Makasih Anies

Saya baru selesai menyelenggarakan Bhinneka Tunggal Tawa. Stand-Up Special pertama saya di bulan Desember tahun 2011. Lalu saya dapat corporate gig untuk stand-up di sebuah perusahaan di Balikpapan.

Harga gak ditawar. Tiket kelas bisnis. Garuda Indonesia. Goks.

Sampai di sana, saya Stand-Up. Masih bawain bit bit receh macam “Kenapa kucing kalau diusir harus brenti dulu dan nengok seakan memastikan dia memang diusir”. Juga bit “Rumah Kemalingan”. Bit bit jaman itu lah.

Di depan di antara penonton, ada seseorang yang wajahnya saya kenal, tapi nama agak lupa.

Orang tersebut ternyata juga mengisi acara yang sama. Setelah saya, dia memberikan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di Indonesia dan apa yang kita sama sama bisa lakukan.

Namanya, Anies Baswedan.

Pemaparannya mengenai pendidikan Indonesia, membongkar cara pandang saya. Biasanya, abis stand-up saya selalu pergi, cari makan atau balik ke hotel kalau dikasih kamar. Tapi saat itu, Mas Anies membahas mengenai cara pandang kebanyakan orang Indonesia yang fokusnya lebih kepada sumber daya alam ketimbang sumber daya manusia.

Menurut beliau, fokus pada sumber daya alam, itu cara berpikirnya penjajah yang membiarkan sumber daya manusia kita seadanya karena toh mau dijadiin kacung, sementara sumber kekayaan alam mereka manfaatkan untuk dibawa ke kampung halaman mereka.

Saya duduk dan memperhatikan.

Saya sama sekali tidak kenal dia siapa, tapi omongannya menarik.

“Lumayan buat premis” pikir saya saat itu. Maka saya mencatat.

Sepulangnya dari Balikpapan, kami ternyata duduk bersampingan di pesawat. Kami saling mengenali karena sama sama di acara yang sama. Kemudian kami lanjut ngobrol.

It was the flight that changed my life.

Pemaparan beliau tentang pendidikan, menjadi bagian dalam cara pandang saya.

Kata beliau “Coba kamu pikir baik baik. Nanti ketika kamu menjalani hari hari, coba perhatikan, bahwa sebenarnya solusi dari banyak masalah di Indonesia, adalah pendidikan.”

Bukan hanya soal pendidikan, beliau juga cerita banyak soal politik dan tata kelola pemerintahan. Belakangan saya tahu, ternyata memang beliau jurusan program Master-nya adalah Keamanan Internasional dan Kebijakan Publik.

Saya ingat, mendarat dari pesawat ketika kami pisah saya sempat bilang ke Ben, yang sering jadi Road Manager ketika ada job luar kota “Menarik banget orang itu tadi. Kalau dia maju politik, gue mau dukung dia.”

 

Obrolan kami di pesawat, bahkan bisa anda lihat hasilnya di pertunjukan spesial saya “Merdeka Dalam Bercanda”.

Ingat bit “Kalau perjuangan kemerdekaan itu program pemerintah, maka yang perang cuma tentara. Rakyat nonton doang”? Itu datang dari kalimat beliau yang bilang bahwa supaya Bangsa ini maju maka masalah di Indonesia harus disadari sebagai masalah bersama dan dengan itu, penyelesaiannya harus dengan pendekatan gerakan. Makanya perjuangan melawan penjajahan itu seluruh rakyat Indonesia terlibat, karena saat itu pendekatannya adalah gerakan.

Atau ingat bit “Jumlah rakyat Indonesia yang melek huruf tahun 45 tapi menghasilkan kemerdekaan, dibandingkan dengan hasil yang diberikan generasi sekarang yang mayoritas melek huruf”?

Itu juga datang dari Mas Anies Baswedan.

Sejak Merdeka Dalam Bercanda, lalu ke Mesakke Bangsaku, hingga Juru Bicara, anda bisa sadari bahwa topik yang tidak pernah hilang, adalah Pendidikan.

Cara pandang saya berubah terhadap Indonesia.

Kepedulian saya meningkat terhadap pendidikan.

Anies Baswedan telah meyakinkan saya, bahwa kalau kita mau Indonesia jadi lebih baik, maka pendidikan harus jadi bagian dari DNA pembangunan. Dan sebagai sentralnya, adalah pemimpin yang peduli pembangunan manusia, pendidikan rakyatnya.

Orang ini, adalah guru. Pendidik.

Guru itu juga berkarya lho, namun bedanya, hasil karyanya adalah manusia.

Sukarno, Hatta, bahkan Jenderal Sudirman, adalah guru.

Jenderal Sudirman bahkan kuliah keguruan, sempat jadi guru SD dan jadi Kepala Sekolah.

Jadi ketawa kalau dipikir pikir mengingat sindiran banyak orang bahwa Mas Anies ini “hanyalah” mantan Rektor.

Pertama tama, “Rektor” itu gak bisa disebut “Hanya”.

Kedua, kalau Kepala Sekolah bisa jadi Jenderal. Kenapa rektor tidak bisa jadi Gubernur?

Kini, berbekal pengakuan Presiden Jokowi sendiri bahwa kinerja Kemdikbud di bawah Mas Anies ternyata gemilang, Mas Anies mencalonkan diri menjadi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta bersama Bang Sandiaga Uno.

(Di sini pasti ada yang berpikir, kalau gemilang kenapa diberhentikan? Ya mari kita jawab juga, mengapa Sudirman Said diberhentikan? Kenapa Jonan juga diberhentikan untuk kemudian masuk ke jabatan yang beda? Kenapa Luhut digeser dan diganti Wiranto? Kenapa Rizal Ramli diganti? Apakah menurut anda kinerja mereka buruk? Jawabannya, adalah karena Menteri merupakan jabatan politis. Dipasang dan dicabutnya jabatan, ya karena alasan politis. Yang pasti, secara prestasi, Mas Anies dianggap Pak Jokowi bekerja dengan gemilang dan itu laporan datang dari beliau sendiri)

For him, this is nothing new. Dia memang pejuang. Ketika ditawarkan kesempatan untuk mengabdi untuk kebaikan Indonesia, selalu dia ambil. Mungkin karena keturunan.

Dalam tubuhnya ada darah pejuang. Kakeknya, AR Baswedan adalah negarawan yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

Saya mengamati beliau dari jauh. Mempelajari kiprahnya.

Ketika saya memutuskan untuk mendukung Faisal Basri dalam kampanye pilgub, untuk pertama kalinya saya terjun ke politik praktis. Lagi lagi karena ingat omongan Mas Anies. “Kalau kita tidak dorong orang orang baik untuk masuk ke politik, mau sampai kapan kita rela politik diisi oleh orang orang jahat? Padahal di politik, kepentingan kita, kehidupan kita, ditentukan”

Kini, beliau membutuhkan saya di Pilgub DKI 2017 mendatang.

Saya memutuskan untuk turun tangan.

Saya memilih untuk berjuang.

Saya memilih untuk mendampingi.

Mungkin, bawah sadar saya ingin berterima kasih atas dampak yang beliau berikan.

Mungkin, ini seperti cara saya untuk berkata

“Makasih Anies”

 

25 thoughts on “Makasih Anies”

  1. Kecee paraahh!! Saya juga punya cerita. Saya pelajar dan saya aktivis organisasi. Ibu saya psikolog dan sering diskusi dengan beliau ttg masalah anak dan pendidikan apalagi bobroknya pola asuh anak dan rendahnya minat baca. Kebetulan saya cinta baca. Saya sempat protes ketika MOPDB 2016 siswa sama sekali tidak diperbolehkan masuk ruangan untuk membimbing adik2nya dan ikut menulis petisi yang isinya menegaskan tidak semua siswa atau osis yang berlaku kasar karena osis merupakan orang pilihan. Yang diperlukan bukan diberhentikan sama sekali tapi diawasi oleh sekolah. Tapi akhirnya sekolah saya memperbolehkan saya dan teman teman osis untuk menjadi mentor dikelas dengan pengawasan yg cukup ketat. Hari pertama mopdb saya takjub. Anak anak diantar orang tuanya dengan pandangan mata penuh kasih sayang. Mereka seolah menjadi yakin akan keberadaan di sekolahnya yang baru, merasa aman. Di tengah hingar bingar ibu kota saya takjub ada banyak orang tua yg perduli anak dan mengantar nya kesekolah untuk memastikan mereka aman. Ternyata ketika sampai rumah dan menonton televisi ini merupakan program Pak Anies Baswedan yang kala itu jadi Menteri Pendidikan yang menghimbau orang tua untuk mengantar anaknya sekolah pada hari pertama. Kekaguman saya yang lain adalah ia begitu penyayang anak dan peduli. Suatu ketika saya ikut deklarasi kemenangan yang diadakan di gedung senam raden inten. Adik saya ikut dengan saya. Saya mengejar beliay untuk mengambil foto bersama. Tanpa sadar adik saya terjepit dan menangis diantara kerumunan wartawan dan massa karena diam diam mengikuti saya. Begitu peka nya beliau tiba tiba menyuruh wartawan dan kerumunan untuk minggir memberi ruang dan membungkuk dan menarik adik saya serta memeluknya dan menghapus airmatanya dengan lembut. Saya percaya Jakarta butuh orang santun yang penuh cinta kasih tanpa dibuat buat seperti beliau. Beliau juga menginspirasi saya dengan hal hal lainnya. Thanks for be my inspiration #MakasihAnies

  2. Akhirnya Bapak itu menjadi Menteri Pendidikan,
    tetapi kenapa akhirnya di reshuffle yaa.. ?
    *big question*
    Pastinya presiden punya pertimbangan untuk akhirnya reshuffle.

    1. Karena konsep beliau terhadap pendidikan adalah sumber daya manusianya. Kalau manusia jadi pintar, maka gak mungkin ada lagi rezim pemerintahan kacung asing. Kita bisa merdeka sepenuhnya. Itu yg ditakutkan rezim kacung asing.

      1. Joseph,
        Mungkin elo aja yg KACUNG brooo…
        Pemerintahan maju pesat gini kok ?…Elo tinggal di gua ya broo….?
        Masih ada aja orang kaya gini berkeliaran….?? hadeehhh

    2. Ijinkan saya untuk menanggapi, Pak/Bu 🙂

      Kalau permasalahan kenapa di re-shuffle, pasti keputusan dari pak Presiden sendiri. Hak pregoratif dari Pres.

      Tapi bisa dilihat, dari beberapa survey dan pernyataan khusus, pak Anies mempunyai rapor yang tinggi. Minimal 5 besar, bahkan beberapa di 3 besar (http://news.liputan6.com/read/2264586/survei-3-menteri-ini-paling-konsisten-wujudkan-gagasan-jokowi)

      Sebagai perbandingan hasil kerja pak Anies di Kemendikbud, bisa dilihat di web nya pak Mohammad Husnil. Disini banyak fakta hasil kerja dari pak Anies, dan juga prestasi pak Anies.
      (husnil.id) (Mantan Staff Khusus pak Anies saat menjabat di Kemendikbud) (Semoga bisa dikoreksi pernyataan saya dengan yang bersangkutan langsung bila memang keliru)

      Jadi kembali ke pertanyaan pertama.
      Kenapa di re-shuffle?
      Menurut saya bukan karena prestasi buruk, apakah karena hal politis?
      Biarkan pak Jokowi yang membeberkan sendiri.

      Karena kalaupun jelek, kenapa bu Puan Maharani masih menjabat?(http://nasional.sindonews.com/read/1058520/12/survei-kinerja-menteri-puan-maharani-buruk-1446544454) Politis kah? Atau hanya sebenarnya prestasi yang bagus?

      Semoga bapak/ibu Bertha mau membaca fakta dari beberapa web tersebut terlebih dahulu sebelum kita lanjutkan diskusi nya.

      Terima kasih

      1. Saya gak bilang Anies dicopot karena buruk/jelek.
        Lihat pernyataan awal saya di atas.

        Saya hanya mempertanyakan kenapa beliau di reshuffle ?

        Dan saya menanggapi comment Joseph yg seenaknya aja apriori terhadap pemerintahan,
        yang tidak bisa berbuat apa apa, selain mencari cari kesalahan pemerintah.
        Mungkin si Joseph termasuk gerombolan yg kaga bisa move on dari 2014…

    1. nah itu juga pertanyaan saya. Sampai sekarang susah cari jawabannya melihat kinerja pak Anies ini sangat bagus dan kebijakannya banyak yang tepat sasaran. Jadi curiga jangan2 direshuffle karena unsur politik? melihat masih ada mentri yang kerjanya gak jelas tapi tetap aman2 aja.

      1. Konsep dia tas pelaksanaan KIP dan melihat apa itu KJP saja sudah menunjukan keculasan hati Anies dalam melihat dunia pendidikan. Dia menggunakan segala daya upaya untuk menaikan pamor politiknya (baca: citra) walau itu mengorbankan dana negara (APBN) untuk sesuatu yang sia-sia. Jadi ingat gaya SBY, junjungannya sebelum era Jokowi.

  3. Beberapa kali ketemu Pak Anies da beberapa kali ketemu Pak Sandi, menurut sy keduanya org hebat yg bisa mengisi menciptakan jakarta yg lebih baik, bermartabat dan selalu megedepankan kepertingan rakyat banyak. Semoga terpilih. Aamiin

  4. Kalo terpilih jd gubernur dki, tahun 2019 Pak Anies mau maju pilpres ga, bang? At least rakyat jakarta yg akan memilih beliau berhak tau apa rencana beliau ttg itu. Karena seperti yg diketahui di tahun 2014 Pak Anies menggebu-gebu maju pilpres. Itu kan bisa jd pertimbangan jg, apakah perlu mengkhawatirkan kehilang Pak Anies di 2019 yg maju jd capres. Because to be honest, I don’t really know Pak Sandiaga, jd kalo Pak Anies maju capres dan terpilih, artinya Pak Sandiaga yg akan jd gubernur dki. And I was like………. hmm?

  5. Pertama buka channel kompas langsung dapat acara komedi. Dilihat2 ternyata mas panji yang sudah saya kenal di acara bagi2 duit di acara masa kecil saya. Tau2nya sudah jadi politisi. Sudah lucu juga menambah wawasan saya tentang masalah di indonesia yang dibiarkan berlalu saja dan dibicarakan dalam bentuk suatu komedi. Tidak lama nonton langsung buka dimesin pencarian dan nulis nama “panji prakoso”..tau2 salah input nama, tumben tidak ingat lagi nama belakang artis di indonesia. Emang lebih gampang ngehapal nama artis korea karena namanya unik(sorry mas panji). Lalu keluar satu foto pake baju batik. Terus dapat web ini dan luar biasa truestory didalamnya. Saya yang benar2 gaptek akan internet berani membaca dan membalas komentar ini karena merasa sangat salut dengan apa yang di alami oleh mas panji. Saya kira cukup karena komentar saya tidak nyambung sekarang. Selamat atas acara world tour juru bicara yang sudah selesai.

  6. Jakarta itu kayak anak kecil yang belum bisa ngapa2in… karena bapak2nya yang kemaren nggak bgajarin apa2, dengan bapaknya yang sekarang jakarta dipaksa harus bisa ini… bisaa ituu… yaa wajar kalo mesti diomel2in dulu, disentil2 dulu, di jewer2 dulu… nahh setelah terpaksa karena dipaksa sama bapaknya maka insya Allah akan biasa.. bisa bangun sendiri… bisa bersih2 sendiri… diperiode setelah itu lah… diperlukan bapak yang mengedukasi dengan lembut dengan penuh pemahaman..karena kalo paanies *eh kelepasan masuk ke hutan yang namanya jakrta dengan batik dan rambut kelimis karna nggak pernah marah2.. wah.. alamaaaat

  7. Saya masih belom bisa diyakinkan bahwa Anies mumpuni melawan para koruptor yang merusak pemerintahan secara sistemik. Bagaimana caranya dengan santun memanusiakan koruptor?

    1. Sama saja dengan tanggapan Pandji tentang “pertemanan” barunya dengan Habieb Rizik, so para koruptor itu akan dimanusiakan melalui cara “berdamai” dengan mereka. Dan setelah itum Pandji pun akan buat tulisan mengapa berdamai dengan para koruptor itu tidak salah.

      Pandji, sudah bermetamorfosis menjadi seorang politikus, yang ngeles dari setiap aksi yang dibuat oleh figur yang dimajukan. Sekarang dia bilang si Bibieb ga salah, nanti gw yakin dia juga akan beri puja-puji serupa kepada Prabowo yang dulu dia caci maki.

      Dia akan mudah melupakan semua tweet dan ucapan-ucapannya atas tokoh-tokoh yang dulu dicaci makinya,….just for the sake of ….. POLITIC!

      Jangan kaget kalau bulan depan Pandji juga tulis sesuatu yang manis soal Anis Matta, Fahri Hamzah dan PKS!!

  8. Jakarta lebih butuh cagub yg fokus berantas mafia2 APBD, yg tegas sama PNS malas dan korup.
    orang pintar di Jkt sudah banyak, tp sayang mental nya maling semua

  9. Saya bahkan tidak tau harus memulai bagaimana. Tapi saya ingin katakan bahwa salah satu alasan saya memilih Universitas Paramadina dibanding universitas swasta lainnya adalah Anies Baswedan. Waktu itu tahun 2014, tahun di mana Pilpres berlangsung, tahun di mana Jokowi memenangkan pertarungan politik.

    Anies menarik hati saya pertama kali ketika debat di Mata Najwa dengan Mahfud MD. Kata-katanya begitu indah. Membuat saya semakin yakin bahwa Jokowi banyak didukung orang-orang baik. Ada satu quote Anies yang sering ia katakan di berbagai kesempatan: “Negara hancur bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena orang-orang baik diam”. Kurang lebih begitu quotenya. Sangat menginspirasi.

    Saya ingat ketika Anies sudah jadi Mendikbud dan mampir ke Paramadina, saya sampai rela absen satu kelas hanya untuk duduk paling depan mendengar Anies bicara. Meskipun ketika itu saya agak kecewa karena Anies lebih banyak bicara soal gagasan bukan soal hasil kerja, saya masih tetap mengagumi sosok satu ini. Ketika itu ia memberi saya buku biografinya dengan judul “Melunasi Janji Kemerdekaan” yang kemudian ditanda tangani.

    Ketika saya magang di Balaikota, saya juga menunda tugas-tugas saya hanya untuk melihat Anies memberikan kata sambutan dalam acara perayaan Hari Film Nasional tahun 2016. Tapi lagi-lagi saya dikecewakan karena Anies fokus membahas kulit saja, tidak membahas isi. Anies lebih suka membahas hal-hal yang seremonial. Misalnya seperti mengenakan baju adat daerah pada hari tertentu untuk menunjukkan keberagaman.

    Mungkin rasa kecewa ini timbul karena saya sudah magang di Balaikota dan terbiasa melihat Ahok yang tidak pernah melakukan hal-hal seremonial, tapi secara nyata bekerja. Namun saya memaklumi. Setiap orang berbeda. Anies — bagi saya waktu itu — masih tetap seorang tokoh yang ingin membawa perubahan bagi dunia pendidikan Indonesia, hanya saja ia belum mampu menerjemahkan itu ke dalam birokrasi.

    Ketika Anies dipecat oleh Presiden Jokowi, saya tak begitu kaget. Memang sejak mendengar sambutannya di Balaikota itu, saya yakin kalau ia tak mampu menunjukkan hasil nyata secepatnya, bisa saja ia masuk daftar reshuffle. Tapi ketika Anies dicalonkan oleh Gerindra dan PKS sebagai gubernur, saya kaget. Bukannya Anies sendiri yang menganggap Prabowo tak mampu memimpin Indonesia, apakah sekarang ia akan memuja Prabowo karena memberikannya tiket maju gubernur? Apakah Anies juga akan memuja PKS yang selama ini (pendukungnya) suka mencapnya liberal? Secepat itukah Anies berubah?

    Dunia memang berubah. Anies sudah menjadi politisi. Mungkin itu yang harus ia lakukan agar dapat menyalonkan diri. Walaupun saya memutuskan untuk memilih Ahok, setidaknya masih tersisa rasa hormat kepada mantan rektor saya itu.

    Tapi tidak hari ini, Pak Anies. Hari ini rasa hormat saya runtuh. Tak sedikitpun tersisa ketika saya melihat Anies Baswedan yang saya kagumi itu datang ke markas Front Pembela Islam (FPI), berdiri di sebelah para petinggi tersebut, dengan penuh senyum.

    Langsung saya teringat opini Anies Baswedan di Kompas pada tahun 2012 mengenai tenun kebangsaan. Anies dengan keras meminta mereka yang merobek tenun kebangsaan agar diberi efek jera.

    “Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Di sini pendidikan berperan penting. Namun, itu semua tak cukup dan takkan pernah cukup. Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau ”bertarung” menghadapi para perobek itu. Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah bahwa bangsa ini gagah memesona saat mendirikan negara bineka tetapi lunglai saat mempertahankan negara bineka,” tulis Anies (12/09/2012).

    Tapi apa yang hendak kau tunjukkan ketika pergi ke markas tersebut, Pak Anies? Apakah kedatanganmu ingin menjaga tenun kebangsaan atau justru merobeknya? Kita tau posisi FPI, mereka mendukung pemimpin yang seiman. Mereka juga mewajibkan warga Jakarta memilih pemimpin Muslim. Tapi saya tidak akan membahas sikap FPI itu, itulah sikap mereka dari dulu. Tapi kau Pak Anies? Inikah sikapmu?

    Banyak orang yang sejalan dengan FPI. Meski saya tidak setuju dengan banyak orang itu, saya hargai konsistensi mereka. Itulah idealisme mereka, sesalah apapun itu di mata saya. Mereka konsisten memegang idealisme itu.

    Bagi saya, Anies lebih parah dari mereka. Idealisme Anies tak lebih dari kepentingan politik semata. Kepentingan untuk berkuasa. Dulu ia menghina blusukan Jokowi sebagai pencitraan, lalu menjadi jubir Jokowi dan memujanya, kemudian dijadikan menteri, begitu dipecat langsung nyagub diusung dua parpol yang dulu ia ejek habis-habisan ketika Pilpres 2014. Dan kini, yang paling rendah, Anies rela membuang pandangan banyak orang bahwa ia adalah tokoh yang toleran, tokoh yang tidak mempermasalahkan agama/suku/ras dalam kompetisi politik, agar dapat meraup suara dari kelompok ekstrim kanan. Anies rela menggadaikan idealismenya demi mengejar jabatan gubernur!

    Pak Anies, saya menyesal pernah mengagumimu. Mungkin di masa depan, dengan idealismemu yang murah itu, kau bisa jadi bagian dari perobek tenun kebangsaan yang sering kau sebut itu.

    Oleh: Tsamara Amany

  10. Setuju.

    Sayangnya untuk perubahan, tidak cukup dari pendidikan.

    Ibarat sudah sakit, harus minum pil pahit. Nggak bisa disuruh makan sehat aja lsg sembuh.

    Negara ini udah akut korupsinya. Untuk memerangi korupsi butuh tentara, jendral, yg ga takut mati. Yg berani, tegas, no ya no. Walau kadang nggak populis. Ya itu harga yg harus dibayar.

    Kita nggak butuh Guru nji. Butuh sih, buat anak kuliahan dan sekolahan, yang ntar matengnya 10 tahun lagi.

  11. Jujur saya senang dengan pak Anies yang bicaranya santun dan menyejukkan. Tp itu tidak bisa diterapkan di Jakarta. Jangan maksud hati melahap jadi dilahap #Jakartakeras

  12. Ketika masih waras Mas Anies Baswedan bilang begini: “cara berkampanye menggambarkan cara memerintah. Apalagi, ini yang mengerikan, menggunakan isu SARA yang biaa merobek tenun kebangsaan, mengendorkan sendi kebangsaan. Bahaya luar biasa”. Itu tahun 2014.

    Cukup kurang dari tiga tahun saja, Anies Baswedan berubah total dengan memandang derajat orang karena latar belakang SARA. Menyandang titel Paslon Nomor 3 membuat Anies di tahun 2017 justru menggunakan kampanye SARA unuk mendongkrak suara. Inilah karakter asli Anies: berkarakter sesuai musim politik. Menyedihkan!

  13. Wah, seluruh artikel-nya Mas Pandji selalu muji-muji Pak Anies.

    Bagus, melemparkan hal positif ke orang lain itu hal yang sangat bagus.

    Tapi, yang jadi pertanyaan saya, ini kan blog pribadinya Mas Pandji, tapi kejadiannya kan udah lama banget tuh, kalau memang ini perlu untuk ditulis atau penting untuk diingat, kenapa baru sekarang artikel ini ditulis, maksud saya, sebagai seorang blogger, biasanya saya itu menulis hal yang mengagumkan itu tepat pada waktu dimana saya merasakannya ( maksud saya, misalnya kejadiannya pagi, kalau malam saya punya waktu, saya pasti menulisnya, karena saya tahu itu hal yang mengagumkan ), dan ini berbeda sekali, di masa-masa seperti ini baru artikel ini ada.

    jadi itulah pertanyaan saya, kenapa baru sekarang pujiannya itu ada?

    tapi sudahlah, anggap saja itu cerita lama. apapun yang terjadi, ini adalah hal positif, jangan biarkan itu diganggu dengan hal negatif.

    Peace.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.