Tidak meminta maaf

Mengapa Kami Menyinggung.
Karena kami pikir itu lucu.
Itu adalah jawaban yang paling jujur.

Bukan niat kami untuk menyinggung tapi karena kami pikir apa yang kami lakukan atau kami ucapkan itu lucu.

Sebagai komika (istilah Indonesia untuk stand-up comedian) kami selalu mencoba untuk mengejutkan penonton.

Karena komedi, menggantungkan nyawanya pada punchline. Punchline bekerja terbaik ketika dia mengejutkan. Kalau tidak, maka tawa yang diharapkan tidak akan meledak. Karena “Ketebak”.

Tapi untuk melakukan sesuatu yang mengejutkan anda, kami harus terus mencoba berjalan jauh sambil meraba batasnya di mana. Tidak jarang, kami melanggarnya.

Kami tahu garis itu kami langgar, ketika protes datang. Badai opini & tsunami hujatan. Kami tahu itu. Kami sadari resikonya. Kami jalani kendatipun demikian.
Kemal Palevi yang kemarin sempat ramai karena video menanyakan ukuran bra ke anak di bawah umur bukan kali pertama yg melanggar garis itu. Diapun juga bukan melanggar ketika stand-up comedy, tapi ketika membuat video untuk dipublikasikan di internet.

Bahkan kejadian tersebut bukan pelanggaran pertama oleh Kemal. 
Masih hangat beberapa hari sebelum kejadian Kemal, orang ramai membahas lawakan saya dari pertunjukan Stand-Up Comedy saya berjudul “Merdeka Dalam Bercanda”.
“FPI jangan dibubarin, biar orang tau kalo nggak sekolah jadi kayak apa”. Meme yg memuat kalimat itu tersebar di dunia maya. Bukan saya yang membuat. Entah siapa. Tapi meme-nya tersebar. Meme tersebut agak membuat lawakannya keluar dari konteks karena yang sedang dibahas adalah orang orang di bawah bendera FPI yang kalau demonstrasi kelakuannya seperti orang yang tidak sekolah.

Apakah FPI yang memprotes? Bukan. Yang ramai memprotes adalah orang orang yang tidak terima saya menghina orang tidak sekolah karena disejajarkan dengan FPI. Mereka merasa FPI lebih rendah.

Saya tergelak. Dalam protes mereka terhadap “hinaan” saya. Mereka menghina pihak lain. Kalau FPI tahu mungkin mereka akan justru memprotes orang orang yang protes kepada saya. Tapi mungkin ribet. Akhirnya ga jadi.
Saya-pun minta maaf. Karena memang bukan niat saya menghina orang tidak berpendidikan. Mungkin kalau yang protes FPI, saya bersedia untuk membuka perdebatan. Karena memang FPI target saya. Akhirnya, redalah kemarahan terhadap saya.
Sebelum saya, Zaskia bercanda tentang Pancasila.

Sebelumnya, Raffi Ahmad menyinggung para wartawan.

Sebelumnya lagi, almarhum Olga menyinggung orang.

Sebelumnya lagi, Cesar dianggap menghina Benyamin & diprotes banyak pihak.
Tidak ada niat buruk. Hanya mencoba membuat orang tertawa. 

Hanya mencoba membuat orang terkejut. Tapi lalu salah langkah.

Saya tidak membenarkan tindakan di atas, saya hanya menerangkan proses berpikirnya.
Di Amerika Serikat baru baru ini, Chris Rock diprotes aliansi aktor keturunan tionghoa Amerika karena dalam kritiknya terhadap Oscar yang rasis terhadap kulit hitam, Rock membuat sebuah sketsa yang menyinggung etnis Tionghoa.
Louis CK, membuat sebuah lawakan yang membuat geger publik Amerika. Dalam siaran langsung di Saturday Night Live, CK membuat lawakan yang memuat kalimat “pasti nikmat memperkosa anak anak”. Andapun yang membaca pasti geger. Karena anda tidak paham konteksnya.

Kalimat lengkapnya seperti ini kurang lebih “Padahal, hukuman untuk memperkosa anak itu sangat keras! Bisa hukuman mati, penjara seumur hidup, kalaupun dipenjara orang orang ini pasti akan dihabisi karena bahkan bagi para penghuni penjara, pemerkosa anak levelnya paling nista. Tapi kenapa ya masih ada yang berani melakukannya? Kesimpulan yang kita bisa ambil, pasti nikmat memperkosa anak anak sehingga mereka bersedia menerima resikonya. Nikmat untuk mereka lho ya, untuk mereka.”
Nah orang yang hanya mendengar “pasti nikmat memperkosa anak anak” akan mengamuk. Tapi publik yang lebih tenang & mampu memproses berkata Louis CK memperingatkan kita bahwa pemerkosa anak ini tidak bisa ditakuti dengan hukuman yang sekarang berlaku. Mereka sakit jiwa. Harus ada perubahan dalam cara dunia sosial menangani mereka.

Tapi, Amerika gempar & Louis CK diserang.
Dick Gregory, komedian kulit hitam Amerika yang legendaris. Memulai karirnya jauh sebelum Eddie Murphy & Richard Pryor juga kena protes. Joke-nya “I am really enjoying the new Martin Luther King Jr, stamp. Just think about all those white bigots, licking the backside of a black man.”. Lucu? Tentu. Tapi tidak untuk banyak orang kulit putih Amerika.
George Carlin, legenda komika Amerika & salah satu yang paling kontroversial, mengubah tatanan TV Amerika ketika tahun 1970 membuat pertunjukan live di TV & membawakan lawakan berjudul “7 kata yang tidak boleh diucapkan di TV”
Semua nama nama di atas, memiliki 2 persamaan. Sama sama menyinggung orang tentunya, tapi ada satu hal lagi yang penting untuk dibahas di sini.

Ketika lawakan mereka (yang belakangan dianggap menyinggung) dibawakan, semua yang menonton tertawa. 
Lawakan saya tentang FPI, saya bawakan keliling 15 kota Indonesia. Semua yang menonton tertawa. Kok bisa? Video Kemal yang kontroversial kemarin, kalau anda baca kolom komentar, dianggap lucu oleh penikmatnya. Termasuk anak 14 thn yang dia tanya tertawa & mengijinkan (yang ini tidak bisa dianggap benar karena seringkali anak anak kecil tidak tahu apa yang baik untuk dia). Kok bisa?
Karena Kemal & saya & semua komedian di atas melontarkan materi lawakan untuk kalangan tertentu. Kalangan yang siap menerima lawakan seperti itu. Yang kami lupa, adalah bahwa materi itu akan tetap viral di social media & internet raya. Publik yang tidak jadi target market lawakan ini akan mengkonsumsi & karena perspektif yang beda akan terbuka terhadap multi intepretasi & protes berterbangan.
Kini, banyak komedian merasa dihadapkan dengan permasalahan: Apakah saya harus melakukan self-censor terhadap materi saya & tidak sebebas dulu?

Buat saya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan baru. Jangankan dalam melawak, setiap orang harusnya berpikir & melakukan self-censor ketika mau berucap, beropini, ngetweet, post facebook, dll.
Kita semua harus siap mempertanggun jawabkan apa yang kita katakan, di manapun kita berada. Kalau tidak, kita bisa dikejar untuk dimintai pertanggung jawaban. Di manapun kita berada. 

Kalau tidak percaya, tanya saya kepada orang yang didatangi Deddy Corbuzier gara gara komentarnya di social media.
Sayapun melalukan hal yang sama. Dalam melawak saya menghabiskan bermalam malam tidak tidur memastikan bahwa untuk setiap ucapan saya dalam pertunjukan stand-up saya, didukung fakta & bisa dipertanggung jawabkan 100%. Itupun masih takkan luput dari resiko. 

Tahun ini saya akan tur dunia ke 24 kota di 5 benua. Beberapa kota di Tiongkok, 5 kota Jerman, 6 kota Amerika Serikat, 6 kota Indonesia, juga Jepang, Afrika Selatan, Australia, lalu ditutup 10 Desember 2016 di Jakarta. Di dalamnya saya membahas industri TV termasuk rating & sensor, membahas isu HAM, isu agama, komunisme, atheisme, LGBT, termasuk membahas spesies langka yang mulai punah karena rumahnya dibongkar untuk kebun kelapa sawit. Beresiko? Tentu. Tapi resiko ini saya siap untuk ambil demi banyak hal penting yang saya rasa publik harus tahu.
Saya siap pertanggung jawabkan namun kalau ternyata publik menemukan bahwa saya salah langkah & saya sendiri sadari kesalahan tersebut, saya tidak akan terlalu besar kepala untuk meminta maaf. 

3 thoughts on “Tidak meminta maaf”

  1. You wrote:
    Meme tersebut agak membuat lawakannya keluar dari konteks karena yang sedang dibahas adalah orang orang di bawah bendera FPI yang kalau demonstrasi kelakuannya seperti orang yang tidak sekolah.

    Apakah FPI yang memprotes? Bukan. Yang ramai memprotes adalah orang orang yang tidak terima saya menghina orang tidak sekolah karena disejajarkan dengan FPI. Mereka merasa FPI lebih rendah.

    Saya tergelak. Dalam protes mereka terhadap “hinaan” saya. Mereka menghina pihak lain.

    ————–

    Gue rasa elo juga nggak butuh tanggapan gue, sih. Tapi gue rasa harus gue luruskan kembali dari hasil percakapan kita kemarin via Twitter. Poin gue pribadi, terlepas ada atau tidaknya nama satu ormas/lembaga di situ, tetap, bukan berarti orang yang tidak sekolah itu tidak cerdas, dan/atau tidak beradab. Gue pikir kita clear di sini bahwa ini bukan tentang hinaan terhadap ormas/lembaga, namun premis yang seolah menyatakan bahwa orang yang tidak sekolah itu bar-bar dan tidak tau adab. Dan gue rasa, itu yang banyak orang tangkap. Sekali lagi, bukan masalah lembaganya. Tapi pendeskriditan orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan resmi dari Negara.

    Gue sadar banget, nggak gampang bikin konten humor. Dan gue setuju banget kalau sewaktu-waktu konten humor tersebut harus mendobrak batas. Supaya apa? Supaya nggak ketebak. Kalo ketebak emang kenapa? Jadi nggak seru atau bahkan bisa nggak lucu. Kembali lagi, yang diuntungkan di sini adalah si pembuat joke. Kalau joke laku keras maka karirnya akan terjaga. Tapi setidaknya, tolonglah pikirkan juga apakah ada pihak yang akan dirugikan. Dalam kasus ini, subjektif gue, joke mengenai kelakuan orang yang nggak sekolah itu merugikan mereka. Imbasnya ke mana? Stigma masyarakat.

    Gue berani membuka dialog gini bukan bermaksud mem-bully. Gue dukung elu untuk terus berkarya kok. Gue membuka dialog gini karena gue tau betapa “suffering”-nya kebanyakan dari mereka yang nggak sekolah tapi nggak mampu. Dan mereka sopan dan beradab semua kok. Nggak bar-bar.

    Semoga elu mengerti bahwa ini bukan bully-an, bukan hinaan terhadap elu atau pihak manapun. Ini murni kritik dari gue yang sering ngobrol sama anak-anak jalanan. Gue mewakili suara mereka di sini. Dan semoga kritik ini nggak menjatuhkan nama dan prestasi elu di dunia komika Indonesia.

    Salam.

    1. Ah, sok bijak lu.
      Gue rasa, semua orang (kalo gak mau munafik) pasti pernah ngebuat lelucon utk orang yg tak beradab, jg disebutnya ‘gak sekolah’. Kalo emang mau ngebuka pikiran, kata ‘sekolah’ ini pun bisa diartikan lebih luas. Bukan cuma sekolah formal aja. Kalo emang orang gak sekolah (formal) pun banyak yg lebih ‘berpendidikan’ dr yg sekolah (formal), ya itu artinya mereka sekolah juga, meski tak sekolah (formal). Alam, teman, lingkungan, elu, juga bisa jadi tempat buat ‘sekolah’.
      Wa’alaikum salam…

  2. panggung dan tempat umum itu 2 hal yang berbeda. menyinggung orang di panggung, separah apapun, masih bisa pakai alasan itu cuma show.

Leave a Reply to dymsokei Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*