hidup dari karyanya

Thu, Nov 22, 2012

Uncategorized

Kalau saya ditanya, bagaimana caranya saya bisa membuat 500 DVD Bhinneka Tunggal Tawaseharga Rp 100.000,-  terjual kurang dari 1 hari, atau bagaimana 400 tiket seharga Rp 120.000,- habis dalam 35 menit dan 1000 tiket kurang dari 1 minggu, jawabannya ada banyak:

  1. A good product
  2. Pricing Strategy
  3. A good promotion

Tapi yang paling utama adalah: Twivate Concert.

Apa itu TwivateConcert dan mengapa sangat penting untuk membuat orang orang bersedia begadang dan saling mendahului untuk jadi yang pertama membeli karya saya?

Tanggal 4 Juli 2009, saya membuat konser peluncuran album di fX, Sudirman. Saya tahu hari itu bertepatan dengan ulang tahun Amerika Serikat, yang saya tidak tahu bahwa hari itu adalah hari perayaan ulang tahun partai demokrat dan lebih gila lagi, saya tidak tahu perayaannya dilakukan di Stadiun Umum Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Macet sudah nampak dari pagi dan ketika acara saya dimulai, bahkan pengisi acara masih terjebak di Sudirman. Ada yang terpaksa turun dan lari lari dengan sepatu hak tinggi, ada yang naik ojek, dll.

Konser tersebut, menurut saya sepi pengunjung.

Kecewa tentu, tapi saya tidak berlarut dalam kekecewaan tersebut. Saya terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya itu tidak terjadi lagi. Namun seperti takdir, peristiwa bom JW marriot dan Ritz Carlton di bulan Juli 2009 membuat lagu “Kami Tidak Takut” viral dan ketika Soulnation 2009 tiba, panggung saya dijejali begitu banyak penonton. Impas.

Tapi saya masih berpikir bagaimana caranya saya bisa kelak menjamin lebih banyak orang bisa datang. Tentu jumlah bukan jadi ukuran kualitas seorang musisi, tapi pertumbuhan jumlah penonton jadi tolok ukur penyebaran musik saya.

Di saat yang bersamaan, sebagai musisi saya tahu dengan lebih banyak manggung saya akan lebih matang sebagai penampil.

Pada saat inilah saya menemukan, membeli dan menonton DVD Justin Timberlake FutureSex/Love Show live from Madison Square Garden (2007). Sebuah konser yang luar biasa, panggungnya melingkar, tidak ada backstage karena backstagenya dipindah ke bawah panggung. Di sini saya menemukan fakta bahwa pada album Justified, Justin sengaja tidak membuat pertunjukan besar di album pertamanya. Promonya dilakukan di klab klab dengan kapasitas paling banyak 150 penonton, dilakukan di seluruh Amerika. Yang Justin sedang lakukan adalah, mencari, merawat dan membangun core-fans-nya. Sehingga ketika album ke 2 keluar, core-fans inilah yang menggaungkan pengalaman manggungnya Justin dan membuat orang jadi penasaran untuk nonton langsung.

Ilmu di atas, saya praktekkan sendiri dengan melahirkan TwivateConcert.

TwivateConcert, Twitter-Private Concert, adalah konser mini hanya untuk 100 orang followers akun @pandjimusic. Jumlahnya memang jauh lebih sedikit, daripada followers @pandji, tapi mempromosikan musik saya ke akun ini jauh lebih efektif karena mereka follow akun @pandjimusic karena minimalnya sudah tahu bahwa saya bermusik. Untuk membuat mereka terapresiasi dan untuk menambah value dalam memfollow akun @pandjimusic, maka saya ingin membuat mereka tahu bahwa saya menganggap mereka special, sekaligus menambah jam terbang saya manggung, Walhasil, konser mini khusus untuk mereka.

Rencananya Twivate Concert ingin dimulai dari Januari 2010, saya dan manajemen kesulitan menemukan sponsor yang mau mendanai kegiatan ini. Venue sudah ditemukan, Sinou Kaffee Hausen di Panglima Polim. Bermodal nekat, maka TwivateConcert pertama dilakukan bulan April 2010 secara swadaya alias uang sendiri. Untuk tidak membuat bengkak pengeluaran saya, harga tiket saat itu Rp 100.000,- itu juga masih jauh dari menutup biaya produksi

Sangat mahal untuk seorang musisi yang tidak terkenal.

Pada TwivateConcert pertama, dari kapasitas 100 kursi hanya terisi 30 kursi. Masih banyak meja kosong, masih banyak ruang lega di Sinou saat itu. Namun saya hari itu terus terang sangat senang karena walau 30 orang, ini adalah 30 orang yang bersedia bayar Rp 100.000. These people are special. I have to treat them special.

Karena mungkin hanya 30 orang, konser mini itu terasa lebih intim. Kayak manggung di depan teman teman. Penonton saya ajak ngobrol dari atas panggung dan mereka menyahut dari kursi mereka, saya membawakan bukan hanya lagu saya tapi juga lagu lagu oldschool (sengaja saya lakukan karena saya memang mengincar core-fans saya umur 20-30 tahun) sehingga mereka bisa sing-along, saya bawakan lagu lagu saya yang jarang dibawakan (biasanya kalau dapat gig manggung selalu diminta membawakan lagu lagu semangat kebangsaan, ini sengaja saya jadikan kesempatan membawakan secara live lagu lagu lain) plus, saya mulai memberanikan melempar bit stand-up. Di akhir acara, saya datangi meja satu persatu menyalami dan berterima kasih kepada mereka karena sudah datang. Sebuah inisiatif yang akhirnya jadi ciri khas TwivateConcert.

Saya memang sengaja mendesain acara supaya seru dan terkenang dengan 2 tujuan. Mereka adalah pengguna twitter, saya mengundang mereka karena mereka followers akun @pandjimusic. Kebiasaan umum pengguna twitter adalah, ketika mereka melihat sesuatu yang pantas untuk diceritakan atau dibagi kepada orang lain, mereka akan ngetweet. Maka alasan pertama saya membuat acara dengan gimmick yang seru supaya mereka bisa pulang dan ngetweet kesan mereka. Tweet ini kemudian saya RT dan menjadikan followers lain penasaran. Harapannya, terpancing untuk datang ke twivate concert berikutnya. Alasan ke dua adalah supaya saya bisa foto ekspresi wajah mereka, screen capture tweet mereka untuk saya masukkan ke dalam proposal yang akan saya tawarkan ke pihak sponsor.

2 tujuan tersebut, ternyata berhasil. Saya akhirnya dapat sponsor twivate concert yatu Acer Indonesia di bulan Mei 2010 dan twivateconcert ke dua terisi 80 kursi dari kapasitas 100. Acer akhirnya berlanjut mensponsori hingga desember 2010 dan mulai twivate concert juni hingga desember , tiket twivate concert seharga RP 50.000,- (karena sudah ada sponsor) selalu habis dalam 1 hari. Bahkan mulai bulan Agustus antrian sejak dini hari untuk memesan tempat Twivate Concert sudah terjadi. Setiap kali ada yang gagal masuk dalam kuota 100 kursi, jadi sebuah rasa penasaran yang membuat dia lebih gigih lagi memperebutkan kuota di Twivate Concert bulan selanjutnya

Twivate Concert jadi seperti temu kangen bulanan antara saya dengan penikmat karya saya, selain saya selalu bawa bintang tamu, bersama bintang tamu itupun selalu ada hal yang seru. Contohnya, battle bersama Tompi yang anda bisa tonton di sini. Saya selalu bawakan lagu oldschool dari “Anak Sekolah” Chrisye, “Gerangan Cinta” Javajive, bahkan bersama Gamila kami membawakan lagu lagu sitcom tahun 90an seperti Growing Pains dan Family Ties. Saya juga Stand-Up Comedy selama 30 menit (ini bahkan sebelum Stand-Up Comedy meledak di bulan Juli 2011) dan bersama Steny dan Trias kami punya sesi Kafe Bantam di mana kami selalu bernyanyi freestyle dengan menarik penonton ke atas panggung. Setiap bulan, saya menutup Twivate Concert dengan menghampiri setiap meja dan berterima kasih secara personal.

Twivate Concert sekarang seperti urban legend, sering dibicarakan tapi tidak pernah terlihat. Karena memang hanya terjadi di tahun 2010. Tapi yang dihasilkan oleh Twivate Concert adalah sekelompok penikmat karya saya, yang tahu persis apa yang ditawarkan Pandji sebagai seorang pemanggung, terbiasa membayar sampai Rp 50.000,- dan terbiasa saling mendahului untuk masuk 100 orang kuota TwivateConcert, dan terpenting lagi, bercerita dan berbagi kepuasan mereka dalam menikmati karya saya kepada siapapun yang ada dalam jejaringnya. Sehingga reputasi saya terus tersebar, baik online ataupun offline. Jumlah sekelompok orang ini, sekitar 1360 orang. Orang orang yang merupakan followers @twivateconcert. Sekilas nampak tidak banyak, lebih sedikit dari akun @pandjimusic dan JAUH lebih sedikit dari akun @pandji, tapi mereka jauh lebih militan daripada followers akun @pandji. Jauh lebih setia, jauh lebih menghargai karya saya.

Inilah kunci bagaimana mengubah dari 30 orang membeli tiket saya manggung,  bisa menjadi 1000 orang membeli tiket. Ini, adalah kunci bagaimana seseorang bisa hidup dari karyanya.

 

PS: Nantikan versi lebih lengkap tentang bagaimana seseorang bisa hidup dari karyanya dalam e-book terbaru saya yang akan terbit… ga tau kapan. hehehehehe

 

 

 

 

 

 

 

 


2 Responses to “hidup dari karyanya”

  1. yasin Says:

    Hebat lu bang..bisa kya gitu..tulisan ini jadi inspirasi buat gue..ditunggu versi lengkapny..yang ga tau kapan..he..he..

    Reply

  2. miria yagami Says:

    motivasi tersendiri buatku bang, terimakasi telah menyadarkanku lewat tulisan ini

    Reply

Leave a Reply


five × = 45