Berdiri

Ramai.

Itu yang terjadi pasca saya rilis tulisan mengenai majunya Mas Anies dalam pencalonan Gubernur.

Dalam beberapa hari pertama, adalah dukungan, pujian dan nada sepaham bahkan dari mereka yang mendukung calon berseberangan.

Setelah itu, caci maki, hinaan, tawa merendahkan dan serangan, bahkan dari mereka yang ada di kubu yang bersamaan.

Hal baru buat saya? Tentu tidak. Sejak saya pertama kali terlibat dalam kampanye Faisal Basri, lalu tim Mas Anies di konvensi Demokrat, lalu ikut mendukung Jokowi di Pilpres, ini semua sudah jadi hal yang jamak. Agak rindu hingar bingarnya bahkan. Mana bisa anda masuk dalam politik praktis lalu takut diserang? Lah itu bagian dari permainannya. Saya suka kesal lihat teman yang main sepak bola lalu protes setiap kali kena dorong sedikit. Kalau tidak mau kontak fisik, jangan main bola.

Kali ini, tulisan saya diarahkan kepada pendukung Mas Anies. Mohon dibaca baik baik.

Kalau anda ingin memenangkan pasangan Anies – Sandi:

Berhenti menggunakan sentimen agama.

Ada 2 alasan utama.

  1. Anda hanya akan mengesankan Mas Anies dan Sandi tidak punya keunggulan atas Ahok selain bahwa mereka Islam. Dan bagaimanapun anda merasa penting punya pemimpin Muslim, menjadi muslim saja tidak cukup untuk jadi Gubernur. Ahok, adalah Gubernur yang punya BUKTI. Dalam tulisan saya yang terdahulu, saya sudah tulis Ahok adalah Gubernur yang memiliki banyak dampak baik untuk Jakarta, menganggap prestasi beliau tidak ada, adalah sebuah blunder dan kenaifan. Lawanlah prestasinya dengan hal hal yang lebih memiliki dampak terhadap Jakarta selain bahwa agamanya Islam dan Ahok bukan. Lagipula, saya muslim. Masak hanya karena saya muslim lalu saya layak jadi Gubernur? Memangnya anda mau pilih saya jadi Gubernur? Yakin? Saya muslim loh.
  2. Karena anda sudah pernah pakai sentimen agama berkali kali, dan anda gagal. Waktu Jokowi – Ahok maju di kampanye pilgub, anda pakai sentimen ini. Anda kalah. Waktu Jokowi – JK anda juga pakai sentimen ini. Anda kalah. Kalau anda gunakan lagi strategi yang sama, anda akan gagal. Mau menang? Miliki nyali untuk lakukan hal yang baru.

 

Jauhkan kampanye kita dari orang orang yang dikenal tidak memiliki cara yang baik

Ahok, jelas memiliki bukti kinerja. Itulah keunggulan Incumbent. Di Pilkada, incumbent selalu punya keunggulan bahwa dia punya hasil kerja yang bisa ditunjukkan. Apalagi Ahok. Keunggulan Mas Anies (dan mungkin Sandi, maklum saya kurang paham track record beliau selain bahwa beliau anak basket) adalah bahwa Mas Anies punya track record punya CARA yang lebih baik. Itupun yang sering anda pertanyakan dari Ahok kan? Itu juga hal yang saya tidak sukai dari Ahok. Kita sama sama kurang nyaman dengan CARA Ahok mengelola Jakarta. (wahai pendukung Ahok yang mudah panas, ini bukan berarti Ahok salah dengan caranya berbicara. Ahok boleh saja membentak dan memaki apalagi kepada orang jahat, tapi SELERA saya tidak masuk dengan cara itu. Jadi ini masalah selera. Saya tidak suka Bieber bukan berarti dia jelek, memang saya ga suka aja. Ini masalah preferensi. Ga usah emosi)

Kalau kita sama sama tidak suka dengan cara Ahok, maka jangan biarkan orang yang punya reputasi buruk terkait CARA mereka melakukan sesuatu, berdekatan dengan kampanye kita. Karena akan merusak saja.

Siapakah yang saya maksud? Ya banyak.

img_7033

Dari Pimpinan Dewan yang suka menghina, cecurut socmed tukang hina, penghasil meme fitnah, yang ternyata tidak berafiliasi dengan siapa siapa, sampai kepada FPI dan FUI.

Tolong jangan coba coba  menyanggah omongan saya soal FPI dan FUI dikenal punya CARA yang salah. Anda google-pun masih ada sisa sisa kelakuan mereka.

Membiarkan orang orang ini berdekatan dengan kampanye kita, maka kita jadi tidak punya BUKTI bahwa Mas Anies – Sandi punya solusi berupa CARA yang lebih baik untuk kelola Jakarta.

Okay, kalau anda bertanya apakah Mas Anies punya cara yang lebih baik dalam mengelola Jakarta? Saya bisa bilang ada.

Satu hal yang sudah pasti menjadi reputasi Mas Anies adalah, dia dikenal mampu menarik orang orang baik dan mampu menggerakkan masyarakat. Dibandingkan dengan calon calon yang lain, sebut satu nama yang punya pengalaman dalam menggerakkan masyarakat.

Satu saja.

Sebut yang mana.

Tolong jangan bilang Agus mampu menggerakkan bawahannya, dia kan tentara, anak buah disuruh ya pasti nurut. Namanya juga garis komando.

Anies Baswedan, punya gerakan Indonesia Mengajar. Sejak 2010, berhasil menarik minat begitu banyak anak muda, lulusan terbaik kampusnya, untuk mengabdi selama 1 tahun di pelosok Indonesia. Hasilnya, sang Pengajar Muda bisa jadi calon pemimpin bangsa yang hebat karena punya kompetensi kelas atas tapi dengan pemahaman grass root karena ditempatkan di pelosok. Sementara anak anak Indonesia di banyak daerah Indonesia bisa mendapatkan pengajaran dari orang yang berkompeten. Karena sesungguhnya masalah pendidikan Indonesia bukan ketiadaan guru yang berkualitas tapi penyebarannya yang tidak merata.

Anies Baswedan, punya Turun Tangan. Yang berhasil mengumpulkan lebih dari 35.000 lebih relawan di seluruh Indonesia sejak 2014 dengan misi utama: Mendorong orang orang baik agar mau masuk ke pemerintahan.

Anies Baswedan, bahkan sebagai Menteri, menggagas dan berhasil menjalankan Gerakan Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah. Diawali dengan sebuah surat edaran dari Mas Anies, banyak organisasi dan sekolah yang menyambut positif gerakan ini hingga akhirnya pemerintah resmi mendukung dan mengijinkan aparatur sipil negara mengantar anaknya di hari pertama sekolah. Berdasarkan surat edaran dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Bahkan Ahok juga mendukung dan memuji gerakan tersebut

Kalau anda merasa “Mengantar anak” itu remeh. Coba sebutkan menteri yang bikin sebuah gerakan dan didukung oleh masyarakat. Anda akan sadar, bahwa seorang menteri menggagas sebuah gerakan dan berhasil menggerakkan masyarakat adalah hal yang langka.

Pada detik ini, pasti ada yang berpikiran “Ah Anies aja dicopot jadi menteri karena ga ada prestasi..”

Saya sudah pernah jelaskan di tulisan ini apa saja prestasi Mas Anies sebagai menteri. Sekarang coba anda sebutkan prestasi menteri pendidikan sebelum Mas Anies yang anda tahu. Satu saja. Kalau anda tidak bisa sebutkan, kok berani bilang Mas Anies gak punya prestasi?

Waktu Mas Anies menelfon saya pertama kali, beliau sempat berkata “Saya ingin jadikan pembangunan Jakarta jadi sebuah gerakan. Saya ingin kita semua merasa memiliki kota ini dan sama sama turun tangan untuk menjadikannya lebih baik”

Di kepala saya, saya tahu persis orang yang paling bisa melakukan hal tersebut, adalah Anies Baswedan.

Pesan terakhir kepada pendukung Anies – Sandi:

Jangan takut untuk berdiri dan memperlihatkan diri, sebagai pendukung pasangan Anies – Sandi yang memiliki cara yang baik.

Jangan takut ditertawakan. Jangan takut dihina.

Jangan takut untuk menunjukkan ketidak sukaan anda kepada orang orang yang kampanye mendukung Anies – Sandi dengan cara yang salah. Kita tidak butuh mereka.

img_7056

Biarkan mereka sadar, bahwa tidak ada ruang untuk orang orang seperti mereka di sini.

Biasanya, ketika anda tunjukkan bahwa anda tidak mau terafiliasi dengan mereka, akun akun tersebut langsung ngomel, ngetweet bertubi tubi. Biarkan saja. Memang hanya itu yang dia bisa lakukan. Yang penting jelas dan nyata kita tunjukkan, tidak ada ruang di sekitar kita untuk orang orang yang tidak bisa berkampanye dengan cara yang baik.

Kalau anda perhatikan baik baik, sedang ada pergeseran kekuatan politik. Dalam setiap partai pendukung setiap pasangan calon, ada perpecahan. Akan ada yang berpindah meninggalkan kapalnya yang sebelumnya. Di kubu Ahok ada. Di kubu Agus ada. Di kubu Anies ada. Tak perlu kita bahas kubu lain, perhatikan orang orang yang setau anda seharusnya ada di kubu belakang Anies. Ada yang pindah karena gerah. Salah satu yang anda bisa lihat, adalah akun yang tadinya garis keras mendukung PKS dengan cara cara yang salah, kini dalam tweetnya mendukung Agus.

Ini adalah indikasi baik. Kita biarkan pada akhirnya, mereka yang mau berjuang dengan cara yang baik yang akhirnya merapat ke kita. Apapun partainya. Inilah jembatan yang ingin kita bangun. Inilah perjuangan kita. Inilah yang kita inginkan terjadi. Bahwa pada akhirnya, Mas Anies menunjukkan kualitasnya dalam menarik orang orang baik dan membuat mereka bekerja sama. Kalau ada partai yang tadinya memiliki reputasi buruk dan ingin membenahkan diri, kesempatan itu terbuka.

Dan, dalam beberapa hari ke depan anda akan dengar pengumuman nama nama hebat dan baik berada di kubu Anies – Sandi. Nama nama yang akan membuat anda berani juga untuk berdiri dan menunjukkan diri. Nama nama yang membuat kita semakin berani menggeser orang orang dengan cara yang salah. Karena jembatan yang kita ingin bangun, harus dibangun dengan bahan bahan yang baik dan berkualitas.

 

Saya tahu, 3 hal yang saya minta tadi bukan hal yang gampang. Tapi kalau mau hidup gampang, ya jangan ikut masuk dalam sebuah perjuangan.

Ini perjuangan. Anda Pejuang, bukan?

Hadapi.

Dan tegaklah berdiri.

Pilih

“Bisa ditelfon nggak? Mas Anies mau ngobrol..”

Sebuah pesan whatsapp masuk dari seorang kawan yang dekat dengan Mas Anies Baswedan ketika masih di kementrian pendidikan.

“Bisa sih tapi gue lagi di jalan..”

Tak lama, Mas Anies menghubungi dengan facetime. Lama kami tidak bertemu dan berbincang. “Halo Pandji, sang Juru Bicara!” suara dan wajah Mas Anies muncul di layar ponsel. “Lagi dimana ini?”

“Lagi di Wallstreet, mas” saya saat itu memang sedang di New York. Kami baru saja merampungkan rangkaian tur Juru Bicara US di 6 kota lalu memutuskan untuk berlibur ke New York.

“Wallstreet, wah..” kata Mas Anies.

“Iya Mas, lagi mau menghancurkan kapitalisme..”

Kami berdua kemudian tertawa.

Pembicaraan yang kemudian terjadi, adalah pembicaraan yang jauh dari gelak tawa. Kening saya mengrenyit. Tatapan saya kosong. Fokus dengan apa yang Mas Anies sedang katakan.

Mas Anies ditawari untuk mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Setelah menjelaskan panjang lebar beliau berkata “Saya tunggu reaksinya..”. Saya tidak perlu berlama lama untuk memberi reaksi. Usai penjelasan dari Mas Anies, kami, masih via facetime, terlibat diskusi yang mendalam dan sangat terbuka.

Ketika facetime kami akhiri, jawaban saya sudah pasti. Saya akan dukung Mas Anies maju menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Saya pastikan, ini akan jadi perjuangan paling berat seumur hidup saya terjun dalam politik praktis.

Saya tahu persis. Ini akan serupa dengan jalan memasuki tornado.

Saya tahu persis, caci maki akan datang.

But hey, nothing new.

Rasanya, mengapa saya suka dengan Anies Baswedan karena saya melihat sedikit dari diri saya dalam beliau. Sama sama pinter ngomong. Bahkan sering sekali Mas Anies dianggap memang hanya pinter ngomong, merangkai kata kata indah dan kosong substansi. Persis seperti saya.

Persis seperti saya, dia punya kepedulian yang cenderung naif terhadap Indonesia. Dalam darahnya ada darah pejuang sejak jaman kakeknya yang oleh negara sudah resmi oleh negara dijadikan pahlawan nasional. Ayah saya selalu cerita perjuangan orang tuanya jaman penjajahan. Ayah selalu bilang Wongsoyudan itu takdirnya berjuang. Ayah juga punya kepedulian teramat tinggi terhadap bangsanya, kepedulian yang cenderung naif, yang nampaknya turun kepada saya.

Dan seperti saya, banyak sekali keputusan Mas Anies, didasari oleh pertanyaan anaknya.

Suatu hari, saya ditanya oleh Dipo mengapa Harimau Jawa punah. Dia sedih sekali, suaranya bergetar mau nangis ketika saya jelaskan arti kata punah. “Ayah, apa arti ‘punah’?” Penjelasan saya membuat dia gusar dan kemudian bertanya “Kenapa Ayah biarkan itu terjadi?” saya bingung menjawabnya “Kenapa orang orang biarin itu terjadi?” tanyanya lagi masih dengan suara gemetar dan gusar.

Sejak itu, saya memutuskan untuk terlibat dalam menciptakan perubahan dan tidak hanya menuntut perubahan. Sehingga suatu hari, ketika muncul pertanyaan dari anak anak saya “Apa yang Ayah lakukan ketika diberi kesempatan untuk menciptakan perubahan?” saya bisa jawab dengan yakin “Ayah memutuskan untuk terlibat. Ayah memutuskan untuk turun tangan”

 

Anies Baswedan ditawarkan untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Dia tidak memancing mancing jabatan tersebut, dia tidak mondar mandir berburu jabatan itu. Dia ditawari.

Anies, memang ambisius. Ambisinya, besar dan banyak sekali orang akan bilang, naif. Anies percaya sekali bahwa dia bisa jadi bagian yang mengubah Indonesia jadi lebih baik. Anies percaya dia bisa menciptakan perubahan. Hal ini terlihat, sejak dia SMA.

Tidak banyak yang tahu, dulu dia pernah ikutan pelatihan ketua OSIS se-Indonesia dan dari 300 ketua OSIS yang ikutan dari seluruh pelosok Indonesia, dia dipilih jadi Ketua OSIS se-Indonesia. Jabatan macam apa itu? Ketua OSIS se-Indonesia. Lha wong mau jadi ketua OSIS aja udah aneh menurut saya. Lalu di UGM pun dia jadi ketua senat mahasiswa. Dia bahkan dulu, sudah demo menentang Tommy Soeharto terkait kasus BPPC dan ikut memimpin demo protes terhadap SDSB. Dia juga menggantikan Sohibul Iman menjadi rektor Paramadina. Saat itu dia jadi rektor termuda di Indonesia dengan usia 38 tahun. Bahkan, Mas Anies di Paramadina bikin pelajaran anti korupsi. Lengkap dengan kurikulumnya. Sampai banyak orang orang dari universitas lain di dunia yang datang ke Paramadina untuk mempelajari kurikulum tersebut.

Soal korupsi, Mas Anies ditawarkan dan mengambil kesempatan menjadi anggota Tim 8 KPK untuk meneliti kriminalisasi terhadap Bibit-Chandra dalam kasus Cicak vs Buaya part 1. Mas Anies kemudian ditawari dan mengambil kesempatan jadi Ketua Komite Etik KPK. Ditawari jadi capres via konvensi Demokrat. Ditawari jadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan.

Entah mengapa, orang selalu mempercayai dia dan memberikan dia kesempatan dan kesempatan itu kemudian dia ambil.

Jangan kaget ketika dia ditawari jadi cagub DKI dan mengambilnya. Dia memang selalu seperti itu. Karena dia, seperti saya, ingin bisa menjawab dengan yakin ketika anaknya kelak bertanya “Apa yang Ayah lakukan ketika diberi kesempatan untuk melakukan hal baik untuk Indonesia?”

Coba saya tanya kepada anda. Kalau anda ditawari kesempatan untuk mengubah Indonesia, lalu anda tahu anda mampu, anda punya kualifikasinya, apakah anda ambil kesempatan itu?

Besar kemungkinan jawaban anda tidak. Seperti umumnya orang orang lain. Yang beda, hanya alasannya. Tapi, sama sama alasan.

Anies, memang punya ambisi di politik. Ini bukan hal baru. Ambisi ini pun sejalan dengan cita cita saya. Dulu, bangsa Indonesia itu mencintai politisinya. Sjahrir, Hatta, Agus Salim, Sukarno, itu semua adalah nama nama politisi. Dia seperti saya, punya ambisi untuk kembalikan Indonesia ke masa itu. Ingin lebih banyak orang orang baik jadi politisi. Nama nama seperti Ahok, Jokowi, Ridwan Kamil, Susi Pudjiastuti, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, adalah trend positif di mana pada masa kini kita mulai kembali mencintai dan mengagumi politisi kita.

