Siapa yang bodoh sekarang?

Tue, Apr 8, 2014

Uncategorized

Usia Ayah saya mungkin sekitar 6 atau 7 tahun. Beliau sedang makan malam bersama Ayah, Ibu dan adiknya yang masih bayi. Di luar, terdengar suara tembakan bersahutan.
Kata Ayah saya, beliau sudah biasa. Pokoknya Ibunya selalu mengingatkan, malam jangan keluar rumah.
Keesokannya, Ayah saya langsung mencari Ibunya ketika bangun pagi. Sang Ibu, nenek saya, yang sayangnya tidak pernah sempat saya temui karena sudah lebih dahulu meninggal sebelum saya lahir, sedang menyapu halaman depan.
Deretan pagar rumah keluarga Ayah saya di Yogyakarta saat itu, terbuat dari bambu yg dibelah, ditancapkan ke tanah setinggi pinggang orang dewasa. Ketika nenek saya ingin menyapu jalan di depan rumah, pagarnya tidak bisa didorong ke depan untuk dibuka. Seperti tertahan sesuatu. Nenek saya melongok ke depan untuk melihat apa yang menahan pagar tersebut.
Ternyata, seorang anak laki laki seumuran Ayah saya saat itu, tewas kena peluru nyasar. Ditangannya, masih tergenggam sebuah lemper.

Ayah saya, hidup di jaman ketika ke luar rumah malam malam saja bisa mematikan.
Begitu beda dengan kita yang resiko keluar malam malam palingan dicolek bencong.

Pada jaman tersebut, hidup rakyat Indonesia berbahaya karena sedang ada perlawanan.

Ada sekelompok orang yang ingin mengubah keadaan. Ingin melawan penjajah dalam rangka mengusir para penjajah dari Tanah Air.

Kata Ayah saya, dulu rakyat Indonesia terbagi 3:
Yang berjuang untuk mengusir penjajah.
Yang ikut tidak berjuang karena merasa percuma.
Yang juga merasa penjajah sudah ratusan tahun ada di tanah mereka maka kalau tidak bisa dilawan, ya kerja saja untuk mereka. Kalangan yang ini hidupnya berkecukupan. Kaya karena uang majikan

Dulu, Ayah saya pernah dengar ada seorang Bapak bapak bertanya kepada Ayahnya (Kakek saya, seorang jurnalis yang juga ikut berjuang) “Mau ngapain? Mengusir penjajah? Kalau penjajah bisa diusir kenapa mereka masih di sini selama ratusan tahun? Sudah jangan sok pintar.”

Dari dulu, mereka yang ragu bisa mengubah keadaan memang sudah ada. Mereka akhirnya mencari cara bagaimana bisa hidup dengan membiarkan kesalahan terjadi di depan mata mereka. Bagi mereka, orang orang yang mau mengubah keadaan adalah orang orang bodoh.

Ayah saya bilang, orang orang yang ga mau mengubah keadaan adalah orang orang yang terjajah.
Yg berjuang untuk mengubah keadaan adalah orang orang yang merdeka.

Tidak beda keadaannya dengan hari ini.
Ada yang lagi berjuang mengubah keadaan.
Ada yang merasa tidak mungkin.
Ada yang tidak mau keadaan berubah supaya bisa tetap dapat uang dari “majikannya”.

Karena masih ada yang berjuang, maka hidup hari ini masih berbahaya. Mungkin tidak semematikan jaman Ayah saya, tapi ya masih berbahaya.

Bagaimana tidak? Orang yang pernah menculik mahasiswa & tidak pernah disidang atas perbuatannya saja masih bisa mencalonkan diri jadi Presiden, kok.
Oh bukan bukan, saya bukan black campaign. Saya negative campaign.
Black campaign itu mengkampanyekan fitnah.
Tidak boleh, itu.
Saya tadi melakukan Negative campaign. Justru diwajibkan.
Kalau ibaratnya ada orang berniat menikahi adik anda sementara anda tahu orang ini pembunuh yg belum pernah tertangkap, maka anda wajib mengkampanyekan, mengungkapkan hal hal buruk tentang orang itu. Demi kebaikan adik kita sendiri

Pak Prabowo memang bilang sudah mengembalikan semua 9 orang yang dia culik. Tapi sampai hari ini selama 348 minggu berturut turut, ibu ibu dengan payung hitam masih berdiri setiap Kamis di depan Istana Presiden menanyakan nasib anaknya yg hilang krn diculik tahun 98 & belum kembali hingga sekarang.
Anak anak itu sempat bertemu di tempat penyekapan dengan 9 pemuda yang dilepas oleh Prabowo. Namun ketika 9 pemuda ini dilepas, pemuda yang lain masih hilang sampai sekarang.

Hari ini masih berbahaya karena ulah orang orang yang tidak mau ada perubahan apa apa agar mereka masih tetap bisa dapat uang dari “majikan” mereka yg sesungguhnya adalah penguasa penguasa busuk.
Berbahaya karena banyak yang sudah pasrah & tidak mau ikut mengubah keadaan.
Sementara yang mau mengubah keadaan, ditertawakan.

Dalam pemilu tahun 2014 ini, ada orang orang tadi lagi.
Yg mau mengubah.
Yg merasa percuma
Yg tidak mau berubah.

Banyak yang merasa, pemilu kali ini adalah kesempatan yang baik untuk mengubah keadaan.
Saya juga merasa hal yang sama.
Bedanya, saya tidak merasa bahwa ikut memilih adalah alasan mengapa keadaan akan berubah.

Mari saya jelaskan.

Bagi saya, golput itu bisa jadi benar.
Kalau dia sudah riset semua nama nama caleg yang ada di Dapilnya dan menemukan bahwa SEMUA caleg di Dapilnya adalah penjahat.
Dia tidak mau menjadi bagian yang membuat penjahat penjahat ini masuk DPR.

Bagi saya, kalau ada orang yang ikut nyoblos hanya karena dia malu kalau kelingkingnya tidak ada tintanya, hanya ikut ikutan, hanya seru seruan tanpa tahu apa apa akan orang yang dia coblos, maka orang ini salah.

Kalau mau nyoblos, lakukan dengan pasti & yakin karena anda sudah tahu siapa yang akan dipilih.
Kalau anda tidak tahu apa apa lalu tidak nyoblos sementara ada orang baik & bersih di antara caleg2 di Dapil anda, maka anda sama saja membiarkan penjahat masuk DPR karena tidak membantu orang baik tadi untuk masuk

Lalu tahu dari mana soal daftar caleg dan reputasi serta track recordnya?
Banyak sekali website yang bisa beri info tapi favorit saya adalah ayovote.com

Jangan fokus pada Nyoblos atau tidak. Fokus pada alasannya dia nyoblos atau tidak.

Pemilu ini bisa mengubah keadaan, kalau kita semua mengambil keputusan politik dengan dasar yang kuat.

Kalaupun mau golput, tetaplah jalan ke BilikSuara dan buat suara anda tidak sah dengan nyoblos lebih dari 1 nama.
Dengan ini, kertas suara anda yg polos karena anda tidak gunakan tidak bisa dipakai para penjahat untuk memanipulasi caleg2 penjahat

Khususnya untuk para pendukung Anies Baswedan, tidak berarti ketika anda pilih Mas Anies maka anda harus pilih caleg demokrat, tidak.
Kalau anda jadi WAJIB milih caleg demokrat hanya supaya Mas Anies bisa jadi Presiden padahal yang anda pilih adalah caleg korup, buat apa?
Pilih karena kualitas calegnya, apapun partainya.

Saya tahu banyak yang akan bilang “Lah kalo suara Demokrat ga sampe 20% mana bisa ngusung Presiden sendiri. Percuma dong berjuang untuk Anies kalo ga bisa jadi Presiden?”

Tapi pikirkan baik baik.

Ingatkah, kata kata Mas Anies waktu pertama kali memutuskan untuk ikut Pencalonan Presiden dari konvensi demokrat?

“Untuk turun tangan dan jadi bagian dalam perubahan peta politik Indonesia. Dengan berjalan di jalan yang lurus & terhormat”

Perhatikan “Berjalan di jalan yang lurus dan terhormat”

Bagian dari perjuangan kita, adalah bahwa kita ingin mengubah Indonesia dengan cara yang benar.
Bukan cara yang curang
Bukan cara yang salah.

Kalau mau curang mah gampang, ga perlu berjuang. Lakukan saja cara biasanya: mengandalkan populeritas & uang.

