Susah Tapi Pasti Bisa (part 14)

 Ini, adalah idola saya untuk Stand Up Comedy…

 Ada yang suka sama dia, ada yang ga suka. Namanya selera ya beda beda.

Saya suka Public Enemy, yang lain mungkin suka Justin Bieber. Ga ada yang salah

 Chris Rock, adalah pemegang rekor Stand Up Comedy Tour terbesar dalam sejarah Stand Up Comedy

Bill Cosby, Seinfeld, George Carlin, Richard Pryor, Russel Peters, Robin Williams, belum ada yang pernah sebesar dia

Tour “Kill The Messenger” keliling 4 benua, 8 negara, 141 shows, ditonton total sebanyak  554,781 penonton.

Dia adalah alasan mengapa saya terus mendorong diri untuk selalu lebih baik. Dia adalah alasan mengapa saya ingin menjadi seorang comic yang hebat.

Saya ingin cerita, tentang perjalanan menjadi seorang comic.

Di buku NASIONAL.IS.ME saya sempat bercerita mengapa saya senang bikin orang ketawa, waktu SMP ketika kami sama sama susah dan merasa miskin, tertawa jadi jalan keluar bagi kami.

Saya belajar bahwa ketika kita tertawa, strata ekonomi melebur dan menguap. Untuk beberapa detik, kita lupa masalah, lupa siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Kita hanya ingat betapa lepasnya kita tertawa.

Karena saya ga punya apa apa untuk dibagi kepada teman teman, maka saya selalu berusaha membuat mereka tertawa. Ada kebahagiaan saya yang tersimpan dalam bahagia mereka, dalam setiap bahak tawa yang keluar dari diri mereka

Ketika SMA, teman teman suka tertawa setiap kali saya impersonate guru guru sekolah ketika kelas lagi kosong

Bahkan saya sering di “tanggep” waktu SMA, anak anak ngeliatin saya (berusaha) melucu dan dari dulu teman teman suka bilang “Si Pandji jago banget niru niruin orang, gue rasa dia ga inget dirinya sendiri kayak gimana..”

Ketika di Bandung, saya nonton DVD bajakan Robin Williams “Live on Broadway” dan hidup saya berubah.

Saya pengen banget jadi Stand Up Comedian tapi nggak tau gimana..

Steny Agustaf, temen siaran kalau pagi selalu nontonin video video stand up di youtube. Saya juga jadi nontonin dan keinginan untuk mencoba jadi semakin besar.

Tahun 2010 saya berniat bikin konser mini bulanan, saya beri nama Twivate Concert. Konser mini hanya untuk followers saya di twitter. 1 jam hiphop diselingi 30 menit stand up comedy.

Saya masih ingat persis, bit pertama yang menurut saya berhasil. Bit itu tentang Susno Duadji dengan punchline “Saya bersumpah” sebagaimana dia pernah bersumpah dalam sidang di hadapan pemeriksa

 

Dari April sampai Desember setiap bulan saya melatih kemampuan saya dalam Stand Up

Tiap bulan ganti tema, kadang tentang sekolah, kadang tentang laki dan perempuan, kadang tentang industri hiburan, dll

Sekali waktu, saya penasaran apakah saya bisa menemukan video Stand Up Comedy orang Indonesia di youtube, saya cari dengan kata kunci: Stand Up Comedy Indonesia, yang muncul adalah sejumlah video milik Reggy Hasibuan, seseorang yang kelak jadi teman saya 🙂 itupun judulnya “Stand Up Comedy” saja, tanpa ada “Indonesia”

Video video milik Reggy belum banyak mendapatkan “views”.

Maka saya putuskan untuk upload video video stand up saya dan memberinya judul “Stand Up Comedy Indonesia” dengan harapan kalau orang cari mereka akan menemukan video saya.

Terbukti, itu berhasil. Orang KompasTV katanya ada yang melihat video saya di youtube dan akhirnya saya nyemplung dalam perjalanan panjang dan menyenangkan dalam membangkitkan Stand Up Comedy di Indonesia

Ketika KompasTV diluncurkan, saya bersama Raditya Dika dan Om Indro warkop diberi kepercayaan untuk memperkenalkan program Stand Up Comedy Indonesia. Program TV pertama di Indonesia yang khusus tentang Stand Up Comedy.

 Di sini, saya juga memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk stand up di hadapan seluruh penonton di Jakarta Convention Center. Di setiap jeda iklan, saya masuk panggung dan (berusaha) stand up di depan penonton yang sangat sangat beragam. Dari ABG sampai bapak bapak pejabat

Susah, tapi saya yakin pasti bisa. Toh segagal gagalnya saya, saya bisa bilang “Gue pernah stand up comedy di depan ribuan penonton JCC”  🙂

 Memang, manggung di gedung kesenian yang bagus dan megah adalah impian bukan hanya saya, tapi siapapun yang pernah mengangkat mikrofon untuk Stand Up Comedy. Beruntung saya pernah merasakannya walaupun bukan di Indonesia, tapi di Melbourne, Australia. Tepatnya di Princess Theatre

 

 Teman teman di PPIA Monash cukup baik untuk mengundang saya sebagai MC untuk acara tahunan mereka, ketika ngemsi saya sempat Stand Up selama kurang lebih 15 menit (videonya ada di youtube, saya lupa apa judul videonya) dan selama 15 menit penonton yang 90% adalah WNI yang tinggal di Melbourne nampaknya terhibur

Tapi bagian yang paling menyenangkan dari bergelut di dunia Stand Up Comedy adalah pertemanannya

Saya ada dalam lingkungan hiphop, dan di dalam hiphop Indonesia sejak awal masuk ada aura persaingan yang tidak sehat antara “mainstream” dan “underground” pengkotak kotakan yang menurut saya diciptakan oleh mereka yang merasa “underground”. Banyak saling cela, banyak saling merendahkan. Sekarang sudah jauh lebih baik, namun selalu ada saja pertentangan pertentangan kecil yang menurut saya tidak penting. Tidak lebih penting dari pada membangun hiphop di Indonesia

Kondisi seperti ini tidak terasa di Stand Up Comedy

Kami semua bersahabat, saling dukung, saling bantu, saling berbagi ilmu

Siapapun yang melihat dari luar bisa menilai persahabatan kami yang erat. Its almost like brothers.

Peserta di Stand Up Comedy Indonesiapun sangat dekat dan sangat bersahabat. Walaupun mereka  ada dalam ketatnya persaingan kompetisi, tapi persaudaraan terjalin erat. Kritik dilontarkan dengan semangat saling memperbaiki, bukan saling menjatuhkan. Ide ide dilemparkan untuk saling mengembangkan kemampuan.

Dulu di awal pergerakan, rasanya seperti spesies yang sudah mau punah, kalau bertemu dengan sesama comic rasanya seperti saudara yang lama nggak bertemu. Sekarang setiap minggu selalu muncul talenta talenta baru yang mengagumkan

One of the things i love to do, is coming to openmics and  standupnites to see new talents showing up and to support them

Sekarang, keinginan gue dan teman teman adalah untuk sesegera mungkin menjadikan stand up comedy sebagai sebuah profesi. Bahwa ini bisa menghasilkan uang. Karena surga di dunia adalah ketika kita bisa hidup dari sesuatu yang dicintai. Di luar negeri, stand up comedy sudah menjadi industri yang menghasilkan. Bukan tidak mungkin itu terjadi di sini. Susah, tapi pasti bisa 🙂

Saat ini, saya sudah mulai menerima gig stand up komersil. Walaupun banyak yang memberi pekerjaan tidak tahu stand up comedy dan hal hal dasar yang diperlukan untuk stand up comedy (ruangan tertutup atau tidak outdoor, tidak digabung dengan acara makan, pokoknya semua hal yang sudah dijelaskan dalam bab bab Susah Tapi Pasti Bisa sebelumnya)  tapi setidaknya sudah mulai ada brand atau EO yang mulai menggunakan stand up comedy sebagai bagian dari acara.

 Keinginan saya sebagai seorang comic adalah terus memperbaiki diri, mengembangkan diri, saya mengejar Chris Rock

Kemarin, saya untuk pertama kalinya melakukan sebuah Stand Up Show Special, 1 jam 15 menit stand up.

Bagi saya ini pencapaian tersendiri karena saya belum pernah Stand Up selama sejam

 Di Konser Berani Mengubah, saya stand up dengan materi materi yang sudah lebih dari 2 bulan saya siapkan. saya latih beberapa bit di open mic, saya latihbeberapa bit di sejumlah gig dan walaupun belum pernah saya benar benar coba semua selama sejam, saya coba untuk melakukannya pada tanggal 28 Oktober 2011 kemarin

 It was tough at the beginning.

Gabungan antara grogi, panik dan nggak bisa liat wajah penonton membuat saya lambat dalam memulai pada menit menit awal.

Terus terang saya hanya bisa melihat wajah penonton yang ada di barisan terdepan, untungnya mereka ketawa ngakak sehingga membantu saya tenang dan melanjut

 Saya keluarkan semua persenjataan saya dan bahkan ada beberapa bit yang saya “temukan” secara tidak sengaja di atas panggung karena saya membiarkan diri saya untuk “free style”. Sebelum manggung yang dipikiran saya adalah “Gue punya 1 jam, ga usah buru buru, santay aja dan kasih ruang untuk improvisasi”

Saya juga sengaja membuka komunikasi dengan penonton karena itu adalah salah satu keunggulan saya. Berkomunikasi dengan penonton adalah sesuatu yang gampang gampang susah, karena kita harus bisa membuat sebuah kelucuan di luar dari yang sudah kita siapkan. To make people laugh by using materials that are prepared and pre-rehearsed is one thing, but to make something out of nothing takes different set of skills.

Skills of which i mastered

 Di panggung, semakin lama semakin nyaring terdengar suara tawa penonton, dan semakin nyaman dan santai saya dalam melempar materi materi

 Tiba tiba, saya mendapat sinyal lampu dari tim.

Lampu itu dinyalakan untuk menandakan bahwa waktu sudah 1 jam

Ketika lampu itu terlihat, saya seketika lega. Kemudian melemparkan materi materi terakhir sebelum menutup.

Ketika akhirnya saya mengucapkan “Terima kasih semuanya , selamat malam”

Seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan.

 

It felt awesome

Lega, bangga dan bahagia campur jadi satu.

Turun panggung, sahabat sahabat saya sesama comic mendatangi dan mengucapkan selamat. Bagi saya, itu lebih dari cukup.

Kalau prajurit dipuji berani oleh sesama prajurit pasti akan terasa lebih bangga daripada ketika yang memuji adalah masyarakat biasa.

Total durasi 1 jam 15 menit.

I did it.

🙂

I cant wait to do it again.

Sekarang, saya berencana untuk membuat stand up special lagi selama 1 jam.

Bahkan saya berencana untuk terus terusan show sejam.

Kini target saya adalah road show dari kota ke kota di Indonesia

Saya ingin membawa stand up saya ke kota kota lain, terutama ke kota kota yang ada komunitas stand up-nya. Mereka sejak lama menginginkan kehadiran saya di kota mereka. Kini waktunya menjawab undangan mereka. Berdoa saja ada sponsor yang tertarik membawa saya dan teman teman untuk roadshow. Lagipula tidak terlalu mahal, beda dengan musik, stand up comedy tidak perlu bawa alat alat band, tidak perlu bawa kru, tidak perlu sound system yang mewah, lighting hanya perlu follow spot, dan saya rasa di tiap kota yang ada komunitas stand up pasti ada tempat yang mau menampung kami.

Tinggal masalahnya mencari klien/brand yang melek Stand Up Comedy.. ini agak susah memang.

Susah, tapi pasti bisa 🙂

 

 

ps: Thanks utk foto fotonya: @imanlagi utk foto twivateconcert, @arespendil utk foto gig panadol dan standupnite4 juga @radiandi utk foto foto konser berani mengubah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*