Pilkada dan Sepakbola

Pilkada itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sepak bola.

Ambil contoh, kritik banyak orang terhadap ucapan Mas Anies yang mau melanjutkan program Pak Basuki yang baik untuk warganya. Dituding sebagai bukti bahwa Anies-Sandi tidak punya program dan hanya mendompleng program sukses orang.

Di Sepakbola, apabila seorang manager baru datang ke sebuah klub. Dia akan mempelajari pemain pemain yang dia miliki, dipertimbangkan dengan strategi yang akan dia jalankan. Yang dirasa tidak akan sesuai dengan pola dan strategi dia ke depan, akan diganti. Besar kemungkinan dia akan membawa pemain baru ke klub. Tapi pemain pemain lain yang dirasa cocok, ya tentu dipertahankan. Tidak perlu dijual. Untuk apa?

Buat apa semua pemain dibuang dan diganti 100% dengan yang baru? Dana yang sudah keluar untuk beli pemain itu jadi percuma. Sia-sia. Apalagi kalau sebenarnya pemain tersebut memang akan terpakai karena sesuai strategi. Toh tujuan akhirnya adalah kemenangan tim. Kemenangan yang akan dipersembahkan untuk fans klub tersebut.

 

Atau kita ambil contoh lain, banyak yang mempertanyakan Anies dan Sandi yang kini dalam 1 tim. Kata mereka, dulu Anies jubirnya Jokowi, Sandi jubirnya Prabowo. Lalu mereka menyindir bahwa semuanya bisa terjadi karena kesamaan kepentingan.

Ini lucu sebenarnya. Sepertinya di benak mereka, pilpres belum selesai. Ini 2016 akhir, dan sudah mau masuk 2017. Pilpres sudah lama selesai. Sudah tidak ada dikotomi. Bangsa ini sudah tidak terpecah oleh 2 pilihan lagi. Semua orang sudah kembali berkegiatan kembali, bekerja seperti biasa, kecuali mereka yang benaknya masih dihiasi pertarungan pilkada.

Kalau di tim sepakbola, ketika Juan Mata masuk ke Manchester Utd, tidak ada yang masih terjebak masa lalu dan menolak kehadirannya. Apalagi ketika Mourinho ke Utd. Ini adalah manager yang paling menyulitkan Sir Alex Ferguson. Di ManUtd pun, tidak ada pemain lama yang menolak kehadiran pemain baru yang dulunya datang dari klub lawan. Karena mereka, mengajarkan sesuatu yang penting untuk orang yang di kepalanya masih dalam pilpres-mode. Kita bisa saja berlawanan, tapi kita masih tetap bisa berkawan.

 

Satu lagi contoh yang membuktikan bahwa pilkada ternyata tidak jauh beda dengan sepakbola, adalah dalam urusan suporter.

Belakangan anda bisa lihat, FPI dan FUI berdemo ingin menurunkan Ahok, bahkan ada yang mengancam membunuh. Di khotbah Jumatan bahkan ada yang mengajak demonstrasi. Lalu Anies-Sandi dituding jadi pihak yang salah. Karena pada suatu hari, Anies-Sandi pernah berfoto dengan mereka.

Padahal coba kita pikir pikir: Semua orang boleh dong menjadi pendukung ManUtd? Mereka juga boleh dong berfoto bersama dengan Jose Mourinho, dan tentu Mourinho tidak perlu menolak diajak foto oleh supporter.  Tapi kalau supporter itu tiba tiba rusuh dan berantem dengan pendukung Liverpool, masak jadi tanggung jawabnya Mourinho? Lah orang orang ini tidak ada di bawah kendali Mourinho. Mereka bukan pemain, bukan staf, bukan karyawan Old Trafford. Mereka ini, supporter.

Seperti juga FPI dan FUI, terkadang, supporter sepakbola bisa melakukan hal hal yang mengerikan. Kalau anda ingat, Piala Dunia 98 pasca Beckham menerima kartu merah dan pada akhirnya berdampak kepada keluarnya Inggris dari Piala Dunia, amarah supporter inggris begitu menakutkan. Mereka membakar boneka Beckham dan ada yang menusuk nusuk boneka tersebut. Itu, adalah sebuah ancaman yang serius. Mereka melakukan itu, karena mereka merupakan pendukung Inggris yang ingin Inggris menang. Saking inginnya, kekecewaan mereka beralih wajah jadi kebencian. Apakah kemudian FA bertanggung jawab terhadap aksi mengerikan pada supporter? Ya tentu tidak.

