OKOTRIP

Apa yang salah dengan pertanyaan di atas?

Selain bahwa orang tersebut yang ceritanya mau mendukung Pak Basuki mungkin ga tau bahwa bis Trans Jakarta di foto tersebut ironisnya adalah sumbangan salah satu perusahaan Sandiaga Uno, Tower Bersama,  pertanyaan di atas seharusnya dijawab dengan “Tergantung”.

🙂

Saya terus terang sangat tertarik ketika membicarakan masalah transportasi kota. Kalau anda sudah baca buku saya yang judulnya “Menemukan Indonesia” yang anda bisa beli di sini , anda tahu saya membahas secara dalam soal ini dari pengalaman saya keliling dunia.

Rejeki Tuhan, bakat melawak, dan kemampuan handal dalam jualan proposal, memberikan saya kesempatan bisa mencoba moda transportasi umum di sejumlah negara. Saya nyobain subway di negara dengan penduduk terbanyak dunia. Tepatnya di Beijing, Shanghai dan Guangzhou. Saya juga nyobain naik bis di Beijing dan ketika saya kuatir akan berdesakan (kan penduduknya China terbanyak di dunia), ternyata bisnya kosong. Menurut kawan, adalah karena jumlah bisnya yang banyak dan tidak pernah telat.

Saya juga pernah nyobain NYC Subway yang bisa mengangkut sekitar 6 juta manusia per hari. PER HARI. Ada jam jam penuh, ada pula jam jam kosong. Miriplah dengan Commuter Line Jakarta.

Dengan kemampuan angkut 6 juta manusia per hari, NYC masih macet pula.

Saya pernah nyoba Tube-nya London, salah satu moda transportasi umum tertua di dunia, bisa 1 milyar manusia per tahun.

Saya pernah nyoba berbagai moda transportasi umum di Melbourne yang mendapatkan predikat “The Best City To Live In The World” salah satunya karena infrastrukturnya.

Saya juga pernah nyoba MRT di Tokyo, Jepang. Yang merupakan target orang bunuh diri di sana.

Jadi ketika ada kabar bahwa DKI Jakarta akan punya LRT. Saya girang bukan main.

“Sudah waktunya” pikir saya.

Kalau anda nonton Bhinneka Tunggal Tawa, pertunjukan spesial stand-up comedy saya di 2011, saya bahas mengenai Jakarta yang malnya begitu mewah hanya punya Trans Jakarta sebagai moda transportasi paling mutakhir. Kalah dengan Guangzhou yang sudah punya subway. Sebuah kota di Tiongkok yang penduduknya masih boker di trotoar jalan dan orang naikin mobilnya ke trotoar karena mau melawan arah.

Walaupun agak terlambat memulai, tapi diperkirakan LRT ini akan selesai dalam 2 tahun. Setelahnya akan terus ada penambahan koridor, seperti Trans Jakarta yang merupakan gagasan Bang Yos, programnya berlanjut terus ke jaman Foke, Jokowi dan kini Basuki. Kekhawatiran terbesar proyek LRT bukanlah pada pergantian Gubernur, tapi pada pendanaan proyek LRT ini seperti yang dikuatirkan oleh Bang Faisal Basri.

Tapi pertanyaannya kemudian, apakah LRT saja akan menyelesaikan macet ibu kota?

Rasanya tidak. Pertama karena adanya pembangunan 6 ruas jalan tol.

Lebih banyak infrastruktur kendaraan menghasilkan lebih banyak pengguna kendaraan pribadi, yang akan menghasilkan kebutuhan lebih tinggi lagi untuk infrastruktur kendaraan. Muter terus ga selesai selesai. Masalah dari 6 ruas jalan tol ini sudah diperdebatkan sejak lama. Kawan saya Benhan pernah bercerita dengan jelas di sini. Dan memang 6 ruas jalan tol ini sudah problematik sejak lama

Kedua, karena tidak semua area Jakarta bisa dilalui oleh LRT dan Bis Trans Jakarta. Beberapa area pelosok, jalannya tidak terlalu lebar untuk bisa dilalui bis. Karena itu yang penting adalah Integrated Public Transportation System. Integrasi antar seluruh moda transportasi di Jakarta.

Nah sekarang saya mulai dekat dengan pertanyaan dari foto di atas tadi. Orang tadi bertanya “Pilih naik Mikrolet atau bis Trans Jakarta”.

Tergantung.

Tergantung saya mau ke mana.

Coba lihat realitanya kota Jakarta.

Ini adalah foto foto yang saya ambil dan rasanya pemandangan ini jamak anda temui di banyak daerah menuju anda tinggal.

Banyak sekali area di Jakarta yang tidak bisa dilalui oleh Bis Trans Jakarta.

Coba saya tanya…

Apa persamaannya bajakan dengan angkot?

Sama sama lahir dari kebutuhan.

Saya sering mengatakan “Bajakan adalah cara konsumen memaksa industri untuk melakukan perubahan”. Kalau anda sudah baca buku INDIEPRENEUR yang bisa anda beli di sini, anda akan tahu bahwa setiap kali industri berubah, adalah karena ada para pembajak. Akankah ada iTunes hari ini seandainya tidak ada Napster?

Makanya perubahan jangan dilawan, tapi dirangkul.

Hubungannya dengan angkot?

Angkot lahir karena konsumen memaksa.

Jakarta itu kota yang rada aneh dari sisi bentuk.

Umumnya kota itu antara radial atau grid, ada beberapa bentuk lain tapi rasanya yang umum adalah 2 tadi. Ini kelak akan mempengaruhi rancangan transportasi umum di kota tersebut.

Jakarta, adalah kota yang unik. Kalau anda lihat dari ketinggian, anda akan menyadari bahwa Jakarta itu awut awutan.

Bandingkan dengan kota seperti New York atau Chicago yang bentuknya grid sehingga anda bisa memahami konturnya. Kita bisa hitung berapa blok jarak dari sini ke sana.

Karena bentuknya yang berantakan, lahirlah kebutuhan untuk punya moda transportasi yang bisa masuk ke pedalaman. Ke area area perumahan. Lahirlah kebutuhan akan Mikrolet, Angkot , dan Ojek.

Saya sempat lama tinggal di Villa Bintaro Regency di belakangnya sektor 9. Sekolah saya di Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Pasar Minggu.

Dari sekolah, saya naik KWK S.11 lalu lanjut KWK 08, lalu lanjut D.09, lalu lanjut C.02, baru sisanya saya jalan sekitar 15 menit untuk sampai ke rumah. Sebenarnya dari Gonzaga saya bisa naik Kopaja, tapi naik angkot lebih cepat karena dia bisa masuk masuk rute memotong yang tidak bisa dilalui Kopaja dan Metro Mini karena terlalu besar.

Angkot. Lahir dari kebutuhan.

Angkot adalah cara masyarakat menuntut perubahan.

Jangankan angkot, di komplek perumahan saya, Odong-odomg jadi mda transportasi. Kaga bohong saya.

Isinya ibu-ibu semua, sampe supermarket, turun ngasi duit ke supirnya.

Itu terjadi karena kebutuhan.

Jangan angkot dihapus dan diganti bis 9-10 meter seperti keinginan Pak Basuki.

Angkot dijadikan bagian dari perubahan yang harus dirangkul dan diubah sistemnya jadi lebih baik.

Sebagaimana kini naik Ojek jadi jauh lebih dapat diandalkan, ketika lahir Gojek dan Grab Bike yang memberikan sistem lebih baik kepada para riders. Dulu orang padahal maki maki ojek. Sekarang, orang bule aja pada naik ojek karena mereka tahu inilah solusi transportasi yang cocok dengan kontur Jakarta. Ini yang Jakarta butuhkan.

Anda mau punya bayangan kira kira bis 9-10 meter yang Pak Basuki inginkan seperti apa?

Besarnya seperti ini.

Ini 10 meter. Coba bayangkan masuk area perumahan anda.

Solusi Pak Basuki, menggambarkan ketidak mampuan beliau untuk membaca keadaan sesungguhnya kota Jakarta dan keengganan beliau untuk mendengar kebutuhan warganya sendiri.

Ya begitulah kalau Cuma bisa kerja tapi ga bisa punya gagasannya.

Lalu memang apa yang ditawarkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno?

Perkenalkan: OKOTRIP

Sebuah solusi integrasi transportasi umum Jakarta dari Anies Sandi

Klik di sini untuk lengkapnya http://jakartamajubersama.com/transportasi-terintegrasi

 

Ketimbang menghapus angkot yang adalah wujud keinginan masyarakat Jakarta.

Ketimbang menghapus angkot dan menghilangkan penghasilan sebagian warga Jakarta (karena kalau diganti bis, tentu 1 bis akan memuat lebih banyak penumpang dan menjadikan jumlah bisnya lebih sedikit daripada jumlah angkot, yang berarti jumlah supir yang dipekerjakan lebih sedikit)

Mas Anies dan Bang Sandi berencana merangkul angkot dan mengubah mereka jadi lebih akuntabel. Lebih profesional sehingga ga ada kejadian gantian supir di tengah jalan.

Dibangun manusianya sehingga lebih tertib dalam berkendara. Mas Anies memang berencana membuat pendidikan dan sertifikasi supir kendaraan umum, termasuk angkot. Sesuatu yang disetujui oleh instruktur pengemudi Trans Jakarta.

Diganti sistem penghasilannya jadi berdasarkan kilometer tempuh sehingga tidak perlu ngetem dan kebut kebutan.

Lalu ketika sudah dirangkul, diintegrasikan dengan Trans Jakarta.

Sehingga misalnya anda mau pacaran, anda bisa naik angkot dari rumah, lanjut Trans Jakarta, lanjut angkot lagi sampai depan rumah dia, dengan tarif hanya Rp 5000,-

Gimana caranya?

“Tap-in, Tap-out”

Masyarakat Jakarta akan dibiasakan menggunakan kartu electronic money dari Bank DKI. Setiap kali naik angkutan umum, penumpang diminta untuk menempelkan kartunya (tap-in) di card reader yang tersedia di dekat pintu masuk angkutan tsb. Begitu pula ketika hendak turun, harus tap-out. Ketika turun dari angkot dan hendak naik Transjakarta, maka penumpang tsb akan tap-in kartunya lagi di halte Transjakarta. Apabila jarak antara tap-out di moda sebelumnya dan tap-in di moda lanjutannya kurang dari 30 menit, maka saldo tidak akan terpotong lagi.

