Yang penting bukan gelarnya, tapi pendidikannya…

Kalau kita sebut “Kota Pelajar” biasanya yang muncul ke permukaan adalah Yogyakarta.

Walaupun memang ada beberapa kota pelajar di Indonesia seperti salah satunya Bandung.

Kota pelajar, adalah predikat yang sejak dulu diberikan kepada Yogyakarta karena banyaknya pelajar yang ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Banyak kampus, banyak mahasiswa.

Tapi belakangan ini, sudah muncul selentingan yang berbisik “Lebih penting kualitas dari pada kuantitas”

Indonesia kalau soal urusan “kuantitas” bisa dibilang jagonya.

Penduduk ke 4 terbesar di dunia, jelas berbuntut panjang kalau dikaitkan dengan jumlah.

Jumlah pengguna facebook dan twitter yang tinggi, jumlah perkembangan pasar ponsel yang tertinggi, jumlah kepadatan penduduk tertinggi di sebuah pulau (jawa) dan masih banyak lagi.

Tapi apakah kita sudah bisa menuai “kuantitas” itu untuk ditemukan yang “berkualitas” ?

“Nyari 11 pemain sepakbola terbaik dari 230juta aja susah.” begitu kata orang orang di Indonesia.

Kualitas adalah sesuatu yang harus jadi perhatian.

Karena terutama Kota Pelajar Yogyakarta, kini dipertanyakan kualitas pelajarnya.

Harian Kompas kemarin memberitakan “Yogya tetap pegang ‘rekor’ ketidaklulusan”

Karena ketika UN dilakukan, ternyata Yogya tingkat kelulusannya paling rendah.

Lalu waktu UN Ulangan dilakukan untuk mereka yang tidak lulus UN, ternyata lagi lagi Yogya masih paling rendah tingkat kelulusannya!

Total peserta UN adalah 150.410 siswa di seluruh Indonesia.

Total peserta UN yang tidak lulus adalah 11.814 siswa. atau sekitar 7,85 persen.

Ditambah dengan yang tidak ikutan UN Ulangan, akhirnya total yang ga lulus ada 14.670 siswa

Ada lagi data yang lebih mencengangkan, berikut adalah urutan daerah daerah yang angka ketidak lulusannya tinggi

1. YOGYAKARTA

2. JAWA TENGAH

3. BENGKULU

4. DKI JAKARTA

5. NTT

Ketika kita sebut angka ketidaklulusan tinggi, maka yang terlintas di kepala kita adalah masalah masalah seperti : fasilitas sekolah yang tidak memadai, seperti gedung sekolah yang bobrok, buku yang tidak lengkap, guru guru yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah murid, atau guru yang tidak berkualitas, dan lain lain…

Tapi apakah betul kualitas pendidikan di Yogyakarta dan jawa Tengah itu rendah?

Mohon diingat bahwa mengapa 2 daerah tersebut ada dalam 5 besar adalah juga karena kepadatan penduduk di daerah tersebut.

Tapi kalaju kita bandingkan dengan propinsi lain di Indonesia yang kepadatan penduduknya tidak jauh berbeda dengan Yogya dan Jateng. Betulkan murid murid Yogya dan Jateng kalah cerdas?

Ada beberapa kabar kabur yang beredar bahwa setiap propinsi juga ingin terlihat baik di mata pemerintah. Ingin terlihat baik di mata media. Sehingga banyak nilai nilai yang dikatrol. Entah benar atau tidak.

Kalau benar, maka Yogya bukan daerah yang angka kelulusannya rendah, tapi justru kejujurannya tinggi 🙂

Namun diluar itu, ga perlu jauh jauh , di Jakartapun banyak sekolah sekolah yang kualitas pendidikannya rendah (termasuk gedung yg bobrok dan fasilitas lain yang mendukung kualitas pendidikan)

Artinya memang ada masalah yang kita bisa sama sama selesaikan.

Memang, banyak orang orang yang ga bergelar sarjana bisa sukses jadi pengusaha. Atau ada lulusan SD yang jadi Presiden, hehehe tapi harus kita akui, kita semua bisa jadi seperti sekarang ini karena sekolah.

Karena sebenarnya, yang penting dari sekolah bukan gelar yg kita dapat setelahnya, tapi pendidikannya yang kita dapat semasa sekolahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*