Mengapa gue melakukan personal branding (L.A.W.)

Thu, Mar 11, 2010

Uncategorized

Beberapa hari yang lalu mas @Nukman sempat bilang bahwa gue termasuk salah satu orang yang terbilang baik dalam melakukan personal branding via SocMed.

Waktu gue retweet sambil berterima kasih, ada yang bertanya apa itu personal branding ke gue.

Waktu itu gue hanya jawab sekenanya, tapi kali ini gue muncul keinginan untuk menerangkan lebih dari yang hanya “sekenanya saja”.

Mengapa gue melakukan Personal Branding?

Awalnya harus gue akui, gara gara “Kena Deh!”

Kok gara gara?

Ya memang, gara gara Kena Deh (KD) gue dipikir oleh orang orang sebagai pelawak.

KD memang memberikan “ketenaran” untuk gue. Dari Kupang sampe Belitung, orang kalo liat gue teriak teriak “Kena Deh!”

Awalnya, gue menikmati saja… itu tahun 2006.

KD shooting dan resmi tayang 2006 di TV7 lalu menjadi Trans7.

Hak tayangnya kemudian berpindah ke ANTV lalu dimainkan terus menerus hingga hari ini di tahun 2010.

Selama bertahun tahun orang hanya berteriak “Kena Deh!”

Pekerjaan yang datang kepada gue juga tidak jauh dari ranah “lawak”

Padahal, sejak dulu, gue tidak pernah nyaman melawak. Gue adalah presenter yg seneng melucu.

Itu sama sekali berbeda dengan pelawak.

Akhirnya, gue terjebak pada image sebagai orang lucu.

Susahnya, kemanapun gue pergi, pada akhirnya gue mengecewakan banyak orang karena setelah ketemu langsung, umumnya merasa “Kok aslinya ga lucu? Pendiam bahkan? Kecewa ah”

Sementara dalam hati gue merasa “Lah? Beginilah aku..”

Lalu masalah lain lagi kalau gue mau berbicara serius. Orang cenderung tidak pernah menanggapai “keseriusan” gue karena dianggap tidak bisa serius.

Kalau gue baca buku, orang orang suka bilang “Duuuh sok pinter deh lo baca buku, kayak ngerti aja”

Gue jadi ga nyaman baca buku di depan banyak orang karena hal hal seperti itu..

Maka ketika @Ramyaprajna, salah satu pendiri Think.Web (bisa difollow di @thinkweb) menawari untuk kerjasama online personal branding, gue setuju.

Gue dijadikan kelinci percobaan perusahannya , hehehe…

Saat itu, gue sudah aktif ngeblog..  Gue ngeblog dari 2004, tapi sejak 2007, Rama memindahkan ke wordpress, “merapihkan” tampilan blog gue, dan menyarankan untuk lebih rajin menulis.

Maka gue disiplinkan diri untuk menulis. 2007-2008 hampir setiap hari gue menulis.

Tulisan gue berkisar kepada current issue, isu sosial, isu nasionalisme, dll.. Hal hal yang selama ini ada di kepala tapi tidak punya penyaluran.

Blog gue mulai ramai, dan orang orang mulai berkomentar “Ternyata pandji orangnya begini ya?”

Lalu menuruti nasihat Rama, gue mulai menggunakan Facebook.

Awalnya gue enggan, tapi lama lama nurut juga.

Karena facebook penggunannya mulai ramai, maka gue mengimport tulisan blog gue, sehingga orang orang yg masuk ke friendlist jadi terbiasa membaca tulisan tulisan buah pemikiran gue

Terlebih lagi, karena tahun 2008 gue merilis album.

Yang selain merupakan cita cita sejak SMP, juga merupakan penyaluran aspirasi, dan juga alat pembentukan image kepada brand “pandji” yang gue harapkan.

Tidak jauh dari peluncuran album gue yang berisikan lagu lagu seperti BAJAK LAGU INI, ADA YANG SALAH (membicarakan isu sosial, demonstrasi, beramal, dll) juga UNTUK INDONESIA yang mempromosikan kecintaan terhadap Indonesia, orang orang mulai semakin melihat sisi yang baru dari seorang Pandji.

Beberapa bulan kemudian, e-book gue “How i sold 1000 CDs in 30 days” yang berisi adaptasi ilmu marketing dari buku buku yang gue baca jatuh ketangan editor Gramedia.

Sekitar 2 bulan berselang, gue menerbitkan buku marketing pertama gue.

Sampai titik ini, orang semakin paham Pandji seperti apa.

Sampai titik ini, facebook gue semakin ramai friendlistnya… Gue mulai mengamati pentingnya “status” facebook.