Orang bilang “Kenapa sih Anies ngumbar reputasi? Ga akan menang! Kalau mau menang, umbar umbar populeritas!” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Orang bilang “Kenapa sih Anies berbagi program kerja, visi & misi? Ga akan menang! Kalau mau menang, bagi bagi kaos, uang, tender & janji jabatan!” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Orang bilang “Kenapa sih Anies beriklan di youtube, twitter, bikin infografis? Ga akan menang! Kalau mau menang, kumpulin sebanyak2nya uang walaupun uang haram lalu beriklan gila2an di TV, di koran dan di jalan!” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Orang bilang “Kenapa sih Anies orasi orasi memberi harapan? Ga akan menang! Kalau mau menang, berilah janji janji yang besar walaupun isinya kebohongan!” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Orang bilang “Kenapa sih Anies sok sokan punya relawan? Ga akan menang! Kalau mau menang, bayar massa dalam jumlah banyak. Mereka akan mau diajak berbuat apapun! Dari mengisi stadion GBK sampai memenuhi jalanan!” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Orang bilang “Kenapa sih Anies crowd funding dan minta rakyat mendanai kampanyenya? Ga akan menang! Kalau mau menang, pake uang partai yang hasil korupsi ini. Banyak & uangnya tidak berseri” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Orang bilang “Kenapa sih Anies malah ngajak rakyat turun tangan kalo jadi Presiden? Ga akan menang! Kalau mau menang, jangan malah nyuruh rakyat kerja! Bilang dong akan bekerja untuk rakyat & rakyat tinggal ongkang-ongkang kaki saja!” | Kenapa? Ya karena memang cara itu yang benar!

Kami para relawan Turun Tangan, hadir untuk mengubah keadaan. Untuk mendukung orang orang baik masuk politik & dalam kepresidenan, kami memilih Anies Baswedan. Dan kami memilih berjalan di jalan yang terhormat.
Apapun resikonya.
Apapun peluangnya.

JUSTRU sekarang kondisi politik kita lagi baik. Bayangkan, kapan terakhir kali kita punya politisi politisi yang baik & dipercaya oleh rakyat? Hari ini kita punya Jokowi, Ahok,
Ridwan Kamil, Bu Risma.
Di DPR-pun juga ada orang orang baik yang berjuang untuk kita.
Jangan lupa, sebelum jadi Wakil Gubernur DKI, Ahok itu anggota DPR komisi II lho! Yang saking bersih & benar kerjanya, di websitenya kala itu dirilis semua kerjaan & laporan keuangannya! Sampe bon bonnya ditunjukin di website!

Memang, banyak yang bilang percuma.
Banyak yang menertawakan niat kita mengubah keadaan.
Banyak yang bilang “Kalau orang jahat dlm politik bisa diusir kenapa mereka masih di sini selama puluhan tahun? Sudah jangan sok pintar.”

Tapi itu hanya karena orang orang itu di dalam darahnya mengalir darah orang orang yang terjajah.

Sementara dalam darah kami, mengalir darah orang orang yang merdeka.

Kalau sudah begini, siapa yang bodoh sekarang?


39 Responses to “Siapa yang bodoh sekarang?”

  1. @MisterBoenk Says:

    Keren… inspiratif :D

    Reply

  2. Bgenk Kasep Says:

    Pertamaxxxx…. :D
    Kerennn juga tulisannya bro Panji…
    Saya kira2 artis2 itu cuma apatis gak bisa nulis, bisanya cuma pamer gaya di tipi. Tapi ternyata bro panji ini emang TOP… 2019 harus naik bro jadi penyambung lidah rakyat ke senayan, gw dukung…

    Reply

  3. Bgenk Kasep Says:

    lah kirain ga ada moderasi, hihihi, gw mah udah pede kirain pertamaxx… :D

    Reply

  4. Maura Syifa Says:

    Nah, akhirnya muncul jg. Drtd nungguin :3

    Reply

  5. Sirajuddin Abraham Says:

    keren bang, inspiratif banget tulisannya. Jadi harus semangat berjuang dan jangan jadi orang yang terjajah sehingga gak mau berjuang :D

    Reply

  6. Gusti Rama Says:

    Pemikiran yg inspiratif bgt :)

    Reply

  7. yusuf Says:

    tulisan yang sangat menarik dan berani menurut saya. apalagi menyinggung 98, jarang saya kira aktivis yg berani nyerang secara brutal dan personal seperti itu. salut buat bung pandji
    boleh tw data/file/berita 98??? nambah referensi…

    Reply

  8. Agustaf Riyadi Says:

    “Apapun resikonya.
    Apapun peluangnya”

    Anies Baswedan for RI 1

    Reply

  9. fahrul dyah Says:

    ,keren abis…
    ,menginspirasi banget nih tulisan

    Reply

  10. muhammadd ardhani Says:

    Keren bang tulisannya :D bikin inspirasi nih :D

    Reply

  11. joe Says:

    yah gagal Pertamax :(

    keren tapi bang tulisannya

    Reply

  12. Gustian Ri'pi Says:

    saya bangga menjadi warga Indonesia, saya bangga karena negara ini menganut system demokrasi dimana pemimpin tidak lagi ditentukan oleh partai penguasa atau kelompok tertentu melainkan ditentukan oleh pilihan rakyatnya. Kita harus mensyukuri demokrasi ini.

    Dalam PEMILU, Inilah kesempatan untuk kita “megubah warna” republic ini. saya berharap semua warga yg memiliki hak pilih punya keinginan untuk melihat Indonesia lebih baik dengan cara memilih dengan cerdas seperti yg dilakukan mas Pandji ini..

    Reply

  13. widjaya Says:

    Cerdas!

    Reply

  14. Ardian Says:

    Cool story bro! Mendidik banget kata-katanya.

    Reply

  15. Chriestine GF Says:

    Tulisan mas bikin semangat lagi. Awalnya semangat, trus sempet ga semangat karna baca berita-berita yg beredar tentang perpolitikan Indonesia. Tapi bener juga, inget kata Mas Anies, dukung orang baik! Semangat! Makasih Mas Pandji :’) Semoga Indonesia bisa lebih baik :)

    Reply

  16. wildan hafidz Says:

    selalu inspiratif pemikiran ente bang :)
    membuka pikiran banget :)

    Reply

  17. aditya arif perdana Says:

    Perhatikan “Berjalan di jalan yang lurus dan terhormat”
    apapun resikonya..
    apapun peluangnya..

    Reply

  18. Mahasmara Says:

    saya tau Mas Pandji uda lama. jauh sebelum boomingnya Stand Up Comedy. sudah mulai tertarik sama Mas Pandji. 2 tahun yg lalu saya punya twitter. saya follow lah Mas Pandji. dan ga ngarep follback. makasih, Mas uda bikin generasi generasi yg jauh lebih muda dari saya ‘melek’. saya ga tau mereka cuma ikut2’an atau gimana, yg jelas mereka uda mulai paham ama negaranya. it means something, Mas. mereka suda mulai mempunyai pola pikir yg engga skeptis lagi. keep on writing, Mas. racunin pemuda pemudi bangsa dengan hal hal yg mereka harusnya tahu. mungkin mereka lebih suka baca tulisan Mas Pandji daripada googling sendiri. hehe
    well done, Mas.

    Reply

  19. Bayu Says:

    Banyak yang bangga menjadi Indonesia. Di sisi lain, banyak pula yang muak lihat tingkah para pemimpin Indonesia.. Bingung? Jangan..

    Reply

  20. yudi Says:

    Inspiratif tp tdk ɑϑǟ netralitas….

    Reply

  21. H. Muhammad Aldi Kasep, SE Says:

    Masalahnya, caleg busuk sama penjajah beda. Penjajah Belanda kulitnya jelas kelihatan. Statusnya jelas. Kalo caleg busuk, gak keliatan. Semua ngomongnya baik. Gak ada penjajah Belanda yang pura-pura “pribumi” supaya gak dibilang penjajah. Tapi kalo caleg busuk pura-pura jujur dan bersih, BANYAK. Lebih gampang bedain mana londo mana pribumi daripada mana caleg bersih mana caleg busuk.

    Anda percaya Anis Baswedan baik? Sebelum terjerat korupsi, semua kelihatannya baik. Tidak korup belum tentu jujur. Boleh jadi karena belum ada kesempatan.

    Reply

    • mantri sunat Says:

      setuju mas…..

      Reply

    • Andi Says:

      kenapa penjajah musti dibedakan warna kulitnya… bagaimana bedakan apel baik dan apel busuk ?
      dengan diteliti…. jangan bilang karena apel hijau dan apel merah berarti yang satu benar yang satu salah.

      Pilih dengan teliti dan percaya sama pilihan anda… tidak memilihpun sebuah pilihan sayangnya.
      :)

      Reply

  22. Affan Says:

    Gua suka pandji, openminded

    Reply

  23. santosa Says:

    Yang tidak tegas untuk nasionalisasi tambang-tambang Indonesia, yang tidak tegas untuk mengutamakan produk2 Indonesia tentunya mendapat sponsor2 yang sangat melimpah dari antah berantah

    Reply

  24. Zirvan Says:

    Bagian akhir cukup bagus..
    Bagian awal tidak jelas arahnya.
    Bagian tengah tulisan terkesan penuh persepsi yang subyektif —

    Terus terang bagian tengah tulisan tsb yg membuat tulisan ini menjadi anjlok kualitasnya..

    Saat diri dipenuhi persepsi dan ego, maka kebijaksanaan Tuhan tidak akan mengalir dan mengisi wawasan kita.

    Kebanggaan pada diri membuat aksi yg diklaim sukarela menjadi sebuah deklarasi “kesombongan” penuh pamrih.

    Semoga bisa mencerahkan.
    Maaf bila tidak berkenan.

    Reply

  25. kiiikaa Says:

    Sedikit nih bg pandji, ” politik indonesia sekarang lagi baik, kita masih punya orang baik dalam politik indonesia” . Yg pertama kita harus berterimakasih kepada tuhan lalu kedua kepada KPK yg berhasil membuat pendapat ini muncul.

    Reply

  26. puspita.pa Says:

    H. Muhammad Aldi Kasep, SE : dan bukankah manusia seharusnya ber-khusnuzon? :)
    Setidaknya sampai saat ini Bapak Anies Baswedan adalah orang baik. Sehingga pantas utk dipilih.

    Reply

  27. Andi Says:

    Setuju sama commentnya… especially bagian pilih caleg berdasarkan hati nurani.
    Opini pribadi saya sekarang untuk capres antara jokowi dan anies baswedan…. ngomong realistis sepertinya pak anies lebih berkapasitas, tapi kalah populer untuk saat ini… Yang lain maaf ga masuk itungan saya.

    Tapi untuk caleg sayangnya di pemilu kemarin saya ga nemu yang cocok untuk kedua partai pengusung capres diatas, yang ada caleg dari partai lain….

    Istri saya nanya pertanyaan yang sama tuh.. kenapa pilih caleg partai lain kalo mau presiden partai ini…
    Karena itu yang benar… saya ingin orang yang mewakili kita di DPR orang yang benar… (menurut saya loh)
    Tapi untuk capres.. nanti baru kita pilih orang yang menurut kita cocok.

    Caleg harus berkapasitas kalo ga bakalan cuma numpang bengong di ruang rapat or nitip absen… Sekali lagi setuju banget ama comment mengenai ahok pas di dprd, ngeri banget ngeliat dia ngasih masukan ke panitia pemilu yang disaksikan mendagri waktu itu…. Lah ini yang kita cari dari caleg caleg lain…
    masukkan yang positive… feedback teguran yang membangun.. bukan cuma cari aman jual tanda tangan.

    Untuk Capres kita lihat pilihannya kalo mereka berdua maju, saya baru pusingin nanti deh mau pilih yang mana. kalo cuma slah satu yang maju yah pilih yang itu, kalo ga ada yang maju… sama pikirin lagi nanti.
    my part is done for caleg… lets wait for the next.

    Sekalian ada satu yg ngeganggu saya… kenapa sih banyak caleg lupa pelajaran pmp jaman sekolah.
    Dahulukan kepentingan Umum baru golongan baru pribadi… yang ada terbalik sekarang pribadi lebih penting dari golongan, golongan lebih penting dari umum.

    Kenapa kalo under partai terntentu dan partainya mengambil sikap oposisi berarti harus diikuti…
    Caleg bukan wakil PARTAI… tapi WAKIL RAKYAT… so sudah sepantasnya keputusan dan posisi yang diambil dalam meeting itu apa yang menurut mereka bermanfaat buat rakyat bukan buat partai.
    stop bullshit and do whats right.

    Kenapa harus jadi oposisi kalo bisa jadi bagian dari yang membangun bersama… be a team player… musyawarah untuk mufakat berarti kita mengangkat semua concern, dibahas perlu, tapi setelah diputuskan bersama yah dijalanin, bukan ngomongin jeleknya di belakang.
    Itu namanya ga fair, ga berjiwa besar…. gampang bgt jadi oposisi kok.. tinggal tunjuk kambing hitam.. ikut kalo untung, salahin orang kalo rugi… mungkin untuk bisnis anda bisa gitu.
    tapi untuk caleg…. resiko untung rugi musti dijalanin karena itu semua untuk rakyat.

    anyway cuma iseng nulis opini aja…

    Reply

  28. Vero Says:

    tangan di balik politik yg selalu menggelitik setiap ada celah sempit beralibi membela rakyat tp menghimpit rakyat kami bosan melihat kursi parlemen yg selalu kosong di saat sidang tentang kepentingan rakyat karna itu GOLPUT kami sebenarnya bukan tujuan melainkan alasan karna kami tlah melihat kinerja mereka yg bersafari di parlemen bkn tanpa hasil tp minim hasil,kasi petunjuk om cara mengolah pola pikir yg radikal menjadi super positif…. biar gk kebanyakan “ha?ho?apa? gimana?” biar jadi penasaran yg positif… admire u mas pandji ceriakan masadepan dengan senyum konyolmu :D

    Reply

  29. wieniva Says:

    keren masbroo..izin share yaa

    Reply

  30. indra kusumayasa Says:

    Gw sih setuju sekali dengan apa yang di katakan Bro Pandji. sayang gw mau nyoblos ga bisa karena sistem demokrasi yang rumit. harusnya Pen-Coblos diberikan kemudahan untuk bisa data On-line seperti pajak. tinggal input No. KTP maka dia bisa mencoblos dimana aja dan setelah mencoblos dia terdata bahwa sudah ikut pemilu. dengan demikian ga perlu buang-buang uang buat bikin kertas coblosan yang ujung-ujungnya jadi sampah. dah buat sampah, sistemnya juga sampah buat banyak orang jadi Golput. Kadang gue bertanya kapan punya pemimpin yang otaknya bagus sedikit dan dapat menyederhanakan persoalan, bukannya memperumit yang ujung-ujungnya menciptakan celah untuk dapat “Bermain”. Orang cerdas itu menyederhanakan dan mengefisienkan, orang birokrat cenderung merumitkan biar dibilang pinter. majukan bangsa ini dengan menciptakan pemimpin yang sederhana dan ber otak cerdas jangan pemimpin yang bergaya ke mewah-mewahan sedangkan mulutnya penuh janji untuk orang-orang miskin….

    Reply

  31. bakhrululum19 Says:

    salam hormat bang…
    terus berkarya

    Reply

  32. oge Says:

    Gw pinter setelah baca ini..
    Dan sebelumnya.. Oh shitt!! I’m stupid for it.

    Gw bukan relawan turuntangan, tapi gw tau siapa sosok pemimpin yang merdeka.
    Nice! :)

    Reply

  33. Aisah K Says:

    Saya pikir tentang apa, tapi setelah dibaca sampai habis baru ngerti maksudnya kemana
    mudah2an kedepannya lebih baik dan banyak orang yg mau memerdekankan bangsanya sendiri bukan sebaliknya jual bangsa demi kepentingan pribadi

    mudah2an aja pemimpin kedepan bisa lebih tegas walau dibelakangnya banyak para penguasa yg cari aman dan berpura2 jadi kawan demi kepentingannya

    Reply

  34. dyndapr Says:

    sssuuuuppppeeeerrr!!!!

    Reply

  35. boenk katrok Says:

    Percuma qt memilih dengan teliti siapa yg harus di coblos dlm pemilu nanti
    Karena kedua capres tdk berani membatalkan perjanjian AEC dmn perjanjian itu hanya akan menyudutkan SDM RI
    Pelatihan pelatihan yg di sarankan oleh Pak jokowi hanya untuk mereka yg di data oleh dispenduk dgn syarat ijazah
    Bgmn bagi mereka yg tdk mempunyai ijazah Dan/atau yg terlantar. Akan lbh banyak SDM non-aktif Dan akan lbh banyak tanah yg di gusur

    Kepastian hukum yg di janjikan oleh Pak prabowo pun blm pasti terimplementasikan selama Dinas pengawasan tenaga kerja tdk di colek oleh auditor

    Siapapun pilihan qt tetap tdk mengubah keadaan masyarakat Indonesia tetapi pilihan qt bisa mengubah tatanan ekonomi yg bobrok atau berkembang seiring terjaminx SDM yg makmur

    Reply

  36. zaskia Says:

    thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/

    Reply

Leave a Reply


8 − eight =