Untuk membunuh saja

Ada perbedaan mendasar antara “freedom of speech” dan “hate speech”. Yg ke dua adalah konsekuensi dari yang pertama. Walaupun yang pertama, tidak selalu harus berwujud yang ke dua.
Charlie Hebdo, di mata saya adalah yang ke dua.

Sebagai stand-up comedian, ini topik yang dekat dengan saya. Setiap hari saya memikirkan, baik secara refleks maupun dengan dikondisikan, hal hal yang bisa membuat orang tertawa. Dalam komedi, selalu ada korban. Selalu.
Teman saya Sammy (@notaslimboy) bilang ada 3 jenis tertawa. Kita sebagai pelawak mengajak penonton menertawakan diri kita sendiri (self depracating), kita mengajak penonton menertawakan orang lain, dan kita mengajak penonton menertawakan diri mereka sendiri. Yang terakhir, paling sulit. Yg pertama, paling mudah.

Setiap kali anda tertawa, adalah karena ada sesuatu/seseorang yang DI-tertawakan.
Donald lebih lucu dari Mickey karena kita menertawakan Donald yang sial, pemarah, ceroboh, dll.

Jadi komedi, selalu memakan korban. Makanya saya selalu bingung kalo ada orang yang bilang “Gue suka nonton stand-up karena gak pernah ngejelek-jelekin orang”
Pernah. Selalu bahkan. Hanya saja caranya berbeda. Dan saya pribadi tidak menyebutnya “menjelek-jelekkan”, kalau diarahkan ke pihak lain, saya menyebutnya “kritik”.

Nah sebagai komika (stand-up comedian), sayapun sering kali mencoba mengambil topik topik yang sensitif. Bukan karena ingin mengolok, tapi karena saya percaya tawa lebih berhasil menyembuhkan luka daripada menghindar dan mendiamkannya.
Saya percaya bahwa hanya lewat tertawa saya bisa mengajak anda untuk masuk ke area area gelap & asing.
Tidak sehari hari kita bisa mendiskusikan pemerkosaan secara terbuka tapi lewat pertunjukan Mesakke Bangsaku saya mengajak anda untuk berargumen bahwa pemerkosaan bukanlah karena pakaian si korban seperti asumsi umum di Indonesia, tapi karena moral si pelakunya. Saya lakukan itu, lewat tawa.

Resiko, tentu ada.

Apalagi untuk komika seperti saya yang karyanya tersebar di mana mana.

Banyak kok komika yang jauh lebih sensitif dan kontroversial dari pada saya materinya. Tapi mereka lakukan pertunjukan itu di venue tertutup, di hadapan sekian ratus orang saja.

Materi saya tentang pemerkosaan, praktek beragama, politisi busuk, ditayangkan di televisi, ada DVDnya yang terjual sudah ribuan dan digital downloadnya juga sudah bisa dibeli, tersedia gratis di youtube, siap ditonton oleh siapa saja dan sudah saya bawakan di 20 kota di seluruh dunia dari Aceh sampai London.
Audience saya jauh lebih banyak.
Resiko terhadap saya jauh lebih besar.

Banyak yang protes? Banyak sekali.
Yang membenci saya? Ada
Yang berniat membunuh? Entahlah, tapi rasanya tidak.

Mengapa?

Karena materi saya, selalu siap saya pertanggung jawabkan. Saya punya prinsip “Semua orang bebas ngomong apapun, selama siap tanggung jawab atas omongannya. Kalau tidak, kelak akan ada yg minta pertanggung jawaban”.
Saya belajar soal batasan dalam melawak sejak lama. Tepatnya sejak siaran di Bandung tahun 2002. Waktu itu saya menertawakan teman saya yang botak dengan bilang “Elo kayak pasien leukimia!”. Pulang dari siaran, di kostan saya didatangi teman kostan dengan wajah kecewa tapi tidak marah. Dia bilang “Gue dengerin lo siaran tadi… Adik gue leukimia..” lalu seakan kehilangan kata dia meninggalkan saya yang menyesal. Saya tidak berniat sama sekali untuk menghina tapi ternyata itu yang terasa oleh teman saya.
Sekarang, semakin luas penonton saya, semakin teliti dalam menulis, tanpa kehilangan ketajaman.
Menusuk tapi dengan bertanggung jawab.

Itulah, yang terjadi pada Charlie Hebdo.
Resiko.
Pembunuhan tentu tidak bisa dibenarkan. Adalah sebuah tragedi terhadap setiap orang yang dibunuh & untuk keluarga yang ditinggalkan. Tentu kita semua ingin bahwa reaksi terhadap setiap lawakan bisa diterima dengan bijak dan dewasa. Tapi tentu GOBLOK namanya kalau berpikir semua orang di dunia ini isinya orang yang bijak & dewasa.
Saya selalu bilang “Orang yang menggunakan fisik untuk menyelesaikan permasalahan akal, menunjukkan dia kehilangan akal untuk menyelesaikannya secara intelektual.”
Nah masak kita mau pura pura lupa bahwa kadar intelektual orang orang berbeda?
Charlie Hebdo bebas untuk berkarya & berpendapat seperti apapun tapi kalau sudah dipublikasikan, mau tidak mau mereka akan dimintai pertanggung jawaban. Itulah resikonya. Wujud resikonya ya tentu beda beda.

Apalagi ketika orang tahu bahwa Charlie Hebdo pernah memecat kartunisnya karena mengolok olok Yahudi. (Baca di sini )

Jadi mengolok Yahudi dianggap melewati batas tapi mengolok Islam dianggap kebebasan berpendapat?
Bukan. Karikatur Rasulullah SAW yang mereka buat bukanlah wujud kebebasan berpendapat. They just hate, Islam. They just want to poke it for fun. They’re just bullies with pencils.

Wajar kalau orang orang, termasuk saya, merasa Charlie Hebdo lebih ke “hate speech” daripada mempraktekkan “freedom of speech”

Saya sih terus terang kesal dengan beberapa media yang berdiri bersama & membela Charlie Hebdo. How can they defend hate speech?

Ya mungkin karena perspektifnya beda dengan saya.
Pendapat anda-pun mungkin beda dengan saya.
Mungkin anda benci membaca tulisan ini.
Sah sah saja.
Asal tidak dijadikan alasan untuk membunuh saja.

16 thoughts on “Untuk membunuh saja”

  1. “Freedom of Speech” selalu digunakan sebagai pembenaran “Hate Speech”, menurutku sih karena batasan seberapa “bebas”-nya masih bias dan tidak ada konsensus mengenai itu.
    Kasus charlie hebdo secara sederhana adalah mayoritas “membully” minoritas melalui media. Di Indonesia juga banyak kasus kayak gini. Mungkin ndak di media cetak, kadang hanya di forum online dsb. Cuman ya itu, ndak sampe membunuh aja.

    @anovanisme

  2. Penyakit kronis masyarakat barat (white caucasian people) adl mrk merasa boleh mocking semua SARA kecuali satu: yahudi!
    Khususnya soal holocaust yang sampe skrg msh kontroversial jumlah pastinya.

    Tema holocaust dan yg berhubungan dgn yahudi begitu tabu utk dibahas di ruang publik, hipokrisi yg memuakkan.

  3. “Orang yang menggunakan fisik untuk menyelesaikan permasalahan akal, menunjukkan dia kehilangan akal untuk menyelesaikannya secara intelektual.”

  4. “Orang yang menggunakan fisik untuk menyelesaikan permasalahan akal, menunjukkan dia kehilangan akal untuk menyelesaikannya secara intelektual.”

  5. @renggo gw bantu jawab ya.. alesannya ada kok waktu standup itu, coba cari di youtube. Intinya waktu ngeganja lu ga ngerugiin org lain, ga bikin lu merkosa org (karna ga sadar), ga bikin org sakit (asep rokok), dan ga membuat lu ketergantungan macam rokok. Lbh ke minuman alkohol gt, lu doyan, tp lu bisa mutuskan minum LAGI ato berhenti minum. Sekian smoga mmbantu..

  6. Gw pikir, apa yg terjadi ama charlie hebdo terjadi jg di negri ini. Cuma bentuknya berbeda saja. inget bagaimana Rhoma Irama menghina Jokowi dan Ahok pd pilkada Jakarta thn 2012 silam? tersebar lho di dunia maya. Yg defend sm charlie hebdo bukan brarti mreka mendukung apa yg ditulis charlie hebdo, tp mungkin lebih ke simpati pada akibat yg mreka terima. Artinya pembunuhan tak bisa ditolerir, tp pembunuhan karakter tetap harus dihukum berat..

  7. Ini yang nulis ga ngerti apa apa ya??? Kan udah dibilangin atas kebesan berpendapat lu boleh hina siapun yang lu mau. Itu demokarsi bung. Orang mau skait hati kaya gimana ya namanya juga kebebsan berpendapat dan berkespresi.

    1. kebebesaan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain broo… kalau kebebasan itu tidak terbatas, boleh dong kita membunuh orang sesuka kita.. tapi orang juga berhak untuk hidup. hayolo.. orang boleh bebas berpendapat, tapi orang lain bebas juga hidup di tempat yang damai tanpa ada olok-olok atau hinaan…. adil kan??

  8. Sekedar meluruskan komentar Widiawan Winata, freedom of speech (kebebasan berpendapat) berarti hak mengemukakan pendapat tanpa ada larangan/sensorship dari pemerintah. Freedom of speech tidak menjadikan orang yang berpendapat bebas dari konsekuensi pendapatnya, misalnya pendapatnya tidak disetujui banyak orang, pendapatnya diprotes orang lain, dan sebagainya (asal konsekuensi ini masih dalam koridor yang diperbolehkan hukum, lain lagi dengan pembunuhan yang sudah masuk tindak pidana). Seperti apa yang ditulis Pandji.

  9. Kartunnya keterlaluan. Yang di foto profil twitter juga keterlaluan.
    Rasanya nggak masuk akal kalau hal ini malah dihubungkan sama Freedom of Speech.
    Freedom of Speech atau Freedom of Mocking?
    Pertanyaannya, kenapa malah banyak dapat dukungan?. I have no idea about this.
    Yang jelas Charlie Hebdo tentu juga termasuk salah – satu kontributor pengubah pola pikir masyarakat. Semakin banyak kartun yang menghina dan mencemoh berbagai agama dan tokoh politik, banyak orang yang akan terpengaruh dan akan menganggap hal tersebut adalah hal yang (1) wajar, (2) sah-sah saja (based on that “Freedom of Speech”), (3) Baik dan Pantas dilakukan “toh mereka (yang jadi objek cemooh) memang a.. i.. u.. e.. o.. bla..bla..bla..” . Dan pada akhirnya yang namanya Peace on Earth cuman jadi buah bibir.
    Jadi mikir berarti “Je Suis Charlie” juga mungkin berarti “Je suis contre la paix” I am against Peace.

  10. Baru ini sy baca tulisan mas Pandji n setuju dgn isinya.
    Freedom of speech & hate speech punya koridor yg brbeda.
    FOS itu membebaskan kita berpendapat dgn batasan trtentu.
    Tp kalo HS sy rasa bukanlah brpendapat melainkan menghina, bullying, sarat akan kebencian trhadap sesuatu.
    Jadi kalau didunia ini semua orang saling menghormati n bertoleransi (khususnya mengenai SARA) maka tidak akan tercipta yg namanya Hate Speech..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*