Perempuan Berhak

“Kenapa jarang ada komika perempuan di Indonesia?”

Pertanyaan yang cukup sering saya dapatkan dari orang orang sejak pertama kali Stand-Up Comedy meledak di Indonesia.

Sebenarnya, bukan hanya di Indonesia. Komika perempuan di dunia juga jumlahnya jomplang dengan komika laki laki.

Kalau dilihat lebih dalam lagi, sebenarnya bukan hanya profesi komika. Ada banyak sekali pekerjaan yang perbandingan pelaku laki laki dan perempuannya jomplang. Pilot, Arsitek, Pemain sepakbola, Supir, dan walaupun untuk anda, memasak identik dengan perempuan, realita-nya Chef lebih banyak laki laki daripada perempuan. Bahkan White House baru punya head chef perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah di era kepemimpinan Obama.

Jadi sebenarnya, masalahnya bukan di dunia komedi.

Masalahnya ada di dunia gender.

Jadi sulit untuk bisa menjawab dengan tepat mengapa lebih banyak komika laki laki daripada perempuan karena permasalahannya lebih mendasar.

Kalau pertanyaannya diganti “Apakah ada komika perempuan yang bagus di Indonesia?”, saya bisa jawab.

Banyak.

Seperti seni lainnya, tentu komedi juga bagus buruknya tergantung selera. Maka ketika saya menjawab “Banyak” maka yag saya maksud, adalah ada banyak pilihan komika bagus untuk banyak jenis selera komedi.

Bahkan sebenarnya, sejak meledaknya Stand-Up Comedy di Indonesia 2011 yang lalu, SUCI Kompas TV sudah hadirkan komika perempuan dan sampai sekarang masih berkarir bahkan pencapaiannya mengagumkan.

Namanya, Sakdiyah Ma’ruf.

Dan nama tersebut, sudah tersiar sampai luar negeri.

Anda mungkin belum pernah menonton dia Stand-up, tapi orang orang di Australia sudah mengenal komika perempuan muslim pertama Indonesia ini yang membahas mengenai Islam, ekstrimisme, tradisi, dan keperempuanan.

Menariknya, Sakdiyah jadi komika bukan karena dia berencana untuk itu. Dia menggemari Stand-Up Comedy dan menghubungi saya (kalau nggak salah lewat komentar di blog atau di twitter) ingin bertemu ketika audisi SUCI 1 hadir di Jogja karena dia sedang menulis thesis S2 mengenai Stand-Up Comedy. Kami janjian untuk bertemu. Dia datang ke audisi. Saya kenalkan dia kepada Kompas TV lalu Kompas TV berhasil meyakinkan Sakdiyah untuk ikutan audisi.

Kagum bukan hanya dengan kelucuannya tapi dengan sudut pandang yang ditawarkan dan ketenangannya di audisi tersebut, dia diterima masuk. Walau pada akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Hingga hari ini, nama nama komika perempuan terus bermunculan. Angkatan terkini mengenal Aci Resti dan Arafah . Bahkan SUCI 7 yang baru mulai ini, hadirkan komika perempuan Bo’ah dan Nury.

 

Kini yang kita nanti, tinggalah konsistensi.

Karena kalau ada perbedaan mendasar antara umumnya komika laki dan perempuan di Indonesia, adalah jumlah jam terbang dalam melakukan stand-up comedy.

Seharusnya, jumlah yang lebih sedikit tidak berarti mereka kalah lucu. Seharusnya walau lebih sedikit, bisa sama lucunya. Bahkan mungkin lebih. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat jumlah komika perempuan juga jauh lebih sedikit dari pada laki laki, tapi Ellen, Wanda Sykes, Amy Schumer, Whoopi, Sarah Silverman, Tina Fey, lucunya luar biasa. Mengalahkan banyak komika laki laki di sana.

Konsistensi komika komika perempuan Indonesia ini yang masih harus digenjot lagi. Malah di antara begitu banyak nama komika perempuan yang pernah didata oleh Jessot (Jessica Farolan) hanya 5 yang masih stand-up kalau saya tidak salah. Tapi tentu ada nama nama baru yang hadir dan belum tercatat di situ.

