Intip Intip Tetangga

Mon, Dec 3, 2012

Uncategorized

MEMBANDINGKAN INDUSTRI FILM, BUKU, MUSIK DAN STAND-UP COMEDY

Kebetulan.. engga sih, bukan kebetulan tapi karena memang diniatkan, saya berkecimpung di 4 industri. Saya seorang Stand-Up Comedian, saya baru saja merampungkan tur keliling 15 kota (14 di Indonesia dan 1 lagi di Singapore) , juga merampungkan 2 buah stand-up special. Saya baru  saja meluncurkan album hiphop ke 4, saya juga sudah menulis 4 buku (3 bersama Bentang Pustaka: NASIONAL.IS.ME, Merdeka Dalam Bercanda, Berani Mengubah) dan baru baru ini saya akting dalam film Make Money produksi Bamboom films yang disutradarai Sean Monteiro.

Setiap industri memiliki banyak hal hal menarik berkaitan dengan bagaimana sebuah karya bisa memberi penghasilan yang cukup bahkan lebih untuk orang orang yang terlibat di dalamnya. Kalau pertanyaannya, seberapa banyak bisa memberi kita uang? Jawabannya beragam, Stand-Up Comedy sendiri industrinya belum betul betul jadi dan tidak bisa dibandingkan karena masih sangat muda, nilai uang yang bersirkulasi juga masih sangat kecil dibandingkan dengan musik , buku, dan film. Stand-Up Comedy secara industri besar di panggung dan terutama tur. Sementara tur Stand-Up di Indonesia masih belum menghasilkan pemasukan yang besar, bahkan ada yang tekor. Saya bisa dapat keuntungan adalah karena kerja sama saya dengan pihak pihak sponsor yang membiayai tur, itupun tidak besar. Komika internasional seperti Louis CK dan  Chris Rock adalah yang penghasilannya besar dari Stand-Up Comedy kalau dibandingkan dengan Seinfeld yang (sempat) besar dari sitcom, Ricky Gervais yang menulis dan memproduksi sitcom. Keempatnya juga  sama sama punya pemasukan dari film tapi adalah CK dan Rock yang benar benar berpenghasilan dari manggung kota ke kota dan juga membuat tur dari negara ke negara. Kurang lebihnya sama dengan musisi jaman sekarang yang lebih efektif dapat penghasilan dari tur. Perlu dicatat, musisi dengan pendapatan tertinggi pada tahun 2012 versi Forbes, urutan ke 2 sampai 5 adalah musisi yang tidak punya album rilisan terbaru: Roger Waters (Pink Floyd), Elton John, U2, Take That. Mereka semua dapat penghasilan besar besaran dari tur. Urutan pertama adalah Dr Dre dengan pemasukan tahun 2012 sebesar US$ 110 juta, dari bisnis BEATS-nya tapi ini adalah bahasan yang berbeda. Kita bahas belakangan.

Mari kita bandingkan industri buku, musik dan film. Bagaimana penghasilan mereka? Bagaimana kalau ingin bisa hidup dari karya?

Untuk penulis, royalti buku kurang lebih 10% tergantung penerbit. Naha kalau misalnya buku Rp 50.000 berarti sang penulis mendapatkan Rp 5000/ buku. Tampak sedikit? Tunggu dulu. Kalau misalnya seorang penulis ingin mendapatkan pemasukan sebanyak Rp 10.000.000 maka dia harus bisa menjual 2000 buku/ bulan

Sebagai gambaran, buku laku 1000-2000/bulan. Buku Best Seller di atas angka tersebut. Buku buku masak bisa mencapai sekitar 1000-2000 buku/ bulan. Buku remaja bisa lebih tinggi tapi shelf life alias umur buku bisa dipajang di rak pendek terkait dengan segmentasinya yang mengincar pasar anak muda. Belum lagi persaingan di buku remaja lebih banyak. Untuk bisa sukses, bukunya harus benar benar bagus. Kalau buku remajanya  laku keras, bisa dapat kira kira 3000 buku terjual/ bulan selama 3 bulan. Berarti 9000 selama 3 bulan dan itu berarti di bulan ke 4 sang penulis mendapatkan pemasukan kurang lebih Rp 45.000.000,- .

Umur buku remaja biasanya sekitar 6 bulan. Setelah itu penjualan akan menurun hingga habis, tapi menurut Raditya Dika tren umur buku remaja kini terlihat turun jadi 3 bulan. Berarti kalau si penulis ingin dapat pemasukan lagi, setelah misalnya 45 juta rupiah  tadi, maka di bulan ke 4 atau 5 dia harus siap naskah buku lagi. Strateginya adalah memastikan mengeluarkan 1 buku / 6 bulan. Tapi ini tidak sering kita temui. Biasanya revenue stream alias pemasukan seorang penulis bukan hanya dari bukunya, tapi dari menjadi pembicara di banyak tempat seperti sekolah sekolah untuk buku remaja, seminar untuk buku bisnis, dll.

Seperti film dan musik, buku juga punya perhitungan penjualan minggu pertama, tapi agak lebih berat karena dalam hal persaingan rak, sebulan ada 100 buku baru. Ribuan bersaing rak yang sama, kalau buku tersebut performa penjualannya buruk maka bukunya ditarik. Ini bisa dipahami karena seperti toko CD dan juga pengelola bioskop, kalau karya tidak laku dibiarkan terpajang dia akan kehilangan potensi pemasukan. Lebih baik dia geser karya tidak laku ini dengan karya lain.

Bedanya dengan bioskop, buku buku Indonesia persaingannya antar sesama penulis Indonesia. Sementara film Indonesia, bersaing dengan film asing. Sebuah pertarungan yang berat dan cenderung tidak adil mengingat besaran industi dan besarnya investasi yang dituangkan dalam film asing dan film Indonesia. Ini kalau film Indonesianya tayang di bioskop yang juga menayangkan film asing seperti XXI. Kalau biskop di PASAR SENEN tentu tidak akan ada kondisi yang sama karena hanya memainkan film Indonesia dan hanya mengincar kalangan masyarakat kelas bawah. Namun bayangkan kalau sebuah film Indonesia tayang di bioskop bioskop Indonesia di bulan Juni. Bulan Summer Blockbuster Movies yang biasanya jadi bulan produser film Amerika Serikat merilis film film handal, atau Desember di mana Holywood banyak rilis film film bertema Natal. Yang terjadi adalah film Indonesia kena terpaan tsunami film asing. Sebagaimana ketika Sky Fall, The Avengers, Breaking Dawn, Transformers, dll langsung mengisi 5-6 teater dalam 1 bioskop, seringkali menggeser film Indonesia yang sedang tayang.

Inilah alasan mengapa film “Make Money” mengincar bulan Maret untuk tayang karena jaraknya cukup aman dari Desember dan Juni. Syaiful Wathan sang produser Make Money yang sudah memproduseri banyak film sukses termasuk Negeri 5 Menara, bercerita di jeda shooting Make Money bahwa film film Indonesia banyak yang… make money. Alias menghasilkan uang.  Bahkan menurutnya dari film film yang sudah dia produseri, hanya ada 1 film yang tidak menghasilkan uang dan itu berkaitan dengan tanggal rilis film. Film tersebut mengincar anak sekolahan dan sudah “booking” tanggal untuk rilis di Juni ketika liburan sekolah. Sialnya, tahun tersebut liburan sekolah diundur ke Juli. Bukan hanya target mereka belum libur, target pasar mereka justru masih ujian.

Di film, untuk mendapatkan pemasukan, mereka mengukur dan biaya produksi dibandingkan dengan potensi pemasukan mengingat segmentasi yang diincar atau berkaitan dengan nama sutradara dan pemain yang terlibat. Ada 2 tipe film pada intinya kalau dilihat dari sisi biaya produksi. Ada yang di bawah 5M ada yang di atas 5M. Tipe tipe film di bawah 5M adalah semacam Make Money. Yang di atas 5M misalnya Negeri 5 Menara dengan lokasi luar negeri, dll. Kalau kita bicara film film 5M, misi utama mereka, adalah harus menekan agar biaya produksi tetap di bawah 5M dan mengincar 715.000 tiket terjual. Dengan asumsi filmnya tanpa sponsor dan dengan mengingat pihak XXI misalnya sebagai pengelola bioskop memberikan pemasukan sebesar RP 7000/ tiket. Kecil ya ternyata. Pemasukan film bisa jadi semakin besar kalau hak tayangnya di beli stasiun TV. Angkanya bisa sangat signifikan untuk menambah pemasukan. Untuk sejauh ini, DVD belum memberikan pemasukan yang berarti. Kalau penjualan tiket masih di kisaran angka tadi yaitu 715-720.000, filmnya akan aman. Biasanya. Tahun 2012, menurut Syaipul Wathan adalah tahun yang berat untuk industri film.

Ada masanya, orang Indonesia yang menonton film Indonesia bisa sampai antara 1jt- 500.000 tiket terjual, thn ini 2012, kisarannya antara 200.000-300.000 tiket.Ketika ditanya alasannya, jawaban Syaiful adalah terlalu banyak film yg kualitasnya turun sementara konsumen semakin pintar. Kualitas film utamanya tidak bisa dinilai dari banyaknya uang yang menjadi modal tapi dari ide, penggarapan, dan lain lain. Editing misalnya memainkan peranan penting. Pengambilan gambar dan cerita bagus tapi kalau buruk di editing hasil akhirnya bisa jadi buruk. Yang menonton bisa tidak paham jalan cerita, logikanya berantakan, penonton bingung karena kadang karakter A lebih kuat kadan B lebih dominan. Ketika di satu adegan harusnya secara cerita yang “maju” adalah karakter B tapi karena editing yang kurang baik akhirnya karakter A yang “maju” dll. Karenanya film yang dipikirkan dengan baik tidak bisa terlalu terburu buru.

Indonesia, memiliki pembuat Trailer yang hebat, dan memang untuk memancing penonton trailer Indonesia sangat sukses. Tapi kalau kualitas film tidak dijaga, ketika ke luar bioskop kabar yang tersebar akan buruk, “Sialan diboongin trailer gue…”.

Kembali membahas pemasukan film, bayangkan kondisi jumlah penonton film jaman sekarang (200.000-300.000 tiket terjual), bayangkan target mereka (lebih dari 700.000 tiket terjual) dan bayangkan fakta bahwa film film Indonesia yang terbaikpun biasanya hanya punya waktu 3 minggu untuk berada di bioskop , tentu dengan mengingat tidak ada tsunami film hollywood. Ini artinya, sebuah film setiap harinya harus meraih kurang lebih 36.000 tiket terjual / hari supaya bisa mendapatkan 750.000 tiket dalam 3 minggu. Belum lagi masalah berikutnya, penghitungan tiket terjual di Indonesia masih dilakukan secara manual. XXI sebagai pengelola, membayar agen untuk melakukan penghitungan di bioskop bioskop Indonesia terkait dengan film yang lagi tayang. Adalah pemandangan umum orang dari rumah produksi film mengirim utusan untuk nongkrong dan mengawasi penghitungan pihak XXI. Itu juga angkanya tidak bisa benar benar dipastikan. Misalnya film Make Money di kota bandung hari ini yang nonton 150 orang, di semarang 405 orang, benar benar tahu kepastian angkanya demikian dari mana kalau perhitungannya dilakukan manual dan laporan masuk tiap malam? Rumah produksi hanya bisa percaya dan pasrah. Sementara di luar negeri perhitungannya bisa secara digital dan online. Serba susah memang bekerja sama dengan pihak “toko” seperti bioskop, toko buku dan toko CD. Pihak bioskop mendapatkan lebih dari 50% harga tiket, dengan memberikan RP 7000 dari setiap tiket kepada rumah produksi film. Toko buku minta 55% dari profit / buku. Artinya dari buku seharga Rp 50.000, Rp28.000 sudah jadi milik toko buku. Beberapa toko CD besar biasanya meminta 35%. Angka angka besar ini, biasanya karena monopoli atau karena merasa punya bargaining position yang tinggi. Untuk film dan buku mungkin benar, untuk CD tidak lama lagi tidak akan demikian.

Kembali ke pekerjaan pengawas perhitungan tiket film, di dunia buku dan musik, ada lagi pekerjaan serupa. Biasanya disebut Checker. Checker kerjanya mengamati, mengawasi produk produk yang mereka wakili agar mendapatkan posisi yang strategis di rak rak toko buku. Sesama checker dari klie yang berbeda akan bersaing untuk memastikan buku mereka ada di rak paling bagus. Bahkan kadang ada nego dengan pemilik toko dan bisa sampai dijamu makan malam. Beberapa toko toko buku, ada divisi pembelian, yang bertugas untuk membeli buku buku untuk dipajang di toko mereka. Kalau toko buku ini tidak yakin buku anda akan laku, dia tidak akan membeli banyak untuk dipajang dan distok di toko buku mereka.

