Mencari Minyak

Kadang menjadi seorang Pandji bisa teramat melelahkan.

Proses berpikir ketika saya menulis materi stand-up, menulis naskah film, mencari metoda promo untuk film atau misalnya untuk tur dunia, adalah sama: Dengan menggali.

Menggali terus, dan terus, dan terus, mencari sesuatu yang saya sebut sebagai Minyak. Analogi dari ide. Sesuatu yang berharga yang jadi bahan bakar.

Yang sulit adalah ketika pada saat yang bersamaan, keadaan membuat saya harus menggali hal yang berbeda. Menggali ide untuk materi stand-up, menggali ide untuk promo tur dunia, menggali ide untuk promo album, menggali ide untuk menulis naskah film baru dan seterusnya.

Ibaratnya ada sebuah lahan luas. Hari ini saya menggali sebuah titik. Lalu belum selesai saya gali, saya pindah titik dan menggali lagi. Kemudian saya pindah lagi dan menggali di tempat yang berbeda.

Mungkin kalau saya fokus di hanya 1 atau 2 titik, kelak saya akan menemukan minyak. Tapi karena saya pindah pindah dari satu titik ke titik lain kemudian kembali ke titik pertama, lalu muter lagi terus menerus, penggalian itu tidak kunjung menemukan minyak.

Ada titik yang hanya perlu digali satu-dua kali tiba tiba langsung ketemu. Itu yang terjadi dengan ide kampanye pilihpandji.com.

Saya sedang berada di sebuah lahan, saya perhatikan baik baik dan menyadari “Ada sesuatu di sini”. Saya gali, tiba tiba muncrat minyak.

Tapi di kesempatan lain saya bisa menggali terus menerus tapi tidak kunjung mendapatkannya.

Sering juga, saya tidak mau mengakui sebenarnya tapi bagaimanapun sering terjadi, saya dituntut untuk segera menemukan minyak, lalu dalam tekanan otak saya berputar lebih cepat, mata saya mencari sekeliling tiba tiba mungkin insting, mungkin pengalaman, atau mungkin sekadar keberuntungan, saya bisa melihat sesuatu dan berpikir “…. tunggu tunggu, ada sesuatu di sini”. Lalu saya gali dan tidak lama ketemu minyak.

Karena sering terjadi, saya tidak jarang meninggalkan sebuah titik eksplorasi sampai momen ketika saya tidak bisa menunda lagi. Dalam keterdesakan, sering kali Minyak justru ketemu.

Tapi yang sering saya pikirkan sebagai bahan argumen, “Apakah itu Minyak yang terbaik. Ataukah hanya yang terbaik PADA SAAT ITU?”

Itulah juga yang sedang saya lakukan saat ini.

Menunda.

Harusnya saya tidak menulis ini.

Harusnya saya sedang sibuk menggali. Mencari Minyak.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*