Sistem ini sudah sangat umum di banyak negara dunia.

Di Indonesia bahkan pernah diterapkan di BRT Trans Musi di Palembang.

Lah emang pemprov dana-nya ada?

Lah adaaaa. Banyaaak. Pemasukan pemprov DKI Jakarta dari kendaraan pribadi itu begitu tinggi. Sementara subsidi ke Trans Jakarta dari pemasukan tersebut masih relatif kecil.

Pajak dari sektor transportasi (pajak penjualan kendaraan bermotor, pajak balik nama, pajak bahan bakar, pajak dan retribusi parkir) secara keseluruhan merupakan Pendapatan tertinggi bagi pemprov DKI Jakarta. Tahun 2016 yang lalu, nilainya sekitar 15 triliun rupiah. Jauh lebih tinggi dibanding PBB yg ada di peringkat ke-2 urutan penyumbang PAD terbesar sekitar 6 triliun saja.

Selama ini, dari 15 triliun itu, ga lebih dari 20% yang dialokasikan kembali ke sektor transportasi dalam bentuk pembangunan dan perawatan jalan, maupun untuk penyelenggaraan Transjakarta dan sistem pendukungnya.

Harusnya berlaku polluters pay principle di mana penyebab polusi dituntut  berkontribusi lebih. Dalam hal ini untuk transportasi umum kota Jakarta.

FYI: 75% polusi udara di Jakarta bersumber dari asap knalpot kendaraan bermotor.

Jadi sebenarnya kalau pemprov mau, mereka bisa jadikan Trans Jakarta gratis. Ada kok uangnya. Tapi tentu kita tahu, yang gratisan akan membuat orang kurang menghargai, jadi dibikin murah. Hanya Rp 3500,- saja.
Ini hanya masalah keberpihakan. Bisakah pemimpin Jakarta memahami warganya, bukan hanya yang naik mobil, tapi yang naik kendaraan umum. Bukan hanya yang naik kendaraan umum tapi yang mengendarai kendaraan umum.

Maukah pemimpin Jakarta menunjukkan keberpihakannya? Memperjuangkan, apa yang sebenarnya warganya inginkan.

Sampai sini saya mau mengatakan bahwa solusi yang Pak Basuki tawarkan tidak salah. Menghilangkan angkot dan menggantinya dengan bis bisa jadi solusi yang beliau anggap terbaik. Saya sangat yakin sudah beliau pikirkan. Beliau bahkan bisa jamin angkot kalau tetap mau beroperasi tidak akan bisa menang lawan beliau.

Pada akhirnya, itu keputusan yang jadi hak pemimpin Jakarta.

Anda tinggal memilih mau cara memimpin yang mana.

Kalau saya, jelas sekali lebih menyukai OKOTRIP

Bayangkan, akhirnya anda bisa mengukur pengeluaran transportasi dengan lebih jelas. Rp 5000 sekali jalan. One Trip. Naik angkot, pindah TJ, pindah angkot. Sekali bayar. Atau naik angkot, ganti angkot, pindah ke TJ, tetap hanya bayar Rp 5000

Betapa leluasa sisa uang yang anda miliki.

Kita tahu hidup di Jakarta, penuh perjuangan. Sebisa mungkin segala kepastian dibutuhkan untuk perencanaan. Termasuk keuangan. Termasuk perencanaan kebutuhan uang untuk transportasi Jakarta.

Kalau menurut anda ini solusi yang sip, jangan lupa pilih OKOTRIP.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Strategi

Kenapa pendukung Paslon 2 seneng banget ngomongin Anies Sandi ya…

Kenapa mereka nggak fokus pada Paslonnya sendiri?

Padahal kalau dipikir pikir, bukan Anies Sandi lho, Petahana yang tingkat populeritasnya sempat 92,6%  tapi gagal memenangkan satu putaran karena hanya mampu unggul 3.04%. Tidak sampai 300.000 suara.

Bukan Anies Sandi lho yang gagal meraih suara pemilih muda. Padahal punya dukungan selebritas luar biasa dari Tompi sampai Slank, lihat saja Konser Gue 2 yang dipenuhi para pendukung.

Bukan Anies Sandi lho yang punya jumlah pasukan digital terbanyak

Anak muda paling banyak di mana sih? Socmed kan?

Yang tim digitalnya paling gede siapa sih? Petahana kan?

Kok bisa gagal meraih suara pemilih pemula di putaran pertama?

Kok gagal?

 

Pendukung sebelah sana selalu menuding agama sebagai alasan Anies Sandi unggul. Karena itu yang mereka yakini, sulit untuk diberi tahu kebenaran yang ditemukan oleh orang yang memang pekerjaannya melakukan riset untuk kampanye politik seperti ini. Bahwa..

data putaran pertama pilkada menunjukkan kecerdasan pemilih Jakarta. Mereka tak membeli isu murahan–suku, agama, antargolongan.
Exit poll Indikator Politik menunjukkan hanya 7 persen pemilih menjadikan agama sebagai alasan mencoblos. Sebanyak 93 persen lainnya memilih karena kecakapan kandidat, kejujuran, program kerja, atau alasan lain. 

Baca lengkapnya di sini

Mereka tidak bisa percaya itu. Menurut mereka, survey itu tidak mungkin benar. Dengan segala hingar bingar sentimen Agama di social media, pasti alasan utama mereka gagal satu putaran dan hanya unggul tipis dari Anies Sandi adalah, Agama.

Di sinilah mereka gagal untuk memahami permasalahan mereka sendiri. Terlalu sibuk menunjuk kesalahan orang lain, tapi gagal mengangkat kebaikan diri sendiri.

Perhatikan baik baik artikel ini.

Di situ dibahas (sudah dibahas sejak lama bahkan) dan juga disebut sendiri oleh Pak Basuki,  bahwa tingkat kepuasan kinerja Pak Basuki sebenarnya tinggi. Tapi tingkat elektabilitas jauh lebih rendah.

Alias suka sama hasil kerjanya tapi ga suka sama orangnya.

Lalu bagaimana cara tim paslon 2 menyikapi ini?

Selama ini kampanye-nya petahana selalu mengenai apa yang sudah dikerjakan. Dari Kalijodo yang diubah jadi RTH, foto foto artis pendukung Petahana di proyek Subway, Sungai yang bersih, dll.

Lah orang orang mah udah tahu soal ini dan memang sudah menyatakan puas dengan kinerja.

Yang bikin mereka tidak memilih seperti yang artikel tadi katakan, adalah gaya kepemimpinannya. Ini yang harusnya jadi fokus kampanye-nya. Ini yang orang harap lihat ada perubahannya.

Lalu kenapa mereka tidak kampanye ke arah sini?

Karena mereka tahu mereka tidak bisa ubah gaya kepemimpinan Pak Basuki.

Dari ucapan beliau terkait Al Maidah, sampai ucapan beliau bahwa memilih berdasarkan agama itu melawan konstitusi, sampai marah marah pergi meninggalkan acara KPUDKI padahal sendirinya entah kenapa tidak menunggu di ruangan yang diberikan KPUDKI, masyarakat berulang ulang melihat dengan mata kepalanya sendiri: Ternyata beliau tidak berubah.

Maka ketika mengangkat kinerja itu seperti menggarami air laut, mengubah perilaku Pak Basuki tidak mungkin, maka mereka pindah melakukan hal yang belakangan ini gencar sekali lakukan: Menjatuhkan Mas Anies dan Bang Sandi dengan cara asosiasi.

Apakah berhasil?

Apakah berhasil mengingatkan publik bahwa Titiek Soeharto, Tommy Soeharto adalah bagian dari klan Cendana? Apakah berhasil mengingatkan pemilih bahwa FPI rapat ke Anies Sandi? Bahwa pendukung Anies Sandi ada yang menggunakan sentimen agama?

Bisa jadi berhasil.

Tapi datang dengan resiko.

Melakukan semua di atas, jatuhnya jadi keliatan kayak menyerang dan marah marah di jejaring sosial.

Anak muda tidak suka itu. Pemilih pemula tidak suka itu.

Sejak awal masa kampanye, saya berpikir di mana kelemahan Goliath bernama Basuki Tjahaja Purnama ini?

Lalu secara tidak sengaja saya nonton film “World War Z”-nya Brad Pitt. Di situ, ada kalimat “Perhatikan baik baik, biasanya justru dibalik kehebatannya (virus yang menyebabkan orang jadi kayak zombie) justru tersimpan kelemahannya.”

Saya baru sadar.

Kehebatan tim Paslon 2, adalah jumlah pasukan digital yang luar biasa. Tapi justru disitulah, letak kelemahannya. Saking banyaknya jadi cenderung mem-bully. Saking banyaknya jadi susah diatur.

Sejak itu, saya berhenti berargumen dengan buzzer buzzer paslon 2. Membiarkan mereka beringas. Membiarkan mereka mengamuk. Membiarkan mereka secara tidak sadar menampilkan, apa yang ternyata merupakan kelemahannya.

Di mana fokus saya dan teman teman digital paslon 3?

Kampanye gagasan dan program, serta menggaet suara pemilih pemula.

Seperti yang saya jelaskan di sini

Kenapa? Karena kami percaya diri dengan paslon kami sendiri, sehingga kami sudah terlalu sibuk membahas dan beradu program serta kompetensi kami untuk bahkan membahas yang lain.

Misalnya membahas program OKOCE atau DP 0 atau bahkan mengenai KJP+ dan KJS+

Harapannya, dengan paslon 2 terus membicarakan kami, mereka jadi tidak membahas paslon mereka sendiri. Sementara pemilih terus membaca mengenai gagasan gagasan kami. Termasuk yang ikut diramaikan di social media oleh pendukung paslon 2 hehehe.

Jadi, kepada pendukung paslon 2 yang membaca ini, sisa masa kampanye putaran 2 ini mungkin sebaiknya berhenti ngomongin paslon lain seakan akan dari paslon sendiri tidak ada yang bisa diomongin.

Kecuali, saking bingungnya mau angkat apa tentang paslonnya sendiri, hanya itu yang anda pilih sebagai sebuah strategi.

 

DP 0

“Kamu pasti suka lingkungannya…”

Itu kata Gamila sambil mengarahkan saya memasuki sebuah komplek perumahan di daerah Rawamangun.

Sejak menikah, kami tinggal di rumah Mama-nya Gamila di Kelapa Gading. Menyenangkan sesungguhnya, tapi sejak awal kami tentu mengidamkan rumah sendiri. Apalagi ketika 2007, 2008, 2009 selama 3 tahun berturut turut kami kebanjiran. Saya berjanji kepada Gamila, kalau 2010 kita masih kena Banjir, itu jadi kesalahanku. Kita akan cari rumah.

Saya nyari nyari rumah pakai rumah123.com hehe. Standar-laah, tentuin area, tentuin anggaran yang kami mampu, lalu cari. Rumah rumah yang saya temukan di website itu tidak ada yang sreg di hati. Gamila sementara itu, lebih suka naik mobil dan keliling keliling area tersebut. Sesuatu yang menurut saya buang buang waktu. Saya tidak ada waktu untuk itu.

Tapi suatu hari, Gamila bilang dia menemukan rumah mungil yang dijual. Belum tahu harganya, tapi dia mau ajak saya dulu untuk lihat.

Maka berangkatlah kami.

“Kamu pasti suka lingkungannya…”

Gamila mengarahkan saya yang masih agak nggak yakin dengan metodanya mencari rumah. Nyetir mondar mandir keluar masuk perumahan..

Saya sempat nanya “Ini gerbang kompleksnya yang mana? Kok tiba tiba udah perumahan?”

“Masuknya dari depan, dari jalan Pemuda. Ini aku ajak kamu masuk dari belakang..”

Tidak lama dari ucapan tadi, kami melintasi lapangan basket.

“Tuh ada lapangan basketnya” kata Gamila.

Mata saya langsung berbinar binar.

She knows how to win me 🙂

Tak jauh dari lapangan basket, saya ditunjukin rumahnya. Saya suka dengan rumah tersebut. Berjuang sekuat tenaga untuk kumpulin uangnya, rumah kami beli, renovasi sana sini, dibohongin arsitek dan kontraktornya, ngomel ngomel, lalu pada tanggal 18 November 2010, tepat di hari ulang tahun Gamila, kami pertama kali tinggal di rumah kami hari ini.

Saya masih ingat Tahun Baru 2011, saya Gamila dan Dipo melihat kembang api menghiasi langit Rawamangun dari kamar tidur kami yang belum terlalu lengkap furniture-nya.

Sampai detik ini, 7 tahun berlalu, saya tidak pernah main basket di lapangan yang Gamila tunjuk. Tidak perlu memang. Gamila hanya menunjukkan itu untuk memenangkan hati saya. Dan dia berhasil. Malahan saya sering ke lapangan tersebut untuk menemani anak anak main skuter.

Tapi perjuangan saya untuk bisa membeli rumah (dan mengongkosi renovasinya) itu teramat berat. Saya ingat uang yang saya gunakan untuk menyiapkan DP didapatkan dari mengerjakan bertahun tahun mengambil  program stripping (program yang tayang setiap hari dari senin-jumat atau bahkan senin-minggu) di televisi. Hole In The Wall RCTI dan Selamat Pagi Trans 7 di 2007-2008, CasCisCus di ANTV tahun 2008, lalu setelah kena banjir di 2009 dan berjanji 2010 tidak akan kena hal yang sama, saya ambil job stripping Boombastis di RCTI tahun 2009.

Rencananya sebelum Februari 2010 kami udah pindah ke rumah baru. Maklum tiap Februari curah hujan Jakarta menggila. Tapi arsitek dan kontraktor kami kerjanya lelet dan banyak alasan. Untung waktu itu tidak banjir. November 2010 kami pindah. Februari 2011, Gading banjir lagi. Sampai terakhir Februari kemarin rumah mertua saya dan akses menuju ke sana masih kena banjir.

Pada masa ngumpulin DP dan cicilan beberapa bulan itu, badan mau rontok rasanya karena dihajar kerjaan setiap hari dari subuh sampai jam 2 pagi. Kalau ada yang punya album ke dua saya (YNKWSCIAPPOYPL) pasti inget satu skit yang menggambarkan saya pulang jam 2 pagi dan besok harus stand-by subuh..

Tapi perjuangan saya membuahkan hasil.

Rumah kami miliki.

Waktu itu tidak ada keraguan sedikitpun untuk beli rumah karena kami tahu, nilainya akan naik terus. Ini bukan sekadar beli barang. Ini investasi. Nilai rumah kami hari ini (apalagi karena sudah renovasi besar dan fully furnished dengan furniture yang Gamila desain sendiri) sudah jauh dari ketika rumah kami beli.

Maka berjuanglah saya dan Gamila untuk mewujudkan mimpi: Punya rumah di Jakarta.

Tapi, untuk banyak sekali warga Jakarta, termasuk mungkin untuk anda, kondisinya jauh lebih susah dari pada yang saya alami.

Yang brengsek dari beli rumah ini karena harganya yang teramat mahal. Kecuali anda Raditya Dika, nggak mungkin beli rumah secara tunai.

Jadi orang orang seperti anda dan saya ya akhirnya KPR. Nyicil rumah. Tenornya panjang.

Tapi yang jadi perkara sekarang, adalah DP. Seperti cerita saya tadi, untuk seorang presenter semi-terkenal seperti saya, dibutuhkan 2-3 tahun untuk nyiapin DP dan tambahan cicilan beberapa bulan supaya aman ke depannya nanti. Saya bisa membayangkan beratnya anda yang first jobber misalnya atau karyawan.

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, niatnya sebenarnya sederhana: Memberikan warga Jakarta peluang untuk bisa memiliki rumah di Jakarta.

Banyak warga kelas menengah ke bawah terpaksa mencari ke luar kota Jakarta untuk memperbesar peluang untuk punya rumah. Dampaknya kepada waktu dan tenaga yang habis karena keluar – masuk Jakarta dari misalnya Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, dll. Bangun jauh lebih dini, berjuang di pagi hari untuk naik KRL, Trans Jakarta. Sampai kantor tenaga sudah tersedot. Nanti malam, ketika sudah tersedot habis, masih harus melakukan perjalanan yang sama.

Andai punya rumah di Jakarta.

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, premis-nya sebenarnya sederhana: Kenapa untuk barang barang yang nilainya turun, dimudahkan. Sementara untuk yang nilainya naik, yang bisa jadi investasi, tidak dicari terobosannya? Kita bisa nyicil HP, motor, yang nilainya turun. Sementara untuk beli rumah kok ga ada solusinya supaya rakyat digampangkan?

Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, dasarnya sebenarnya sederhana: Keberpihakan.

Berpihak.

Itu dasarnya. Berpihak kepada rakyat yang mendambakan rumah. Sebagai pemimpin, Gubernur sebaiknya tidak berkata “Nggak bisa! Nggak mungkin”

Padahal bisa. Padahal mungkin.

Emang susah kalau bisa kerja tapi ga bisa punya gagasannya.

Taunya menjalankan tapi minim dalam strategi, gagasan dan perencanaan.

Losers say “ I Cant”, Champions say “Its hard, but we can try”

Berpihak kepada rakyat, baru sang pemimpin berkata: Mari kita cari caranya.

Karena kalau dipikir pikir, Sandang Pangan Papan adalah kebutuhan dasar.

Masak baju beli, makanan beli, rumah hanya boleh nyewa? Terutama kepada kelas menengah ke bawah?

Pilihan untuk bisa memiliki sudah sewajarnya disediakan Pemerintah. Dipikirkan caranya. Dirancang gagasannya.

Dan pada akhirnya, jalannya ketemu juga.


Rangorang di jejaring sosial ramai menertawakan dan mengatakan itu program mengawang awang..

Tapi mereka, adalah partisan. Antara mereka pendukung Petahana, atau tidak menyukai Anies dan/ atau Sandi.

Dalam heningnya, warga non-partisan memantau. Menunggu. Memperhatikan sambil berharap.

Karena merekapun, dalam heningnya di jejaring sosial berharap ini mungkin terjadi.

Lama lama, mungkin karena jengah juga cemoohan para pendukung Petahana yang mulai berlebihan, secara organik muncul orang orang yang menyatakan bahwa DP0 itu sangat mungkin dan justru bagus untuk menunjukkan keberpihakan Pemerintah.

Tulisan mulai bertebaran di jejarin sosial. Dari seorang mantan anggota DPR, pengamat housing and urban development, ekonom, sampai seorang perempuan Indonesia yang tinggal di Philadelphia dan merasakan program DP0 dari pemerintah sana.

Lama lama, mulai terungkap dengan sendirinya bahwa DP0 tidak berlawanan dengan aturan BI karena di aturan tersebut pada pasal 17 tertulis bahwa DP0 diperbolehkan HANYA untuk program perumahan pemerintah pusat dan/ atau pemerintah provinsi.


Lama lama orang sadar di luar negeri program penyediaan rumah untuk warga memang harus ada dan rata rata memang inovatif sesuai dengan kebutuhannya. Singapore adalah negara yang program penyediaan rumahnya betul betul inovatif, ada program untuk yang baru pertama kali mau beli rumah, untuk ke dua kalinya beli rumah, yang udah sepuh, bahkan yang jomblo. Okelah anda berargumen tapi pendapatan per kapita mereka beda dengan Indonesia, misalnya, tapi kalau anda baca baik baik, kuncinya adalah keberpihakan pemerintah. Jalannya dicari. Diperjuangkan.

Bahkan ada program perumahan dari Pemerintah Pusat berupa DP 1% hehehe

Kini semua pertanyaan soal “ Di mana rumahnya? Seperti apa rumahnya? Nanti kejadian Sub Prime Mortgage dong kayak di US?  Ancur dong APBD DKI? Ide gila macam apa ini? Emang pernah dipraktekkan di negara lain atau kota lain? Nanti orang orang kaya yg pada beli dong? DP 0 itungannya gimana? Emang mungkin?” terjawab sudah.

Yang tersisa adalah pertanyaan pertanyaan kurang signifikan dan sekadar sinikal seperti “Loh kok sekarang bentuknnya rusun? Katanya rumaaaah?”

  1. Rusun itu, RUMAH susun. Bukan RUJAK susun. Anak manajemen saya yang tinggal di rusun juga ngomongnya “Pulang ke rumah”. RUMAH is the place we live in. Rumah adalah tempat tinggal kita.
  2. Lagipula, hanya para pendukung kubu seberang yang ketika dengar kata “rumah” langsung berasumsi ini adalah rumah dengan atap. Memang begitu resikonya kalau bereaksi terburu buru sebelum dapat infonya dengan lengkap. Nyinyir didahulukan, akurasi terbelakangkan.

