Kapan Pulang?

Kalau anda pernah baca buku NASIONAL.IS.ME, maka anda pasti pernah dengar cerita tentang pasangan muda yang meminjam uang saya untuk jadi modal tinggal di Amerika. Kalau belum, baca dulu sana karena ceritanya panjang dan kalau saya ceritakan ulang di sini, maka blog post ini akan jadi hal yang berbeda dengan niat awalnya.

Intinya, kejadian itu meninggalkan rasa penasaran di benak saya. “Salahnya Indonesia apa?”

Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Banyak salahnya, tentunya.

Tapi pertanyaan ini sejak lama ingin saya tanyakan kepada orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar negeri sehingga enggan balik. Apa yang membuat mereka enggan pulang ke Tanah Air padahal di negeri seberang mereka adalah minoritas, mereka pendatang, tentu mereka mengalami semacam tekanan. Kenapa mereka tidak mau pulang?

KAPAN PULANG adalah konten di akun vidio saya yang isinya adalah saya berbincang dengan banyak orang di luar negeri tentang kenapa mereka tidak mau pulang, dan kalaupun pulang, kapan.

Sejauh ini, jawaban jawabannya merupakan tamparan untuk saya yang sedang berjuang bersama anda dan yang lainnya untuk mengubah Indonesia jadi lebih baik. Hal hal sederhana hingga hal hal kompleks muncul sebagai jawaban mengapa mereka enggan pulang.

Salah satunya ketika saya berbincang dengan Citra, seorang pelajar di Frankfurt yang bilang bahwa semuanya serba tepat waktu dan jelas. Termasuk transportasi umum sehingga dia bisa mengukur waktu dan merencanakan apa yang dia mau lakukan dengan harinya. Sementara di Jakarta, terlalu banyak faktor X yang bisa membuat runyam rencana. Dan kalau anda punya pekerjaan atau peran yang penting, maka runyamnya rencana anda bisa buat berantakan hidup banyak orang.

Sejalan dengan kawan saya Gandhi di Beijing yang cerita bahwa untuk dia,  1 hari di Beijing bisa lebih produktif dari pada 1 hari di Jakarta. Dia bilang tidak pernah capek tinggal di Beijing, salah satu kota terpadat di dunia yang berada di negara dengan penduduk terbanyak di dunia, sementara di Jakarta setiap malam dia bisa begitu lelah dan mengeluh banyak yang tidak sempat diselesaikan.

Beda lagi jawabannya dengan Irma di Berlin yang bilang, tinggal di Jerman malah lebih membuat dia merasa diterima menjadi diri sendiri dari pada tinggal di Indonesia. Bayangkan. Tinggal di negeri orang malah lebih bisa jadi diri sendiri daripada tinggal di negeri sendiri. Karena menurutnya di Indonesia banyak orang merasa lebih benar dan dengan itu merasa punya hak untuk mengkritik yang salah. Dan dia jengah dengan itu.

Semakin banyak orang yang saya wawancara untuk KAPAN PULANG, semakin saya tahu apa yang bangsa Indonesia rindukan. Rencananya sepanjang Juru Bicara World Tour saya akan terus membuat vidio ini, yang berarti saya akan terus bertemu dengan orang Indonesia di luar negeri dan bertanya “Kapan pulang?”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*