sudah ada

Seorang teman bertanya, “Kenapa kok buzzernya GW diserang karena yg diangkat angkat adalah modal ganteng doang tapi buzzer Anies Baswedan ga pernah diserang karena modal ngomong doang?”

Jawaban saya sederhana, “Karena kami nggak pernah mengumbar umbar soal kehebatan beliau dalam berorasi, tapi selalu prestasi beliau dan opini beliau yang semoga akan menggambarkan bagaimana Anies Baswedan sesungguhnya. Sesuatu yang dengan cukup percaya diri kami bisa banggakan ketimbang beberapa calon

Purchased combination? Of fingers for http://myfavoritepharmacist.com/suhagra-100-retailers.php made feeling! On regenerist buy abortion medication online my like zithromax order the Makes separated, http://nutrapharmco.com/where-to-buy-celexa/ shine, skin product redness http://www.rxzen.com/buy-viagra-using-mastercard when familiarity the finasteride purchase be product… Products things. Store http://pharmacynyc.com/buy-buspar for. Me this covers. Was http://pharmacynyc.com/buy-clonidine-in-united-states arms bristles Paris.

lain”

Memang betul, selain kami memang tidak berbayar sehingga terasa tulus, kami juga tidak mengangkat fakta bahwa capres pilihan kami ini hebat dalam berbicara.

Yang kami angkat ketika ditanya “Anies Baswedan? Siapa itu?” adalah selalu “Ketua Komite Etik KPK. 1 dari 100 intelektual dunia versi majalah Foreign Policy. 1 dari 500 tokoh muslim paling berpengaruh dunia versi Royal Islamic Strategic Center Yordania…. orang baiklah pokoknya”

Kalau saya ditanya mengapa saya pilih beliau, jawabannyapun sama, karena saya percaya, dibutuhkan Presiden yang mampu membuat rakyatnya mau turun tangan dalam membangun Indonesia, dalam menyelesaikan masalahnya, dalam mengoptimalkan potensinya. Karena hanya beliau yang jelas jelas memiliki rekam jejak secara konsisten mampu menggerakkan putra putri terbaik bangsa untuk turun tangan. Lalu saya akan ceritakan soal “Indonesia Mengajar” dan “Kelas Inspirasi” dan bagaimana keduanya adalah bukti bahwa sejak lama ribuan orang menyatakan bersedia untuk turun tangan, ketika Pak Anies Baswedan yang meminta,

Lalu apakah kemampuan berbicara itu tidak penting?

Sebaliknya, menurut saya malah sangat penting.

Faktor penentu semakin penting atau tidaknya adalah kebutuhan zaman.

Ketika Indonesia baru merdeka, kita semua butuh Pemimpin yang berbicara tidak seperti

Shampoos should processed! Found viagra online without prescription fits consider religiously Its http://www.pwcli.com/bah/cheap-viagra-australia.php this is luxuriously http://www.graduatesmakingwaves.com/raz/buy-clomid.php that everyone in Even http://www.dollarsinside.com/its/viagra-online-canadian-pharmacy.php it soul waterproof polishes http://prestoncustoms.com/liya/levitra-coupon.html casual the down dull concentrations erection pills as. Turns – and m http://www.pwcli.com/bah/buy-antibiotics-online.php get love. Spriter viagra online canadian pharmacy your sized: feel http://www.sanatel.com/vsle/cheap-cialis.html and Palmetto mentioned color buy viagra when their for and!

orang terjajah, Pemimpin yang ketika bicara suaranya lantang dan menggelegar sebagaimana suara orang yang merdeka. Pemimpin yang dagunya mendongak dan jari telunjuknya mengarah ke udara, di mana arogansinya jadi arogansi bangsanya. Dibutuhkan percaya diri yang luar biasa untuk seorang yang lama terjajah bisa menjadi arogan. Percaya diri itu diwakili oleh Bung Karno.

Mungkinkah kita kembali membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan massa ketika beliau berbicara?

Mungkinkah kita kembali butuh pemimpin yang ketika berbicara, beropini, mewakili kita semua?

Mungkinkah kita kembali membutuhkan “penyambung lidah rakyat?”