Twitter sudah gue gunakan (disuruh rama juga)

Gue ngetweet mulai tanggal 5 april 2008

Tapi followers gue masih kalah jumlahnya dengan penghuni facebook gue

Maka gue melakukan eksperimen untuk relaunch album pertama.

Gue bertanya via status FB “Ada yang mau bantu gue untuk relaunch album ga? Gampang kok, pake status FB doang”

Reaksinya sangat banyak,ratusan orang menyatakan siap bantu…

Gue minta mereka mengubah status FBnya H-1 relaunch album dengan tulisan ini

“Will come to Pandji’s album relaunch at blablablabla..”

Pada hari yang dimaksud, sekitar 70 orang mengubah statusnya.

Dan ketika gue cek (satu persatu lho ngeceknya) jumlah friendlistnya, ternyata angka rata ratanya adalah 100.

Artinya, ada sekitar 7000 orang yang melihat status diatas. Walhasil, acaranya ramai.

Mengingat itu di La Piazza , Kelapa Gading, Jawa Timur yang agak kepojok..

Yang lebih senang lagi, Acer yang waktu itu mensponsori relaunch gue.

Percobaan itu gue anggap sukses.

Maka kegiatan personal branding gue lanjutkan terus.

Sejak album keluar, orang orang mulai banyak yang mengkritik bahkan menghina gue.

Blog http://pandji.com dan pembaca setianya menjadi saksi.

Justru di blog inilah gue belajar untuk menghadapi kritik.

Kadang, gue menghandle kritik dengan buruk. Biasanya yang mengingatkan adalah pembaca yang lain.

Tidak jarang juga gue bahkan minta maaf disana.

Apakah gue kaget dihujani kritik?

Sama sekali tidak.

Ketika gue bilang pada diri gue sendiri untuk menampilkan diri gue sendiri yang sesungguhnya, gue sudah tau resikonya.

Kalau gue diam saja dan membiarkan orang mengenal gue hanya dari Kena Deh, hidup gue mungkin akan baik baik saja. Orang hanya akan merasa gue sebagai orang yang lucu.

Tapi masalahnya, itu bukan gue yang seutuhnya, maka gue putuskan untuk menunjukkan diri gue yang sebenarnya.

Ketika gue menunjukkan diri gue yang sebenarnya, gue harus siap menerima bahwa ada yang tidak suka dengan gue.

Mengapa? Karena gue memutuskan untuk tidak bermain aman. Itulah resikonya.

Bagaimana dengan keuntungan yang gue dapatkan dari personal branding itu?

Salah satunya yang bisa gue ceritakan adalah kerja sama dengan Indosat.

Selama nyaris setahun gue menjadi brand ambassador untuk Mentari.

Pada hari ketika gue lagi shooting iklan versi batik dan versi diskon all item (mungkin elo masih inget) gue diajak ngobrol dengan pihak brand dan agency. Ternyata mereka memang mencari figur seperti gue, mereka menjelaskan seperti apa pewatakan yang mereka cari, dan memang menyerupai gue. ketika gue tanya darimana elo tahu bahwa gue orangnya demikan, mereka menjawab “Kami baca blog elo”

Acer juga lama mengamati kegiatan gue dengan menggunakan teknologi.

Mereka mengamati dari tulisan di blog dan facebook gue (twitter belum meledak)

Akhirnya walaupun gue bukan brand ambassador mereka, tapi kerjasama gue dengan mereka berlanjut panjang dan menyeluruh. Mereka bantu relaunch gue, mereka dukung performance gue di festival musik, mereka sponsori pembuatan album gue, karena mereka (bilang) mereka memiliki kesamaan visi dengan gue. Darimana coba kalau bukan dari kegiatan personal branding gue via online?

Hal yang sama juga terjadi dengan Lifebuoy.

Bedanya Lifebuoy melihat dari sisi karya karya gue juga…

Hal yang sama terjadi dengan Nokia.

Bedanya, Nokia lebih melihat kepada kegiatan personal branding gue via twitter.

Sejak #IndonesiaUnite pengguna twitter meledak dengan jumlah gila gilaan.

Kalau ga salah @anakcerdas punya ulasan tentang ini di blognya

Sejak sebelum itu , followers gue di era sebelum juli 2009 sudah tahu gue sudah menggunakan twitter untuk lebih cepat mengutarakan isi pikiran gue.

Ketika #Indonesiaunite pertama kali di tweet oleh @ifahmi dan kemudian efek bola saljunya jadi begitu besar, maka semakin besar pula-lah jumlah follower gue yang bergabung karena (katanya) menyukai tweet gue yang bersemangat nasionalis.

Untuk yang ngikutin tulisan gue dari 2007 atau tau album gue dari 2008, itu bukan hal yang baru, tapi mereka yang baru follow gara gara #IndonesiaUnite baru tahu kalau gue orangnya seantusias ini terhadap Indonesia

Mulailah siklus lama berulang kembali.