Anies selalu bilang “Kebanyakan orang orang baik hanya mau bayar pajak saja. Lah tapi kalau tidak ada orang baik di politik, lah terus masak uang pajak kita mau kita relakan dikelola orang jahat?”

Makanya ketika dia ditawari kesempatan baik, dia ambil karena sesuai dengan ambisinya. Menambah terus orang orang baik di dalam dunia politik Indonesia.

Ada hal baik dan buruk dari pencalonan Mas Anies jadi calon Gubernur.

Hal terbaik dari munculnya Mas Anies (dan Agus tentunya) adalah Ahok – Anies – Agus mendorong nama nama seperti Yusril, Ahmad Dhani, Lulung dan si perempuan emas (saya lupa namanya), keluar dari pembicaraan. Hehe.

Saya terus terang mendingan Ahok – Anies – Agus daripada Ahok – Yusril  – Lulung.

Waktu berita isinya Yusril, Lulung dan Ahmad Dhani mau jadi calon Gubernur, saya mikir “Buset, suram amat ini Jakarta yak?”

Saya lebih senang, pertarungan jabatan jabatan penting, dilakukan oleh orang orang baik saja. Biar yang lain hanya bisa menonton karena tidak bisa memasang “jagoan” mereka. Coba dilihat, 3 calon Gubernur itu tidak ada yang orang partai lho. Ahok bukan. Anies bukan. Agus bukan (karena dia dari militer).

Konstelasinya pun jadi menarik: Ahok (praktisi) – Anies (akademisi) – Agus (militer).

Saya suka bingung dengan pernyataan orang yang bilang “Yaaaah sayang, kok orang baik diadu dengan orang baik?”. Lah ya mendingan kelak untuk semua kesempatan jabatan jabatan penting negara, dipertarungkan antara orang orang baik saja. Bayangkan setiap kesempatan menjabat jadi pejabat publik, isinya orang orang baik dan keren. Kan Indonesia-nya juga keren. Selama ini kan yang kampret kampret ikutan pencalonan karena yang baik baik pada gak mau.

Kita bikin suatu hari, yang kampret Cuma bisa cengo doang karena ga dapet peluang untuk ikutan ngambil jabatan tersebut. Mereka Cuma bisa berharap dapat cipratan doang, makanya akhirnya mereka pada numpang nama baik orang.

Bicara soal kampret kampret Cuma bisa numpang nama baik orang, ini terjadi di semua calon Gubernur.

Ahok, ditumpangi PDI-P yang ada si Ibu random dan moody tukang ngacak konstelasi politik Indonesia. Nasdem yang ada bang bewok. Hanura yang ada Wiranto (doi terkait kasus HAM, makanya mungkin itu alasan dia kerjanya nyamar mulu) dan Golkar yang ada Setya Novanto (aduh, orang ini) dan track record sebagai partai paling besar efeknya terhadap busuknya kondisi politik sejak era 32 tahun Soeharto menjabat.’

Anies, ditumpangi Gerindra yang ada Prabowo dengan kasus HAM yang belum usai, Fadli “si selalu blunder” Zon dan PKS yang ada… PKS-nya.

Agus, ditumpangi Demokrat yang ada SBY si susah terima dia sudah bukan Presiden dan bikin 4 album pas jadi presiden tapi pas nganggur malah ga bikin album eh malah sibuk ramein politik. Ada PAN si idiologi partai jadi gak jelas karena setiap pileg isinya artis artis semua sehingga malah lebih mirip manajemen artis dari pada partai politik. PPP yang kadernya ketika jadi menteri agama terbukti korupsi dana penyelenggaraan haji. PKB yang track record buruknya terlihat paling sedikit dibanding yang lain (ada, tapi gak se-megah yang lain) karena mungkin memang tidak pernah dapat peluang yang lebih besar saja.

 

Terus terang kalau menurut saya, masing masing calon Gubernur, bawaannya sama saja buruknya.

Nah tapi saya kurang peduli dengan bawaan calon lain. Calon saya ini nih. Dalam bawaannya, ada banyak sekali nama nama menyebalkan. Mereka semua pada masuk kantong kresek yang Mas Anies bawa. Saya tahu ada banyak sekali yang kecewa dengan pencalonan Mas Anies yang diusung Gerindra dan PKS. Banyak yang pergi menjauh meninggalkan Mas Anies. Justru ketika Mas Anies butuh teman temannya, banyak yang pergi.

Saya sulit pergi. Karena saya tahu, dia butuh saya. Dan karena saya tahu kalau semua teman temannya pergi meninggalkan dia, akan hanya tersisa Anies, PKS dan Gerindra. Ohiya, dan Sandi Uno.

Saya tidak mau jadi teman yang jalan bareng ketika suasana baik baik saja tapi justru lari ketika dia memutuskan untuk masuk kapal perompak dan mengambil alih kemudi. Membajak kapal Bajak laut. Goks.

Maka saya memutuskan untuk bertahan. Ada di dalam. Sedekat mungkin dengan Mas Anies. Untuk menghadapi Gerindra dan PKS yang menurut saya sering bikin blunder yang menyebalkan. Contoh: Puisi Fadli Zon di deklarasi pencalonan Anies – Sandi yang membuat pertarungan Gubernur ini jadi seperti perang agama. Coba lihat muka Mas Anies deh waktu Fadli Zon baca teks yang dia sebut puisi itu. Mukanya kayak dalam hati bilang “This nigga…..”

Puisi Fadli Zon ini menunjukkan bahwa dia tidak jauh beda dengan alay alay fans klub EPL yang kalau mendukung sebuah klub, harus menghina klub lain. Sementara saya dan banyak orang lain mah sudah dewasa. Kami bisa mendukung sesuatu tanpa harus membenci yang lain. Tau nggak kenapa ada barisan “Asal bukan MU”? Karena umumnya fans ManUtd itu nyebelin, kerjanya ngetawain dan ngejelekin klub lain mentang mentang prestasinya mentereng. Hal sama bisa terjadi terhadap kampanye Anies – Sandi kalau Fadli Zon, Gerindra dan PKS dalam kampanye-nya merendahkan Ahok. Kalau PKS dan Gerindra ingin menang, jangan bikin orang hilang selera gara gara lihat kampanye yang kerjanya menghina ras dan agama serta menjatuh jatuhkan orang. Kampanye negatif itu bukan kampanye hitam. Gerindra dan PKS harus belajar itu dulu.

Jadikan pertarungan ini mengenai gagasan. Bukan ras dan agama.

Ini bukan pertarungan orang cina vs orang arab vs orang jawa. Jaman batu banget pertarungannya. Ini 2016!

Ini pertarungan orang yang keliatan punya kinerja bagus, orang yang orientasinya pendidikan, dan… orang yang…. Okay saya ga tau Agus ini orangnya bagaimana.

 

Ahok itu keren, lagi. Gimana sih?

Ini Gubernur, yang menurut saya sulit dipungkiri kinerjanya.

Yang lebih keren dari Ahok adalah, kampanyenya bertumpu pada kinerja dan kebijakan. Emang harusnya begitu kalau kampanye. Saya lihat dengan mata kepala sendiri betapa banyak Kali jadi pada bersih. Saya lihat kalau berangkat mengantar anak sekolah pagi pagi, ngelewatin beberapa Kali, selalu ada excavator lagi kerja.

Gini deh, kalau memang bersihin kali itu gampang, kenapa Gubernur lain tidak ada yang melakukannya?

Mobil saya pernah diderek DLLAJR. Saya sampai debat dengan orang yang ngederek. Dia bilang

“Kami gak berani macem macem mas sekarang. Kalau sudah aturannya, ya kami lakukan. Pak Ahok galak, kemarin atasan kami baru dicopot karena ga bener kerjanya”

Lalu, satu hal yang Ahok lakukan yang menyentuh saya di hati, adalah rencana dia membuat trotoar yang lebih lebar. Orang yang nonton Mesakke Bangsaku (2013-2015) pasti tahu keresahan saya soal ini.

Nah pertanyaanya kemudian, kalau saya percaya Ahok kerjanya benar, mengapa saya pilih Anies?

Karena saya percaya, kita bisa mencapai hal hal baik di Jakarta dengan CARA yang lebih baik.

Satu satunya kekurangan Ahok di mata saya (ini di mata saya ya, berarti subjektif. Orang belum tentu merasa hal yang sama. Ini yang saya pribadi rasakan – dikasi disclaimer biar ga dipelintir kampret kampret yang berkeliaran) adalah caranya dalam memimpin Jakarta. Mulutnya, sering jadi petaka untuk dirinya sendiri. Mulutnya membuat orang kesulitan membela dia. Mulutnya bahkan membuat orang orang baik membenci dia. Saya bahkan tidak mempermasalahkan posisinya dalam reklamasi Jakarta dan penggusuran penduduk. Siapapun gubernurnya, akan menginjak kubangan sulit seperti tadi. Tapi cara Ahok membawa dirinya di depan publik, itu yang kurang sreg untuk saya.