Yang Beckham lakukanpun setelah itu hanya bisa meminta maaf. Karena memang dia salah dan pada akhirnya tindakan dia (menendang Simeone) menyebabkan kerusuhan.

Saya halnya dengan reaksi mengerikan dari FPI dan FUI, Pak Basuki sadar bahwa memang itu adakah reaksi dari apa yang beliau katakan. Tapi, Mas Anies dalam beberapa kesempatan pernah mengungkapkan ketidak setujuannya dengan pendekatan SARA yang diambil berbagai pihak. Berulang kali beliau mengingatkan untuk mengembalikan pilkada kepada pertarungan gagasan dan program. Beliau sadar betapa krusialnya pendekatan radikal yang diambil banyak pihak dan mencoba meredam bahkan hingga pendekatan personal.

Banyak yang bertanya kepada saya, apa pendapat saya tentang kejadian tersebut.

Menurut saya, Pak Basuki ada benarnya dan juga ada salahnya.

Benar, bahwa beliau tidak menghina ayat dan tidak menghina agama.

Itu benar. Makanya banyak orang yang memarahi saya karena katanya kenapa saya mendukung Anies-Sandi tapi tidak pernah secara terbuka memarahi Pak Basuki karena ucapannya menghina agama. Ya karena saya merasa dia tidak menghina.

Yang beliau katakan kalau anda lihat videonya, adalah bahwa program yang sedang beliau sosialisasikan saat itu akan berjalan walaupun beliau sudah tidak menjabat. Jadi masyarakat tidak perlu kuatir. Ini program yang bagus dan baik untuk warga, dan walau beliau tidak lagi menjabat karena misalnya kalah dalam pilkada, program akan jalan terus.

Nah sebenarnya, harusnya omongan Pak Basuki sudah cukup sampai sini saja. Karena toh, yang dimaksud sudah tersampaikan dengan baik. Cukup.

Tapi entah kenapa, beliau melanjutkan dengan membahas soal kemungkinan warga tertipu atau terhasut orang yang menggunakan sebuah ayat dari surat Al Maidah. Ini, yang salah. Ini, yang tidak perlu. Ini, yang membuat banyak orang mengatakan bahwa Pak Basuki punya komunikasi politik yang buruk. Yang ngomong bukan saya lho ya, coba aja google “komunikasi politik ahok” & lihat siapa saja yg bicara demikian

Di dunia public speaking saja, termasuk stand-up comedy, sudah jadi aturan dasar bahwa kalau kita adalah umat dari sebuah agama tertentu, sebaiknya dalam omongan kita di atas panggung tidak bawa bawa agama lain apalagi ayat sucinya. Ini dasar sekali. Karena kita bukanlah umat dari agama tersebut. Pertama tama, pemahaman kita akan dengan mudah dipatahkan oleh umat dari agama yang kita bahas bahas. Kedua, akan dengan mudah memancing kesalah pahaman.

This is basic public speaking.

Di sini, Pak Basuki salah. Makanya, beliau pada akhirnya meminta maaf. Sebagaimana David Beckham minta maaf, karena tindakannya menendang Simeone itu benar benar tidak perlu. PS: Coba lihat video Beckham nendang Simeone deh, bener bener ga penting.

img_8260

Sejauh ini, kita sudah lihat beberapa aspek yang membuat kita semakin yakin bahwa Pilkada dan sepakbola tidak jauh berbeda. Tapi, masih banyak yang bisa kita bahas.

 

Selanjutnya, adalah mengenai komentator.

Di pilkada, sebagaimana sepakbola, ada banyak komentator. Baik yang resmi di televisi, maupun komentator amatir yang ada di jejaring sosial. Semua komentar yang berseliweran di jejaring sosial, sah sah saja. Siapapun bebas berkomentar. Tinggal kita pintar pintar menyaring mana yang sekiranya benar. Lagipula, sebanyak banyaknya komentar yang ada di jejaring sosial, toh penentunya, adalah yang ada di lapangan.