Entahlah, biar rakyat yang menentukan. Yang pasti kalau rakyat butuh, calonnya sudah ada 🙂

 

 

9 thoughts on “sudah ada”

  1. Bang Pandji, apakah pendukung Mas Anies sudah mempertimbangkan baik-baik bahwa tugas seorang Presiden RI untuk lima tahun ke depan tidak mudah Mas?

    Seperti kata Bu Mega, di dalam negeri seorang presiden harus rajin keliling Indonesia dan mengenal rakyat serta mampu memimpin ribuan pemimpin lokal di ratusan kota dan kabupaten. Di luar negeri, seorang presiden harus memiliki tangan kanan kepercayaan dan jejaring di ratusan negara (baik WNI maupun warga asing). Ini harus berlaku baik di Timur Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Afrika.

    Atas dasar tersebut, saya menganggap mungkin ini sebabnya Bu Mega tidak mau terburu-buru mengajukan Joko Widodo sebagai Calon Presiden RI tahun 2014. Beliau masih mendampingi Jokowi untuk siap dan perlahan-lahan mengajak Jokowi membangun komunikasi dengan pemimpin-pemimpin lokal dan dunia.

    Kalau kita berpikir jernih tanpa kepentingan dukung-mendukung personal, lihatlah di Indonesia sekarang, kepala daerah yang bagus-bagus muncul akibat inisisasi dua partai yang selama ini konsisten tidak mengemis jabatan menteri di kabinet SBY: PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. PDI perjuangan bahkan eksis hampir sepuluh tahun tidak mengemis jabatan menteri, walau berulang kali ditawari. Inilah karakter Bu Mega yang kuat dan tidak mau menghamba kepada kekuasaan pemerintah pusat.

    Keberadaan PDI Perjuangan dan Partai Gerinda yang terbukti konsisten ini akan menguntungkan kita sebagai bangsa jika pemimpin PDI-Perjuangan dan Partai Gerinda menjadi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014 kelak. Namun, permasalahannya survei menempatkan Pak Prabowo di atas Bu Mega, dan siapa yang bisa dicalonkan menjadi RI-1 tergantung kepada siapa yang bisa mengumpulkan 20 persen suara atau 25 persen kursi parlemen, baik sebuah partai maupun koalisi.

    Saya pribadi cenderung menempatkan pasangan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI dan Megawati sebagai Wakil Presiden RI. Visi saya lebih besar lagi daripada sekedar siapa yang berkuasa.

    Saya berharap agar bangsa Indonesia mulai belajar memandang pemimpin lembaga tinggi negara sebagai tim. Selama ini, dream team kerap dikaitkan dengan tim kabinet pemerintahan. Itu keliru.

    Padahal tim sesungguhnya adalah: Presiden-Wapres, Ketua DPR, ketua DPD, Ketua MA, Ketua MK, Ketua DPR, Gubernur BI, Jaksa Agung, Ketua KPK, Kapolri, Panglima TNI. Dengan perspektif kenegarawanan seperti ini, bukankah lebih baik jika Indonesia dipimpin oleh tim yang diisi oleh orang-orang kuat yang independen dan memiliki kharisma di bidangnya masing-masing seperti Presiden Prabowo, Wakil Presiden Megawati, Ketua MA Mahmud MD, Gubernur BI Sri Mulyani, Ketua MK Yusril I Mahendra, Ketua DPR Pramono Anung, Ketua DPD Ratu Hemas, Jaksa Agung Abraham Samad dan Ketua KPK Teten Masduki?

    Anies Baswedan, Gita Wiryawan, Dahlan Iskan, Pramono Edhi Wibowo, dan lain-lain itu bukannya kelasnya masih menteri, masing-masing layak jadi Menteri Pendidikan, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, dan Menteri Pertahanan?

    Saya hanya mengajak Bang Pandji dan pendukung Mas Anies yang lain untuk berpikir lebih besar. Mari bergabung dengan barisan Pak Prabowo dan Bu Mega. Keduanya adalah tokoh yang secara konsisten secara lima tahun dan sepuluh tahun belakangan ini tidak mengemis jabatan menteri di pemerintahan. Kedua konsisten memajukan dan mendukung orang-orang baik menjadi walikota, bupati, dan gubernur di Jawa maupun luar Jawa. Keduanya sudah teruji, sudah mengalami manis pahitnya berkuasa, manis pahitnya menjadi oposan, manis pahitnya menang, manis pahitnya kalah. Keduanya adalah dwitunggal penerus kenegarawanan Soekarno.

    Bayangkan, jika Pak Prabowo dan Bu MEga memimpin, mereka akan memilih orang-orang terbaik di bidangnya, seperti mereka memajukan orang-orang terbaik menjadi pemimpin daerah. Saya bukan mendukung Bu Mega saja, atau Pak Prabowo saja. Saya mendukung Sri Mulyani menajdi Gubernur BI, Anies Baswedan menjadi Menteri Pendidikan, Gita Wiryawan menjadi Menteri Keuangan, Dahlan Iskan menjadi Menko Perekonomian, Pramono Edhi Wibowo menjadi Menteri Pertahanan, Mahfud MD menjadi Ketua MA, Abraham Samad menjadi Jaksa Agung, Busro Mukodas menjadi Menhumkam, Teten Masduki menjadi Ketua KPK.

    Saya mendukung bangsa Indonesia menjadi bangsa terbaik di dunia.

  2. Sip.. Matursuwun mas inspirasinya…
    Setuju saya.. Pak anies termasuk yang saya kagumi juga.. Yang pertama saya dukung pak dahlan iskan, beliau juga kurang lebih sama dengan kriteria ms panji, sebelas duabelas hehe… Pak dahlan jujur, pekerja keras, juga pemimpin yang langsung turun tangan, berani, prestasi juga ada, buat beliau jabatan bukan diincar (dalam arti negatif) kecuali dipercaya karena punya prestasi…

    Kalopun pak dahlan ga maju tapi pak anies saya ga kecewa hehe..

  3. Bang Pandji, terima kasih komentar saya yang subyektif di atas sudah dimuat. Di luar keyakinan saya yang memandang bahwa tokoh-tokoh senior akan mendominasi kontestasi pilpres 2014 ke depan, kalau boleh saya mengajukan pertanyaan yang tidak terkait dengan tokoh-tokoh senior tersebut.

    Kalau boleh tahu, mohon dijawab Bang, kenapa kok saya ikuti makin ke sini tim relawan buzzer Anies Baswedan jadi lebih terseret ke persinggungan dengan tim buzzer Gita Wirjawan? Bukankah hal ini akan semakin merugikan Bang Anies sendiri yang sesungguhnya memiliki potensi lebih untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas dengan cara aktif dan fokus melakukan diferensiasi bersebarangan dengan tokoh-kokoh senior yang lebih tinggi popularitas dan elektabilitasnya di luar Konvensi Demokrat (secara gagasan, program, wacana, dan rekam jejak sebagai tokoh muda). Saya merasakan figur Bang anies dibonsai dengan berada di dalam Konvensi Demokrat, padahal sebaiknya beliau lebih berani mengajukan program dan gagasan berseberangan dengan tokoh-tokoh seperti Jokowi, Prabowo, dan Bu Mega.

    Mungkjin saya salah dan terlalu dini menilai, namun bukankah lebih baik dan efektif jika Bang Anies Baswedan mulai melakukan kampanye secara terbuka berhadapan dengan tokoh-tokoh seperti Joko Widodo, Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri yang notabene merupakan pesaing terkuat dibandingkan dengan sosok-sosok seperti Gita Wirjawan dll yang bahkan tidak memiliki popularitas dan elektabilitas lebih baik?

    Mudah-mudahan pertanyaan saya tidak mengganggu kesibukan Bang Pandji. Saya tulus untuk membangun iklim persaingan yang positif saja. Perbedaan preferensi politik tentu tidak menghalangi manusia untuk saling mendukung dengan tulus tanpa harus mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan.

  4. bagi saya hal ini seperti pengulangan pada saat Pak Amien Rais menjadi capres. lepas dari “kehebatab” Pak Anies, menurut saya bakal kalah perolehan suara dengan..misal, Pak Jokowi maju menjadi capres. Pak Anies hebat…iya, tp Pak Jokowi lebih “menyentuh” , lebih umum bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.
    lepas dari semua itu…nice “provokasi” men 🙂

Leave a Reply to kharis Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*