Kalau publik suka marah karena komika di TV nasional suka ngomong kasar, saya memaklumi ketika banyak yang juga kesal melihat Ahok maki maki di TV juga.

Saya suka bingung bagaimana teman teman saya yang saya yakini baik terpecah soal Ahok. Bukan karena ras dan agamanya. Tapi karena caranya dalam memimpin Jakarta. Sering saya berpikir “Apa harus begitu ya? Maki maki dan nunjuk nunjuk orang. Memang harus keras kalau mau memimpin Jakarta. Tapi bahkan Foke dan Bang Yos yang kita sebelin waktu itu gak pernah kayak Ahok begini mulutnya.”

Nah saya tahu ini hanya masalah selera. Teman teman saya banyak sekali yang lebih suka cara Ahok yang apa adanya daripada yang sok santun dan normatif.

Masalahnya, saya punya keresahan yang berbeda.

Kalau anda mengikuti karya saya dari 2008. Baik itu rap, buku bahkan stand-up, anda akan tahu bahwa keresahan terbesar saya ada pada persatuan. Dan cara terbaik dalam penyelesaian masalah Indonesia, adalah pendidikan.

Ahok, akan kesulitan jadi jembatan yang menyatukan Bangsa ini.

Menurut saya, jembatan itu adalah Anies Baswedan.

Indonesia saat ini, butuh sosok seperti Mandela.

Saya tidak bilang Anies itu sama dengan Mandela lho ya, jangan dipelintir lagi pret, yang saya bilang adalah kita butuh orang seperti Mandela. Yang sampai ditinggalkan kawan kawannya sendiri, karena memutuskan untuk berdamai dan mengajak kerja sama orang orang yang dulu menyiksa dia dan kaumnya. Karena dia tahu, yang dibutuhkan negaranya, adalah persatuan. Karena dia tahu, persatuan lah yang akan membuat pembangunan progresif.

Mari saya jelaskan.

Saya tahu, anda benci PKS. Tahu tidak kenapa anda tidak pernah bisa menghilangkan orang orang macam yang mengisi PKS? Karena sebagaimanapun anda benci dengan PKS karena mereka mendagangkan agama, sering menghasut dan memfitnah (ingat Jonru? PS: Saya tahu anda membaca ini Jon. Anda suka memfitnah, jangan coba coba ngeles), sebagaimanapun anda merasa mereka jahat, mereka tidak akan pernah bisa hilang. Anda tahu mengapa?

Karena di dalam kepala mereka yang ada 2 titik hitam di jidatnya karena katanya sering Shalat padahal secara ilmiah tidak masuk akal orang sering sujud bisa hitam jidatnya dan penghitam jidat itu di jual di depan masjid setiap Jumatan, mereka tidak merasa mereka jahat. Mereka merasa, merekalah orang baiknya.

Setiap kali anda menentang mereka, tentangan anda jadi bensin yang membakar perjuangan mereka. Semakin anda tentang, semakin mereka yakin, mereka ada di jalan yang benar.

Dan karena semua orang yang sebal dengan PKS menghindari dialog dengan PKS, maka kita tidak akan pernah bisa memahami mereka. Anda tahu kan prinsip saya: Mencoba memahami sebelum membenci. Karena setiap kali saya mencoba memahami, pada akhirnya, saya tidak lagi membenci.

Kalau semua elemen yang anda anggap tidak sejalan dengan anda didorong jauh, kapan kita mau bersatu? Tentu argumen anda adalah “Saya tidak mau bersatu dengan penjahat”. Nah masalahnya, orang itu tidak merasa dirinya jahat. Termasuk Prabowo yang waktu itu mengaku menculik mahasiswa. Prabowo merasa, itu hal yang benar untuk dilakukan, demi kebaikan bangsa dan negara. Saya tahu ini sulit untuk dimengerti, tapi kemungkinan adalah karena anda memutuskan untuk tidak mau mencoba memahami.

Anda tahu tidak mengapa anak nakal di sekolah tetap jadi nakal? Kenapa pelaku bully tetap nge-bully? Karena semua yang suka nge-bully pada akhirnya dijauhi. Padahal, si tukang bully ini, sesungguhnya korban. Ada sesuatu yang terjadi pada dirinya entah di rumah atau di mana yang membuat dia seperti ini. Suka nge-bully, adalah sebuah dampak dari sesuatu yang terjadi pada dia. Saya belajar ini ketika terlibat dalam Gugus Kerja Penanganan Kekerasan Pada Anak di Kemdikbud. Tukang Bully justru harus dirangkul, ditanya apa masalahnya, dibantu untuk diselesaikan. Bukan ditempeli label anak jahat dan dijauhi seluruh anak baik di sekolah. When you don’t have any friends at school, you start making enemies. Because fighting is the only form of communicatin left to have.

Itulah prinsip yang harusnya diterapkan di Indonesia.

Itulah mengapa Indonesia butuh jembatan.

Itulah mengapa saya pilih Anies Baswedan.

Lagipula, saya selalu berorientasi terhadap pendidikan. Punya Gubernur yang seorang pendidik dan beroritentasi pada pendidikan, adalah ideal bagi saya.

Mohammad Hatta tahun 1927 pernah menulis “Pemimpin adalah pendidik dan pendidik adalah pemimpin”

Lalu, bagaimana dengan kecakapannya? Mampukah Anies? Lha wong kemarin jadi menteri aja dipecat. Memang prestasi dia sebagai Menteri pendidikan apa?

Pertanyaan menarik.

Memangnya setau anda, kinerja semua menteri pendidikan sebelum dia apa? Anda bisa jawab gak prestasi mereka? Setidaknya, saya bisa jawab prestasi Anies:

  1. Membatalkan UN sebagai syarat kelulusan. Sesuatu yang diperjuangkan aktivis pendidikan sejak begitu lama yang akhirnya dirayakan oleh mereka ketika akhirnya dicapai oleh Anies. Keputusan ini dia ambil walau harus bertentangan dengan Wakil Presiden RI: Jusuf Kalla.
  2. Menunda kurikulum 2013 (Itu lho, yang acuan pendidikannya “Mengajarkan kimia kepada murid untuk membuat murid menghargai kebesaran mukjizat Allah SWT”) kepada mayoritas sekolah dan hanya menerapkannya kepada beberapa sekolah saja sebagai proyek percontohan.
  3. Menjadi Menteri pertama yang secara resmi melarang MOS dan Perploncoan. Dalam surat edarannya, guru yang membiarkan, bisa kena hukuman. Dulu dulu, tidak ada keterlibatan kementrian dalam hal ini. Mereka tahu, tapi mereka tidak bersikap. Ada satu – dua ospek yang muncul di berita (karena TV berita memang konsisten dalam menyuguhkan anda pemirsa Indonesia, kabar kabar terburuk di Tanah Air) tapi secara umum, prakteknya berhenti.

Ada beberapa kebijakan dia yang publik tidak tahu atau tidak anggap penting, tapi buat saya buagus banget:

  1. Program sertifikasi guru untuk meningkatkan kompetensi guru. Karena banyak guru guru tidak berkualitas akan menghasilkan murid murid tidak berkualitas. Dan percaya sama saya, banyak banget guru yang kualitasnya layak dipertanyakan.
  2. Mendirikan Direktorat Keayahbundaan. Kalau anda baca baca koran, anda akan tahu betapa banyak orang tua clueless di jagad raya Indonesia ini. Banyak orang tua yang dalam pendidikan anaknya, melepas anaknya 100% ke sekolah karena merasa itu peran yang dia serahkan ke guru guru. Biar ga pusing. Padahal, justru orang tua harus terlibat dalam pendidikan anak dan dirjen ini kelak akan memaksa orang tua untuk mau terlibat dalam pendidikan anak.

 

Lalu, kalau kinerjanya bagus, kenapa dia dipecat?

Ada banyak versi:

  1. Anies keliatan banget ambisinya mau jadi Presiden. Konon kabarnya, kalau dia lagi kunjungan kerja, keliatannya kayak orang lagi kampanye. Salah satu kejadian yang menarik adalah ketika Anies bikin Gerakan orang tua mengantar anak di hari pertama sekolah. Gerakan yang Anies gagas ini, tiba tiba berdampak lintas kementrian. Yang tadinya tidak mengijinkan pegawainya ijin mengantar anak, tiba tiba beberapa kementrian memutuskan untuk bikin surat keputusan memberi ijin untuk menjalankan apa yang Anies gagas. Lintas kementrian, tanpa koordinasi Presiden. Dengar dengar, Anies dipanggil Jokowi gara gara ini.
  2. Karena Menteri Pendidikan selalu jadi jatahnya perwakilan Muhammadiyah. Kalau anda perhatikan, dari tahun ke tahun memang seperti itu dan yang menggantikannya, memang orang Muhammadiyah. Muhammadiyah ngomong ngomong memang punya kepedulian terhadap pendidikan juga. Lihat saja berbagai SMA dan Universitas yang mereka dirikan dan jalankan. Mungkin Jokowi gerah dirongrong terus.
  3. Kinerjanya emang jelek saja. Salah satu yang sering muncul ketika membicarakan kinerja, adalah soal KIP yang terhambat. Mungkin, ada hal hal lain. Saya juga kurang paham.

 

Jadi, kesimpulannya bagaimana?

Kesimpulannya:

Saya Pandji Pragiwaksono, akan mendukung Anies Baswedan maju menjadi calon Gubernur.

Saya ingin punya gubernur Jakarta yang punya kepedulian terhadap pendidikan.

Yang punya cara lebih baik dalam mengelola Jakarta.

Saya memutuskan untuk tidak meninggalkan Anies kendatipun penumpang penumpang liarnya, karena dengan begitu tidak akan ada poros kekuatan yang menemani dia menahan desakan desakan blunder dari Gerindra dan PKS.

Saya tidak akan menghina dan menjelekkan kandidat lain apalagi Ahok. Karena saya sangat suka denga kinerja dan prestasinya. Yang saya tidak satu selera, adalah dengan caranya yang saya yakini membuat dirinya sulit bisa jadi elemen pemersatu. Sesuatu yang dirindukan tidak hanya warga Jakarta, tapi Bangsa Indonesia.

Kalau pendukung calon lain mau menghina dan mencibir Anies, silakan saja. Tapi saya ingatkan, itu hanya akan membuat anda terkesan tidak pede dengan calon anda. Kesannya anda tidak bisa terlihat tinggi, tanpa merendahkan orang.

Your choice.

Anda tahu apa artinya jadi orang merdeka?

Orang disebut merdeka, karena punya pilihan.

Jangan hilangkan pilihannya, tapi sediakan yang lebih baik.

Jadilah orang merdeka.

Pilih.

 

 

Street Team Jogja

Juru Bicara Jogjakarta mulai menjelang, tiba tiba saya terpikir sebuah ide yang sudah di kepala sejak 2013. 

Namanya Street Team.

Idenya dari dunia hip hop. 

Biasanya seorang rapper membuka kesempatan kepada penikmat karyanya untuk terlibat dalam timnya. Mereka biasanya gerilya ikut mempromosikan karya/ acara sang rapper. Menjadi bagian dari tim. 

Dari dulu selalu ada banyak penawaran dari followers untuk membantu saya ketika tur. Kali ini saya membuka kesempatan itu. 

#JuruBicara STREET TEAM :
Saya membuka kesempatan untuk siapapun di kota Yogyakarta, atau Semarang, Solo, Magelang & kota Jawa Tengah lainnya untuk gabung dalam Street Team Juru Bicara.
Masing-masing nama akan mendapatkan:
– Special Seat Juru Bicara Yogyakarta (VIP). Depan depanan dengan saya langsung.

– All Access ID

– Kaos Juru Bicara
Tugas utamanya adalah mempromosikan & ikut bantu menjual tiket Juru Bicara dengan tentunya mendapatkan komisi dari setiap tiket terjual. Nanti kamu bisa menjual tiket GOLD & SILVER.

Berapa margin / tiket akan saya jelaskan ketika kita ketemu 🙂

Setelah baca ini, kalau mau gabung, di twitter mention saya dengan tagar #StreetTeamJogja & bilang mau gabung.

Nanti semua akan dikumpulkan untuk dibriefing oleh saya langsung 🙂 

Ditunggu gabungnya dengan tim Street Team Jogja

Terwujud & terjadi

Semua gara gara uang.
Wilayah Afrika Selatan asalnya adalah wilayah yang sepi. Mayoritas penduduknya adalah warga kulit hitam. Penduduk lokal.
Namun semuanya berubah ketika pertama kali ditemukan, emas.
Dalam waktu singkat, pendatang kulit putih memenuhi Afrika Selatan. 

Ekonomi berkembang pesat. Sekitar 25% demand emas dunia, datang dari Afrika Selatan. 

Lalu konflik sosial mulai bermunculan.
Awalnya konflik dimulai gara gara siapa yang berhak mendapatkan apa, siapa yang berhak mempekerjakan siapa. Suku mana boleh menambang di mana. Pendatang mana boleh menggarap yang mana.
Lalu mulailah inisiatif para pendatang dari Eropa untuk membuat aturan. Berhubung mereka merasa lebih intelek, lebih maju & lebih “berbudaya”. Aturan ini, kelak akan mengekang semua warga kulit hitam Afrika Selatan & merampas hak asasi mereka. 
Awalnya para pendatang ini membentuk aliansi yang kemudian bergerak ke arah pemerintahan. Mereka bilang “Demi kebaikan kita semua, apapun ras & golongannya”. 

Ide awal mereka adalah segregasi. Alias pemisahan area, fasilitas, termasuk hak antara kulit putih dan non kulit putih. Katanya supaya tidak terjadi konflik. Pemerintah menyebutnya sebagai program “Tetangga yang baik”. Yaitu terima saja pemisahan ini, anda ya di sana, kami ya di sini, jadilah tetangga yang baik & jangan saling menyinggung.

Tapi program ini tidak berjalan lama, berhubung orang kulit hitam banyak yang masuk ke area kulit putih sebagai pekerja bahkan influxnya semakin banyak seiring maraknya tambang emas & berlian. Konflik tak terhindarkan. Salah satunya adalah konflik yang terjadi kepada seorang pengacara dari India yang kuliah lalu kerja sebagai pengacara muda di sana. Dia diusir dari kereta api karena dia menaiki gerbong kulit putih. Dia kelak memimpin perjuangan kesetaraan hak di Afsel lalu kemudian kembali ke India untuk melawan penjajah Inggris. Dunia mengenalnya dengan nama, Gandhi.
Akhirnya karena konflik sosial tidak kunjung usai, diputuskan Apartheid. Sebuah rezim dimana kulit hitam dicabut segala haknya termasuk hak berpolitik. Mereka tidak bisa ikut pemilu & tidak punya suara politik. 
Menurut politisi politisi kulit putih ini dalam wawancara TV, keputusan ini adalah untuk kebaikan mereka (non-kulit putih) juga karena mereka “masih belum terdidik, masih barbar & biadab”.
Masyarakat kulit hitam semakin diatur, semakin dikekang, semuanya diberi semacam pass-book yang isinya segala informasi terkait dirinya. Semacam KTP tapi lebih lengkap sampai kepada kerja di mana, untuk siapa, catatan sosial & kriminal.

Polisi lalu sweeping masyarakat kulit hitam saja & kalau ada yang tidak bawa akan langsung dimasukkan ke penjara. 
Bermunculan aktivis politik, salah satunya bernama Mandela yang membentuk organisasi politik (kelak menjadi partai politik) bersama teman temannya membakar pass-book tersebut sebagai tanda protes. Mandela jadi semakin terkenal namanya & media sering mewawancara dirinya terkait aktivisme & rezim Apartheid. Cerdas & lugas dalam berbicara, Mandela jadi favoritnya media.
Mandela dipenjara karena dianggap terlalu berpengaruh, apalagi ketika Mandela berkata jalan damai percuma ketika reaksi balik dari pemerintah adalah kejam & biadab. Takut memancing kekerasan lebih parah, Mandela ditangkap namun aktivis lain terus bergerak. Aktivis aktivis lain ditangkapi & secara misterius tewas di penjara. Beberapa bahkan dalam kondisi mengenaskan. 

Mandela sendiri tidak dibunuh karena pemerintah tahu akan memancing amarah yang lebih bahaya.

Winnie Mandela, istri dari Mandela juga melakukan perlawanan. Dia mendirikan organisasi yang cenderung keras. Winnie pernah ditangkap dirumahnya di Soweto yang merupakan wilayah kumuh Johannesberg & dipenjara selama 8 bukan. Ketika keluar justru semakin keras dan militan memimpin organisasinya. 

Soweto juga jadi saksi sejarah gelap Afrika Selatan ketika anak anak & remaja melakukan aksi massa di atas bis & berkeliling kota, lalu dihalau, ditangkapi, dipukuli & dibunuh oleh polisi. Kerusuhan pecah. Korban nyawa tak terhindarkan. Dunia menonton dari tayangan televisi. Mandela menyatakan duka yang mendalam dari penjara.
Akhirnya pada satu masa, Pemerintah Afrika Selatan melakukan sesuatu yang krusial. Dia melakukan kompromi politik demi berhentinya kerusuhan & korban jiwa. Dia mengumumkan bahwa Mandela akan dibebaskan, kemudian semua organisasi politik yang tadinya dilarang, diperbolehkan kembali.

Di balik semua itu, dia minta bantuan Mandela untuk bersama dia mendamaikan publik.
Keputusan ini memancing reaksi negatif di kalangan kulit putih. Tercatat puluhan organisasi kulit putih lahir setelah keputusan ini dan bertekad untuk menolak putusan pemerintah. Tuntutan mereka, agar kondisi dikembalikan seperti semula. Mereka bahkan tidak segan segan menggunakan jalan kekerasan. 
Bukannya damai, malah dalam beberapa tahun setelahnya, Afrika Selatan memasuki masa tergelapnya. Angka kematian dalam beberapa tahun setelah keputusan itu justru lebih tinggi dari pada angka kematian yang terjadi dalam puluhan tahun perjuangan persamaan hak di Afrika Selatan.
Mandela bersama partainya melakukan negosiasi dengan pemerintah. Negosiasi ini berjalan alot dan lama. Hingga pada akhirnya Afrika Selatan memasuki masa pemilu. Partainya Mandela ikut serta. Seluruh rakyat termasuk yang kulit hitam diperbolehkan ikut memilih. Partai Mandela menang. Mandela jadi Presiden. 

Beliau mencontohkan untuk memaafkan para masyarakat kulit putih, dan mengajak seluruh warga untuk bersatu.
***
Saya pelajari ini semua, ketika berkunjung ke Museum Apartheid di Johannesberg, Afrika Selatan.

Ketika anda beli tiketnya, secara random tiket anda akan tertulis “blankes” atau “non-blankes”
Blankes adalah kulit putih, Non-Blankes adalah sisanya. Termasuk orang Asia seperti kita.

Gerbang masuknya akan terbagi dua. Dan masing masing gerbang mengajak anda masuk museum dengan perspektif yang beda.
Di satu titik kita akan melihat ke dalam lorong kulit putih & melihat mereka sebagaimana sejarah Afrika Selatan dulu mengenal mereka.
Keluar dari ruangan itu kita diajak jalan melewati proses panjang sebelum ditemukannya emas di sana. Dimulai dari yang disebut sebut sebagai nenek moyang seluruh umat manusia.
Ketika memasuki bangunan utama museum, kamera & ponsel dilarang. Tapi ketika di dalampun, terlalu mencekam rasanya untuk foto foto mencari momen untuk diabadikan.
Saya belajar banyak akan Indonesia dari mempelajari sejarah negara lain. Dalam hal ini, Afrika Selatan.
Saya belajar:
Ketika manusia merasa lebih mulia, lebih benar, lebih terdidik & lebih beradab, dia cenderung berbuat semena mena terhadap mereka yang tidak dianggap sebenar & semulia dia. Tanpa sadar, dia melakukan perampasan hak.

Cara melakukan kebenaran, sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri
Saya belajar:
Bahwa banyak “orang jahat” sesungguhnya tidak sadar bahwa mereka jahat. Di mata mereka, merekalah justru yang baik. Maka kedamaian tidak akan pernah muncul dari menentukan mana yang salah dan mana yang benar, tapi dari memutuskan apa hal baik yang bisa dilakukan.
Saya belajar:
Bahwa persatuan datang dari usaha keras untuk mencoba memahami sebelum membenci. Dan dibutuhkan individu individu yang bersedia mencontohkan itu. Individu ini akan melewati perjalanan yang luar biasa berat. Seperti berjalan menembus badai. Namun hasil akhir yang begitu didambakan membuat perjuangannya layak untuk dijalankan
Saya belajar:
Bahwa pemimpin negara yang baik mencontohkan kebaikanya bukan hanya ketika menjabat, tapi juga juga ketika memutuskan untuk tidak menjabat. Mandela tidak melakukan abuse of power kendatipun dia benar & dicintai rakyatnya. Mandela berhenti jadi Presiden setelah hanya 1 periode kepresidenan.

Makanya kalau anda lihat ada orang yang mau memimpin sebuah negara lebih dari masa yang ditentukan hukum, dalam hal Indonesia, adalah 2 masa jabatan, maka kita layak berhati hati akan motivasi dia dibalik jabatannya. Contoh: Soeharto & bahkan Sukarno dengan gagasan demokrasi terpimpin yang sebenarnya mah rezim otoritarian juga tapi namanya lebih cantik.
Saya belajar:
Bahwa usaha mempersatukan Bangsa tidak ada garis akhirnya. Tidak ada ujungnya. Tiada henti.

Selama negara itu berdiri perjuangannya harus terus terjadi.

Mandela kini sudah tiada. Afrika Selatan kini dipimpin Presiden ke 3-nya & orang ini terkait lebih dari 100 kasus korupsi. Angka penganggurannya 25% dan menjadikan Afsel sebagai negara dengan angka kejahatan salah satu yang tertinggi di dunia. Nyaris setiap rumah dikelilingi pagar listrik. Pretoria jadi satu satunya kota Juru Bicara World Tour dimana saya gagal lakukan rutinitas lari pagi. Saya dilarang semua orang karena mereka khawatir saya jadi korban kejahatan. Di Afsel, copet menembak mati setelah merampas. Sehari sebelum kami pulang, ada penembakan di mal tidak jauh dari kami makan malam.
Saya belajar
Dan lewat tulisan ini saya berbagi.
Supaya anda & saya sama sama tahu persis apa yang harus kita lalukan.

Supaya Indonesia yang kita idamkan bisa terwujud & terjadi.

PS: Untuk versi lebih banyak foto & video, tunggu versi Stellernya 🙂

Ganteng Ganteng Sombong

Ganteng Ganteng Swag.Sebuah lagu yang menyapu negeri ini dengan kontroversi.

Young Lexx, Kemal Palevi, Jovial Da Lopez, Andovi Da Lopez, Reza Arap Oktovian, Dycal.
Internet gempar karena 2 hal yang saling berkaitan:

– Lirik lagu tersebut

– Anak anak di bawah umur yang menggilai lagu tersebut.
Reaksi umumnya orang dewasa adalah mencekam rombongan GGS ini karena katanya mereka tidak sadar audience mereka anak anak & mereka mencontohkan anak anak ini hal buruk.
Sementara saya, tepuk tangan kepada GGS.
What they’re doing, is true hip hop.
Malah rapper rapper Indonesia lain antara harus malu karena tidak bisa bikin karya sehebat orang orang tadi atau berterima kasih karena masih ada mereka yang mengibarkan bendera hip hop tinggi dgn lagu rap mereka tadi.
NWA adalah sebuah grup rap dari Compton yang kini dianggap legenda dan karyanya “Fuck The Police” dipuja serta dianggap berpengaruh kepada tatanan sosial budaya Amerika. Tapi pada jaman lagu itu keluar, yang protes luar biasa. Jelas saja. Selain liriknya kasar (judulnya saja ada kata “Fuck”) bait pertama oleh Ice Cube menggambarkan keinginan Cube utk menghabisi polisi. Mohon diingat, yang mengidolai NWA kebanyakan adalah anak anak & remaja. Ketika ditanya media mengapa karyanya seperti itu, Ice Cube menjawab “Our art is a reflection of our society”.

Jangan salahkan kesenian kami, orang berkesenian ya harus jujur dengan dirinya & kejujuran ini datang dari lingkungan ini. Mudah sekali menunjuk 1 orang salah, padahal kalau mau benerin, ya benahi lingkungan sosialnya. Tapi tidak ada yang mau melakukan itu. Susah. Lebih mudah menyalahkan pelaku seninya daripada dunia yang mengilhami karya seni itu sendiri.
Contoh sempurna, lagu “Ganteng Ganteng Swag”
Orang paling sering membecandakan kalimat “youtube lebih dari TV” lalu mencemooh “kalau emang lebih dari TV kok lo pada masih tetap butuh TV?”

Padahal coba kesampingkan sinisme dan kebencian anda dulu & pikirkan baik baik.

Dalam banyak hal, youtube memang lebih dari TV. 

Lebih variatif.

Lebih kreatif.

Lebih bebas.

Lebih mengakomodir anda untuk berkarya

Lebih cocok & murah (gratis bahkan bagi para pekarya) utk mempromosikan karya anda 

Lebih adil ketimbang rating TV

Lebih menarik.

Lalu salahnya kalimat “youtube lebih dari TV” di mana?

Lagipula, tanpa sadar setiap kali di socmed ada yang menulis kalimat “youtube lebih dari TV” mereka melegitimasi kemampuan Jovi dalam menulis lirik yang catchy & nge-hook

Bagaimana dengan “Explicit Lyrics” di lagu ini? Kata kasar bertaburan dan dianggap mencontohkan yang buruk kepada anak anak.

Lucu orang orang itu.

Seakan akan sikap nyinyir dan menyindir mereka bukan contoh buruk utk anak anak yang membaca tweet mereka.

Seakan sikap ngomongin orang tanpa mention yang dimaksud bukan contoh buruk untuk anak anak.

Seakan sikap menggosip di belakang tanpa integritas adalah contoh baik.

Seakan sikap keroyokan di socmed kepada satu atau sekelompok orang adalah sikap mulia yang mereka mau contohkan ke anak anak.

Seakan sikap kebebasan berpendapat hanya utk yang sependapat sementara yang tidak sependapat diblok jadi contoh ideal untuk hidup dalam perbedaan bagi anak anak ini.
Bahasa kasar bisa dihentikan dengan larangan. Saya tahu persis karena saya Ayah dari 2 anak yang sudah punya sikap & bisa berbahasa.

Tapi mental anak anak melihat orang dewasa yang minim integritas akan membekas dan menjadi bagian dari jati diri mereka. Hati hati menghardik orang, mawas diri juga sebaiknya.
Soal memasang marka “Batas usia” pada konten saya setuju. Sewajarnya siapapun yang mengunggah konten seperti GGS punya kewajiban untuk memasang marka tersebut. Karena itu hal yang benar untuk dilakukan.

Kalau rombongan GGS menolak melalukan itu karena takut viewsnya turun drastis, ya berarti mereka tidak beda dgn TV yang lakukan apapun demi ratingnya tinggi.

Namun harus diketahui, itu tidak akan menahan anak anak dari menemukan konten negatif.

Anak anak saya suka nonton kartun di youtube. Kadang kadang tab suggestion menampilkan fan art dari sebuah kartun yang ternyata bahasanya kasar. Bahkan Dipo pernah tidak sengaja menemukan konten porno. Waktu itu dia belum bisa lancar baca. Lagi nonton nonton Angry Birds lalu dia klik sebuah video yang fontsnya menyerupai Angry Birds. Tiba tiba Dipo teriak memanggil saya & menunjuk ke ipadnya dengan panik. “Apa itu?” Tanyanya dengan gusar. Pas saya lihat videonya isinya cewek cewek seksi berbikini, videonya berjudul “Angry Girls”

-_-*
Jadi, terkait konten dan hal negatif yang seliweran di socmed, atau TV, atau sekolah atau les atau pertemanan, sadari bahwa pengekangan mata & telinga mereka adalah percuma. Lah saya bisa nonton bokep dari SD. Baca stensil dari SMP. Padahal jelas itu bukan konsumsi umur saya. Tapi ya begitulah anak anak.

Mereka selalu ketemu caranya.
Kuncinya, adalah orang tua.
Buat saya, memblokir konten internet karena takut anak terkena dampaknya sama lucunya dengan menutup warung makan karena takut terganggu puasanya.
Anda ingin tutup warungnya supaya puasanya gampang.

Anda ingin blokir internetnya supaya kerjaan anda sebagai orang tua gampang.
Tidak mudah jadi orang tua, saatnya kita sadar & ambil tanggung jawabnya.

Sayapun sudah sampai menjelaskan apa itu F word, S word dan jari tengah (videonya ada di sini) dan saya justru senang dia bertanya. Saya tidak memarahi ketika dia tahu kata kata tadi. Lebih baik dia tanya & dapatkan penjelasan dari saya dari pada orang lain.
Begitulah pendapat saya tentang lagu GGS.

Sekarang saya pamit dulu.

Mau nulis lagu rap yang bisa lebih keren dari GGS.

Begitulah kami di hip hop, kompetisi memancing kami jadi lebih baik.
Kelihatannya single saya selanjutnya setelah usai menjalankan Juru Bicara World Tour yang merupakan tur dunia pertama oleh orang Indonesia, judulnya juga GGS: 
Ganteng Ganteng Sombong.

Lebih baik yang datang polisi

Ada 1 hari yang saya sangat sesali dalam hidup.

Sebenarnya, banyak. Tapi terkait menjadi orang tua, ada 1 yang selalu membekas & teramat saya sesali.
Hari itu kami sedang dalam perjalanan mobil menuju sebuah hotel di Bandung. Saya bahkan tidak ingat hotelnya, yang saya ingat adalah kami nyasar menuju ke sana.
Kami yang dimaksud adalah saya, Gamila & Dipo. Shira belum lahir jadi kemungkinan Dipo saat itu berusia 3 tahun. 
Saya tidak ingat apa penyebabnya tapi Dipo teramat rewel. Pada masa itu Dipo masih suka melempar barang ketika marah & bahkan meludah. Sesuatu yang kami berulang kali larang dengan keras. Kelihatannya dia meniru perilaku itu dari anak anak lain & ketika ingin berargumen tapi kesulitan untuk melakukannya secara verbal, protes teatrikal biasanya selalu jadi jalan keluar.
Sesampainya di hotel, saya keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Dipo yang baru turun dari mobil, saya cengkram tangannya, saya bentak dia dengan gelegar suara seperti Singa lalu saya angkat Dipo ke udara & mengguncang tubuhnya keras sambil membentak.
Ketika saya turunkan ke lantai, tubuhnya bergetar. Dia kaget kelihatannya. 

Saya pun terkejut dengan apa yang baru saya lakukan.

Melihat Dipo ketakutan melihat saya seketika membuat saya sedih & ingin menangis.
Dipo meneteskan air mata lebih dahulu. Tangisan dahsyat yang mau keluar dia tahan sekuat tenaga, kelihatannya dia takut saya marah lebih parah. Tubuhnya bergetar karena berusaha menahan tangis.
Saya langsung peluk dia dan meminta maaf, Dipo langsung lepas tangisnya. Dan maha dahsyat tangisannya.
Dipo anak yang baik

Dia sopan

Dia halus pekertinya

Banyak orang yang mengenal dia mengenalnya sebagai anak yang manis.

Setiap kali saya cium & peluk dia sambil berkata “i love you”, dia sering membalas “Love Mama too, as much as you love me” lalu dia mengajak saya & adiknya untuk memeluk Mamanya “Everybody hug Mama!” lalu kami group hug.


Dipo tidak layak mendapat perlakuan tadi.

Tapi seperti yang saya katakan tadi, ketika ingin berargumen tapi kesulitan untuk melakukannya secara verbal, protes teatrikal biasanya selalu jadi jalan keluar.

Saya hilang akal untuk mengatasi Dipo.

Saya kurang fasih menjadi seorang Ayah.
***
Mungkin sudah lewat beberapa minggu kejadian seorang guru mencubit murid.

Murid lalu mengadu, orang tua lapor polisi, guru dikasuskan, lalu Indonesia terbagi dua. Ada yang simpati kepada guru yang menangis, ada yang mensyukuri tindakan sang orang tua untuk mengadukan gurunya.
Bagaimana dengan saya?
Saya berjanji kepada diri saya sendiri, untuk tidak menyakiti anak anak saya.

Karena selain jelas itu penganiayaan, itu juga tidak adil. 

Saya melakukan sesuatu kepada anak anak saya yang tidak bisa mereka lakukan kepada saya. 

Saya bagaikan raksasa di mata mereka.
Kemudian, saya tidak ingin anak anak saya menuruti saya karena takut.

Saya tidak ingin mereka melihat saya seperti saya melihat Ayah saya. Saya ingat dulu setiap Ayah teriak “Mas Pandji!” tubuh saya bergidik sesaat sebelum kemudian berpikir “Salah apalagi nih gue?”

Saya ingin setiap kali pulang ke rumah saya masih mendapatkan perlakuan yang sama. Anak anak berlarian menuju saya sambil berteriak riang “Ayaaaaaaaaah”

Saya ingin mereka terus berebut ingin ngobrol dengan saya. Saya ingin mereka terus menceritakan apapun yang terjadi kepada mereka, kepada saya.
Lagi pula, orang yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, pertanda hilang akal untuk menyelesaikannya secara intelektual

Saya bukan orang bodoh. Tindakan saya akan mencerminkannya.
Maka kalau saya tidak akan menyakiti anak saya, tidak ada orang lain yang boleh menyakiti dia. 

Apapun alasannya. Apapun jabatannya.

Guru yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, pertanda dia juga hilang akal untuk menyelesaikannya secara intelektual.

Maka dia tidak layak dianggap pemimpin bagi anak saya di sekolah. 