Komentator Pilkada belakangan mengkritik pilihan Anies – Sandi menggunakan Salam Bersama. Yaitu bentuk tangan terbuka sebagai salam, yang diambil inspirasinya, dari Bung Karno.  Ternyata, “Merdeka” tidak disampaikan dengan tangan terkepal ke atas, tapi dengan tangan terbuka. Itu arahan resmi dari negara yang diperintahkan Bung Karno.

Seperti ini contohnya

img_8521

 

Maaf salah foto, maksudnya yang ini…

img_8254

 

Komentator berkata, salam terbuka itu tidak praktis karena tidak bisa menggunakan tangan untuk mengeluarkan gestur angka 1, 2, atau dalam konteks Anie-Sandi, angka 3. Padahal, saya merasa lelah dengan gimmick semacam itu. Sudah sangat ketebak, usai paslon dapat angka, segala meme dan gimmick terkait angka langsung berkeliaran. Jangankan menggunakan gimmick angka 3 dalam salam, nanti anda akan banyak lihat materi kampanye yang bahkan tidak menampilkan wajah Anies-Sandi. Saya tahu banyak yang bilang ini tidak praktis. Tapi kalau kita semua terus terusan bertahan dengan cara cara lama, kapan negara ini akan bertemu kampanye menyegarkan yang mau meninggalkan yang usang? Kenapa tidak kita kembalikan ini ke masalah gagasan dan program?

img_8255

Ada lagi komentar Budi Waseso yang komplen karena katanya Anies diminta untuk membuat program mengatasi narkoba dalam bentuk buku panduan terkait narkoba yang diusulkan ke Mas Anies jamannya beliau masih jadi Mendikbud tapi tidak dijalankan. Katanya Buwas “Anies Cuma iya iya aja tapi tidak dijalankan”. Komentar ini boleh boleh aja sih diucapkan beliau. Masalahnya, buku yang beliau ingin, sudah ada.

img_8440

Dan beliaupun tahu itu. Mas Anies berkata terakhir kali ketemuan bahkan Buwas tidak membahas hal ini. Jadi pertanyaannya, kalau beliau tahu bukunya sudah ada, terakhir ketemuan tidak dibahas, lalu kenapa sekarang jadi masalah?

Nah tapi komentator paling banyak adalah dari orang orang yang berkomentar karena judul berita semata tanpa membaca isi. Atau dari gambar potongan berita yang lepas dari konteks sesungguhnya. Atau komentator dari media yang salah kutip bahkan ada juga yang mengisi artikelnya dengan opini penulis. Yang seperti ini sebaiknya berhati hati. Mudah sekali kita bereaksi tapi lebih bijak kalau sebelumnya kita bertanya “Ini beneran? Masak sih?”

Contoh kasus, adalah berita yang naik belakangan mengenai pernyataan Mas Anies terkait KIP dan KJP. Orang banyak bereaksi, ada yang ngamuk, ada yang mengaku “hilang respek” (yang ini paling kocak) tanpa benar benar paham atau setidaknya berusaha untuk memahami. Mungkin bias karena keburu benci. Kalau mau lihat dari sisi yang berbeda, coba baca jelasnya di sini. Sadari bahwa sebenarnya, yang Mas Anies inginkan, adalah hanya yang terbaik untuk warga Jakarta dan atas arahan Presiden Jokowi sendiri.

 

Pilkada, akan masih berjalan hingga 15 Februari.

Dibilang masih lama, sebenarnya Cuma 4 bulan. Dibilang sebentar, tapi lumayan lama.

Yah, sedang lah.

Tapi semoga, dalam perjalanan pilkada kali ini, kita tahu ke mana harus arahkan fokus. Siapa yang layak mendapatkan perhatian, siapa yang tidak. Mana yang perlu ditanggapi, mana yang sebaiknya didiamkan. Ada yang mengajak diskusi, ada yang hanya sekadar ingin memaki.

Ujungnya, rasanya tidak ada satupun yang menginginkan hal buruk terjadi pada Jakarta. Semua mau yang terbaik, walaupun dengan preferensi cara menuju ke sana yang berbeda beda.

Seandainya, dalam riuhnya pilkada kali ini anda sedikit pusing, ingat saja bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda antara pilkada dan sepakbola

33 thoughts on “Pilkada dan Sepakbola”

  1. Yaelah panjang banget tulisannya…ujungnya soal (salah omongnya) Anies mengomentari KJP.

    Pandji…gw kasihan banget dg lu. Hanya krn pertemanan lu rela melupakan sila ke-5 dr Pancasika soal Keadilan Sosial bg SELURUH bangsa Indonesia.

    Nih pernyataan Anies soal KJP dan KIP yg akan diberi DOUBLE buat warga Jakarta kl dia jd Gubernur DKI.

    http://m.detik.com/news/berita/d-3332639/anies-janji-ke-warga-kjp-dan-kip-dibagi-bersamaan-ahok-tak-baik-berlebihan

    Pandji ga perlu mengalihkan statemen di atas ke arah penggabungan KJP dg KIP. Sdh jelas Anies bilang DOUBLE!!

    Jakarta itu bukan Indonesia….apakah krn tinggal di Jkt maka berhak double sementara propinsi lain yg notabene lbh miskin dapat lbh sedikit?…. Ya pantes aja dgn pola pikir begini Anies dipecat.

    @Pandji…lu tahu ga sih kl Anies lg mengajarkan kpd rakyat bhw korupsi itu tidak berdosa sepanjang dimaksud utk kebaikan.

    Ampun deh …

    Back to Laptop…soal dikotomi pasca Pilpres…lu dg Jonru bukan dikotomi dimaksud ya?….wkwkwkkww 🙂

      1. Saya sdh baca itu bahkan juga ninggalin comment di sana. Sekarang ayo kalau mau diskusi lagi, mau mulai dari mana mas?

        Saya tantang, dan mohon jawab. Jumlah uang yang diberikan oleh KJP itu adalah hasil riset bank Dunia mengenai kecukupan bagi seorang untuk dapat bersekolah. Oleh karena itu Presiden Jokowi sudah mengingatkan agar jangan ada penerimaan duplikasi yang menyebabkan seorang siswa menerima berlebih karena rawan digunakan utk hal-hal lain, di luar tujuan sekolah

        http://www.antaranews.com/berita/495981/presiden-penerima-kip-tidak-ganda-terima-kjp

        Hal itu disampaikan saat Anies MASIH menjadi menteri pendidikan.

        Lalu kenapa sekarnag Anies berpikiran lain dengan memperkenankan seseorang memperoleh double, saat masih banyak propinsi lain hidup susah. Di mana sila kelima dari Pancasila?

        OK giliran anda untuk menjawab.

  2. Bang Edwin, KJP itu program bagus yang ada di Jakarta dan akan dilanjutkan oleh pak Anies, sedangkan KIP sebagai penyempurnaan. Itu adalah HAK warga Jakarta. Semua provinsi dapat.

    1. Karena sdr Juang Akbar jawabnya terpisah-pisah, gw jawab terpisah-pisah juga. Sorry bukan bermaksud nyampah di blognya Pandji.

      Benar KIP semua propinsi dapat, tapi Ahok tidak mau orang yang sudah dapat subsidi dari DKI (= negara) kemudian mendapatkan lagi dari negara. Itu sama saja double. Subsidi tidak boleh duplikasi, karena itu sama saja dengan korupsi.

  3. Bang Edwin, Jkt itu Indonesia loh. Knp double? Krn Jkt punya KJP. Yg lain mau double boleh ko, tiap provinsi bikin. Makin bgs dong pnddkn kita, dana daerah & pusat tersalurkan.

    1. Anda tahu ga baik itu APBD maupun APBN adalah uang negara. Maka dari itu APBD punb diperiksa oleh BPK. KJP atau apapun yang propinsi lain akan buat adalah dari APBD. Maka jika APBD sudah sanggup menanganinya maka selesailah tugas pusat utk membantu karena berarti daerah sudah bisa mandiri. Itulah yang disebut dengan OTONOMI DAERAH.

      Apabila daerah masih belum sanggup maka Pusat turun tangan dengan menggunakan APBN sehingga pemerataan itu terjadi.

      Apakah anda menginginkan ketimpangan di negara ini? hanya karena sebuah propinsi lebih kaya dari propinsi lainnya? Jika ya berarti anda si raja tega untuk membiarkan saudara kita di NTT selalu tertinggal dari DKI, hanya karena mereka belum sanggup membentuk Kartu Kesejahteraan Propinsi. Beginikah kwailitas para pendukung Anies? siap untuk jadi Presiden dengan pola pikir demikian?

      1. Mas edwin, andai warga DKI mendapat KJP dan KIP secara bersamaan pun, negara ga akan rugi karena itu dana diperuntukkan untuk pelajar miskin di DKI.
        Syukur, malah tunjangan pendidikan mereka menjadi jauh lebih banyak. Pendidikan mereka lebih terjamin.
        Dimana letak kejelekannya?

        Justru ketika mereka dilarang dapat KIP, itu malah memotong rejeki yg mustinya menjadi hak mereka. Kasian.

        1. @Bima, kata siapa negara tidak akan rugi? anda tahu masih banyak propinsi yang susah yang perlu mendapat perhatian dari pusat?

          Saya tantang, dan mohon jawab. Jumlah uang yang diberikan oleh KJP itu adalah hasil riset bank Dunia mengenai kecukupan bagi seorang untuk dapat bersekolah. Oleh karena itu Presiden Jokowi sudah mengingatkan agar jangan ada penerimaan duplikasi yang menyebabkan seorang siswa menerima berlebih karena rawan digunakan utk hal-hal lain, di luar tujuan sekolah

          http://www.antaranews.com/berita/495981/presiden-penerima-kip-tidak-ganda-terima-kjp

          Hal itu disampaikan saat Anies MASIH menjadi menteri pendidikan.

          Lalu kenapa sekarnag Anies berpikiran lain dengan memperkenankan seseorang memperoleh double, saat masih banyak propinsi lain hidup susah. Di mana sila kelima dari Pancasila?

          OK giliran anda untuk menjawab.

  4. Bang Edwin, abang kenal mas Anies drmn? dah ketemu? Cb googling deh, track record mas Anies jls, dia pny integritas gak ada kasus korupsi loh. Pak Ahok ada kasus ga?

    1. Saya kenal Anies karena saya pernah satu kampus sbg sesama dosen dengan dia. Anda pernah kenal dia? Anies tidak pernah tersangkut kasus korupsi dan begitu pula Ahok. Jangan pakai azas praduga, tetapi memamnng keduanya tidak belum pernah menjadi tersangka dalam kasus korupsi. So ini bukan isu. Lu nyampah aja dengan pernyataan dan pertanyaan yang dipisah-pisah begini.

  5. Bang Pandji yang baik,

    Ketika supporter MU rusuh dengan supporter Liverpool itu juga jadi tanggung jawab Klub, jadi tanggung jawab moral Mourinho. Pernah dengar tentang supporter yg bikin rusuh di kandang lawan, dan yg didenda malah klubnya? Atau tentang supporter yg dilarang nonton di stadion karena sebelumnya mereka buat rusuh?. Bang Pandji yang baik, ketika Abang menyamakan hubungan Mou-Supporter dan Anies/Sandi-FPI/FUI itu sama saja Bang Pandji telah menjelaskan bahwa memang betul FPi/FUI adalah pendukung Anies/Sandi, karena supporter MU yg baik akan selalu mendukung Mou seburuk apapun taktik yg dia mainkan. Kita tahu siapa FPI/FUI dan apa hubungan mereka dengan Anies/Sandi, bahkan mungkin Abang lebih tahu dari kami. Kita tahu apa yg mau mereka lakukan, Bang Pandji tahu apa yg mau mereka lakukan. Bang Pandji tahu, tapi Bang Pandji memilih untuk menjadi supporter MU yang baik.

    Salam.
    @rivansep

  6. Kalau perkataan pak Anies seringkali disalahartikan dan sampai mas Pandji harus menjelaskan (tidak cuma sekali kejadian), berarti kualitas komunikasi politik pak anies juga buruk?

  7. 1 kegiatan yg sama nggak bisa dibiayai dengan 2 sumber anggaran APBN dan APBD, kalo sama nanti gimana PA/PPA PPK yg bertanggung jawab pelaksanaan? gimana control dari BPK/BPKD? control dari DPR/DPRD? … bisa2 dicolek KPK ntar…

    #IMHO #CMIIW #Sepengetahuan_gw

  8. Pernah denger hal ini gak?

    Ahok pengen buktikan bahwa agama harusnya bukan menjadi salah satu pertimbangan dlm memilih pemimpin.

    Dia sudah buktikan itu di Belitung.
    Tapi, pendapat orang masih sama krn masih ada yg memasukkan agama sebagai bahan pertimbangan dlm memilih pemimpin.

    Let’s say ucapannya di Kep. Seribu adalah salah satu caranya untuk membuktikan dia bukannya buta sama sekali dengan agama islam. Toh dia juga sekolah di sekolah islam. Tujuannya dia memakai ayat suci adalah untuk buktikan dia mau belajar dan bukannya buta sama sekali dengan agama islam.

    Dengan membuktikan hal ini, beliau ingin membuktikan perbedaan bukanlah hambatan dalam mempelajari hal apapun.

  9. Pemikiran & tindakan mas Anies buat saya selalu terasa fresh – segar, cerdas, dan menggerakkan.
    apabila ada yg tak bisa langsung inspired saat itu juga itu sst yg wajar saja. Mungkin perlu beberapa saat untuk click dgn frekuensi mas Anies … spt saya juga mengalami hal yg sama kok …. saya butuh waktu yg cukup lama … untuk kemudian saya mengakui hebatnya mas Anies.
    Tks bro Pandji yg selalu berusaha menyerap feedback dan memberikan klasifikasi. This is great. Terjadi komunikasi 2 arah …. sst yg jarang terjadi dlm politik. Ini benar2 politik yg inspiring. Keren! Let’s Move ON bro!

  10. bang pandji pendukung dan ambassador MU kan?
    ikutan acara besok juga bergabung dengan pendukung MU dan Everton garis keras mendemo DM Liverpool yang suka tackling kasar tp clean tackle ?

  11. Warbyasa ngelesnya pandji, siapa blg komunikasi pak basuki buruk? Sdh liat rapim? Kelakuan pns? Sdh liat kampanye dia sjk di belitung Timur? Yg 93 % muslim? Argumen anda lemah mas, tp oklah dlm diskusi, kita liat pas debat resmi
    Salam

  12. pak anies cuma jago merangkai kata kata menjadi lebih baik, tapi pak anies belum mengerti mengelola warga jakarta menjadi lebih baik.

  13. Saya simpatisan Pak Anies dan anggota Turun Tangan. Saya berharap, sebagai sosok yang kerap mendengungkan issue anti SARA, maka Pak Anies dapat melakukan sesuatu soal ini. Betul, yang ngomong adalah orang lain yang sejatinya cuma “foto doang” dengan beliau. Ga bisa beliau kontrol. Tapi sebagai calon Gubernur yang mereka usung, posisi Pak Anies sangat bisa untuk berbuat sesuatu.

    Atau langkah tersebut tidak menguntungkan buat beliau saat ini?

    “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin”

    Saya harap Pak Anies segera menyalakan lilinnya karena sesungguhnya yang sekarang megang korek adalah Bapak sendiri.

  14. Maaf Bang Pandji ini pendapat sy,

    Mgk sy bisa kasih contoh lain kenapa KJP tidak baik didouble dengan KIP.
    Bayangkan saja kita sbg orang tua yg sudah punya anak usia sekolah.

    Kita pasti bisa berhitung dan tahu kebutuhan uang saku anak berapa per bulan, ya anggap saja 1 juta per bulan.