Banyak di antara komika perempuan ini yang tidak openmic serajin yang laki-laki. Mungkin juga tidak serajin yang laki-laki dalam menulis materi. Bisa jadi karena Openmic selalu sampai larut malam, penuh asap rokok pula, pokoknya bukan situasi yang kondusif untuk perempuan. Makanya saya pernah usulkan ada baiknya komika komika perempuan bikin aja openmic sendiri yang kondusif. Sekalian berjejaring dengan sesama komika perempuan. Soalnya kalau jarang openmic, ya penampilan akan terus angin anginan.

Konsistensi, bisa jadi adalah alasan mengapa pertunjukan Stand-Up Comedy “Perempuan Berhak” dihadirkan kembali. Komika komika perempuan, Sakdiyah, Fathia, Alison, Jessot, ditambah musik oleh Gamila Arief.

Pertunjukan pertama mereka waktu itu dilakukan di Eclectic Citos tahun 2014. Dan mereka, mengagumkan.

Masing masing komika bukan hanya lucu, tapi mereka juga berani dan masing masing punya warna yang unik.

Fathia dengan premis yang rasanya dekat dengan banyak perempuan ketika kita bicara soal relationship. Jessot yang sejak dulu berani dengan opininya dan brilian dalam premis, kala itu banyak self depracating tapi tidak dengan cara yang membuat dirinya terkesan cemen. Sakdiyah yang tentu ada di kelas yang berbeda dengan rata rata komika Indonesia. Dan Alison yang malam itu, melempar bit yang sampai saat ini masih jadi salah satu bit terfavorit saya di Indonesia. Mengenai keminderan orang Indonesia terhadap Bahasa Indonesia sendiri. Dihantarkan oleh seorang perempuan Inggris.

Kini mereka kembali, dengan tambahan 1 nama: Ligwina Hananto.

Dengan Wina, Perempuan Berhak kini punya seseorang yang akan menghadirkan warna yang beda. Saya belum pernah menonton dia selama ini openmic di Standupindo Jaksel, tapi karena Wina punya Political views, akan sangat menarik menyaksikan dia di atas panggung melakukan Stand-Up Comedy.

Tahun yang tepat pula untuk Perempuan Berhak kembali.

2017 adalah tahun yang ramai dengan pertunjukan Stand-up Comedy. Ernest, Soleh, Adri, Awwe, Bintang, Gilbhas, dan masih banyak lagi komika komika Indonesia membuat pertunjukan spesial dan tur tahun ini. Perempuan Berhak hadir juga di tahun paling seru untuk standupindo ini.

Usul saya, perempuan ataupun laki, sebaiknya tonton pertunjukan ini. Ketika presale dibuka, sikat secepat mungkin tiketnya. Tiket presale hanya ada 100. Hanya 100 tiket. Coba bayangin followers mereka di twitter, dijumlah lalu diingat lagi bahwa presale hanya akan menjual 100 tiket.

Nah kan, mulai kuatir 🙂

Beli tiketnya, dan ajak teman teman lain.

Bisa jadi, ini akan jadi pengalaman nonton Stand-Up Comedy paling berkesan tahun ini.

PS:

Sebagai referensi berikut nama nama komika perempuan yang saya kenal (di luar yang saya kenal masih banyak lagi sebenarnya) dan mungkin bisa dicari di youtube video stand-upnya.

Sakdiyah , Jessica Farolan, Fathia, Alison, Ligwina Hananto, Musdalifah (bukan yang mantan istrinya ), Chevrina, Gita Bhebita, Sacha Stevenson, Alonki, Chandra, Arafah, Aci Resti, Vina, Sri Rahayu, Istiqomah, Bo’ah, Nuri.

Sampai ketemu di pertunjukan Stand-Up Comedy, Perempuan Berhak

3 thoughts on “Perempuan Berhak”

  1. Blognya Pandji baru rame kalau nulis mengenai politik (pilkada)_ kalau yg gini sepi.

    Persis kaya Jonru kl nulis fitnah ke Jokowi/Ahok rame tapi kl bicara ngumpulin sumbangan sepi.

    Serupa tapi tak sama.

    Tinggal hikmatnya Pandji aja, apa mau populer kaya Jonru atau seperti dulu.

      1. Aris…saat dia bicara keahliannya…sepi yang komen, saat dia bicara (bukan) keahliannya…rame komennya…so you guess! hahaahahh

        Mirip ama Jonru, saat dia bicara bukah keahliannya (politik)…rame komen…. saat dia jualan buku, gorden dan minta sumbangan …sepi….wkwkkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *