Louis CK

Zaindra, manajer saya, adalah orang yang pertama mengingatkan.

“Coba cek cek jadwal artis favoritnya, siapa tahu pas kita lagi di Amerika mereka lagi ada jadwal manggung”

Buka laptop, google “Chris Rock US tour”. Tidak ada hasil. Saya dengar juga dia tidak sedang nongol openmic di sejumlah comedy club US. Saya ingat ingat lagi siapa yang belakangan ini suka tiba tiba nongol.

Yang muncul di ingatan adalah Louis CK, Seinfeld dan Chappelle. Saya follow beberapa akun comedy club di LA seperti Comedy Store dan Laugh Factory dan nama nama tadi beberapa bulan yang lalu pernah tiba tiba nongol di openmic. Pertanda mereka sedang menyiapkan sesuatu. Mungkin corporate gig, mungkin mau tampil di TV, mungkin mau tur.

Louis CK saya google duluan.

I cant believe my luck. Ada tanggal Louis CK manggung di Madison Square Garden New York. 3 pertunjukan di 3 tanggal yang berbeda. Saya cek jadwalnya, tanggalnya ada di antara jadwal saya manggung di Philly dan DC. Saya cek tiket yang tersedia.

Terhenyak.

Ada tiket nganggur. Saya kucek kucek mata. Saya perhatikan lagi situs yang menjual. Takutnya nipu. Saya google dan tanya tanya ternyata memang ini situs third party yang terkenal. Saya beranikan diri memesan tiket. Ternyata masih bisa. Saya pesan 3 tiket di pertunjukan ke tiga Louis di MSG. Pertunjukan ke 3 dari 3. Pertunjukan terakhir.

Sebelum bayar, saya perhatikan lagi denah venue dan mencari tahu saya mau beli tiket yang di mana. Kaget saya, ternyata ini ada di area tepat depan panggung. Buru buru bayar dan tidak lama tiket dikirimkan ke email. Attached adalah tiketnya, tidak perlu ditukar, tapi harus diprint. Begitu penerangan di email yang saya terima.

Segera saya lapor ke grup, minta dipesankan transportasi untuk bolak balik sehari demi nonton Louis CK, di Madison Square Garden.

Tiket bis dipesankan.

Semuanya sudah beres. Hanya perlu jaga kesehatan supaya bisa berangkat.

Ketika harinya tiba, saya sulit tidur. Tidak sabar mau berangkat. Bis kami jalan dari stasiun pagi pagi sekitar jam 8 dan menempuh 5 jam perjalanan. Saya ingat sekali, ketika sudah sebentar lagi akan sampai, mata saya menatap ke luar jendela. New York terlihat di kejauhan.

Saya sering sekali naik bis atau kereta menuju sebuah kota baik di dalam maupun selama tur dunia di luar negeri. Saya belum pernah lihat kota yang sudah menampakkan kemegahannya dari kejauhan. New York dari jauh sudah terlihat menjulang dengan semua gedung gedung tingginya.

Supaya tidak berkepanjangan, saya akan ceritakan New York di tulisan lain, saya balikkan fokusnya ke Louis CK saja.

depan

Ketika kami sampai di Madison Square Garden, ada kekhawatiran bahwa kami tidak bisa bawa kamera. Saya, Arie dan Mbicu sama sama bawa kamera. Mbicu, mungkin kameranya lebih terlihat seperti profesional. Pada akhirnya, dia tidak boleh membawa kameranya masuk. Kameranya dititipkan kepada Yafi, kawan kami yang memang ada di New York untuk menjaga kami. Dia sudah datang lebih dulu ke NYC dan menemui kami ketika kami turun dari bis. Kamera saya dan Arie boleh dibawa masuk tapi berulang kali keamanan mengingatkan “Ini bukan peraturan dari kami pihak MDS, ini peraturan Louis CK, dia sangat melarang ada yang mengambil foto selama pertunjukkan. Kalau kalian ngotot akan diusir keluar”

Lepas dari keamanan dan pemeriksaan tiket, kami seperti anak kecil yang berjalan dengan cepat menuju kursi kami. Bukan hanya karena nonton Stand-up, bukan hanya karena Louis CK, tapi karena ini Madison Square Garden. Ini venue legendaris. Bukan hanya markas New York Knicks, tapi juga tempat pernah dihelat berbagai acara legendaris. Ali vs Frazier pernah dilangsungkan di sini. Frank Sinatra pernah manggung di sini (panggungnya bentuknya kayak ring tinju), Jay Z pernah bikin konser di sini, Eddie Murphy, Chris Rock, Kevin Hart pernah manggung di sini.

ali

Ketika kaki kami melangkah masuk area panggung, mata kami terbelalak melihat megahnya gedung ini. Untuk konser, kapasitasnya 20.000 kursi. Lebih kaget lagi ketika kami diarahkan oleh usher di mana kami duduk setelah saya tunjukkan tiket kami. Ternyata, bukan hanya di area depan panggung, kami bertiga duduk di baris paling depan. Berhadapan langsung dengan panggung. Orang yang mengantar kami senyum melihat kami kaget dan berkata “Now, i dont want to hear you complain about leg room okay”. Kami tertawa sambil melihat dia pergi. Ya jelaslah, kami bisa selonjoran. Duduk paling depan!

duduk

dilarang

mic

Pertunjukan dimulai telat sekitar 20-30 menit. Mungkin Louis memikirkan yang telat ketimbang menghargai yang tepat.

Ada 3 komika pembuka, saya lupa siapa saja namanya, tapi makin ke belakang semakin lucu. 2 komika perempuan lalu 1 komika laki laki.

Louis kemudian masuk, pake jas!

Untuk orang yang mengikuti dia sejak awal, kita semua tahu Louis selalu tampil kasual. Kaos hitam atau biru tua, paling mentok di specialnya yang terakhir “Oh My God!” dia pakai polo shirt biru tua. Tapi kali ini, jas, lengkap dengan dasi. Di awal, dia langsung jelaskan “The elephant in the room” yaitu mengenai pakaiannya. Dia hanya menjelaskan “I want to appreciate life more..” lalu dia bridging ke bit pertamanya dengan menggambarkan bahwa orang dulu naik pesawat pakai jas karena dulu naik pesawat adalah sebuah kesempatan langka. Jaman sekarang orang pakai sendal dan kaos kutung.

And just like that, the show is on a roll.

Saya dan Arie sepakat, ini adalah specialnya yang terbaik. Topik topiknya luar biasa. Louis membahas ISIS memenggal kepala dan menjadikannya bahan tertawaan. Dia juga membahas bunuh diri, membahas profesi guru sekolah negeri yang menurutnya menyedihkan, membahas aborsi, membahas agama yang menang, membahas titit bapaknya yang menurutnya mirip ujung bantal. He was absolutely brilliant. Apalagi bit terakhirnya yang membahas mengenai Kalender. Di akhir tawa yang menggelegar, Louis kemudian mengembalikan mikrofon ke mic-stand dan berkata “I want you to remember the worst day you had in the last month.. the worst. Got it? Okay, well, you guys laughed so hard tonight. So life is okay. Please, dont kill yourself

Kemudian dia melambaikan tangan dan pergi.

Just like that.

Penutupannya, seperti mencoba merapihkan bitnya tentang dia ingin bunuh diri. Dia tahu bunuh diri adalah sesuatu yang serius karenanya dia tutup dengan pesan tadi.

Saya, Arie dan Mbicu pulang dengan hati bahagia, kami tidak terburu buru keluar karena toh kami paling depan. Pada akhirnya kami benar benar orang orang terakhir yang keluar sampai disuruh cepat cepat oleh keamanan

bubaran

Menyaksikan Louis CK secara langsung, membawa banyak hal baik untuk saya. Salah satunya, adalah semangat untuk terus berkarya. Terus berkembang. Belakangan saya google, pertunjukan ini adalah bagian dari tur dunia ke 22 kota yang Louis lakukan. Louis bilang di email yang dia tulis untuk subscriber websitenya “Its new jokes and i think i’m better at comedy right now”

Saya jadi bagian dari proses bertumbuhnya Louis CK. Saya fans yang sukses.

Saya bilang ke Arie, saya jadi gatel pengen manggung.

Kami sampai balik di DC jam 7 pagi. Malamnya saya dan Arie Kriting manggung utk Juru Bicara Washington DC. Ketika saya turun dari panggung, Arie bilang “2 jam 55 menit..”

Saya kaget dan berkata “Yang bener? Masak selama itu?”

Lalu penonton yang sedang berfoto dengan saya berkata “Ah gak kerasa! Kurang lama, mas!”

“Kurang lama mata lo benjut!?” kata saya dalam hati. Tapi saya memaklumi karena banyak dari mereka naik bis atau kereta atau bahkan menyetir selama 2-3 jam, bahkan ada yang 7 jam nyetir mau nonton saya. Tapi bagaimanapun, 2 jam 55 menit non-stop itu keterlaluan. Kebanyakan improv. Sekrup harus dikencangkan kembali. Saya ingin pertunjukan saya sekitar 2 jam saja.

Sial, keasikan manggung. Pasti gara gara nonton Louis CK.

5 thoughts on “Louis CK”

  1. Daaaaang! Bisa nonton Louis CK langsung. Duduk depan pula. Dengan materi2 joke yg baru2… hadeeeehhh doain semiga ge juga bisa dapet kesempatan nonton si bangke botak itu ya hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*