Terlibat

“Mengapa Mas Pandji terjun ke politik?”
Saya yakin, nyaris 100%, yang bertanya adalah orang orang yang tidak mengenal saya dari karya karya saya. Karena sejak 2008, sejak album pertama sampai album ke 4. Sejak buku pertama sampai buku ke 8, sejak stand-up special pertama sampai stand-up special sekarang, orang justru bertanya hal yang sama. Pertanyaan yang paling sering saya temukan sepanjang karir saya..
“Kenapa Mas Pandji tidak masuk politik?”
Hehehehe.
Bahkan kalau sudah baca buku “Berani Mengubah” yang terbit tahun 2012 akan ingat poin yang saya anjurkan di bab “Belajar Politik”.
Yaitu “Terlibat”
Kata Bernie Sanders, politik itu bukan olahraga tontonan. Berpolitik, berarti melibatkan diri.
Malah saya kasian dengan orang orang, apalagi anak muda yang bilang “Jangan deket deket dengan politik Mas. Jauh jauh aja.”
Kelihatannya dia tidak sadar bahwa dia produk sukses dari doktrin Soeharto. Di era Sukarno, semua orang berpolitik. Masa masa itu adalah masa yang menggairahkan. Kita baru mendapatkan predikat Merdeka. Kita sedang membangun negara. Semua orang ingin ambil andil. Semua terlibat.
Lalu masuk era Soeharto dan hal yang beliau sukses lakukan adalah, memutus mata rantai antara rakyat dengan politik. Supaya apa? Supaya rakyat tidak tahu apa yang dilakukan oleh politisi.
Pidato panjang membosankan. Edukasi politik yang nihil. Proses pemilu yang begitu begitu saja. Pada masa 32 tahun (I know, right? 32 years is really unnormal) saya bahkan tidak mengerti mengapa orang ikutan pemilu. Yang menang ya pasti Golkar lagi, Golkar lagi. Yang jadi Presiden ya Soeharto lagi, Soeharto lagi.
Di saat dunia pada kebingungan melihat ada Presiden menjabat lebih dari 2x masa jabatan, rakyat Indonesia berkehidupan seperti biasa tanpa merasa ada yang salah.
Mengapa?
Karena tidak mengerti. Tidak mau mengerti. Antipati.
Karena mereka sukses melakukan yang Soeharto inginkan.
NAH
Kembali ke pertanyaan “Kenapa Mas Pandji terjun ke politik?”

Padahal hidup sudah sibuk bukan main, mengurusi Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour saja pusingnya bukan main.

Belum lagi resiko orang tidak bisa membedakan pertunjukan Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour & posisi saya sebagai Juru Bicara. 

Jadi mengapa?

 

Alasan
pertama, adalah karena setelah berkeliling dunia dan melihat Jakarta, saya jadi semakin ingin melibatkan diri dalam menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih baik. Saya tahu apa yang sebaiknya ada di sebuah kota dan saya mau terlibat dalam memastikan itu terjadi. Saya bisa saja ngomel dan ngoceh di twitter akan buruknya kondisi Jakarta. Tapi memaki kegelapan tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk jadikan terang.
 

Alasan kedua
, karena saya percaya Mas Anies dan Bang Sandi adalah pasangan yang tepat. Terutama karena saya mendambakan persatuan, saya percaya Mas Anies adalah jembatan yang akan menyambungkan keragaman di Jakarta. Karena saya percaya Mas Anies peduli dengan manusia, dia akan tepat memimpin Jakarta yang selama ini pembangunannya hanya terpaku pada hal hal fisik yang bisa dilihat. Kotanya dibangun, warganya terlupakan.
 

Alasan ketiga
, karena ada 2 “P” yang saya sukai di dunia ini: Politik dan Pemasaran. Saya punya 8 buku yang sudah saya terbitkan, semuanya mengenai politik atau pemasaran. Kampanye politik, adalah dunia yang membaurkan kedua dunia tersebut. Untuk saya, ini seru dan membuka wawasan.  
 

Alasan ke empat
, karena saya percaya dari sini saya akan mendapatkan Ilmu baru. Sebagai gambaran, saya belajar lebih banyak tentang politik dalam beberapa bulan terakhir, daripada yang saya dapatkan seumur hidup. Kelak setelah ini usai, saya punya banyak pengalaman yang bisa dituangkan dalam bentuk karya apapun. Film? Buku? Stand-Up Special? Dinanti saja 🙂 #KodeKeras.
 

Alasan ke lima
, dan alasan paling kuat, karena saya memutuskan untuk mau terlibat dalam perubahan politik Indonesia ke arah lebih baik. Saya terlibat dalam Pilgub Faisal Basri. Saya terlibat dalam Konvensi Demokrat. Saya terlibat dalam Pilpres Jokowi.
Idola idola saya, semua terlibat dalam politik. Jay Z, Chris Rock, Jon Stewart, semuanya secara lantang menunjukkan keberpihakannya, ikut berkampanye mendukung calonnya.
Itulah saya menyetujui untuk bersama dengan Mas Bambang Widjojanto (mantan pimpinan KPK) untuk menjadi Juru Bicara Resmi Anies-Sandi.
Keterlibatan kita, harusnya tidak jauh dari bidang kompetensi kita. Memangnya anda pikir kenapa saya setuju untuk dijadikan Jubir? Ya karena saya bisanya bicara. Itu kompetensi saya.
Kalau anda mau terlibat, terlibatlah dalam hal yang sesuai dengan kompetensi anda.
Apapun itu, kalau anda mau, anda bisa terlibat.

“Apapun?”

Apapun.

Mas Anies Baswedan, punya rekam jejak unik yang tidak dimiliki paslon lain. Dia terbukti mampu menggalang orang orang yang mau bergerak. Tidak ada paslon lain yang punya rekam jejak bisa menggerakan pemuda.
Kita tahu, kota ini tidak bisa maju kalau hanya pemerintahnya saja. Masalah Jakarta, adalah masalah bersama. Maka bersama, kita mengatasinya.
Itulah mengapa, penggerak juga banyak yang memilih untuk berdiri di belakang Mas Anies. Mereka percaya Mas Anies adalah pemimpin yang tepat bagi mereka, karena mereka percaya Mas Anies bisa ikut memajukan mereka. Gerakan gerakan yang selama ini, ada pilkada atau tidak, sudah berbuat sesuatu untuk warga Jakarta.
Kalau anda selama ini sudah terlibat, kalau anda seorang penggerak, saya undang untuk bergerak bersama Mas Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Satu satunya paslon yang memang sejak lama terlibat dalam gerakan.
Kami ingin mendengar gerakan anda. Ceritakan gerakan yang sudah anda jalankan, atau bahkan anda bisa tawarkan solusi yang anda punya berdasarkan pengalaman hidup di jakarta selama ini, ke relawan@jakartamajubersama.com . Bersama, kita cara jalan untuk memajukan warga Jakarta.
Mas Anies, Bang Sandi, dan saya, akan bantu anda menumbuh kembangkan gerakan anda.
Satu catatan: Kalau anda mau mengajukan sebuah ide gerakan, pastikan, anda benar benar peduli dengan gagasan ini. Karena menang atau kalah pilkada, kita akan terus majukan gerakan ini untuk membangun warga Jakarta.
Pilihan di tangan anda.
Jakarta jelas perlu dimajukan. Baik kotanya, maupun warganya.
Pertanyaannya: Mau jadi penonton, atau mau terlibat?
 
 
 
 

30 thoughts on “Terlibat”

  1. Duh Mas…bukannya gimana ya..gimana mau percaya sama cagub yg gampang berubah pendiriannya…dulu berdiri dibelakang barisan KIP…setelah tersingkir dalam pemerintahan sekarang gabung dgn KMP…nanti kalau gagal lagi..terus dapat tawaran lagi dari kelompok2 yg lain apakah bakal ngikut lagi gak ya? Mau sampai kapan? sampai ambisi politiknya tersalurkan? gitu aja sih mas..makasih

    1. ….dan jangan lupa, sebelum ada KIP dan KMP, Anies ada di kubu Demokrat…walau bukan anggota partai. Ingat konvensi yang dia ikuti? hehehhee….

    2. Hm.. Jadi mas Anies harus berpihak sm “kubu2an”, kepentingan partai? Bkn kepentingan Rakyat??
      Bkn maksud menjelekan Ahok,tp diapun pindah2 partai, bahkan pernah mencela partai, akhir nya nelan ludah sendiri maju PilGub dgn dukungan partai. Konsisten? Kita harus berfikir jernih,jgn menilai suatu keputusan seseorang dgn tendensius saja,tanpa tau tujuan baik nya

    3. Berubah pendirian??? jadi anda percaya sama paslon 2 yang berubah partai?

      bukankah mas Anies sudah berkata, dia memiliki visi, yang akan dia jalankan dimanapun ia berpijak, bukankah kepentingan rakyat yang paling atas?

      tolong jawab putih kelabu.

      1. @dan holmes…kayaknya gak ada yg ngomongin paslon no.2 deh si putih kelabu..kok anda jadi menjudge sendiri? Disinilah org2 bisa menilai anda itu seperti apa dan bagaimana cara anda bereaksi… 😀

  2. Tapinya, mas.. Pak anies itu riweuh banget. Pas jadi menteri kemarin, kebijakannya berasa ribet banget untuk kalangan guru yg langsung mengajar. Padalah, hasil kebijakannya juga ga well well amat

    1. Saya rasa wajar terlihat riweuh karena masalah yang dihadapi juga riweuh. Maka perubahan yang harus dilakukan dan konsekuensinya akan riweuh pula atau berat untuk dijalani. Apalagi keluar dari zona nyaman memang bukan hal yang bisa dibilang mudah. Semoga bisa menjawab 🙂

      1. Dengan pemahaman Anies yang rendah soal KJP vs KIP saja sudah terlihat bahwa dia tidak memahami tugasnya ketika menjabat Menteri Pendidikan. Sikapnya yang santun berwujud kepada kerja yang lamban an peragu ala SBY…..sorry ya…

  3. Untun mengenai kebijakan terutama kebijakan baru pasti dirasa riweh karen belum terbiasa,apabila sudah berjalab insyallah pasti jadi terasa ringan karena sudah terbiasa. Tetap pintar dan kritis dalam memilih,saya sangat percaya dengan bang anies meskipun saya tidak suka dengan partai PKS.saya berharap beliau tidak gampang disetir,tugas kita para pemilih untuk mengevaluasi dan mengawasi kerja pemerintah.semoga bang anies dan bang sandi bisa menjadi pemimpin jakarta,dan mampu memajukan manusia jakarta.

    1. Hal itu sudah dilakukan juga oleh Ridwan Kamil, di mana dia berupaya mendekati rakyat Bandung dari sisi index kebahagian. Well…tiga tahun pertama berhasil, semua berbahagia. Tapi permasalahan sebuah kota dengan penduduk yang padat tidak bisa diatasi hanya oleh “bahagia” tapi juga perbaikan infrastruktur dan sarana publik. Lihatlah apa yang dilakukan RK…. ketika rasa kebahagiaan itu sudah terpenuhi, lalu semua dikejutkan akan tertinggalnya infrastruktur yang ternyata selama ini tidak dibenahi. Maka yang terjadi adalah gerutuan kepada RK atas macetnya Bandung, Banjir yang luar biasa dan tidak ada sarana transportasi publik yang baik. Akankah anda mau mengalami hal tersebut di Jakarta. Pikir 2x…

      Sikap santun Anies jangan sampai diterjemahkan menjadi kerja yang lamban dan peragu. Suatu sikap yang telah kita alami selama 10 tahun, dan akhirnya membuat Jokowi perlu memacu lebih cepat. Sayangnya Anies sangat membawa 2 sikap tersebut (lamban dan peragu) saat menjadi Menteri…. maka tidak heran Jokowi mendepaknya.

  4. Kali ini gue sepakat, Ndji! Terutama di alasan kelima. Setelah gue bongkar2 lagi, gue ternyata memilih di belakang Mas Anies bukan karena ada “intimacy”. Tapi keyakinan.. Keyakinan kalau Jakarta bukan cuma butuh diatasi dari macet dan banjir. Warga Jakarta punya masalah-masalah “perasaan”, perlu didengar, perlu disentuh, perlu digerakkan untuk mencintai. Bukan sekadar menumpang hidup di Jakarta, tapi juga ambil bagian. Baik dan bersih saja tidak cukup untuk memimpin Jakarta. Latar belakang Mas Anies-Sandi yang mempunyai gerakan, sungguh menghilangkan keraguan. 💖

    1. Hal itu sudah dilakukan juga oleh Ridwan Kamil, di mana dia berupaya mendekati rakyat Bandung dari sisi index kebahagian. Well…tiga tahun pertama berhasil, semua berbahagia. Tapi permasalahan sebuah kota dengan penduduk yang padat tidak bisa diatasi hanya oleh “bahagia” tapi juga perbaikan infrastruktur dan sarana publik. Lihatlah apa yang dilakukan RK ,,,, ketika rasa kebahagiaan itu sudah terpenuhi, lalu semua dikejutkan akan tertinggalnya infrastruktur yang ternyata selama ini tidak dibenahi. Maka yang terjadi adalah gerutuan kepada RK atas macetnya Bandung, Banjir yang luar biasa dan tidak ada sarana transportasi publik yang baik. Akankah anda mau mengalami hal tersebut di Jakarta. Pikir 2x…

      Sikap santun Anies jangan sampai diterjemahkan menjadi kerja yang lamban dan peragu. Suatu sikap yang telah kita alami selama 10 tahun, dan akhirnya membuat Jokowi perlu memacu lebih cepat. Sayangnya Anies sangat membawa 2 sikap tersebut (lamban dan peragu) saat menjadi Menteri…. maka tidak heran Jokowi mendepaknya.

  5. Saya percaya ada orang yg jago dalam konseptual dan ada yg jagonya eksekusi. Yang saya lihat Pak Anies adalah orang akademis yang memang jagonya dalam konsep dan bisa mengkomunikasikan konsepnya dengan baik sehingga akhirnya bisa menggerakkan orang. Menurut saya yang dibutuhkan Jakarta sekarang ini adalah orang yang jago eksekusi; dari birokrasi yg perlu ditata, mafia dan preman yang harus dibabat, dan ini membutuhkan seseorang yg street smart (yg menurut saya tidak ada di Pak Anies).

    1. Gubernur kok tugasnya mbabat preman dan mafia? Gubernur bukan aparat penegak hukum, tugas Gubernur adalah mimpin kota dan warganya berdasarkan undang”, akan menabrak undang” jika seorang Gubernur memasuki area aparat penegak hukum, disinilah salah kaprahnya, kala pemimpin dianggap baik ketika mengerjakan sesuatu yg bukan domain/prioritasnya, tp berbeda jika Gubernur itu mampu membangun komunikasi antar aparatur yg melibatkan penegak hukum utk menguatkan birokrasinya. Apa tandanya? Gubernur tsb haruslah punya dukungan yg kuat dari lembaga” pemberantas mafia/preman/korupsi dsb, disini terlihat karena hanya cagub nomor 3 yg mendapat dukungan tsb (3 mantan komisioner KPK). Amat penting bagi seorang Gubernur utk bisa membangun koordinasi setiap aparatur dan komponen masyarakat agar terciptanya suasana tenram yg jauh dari kegaduhan, karena memang itulah ciri Pemimpin yg baik dan itu ada pada diri Anies-Sandi.

  6. Well it’s about time! Sebagai orang yang suka dengan karya Mas Pandji, saya dukung keterlibatan Mas Pandji sebagai jubir dari Pak Anies. Berbeda itu boleh kok dan harus pada tempatnya juga kalau mau menyuarakan perbedaan. Apakah terus kalau Mas Pandji terang2an dukung Pak Anies terus kita langsung saling benci karena pilihannya berbeda? Justru karena pilihan kita berbeda seharusnya malah bisa menyatukan pendapat. Memperbaiki kekurangan masing2 calon dan meneruskan pekerjaan Gubernur DKI Jakarta yang belum terealisasi untuk menjadi kota yang lebih baik lagi. Salam.

  7. Gua rasa tulisan lu kali ini lebih kepada mengkampanyekan kepada masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam perubahan, terlepas dari paslon yang diusung oleh tiap individu. Cuman karena lu dukung pak anies-sandi jadi isi pernyataan lu tentang mereka semua.

    Gua rasa, mau dari regional manapun dan dukung paslon manapun bisa setuju sama statement

    “memaki kegelapan tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk jadikan terang.”

  8. Terima kasih bang pandji. Karena tulisan ini saya jadi ingin dan akan bergerak untuk berpolitik sesuai kemampuan saya serta siap terlibat untuk mendukung Pak Ahok.

  9. Make sense, drpd jd penonton mending terlibat, itu jg alasan pak ahok terjun dipolitik. Beda itu biasa, buat saya makin sering liat apa yg seluruh cagub lakukan makin kerasa ketulusan pak ahok dibanding yg lain terutama pak agus n pak sandiaga uno

  10. Iya mas Pandji. Menurut saya Jakarta memang harus diubah imejnya dari Ibu tiri menjadi Ibu kandung. Saya sangat yakin kalau harapan itu ada di tangan pak Anies.

  11. Masuk akal apa yg mas pandji bilang, Pemimpin itu harus mampu menggerakkan, menggerakkan itu bukan menggertak tp berkoordinasi, karena di Jakarta banyak terdapat komponen yg beragam baik di masyarakat maupun dilingkungan Pemda, maka hal utama yg dibutuhkan jakarta adalah Pemimpin yg mampu mengkoordinasikan semuanya agar lingkungan di Jakarta berjalan tentram dan damai yg jauh dari kegaduhan, Semangat terus mas pandji !!

  12. Jujur, begitu gw baca tulisan mas Pandji di atas “Alasan Kedua”. Gw langsung mengernyitkan dahi, wkwkwk… Bkn apa2. Gw tw arah tulisan mas Pandji ini kemana. Ternyata benar. Sudah kuduga 😀

  13. “..Kotanya dibangun, warganya terlupakan…” Jujur saya bingung dengan kalimat ini. Bukannya di era kepemimpinan Jokowi-Ahok dan Ahok-Djarot 2 hal tsb bergerak simultan. Warga Jakarta justru apresiasi bahkan berinisiasi mensukseskan program-program/kebijakan-kebijakan Pemda DKI.
    ahh pandji…susah juga saya menebak cara berpikirmu sampai-sampai mendukung Anies, padahal kita sudah melihat bersama secara nyata Jakarta itu sedang maju-majunya dibawah pemerintahan Ahok-Djarot. Tapi saya penasaran, apalagi yang akan kamu tulis nanti setelah pilkada dan Anies – Sandiaga kalah, sementara Ahok – Djarot yang menang. Rangkaian kata seperti apalagi yang akan kamu hasilkan. Ditunggu..!! hahahahaha…

  14. Mau jadi penonton, atau mau terlibat?
    lebih baik jadi penonton daripada terlibat di politik yg penuh tipu2

    contohnya alasan no.2 itu alasan yg dicari2.
    coba liat apa yg sudah dilakukan Ahok untuk pembangunan manusia :
    – Ahok terima aduan warga tiap pagi dan langsung di follow up gak pake ribet2.
    – Buat aplikasi untuk memudahkan laporan warga
    – Bangun RPTRA dimana2
    – Lawan mafia koruptor dan mental malas PNS ( ini yg paling penting buat Jkt )

  15. Wah tulisannya menggugah nih bang pandji. Jadi semangat mau buat gerakan. Tunggu ya mas kalau nti gerakannya udh jalan dan terus jalan. Sy nau share. Kalau skrg malu karena cuman bisa komen doang

  16. Mas Pandji…opini saya cuman satu..kalau mas mau mulai belajar menjadi seorg politician ya sah2 saja..tapi tolong tinggalkan dunia comedian nya…karena kalau hanya sekedar aji mumpung atau coba-coba akan fatal akibatnya…org akan memberikan cap kepada mas sebagai seorg politician yg berkelakuan comedy atau julukan kasarnya adalah “Badut Politik”…banyak loh mas sekarang yg seperti itu yg duduk di DPR… 🙂

    Tapi saya rasa mas Pandji ini bukan orang yang punya sifat dualisme…yang hanya mengikuti arah angin berhembus…yg sebentar2 berdiri di pihak A tapi begitu tidak terpakai lagi berdiri di pihak B…toh saya rasa rejeki mas sudah ada kapling nya sendiri…dan tidak perlu ikut2an ke kapling lain yang belum jelas peruntungannya…wassallam

  17. Masalahnya yg tnggal dijakarta kebanyakan pendatang yg kurang mencintai, kurang rasa memiliki. Bertahun – tahun mencari hidup dijakarta kemudian pulang untuk membangun daerahnya. Kalo udah begini yah mereka ga akan perduli Jakarta mau kemana arahnya, siapa pemimpinnya. Bang anies, band sandi dan bang pandji keduanya memang tdak terlalu banyak pengalaman di dunia politik. Tapi dari rekam jejak mereka rasanya saya jadi penasaran dengan kinerja mereka “kaya materi bang pandji di juru bicara rasa penasaran yg membuat keingin tahuan itu tumbuh”. Semoga saat saya nanti memilih bang anis dan bang
    sandi mereka juga terus penasaran utk merubah Jakarta ke arah yg lebih baik. Salam bersama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.