Bitter Pills

I think about the things i doThe sacrifices i make

The hours lost

The times spent
I think about all the above 

And i think about the way my children behave when im home

How they all want to talk to me at once

They all want my attention

How they missed me
I think about that and i think about my wife

I think about our arrangement

Our promise

This wasnt the deal

I wasnt supposed to leave her behind with all of the responsibilities of parenthood.

I think about that & i wonder
Is this all worth it?

Will the result be somewhat important for my children?

For my family?
Will my accomplishments be just like a trophy?

With no purpose other than to be the reminder of how good i used to be.
Will i have an impact

For people

For my family
Will i matter?
Will it matter?
I think, still

Until i find the answer, all this questions are bitter pills

Menyusul Mereka

Kemarin ada yang bertanya, alasan saya memilih seseorang menjadi opener World Tour.

Sebelum menjelaskan, saya mau kasih tahu bahwa sekarang dengan akan berjalannya JURU BICARA Stand-Up Comedy World Tour maka ada 7 opener world tour.

Awwe, Gilbhas dan Krisna opener Mesakke Bangsaku World Tour

Arie Kriting, Babe , Barry dan Yudha Khan opener Juru Bicara World Tour.

Alasan pemilihan Awwe, Gilbhas dan Krisna ada di dalam film dokumenter “Menemukan Indonesia” yang rilis april, jadi silakan ditonton sendiri nanti.

Nah, mari saya jelaskan alasan pemilihan 4 yang membuka saya di Juru Bicara World Tour.

Pertama tama, ada alasan mendasar pemilihan opener world tour. Tepatnya ada 2 alasan mendasar. Yang pertama: SOLID. 

Makanya saya selalu membawa opener world tour yang pernah membuka saya di tur nasional. Karena saya pernah lihat sendiri kinerja mereka, pernah lihat bagaimana mereka membuka saya. Saya tahu persis mereka solid dalam arti ditaro di kondisi apapun, suasana apapun, kendala teknis seperti apapun, mereka akan bisa bekerja dengan baik.

Ini juga berarti, opener kota kota nasional punya peluang untuk jadi opener world tour ketika saya mau tur dunia lagi. Entah kapan.

Tur itu, apalagi Tur Dunia, faktor X-nya suka aneh aneh. Tidak mungkin saya membawa komika yang lucu SAJA. Komika yang ikut ke luar negri harus matang dan konsisten.

Alasan mendasar ke dua adalah: SELERA.

Orang yang saya ajak jadi opener (tidak hanya yang tur dunia) itu adalah opener yang selera komedinya saya suka. Jadi saya tidak begitu mempermasalahkan teknik, persona, bobot materi, dll. Kalau saya suka dan dia solid, cukup untuk jadi alasan saya memilih dia jadi pembuka. Urusan selera, ga bisa diganggu gugat. Tiap orang beda beda.

Nah sekarang, alasan spesifik. Ada alasan spesifik mengapa beberapa orang saya pilih. Arie misalnya yang saya pilih karena saya yakin dia akan memberikan dampak baik kepada pelajar Indonesia di luar negeri. Materinya memiliki keresahan yang saya yakin tidak dirasakan banyak pelajar di luar negeri. Boro boro merasakan, mereka bahkan tidak tahu masalah itu ada. Arie akan mendobrak pemikiran mereka. Yudha Khan saya pilih karena alasan lebih krusial. Di saat banyak komika membuat materi dari hal yang mengawang awang dan jauh dari kesehariannya, demi lucu atau demi punya materi yang pop, Yudha Khan membicarakan kotanya, Cirebon. Dia membuat saya jadi tertarik dengan kota tersebut. Dan itu yang menjadikan stand-up-nya Yudha menarik. Kalau mau jualan, jualanlah sesuatu yang orang itu belum punya. Jualan pemutih kulit di Indonesia yang rata rata orangnya kulitnya gelap. Di Amerika, pemutih kulit gak laku, kebanyakan ingin punya kulit berwarna gelap alias tanned. Sama dengan materi Stand-Up, ketika Yudha membicarakan Cirebon dia menjual sesuatu yang orang di kota kota besar belum  tahu dan belum punya: Kultur dan tradisi. Keberanian Yudha untuk jujur dan sederhana, menjadikan dia berbeda. Barry adalah salah satu contoh komika yang genuine. Dia gaya bicaranya tidak ikut ikutan kayak orang lain. Dia nyaman dengan dirinya sendiri. Barry adalah contoh orang yang bertemu dirinya sendiri sebelum dia bertemu stand-up comedy. Banyak sekali di Indonesia orang orang yang ketemu Stand-Up sebelum ketemu dirinya sendiri. Akhirnya dia ikut ikutan orang. Gaya bicaranya mirip orang. Stand-Up itu sebentuk kesenian. Seni adalah ekspresi diri. Kalau dia belum kenal dirinya, mana tau dia apa yang harus diekspresikan. Kalau dia tidak tahu apa yang mau diekspresikan, buat apa berkesenian? Babe Cabiita sudah jelas merupakan komika yang dengan mudah memporak porandakan gelak tawa penonton. Effortlessly funny. Tapi terpenting, dia adalah contoh orang yang memulai dari stand-up, meledak di industri hiburan secara umum dan industri film secara khusus, tapi tidak meninggalkan stand-up comedy. Sikap Babe seperti ini, kelak akan penting. Karena industri stand-up hanya akan sekuat para pelakunya. Kalau pelakunya pada pindah kapal, dan angkatan penggantinya lemah, tidak punya kakak untuk diidolai dan menjadi tantangan, maka generasi terbarunya tidak akan berkembang. Ketika itu terjadi, maka robohlah industri stand-up comedy di Indonesia.