Serupa dengan yang terjadi di blog pasca peluncuran album, banyak orang orang yang menyerang dan mempertanyakan nasionalisme gue.. Kebanyakan bertanya “Kenapa baru sekarang sekarang ini nasionalis? Kenapa baru setelah pemboman? Kenapa setelah ada lagu Kami Tidak takut?”

“Kenapa Pandji berubah?”

Sebenarnya bukannya gue yang berubah, tapi merekalah yang baru mengenal gue, atau tepatnya, baru terkena efek dari personal branding gue. Usaha untuk melepaskan diri dari image “pelawak”

Seperti yang gue lakukan juga di blog , ketika kritik itu terjadi, gue melanjutkan untuk ngetweet (atau ngeblog) seperti biasa.

Sampai hari ini gue masih “serius”, sampai hari ini gue masih menunjukkan ketertarikan dengan isu sosial, isu nasionalisme, sampai hari ini gue terus menjadi diri gue sendiri dengan harapan kelak orang akan sadar bahwa, memang beginilah gue.

Hari ini, gue terus melakukan personal branding.

Lewat social media

Lewat karya.

Sekarang sudah 2 e-book gue luncurin di http://pandji.com/for-you dan dua duanya ilmu marketing. E-book ketiga rencananya rilis april awal.

Setelah album pertama Provocative Proactive, album kedua juga rilis tahun 2009 sebagai pelampiasan aspirasi dan menunjukkan setiap sisi dari seorang Pandji yang belum terlihat.

Kini gue siaran di Hardrock FM untuk acara Provocative Proactive Show gue meng-interview dari Bambang Pamungkas hingga ke Adnan Buyung Nasution, hingga ke Adhyaksa Dault, hingga ke Rudi Wowor, hingga ke Hanung Bramantyo, dll…

Yayasan gue , Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (C3) yang bergerak untuk membantu anak anak dengan kanker terus aktif dari 2006 hingga hari ini..

Bisnis gue REF Basketball Clothing, satu satunya clothing line bertema basket di Indonesia sekarang mulai memanfaatkan socmed dengan aktif di facebook page dan twitter.

Semua bertujuan sama.

Berkarya dan membentuk sebuah persona.

Branding itu kegiatan yang penting.

Tapi branding juga kegiatan yang genting.

Brand adalah janji.

Positioning sebuah brand akan terbukti dalam kiprahnya brand itu sendiri.

Banyak yang tidak menepati janji dari brand mereka.

Misalnya: Seorang penyanyi yang dalam lagu lagunya selalu mendayu, romantis, dan lembut ternyata kesehariannya bicaranya kasar, gayanya slenge-an, dan masuk infotainment karena memukuli pasangannya.. maka brand promisenya yang terpancar dari lagunya, rusak.

Mungkin ini juga yang membuat personal branding banyak selebriti, rusak di socmed.

Karena selebriti ini kelakuan sehari harinya tidak sama dengan kelakuannya di layar kaca atau di karya karyanya..

Musisi yang jelas jelas melakukan personal branding?

Jay Z

Cara paling jelas mencari tahu dia branding atau tidak?

Perhatikan baik baik hand sign “The Diamond” yang sering dia lakukan

6a010536846743970c0120a5bad944970c-800wi

Dia sedang melakukan branding sehingga ketika ada orang melakukan itu, yang mereka ingat adalah jay Z.

Banyak contoh personal branding yang dilakukann olehnya, banyak bukti juga keberhasilan personal brandingnya yaitu kerjasamanya dengan begitu banyak brand. Saling afiliasi membuat kedua belah pihak diuntungkan.

Manusia, adalah makhluk yang secara alamiah, lahir dan batin, mencari keseimbangan.

Kita menyukai keteraturan dan agak gamang terhadap kekosongan.

Naluri kita memerintahkan kita untuk mengisi kekosongan.

Ini gue baca di buku “The Pursuit of Excellence” karya Matthew E May.

Apa kaitannya dengan personal branding?

Kalau orang tidak paham atau tidak mengenal diri kita 100%, katakanlah hanya tau 50% dari diri kita yang sebenarnya, mereka akan mengisi sisa 50% itu dengan asumsi mereka sendiri.

Dan ketika asumsi mereka tidak sama dengan kenyataan yang ada, mereka kebingungan. Dan reaksi yang umumnya muncul dari orang yang bingung adalah marah.

Maka sebelum orang mengisi kekosongan itu dengan asumsi, kita lebih dahulu melengkapi kekosongan itu.

Bagaimana caranya?

Ya personal branding tentunya

Maka inilah mengapa gue melakukan personal branding.


Leave a Reply


six + = 13