Sebuah pilihan

Hari ini di twitter, banyak orang protes.

Bukan terhadap banjir, tapi terhadap reaksi orang orang ketika banjir terjadi.

Ada yang kesal dengan broadcast message di BBM mereka yg isinya pesan bahwa  Jakarta banjir karena maksiat

Ada yang kesal karena di timeline twitter mereka, banyak yang menyalahkan Jokowi atau Foke atas banjir tersebut.

Lucunya, saya tidak menerima broadcast message yang dimaksud dan di timeline saya tidak ada yang menyalahkan Jokowi atau Ahok.

Kesimpulan sederhana saya, berhati hati kalau berteman. Teman kadang bisa membawa hal hal baik yang menyenangkan kita, tapi berteman dengan orang yang salah bisa membawa hal hal yang menyebalkan bagi kita.

Saya tidak merasakan hal hal di atas karena saya berhenti pakai blackberry dan saya tidak follow orang orang yang hanya bisa menyalahkan orang lain ketika sesuatu terjadi kepadanya.

Saya tidak lagi pakai blackberry sekarang, tapi waktu masih pakai, saya ingat rasa sebal yang muncul di kepala  karena nama nama yang ada dalam contact list blackberry saya, tidak lagi saya kenal. Beberapa bahkan hanya saya pernah temui sekali namun dia bertanya “Bole minta pin-nya?”. Orang orang yang tidak saya kenal ini berulang kali mengganggu saya dengan broadcast message yang selalu membuat saya berpikir “Kok gue bisa bertemen sama orang yang begini ya..”

Tiba tiba saya sadar, saya tidak berteman dengan orang orang ini. Saya hanya kenal.

Biasanya, setelah 2 kali broadcast message , orang orang ini saya hapus dan mereka tidak lagi mengganggu saya.

 

Twitter saya juga menyenangkan karena saya berhenti mem-follow orang orang yang penuh dengan emosi negatif.

Saya tahu mungkin beberapa yang baca ini berpikir “Perasaan Pandji follow si A atau si B yang kerjanya ngomel mulu”

Saya membedakan orang yang ngomel dengan argumen yang valid dengan orang yang ngomel tanpa dasar yang jelas.

Orang yang ngomel dengan argumen, adalah orang orang positif dengan bahasa dan semantika yang berbeda

Orang yang ngomel tanpa argumen adalah haters. Titik. Mereka hanya membenci karena itu membuat mereka senang. Orang orang yang hanya bisa merasa tinggi dengan berdiri di kepala orang. Orang orang inilah yang saya unfollow.

 

Poin saya adalah, kita semua punya pilihan.

Ada yang tidak lihat, ada yang tidak mau lihat pilihan tersebut. Ada yang walaupun lihat, tapi tetap tidak mau ambil pilihan tersebut.

Akhirnya hidup mereka menyebalkan

Lalu mereka protes terhadap hidup yang menyebalkan itu

Lalu mereka menjadi orang yang menyebalkan juga.

Hanya karena, mereka tidak mau mengambil sebuah pilihan.

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Sebuah pilihan”

  1. Berbuat dan ambil bagian, bukan hanya menunjuk2 dari luar lingkaran, padahal tdk berbuat apa2 utk membantu merubah keadaan jd lbh baik (atau bahkan ♈ƍ lbh parah dia sbnrnya trmasuk ♈ƍ membuat kondisi jd seburuk itu lantas menyalah2kan org lain).

  2. Setuju. Saya sudah memulai mengambil beberapa pilihan dalam berteman melalui sosial media, dan Alhamdulillah saya selalu mendapatkan teman-teman yang baik dari sosial media. Yang agak menyebalkan memang masih ada, tapi masih tertutupi dengan banyak teman yang tidak menyebalkan lah.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*