kesan diskriminatif,jd aku sangat setuju jika pengaturan dr bpk mentri.

  6. Setuju banget!
    Jd inget wkt SD dulu sblm mulai pljran ketua kls ato guru ‘memimpin’ doa dg kalimat: berdoa menurut agama &kepercayaan masing2, berdoa mulai. Semua menundukkan kpla & hening.

  7. Saya termasuk yg beruntung karena di sekolah saya dulu, yg merupakan sekolah katolik, sudah tidak ada pelajaran agama katolik lagi. Adanya religiusitas. Dan setiap pelajaran kita selalu diskusi membahas pandangan dari setiap agama teman2 yg meyakini agama lain. Kita juga boleh nanya2 tentang ajaran agama yg lain ke teman pemeluk agama tsb.

  8. If only half of the people in Indonesia have the same thought and attitude like you and our Minister Anies, this country would be a better place, much much better… We wouldn’t have regretful events such as the G30S massacre, Ambon riot (or war?), Ahmadiyah, GKI Yasmin etc… Godspeed

  9. Sependapat… Saya nonmuslim, mengenyam pendidikan negri dari SD-SMA udah pasti mengalami itu, bahkan lulusan Universitas Islam di daerah saya.. Hehe..

    G masalah sih kalaupun ngikut mayoritas.. Yg penting keyakinan gak berubah,bahkan bisa menguatkan iman. Hehe

  10. Soal ini sudah pernah saya proteskan.

    Pada waktu saya sekolah di SMU negeri yang mayoritas muridnya muslim, di bagian atas papan tulis setiap kelasnya ada tulisan bismillah pake huruf arab. Saya bilang ke guru PPKN saya, bisa nggak tulisan itu dihapus? Karena di kelas ini ada teman-teman saya yang Katolik, Protestan, dan Hindu. (By the way, saya muslim.)
    Terus, guru PPKN saya nanya balik, “Apa kamu tega meminta hal itu?”

    Saya bingung kenapa permintaan saya terdengar tidak masuk akal. Saat itulah saya tahu bahwa pelajaran PPKN cuman semu. Ada sedikit pemaksaan agama di sini, saking aja pemaksaannya sangat halus.

    Saya setuju Pak Anies ingin menghapuskan doa Islami di sekolah umum. Karena sekolah umum bukan cuma milik muslim, tapi juga milik penganut agama-agama lainnya.

  11. Saya setuju dengan pendapat dan pandangan Bang Pandji terkait kebijakan Pak Anies, hanya saja dari tulisan Bang Pandji diatas, ada hal yang menurut saya sebaiknya diganti penyampaiannya, yaitu Indonesia belum jadi Negara Islam. Menurut sy, terkait dgn saling menghormati umat agama lain, penyampaian ‘belum jadi’ spt mengharapkan Indonesia akan jadi negara Islam di kemudian hari.Penyampaiannya bisa dgn kalimat lain seperti: ‘Indonesia bukan negara Islam’.
    Hanya menyampaikan pendapat saja, kalau memang ada penjelasan mengapa memilih kata ‘belum jadi’ silahkan di share bang :).

  12. saya ingin bercerita juga mengenai pengalaman saya.
    Saya sd-smp bersekolah di sd islam. Tapi saat sd saya bersekolah di sd yg bukan diperkotaan tapi lebih ke perkampungan. Disana sekolah saya yg bagus hanyalah sekolah islam, memang ada sekolah inpres yg mayoritas beragama kristen. Disekolah saya walaupun sekolah islam tetap menerima murid beragama kristen dan mereka diberi pilihan setiap pelajaran agama islam, memilih mereka mau keluar kelas atau diam dikelas untuk mendengar atau hanya sekedar tidur asal tidak mengganggu teman lainnya. Guru disana tidak bisa memberikan pelajaran agama kristen hanya bisa menyuruh untuk setiap minggu ke gereja bagi yg beragama kristen. Saat ujian juga mereka diberi soal ujian agama kristen dan diperiksa oleh guru yg ngajar di inpres. Ini pengalaman saya saat sd
    Di smp saya pernah ada yg mendaftar tetapi beragama kristen pihak sekolah hanya menyarankan untuk masuk ke sekolah kristen saja dan merekomendasikan sekolah kristen yg baru karena ternyata si pendaftar salah mengira sekolah trsebut ternyata sekolah khusus muslim karena sebelahan dengan gereja
    Kalau sma saya masuk sekolah umum. Mayoritas agama buddha. Disana cuma ada 3 agama, buddha kristen protestan dan islam. Yg selain agama tersebut hanya dapat memilih mau belajar agama apa. Jadi ada yg agama sikh (CMIIW/ agama dari india) mereka biasanya ambil kristen protestan. Teman-temannya juga toleran. Walaupun ada masalah di bahasa, karena kebanyakan turunan tionghoa berbahasa hokkien untuk percakapan diantara mereka. Saat puasa mereka tidak berani makan di dalam ruangan kelas/depan yg agama islam. Guru”nya juga. Kecuali guru pkn yg (maaf) beragama kristen protestan. Ntah karena apa saat bulan ramadhan dia sengaja minum depan kelas saat mengajar, padahal dia tahu didepannya ada siswa beragama muslim sedang berpuasa. Jadi teman-teman yg beragama kristen protestan yg sedikit gaenak kalo udah gitu. Tapi kalau masalah toleran tetep enakan berteman dengan yg beragama buddha / orang tionghoa. (Maaf bukan berarti yg beda sara gak enak)