Mengajar adalah pekerjaannya. Kalah kekerasan dipilih jadi jalan maka dia bukan orang yang baik dalam menjalankan pekerjaannya.
Berbincang dengan kawan saya di kementrian pendidikan,

dikatakan dalam PP 74/2008 pasal 39 guru punya kewenangan memberikan sanksi, namun sanksi itu harus berada dalam koridor kaedah pendidikan, kode etik guru dan peraturan perundangan. Penganiayaan, jelas pelanggaran.
Bahkan lebih jelas lagi, perlindungan terhadap siswa juga sudah jelas dalam UU 35/2014 ttg Perubahan thdp UU 23/2002 ttg Perlindungan Anak di pasal 54 yg menyatakan anak di dalam sekolah wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya dari siapapun.
Jelas, guru tersebut salah. Dan selayaknya guru tersebut mendapatkan hukuman.
Bagaimana dengan kondisi guru tersebut yang dipolisikan? Apakah saya setuju?
Saya tidak akan menasehati orang tua manapun untuk melakukan apapun terkait anak mereka. Itu terserah mereka.
Tapi kalau itu terjadi kepada anak saya, saya akan melawan. Tapi saya tidak butuh bantuan kepolisian.
Saya tidak perlu mengadu ke manapun.

Tidak perlu bekingan siapapun.
Kalau sebagai guru anda menyakiti anak saya, anda akan sadar bahwa saya lebih menakutkan dari pada polisi. Lebih menakutkan dari pada TNI.

Anda sakiti anak saya, anda akan lebih takut kepada saya dari pada Presiden RI.
Saya tidak akan ambil jalan kekerasan kepada anda. Tapi anda akan berharap lebih baik yang datang polisi.

BLINDEAT

Traveling. Culinary.

Dua kata yang saling terkait. Normalnya, ketika kita jalan jalan ke luar kota apalagi ke luar negeri, wisata kuliner ada di dalam daftar kegiatan. Namun untuk kali ini, saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang seru. Seperti kalau kita nonton program kuliner di luar negeri.

Muncullah ide dari Awwe. Dia langsung sebut namanya: BLINDEAT. Secara gagasan saya diminta makan sesuatu dengan mata tertutup, lalu menebak saya sedang makan apa.

Saya pikir, “Lucu juga idenya…”

Yang saya tidak sangka, prakteknya benar benar menyebalkan.

Gara gara program ini, saya makan Tahu basi, Kadal, Ulat Sutra, sampai Tarantula.

Tarantula.

Terakhir lihat Tarantula itu di film Home Alone.

Sialnya, ternyata penonton kanal vidio saya justru suka program ini. Mereka terhibur melihat saya menjerit ketika tahu apa makanan yang saya kunyah.

Sebentar lagi kami akan berangkat ke Afrika.

Saya sudah cemas, apalagi yang akan diumpankan ke saya di program BLINDEAT.

MIKIR

Sudah 42 episode.

Vlog MIKIR kini menjadi konten paling fleksibel di kanal vidio saya. Dari cerita tentang tur dunia, sampai pemikiran mengenai sampah di Jerman, sampai bercerita tentang lari pagi di seluruh dunia, MIKIR jadi konten yang paling mudah untuk saya bercerita.

Pada intinya, MIKIR isinya pemikiran saya terkait sesuatu, kadang berat seperti episode ini mengenai memasarkan bahasa Indonesia kepada dunia atau pemikiran sederhana mengenai kecintaan terhadap sepakbola. Sering kali saya gunakan untuk memancing anda MIKIR seperti episode “Permisi”

Kata MIKIR saya ambil dari topi MIKIR yang saya pakai sejak 2009 dan dianggap orang ikonik. Kadang ada yang nanya kenapa saya pakai kata yang dipopulerkan Cak Lontong. Jawabannya ya karena yang punya kata itu bukan dia dan sebelum orang itu dengar Cak Lontong ngomong “Mikir” saya sudah pake topinya di tahun 2009. Stand-Up Comedy aja baru meledak 2011.

mikirrrr

MIKIR (bersama dengan JUBIR TUBIR) jadi konten yang paling sering muncul karena mudahnya dia menampung ide dan format apapun. Juga karena mudah untuk saya kerjakan. Kalau suka dengan konten ini, maka santai saja. Dia akan hadir sampai akhir 2016 ini 🙂 Silakan dimanfaatkan pemikiran saya untuk membuat anda, mikir.

 

Kapan Pulang?

Kalau anda pernah baca buku NASIONAL.IS.ME, maka anda pasti pernah dengar cerita tentang pasangan muda yang meminjam uang saya untuk jadi modal tinggal di Amerika. Kalau belum, baca dulu sana karena ceritanya panjang dan kalau saya ceritakan ulang di sini, maka blog post ini akan jadi hal yang berbeda dengan niat awalnya.

Intinya, kejadian itu meninggalkan rasa penasaran di benak saya. “Salahnya Indonesia apa?”

Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Banyak salahnya, tentunya.

Tapi pertanyaan ini sejak lama ingin saya tanyakan kepada orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar negeri sehingga enggan balik. Apa yang membuat mereka enggan pulang ke Tanah Air padahal di negeri seberang mereka adalah minoritas, mereka pendatang, tentu mereka mengalami semacam tekanan. Kenapa mereka tidak mau pulang?

KAPAN PULANG adalah konten di akun vidio saya yang isinya adalah saya berbincang dengan banyak orang di luar negeri tentang kenapa mereka tidak mau pulang, dan kalaupun pulang, kapan.

Sejauh ini, jawaban jawabannya merupakan tamparan untuk saya yang sedang berjuang bersama anda dan yang lainnya untuk mengubah Indonesia jadi lebih baik. Hal hal sederhana hingga hal hal kompleks muncul sebagai jawaban mengapa mereka enggan pulang.

Salah satunya ketika saya berbincang dengan Citra, seorang pelajar di Frankfurt yang bilang bahwa semuanya serba tepat waktu dan jelas. Termasuk transportasi umum sehingga dia bisa mengukur waktu dan merencanakan apa yang dia mau lakukan dengan harinya. Sementara di Jakarta, terlalu banyak faktor X yang bisa membuat runyam rencana. Dan kalau anda punya pekerjaan atau peran yang penting, maka runyamnya rencana anda bisa buat berantakan hidup banyak orang.

Sejalan dengan kawan saya Gandhi di Beijing yang cerita bahwa untuk dia,  1 hari di Beijing bisa lebih produktif dari pada 1 hari di Jakarta. Dia bilang tidak pernah capek tinggal di Beijing, salah satu kota terpadat di dunia yang berada di negara dengan penduduk terbanyak di dunia, sementara di Jakarta setiap malam dia bisa begitu lelah dan mengeluh banyak yang tidak sempat diselesaikan.

Beda lagi jawabannya dengan Irma di Berlin yang bilang, tinggal di Jerman malah lebih membuat dia merasa diterima menjadi diri sendiri dari pada tinggal di Indonesia. Bayangkan. Tinggal di negeri orang malah lebih bisa jadi diri sendiri daripada tinggal di negeri sendiri. Karena menurutnya di Indonesia banyak orang merasa lebih benar dan dengan itu merasa punya hak untuk mengkritik yang salah. Dan dia jengah dengan itu.

Semakin banyak orang yang saya wawancara untuk KAPAN PULANG, semakin saya tahu apa yang bangsa Indonesia rindukan. Rencananya sepanjang Juru Bicara World Tour saya akan terus membuat vidio ini, yang berarti saya akan terus bertemu dengan orang Indonesia di luar negeri dan bertanya “Kapan pulang?”

 

Juru Bicara Medan

Di Juru Bicara World Tour, HAM jadi salah satu sorotan utama. Dari Aksi Kamisan, hingga 65, termasuk di dalamnya Tragedi Trisakti menjadi bahasannya.

Itulah mengapa, Medan jadi penting dalam tur ini.
Kalau dilihat di skema di atas, seluruh runutan Soeharto turun diawali dgn BBM yg naik begitu drastis harganya. Mahasiswa yang pertama kali bereaksi keras, adalah Medan. Sampai terjadi kerusuhan yang berlangsung selama 4 hari. Kerasnya penolakan Medan memancing pergerakan mahasiswa lain termasuk Jakarta. Salah satunya Trisakti yang pada akhirnya terlibat dalam sebuah tragedi di mana 4 mahasiswanya tewas diterjang peluru tajam tgl 12 Mei. 
Medan jadi kota yang penting.
Bukan hanya karena perannya dalam rentetan kejadian Mei, tapi karena Medan adalah kota Indonesia pertama yang didatangi tur Juru Bicara ini.

Kota lain Indonesia, terpaksa harus menunggu. Itulah mengapa tiket Juru Bicara Medan banyak dibeli oleh orang dari luar Medan. Aceh, Batam, Palembang, Pekanbaru, dll.


Tiket masih tersedia, berikut skemanya:

– PLATINUM = 175rb (Dapet Voucher Levi’s 100rb + Voucher WYDNshop 100rb khusus produk digital)
– GOLD = 125rb (Dapet Voucher Levi’s 100rb)

– REGULAR = 100rb (Hanya Tiket Masuk)

Utk pembelian tiket bisa hubungi nomor di bawah ini

Kalau anda di Sumatera, atau kalau anda ingin jadi yg pertama di Indonesia untuk nonton Juru Bicara, jangan lupa beli tiketnya. Sampai ketemu di Juru Bicara Medan 🙂