Jadi begitulah alasan mengapa saya memilih 4 orang tadi sebagai pembuka.

Ada yang ingin menyusul mereka?

 

Tidak Ada Jalan Pintas

Menjawab pertanyaan: Bagaimana caranya bisa sukses seperti anda?
Harus mau berproses. Harus mau belajar. Harus mau kerja keras. Harus mau mencoba. Harus mau gagal. Harus mau bangkit. Harus mau mencoba lagi. Harus mau sabar. Harus mau menunggu.
Kalau anda tidak melihat itu dalam keseharian saya hari ini sebagai komika, itu adalah karena prosesnya sudah berlalu & sebagai komika hari ini saya menuai hasilnya.
Kalau mau belajar bagaimana berproses, belajar, kerja keras, mencoba, gagal, bangkit, mencoba lagi, sabar & menunggu, lihat keseharian saya sebagai rapper, penulis buku, aktor.
Di 3 bidang tersebut, saya masih berproses.
Saya terima perjuangannya karena saya percaya.
Proses yang akan membawa saya ke sana.

Tidak ada jalan pintas.
 

Foto Oktober 2015 ketika saya ngerap di Cirebon. Kapasitas 400, yang datang 38 orang. Tidak ada jalan pintas.
 

Never Stand Still #spon

Dari 3 hotel & casino yang pertama kali berdiri di Las Vegas. Flamingo Hotel & Casino ini adalah satu satunya yang masih berdiri. Menjadikannya Hotel & Casino tertua di Las Vegas
Dari 3 hotel & casino yang pertama kali berdiri di Las Vegas. Flamingo Hotel & Casino ini adalah satu satunya yang masih berdiri. Menjadikannya Hotel & Casino tertua di Las Vegas

Bagaimana ceritanya?

Bagaimana ceritanya saya bisa berdiri di depan Casino yang sempat dikelola oleh Bugsy Siegel salah satu mafia legendaris Amerika?

Semuanya, dimulai dari sebuah telfon. Ario (@sheggario) menghubungi dan mengatakan pihak Lenovo mau membawa saya ke Las Vegas untuk datang ke CES (Consumer Electronic Show) dan melakukan peliputan terhadap produk produk Lenovo yang dipamerkan di sana.

A. Saya minim sekali informasi mengenai Lenovo selain dari majalah TIME yang saya beli karena liputan utamanya mengenai perusahaan Tiongkok Lenovo yang mengakuisisi IBM. Berita besar bahkan untuk saya yang tidak mengkategorikan diri sebagai tech-geek. Saya tertarik dengan bisnis. Ini berita besar di dunia bisnis. Di luar itu, hal mengenai Lenovo yang menempel di kepala saya hanyalah bahwa belakangan ini orang yang berfoto dengan saya, banyak yang menggunakan Lenovo. Sebagai orang yang sering diajak foto, saya sering memperhatikan ponsel yang digunakan untuk memfoto. Mau gimana lagi, merknya terpampang jelas ketika kamera di arahkan kepada saya. Lenovo, belakangan ini sering digunakan oleh orang orang.

B. Saya baru mendengar nama CES ketika Ario menghubungi saya, yang setelah saya google dan buka youtube-nya ternyata adalah ajang tahunan yang luar biasa besar. Semua perusahaan teknologi, hadir di awal tahun, di Las Vegas, di CES untuk menunjukkan terobosan terbarunya yang besar kemungkinan akan mulai dipasarkan di tahun tersebut.

Tapi diajak ke tempat tempat menarik karena pengaruh saya di situs jejaring sosial, sudah jadi hal biasa untuk saya apalagi sejak diajak kementrian perdagangan ke Shanghai. Maka, berangkatlah saya.

Satu hal paling menarik (dan pada awalnya membingungkan) dari ditunjuknya saya untuk jadi influencer Lenovo di CES adalah, Lenovo Indonesia sama sekali tidak mengharuskan ngetweet dengan jumlah tertentu, tidak mewajibkan untuk bikin video youtube, tidak mewajibkan untuk ngeblog, dll.

Kata mereka “Terserah aja”

Buat orang yang sering diminta untuk jadi influencer, ini adalah hal yang teramat aneh. Satu satunya cara untuk memastikan investasi mereka tepat adalah dengan meminta saya ngetweet, ngeblog, ngevlog dengan jumlah value yang sesuai dengan value yang mereka keluarkan untuk saya. Bayangkan, bukan hanya saya diterbangkan ke Las Vegas dan pulang naik Etihad Airways yang saat ini ada di posisi 6 maskapai terbaik dunia versi Skytrax (Garuda Indonesia di posisi 8 dan harus saya akui dari sisi pesawat memang di atas Garuda tapi dari sisi pelayanan Garuda lebih baik, jauh).

Saya diinapkan di The Westin Hotel & Casino.  Saya setiap hari diajak makan yang sangat mewah.

Salah satunya, adalah Alizé. Restoran Prancis kelas dunia oleh Chef André Rochat di lantai 56 Palms Casino Resort, Las Vegas. Juga di Julian Serrano, restoran Spanyol juga kelas dunia di Aria salah satu hotel dan casino terbaik dan termewah di Las Vegas.

Diajak nonton Cirque Du Soleil, Zarkarna. Sebuah pertunjukan sirkus yang teramat mewah, indah, modern dan canggih.

IMG_7426
Klik pada foto untuk mendapatkan pengalaman 360 di dalam teater indah ini
Diajak ke Grand Canyon dan melihat indahnya pemandangan dari atas lembah berusia jutaan tahun.

IMG_7462
Untuk melihat 360 Grand Canyon, klik foto ini
Google semua yang saya sebut di atas, maka anda akan tahu bahwa ini merupakan perjalanan yang mewah. Kok saya tidak diberi target jumlah tweet, youtube, dll? Kalau saya ternyata hanya tweet 1 kali gimana? Mungkin saja lho, toh saya sudah di Vegas.

Jawabannya, saya temukan sendiri ketika sampai di Vegas dan bertemu dengan orang orang dari Lenovo. Bukan hanya “Orang dari Lenovo” tapi sosok sosok penting dibalik Lenovo hari ini. Salah satu pertemuan paling impresif adalah dengan Chief Operating Officer Enterprise Business Group Leader, Asia Pacific: Amar Babu.

Amar bercerita banyak mengenai Lenovo, terutama pertumbuhannya dengan memanfaatkan banyak kerja sama. Akuisisi IBM, Motorola (skarang Lenovo menyebutnya Moto), kerja sama dengan Razer untuk masuk ke pasar Gaming, membawa Lenovo bertumbuh pesat. Yang menarik adalah seperti yang kita tahu, tidak seringkali sebuah akuisisi berdampak positif. Karena membawa kultur perusahaan, kebiasaan, belum lagi ribuan karyawan dari perusahaan yang berbeda dengan ritme kerja yang beda. Lalu bagaimana cara Lenovo bisa berjalan dengan semua akuisisinya sehingga performanya tetap baik bahkan melaju?

Ketika pertanyaan tersebut saya lempar ke Amar, jawabannya adalah “Kultur keterbukaan”. Lenovo, menurut Amar tidak saklek yang menutup pilihan lain dari yang diberikan oleh kantor pusat. Lenovo bahkan sangat terbuka dengan keinginan konsumen. Mengingatkan saya dengan McDonalds yang sukses di banyak negara karena menyesuaikan dengan pasarnya (Menu Ayam + Nasi yang handal di Indonesia dan tidak ada di negara lain, setidaknya tidak di 12 negara yang saya pernah datangi). Seperti yang kita tahu, ada juga perusahaan teknologi yang melaju justru karena menutup diri dari kritik, survey konsumen, dan review para ahli. Lenovo, sebaliknya. Mereka pada prinsipnya bertanya apa yang konsumen mau, dan memberikan semua pilihan. Mungkin seperti Indomie. Kalau kita ingat, 10-15 tahun yang lalu hanya ada 3 pilihan rasa. Sekarang kalau kita ke supermarket, ada mungkin ratusan rasa dari bulgogi, ke iga bakar, ke rendang, ke sambal hijau. Mengapa memberi pilihan sebanyak itu? Karena setiap konsumen spesial, dengan kebutuhan spesial mereka. Personalization, is the key to today’s business.

Amar mengatakan sesuatu yang menarik ketika menjelaskan bagaimana praktek keterbukaan tersebut dalam kultur Lenovo “Trust the local partners with their local wisdom

Trust” adalah hal sama yang Lenovo Indonesia berikan kepada saya dengan tanpa memberi target jumlah tweet, blog dan vlog.

Mereka percaya kepada saya dan terutama, percaya dengan produk mereka. Mereka yakin, produk mereka sangat bagus. Dimotori oleh keinginan untuk terus menawarkan inovasi yang “Disruptive“. Disruptive, istilah yang sering digunakan belakangan ini tidak terkecuali di CES untuk menggambarkan sebuah inovasi yang benar benar mengubah lanskap industri sehingga terjadi semacam kekacauan. Kacau untuk industri, berkah untuk konsumen.

Seperti Uber, Air BnB, dan kalau di Indonesia: Gojek. Disruptive banget kan? Industri kacau, konsumen bahagia. Dipercaya, kalau tidak menyebabkan kehebohan, maka inovasinya kurang disruptive.

Lalu apa inovasi Lenovo yang disruptive? Untuk mengetahui jawabannya, saya harus membawa anda masuk ke CES 2016 dulu.

360 area #LenovoCES
Klik foto untuk menikmati 360 area #LenovoCES

Ketika masuk ke area Lenovo, saya langsung disuguhi produk produk yang untuk saya teramat menarik. Saya memang bukan tech-blogger, saya bukan jurnalis yang spesialisasinya teknologi, tapi saya adalah konsumen. Saya adalah orang yang disasar oleh Lenovo dan konsumen yang satu ini, gatel pengen punya sejumlah produk yang Lenovo akan rilis di tahun 2016 ini.

Saya bahas produk produk yang sangat saya ingin miliki:

Lenovo Yoga Tab 3 Pro

Ini sebuah tablet, jelas.

Tapi, coba scroll ke bawah dan rasakan perubahan sikap anda kepada benda cantik satu ini…

lenovo-yoga-tablet-3-pro-hold-mode-3lenovo-yoga-tablet-3-pro-stand-mode-2 lenovo-yoga-tablet-3-pro-tilt-mode-4

lenovo-yoga-tablet-3-pro-hang-mode-1

lenovo-yoga-tablet-3-pro-projector-6

lenovo-yoga-tablet-3-pro-back-9

Absolutely, stunning.

Yoga tablet 3 pro , menang penghargaan  CES 2016 Innovation Awards untuk kategori Tablets, E-readers & Mobile Computing. Bayangkan, pameran sebesar CES dengan mungkin puluhan ribu produk, Yoga Tablet 3 Pro dapet penghargaan.

Pasar tablet, turun drastis. Semua perusahaan produsen tablet tahun ini. Penyebabnya adalah ternyata konsumen tidak punya alasan untuk beli tablet terbaru. Tidak ada inovasi dalam tabletnya sendiri. Perubahan dan perbaikan biasanya pada software, apps dan paling mentok kualitas kamera. Lalu apa jawaban Lenovo? Merilis produk tablet dengan inovasi begitu disruptive sehingga kini konsumen punya alasan untuk membeli.

Yoga Tablet 3 Pro , dilengkap dengan built in projector yang bisa dirotasi 180 derajat sehingga anda bisa proyeksikan ke arah manapun, menjadikan area datar apapun sekitar anda menjadi sebuah layar. Ketika saya diberi demo produknya, saya kaget dengan 3 hal: Pertama, saya bisa tiduran di kasur, tembakkan proyektor ke langit langit kamar dan menikmati tayangan youtube, netflix, atau video apapun yang sudah terlebih dulu saya beli atau unduh sampai saya tidur.. atau mungkin malah ga jadi tidur berhubung dia batrenya bisa sampai 18 jam. Kedua, kualitas suara yang keluar dari benda ini luar biasa. Saya jamin. Saya jamin kalau anda dengar sendiri akan kaget. Dia menggunakan 4 speaker di depan, dan dilengkapi Dolby Atmos 3D sound. Ketiga, desainnya cantik sekali. Sebagai lulusan Desain Produk ITB, saya mengagumi keindahan Yoga Tablet 3 Pro . Ergonomis, tidak ada bentuk yang sia sia, semua bentuk punya fungsi. Dan saya terbeli dengan tekstur kulit di bagian belakang. I love leather.

Beberapa fitus yang sering disebut dalam produk ini adalah salah satunya menggunakan Android UI dan dilengkapi dengan “Anypen technology” yang membuat anda bisa menggunakan apapun sebagai stylus. Termasuk, kalau yang saya lihat di video presentasinya, Wortel. Iya wortel bisa jadi stylus untuk Yoga Tablet 3 Pro .

 

Thinkpad X1 Tablet

lenovo-thinkpad-x1-tablet-front-13

Betul, tablet lagi. Tapi kali ini dari kategori Thinkpad X1.

Untuk anda yang awam Lenovo, Thinkpad adalah kelompok produk kasta tertinggi Lenovo. Syarat untuk bisa masuk kategori Thinkpad cukup sulit, dan standarnya tinggi.

Thinkpad jadi produk dengan durabilitas tertinggi. Untuk bisa disebut Thinkpad, bukan hanya secara produk performanya harus jadi yang terbaik, produk ini harus melewati berbagai macam tes fisik. Dibanting, didinginkan, dipanaskan, disiram air, debu, dll.

Intinya, produk ini lolos tes spesifikasi militer.

“Buat apa?” mungkin anda bertanya tanya. Alasan Lenovo melakukan ini semua karena kenyataannya rata rata pengguna produk mahal tidak serta merta merawat produk tersebut sebaik mungkin. Teman saya, menjatuhkan laptopnya dari ransel yang sedang dia pakai karena lupa nutup resleting. Ada lagi kasus, lagi kerja pake laptop, minum ditaruh di meja di samping laptop, gelasnya tumpah karena keserimpet kabel yang berseliweran, air membasahi laptop. Ada lagi orang yang lupa di dalam tasnya ada laptop kemudian dia sembarangan menjatuhkan tas tersebut ke lantai. Katanya sih karena capek. Orang itu saya, ngomong ngomong.

Kesan saya terhadap produk Thinkpad X1 adalah ini merupakan laptop yang tepat untuk para profesional. Para pekarya. Orang orang yang butuh produk dengan performa terbaik tapi juga punya daya tahan bagaikan R2D2 yang saking awetnya hadir dari Starwars Phantom Menace sampai The Force Awakens. Orang orang yang bekerja lebih banyak di luar kantor. Insinyur. Arsitek. Desainer. Geolog. Arkeolog. Peneliti. Marketer. Dokter. Dan masih banyak lagi pekerjaan penting di dunia ini yang butuh produk terbaik.

Kembali ke Thinkpad X1 tablet.

Ingat nggak keinginan Lenovo untuk memberikan produk sesuai keinginan konsumen? Customization? Nah ini dia salah satu contohnya.

Misalnya ada konsumen, yang ingin tablet tapi dengan spesifikasi terbaik dan tepat untuk kebutuhan bisnis, tapi ingin tambahan batre sehingga bisa lebih lama digunakan. Atau ingin tablet yang ada proyektornya, tapi ingin kualitas tingkat terbaik ala Thinkpad. Atau ingin tablet yang punya kemampuan 3D imaging.

Ini dia produknya.

36_X1_Tablet_USB_Pen_Hero_Shot

 

07_X1_Tablet_Family_Shot_With_Alpha

Thinkpad X1 tablet, adalah sebuah tablet dengan opsi penggunaan keyboard. Tapi keyboardnya solid dan akan tetap bekerja dengan baik ketika anda gunakan bekerja dalam pangkuan (kan ada tuh keyboard tambahan untuk tablet tapi lembek) menempel dan melepaskannya pun mudah dan terpenting lagi, kokoh ketika sudah tersambung. Standar Thinkpad.

37_X1_Tablet_USB_Pen_KB_Hero_Shot

Lalu, produk ini menawarkan 3 buah modul tambahan (lihat 3 buah modul di sebelah kanan pada foto di bawah).

lenovo-thinkpad-x1-tablet-front-10Productivity modul memberi tambahan batre hingga 15 jam.

Presenter modul memberi proyektor.

Nah yang keren adalah 3D imaging modul yang bisa mengambil gambar dari sebuah benda 3 dimensional. Untuk apa? Banyak.

a) Yang paling umum dan lagi ngetrend di luar negri, untuk 3D printer. Sebagai contoh, kita bisa foto sebuah mainan dengan 3D imaging camera, lalu spesifikasi ukuran dan volume didapatkan, kemudian tinggal diprint secara 3 dimensi.

b) Untuk mengukur dimensi sebuah benda, biasanya furniture, sebelum dibeli dan ditempatkan dalam sebuah ruangan

c) Untuk mengukur dimensi ruangan, tinggal foto maka data spesifikasi ruangannya langsung kita dapatkan.

d) Anda bahkan bisa memfoto wajah anda dan dapat ukuran jelas dari wajah anda untuk misalnya beli frame kaca mata secara online (berhubung beli frame kaca mata online tidak bisa dicobain dulu)

lenovo-thinkpad-x1-tablet-front-4

Dan masih banyak lagi. Memang fitur ini kurang umum dan terutama di Indonesia masih terbatas pemanfaatannya. Tapi sekali lagi, ini Thinkpad. Produk terbaik Lenovo. Sewajarnya berpikir ke depan dari pada sekadar memikirkan kebutuhan konsumen hari ini.

 

Yoga 900s

Jadi, Yoga 900s itu laptop…

YOGA 900S in Gold_Using Windows 10 in Laptop Mode

Yang bisa dilipat jadi tablet…

YOGA 900S in Gold_Using Outlook in Tablet Mode

Yang bisa dilipat seperti ini karena kita sering ingin menunjukkan sesuatu kepada orang yang duduk di hadapan kita.

YOGA 900S in Gold_Watching a Video in Stand Mode

YOGA 900S in Gold_Thin & LightSeketika saya jatuh cinta dengan produk yang satu ini karena secara desain, cantik sekali. Kalau saya punya, di hadapan semua orang bakal saya lipat lipat dalam berbagai macam bentuk. Pamer aja. Biar yang lain iri.

 

PHAB plus

Yang ini, saya sudah punya. Dikasih Lenovo waktu mau berangkat ke Las Vegas.

Waktu pertama kali saya pegang di benak saya “Wah, besar juga ya (6,8 inch).. Gimana nelfonnya..”

Lalu saya bertemu dengan statistik penggunaan mobile device berikut:

18% penggunaan untuk nonton video

13% penggunaan untuk social media

12% main game

10% baca berita

7% baca e-book

7% nonton tayangan olah raga

3% kamera

Total 70% dari penggunaan mobile device oleh orang orang, bukan untuk menelfon.

Lalu saya terbayang enaknya skype-an pake Phab. Atau baca artikel online. Atau nonton youtube. Atau baca email. Atau main game. Atau edit video. Lalu saya memutuskan untuk menggunakan Phab plus.

Walau besar, Lenovo bilang ada fitur one-hand mode yang pada dasarnya merupakan shortcut pengoperasian dengan 1 tangan. Saya sih belum nyoba tapi harusnya fitur itu memudahkan penggunaan. Siap untuk 4G LTE. Dilengkapi Dolby Atmos . Full HD 1920 x 1080 p IPS. Benar benar cocok untuk 70% kegiatan umumnya orang dalam menggunakan mobile device

phab-lifestyle-2 phab-lifestyle-4 phab-lifestyle-5 phab-lifestyle-8

Pernah dengar ungkapan “What happens in Vegas, stays in Vegas” ?

Well something happened in Vegas, and it followed me home.

An affinity towards Lenovo

Lenovo yang percaya dengan produknya, terbukti berhasil membuat saya ngetweet bertubi-tubi ketika di CES 2016. Antusias dengan semua yang saya lihat, sensasinya seperti baru saja melihat sesuatu yang orang lain belum lihat dan ingin buru buru cerita ke semua orang.

Dari orang yang awam mengenai Lenovo, saya kini jadi orang yang bukan hanya ingin memiliki produk produknya, tapi juga mendukung kemajuan perusahaannya. I love the culture. The openness, the trust, the people and their passion. Saya tahu persis, Indonesia merupakan pasar yang penting untuk Lenovo. Amar Babu menyebut Lenovo melihat Indonesia sebagai entry-level market namun tetap menyediakan produk dalam segala macam pilihan. Rasanya akan tepat niat Lenovo untuk menggarap Indonesia lebih serius mengingat Indonesia adalah negara dengan rata rata usia penduduk yang muda. Ini berarti, peluang untuk memenangkan hati konsumen masih tinggi (biasanya kalau sudah dewasa, sangat kecil kemungkinan untuk berganti merk) dan merupakan rata rata usia orang yang sedang panas panasnya berkarya. Lenovo akan jadi mitra yang tepat untuk banyak orang Indonesia yang berkarya dan profesional. Orang orang yang dinamis, yang enggan untuk stagnan.

Never Stand Still, adalah sebuah slogan yang juga merupakan nafas dari Lenovo. Ini bisa menjadi sebuah ajakan kepada dunia untuk terus maju, terus berusaha, terus dinamis. Never Stand Still. Tapi juga menjadi sebuah janji dari Lenovo kepada dunia bahwa merekapun tidak akan berdiam diri. Inovasi adalah bagian dari gaya hidup mereka, bukan keterpaksaan sebagai solusi menyikapi kompetitor. Never Stand Still.

I love that slogan. Never Stand Still.

Kayaknya cocok kalau saya pinjam jadi slogan saya sendiri di tahun 2016. Berhubung sepanjang tahun saya akan terus bergerak dari kota ke kota, dari negara ke negara dalam rangka JURU BICARA Stand-Up Comedy World Tour.

Hari ini di Jakarta, minggu depan di Shanghai, minggu depannya lagi Medan, bulan depan di Munchen, berikutnya di Tokyo, lanjut ke Yogyakarta, kemudian ke New York, dan terus melaju ke kota kota lain dalam daftar tujuan tur saya di tahun ini.

Cocok kan?

Pandji Pragiwaksono. Never Stand Still.

 

 

 

 

 

 

Tidak suka uang

Saya takut, jangan jangan saya ini nggak suka uang.
Sejak lama saya memutuskan utk tidak mengambil job dari brand rokok. Padahal uangnya besar sekali. Andai saya masih mau kerja sama dengan merk rokok, mencari sponsor world tour bukan perkara susah. 
Saya juga sejak lama tidak mengambil job MC pernikahan. Padahal job wedding adalah job termudah dengan penghasilan tertinggi untuk MC. Kerjaannya relatif gitu gitu aja. Bayarannya bisa luar biasa tinggi. 

Tapi saya berhenti karena merasa tidak suka dengan pekerjaannya & merasa tidak cocok. Sehingga kalau ada pilihan antara istirahat & ngambil job wedding, saya memilih istirahat. 
Saya juga sudah tidak pernah ngambil job ultah sweet seventeen. Sebagai MC rasanya sudah tidak cocok. Sebagai komika saya paling males stand-up di depan anak SMP & SMA. Ngoceeeeeeh mulu. Heckling tanpa mereka bermaksud untuk nge-heckle. Jadi, saya tinggalkan kerjaan kerjaan ini.
Sementara itu, beberapa waktu yang lalu saya ketemu kawan yang dekat dengan manajemen Agnes Monica..

Agnezmo.. Agnez Monica.. Siapapun lah itu namanya skarang… Dia cerita, bahkan Agnez hari inipun masih ambil job nyanyi di wedding & sweet seventeen! Asal bayarannya masuk. Dan dari informasi yg saya terima, bayarannya ampun ampunan tingginya. 

Padahal, Agnez-pun sibuk banget. Tapi dia masih mau ambil job job begini. Karena uangnya layak.
Kenapa saya tidak ya..
Bahkan ketika kondisi ekonomi mendesakpun, saya tetap tidak ambil pekerjaan pekerjaan  tadi
Apa saya tidak suka uang?

Bahaya ini kalau memang saya tidak suka uang.

Keluarga saya butuh uang.
Apakah keputusan untuk tidak ambil job job tersebut kelak akan terbenarkan?
Atau kekhawatiran saya benar? Bahwa saya tidak suka uang?

Lah kita siapa?

Kalau lagi stand-up nyobain materi materi baru di beberapa openmic, saya suka lihat orang orang yang kesulitan membuat penonton ketawa. 

Turun panggung bingung. Salah di mana?

Lalu menyalahkan orang lain, itu kesalahan paling standar.

Pokoknya kalau saya lihat orang abis stand-up trus ngebom (gagal bikin ktawa) atau misalnya gak lolos audisi SUCI/ SUCA/ Street Comedy & nyalahin orang lain, saya tahu persis orang ini pasti belum ngerti stand-up.
Tapi gapapa, setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh-kembang.

Kalau bicara soal pertumbuhan, saya selalu ingat Louis CK.

Di bawah ini ada 3 video perubahan Louis CK

Dulu waktu 1988, dia kalau stand-up kayak gini: http://youtu.be/BWE1B_L0wiQ

Lalu di 2000an awal dia dapet pencerahan setelah ngobrol dgn George Carlin yg bilang dia selalu membuang materinya tiap thn & menulis lagi dari awal. Sesuatu yg dicoba oleh Louis & mnrt Louis membuat dia mau ga mau menggali keresahannya lebih dalam.

Berikut adalah stand-upnya di 2003 di mana mnrt dia untuk pertama kalinya dia merasa “bebas” & “utuh” sebagai seorang komika ketika dia akhirnya menemukan keberanian untuk naik panggung & berkata “Children are assholes” http://youtu.be/03qsJEJgAdE
Sekarang, Louis semakin dalam menggali keresahan manusia dgn berani membahas isu isu yang tidak ada komika lain berani bahas. Dan dia lakukan, di TV http://youtu.be/crjrWF-RRlg 
Jadi, kalau merasa belum lucu ataupun merasa udah lucu, kuncinya jangan berhenti belajar, jangan berhenti bertumbuh. Louis CK belajar terus. Lah kita siapa?

  

Nah kan? 

OG: Gue bingung knp komika materinya tiap manggung sama 
Saya: Lo pernah komplen ke band terkenal krn tiap manggung lagunya sama ga? 
OG: …… 
Saya: Nah kan?
OG: Tapi tiap hari ada kejadian yg bisa jadi inspirasi materi 
Saya: Tiap hari byk jg inspirasi utk lagu
OG: Tapi bikin lagu kan susah 
Saya: Lo pikir bikin materi standup gampang? Coba ngelawak skarang tentang pembunuhan
OG: …..
Saya: Nah kan?

Mikrofon saya sodorkan

8 Desember, 3 tahun yang lalu, saya turun panggung dengan rasa puas. Baru saja manggung sekitar 2 jam membawakan kebanyakan lagu lagu dari album ke 4 yg berjudul “32”.
Setelah itu, rap saya tinggal. Karena saya memutuskan untuk fokus pada 1 hal dulu. Karena sejak 2008 sudah ngerap, saya jalanin stand-up dulu. 1 tur nasional & 1 tur dunia berikutnya, kerinduan untuk ketemu penikmat musik saya melanda.
Diniatkanlah untuk kembali menghidupkan “Si Pandji rapper”.
Mulai lagi dari awal.

Nulis lagi.

Rekaman lagi.

Promo lagi.

Manggung lagi.

Bangun fanbase lagi.
Rilis Mixtape.

Rilis single baru.

Tur Jawa – Bali.
Sebenarnya saya tidak harus melakukan ini. Saya sudah sampai level tur dunia!

Tapi saya mau.

Saya mau capek lagi.

Saya mau mulai dari bawah lagi.

Apalagi ketika mulai jalan dari satu kota ke kota lain, saya semakin yakin:
Rap ini tidak akan pernah mampu saya tinggalkan.

Rap seperti rumah tempat saya berpulang setelah menjelajahi dunia.
Ada getar yang beda di panggung rap yang tidak akan pernah saya rasakan dalam stand-up.

Sulit dijelaskan dengan kata kata, tapi foto foto ini bicara banyak

   
    
    
   
Setelah ini, Jakarta.

  
6 Desember 2015. 3 tahun kurang 2 hari dari trakhir kali manggung di Jakarta.

Ini akan jadi spesial. Gamila akan naik panggung. Pangeran akan naik panggung. Teddy Adhitya akan naik panggung. Teman teman rapper yang saya yakin anda kenal juga akan hadir. 
Bagaimana dengan anda? Mau ikut menggila di Nusantarap Jakarta?
Tiket di ->  http://wsydnshop.com/event/rapjkt/
Sampai ketemu di Pong Me Gunawarman. Pastikan anda tahu apa yang harus dilafalkan, ketika mikrofon saya sodorkan

Desainer Grafis

Sebagai lulusan Fakultas Seni Rupa & Desain ITB dengan jurusan Desain. Saya tahu persis pentingnya yang departemen satu ini. Kuliah 4.5 tahun tidak membuat saya serta merta menjadi desainernya memang tapi saya bisa memberikan konsep, arahan, dan pada akhirnya pengambil keputusan final terhadap sebuah desain.Selama ini, desainer saya hanya 1 orang. Dia yang mengerjakan ini semua:
   
 Sekarang, saya mencari desainer baru untuk masuk dalam tim bersama Aan. Desainer yang saya cari saat ini, disesuaikan dgn kebutuhan karya & produk saya. Saya mencari desainer yang bisa mengerjakan hal hal berikut:

Desain merchandise (kaos, hoodie, phone case, dll)

Desain cover & layout buku

Desain cover DVD & CD

Desain logo & branding

Desain poster

Desain animasi / Motion Graphic
Enam jenis desain ini punya treatment, displin ilmu, tools, dan level kesulitan yang berbeda-beda, maka dari itu dgn melihat portofolio yg anda punya kami bisa menilai style dan level skill desain anda.
Salah satu kemampuan penting yg sering terlewat adalah kemampuan presentasi desain dlm wujud mock-up. Ini jadi kebutuhan dasar bagi saya & manajemen.
Kalau anda tertarik, mohon email ke info@pandji.com & mari bergabung sebagai freelance Desainer Grafis

Bukan di TV

Sebelas12 di Kompas TV sudah tidak ada.Bukan karena rating. Bukan karena KPI. Bukan karena Kompas TV. Tapi karena saya.

Saya suka kagum melihat program program TV yang umurnya panjang. Saya tidak pernah punya program yang rentangnya sampai 2 tahun.
Sebelas12 adalah program terlama saya. Sekitar 1.5 tahun. 

Program terlama ke 2 saya, adalah Provocative Proactive. 1 tahun lebih beberapa bulan. Tapi yang ini tidak bisa masuk hitungan, acara kami digugurkan oleh keadaan (link)
Saya baru sadar belakangan ini mengapa saya kurang cocok berkarya di televisi.

Karena saya gatel dengan kondisi konstan. Saya ingin progresif. Untuk progresif harus mau berubah.

Berubah, adalah sesuatu yang berat sekali dilakukan di dunia pertelevisian. Rating adalah salah satu penghambatnya.

Walaupun bukan rating yang membuat Sebelas12 sudah tiada.
Saya yang meninggalkan Sebelas12.
Padahal, Executive Producer saya, Produser saya & tim kreatif saya adalah yang terbaik yang pernah terlibat dengan saya selama saya di dunia TV.

Bayaran saya, adalah yang tertinggi selama saya megang acara.

Kalau saya tetap bertahan di Sebelas12, hidup saya lebih dari cukup.

Meninggalkannyapun saya berbincang lama dengan istri karena akan berdampak kepada keuangan.
Masalahnya, bukan uang.
Tapi rasa gatal tadi.

Gatal untuk memberikan yang terbaik. Lalu menjadi lebih baik lagi.
Kompas TV sudah fasilitasi Sebelas12 dengan sangat baik menurut saya.

Kami sama sama ingin program Late Night yg bagus, yg orisinil dengan berpijak pada tradisi Late Night yang benar.

Kami tidak mencontek bahkan sering dicontek program lain.

Mungkin karena kami bagus.
Tidak ada program Late Night lain di Indonesia yang mampu menawarkan Monolog seperti yang kami lakukan. Karena tidak ada program late night lain di Indonesia yang hostnya bisa stand-up.

Tidak ada program Late Night lain yang bisa memuat current issue & hard news dalam obrolan dengan bintang tamunya yang membuat mereka juga senang karena ditanya isi kepalanya bukan hanya sekadar dimanfaatkan keartisannya.

Dari artis sampai desainer, juga anggota DPR, sampai Menteri pernah jadi tamu kami. Semuanya menjadi lucu hanya dengan menjadi diri mereka sendiri.

Itulah salah satu ciri khas Sebelas12.

Kami membuat mereka (para tamu) lucu & tidak asik lucu lucuan sendiri.Becandaan saya dalam obrolan, berangkat dari cerita & omongan para tamu. 
Beberapa kali tamu saya memuji acara. Tapi salah satu pujian terbaik datang dari Marshanda. Usai shooting dia mendatangi saya & berkata dengan serius..  “Thank you. I love your show. Its not like any other show. You respect your guest”

Mungkin hanya di acara kami, dia tidak ditanya tanya tentang sensasi, gosip & “meltdown”nya di internet.
Saya sempat ditanya anak kreatif mau menanyakan soal semua tadi atau tidak. Saya menjawab “Ini bukan acara seperti itu”
Tapi, pada akhirnya saya berkeputusan untuk tidak menerima tawaran perpanjangan oleh Kompas TV.
Alasannya?
Karena saya lelah dengan batasan.
Tapi mau gimana lagi, di TV tentu akan ada batasan. Karenanya saya tidak menyalahkan Kompas TV. Saya memutuskan untuk berhenti.
Dan memindahkan segala ide kreatif ke sebuah platform yang lebih bebas. Tidak ada KPI, tidak ada NMR, tidak ada batasan batasan & tidak ada uangnya. Hehehe. Setidaknya belum ada.
Sebenarnya kabar Sebelas12 sudah tidak ada sudah terendus Indosiar & mereka menawarkan saya untuk membuat Late Night stripping. “Kita buat yang lebih keren Ndji”
Tapi saya menolak. Saya takut dengan kuatnya keimanan mereka terhadap rating.

Akhirnya saya jawab “Nggak mas. Saya di TV kerja aja. Gak mau berkarya”

Artinya saya masih mau kerja di TV tapi tidak lagi berkontribusi secara kreatif. Tidak mau lagi bikin karya di TV.
Saya memutuskan untuk berkarya lagi dengan tim sendiri.

Sudah saatnya saya mewujudkan sesuatu yang sudah lama ingin saya kerjakan.
Sudah saatnya, semangat Provocative Proactive saya bangkitkan lagi.
TV tidak akan mampu menampung karya ini.
Karena kami berani mengucapkan hal hal yang tidak akan mau mereka tayangi.
Nantikan karya saya ini, sebentar lagi.
Bukan di TV