    Jadi intinya, kita gabisa mengatakan minoritas mengkerdilkan diri, mayoritas sok berkuasa. Karena gak semuanya begitu. Kita juga tidak bisa mengatakan ke satu agama untuk bertoleransi sedangkan agama yg lainnya tidak. Wajar kalau mayoritas berhak atas kepentingan tapi tidak boleh lupa dengan kepentingan agama lain. Karena mayoritas wajib merangkul minoritas. Berbeda tempat berbeda cara. Gak menghina atau mengangkat isu sara, tidak tahu kenapa kalau orang di jawa agak sulit toleran ya, sama beda suku aja intoleran apalagi beda agama ๐Ÿ˜€

  13. setuju banget bang, kebetulan saya udah ngelakuin hal ini sejak 5 bulanan yang lalu di kelas yang saya ajar. Saya dari dulu ga suka banget klo pas lagi berdoa sebelum dan sesudah pelajaran dengan suara keras, seolah-olah hanya itulah cara kita berdoa.

    Setiap pagi dan siang saya selalu menekankan kepada anak didik agar berdoa di dalam hati sesuai dengan agama yang dianut. Awalnya memang banyak yang protes (termasuk beberapa orang tua murid). Tapi pembelajaran harus berlanjut. Karena selain tidak mencerminkan sikap toleren, berdoa dengan cara seperti itu seringkali dijadikan mainan oleh anak didik dengan cara berdoa dengan suara yang sangat keras (baca: teriak

  14. Sipp, emg nyatany kyk gtu,, gak ada yg namanya silent majority,, minoritas selalu saja tertindas, dan kita mestinya sadar ada hak orang lain yg kita rampas, sya suka indonesia yg seperti ini, warna warni, betapa indahnya sebuah keselarasan dalam perbedaan

  15. koreksi dikit sebelumnya saya salah tulis, mksudnya sd-smp sekolah says disekolah islam. haha
    dan saat saya sma kami berdoa atas kepercayaan masing-masing, tiap upacara doanya bergilir misalnya minggu pertama buddha, kedua kristen protestan dan ketiga islam lalu bergilir begitu. paling kalo upacara hari besar baru pasti doa agama islam padahal sekolah mayoritas buddha.
    begitu. semoga kita hidup bertoleransi ya. jangan hanya menyudutkan islam dalam pembahasan bertoleransi yang pasti. soalnya dalam agama islam kan ada untuk menghormati agama lain

  16. Gue mau sedikit membahas soal kalimat “yang minoritas merasa MINDER”. Menurut gue, kami yang minoritas bukan merasa minder/ rendah diri, tapi kami merasa “takut” menyuarakan kebutuhan kami. Karena saking seringnya malah dibully, akhirnya kami rendah diri dan pasrah saja. Ya seperti yang ditulis sama yang di atas gue, yang meminta pada guru untuk mencopot tulisan arab di depan kelas malah diberi pertanyaan yang membuat kami serba salah. Iya, kami bukan minder. Kami “takut” pada mayoritas, karena mayoritas tidak punya empati pada minoritas.

  17. Koreksi mas Panji, kalau Indonesia sudah negara islam, Indonesia pasti toleran sama agama lain. Islam itu agama yang toleran, sayangnya manusia yang menjalaninya yang gak sempurna sehingga rentan mengikuti hawa nafsu (egois) dan berbuat kesalahan. Terima kasih.

    1. Gk mas,kita ambil contoh aja ya
      coba bandingkan toleransi di Iran,jgn kan yg non muslim,muslim sunni aja trancam hdpnya disna
      coba liat praktek taliban di afganistan.Contoh plg dekat di aceh,sy punya sksi hdpnya,tmn sy lgsg,kerja di aceh,dia seorang kristen,tapi diwajibkan memakai jilbab.mlm natal tahun 2011,dia gk bisa ke gereja,hy ngerayain di kamar kost dgn lilin sbiji.bgaimana kalau anda diposisi dia??

  18. Haloo mas Panji. Saya muslim, tapi saya bukan pendukung berdirinya Negara Islam. Hanya saja disini, saya perlu meluruskan, bahwa dalam konsep negara islam, bukan berarti memaksakan agama islam untuk semua lho. Setau saya justru toleransi akan sangat diberlakukan. Di alquran sendiri sudah difirmankan, Surat Al-Kafirun. Untukmu Agamamu Untukku Agamaku. Jd dalam negara islampun, maupun di negara seperti Indonesia jni, jika yang muslim dalam prakteknya sesuai ajaran Rasulullah dan berpedoman pada Alquran, maka toleransi kepada non muslim itu malah sangat dijunjung.

  19. Iya mas panji . apalagi islam toleransi agamanya udah gk ada dua ny !!! Rasul kalo salam ada nonmuslim ny dia assalum’alaikum juga selamat siang

  20. Salam kenal,

    Saya ingin berbagi pengalaman… Sewaktu menjalani pendidikan dasar dan menengah, saya sekolah di SD – SMP – SMA swasta umum (ngga pake embel2 agama)

    Setiap pagi saat waktu sekolah dimulai, seluruh murid berdoa berdasarkan agama/kepercayaan masing-masing. Pelajaran agama diberikan pada hari Jumat. Setiap hari Jumat, selama 1 jam, seluruh murid mulai dari SD s/d SMA masuk ke kelas agama masing-masing. Sampai saat ini puluhan tahun kemudian, saya dan teman-teman merasakan hasil didikan sekolah yang berusaha memenuhi kebutuhan rohani anak-anak didiknya dan sekaligus mengajarkan toleransi beragama. Namun perlu diakui bahwa hanya sedikit sekolah yang mampu menyediakan kegiatan pengajaran tersebut di atas. Bagi sebagian (besar?) sekolah, masalah ketersediaan guru serta kemampuan finansial untuk menunjang kegiatan pengajaran seperti di atas adalah kenyataan.

  21. pada dasarnya Islam di Indonesia paling toleran terhadap agama minoritas yang ada di Indonesia.Islam di Indonesia tidak pernah memaksakan kehendak untuk mengislamkan non muslim karena sudah diatur dalm Alquran pada surat Al kafirun ayat 6 tentang kebebasan beragama.coba om Panji lihat bagaimana perihnya nasiib minoritas umat islam di berbagai belahan dunia seperti India,China,Myanmar yang dijadikan hidangan oleh penguasa politik bagi rakyatnya untuk menutupi keboborokan pemerintahan mereka,dan baru-baru ini di Jerman ribuan masa pendukung Patriotic Europeans Againts Islamization of the West (PEGIDA) melakukan demo menentang imigran-imigran muslim yang berkembang di negara mereka. Kita bukan negara islam jelas,tapi kita mayoritas.dimanapun yang namanya mayoritas pasti melakukan apa yang mereka anggap benar dan tidak memaksa kaum minoritas untuk melakukannya.saya punya pengalaman ketika istri saya melahirkan anak pertama di salah satu RS swasta yng dikelola salah satu agama di Indonesia setiap pagi kami disuguhi lagu puji-pujian dan saya tidak merasa terganggu karena RS tsb merupakan salah satu RS terbaik bagi saya dan saya mempunyai keyakinan akan agama saya sendiri.pada dasarnya manusia tidak akan pindah keyakinannya selama dia percaya dengan agama yang dianutnya akan memberikan keselamatan dunia dan akhirat.
    sangat disayangkan apabila persaudaraan kita retak hanya karena ada gosip tsb.padahal sudah banyak pemimpin-pemimpin kita menyapaikan salam pembuka dengan mengucapkan Assalamualaikum lalu salam sejahtera dan sudah ada penambahan om swastiastu. dan saya pernah dengar host pada acara motivasi di salah satu tv swasta mengucapkan puji Tuhan dan disertai alhamdulillah alangkah bagus ahlak host tersebut dalam toleransi beragama.
    memang benar bangsa Indonsia harus revolusi mental dan jangan lupa akhlak Ahlak manusia dalm beragama harus ditingkatkan. Agama apapun tanpa ahlak Nol Besar.

  22. Kalo menurut gw,lo juga ambil infonya setengah2..
    Gw tk,sd, khatolik.smp islam.smk negri..
    Menurut gw untuk negri sudah baik pengelolaan agamanya,jadi yg agama kristen,islam,budha ada guru pengajarnya masing2,
    Dan untuk doa,itu adalah Hak dan kewajiban kita sebagai seorang Muslim..Kunci Islam adalah persatuan!ayo dah sama2 kita buka kitab suci quran lagi..
    Bukanya sebelum berdoa kita sudah terbiasa berkata Berdoa menurut Agama dan Keyakinan masing2??
    Menurut gw mentrinya yg mestinya Survey dlu,jgan gara2 ada orang tua minoritas yg komplain langsung deh dibuat revisi,Emangnya Kita Kelinci Percobaan??

  23. ” Ketika pelajaran pertama mau
    dimulai, 1 orang anak diminta guru
    untuk memimpin doa secara Katolik.
    Saya tidak perlu berdiri & ikut. Saya
    dianjutkan untuk berdoa secara
    Islam.”

    trus lo ga ikut denger apa yg jd doa mereka? apa bedanya sama d sekolah biasa? mereka yg noni ga perlu ikut ngaji juga kan..

    kl cuma beberapa, kenapa yg harus diganti buat semua?

    sisi baiknya, lo ga ada ngomongin kejelekan agama lain (y). mirisnya, lo malah jadi oknum yang ngejelek-jelekin agama sendiri. selamat bergabung di klub oknum.

  24. Suka sm pemikirannya bang pandji. Secara umum sy setuju bang.
    Sedikit cerita dulu aja, sy muslim sejak lahir, dgn seluruh kelurga jg muslim, dan saat SD disekolahkan di SD katolik. Alasan orang tua sy adalah spy sy mendapat pendidikan disiplin yg baik (karna pendidikan disiplin di SD swasta ini lebih baik drpd SD negeri yg seringkali terlalu “longgar”). Di sekolah itu, seperti teman bang pandji yg harus belajar agama islam utk naik kelas, sy jg harus belajar agama katolik utk naik kelas. Sy harus mempelajari agama katolik, ikut berdoa dgn cara katolik setiap pagi-siang, menghapal doa2 katolik, membaca alkitab, bahkan sy jg harus ikut acara2 di gereja sekolah.
    Nah yg mau sy tekankan adalah, apakah selama 6 tahun sekolah di SD katolik, keislaman sy jd tergerus? Sama sekali TIDAK. Kenapa? Karena sy mendapat pendidikan agama islam yg kuat dr RUMAH, dr ORANG TUA. Orang tua sy sangat bisa memberi pengertian tentang perbedaan agama, dan sy justru merasa pendidikan agama yg lebih kuat sy dapatkan dr orang tua, bukan dr sekolah. Itulah kenapa agama islam sy tetap sy pegang teguh sampai saat ini, tidak terganggu pelajaran agama katolik yg sy dapat selama 6 tahun di SD.
    Justru, sy merasa dgn sy pernah bersekolah di sekolah katolik dan “dipaksa” utk belajar agama katolik, sy jd lebih punya toleransi terhadap perbedaan agama. Sy jd lebih bisa menghargai agama yg dipegang orang lain.
    Klo orang tua khawatir nanti anaknya jd “kurang islami” karna di sekolah tdk ada acara doa secara islam, ya ajarin dong anaknya soal islam di rumah! Pendidikan itu bukan cuma dr sekolah, justru yg paling penting adalah pendidikan dr rumah, dr orang tua. Jangan menyerahkan pendidikan anak sendiri ke orang lain, lalu misuh2 klo anaknya terdidik jd begini-begitu. Ya orangtua dong yg harus mendidik lebih dalam.
    Itu pendapat sy aja sih. Maaf klo ada yg tidak suka. Sy ga bermaksud menyindir siapapun/golongan manapun.

  25. Dear pandji,

    Sepengetahuan gw, kalo di sklh2 negeri pembacaan doa awal dan akhir tdk dilafalkan secara lantang tapi dibaca dlm hati dgn dipimpin ketua kelas, dgn ajakan sbb: “mari berdoa MENURUT AGAMA DAN KEPERCAYAAN MASING2”, stlh 1-2 menit dilnjt “berdoa selesai” lalu salam ke guru slmt pagi/siang/sore.
    Teknis doa utk sekolah swasta yg umum (bukan sklh berbasis agama) pun sama dgn yg negeri.

    Utk sklh2 swasta berbasis agama memang akan beda, sklh islam akan pakai cara islam, kristen pakai cara kristen dsbnya.
    Masalah org islam sklh di sklh kristen dan sblknya, otomatis tdk bs komplain mengenai tata cara berdoa sklh berbasis agama lain tsb.

    Jd mendikbud agak lebay melempar wacana yg ecek2 spt mslh doa ini, kalo ada yg blg anies test the water ya bisa juga.
    Jgn cuma berharap minoritas dihormati tanpa menghargai mayoritas.
    Jangan juga terjebak alasan humanisme dlm pendidikan/bernegara, Do you guys understand what humanism is?? Read your dictionary and find out!
    Thanks

  26. bang pandji…saya sd di muhammadiyah yg mayoritas islam…dan saya br menemui keragaman ketika jenjang smp dan sma…ketika doa pagi pun kita tak pakai teks khusus…hanya ucapan “berdoa sesuai ajaran agama masing2…mulai” sesederhana itu…ketika pelajaran agama pun yg diajarkan agama islam krn mayoritas muslim…tp yg non islam diberi kebebasan apakah ingin tinggal dlm kelas atau keluar kelas…krn utk yg non muslim akan ada sesi khusus dgn guru yg seagama di hr jumat (ketika yg muslim sholat jumat)
    so…saya heran dgn pak anies…utk apa wacana tsb? malah hanya memancing khalayak utk berkomentar…krn nyatanya…kehidupan beragama di sekolah2 umum sdh berjalan baik dan harmonis…
    oiya satu lg bang…apakah ga skalian saja teks pembukaan uud 1945 kita ganti? krn ada kata2 “atas berkat rahmat Allah yg maha kuasa…dst”?
    btw…gonzaga mantap…kagum dgn aspek toleransinya

  27. Klo pengalaman saya kebalikannya.
    Sejak TK sampai SD sekolah di sekolah Katolik. Tidak pernah ada toleransi utk agama saya. Saya tetap diajarkan berdo’a agama katolik : salam bunda maria, dll. Wajib ikut acara natal, paskah, dll. Bahkan misa di gereja sekolah….padahal saya muslim.

    Dan setahu saya ini praktek umum sekolah2 swasta katolik. Mungkin utk tingkat SMA sudah dibebaskan krn anak SMA sudah masuk remaja dan cara berpikir sudah terbentuk

    Jadi menurut saya, pengalaman anda hanya scuil utk dijadikan referensi

  28. Saya pun muslim dan saya setuju, Indonesia bukan negara Islam. Tapi mau share pengalaman saya yang pernah sempat kuliah di kampus Katolik, memang tidak ada pemaksaan, tapi di sisi lain agama itu termasuk mata kuliah dasar, dan gak ada mata kuliah agama islam, jadi saya belajar untuk memenuhi kredit saya. Saya belajar tapi tidak meyakininya, dari awal sudah tau aturannya begitu. Pagi selalu ada doa bersama dengan doa katolik tentunya. Lalu setiap ada misa, yang non muslim boleh tidak ikut. Jadi saya dukung pernyataan Pak Anies, dan semoga masalah mayorits dan minoritas (agama) ini bisa hidup berdampingan dan damai jadi satu, kita masih satu bangsa gitu loooh, kecuali ada yang mau sekalian pindah warga negara. Thanks tulisannya Pandji. TTD alumni 70 (kali aja Pandji iri) hehehe

  29. Sekarang saja masih ada SD yg mengharuskan non muslim belajar agama Islam,

    Anak saya Non Muslim yang saat ini Kls I SDN sekolah dipinggir kota jakarta daerah selatan, dari pertama masuk SD sudah ikut pelajaran agama Islam, Saya sudah komplain dan bilang ke gurunya bahwa anak saya non muslim, jadi gak usah ikut pelajaran agama islam, tapi gurunya bilang gak bisa, non muslim juga harus ikut pelajaran agama islam, karena peraturan sekarang mengharuskan semua murid ikut belajar agama islam dan nilai ujian semester juga dari agama islam, lalu saya tanya, bukankah nilai agama yang kristen diambil dari gereja? Gurunya jawab, itu dulu, sekarang semua nilai agama dari agama islam. Setelah dijawab seperti itu, saya bengong gak tau harus ngomong apa lagi, karena kalo saya ngotot saya takut anak saya di kucilkan dikucilkan di kelasnya, karena di kelas dia hanya dia satu-satunya non muslim. Tapi dalam hati saya bertanya, apakah ini peraturan dari sekolah, dinas pendidikan daerah setempat ataukah buah dari kurikulum 2013? Saya gak tau, yang jelas, waktu ujian tengah semester (UTS) kemarin, anak saya diharuskan ikut ujian agama islam dan hari terakhir ujian dia disuruh baca surat alpateha (maaf kalo ejaan alpatehanya salah) padahal anak saya sudah ikut ujian di sekolah minggunya, taunya nilai ujiannya gakberlaku. Sedih hatiku…

  30. Hal-hal yang sederhana namun mendasar seperti ini memang sebaiknya perlu diatur, dan perlu dipandang dengan kacamata yang jernih, jangan langsung dianggap agenda ini itu. Kalau memang nanti hasilnya menyimpang, tinggal kita ambil langkah berikutnya melalui wakil rakyat.

  31. Islam itu menghargai, mengerti dan mencintai. Kalau belum punya itu berarti belum muslim. Simpel sebenernya islam itu,di pelajari.. Dimengerti dan dilakukan.

  32. Indonesia kalau akur bakalan sulit ditaklukan sama penjajah kekayaan alam negeri ini, makannya negara ini dibuat terus kelahi biar nggak bisa bersatu, itu sih pendapat pribadi saja

  33. intinya adalah kita harus menghargai yang minoritas, coba bayangin kalo suatu saat salah satu dari yang mayoritas pindah ke sekolah lain dan dia jadi minoritas disana, disitu dia akan merasakan gimana rasanya jadi minoritas seperti apa yang dirasain sama yang jadi minoritas saat ini

    @wayne_United10

  34. ya.. orang islam disini bersikap begitu karena disini emg enak, mayoritas dan kebutuhan beragama bisa didapat hampir dimana saja. adzan bisa dikumandangkan tiap hari, kalo puasa ga perlu risih liat orang2 *malah yg ga puasa yg risih*, haji ada yg urusin, dll.. bisa dibilang menang jumlah. meskipun di sekolah diajarkan pelajaran agama islam, apa mereka benar2 paham tentang agama? bayangkan sodara2 kita yg tinggal di negara konflik timur tengah, sama-sama islam tapi hidupnya dihiasi perang. tapi ada juga yg saling menjaga saat saudaranya yg beda agama sedang beribadah. atau teman2 muslim yg hidup di negara nonmuslim. sesuai pengalaman saudara saya yg tinggal di negara nonmuslim, mereka belajar agama langsung dari pemuka agamanya atau benar2 belajar dari buku sehingga pemahaman mereka lebih kental. apalagi diluar negri islam dikaitkan dgn terorisme, mereka harus hati2 agar agamanya ga dianggap begitu.

    jadi ya saya setuju dgn pendapat mas pandji, yg perlu dibenahi adalah mentalnya. masih banyak org2 yg saling toleransi di indonesia ini, meskipun praktek dari instansi pemerintah mgkin masih memihak. ga ada salahnya kok saling menghargai, jaga nama baik agama biar ga dianggep arogan sama agama lain.

  35. saya cenderung setuju, tapi ada hal yang saya tak setuju,yaitu kata kata ini

    “Ada lagi yang memang mau agama
    Islam tetap diwajibkan kepada semua
    anak sekolah termasuk yang tidak
    beragama Islam. Yang ini juga bisa
    saya pahami keinginannyaโ€ฆ KALAU
    INDONESIA SUDAH JADI NEGARA
    ISLAM.”

    ini bukti kalo penulis blog ini meski muslim tapi tak mengerti islam, tulisan kapitalnya sangat salah, karena kalau ada negara Islam, tidak akan ada aturan, semua(termasuk non) harus (wajib) mempelajari agama islam.

    itu saja komentar saya

  36. Di daerah saya, siswa perempuan yg bersekolah di sekolah negeri yang beragama mayoritas wajib mengenakan kerudung, karena tergelitik bertanyalah saya bagaimana dengan siswa perempuan minoritas yg ingin bersekolah di sma negeri? Ya boleh2 saja dengan ketentuan hanya menggunakan seragam dengan baju berlengan panjang dan rok panjang, tidak wajib menggunakan kerudung.

    Tapi yang kemudian terjadi adalah bagaimana lingkungan sekolah menyikapi hal tersebut? Bagaimana pula perasaan anak perempuan minoritas yg menjadi pusat perhatian karena menggunakan seragam yg tidak sama dengan yg lain?
    Akibatnya siswa perempuan minoritas di daerah saya lebih memilih bersekolah di sekolah non minoritas dimana biasanya merupakan sekolah swasta sehingga tidak menerima bantuan bos sepenuhnya yg berakibat pd biaya sekolahnya bisa mencapai hingga ratusan ribu sementara itu anak mayoritas mendapatkan kemewahan untuk bisa memilih sekolah gratis di negeri dan sekolah swasta akan tetapi kemewahan tsb tdk bisa dirasakan oleh anak perempuan beragama minoritas di daerah saya.

    1. mbaknya tinggal di padang ya? saya pernah dengar yg semacam gini dari teman saya yg orang padang. tapi mgkin daerah lain ada juga yg kayak gitu

  37. setuju dengan tulisan bang Pandji, juga kepada sebgian besar teman2 yg sdh berkomentar…
    meskipun masi ada yg kurang sesuai, tapi saya melihat bahwa dgn hal ini kita mulai blajar menuju lebih baik. tidak perlu saling menghina, tapi saling membimbing. Perbedaan di dunia ini selalu ada, bukan untuk diSAMAkan tapi untuk diBERSAMAkan. spt semboyan kita “Bhineka Tunggal Ika”, yg berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. perbedaan tidak akan bisa disamakan tp bisa disatukan/dibersamakan…. klo blm paham, mungkin bisa melihat iklan slh satu produk mie instan yg ada di tv…
    Salam kebersamaan….

  38. Agree ndji.. agree..

    Pada akhirnya, anak-anak kita memang harus ditanamkan hakikah makhluk beragama secara utuh.
    alhamdulillah saya muslim, namun berasal dari keluarga yang multi kultural.

    Karena musuh utama adalah kebodohan, dan pembodohan, maka sebagai umat, kita wajib untuk cerdas berperilaku. Mengajarkan anak bertoleransi dengan mencontohkan secara benar, adalah salah satu upaya untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

    Thank you for writing ya ndji..

  39. Harusnya
    Yang Mayoritas Mengayomi Minoritas
    Yang Minoritas Menghormati Mayoritas…
    Gitu aj kok repot

  40. http://www.majalahberita.com/kontroversi/jadi-minoritas-teriak-toleransi-jadi-mayoritas-mengintimidasi/14633

    Lihat dulu fakta,setelah adanya pembakaran masjid di tolikara sekarang mau ulah lagi….mana namanya HAM?mana toleransi? Toleransi dan HAM menurut siapa??intoleransi menurut siapa?

    Di waktu saya sekolah (1990) SDN 3 Salatiga , 1 orang teman saya Hindu , 3 orang kristen (protestan/katolik),19 orang Islam .
    Pada saat jam pelajaran agama mereka keluar dan ditempatkan di perpustakaan untuk belajar agama masing2 (untuk yg kristen ada guru agamanya yang merangkap guru musik).
    Sewaktu SMP N 1 Salatiga, dan SMKN 1 semarang berlaku hal yg sama. Tidak pernah saya ketemu pemaksaan.
    Setahu saya setiap muslim tahu betul “bagimu agamamu,bagiku agamaku”.
    Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *