Pemikiran akan pendidikan.

It was hilarious, it was brilliant, it had so much heart, it was out of the box, and to add the cherry on the top: It was poetic.

Itulah kesan saya akan Tut Wuri Hangapusi. Stand-up Special Luqman Baehaqi yang merupakan stand-up special pertama bertema khusus. Dalam hal ini pendidikan.

Luqman bukan orang baru di dunia Stand-up comedy Indonesia. Bahkan dia adalah salah satu yang masuk dalam angkatan pertama.
Namun belakangan jarangnya dia diundang untuk stand-up di TV & terlibat dalam pertunjukan stand-up comedy membuat orang terlupa akan namanya.
Tapi keputusannya untuk nekat bikin special menunjukkan tekadnya, dia tidak mau disebut “Mantan Komika”.

Tut Wuri Hangapusi membawa banyak resiko. Kemungkinan rugi tentu ada di depan mata tapi untuk orang yang memutuskan untuk mulai berkarya, resiko ini layak diambil.
Karena lebih penting daripada uang yang masuk, adalah pernyataan sikap.

Tut Wuri Hangapusi terasa bobotnya dari awal sampai akhir.
Yang menarik bukan hanya lawakannya, tapi pemikiran di balik lawakan tersebut.

Pemikirannya soal peribahasa “Udang di balik batu” yang membuat orang orang selalu mencari cari “udangnya” di balik setiap “batu”. Setiap kali ada sesuatu yang hebat atau besar selalu dicari cari yang amis dibaliknya. Padahal gak selalu ada udang di balik batu.

Soal pandangannya terhadap murid yang harusnya mencari guru bukan mencari sekolah.

Soal pandangannya bahwa les merupakan bukti otentik bahwa ada yang salah dengan sekolah

Setiap kali Luqman masuk ke premis, saya selalu berpikir “Bangsat. Bagus banget premisnya”.
Luqman nampak seperti perenung yang lucu. Pemikir yang jenaka.

Sebuah pertunjukan stand-up comedy tentu harus lucu, tapi dengan Luqman penonton dapat hal hal lain dari awal sampai akhir acara.

Di depan, panitia panitia menggunakan kostum bertema pendidikan. Dari guru sekolah negri sampai guru olahraga pemalas.

Di dalam pertunjukan, Luqman hadirkan sulap & yang paling lucu: Kuntilesot sebagai sidekick.
Kuntilesot adalah Kuntilanak ngesot yang jadi asisten Luqman ketika sulap. Setiap kali dia muncul dari pinggir panggung, selalu ada asap, musik mengerikan lalu Kuntilesot muncul sambil ngesot memberikan spidol.

Di akhir pertunjukan, Luqman menutup dengan sebuah epilog. Membacakan bagian dari sebuah kisah pewayangan yang jadi analogi dari dunia pendidikan & problematikanya.

Lalu diiringi musik, Luqman berjalan ke bangunan reyot yang jadi backdrop pertunjukannya, sebuah bangunan SD yang menyedihkan & menuju pintu sekolah tempat di masuk panggung di awal pertunjukan.
Sebelum dia keluar, Luqman menoleh & melihat ke bendera merah putih yang sepanjang pertunjukan berdiri miring karena tiang bambunya miring nyaris jatuh. Luqman tegakkan bendera merah putih, mundur 1 langkah, dan memberikan hormat kepada bendera merah putih, sampai tirai panggung tertutup penuh.

Poetic.

Hal pertama yang saya lakukan ketika lihat Luqman menuruni tangga panggung usai acara adalah memeluknya penuh haru.

Its one of the best special i have ever seen.
And i’ve seen a lot.

Semakin menguatkan saya bahwa seorang komika yang bagus, akan jadi hebat ketika dia akhirnya menemukan alasan mengapa dia naik panggung.
A reason.
Stronger than just wanting to go on stage, is a REASON to go on stage & perform.
Luqman memiliki itu malam tersebut.

Yaitu sebuah usaha dari tangannya sendiri, untuk menggoncang pemikiran kita akan pendidikan.

PS: Kayaknya akan ada DVDnya deh Tut Wuri Hangapusi, pantau aja akun @lukemanaaja

3 thoughts on “Pemikiran akan pendidikan.”

Leave a Reply to hilaluddin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*