Ada perbedaan menarik dari industi film dengan buku dan CD.  Perbedaannya adalah, industrinya belum mengalami perubahan signifikan. Film Indonesia masih belum mengandalkan DVD, pemasukan utamanya dari jumlah penonton di bioskop, karenanya industri produksinya tidak ada perubahan signifikan. Walaupun film film asing sudah jadi sasaran pembajakan dan film film banyak bisa kita unduh secara ilegal di internet, tapi untuk film Indonesia, DVD bukanlah sumber pemasukan utama. CD dan buku sementara itu mulai terkena imbas digitalisasi dan internet dan yang terbajak, adalah sumber pemasukan utama.

Industri buku cetak dunia turun 3-5% per tahun dan perkiran Raditya Dika yang bukan hanya penulis tapi juga Komisaris Penerbitan buku pop “Bukune” dan juga merangkap redaktur khusus, dalam  10-15 tahun industri penerbitan akan mulai mati, artinya ada yang akan berangsur angsur tutup.  Karenanya akan banyak penerbit yang mulai berancang-ancang menyediakan jasa, termasuk misalnya jadi agen. Agen naskah kerjanya mencari penulis utk tipe naskah tertentu. Agen juga bisa membantu menyediakan editor berkualitas dan editor sebagaimana pada film, memegang peranan yang sangat penting. Inilah yang membuat penulis susah untuk bisa 100% independen karena walaupun si penulis adalah juga editor, subjektifitasnya terhadap karyanya sendiri pasti sangat tinggi. Dibutuhkan editor lain untuk membantu menjamin karyanya jadi sebuah karya terbaik. Kurang lebihnya kondisi sama akan terjadi pada industri musik.

Saat ini, perubahan sudah mulai terjadi, tapi tentunya tidak akan besar besaran dalam waktu dekat. Terlalu besar investasi yang dikeluarkan major label untuk kemudian ditinggal begitu saja menjadi digital. Perlahan tapi nyata, major label mulai bermain digital. Tapi mereka masih mengutamakan pemasukan dari metoda konvensional. Harus diakui secara umum penjualan CD menurun, menurut Ernest Prakasa yang lama sempat di Sony BMG, standar internasional utk platinum dulu adalah 50.000 dan Gold 25.000 kopi terjual.  Sekarang Gold 5000 kopi. Jauh sekali penurunannya. Kalau tidak diiturunkan, akan sangat sedikit musisi yang bisa mendapatkan gelar Platinum atau Gold padahal secara pemasaran predikat ini membantu penjualan masuk ke kalangan Late Majority. Pemasukan musisi sendiri untuk penyanyi 10-15% dan penulis lagu copyright-nya sekitar 8-9% . Memang jaman sekarang tidak seberapa pemasukan uang dari fisik. Dulu Peterpan dan Samson bisa menjual jutaan kopi, tapi nampaknya era itu sudah berlalu dan kalaupun bisa diraih, bukan oleh musisi pada umumnya dan bukan dengan metoda pada umumnya. Contohnya, masih ada harapan untuk bisa menjual album fisik dalam jumlah tinggi, salah satunya yang umum kita lihat adalah bundling seperti yang dilakukan di KFC.

Kisah KFC jualan CD ini sebenarnya mudah untuk dipahami. KFC butuh added value untuk menjadikan dirinya bukan hanya sekedar fastfood yang jualan ayam. KFC harus lebih relevan dengan anak muda dan jadi sahabat bagi mereka. Pada awalnya, kita menemukan nama nama baru memiliki kesempatan untuk bisa punya video klip, bisa rekaman dan bisa punya album fisik. Tentu ada kerjasama beriklan yang dilakukan oleh musisi tapi itu adalah hal yang wajar karena musisi dibantu banyak. Hasilnya, KFC punya konten untuk ditayangkan di setiap gerai dan punya citra positif di kalangan banyak anak muda. Ada banyak musisi yang mendapatkan angin dari KFC, salah satunya Juliette dan BEAGE. Prinsip dasar pemasaranpun berlaku, yang bagus adalah yang terkenal. Walau banyak band band yang dibantu KFC, tapi ujung ujungnya kualitas musik yang menentukan rentang karir. Juliette sejak awal terasa nyata punya lagu lagu yang bagus dengan personil yang kuat secara musikalitas. Ketika Indah Dewi Pertiwi mendapatkan angka penjualan fantastis, mulailah kita melihat banyak musisi besar ikut jualan albumnya di KFC. Ahmad Dhani, Agnes Monica, juga Slank. Mengapa ini terjadi?

Sederhana, bagi KFC ada Agnes Monica menjual albumnya lewat mereka adalah kehormatan. Bagi label (bukan bagi musisi) KFC jadi alternatif yang lebih baik dari toko CD untuk distribusi album yang mereka produksi. Jumlah gerainya lebih banyak, dan kerjasamanya baru sama sekali. Tidak perlu lagi ada checker, tidak perlu lagi kuatir shelf life dan bahkan untuk beberapa musisi, CD sudah dipaketkan dalam makanan artinya, sudah terbeli sebelum sampai ke tangan konsumen (ada penjualan CD yang terpisah sehingga kita ditanya mau dengan CD musisi tertentu atau tidak, dan ada yang sudah dipaketkan dalam menu yang kita pesan) Tentu bagi label ini seperti jalan tembus di belantara digital. Ada cara untuk memastikan mereka masih bisa menjual produk produk fisik mereka dan menghindari kerugian besar.

Jaman sekarang tapi , Publisher dan label mulai mengincar captive market. Walau jumlahnya tidak besar, tapi akan ada pasar yang mengkonsumsi karena kesetiaan. Inilah mengapa menurut pengamatan Ernest Prakasa, kalau ada selebtwit biasanya penerbit langsung menawarkan kerjasama penulisan buku karena berapapun jumlahnya tetap akan ada yang membeli. Hal yang sama terjadi pada musisi musisi Indonesia, yang sudah kelihatan punya fanbase kuat, biasanya akan mudah dapat kerjasama album.

Modus jualannya jaman sekarang menarik, kalau ada yang lagi ngetrend di permukaan atau istilahnya Radit “Buih-buih”, biasanya akan sesegera mungkin dimanfaatkan. Penerbit dan label punya karya karya “tembakan” alias mirip mirip dengan yang lagi ngetrend untuk mengincar pemasukan buih buih dipermukaan walaupun tak akan lama sebagaimana buih dan trend, sementara akar pemasukannya tetap dari penulis/musisi utama dalam repertoire mereka.

Itulah tadi, wawasan yang kita dapatkan dari membandingkan sejumlah industri, wawasan yang saya dapat dari intip intip tetangga


4 Responses to “Intip Intip Tetangga”

  1. Fiscus Wannabe Says:

    Tentang rentang waktu pemajangan buku di rak-rak toko buku, “katanya” itu juga masih dimonopoli sama penerbit buku yang satu grup perusahaan sama toko biki.

    Reply

  2. @imaginaryJoe Says:

    …standar internasional utk platinum dulu adalah 50.000 dan Gold 25.000 kopi terjual. Sekarang Gold 5000 kopi…. (platinum 10000)

    gile! jauh amat turunnya….
    udah gw bandingin dengan data dari negara lain, kayaknya Indonesia yang paling parah koreksinya.

    *tambahan dari sumber yang (gw yakin) sama dengan yang koh Ernest ambil*
    ~Indonesia: has separate levels for digital albums – 100,000 for Gold & 200,000 for Platinum (international)
    Padahal album mancanegara (terlebih kalo artisnya tenar banget di sana tapi kurang dikenal di sini) malah lebih dicari free download-nya.
    Orang lebih kenal 4shared ketimbang iTunes.
    Kalo ntar ngitungnya di digital, kayaknya lebih mustahil ngasih Gold apalagi platinum buat Anggun sekalipun :(
    Mas Pandji punya data terbaru tentang berapa banyak unduhan ilegal yang bisa memancing penjualan 1 album ori?

    Reply

  3. Isra Says:

    Bagus tulisannya mas.

    Mksh :)

    Reply

  4. ririn Says:

    serius baca ini gua sampe itung pake kalkulatooorrr,,,ngeneeesss..

    Reply

Leave a Reply


× one = 5