 

Untuk anda, yang memimpikan memiliki rumah di kota Jakarta, saya undang untuk membaca penjelasan lengkap tentang DP0 di sini.

Sebuah usaha dari Mas Anies dan Bang Sandi untuk menunjukkan keberpihakannya kepada anda. Dan memutuskan untuk memperjuangkan mimpi anda. Walaupun cemoohan orang orang di sekitaran terhadap mereka.

Jangan gusar dengan ucapan ucapan sekitar yang mengatakan “Nggak Mungkin”

Dulu, orang kita juga bilang seetelah ratusan tahun dijajah, Merdeka itu “Nggak Mungkin”

Dulu, orang bilang perbudakan dihilangkan itu “Nggak Mungkin”

Dulu bahkan, mungkin sekitar tahun 90an kalau anda bilang mau ke Bandung dari Jakarta dalam 2 jam, yang dengar akan bilang “Nggak Mungkin”

Hehe, jangankan itu, baru aja sekitar tahun 2000-an awal orang bilang Stand-Up Comedy “Nggak Mungkin” hadir di Indonesia. Orang Indonesia nggak akan siap.

Juga nggak mungkin orang Indonesia bisa tur dunia.

Saya tur dunia dengan melakukan stand-up comedy, 2 kali.

Its always impossible until someone does it.

Berlaku kepada banyak hal, termasuk kepada program penyediaan rumah untuk warga Jakarta gagasan Anies-Sandi, DP 0

 

 

 

 

 

OKOCE

Salah satu hal paling menyedihkan, adalah melihat orang menyerah dengan impiannya.

Kalau anda pernah lihat orang yang sudah memutuskan untuk menyimpan impiannya dalam dalam, anda akan tahu seperti apa pemandangannya. Kalau orang itu tidak dapat merelakannya dengan ikhlas, kadang jadi pahit kepada kesuksesan orang lain. Seakan akan ingin berkata “Kalau gue ga bisa dapetin yang gue impikan, elo juga ga bisa”.

Itulah mengapa salah satu buku karya saya yang paling saya sukai, adalah Indiepreneur.

Karena buku ini adalah cara yang membagikan kembali harapan bahwa impian kita bisa jadi kenyataan. Setidaknya, itu yang saya rasakan.

Mana terpikir saya akan bisa keliling dunia bahkan sampai Afrika untuk melawak dalam tur dunia stand-up comedy. Apalagi melakukannya 2 x.

Tapi proses panjang yang dimulai dari menekuni keilmuannya, mengasah agar selalu lebih baik, memahami branding dan positioning, mempelajari marketing dan terutama kerja keras dalam executing menjadikan apa yang tadinya hanya ada dalam khayalan bisa jadi kenyataan.

Its always impossible until someone does it.

Nah tapi keberhasilan saya juga datang dari orang orang yang berbaik hati untuk membagikan ilmunya. Yah, nggak membagikan secara gratis sih, saya harus beli buku buku yang membantu saya bisa menjalankan semua ini.

Tapi saya pikir, orang lain tidak perlu bayar semahal saya. Mereka bisa belajar dari pengalaman saya.

Kegagalan dan kesuksesan saya, bisa jadi ilmu untuk orang.

Karenanya, saya berencana mau bikin workshop “10 Langkah Menuju Tur Dunia” untuk membantu siapapun agar bisa juga melakukan yang saya lakukan.

Kalau saya bisa bantu anda bahagia karena impian anda jadi kenyataan, sudah cukup untuk saya.

Karena ini yang Indonesia teramat butuhkan.

Bukan hanya orang orang yang bisa menghidupi mimpinya.

Tapi orang orang Indonesia yang berdaya. Yang berkarya. Yang berwirausaha.

Kalau pernah nonton Mesakke Bangsaku (2013-2015), saya pernah bahas bahwa jumlah pengusaha di Indonesia masih kecil sekali (1,56%). Teramat jauh kalau dibandingkan dengan Filipina, Malaysia, apalagi Singapore. Kita masih harus menggenjot jumlah pengusaha kita kalau mau Indonesia jadi negara yang maju karena berdaya. Bukan sekadar pasar bagi dunia.

Makanya saya suka bingung sendiri dengan orang orang yang menyindir program OKOCE dengan bilang “Kalau semua orang jadi pengusaha terus siapa yang kerja dong?”

Buset dah. Saking ga sukanya sama orang sampe bloon gitu cara pikirnya yak?

Pertama, kan justru kita lagi butuh butuhnya banyak pengusaha baru karena kita sedikit sekali jumlahnya dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya.

Kedua, ya kalau ada 200.000 pengusaha baru kan berarti ada minimalnya 200.000 peluang kerja baru. Itu juga nggak mungkin 1 wirausaha hanya menyerap 1 tenaga kerja. Pasti lebih.

Saya saja dari tur dunia sudah memberi penghasilan kepada lebih dari 20 orang. Bahkan kalau saya menghitung event organizer yang dapat uang dari bekerja sama sebagai penyelenggara tur di sejumlah kota, saya yakin lebih dari 50 orang yang mendapatkan penghasilan. Bayangkan.  Segitu banyak peluang kerja dari 1 orang ngelawak.

Gini gini saya berkontribusi terhadap pengurangan angka pengangguran lho.  Hehe.

Isu kewirausahaan memang dekat dengan hati saya.

Penikmat karya saya tahu itu. Bukan hanya buku, saya bahas di stand-up saya.

Ketika tahu Anies-Sandi punya program OKOCE, saya girang bukan main dan menawarkan diri untuk kelak memberi mentoring kepada calon wirausaha baru.

OKOCE memang bukan hanya bicara soal pemodalan. Tapi pembimbingan. Mentorship dengan pengusaha yang sudah lebih berpengalaman bahkan sudah punya nama. Mentorship ini berlaku baik yang baru mulai, maupun yang sudah setengah jalan dan ingin bertumbuh. OKOCE juga berikan akses kepada pasar. Jaringan. Peluang kolaborasi. Garasi Inovasi.

Saat ini, OKOCE sebenarnya sudah mulai jalan sebagai proof of concept bahwa ini bisa jalan dan ada dampaknya.

Mungkin salah satu yang diketahui karena paling rame dibahas, adalah kerjasama OKOCE dengan Hartono dan perusahannya 910 yang memanufaktur sepatu. Selama beberapa hari, orang orang di twitter rame membahas bagaimana Hartono dan 910 nggak mungkin jadi bimbingan OKOCE karena sudah berdiri sejak lama dan di Tangerang pula. Mereka rame menertawakan Bang Sandi yang katanya nyatut nama dan sembarang klaim.

Lalu Hartono muncul bikin konferensi pers dengan logo SALAM BERSAMA Anies Sandi di belakangnya dan menjelaskan kebenaran 910 merupakan bimbingan OKOCE, rangorang langsung pada bingung dan menghilang :))))

Jelas mereka bingung, karena mereka berasumsi OKOCE itu hanya membimbing wirausaha baru.

Bermodal informasi gak lengkap, mereka buru buru bereaksi. Emang suka gitu rangorang kalau gatel pengen ngehina hehehe. Mirip kejadiannya dengan ramenya rangorang menghina program DP 0 tapi ini cerita lain kali 🙂

910 memang sudah berjalan cukup lama. Bentuk bantuan yang OKOCE lakukan adalah dalam 2 bentuk. Yang pertama adalah dari sisi peningkatan sales. OKOCE mengajak 910 untuk membuka peluang model bisnis reseller.

Ini merupakan peluang bisnis untuk anak anak muda yang mau memulai wirausaha dengan modal yang relatif minim. Semacam jadi agen penjual untuk sepatu sepatu dari 910 dengan tentunya skema keuntungan tertentu bagi si penjual. Ini adalah awal yang menarik. Kalau anda ingat, Phil Knight memulai semuanya dari menjadi reseller untuk Onitsuka Tiger dan jualan dari bagasi mobilnya. Ketekunan dalam menjual membuatnya berhasil mengumpulkan modal yang cukup untuk punya toko (waktu itu nama perusahaannya adalah Blue Ribbon Sports) kemudian suatu hari dia memutuskan untuk memulai perusahaan manufaktur sepatu sendiri yang dia namai NIKE. Anda tertarik memulai wirausaha dengan jalan Phil Knight? Mungkin bisa pertimbangkan jadi reseller 910 kerja sama dengan OKOCE.

Skema kerja sama kedua antara 910 dan OKOCE adalah membuka dari sisi pemasaran. OKOCE menyambungkan Hartono dengan “Jakarta Berlari” di mana Bang Sandi juga aktif di dalamnya. Melahirkan sepatu kelas dunia untuk kebutuhan Maraton, co-branding dengan Sandi Uno. Membuka peluang baru dengan melebarkan pasarnya dengan Bang Sandi sendiri sebagai endorsernya.

Bantuan lain dari OKOCE kepada wirausaha seperti anda bisa juga yang bentuknya dirasakan oleh Fasolia Winda yang bisnisnya berupa Laundry Kiloan & Dry Clean. OKOCE memberikan akses kepada jaringan usaha yang dimiliki karena Bang Sandi memang punya jaringan begitu luas dalam dunia wirausaha. Bukan hanya jaringan kepada potential customer, tapi juga karena bertemu dengan anggota OKOCE lainnya, Winda jadi punya akses kepada jaringan bahan baku. Akhirnya, dalam 2 bulan setelah dibimbing OKOCE, Winda omsetnya naik sampai Rp 20 juta.

Bentuk bimbingan serupa juga bisa diberikan kepada anda dan bisnis yang anda bangun. Bayangin misalnya bisnis anda catering lalu OKOCE membuka jaringan kepada perusahaan lain yang bisa menjadi pelanggan catering anda. Bayangkan pertumbuhannya.

Ini lah menurut saya juga yang menjadikan begitu banyak pemilih muda menyukai pasangan Anies-Sandi. Karena program kewirausahaan ini merupakan sesuatu yang baru, terobosan. Kalau anda google “Program Wirausaha Gubernur DKI Jakarta” untuk mencari tahu seperti apa saja program yang pernah ada, siapa saja Gubernur DKI yang peduli dengan kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja, anda akan terkejut…

Hasil pencariannya, isinya OKOCE semua.

Untuk pertama kalinya, ada sebuah program wirausaha oleh (calon) Gubernur DKI Jakarta. Kalaupun ada sebelumnya, tidak cukup menonjol dan dikenal sehingga tidak muncul ketika di google.

Memang salah satu yang paling brilian dari OKOCE adalah nama OKOCE itu sendiri dan hand sign-nya

Saking seringnya di-branding (mungkin lebih tepatnya di-brainwash) oleh Bang Sandi dan Mas Anies, OKOCE dan Hand sign-nya menempel di benak semua orang.

Nyebelin tapi nempel.

Kayak lagu Justin Bieber.

Saking nempelnya, kemarin Pak Basuki meluncurkan Jakarta Creative Hub yaitu sebuah Co-Working Space di Gedung Graha Niaga Thamrin menyebut bahwa inilah justru OKOCE yang sesungguhnya. Lengkap dengan hand sign-nya :)))

Pak Basuki entah sadar atau tidak menggunakan “OKOCE” untuk menggambarkan “Program Wirausaha”

Seperti orang nyebut AQUA untuk air mineral.

ODOL untuk pasta gigi.

Beliau menyebut OKOCE ketika yang dimaksud adalah program wirausaha.

Jakarta Creative Hub sendiri adalah bentuk sokongan kewirausahaan yang menarik dari Pak Basuki.

(Saya bukan orang orang yang gengsi atau pura pura ketika melihat ada program paslon lawan yang bagus. Give credit when credit is due)

Co-Working Space memicu banyak hal positif untuk wirausaha kita. Dari penyediaan tempat untuk kerja termasuk fasilitasnya, sampai peluang berjejaring dan berkolaborasi dengan wirausaha lain yang juga ada di Co-Working Space tersebut. Mungkin kalaupun ada kekurangan, bisa ditilik dari fakta bahwa co-working space, sebagaimanapun merupakan jasa yang bagus, banyak tidak berhasil menjadi bisnis yang berkelanjutan di Jakarta ini. Salah satu perusahaan yang merupakan pionir dalam penyediaan jasa Co Working Space, COMMA akhirnya tutup juga karena dalam pernyataan mereka tidak berhasil menjadikan Comma sebagai unit yang sustainable. Tapi secara peran, Comma luar biasa kontributif. Entah berapa banyak start-up atau wirausaha yang menemukan peluang di situ dan bahkan tumbuh besar melebihi Comma yang jadi tempat pengeraman gagasan gagasan bisnis tersebut.

Bagaimanapun, bahwa Comma (dan beberapa yang lain) tutup mungkin menggambarkan tidak cukup banyaknya yang menggunakan jasa ini (atau mungkin ada faktor faktor lain, kita bisa diskusikan lebih lanjut). Dan walaupun ini bisa diatasi dengan pendanaan dari pemprov di bawah Pak Basuki, pertanyaan lebih besarnya adalah bagaimana membuat Co-Working Space tinggi pemanfaatannya.

Inilah mengapa, walaupun Pak Basuki bilang Jakarta Creative Hub adalah OKOCE yang sesungguhnya, sesungguhnya, tidak akan bisa menjadi OKOCE.

Karena OKOCE kepanjangannya adalah : One Kecamatan, One Center for Entrepreneurship.

OKOCE mendekatkan diri ke masyarakat dengan cara hadir di 44 kecamatan, ketimbang menarik mereka ke satu titik seperti Jakarta Creative Hub. Okelah misalnya Jakarta Creative Hub ini tidak hanya satu, tapi tetap saja (dilihat dari megahnya dan fasilitasnya) saya ragu bisa hadir di 44 kecamatan seperti OKOCE.

Karena walaupun OKOCE tidak menyediakan infrastruktur berupa Co Working Space yang teramat canggih dan lengkap, tapi OKOCE juga menyediakan pendidikan untuk sebuah wirausaha bisa tumbuh kembang. Pembimbingan oleh pengusaha sukses. Garasi Inovasi. Akses kepada pasar. Pemasaran. Jaringan. Pemodalan. OKOCE membangun manusianya.

Bukan sekadar membangun infrastrukturnya.

Idealnya, Jakarta Creative Hub dan OKOCE berjalan bersamaan.

Siapa tahu, Jakarta Creative Hub karena namanya yang panjang dan sulit diucapkan banyak wirausaha kecil, akan jadi Rumah OKOCE.

Baik atau tidaknya OKOCE maupun Jakarta Creative Hub sebagai solusi kewirausahaan saya kembalikan keputusannya kepada anda. Yang pasti, program kewirausahaan bukan hanya akan membantu mengurangi pengangguran, tapi juga memutar perekonomian Jakarta.

Jangan lupa, salah satu masalah terbesar warga Jakarta adalah uang yang mereka punya berbanding dengan pengeluaran mereka.

Pak Basuki sendiri mengatakan bahwa Jakarta Creative Hub lebih masuk akal daripada OKOCE Anies-Sandi. Menurut beliau justru OKOCE gak masuk akal.

🙂

Ya begitulah kalau orang tau kerja tapi ga tau gagasan.

Remember, Its always Impossible until someone does it.

Oke gak?

Oke kan?

OKOCE!

 

Memandikan

Mungkin anda pernah lihat foto ini.

Atau bahkan sering, melihat foto ini dan semacamnya bersirkulasi di twitter atau facebook feed anda belakangan ini.

Meresahkan memang.

Saya juga sebal melihatnya.

Menteri Agama RI, Pak Lukman Saifuddin sempat ngetweet bahwa info di atas adalah hoax, tapi pasca keterangan beliau, foto bahkan video serupa malah makin banyak. Maka beliau bikin pernyataan agar Masjid tidak jadi tempat yang justru memicu terjadinya konflik

Saya sering ditanya pendapat mengenai kejadian ini dan sering kali mau saya bahas di twitter. Tapi saya sadar, 140 karakter tidak akan cukup. Sejumlah tweet-pun tidak akan mampu. Saya harus menulisnya di blog. Dengan satu tujuan.

Meningkatkan traffic blog.

GAHAHAHAHA.

Nggak deng.

Tulisan panjang seperti ini memang lebih tepat supaya orang membacanya tidak terpotong potong berhubung ini adalah kondisi yang menurut saya rumit.

Mari kita mulai dari pertanyaan yang ada di benak semua orang:

Apakah ini ada kaitannya dengan pilkada?

Satu pihak ada yang bilang bahwa kekesalan mereka kepada Pak Basuki tidak ada hubungannya dengan Pilkada. Kalaupun tidak ada Pilkada tapi ujaran beliau waktu itu terucap maka mereka akan sama kesalnya. Sebagai argumen pendukung, mereka akan mengatakan bahwa sejumlah aksi terhadap Pak Basuki bahkan tidak terjadi di Jakarta. Saya pernah tulis bahwa saya tidak merasa beliau menistakan agama namun ucapan beliau tetap merupakan kesalahan dan karenanya saya memahami kalau ada yang marah.

Di pihak lain, rasanya naif juga kalau tidak terpikir bahwa kejadian Al Maidah kemudian dimanfaatkan untuk keuntungan politik. Melihat turunnya elektabilitas beliau, sulit memungkiri Mas Agus dan Mas Anies tidak diuntungkan dengan itu di putaran pertama kemarin. Dengan munculnya spanduk spanduk tersebut menjelang putaran ke 2, maka aman untuk berasumsi spanduk tersebut diniatkan untuk mengancam atau setidaknya membuat gentar umat muslim yang mempertimbangkan memilih Pak Basuki.

Para pendukung spanduk tersebut berargumen tindakan ini didukung ayat suci (At-Taubah : 84), MUI sudah rilis pernyataan bahwa seluruh jenazah wajib dimandikan karena toh yang menentukan siapa kafir dan munafik hanya Allah SWT. Dan sejujurnya, spanduk yang membentang di mana mana ini juga dimanfaatkan kubu seberang untuk memberatkan kampanye Anies-Sandi.

Istilahnya: Guilty by associaton.

Perdebatan ini tidak ada ujungnya. Pendukung Pak Basuki jadikan spanduk ini untuk mengajak orang tidak memilih Anies-Sandi. Pendukung Mas Anies jadikan spanduk ini untuk mengajak orang tidak memilih Basuki-Djarot. Pihak resmi dari kedua kubu sama sama tidak bisa menahan pendukung masing masing untuk tidak melakukan itu. Karena dalam diamnya, mereka berdua tahu mereka sama sama diuntungkan. Agak aneh memang, tapi benar adanya.

Pertanyaannya kemudian, lalu kita musti bagaimana?

Menurut saya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh orang yang hidup dengan kebebasan berpendapat, adalah tahu mana pendapat yang tidak perlu didengar.

Kita bisa tetap jadikan ini sebagai pertarungan gagasan, kalau kita memilih untuk memfokuskan perhatian kita hanya pada pertarungan gagasan.

Karena semua orang boleh bicara apapun. Semua orang boleh berpendapat apapun. Dan kita yang harus bijak bijak dalam memutuskan siapa yang layak dapat perhatian kita serta siapa yang tidak.

Karena toh, ketika ada yang meninggal siapa yang tahu waktu itu dia nyoblos siapa? Mau cek timeline twitternya? Kalaupun tahu, ya tinggal pindah ke yang mau saja. Saya yakin masih banyak di Indonesia yang mau kok. Kalau anda google picture, anda akan sadari bahwa foto masjid yang memasang spanduk tersebut ternyata itu itu saja. Menurut laporan sejumlah media memang hanya 3 masjid yang memasang. Bayangkan ada berapa banyak Masjid di Jakarta saja yang tidak memasang spanduk tersebut.

Apakah intoleransi bukan masalah? Tentu masalah. Tapi bukanlah masalah yang bisa kita selesaikan dalam waktu dekat. Siapapun yang kelak menjabat akan bertemu masalah yang sama. Tinggal anda yang harus memilih siapa yang anda percaya memahami masalah intoleransi dengan mendalam, dan mampu menyelesaikannya. Mampu membuka dialog, menyelesaikan tanpa melahirkan masalah baru dan menjembatani segala keragaman warna warni Jakarta.

Lagi pula, dalam temuan lembaga survey Indikator Politik ditemukan bahwa jumlah pemilih putaran pertama yang memilih karena agama hanya 7% dan sisanya memilih berdasarkan kelayakan, kejujuran, program kerja, dan performa ketika debat. Menurut laporan SMRC pemilih pemula lebih suka Anies-Sandi, berapa besar kemungkinan mereka suka Anies-Sandi karena sentimen agama? Rasanya kecil. Sentimen agama bukanlah alasan utama pemilih pemula menjatuhkan pilihan.

Mereka memilih karena KJP+ yang akan memberikan pendidikan berkualitas dan tuntas, OKOCE yang akan bantu anda untuk menumbuh kembangkan bisnis yang sedang anda bangun dan dengan itu juga membuka begitu banyak peluang kerja, OKOTRIP yang akan memberikan anda single trip fare sebesar Rp 5000,- saja sudah termasuk naik angkot pindah Trans Jakarta dan pindah lagi angkot. Satu trip, 5000 saja. Dan kemungkinan pemilih tertarik karena DP 0%.

Kemarin kemarin pendukung seberang senang mengkritisi program DP 0% kan? Ya udah mending diskusinya dikembalikan ke sini aja. Benarkah program ini melanggar aturan? Di mana memang lahan yang mau dipakai? Memang masih ada tanah kosong di Jakarta? Siapa yang dapat menikmati program ini? Seperti apa bentuk rumahnya? Seperti apa hitung hitungannya?

Bukankah ini yang membuat anda penasaran?

Bukankah ini yang seharusnya kita diskusikan? Daripada memikirkan ketika meninggal nanti mandiin jenazahnya di mana? Tidakkah anda juga sebenarnya bermimpi ingin memiliki rumah? Tidakkah anda merasa bahwa seharusnya pemerintah membantu anda untuk memiliki tempat tinggal sendiri dan tidak hanya menyewa?

Kalau anda penasaran dengan semua jawaban dari pertanyaan di atas, saya undang untuk masuk ke sini dan baca baik baik.

Untuk yang mendukung Pak Basuki dan Pak Djarot juga boleh kok. Saya tahu kalau anda kesampingkan siapa yang anda akan pilih, anda juga ingin tahu apakah anda masuk dalam syarat syarat yang bisa mendapatkan program DP 0%.

Memiliki rumah, adalah impian.

Cari tahu apakah untuk anda, ini impian yang punya peluang untuk jadi kenyataan. Kalau mau, ini yang kita perdebatkan. Bukan siapa kelak ketika waktunya anda tiba, akan memandikan.

 

Saya dibayar Anies Baswedan

“Dji.. Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?”

Itu kalimat pembuka yang sering teman teman saya tanyakan. Biasanya duduk mendekat, suaranya tiba tiba memelan supaya yang lain tidak dengar. Lalu mereka mulai membuka obrolan dengan “Gimana Anies?”

Lalu setelah saya cerita tentang situasi pilkada terkini dari kaca mata seorang jubir, baru setelah itu baru mereka melemparkan kalimat tadi…

“Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?”

“Nggak kenapa napa” balas saya sembari tertawa. Yang terjadi selanjutnya adalah obrolan terbuka dan apa adanya dari saya kepada siapapun teman yang bertanya. Saya memang selalu senang kalau teman memilih untuk bertanya langsung, karenanya saya akan berikan jawaban seterbuka mungkin untuk apresiasi kebaikan dirinya untuk bertemu saya langsung ketimbang ngomel ngomel secara terbuka apalagi di social media. Nyari 100% pasti tidak saya gubris. Twitter, Facebook, Whatsapp, bukanlah medium yang saya pilih kalau mau berdiskusi. Capek tek-tok-nya. Bales balesin satu persatu nggak selesai selesai, belum lagi yang lain nyamber, lalu orang lain lagi nyamber. Berusaha menjelaskan sesuatu yang krusial di jejaring sosial itu seperti disidang di depan khalayak umum. Argumentasi bukan jadi utama lagi, akan jadi kesempatan bagi orang untuk menghardik dan menghakimi. And im not in any trial. I don’t have to answer to anybody. Tapi kalau mau berbincang langsung, saya jawab dengan senang hati.

Biasanya, setelah pertanyaan “Temen temen gue pada nanya ke gue, si Pandji kenapa sih?” saya jawab dengan becanda, dia selalu lempar pertanyaan sebenarnya “Jadi elo tuh kenapa milih Anies?”

Nah ini saya bisa jawab. Lebih mudah, kalau saya mulai dengan:

“Kenapa saya tidak memilih Pak Basuki”, baru “Kenapa saya memilih Mas Anies”

Setuju? Baiklah mari kita mulai.

Mengapa tidak memilih Pak Basuki?

Karena saya sejak awal tidak memilih beliau. Saya memilih Pak Jokowi. Saya memilih Gubernur yang peduli dengan CARA dia melakukan sesuatu bukan hanya melakukan tanpa pertimbangan dalam tindakan. Gubernur yang memilih pendekatan humanis. Yang berjanji tidak akan menggusur dan memilih menggeser. Gubernur yang ingat sakitnya digusur.

Penggantinya, tidak memiliki pendekatan yang sama. Anda bisa cek di TL akun akun pendukungnya dan anda mungkin bisa tonton argumennya di youtube, setiap kali ditanya soal janji kampanye jawaban mereka selalu sama: “Yang janji kan Pak Jokowi. Bukan Pak Basuki.”

Berarti anggapan saya benar. Semakin kuat alasan tidak berlanjut dengan Pak Basuki, karena beliau memilih jalan sendiri yang berbeda dengan jalan yang diambil Pak Jokowi.

Dampaknya, dalam beberapa bulan Pak Basuki menggusur 8000 kepala keluarga. Coba bandingkan dengan Fauzi Bowo yang menggusur 3200 kepala keluarga dalam 5 tahun!

Sampai sini saja harusnya cukup membuat anda tercengang. 8000 dalam beberapa bulan vs 3200 dalam 5 tahun. Kalau dibilang Pak Basuki bisa kerja, kelihatannya bisa banget bahkan lebih gesit daripada Pak Foke dalam urusan menggusur. Kelihatannya Pak Basuki ingin bekerja dengan cepat agar pembangunan berjalan. Tapi Ayah almarhum pernah berpesan “Cepat, boleh. Buru-buru, jangan”.

Kalau angka itu tidak cukup membuat anda kaget karena anda bilang “Tapi kan dipindahin ke tempat tinggal yang lebih baik, yang dulu begitu nggak?” coba anda baca artikel ini. Kalau anda peduli dengan warga Jakarta dan bukan hanya peduli siapa yang menang pilkada, dengan segala hormat, coba baca artikel tadi.

Selain anda bisa baca cerita mengenai pilunya orang orang yang dipindah ke rusun setelah dicabut dari kehidupan lamanya sehingga tidak bisa berpenghasilan (Ya bayangin aja seumur hidup biasa nyari penghasilan dari laut tiba tiba dipindah 24km dari sana) juga dituliskan di artikel itu bahwa warga gusuran menambah jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan.

Saya tahu ada video penghuni rusun yang bilang hidupnya nyaman dan nikmat di tempat yang sekarang. Okay, berapa orang tuh? Coba bandingkan dengan yang kecewa dan tidak terima digusur.

Kalau memang relokasi itu dilakukan dengan baik dan dengan manusiawi, ya mana mungkin sih sebanyak itu yang protes?

Kan warga itu hanya ingin untuk tetap punya kehidupan. Punya penghasilan. Punya pekerjaan. Kalau hidup mereka nyaman sebagaimana harusnya dijamin oleh pemerintah, mana mungkin sih mereka protes?

Sebagaimana banyaknya warga yang protes dengan reklamasi teluk Jakarta. Sesuatu yang nggak tahu kenapa ngotot dibela oleh banyak pendukung Pak Basuki. Kurang jelas apa, ditolak Greenpeace yang hidup matinya mengenai lingkungan. Ditolak Ibu Susi Pudjiastuti yang jelas jelas adalah Menteri Kelautan dan Perikanan. Ditolak oleh Marco Kusumawidjaja yang reputasinya dibangun sejak begitu lama sebagai ahli tata kota.

Saya tahu banyak yang membela reklamasi di timeline twitter anda, tapi kompetensi mereka dibandingkan Greenpeace, Ibu Susi dan Mas Marco itu apa?

Anda mau membandingkan argumen seorang persona di twitter dengan Menteri?

Itu keyakinan anda?

Mungkin pertanyaan lebih mendasar di Pilkada DKI Jakarta ini adalah: Anda memilih Gubernur untuk anda. Atau untuk seluruh warga Jakarta?

Anda mencari pemimpin yang bisa memperjuangkan kepentingan anda, atau anda mencari pemimpin yang bisa memperjuangkan kepentingan seluruh warga Jakarta?

Karena untuk setiap jawaban, anda akan bertemu dengan nama Gubernur yang berbeda.

Kalau anda mencari Gubernur untuk anda sendiri, maka pilih Pak Basuki, saya tidak akan menghalangi anda. Bahkan saya mendukung anda.

Tapi saya akan ada di seberang anda.

Karena saya tidak perlu dibantu oleh Gubernur DKI Jakarta. Saya terdidik dan saya berdaya. Saya bisa mandiri dan memperjuangkan keperluan saya sendiri. Adalah warga Kampung Akuarium, warga Kampung Duri, dan seluruh warga DKI Jakarta lain yang suaranya tidak ada di social media, yang lebih butuh bantuan dari seorang Gubernur DKI Jakarta.

Mereka butuh dibantu untuk bisa memiliki rumah.

Mereka butuh dibantu untuk bisa memiliki pekerjaan.

Mereka butuh dibantu agar anak anak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Mereka ini yang perlu dibela.

Bukan saya.

Saya mencari pemimpin yang mau bekerja untuk SEMUA warga Jakarta.

Saya mencari pemimpin yang bahkan mengajak SAYA ikut bekerja.

Saya mencari pemimpin yang datang dan bicara “Pandji, mohon maaf tapi saya butuh bantuanmu. Warga Jakarta banyak yang perlu dibela dan diperjuangkan. Kamu punya expertise yang dibutuhkan. Maukah?”

Saya mencari pemimpin yang menggerakkan.

Saya mencari pemimpin yang punya gagasan. Jelas dari sisi pendidikan dia punya dukungan ilmu untuk bisa menemukan gagasan terbaik untuk Jakarta.

Saya mencari Arsitek bagi kota Jakarta. Arsitek itu kan tidak ikut kerja nyusun bata dan nyemen tembok. Itu dikerjakan oleh pekerjanya. Arsitek itu kerjanya adalah menggagas bangunannya. Mendesain. Mengukur. Menghitung. Bahkan di banyak firma Arsitek, sang Arsitek tidak menggambar apapun karena ada lagi yang kerjanya melakukan itu. Kendatipun dia tidak ikut menyusun batu bata, kendatipun dia tidak menggambar apa-apa, tapi kehadiran Arsitek, gagasan seorang Arsitek, menentukan hasil akhir dari bangunan tersebut.

Kalau anda mau memilih pekerja, ya silakan. Tapi di mana-mana, pekerja ya kerja untuk yang punya gagasan.

Saya mencari pemimpin yang bisa memberikan Grand Design.

Saya mencari pemimpin yang punya gagasan.

Saya juga mencari pemimpin yang tahu caranya berhadapan dengan warganya sendiri.

Tahu bagaimana cara berbicara dengan rakyatnya sendiri. Mendengarkan sebagai pimpinan, bukan sebagai atasan yang merasa jadi pemilik kebenaran. Mengerti ketika warganya salah dan mengerti caranya menyikapi kesalahan warganya.

Saya tidak mau punya pemimpin yang bilang dia ingin isi watercanon dengan bensin untuk membakar pendemo bayaran. Lah ketika di jalanan berhadapan dengan watercanon bedainnya mana yang dibayar dan engga gimana?

Saya tidak mau punya pemimpin yang ketika tahu ada warganya yang menangis karena rumah yang dia punya lenyap digusur, karena dicabut kehidupannya, malah disebut nangis sinetron. Kok ya insensitif amat jadi pemimpin. Biarlah cukup Amerika yang punya pemimpin seperti itu (Donald Trump juga pernah menuding senator Schumer pura pura nangis ketika Schumer protes terhadap kebijakan imigrasi Trump).

Saya tidak mau punya pemimpin yang ngebully warganya sendiri di depan awak media.

Saya tahu Pak Basuki dan pendukungnya bilang Ibu Yusri adalah pencuri karena menguangkan KJP sementara KJP tidak boleh diuangkan. Ibu itu salah.

Betul saya setuju Ibu itu salah, tapi Ibu Yusri BUKAN MALING.

Kenapa saya bisa bilang begitu?

Karena mana pernah sih maling komplen ke orang yang baru dia curi uangnya?

Kalau Ibu Yusri itu sadar dia maling, mana mungkin sih dia datengin Pak Basuki untuk protes?

Mana ada orang abis nyuri TV, besoknya nyamperin korban dan protes “Semalem saya nyuri TV Bapak nih, saya pasang di rumah kok gambarnya kresek kresek?”

Mana ada?

Ibu Yusri itu bukan maling. Ibu Yusri adalah warga DKI Jakarta yang tidak mengerti aturannya. Makanya dia datang untuk bertanya dengan nada protes.

.

Kalau Pak Basuki tidak tahu caranya berhadapan dan menjelaskan kepada warganya sendiri yang tidak mengerti aturan, mungkin ada baiknya Pak Basuki ga usah jadi Gubernur sekalian.

Lebih krusial lagi, ketidak mampuan Pak Basuki (dan pendukungnya) mengidentifikasi Bu Yusri sebagai warga yang kebingungan, jadi indikator kuat betapa beliau (dan pendukungnya) jauh jaraknya dengan warga DKI Jakarta menengah ke bawah.

Itulah mengapa, saya memilih pemimpin yang bisa dan mampu bekerja untuk seluruh warga Jakarta.

Itulah mengapa pilihan saya jatuh ke Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

.

Bagaimana dengan segala tudingan terhadap Anies-Sandi?

Bagaimana dengan program Anies-Sandi?

🙂

Saya percaya anda punya cukup kebijakan untuk mencari tau sendiri jawabannya. Anda bisa baca dari berbagai sumber, anda bisa bandingkan, anda bisa perhatikan diskusinya, anda bisa simpulkan sendiri. Saya adalah jubir resmi, apapun jawaban saya sebagaimanapun saya berusaha untuk objektif, tentu saya besar kemungkinannya untuk bias. Silakan cari tahu sendiri.

Sebaliknya, saya mau perlihatkan anda ini.

 

Dari beberapa survey, kelihatan sekali elektabilitas Agus-Sylvi turun sementara Anies-Sandi mendekat ke Basuki Djarot.

Bahkan kalau dilihat trend-nya, Agus-Sylvi terus turun sementara momentum Anies-Sandi begitu tinggi.

Apa artinya? Artinya yang kini punya peluang untuk mengalahkan Basuki-Djarot kini tinggallah Anies-Sandi.

Pasangan underdog yang awalnya bahkan tidak pernah dianggap punya peluang.

Kalau anda percaya dengan yang saya percayai, kita bisa sama sama bergabung untuk memastikan Jakarta kembali punya pemimpin yang humanis.

Yang peduli dengan perasaan warganya.

Yang punya gagasan untuk mengarahkan yang kerja.

Yang bisa jadi jembatan segala keragaman di Jakarta.

Yang bisa berdialog dengan semua kalangan ketika masalah terjadi tanpa perlu minta bantuan orang lain untuk selesaikan.

Yang bisa mempersatukan.

Yang dibutuhkan seluruh warga Jakarta termasuk dia yang suaranya tidak pernah anda lihat di social media.

Sampai di sini, pasti ada yang dibenaknya bertanya tanya

“Gila nih Pandji. Dibayar berapa sih dia sampai seperti ini?”

Demikianlah cara pandang orang orang self-righteous yang merasa hanya dirinya yang benar. Hanya dirinya yang tulus. Yang lain salah. Yang lain pasti bayaran.

Rada arogan menurut saya.

Biarlah mereka berkubang di kolam blunder-nya.

Biar mereka yakini saya dibayar.

Karena kalau dibayarnya dengan “Jakarta yang maju kotanya, bahagia warganya” saya berani bilang, betul, saya dibayar Anies Baswedan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lo Pikir Lo Keren

Adriano doesnt care.

Mari kita mulai dari situ.

Adriano tidak peduli anda suka atau tidak, Adriano tidak peduli dengan perasaan anda, ketika dia di atas panggung untuk Stand-Up Comedy dia hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan. Sesuatu yang membuatnya jadi serupa dengan Lenny Bruce daripada siapapun di Indonesia.

Komentar.

Social Commentary, mungkin istilah yang lebih keren.

Tidak ada yang luput dari lawakan Adri. Keluarga di grup whatsapp, istri, dirinya sendiri, ketiga paslon DKI dari Basuki, Agus dan Anies juga Sandi semuanya kena. Bahkan, Adri menertawakan penontonnya sendiri.

Tapi bukan itu yang menjadikan “Lo Pikir Lo Keren” itu spesial.

The Jokes are out of this world.

He is in a class of his own. Nobody else.

Adriano itu lucu bukan karena dia pintar membedah premis, bukan karena mind-mapping, bukan karena wajahnya bisa berubah-ubah ekspresi dan bukan karena gerak tubuhnya gila.

Adriano lucu karena cara berpikir dia memang lucu, ditambah kedisiplinan dan kerja keras untuk menemukan analogi yang tepat dalam bit-bit-nya.

Analogi, jadi semacam jurus andalan Adri. Dan setiap analogi yang dia akhirnya pakai, selalu tepat.

Cara dia bicara, intonasi, suara, jadi karakter yang berbaur sempurna dengan tipikal komedinya.

Begitu banyak catchphrase yang muncul dari mulut Adri, kalau semuanya dijadiin kaos, saking banyaknya dia bisa bikin Giordano sendiri.

Setiap kali ada kalimat keren yang muncul dari mulut Adri, saya selalu mikir “Gue musti inget inget nih kalimat buat gue tulis di blog nanti” tapi kenyataannya dia munculin lagi kalimat baru yang bikin saya lupa dengan yang tadi. Ini terjadi terus sepanjang malam.

Yang juga menarik adalah Adri tampak 100% sadar dengan apa yang ada di depannya. Tidak seperti banyak komika yang ketika di atas panggung seperti robot dan menjalankan set-nya tanpa mengindahkan penontonnya, Adri tampak sangat terkoneksi dengan penontonnya. Rasanya hanya itu yang membuat dia bisa seketika merasa harus membatalkan untuk membawakan sebuah bit. Dia buka bitnya, liat reaksi penontonnya, lalu memutuskan untuk meninggalkan bit itu. Agak seperti Kanye West.

Adri juga tampaknya sadar bahwa ada rasa janggal di benak penonton ketika dia membaca set-listnya yang ditempel di lantai depannya. Saya tidak menggunakan istilah “contekan” karena contekan itu disembunyikan, ini tidak. Semua orang bisa lihat urutan bit Adri. Dan dia tidak diam diam ketika membaca.

Awalnya, gerak gerik ketika dia membaca dan omongannya yang tiba tiba belok tanpa bridging masih lucu. Lama lama penonton tidak tertawa lagi dan Adri juga tidak berlama lama ketika membaca. Tapi dia tidak peduli. Baginya ini adalah “lomba” lucu-lucuan bukan hafal-hafalan. Yang penting joke-nya lucu.

Memang “Lo Pikir Lo Keren” bukan pertunjukan untuk semua orang. Justru itu adalah kualitas terbaik dari Stand-Up Specialnya Adriano ini. Kami yang menonton merasa nyaman berada di antara orang orang sepemikiran. Kami tau rasanya menjadi bagian dari penonton yang tidak sama seleranya, tidak sama kelakuannya. Terkadang bisa terasa sangat menyebalkan. Tapi kemarin di “Lo Pikir Lo Keren” kami seperti nongkrong bareng dengan orang orang yang satu selera, satu referensi.

Adri berencana untuk menggelar pertunjukan ini bukan hanya keliling Indonesia, tapi juga di Jakarta lagi.

Kalau kesempatannya tiba, saya sarankan untuk tonton dia.

Kalau suka, pasti akan suka sekali.

Kalau tidak, bisa jadi akan jadi benci.

Tapi tak apa, kemungkinan besar, Adriano Qalbi tidak akan peduli.

 

 

Get Yourself Ready

Im a perfomer.

That is who i am, by heart.

Saya sudah berjalan jauh sebagai pemanggung dengan stand-up comedy. Kini, panggung pertama yang saya pernah jajal akan kembali saya jalani lagi.

Im back, rapping.

Produksi album terbaru sedang berjalan. Satu persatu single saya kerjakan. Sejumlah video klip sudah diproduksi.

Tapi sebelum itu rilis, ada yang mau duluan hadir. Sebagaimana Mixtape “Pemanasan”, sebagai single “Aksi Massa”, sebagaimana tur “Nusantarap” yang didesain untuk mengencangkan kembali otot otot hiphop saya dan mengondisikan kembali penikmat musik saya.

Ada lagi yang akan rilis sebagai jembatan menuju album.

Menjelang album ke 5 saya berjudul “Pembalasan” yang akan rilis tahun ini, sebuah album kompilasi saya rilis terlebih dahulu.

Berisi kompilasi lagu lagu berbahasa Inggris dari 4 album sebelumnya.

Album LXIX akan rilis 23 Februari di seluruh platform yang tertulis di poster: iTunes, Google Play, Spotify, Amazin, Guvera, Deezer dan MixRadio.

Pasang alarm di ponsel. Get yourself ready 🙂

Pemersatu

 

 

 

Some people, care more about their ego than the need of other people.

Orang mempermasalahkan foto ini.

Tapi mereka lupa, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa Mas Anies juga melakukan ini.

Mas Anies Baswedan bertemu dengan SEMUA orang dari SEMUA kalangan. Dengan setiap umat beragama, setiap suku, setiap ras, setiap latar belakang ekonomi.

Yang Mas Anies lakukan, bertemu dengan Habib Rizieq dan FPI sejalan dengan niat beliau untuk jadi jembatan.

Kalau kita mau Jakarta bersatu, tidak bisa kita bakar jembatan dan picu permusuhan.

Jadilah jembatan. Sambungkanlah anda dengan pihak lain dan semoga anda juga bisa jadi penyambung pihak lain ini dengan pihak di seberang lainnya.

Tidak mau? Lalu anda mau apa?

Jakarta terus penuh permusuhan?

Jakarta terus menerus jadi kancah perang?

Perang hanya akan membawa kesedihan.

Itukah yang kita inginkan untuk Jakarta?

Saya tahu banyak yang berpendapat Mas Anies datang ke FPI melegitimasi kehadiran mereka.

Tapi menganggap mereka tidak ada bukan hanya naive, tapi dismissive.

They are a part of our society.

So what do you wanna do?

Pretend they dont exist?

You think that will solve any problem?

Sebuah masalah tidak akan selesai dengan pergi dan meninggalkannya.

Rasanya itulah juga alasan Pak Jokowi mendatangi para demonstran dan berorasi di atas panggung bersama Habib Rizieq juga. Walaupun ketika Pak Jokowi orasi orang orang pada teriak turunkan Ahok, dll. Bahkan Pak Jokowi ikut mendengarkan ceramahnya Habib Rizieq.

Karena berpura pura mereka tidak ada, adalah sia sia.

It takes courage to do that.

Dibutuhkan keberanian untuk mau menjadi pemersatu.

Saya sudah keliling Indonesia dari Aceh sampai Papua. Lalu saya berkeliling dunia 5 benua dari Amerika sampai Afrika.

Dari yang saya lihat dan pelajari: Kemajuan hanya terjadi karena adanya persatuan.

Sejak lama saya sudah bahas bahwa masalah terbesar kita adalah Persatuan.

Ini yang saya dambakan. Ini yang saya inginkan. Dan ini yang saya perjuangkan. Ketika saya mendukung Anies Baswedan.

Pada akhirnya, ini memang pilihan anda.

Anda hanya mau bersatu dengan orang orang yang berkenan dengan anda, silakan. Ada kok calon Gubernur yang seperti itu.

Anda ingin Jakarta yang bersatu. Pilih yang pemersatu.

 

Makasih Anies

Saya baru selesai menyelenggarakan Bhinneka Tunggal Tawa. Stand-Up Special pertama saya di bulan Desember tahun 2011. Lalu saya dapat corporate gig untuk stand-up di sebuah perusahaan di Balikpapan.

Harga gak ditawar. Tiket kelas bisnis. Garuda Indonesia. Goks.

Sampai di sana, saya Stand-Up. Masih bawain bit bit receh macam “Kenapa kucing kalau diusir harus brenti dulu dan nengok seakan memastikan dia memang diusir”. Juga bit “Rumah Kemalingan”. Bit bit jaman itu lah.

Di depan di antara penonton, ada seseorang yang wajahnya saya kenal, tapi nama agak lupa.

Orang tersebut ternyata juga mengisi acara yang sama. Setelah saya, dia memberikan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di Indonesia dan apa yang kita sama sama bisa lakukan.

Namanya, Anies Baswedan.

Pemaparannya mengenai pendidikan Indonesia, membongkar cara pandang saya. Biasanya, abis stand-up saya selalu pergi, cari makan atau balik ke hotel kalau dikasih kamar. Tapi saat itu, Mas Anies membahas mengenai cara pandang kebanyakan orang Indonesia yang fokusnya lebih kepada sumber daya alam ketimbang sumber daya manusia.

Menurut beliau, fokus pada sumber daya alam, itu cara berpikirnya penjajah yang membiarkan sumber daya manusia kita seadanya karena toh mau dijadiin kacung, sementara sumber kekayaan alam mereka manfaatkan untuk dibawa ke kampung halaman mereka.

Saya duduk dan memperhatikan.

Saya sama sekali tidak kenal dia siapa, tapi omongannya menarik.

“Lumayan buat premis” pikir saya saat itu. Maka saya mencatat.

Sepulangnya dari Balikpapan, kami ternyata duduk bersampingan di pesawat. Kami saling mengenali karena sama sama di acara yang sama. Kemudian kami lanjut ngobrol.

It was the flight that changed my life.

Pemaparan beliau tentang pendidikan, menjadi bagian dalam cara pandang saya.

Kata beliau “Coba kamu pikir baik baik. Nanti ketika kamu menjalani hari hari, coba perhatikan, bahwa sebenarnya solusi dari banyak masalah di Indonesia, adalah pendidikan.”

Bukan hanya soal pendidikan, beliau juga cerita banyak soal politik dan tata kelola pemerintahan. Belakangan saya tahu, ternyata memang beliau jurusan program Master-nya adalah Keamanan Internasional dan Kebijakan Publik.

Saya ingat, mendarat dari pesawat ketika kami pisah saya sempat bilang ke Ben, yang sering jadi Road Manager ketika ada job luar kota “Menarik banget orang itu tadi. Kalau dia maju politik, gue mau dukung dia.”

 

Obrolan kami di pesawat, bahkan bisa anda lihat hasilnya di pertunjukan spesial saya “Merdeka Dalam Bercanda”.

Ingat bit “Kalau perjuangan kemerdekaan itu program pemerintah, maka yang perang cuma tentara. Rakyat nonton doang”? Itu datang dari kalimat beliau yang bilang bahwa supaya Bangsa ini maju maka masalah di Indonesia harus disadari sebagai masalah bersama dan dengan itu, penyelesaiannya harus dengan pendekatan gerakan. Makanya perjuangan melawan penjajahan itu seluruh rakyat Indonesia terlibat, karena saat itu pendekatannya adalah gerakan.

Atau ingat bit “Jumlah rakyat Indonesia yang melek huruf tahun 45 tapi menghasilkan kemerdekaan, dibandingkan dengan hasil yang diberikan generasi sekarang yang mayoritas melek huruf”?

Itu juga datang dari Mas Anies Baswedan.

Sejak Merdeka Dalam Bercanda, lalu ke Mesakke Bangsaku, hingga Juru Bicara, anda bisa sadari bahwa topik yang tidak pernah hilang, adalah Pendidikan.

Cara pandang saya berubah terhadap Indonesia.

Kepedulian saya meningkat terhadap pendidikan.

Anies Baswedan telah meyakinkan saya, bahwa kalau kita mau Indonesia jadi lebih baik, maka pendidikan harus jadi bagian dari DNA pembangunan. Dan sebagai sentralnya, adalah pemimpin yang peduli pembangunan manusia, pendidikan rakyatnya.

Orang ini, adalah guru. Pendidik.

Guru itu juga berkarya lho, namun bedanya, hasil karyanya adalah manusia.

Sukarno, Hatta, bahkan Jenderal Sudirman, adalah guru.

Jenderal Sudirman bahkan kuliah keguruan, sempat jadi guru SD dan jadi Kepala Sekolah.

Jadi ketawa kalau dipikir pikir mengingat sindiran banyak orang bahwa Mas Anies ini “hanyalah” mantan Rektor.

Pertama tama, “Rektor” itu gak bisa disebut “Hanya”.

Kedua, kalau Kepala Sekolah bisa jadi Jenderal. Kenapa rektor tidak bisa jadi Gubernur?

Kini, berbekal pengakuan Presiden Jokowi sendiri bahwa kinerja Kemdikbud di bawah Mas Anies ternyata gemilang, Mas Anies mencalonkan diri menjadi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta bersama Bang Sandiaga Uno.

(Di sini pasti ada yang berpikir, kalau gemilang kenapa diberhentikan? Ya mari kita jawab juga, mengapa Sudirman Said diberhentikan? Kenapa Jonan juga diberhentikan untuk kemudian masuk ke jabatan yang beda? Kenapa Luhut digeser dan diganti Wiranto? Kenapa Rizal Ramli diganti? Apakah menurut anda kinerja mereka buruk? Jawabannya, adalah karena Menteri merupakan jabatan politis. Dipasang dan dicabutnya jabatan, ya karena alasan politis. Yang pasti, secara prestasi, Mas Anies dianggap Pak Jokowi bekerja dengan gemilang dan itu laporan datang dari beliau sendiri)

For him, this is nothing new. Dia memang pejuang. Ketika ditawarkan kesempatan untuk mengabdi untuk kebaikan Indonesia, selalu dia ambil. Mungkin karena keturunan.

Dalam tubuhnya ada darah pejuang. Kakeknya, AR Baswedan adalah negarawan yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.

Saya mengamati beliau dari jauh. Mempelajari kiprahnya.

Ketika saya memutuskan untuk mendukung Faisal Basri dalam kampanye pilgub, untuk pertama kalinya saya terjun ke politik praktis. Lagi lagi karena ingat omongan Mas Anies. “Kalau kita tidak dorong orang orang baik untuk masuk ke politik, mau sampai kapan kita rela politik diisi oleh orang orang jahat? Padahal di politik, kepentingan kita, kehidupan kita, ditentukan”

Kini, beliau membutuhkan saya di Pilgub DKI 2017 mendatang.

Saya memutuskan untuk turun tangan.

Saya memilih untuk berjuang.

Saya memilih untuk mendampingi.

Mungkin, bawah sadar saya ingin berterima kasih atas dampak yang beliau berikan.

Mungkin, ini seperti cara saya untuk berkata

“Makasih Anies”