    Apakah kita sebagai orangtua mau memberikan 1 juta dari bapaknya dan 1 juta dari ibunya? Padahal kita tahu sekali 1 juta sudah pasti cukup.
    Kalau teorinya semakin banyak uang yg diberikan semakin bagus ya berarti seharusnya masing2 bapak dan ibunya memberikan 1 juta ke si anak.
    Bagaimana kalau anaknya ada 3, atau lebih?
    Kalau ingin mewujudkan keadilan dalam keluarga tentu semuanya harus dapat 2 porsi dari bapak ibunya masing2, tidak boleh dibedakan.
    Apakah ini bukan suatu pemborosan yg tdk perlu yg justru memberatkan keuangan orangtua?

    Kasusnya sama dgn DKI, di mana keadilan sosial sesuai sila 5? apabila ada 1 provinsi di Indonesia bisa dapat KJP dan KIP sedangkan provinsi lain hanya dapat KIP (yg nilainya lebih kecil dari KJP krn keterbatasan anggaran pemerintah pusat) itupun belum merata ke seluruh pelosok Indonesia dan harus sampai diganti menterinya (karena isu dan teori yg berkembang disebabkan distribusi KIP yg lambat dijalankan oleh sang mantan menteri) supaya distribusinya lebih cepat dan merata ke seluruh pelosok Indonesia.

    Lagipula bila kita sudah tahu kebutuhan uang saku anak utk menunjang pendidikan adalah X tapi yg didapat adalah 2X, apakah kelebihannya akan dipergunakan juga oleh si anak utk membeli kebutuhan pokok yg benar2 dibutuhkan?

    Ditambah lagi biasanya sesuatu yg gratis & gampang didapat akan gampang dikeluarkan juga, karena itu ada istilah ‘easy come easy go’.
    Toh bulan depan dapat lagi dan berlebih lagi dapatnya, begitu seterusnya berlangsung setiap bulan.

    Pertanyaan saya, apakah bang Pandji setuju dan mau utk konsisten per bulan memberikan uang saku double ke anak sendiri apabila teori double KJP dan KIP ini memang benar?
    DOUBLE ya bukan patungan setengah-setengah dengan istri.

    Maaf ya kalau kepanjangan, tapi inilah pendapat saya ttg KJP dan KIP

  15. Apa mas panji lupa.. Moyes gagal tangani MU, padahal pemainnya bekasnya Sir Ferguson semua yg pernah juara Premier berkali2.. Tim bagus managernya jelek, zonk juga

  16. @bima
    Emang betul pemerintah gx akan rugi.
    Tapi yg rugi itu rakyat di daerah lain..
    Nih bahasa bego nya buat lu,,
    Lu punya duit 10jt buat di bagi2 ke 100 anak..
    Kalo anak yg uda dapet kjp lu bagi lagi buget 10jt lu berkurang untuk yg lain.
    Jadi daerah tertinggal lain alokasi nya harus nya bisa 10rb orang mungkin kalo jakarta di bagi tinggal 9rb orang.
    Paham lu?

  17. Mas Pandji, gw pengen tanya 1 hal. Diatas anda menyebutkan slh satu alasan anda tdk mendukung pak Ahok, terkait kebijakan reklamasi. Sy rasa, anda sudah paham benar dengan duduk perkara, alasan kenapa pak Ahok tetap melaksanakan reklamasi, walaupun diserang habis2an. Dan saya juga yakin, segala pembelaan dan penjelasan pak Ahok thdp keputusan reklamasi ini, sdh anda dgr/baca, dan anda anggap tdk benar. Klo boleh tahu, mas Pandji punya cara yg lebih baik menyikapi reklamasi, min. Ngasih masukan, cara ap yg hrsx dipilih pak Ahok, spy reklamasi dihentikan, dan pemerintah tdk kena tuntut/ diproses hukum oleg pihak pengembang? Thx

  18. Hai kak Pandji, saya tertarik dengan tulisan kakak yang satu ini. Meskipun saya tidak setuju 100%, tetapi saya dapat memperoleh beberapa pelajaran. Salah satunya adalah perbedaan prekspektif masyarakat. Saya menyadari bahwa ada latar belakang dibalik informasi-informasi yang tersebar di media, dan saya juga mulai mengerti bagaimana kejamnya dunia internet melalui setiap tulisan-tulisan yang ada.

    Terima kasih telah membuka pola pikir saya terhadap realita dunia nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *