Sebuah tulisan oleh Koes Pratomo Wongsoyudo. The man that started it all.

RASA SAYANGE, is not just a song .

Perlakuan yang tidak menyenangkan oleh Malaysia terhadap Indonesia secara beruntun, memaksa kita memperbandingkan . kedua bangsa ini..Sebab tidak heran kalau hal-hal yang dirasakan oleh orang Indonesia sangat mengusik sanubari , oleh orang Malaysia tidak dimengerti sebagai sebuah kesalahan ataupun dosa.
Perbedaan tingkat budaya antara dua pihak, hanya dirasakan oleh yang lebih tinggi..

Ketika masyarakat Indonesia meributkan pembajakan lagu Rasa Sayange , oleh Malaysia
seorang Menteri Malaysia berkata di media :
“ Saya ingin tahu hukum apa yang akan memenangkan pihak Indonesia, atas claim-nya
pada lagu itu “.
Tentu kata-katanya itu memberi beberapa arti kepada kita.
Disatu sisi dia mengakui bahwa lagu itu bukan miliknya , tetapi dia juga meyakini bahwa hukum tidak bisa mengejarnya..
Artinya dia membenarkan kelakuannya , karena tidak akan terkejar hukum..Bukan karena hak .

Belum lama ini juga ada seorang wasit karate Indonesia, yang di aniaya oleh polisi Malaysia.. Kebetulan sekali Menteri Luar Negeri Malaysia dijadwalkan akan bertemu dengan Bapak Presiden kita. .Maka kita patut memeperkirakan akan adanya rasa sesal dan permintaan ma`af kepada masyarakat Indonesia , oleh bapak menteri yang sedang berkunjung itu.
Tidak , Menlu Malaysia itu bahkan berbicara dimuka pers Indonesia, tidak melihat alasan baginya ataupun Malaysia untuk meminta ma`af..
Atas perkataan Menlu Malaysia itu, presiden SBY memberi komentar, dihadapan pers juga :
“ Saya tidak bisa memaksakan pihak Malaysia untuk meminta ma`af. Sebab kebiasaan
meminta ma`af untuk sebuah kesalahan, sangat terkait dengan watak , perilaku, serta
standard kesopanan seseorang ataupun kelompok “
Untuk ukuran kita , dari pada menerima kata-kata SBY itu, kita memilih ditampar saja.
Kata-kata semacam itu terlalu keras untuk ukuran budaya kita . Entah di Malaysia.
Tapi entah mengapa juga , akhirnya pemerintah Malaysia menyatakan ma`af dan penyesalannya juga atas peristiwa itu.

Namun begitu, baru-baru ini terjadi juga hal-hal yang menyinggung perasaan kita.
Seorang istri diplomat kita ,diseret kekantor polisi meskipun sudah menunjukkan Identity Card yang dibuat oleh pemerintah Malaysia sendiri. baginya..
Ricuh atss hal ini sekarangpun belum selesai.

Masih banyak cerita yang lain.
Sekian banyak TKW asal Indonesia di Malaysia , yang dianiaya di Malaysia. Yang loncat dari jendela , babak belur kena pukulan dan disetrika. , gila dan mati.
Mengapa ?
Bagaimana sebenarnya orang Malaysia itu ?
Sebenarnya bangsa dan Negara Malaysia hanya merdeka secara administrative saja…
Ketika penjajah Inggris memberi kemerdekaan kepada Malaysia , mereka bingung mencari lagu kebangsaan Malaysia.
Maka diputuskanlah lagu Terang Bulan , yang kita kenal di Indonesia secara luas sebagai lagu rakyat, menjadi lagu kebangsaan mereka. Hanya saja liriknya diganti dengan kata-kata yang sesuai dengan arti kebangsaan.
Bandingkan dengan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya , yang tercipta ditengah-tengah kancah perjuangan merebut kemerdekaan..Lagu Indonesia Raya sangat angker dan berwibawa. Bagi yang mendengarnya mampu menggugah semangast yang luar biasa.
Dan lagu Indonesia Raya tidak berdiri sendiri.
Bersamanya banyak lagu-lagu perjuangan yang lain.. Sebut saja lagu-lagu Sorak-Sorak Bergembira, Hari Merdeka , Maju Tak Gentar, Halo-Halo Bandung , Gugur Bunga , Sepasang Mata Bola,Melati Di Tapal Batas , Butet dan lain-lainnya.

Romantika perjuangan itu tidak dikenal oleh orang Malaysia.
Orang Malaysia , tidak tahu bagaimana rasanya memperjuangakan kemerdekaan.
Orang Indonesia mempunyai kenangan penuh kepada perjuangan melalui lagu-lagu yang lahir dimasa itu dan monumen2 perjuangan yang terserak dimana-mana.
Bahkan mungkin orang-orang disana tidak mengerti makna kemerdekaan yang sebenarnya. Karena selain perubahan secara administrative, selebihnya tidak ada yang berubah.
Walaupun orang Melayu di Malaysia mendapatkan banyak previlage yang diatur undang-undangnya, derajat mereka masih lebih rendah dari para Masale {sebutan untuk orang bule di Malaysia dan Singapura}, China dan India .
Orang Malaysia yang hanya tahu berbahasa Melayu, tak akan mungkin bisa naik kejenjang tinggi dalam kariernya.. Mereka harus bisa berbahasa Inggris.
Tapi China yang hanya bisa berbahasa China, bisa hidup senang disana karena China Malaysia menguasai sendi-sendi kehidupan ..

Bahasa Melayu tidak bebas dan hanya memakai kaidah tata-bahasa Melayu , tapi sangat dikuasai oleh pengaruh Inggris.dan China.
Kata-kata yang di Indonesia bermakna” kapan saja” , mereka mengatakan “bile-bile mase.”
Ini karena orang Inggris mengatakan “ Any time.”
Yang kita katakan dengan “yang mana” , mereka mengatakan “ yang mana satu”, karena dalam bahasa Inggris dikatakan “ which one.”
Cara bertutur kata ini mirip dengan orang kita yang ke-Belanda-Belanda-an dulu.
Mereka mengucapkan “Mahelang”, untuk menyebutkan” Magelang” , dan mengatakan “Tehal” untuk menyebutkan “ Tegal”. Persis seperti cara orang Belanda.berbicara..
Tidak hanya itu. Banyak sekali orang-orang China Malaysia yang tidak bisa berbahasa Melayu. Karena merasa tidak perlu.
Kolega saya Chan Yap Peng ,mechanical engineer dan executive sebuah perusahaan terkemuka, setiap kali harus pergi kekantor-kantor pemerintahan Malaysia selalu membawa sekretarisnya, karena untuk mengisi formilir saja dia tidak mampu..Kebangsaan dan kewarga-negaraan Malayssia Chan Yap Peng hanya administrative saja sifatnya..
Hal ini pernah saya diskusikan.
Ketika itu saya duduk dilobby hotel Hilton Jaklarata yang sekarang bernama hotel Sultan.
Hari sekitar jam delapan malam .
Orang berseliweran bule , China dan orang Indonesia. Kebanyakan berbaju batik.
Saya duduk disana bersama FF. Wong, teman saya China Malaysia..
Kepada karib saya itu saya bisa berkata-kata dengan bebas.
“Wong, menurut ukuran kami di Indonesia, kalian China Malaysia kurang ajar “
“Bagaimana itu ? “, tanya Wong .
“Kalian mengaku berkebangsaan Malaysia, tapi tak berkeinginan belajar bahasa
Melayu . Pada hal lahirpun disana juga. “
Jawaban Wong cukup mengherankan :
“ Begini , di Malaysia berbeda dengan disini, di Indonesia. Lihat saja itu, semua orang-, tak terkecuali orang – asingpun rata-rata berbaju batik. Karena memang bagus. Artinya banyak kebudayaan yang pantas dipelajari disini. Di Malaysia kau suruh aku belajar apa ? Ronggeng ?Bahasa Indonesia juga “more cultered”. Menarik untuk di pelajari “

Orang-orang Melayu memang dianggap rendah disana.
Kemerdekaan tidak bisa mengangkat derajatnya.
Dan masih ada lagi yang aneh.
Orang Melayu Singapura merasa “lebih sebangsa” dengan orang Melayu dari Malaysia , dibandingkan dengan orang China dan India sesama warga Singapura..Begitu juga sebaliknya..
Bangsa dan Negara Malaysia memang ada, hanya secara administrative saja.

Dengan pengertian itu, kita jadi lebih menghargai lagu “Indonesia Raya “, yang tidak dikarang sekedar untuk menjadi lagu kebangsaan. Dia hadir dalam gemuruhnya gelombang perjuangan rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan.

Maka kembali kepada lagu “Rasa Sayange “. Sama juga, it is not just a song.
Sebagai lagu rakyat atau folk-song , dia tidak lahir sendiri saja.
Bersamanya lahir banyak lagu, ,seperti Hela-Hela Rotane , Rame-Rame Pata Cengke, Hohate ,Goro-Gorone,dan masih banyak yang lain ,semuanya dengan persamaan jiwa dan karakternya…
Dan karena “FOLK SONG” , dia menampilkan ciri dan karakter rakyat Maluku, tempat lagu itu lahir..Watak, pembawaan dan keadaan alam dari sebuah bangsa atau suku bangsa, tampil dalam karakter setiap lagu rakyat atau folk-song itu.

Para ahli musik, bisa menjelaskan beda dan ciri masing-masing lagu-lagu rakyat Batak ,Minang, Timor, Sulawesi Selatan dan Minahasa., bahkan lagu-lagu rakyat Sepanyol,Hongaria dan Irlandia juga..
Beda-beda masing-masing “folk song”, dengan penjelasan mengenai latar belakang dan pijakan budayanya.,termasuk watak rakyat tempat lagu itu lahir….

Terlukiskan juga beda rakyat yang sudah merdeka dengan yang belum.
Ini juga kesempatan untuk menjelaskan , merdeka bukanlah hanya makan dan berbaju bagus.
Jiwa merdeka yang ada dalam tubuh kita ,belum dipunyai oleh orang Malaysia.
Kita beruntung, jauh lebih maju.
Kita juga tahu dan bisa memahami, adanya mereka yang terkejut.
Karena selama ini menganggap Malaysia lebih maju.
Malaysia secara administrative memang merdeka. Tapi jiwanya yang merdeka, masih harus diperjuangkan.
Makna “lagu kebangsaan “ dan lagu rakyat atau “folk song” saja, belum bisa dimengerti.
Belum tahu bahwa disana, dalam lagu itu ada “roh”, yang hanya milik bangsa itu.

Mereka , orang Malaysia belum mengerti bahwa RASA SAYANGE is not just a song.

* * *

Jakarta medio Oktober `07

Koes Pratomo Wongsoyudo

Tentang penulis :

Koes Pratomo Wongsoyudo , diantarkan proffesinya , hidup di Singapura th 1973-1984
dan berkali-kali berkunjung ke Malaysia..
Sekarang bermukim di Jakarta..

Alamat sementara ini : jl. Otista III / complex I no. 20 , Jakarta-Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*